Kaskus

Story

yusriypAvatar border
TS
yusriyp
About Love
Quote:


I




Kisah yang gw tulis ini tentang pengalaman hidup gw waktu masih kuliah disalah satu perguruan tinggi swasta di Makassar.

Perkenalkan nama gw Dede, udah semester 5, gw jurusan Ilmu pemerintahan. Dulu waktu mendaftar sebenarnya gw kesemsem sama jurusan IT, baru dipilahn ke dua milih IP tapi mungkin Tuhan nunjukin takdir gw di Fakultas SOSPOL, gw sih fine-fineaja yang jelas ilmunya bisa diaplikasikan dan bermanfaat buat semua orang ketika udah lulus nanti.

Gw bukan asli Makassar. Bisa dibilang gw cuman pendatang, jadi gw tinggal dirumah kerabat yang kebetulan tinggal dan beranak pinak disini, tapi itu cuman awal-awal kuliah doang, tau sendiri lah bagaimana bila harus tinggal di rumah keluarga, ga enakan aja, apalagi pas harus pulang malem gara-gara harus kerja tugas di tempat teman. Sekali dua kali sih mungkin biasa aja tapi lama kelamaan jadi ga enak hati sama keluarga. Walaupun kerabat gw pernah bilang g apaapa tapi akibat terlalu intens pulang malamnya jd ga enak sendiri aja.
So setelah orientasi selama 1 semester, melihat kondisi pulang malam ditambah pergaulan gw yang semakin hari semakin luas, gw izin ke orang tua dan kerabat, gw mantapkan hati buat nge kos. Awalnya sih pada g setuju tapi setelah gw beri sedikit penjelasan, di "lepas" lah gw mencari jati diri sendiri di ibu kota terbesar Indonesia bagian timur ini, maksudnya diijinin buat kos. emoticon-Blue Guy Peace
Sejatinya sih gw g kos, awalnya sih gua tinggal di kosannya temen, sembari nyari kosan yang nyaman juga pas dikantong, taulah guekan sebenarnya ga diizinin kos karena biaya juga, jd kalo gw ngekos bertambah deh pengeluaran orang tua, jadi nyari kos yang penting pas dikantong dulu, nyaman urusan ke 2.
Karena belom dapet kos, barang - barang gw masih ada di tempat kerabat kecuali baju dan buku kuliah yang gw simpan di "lemari berjalan" gw (baca: semi carrier).
Karena belum dapet kos yang sesuai selera kantong dan rasanya lebih enak jadi mahasiswa nomaden, akhirnya gw g jadi ngekos, gw cuman bermodal "lemari berjalan", berpindah dari kos temen yang satu, kekos teman yang lain, begitu terus sampai sekarang di injury time semester 5 ini.

Sekarang sudah akhir semester, dikit lagi libur. Urusan gw dikampus sih udah ga ada tapi berhubung gw suntuk dirumah, tepatnya sih rumah kontrakan teman yang selama beberapa bulan ini gw numpang berteduh dari kejamnya ibu kota emoticon-Blue Guy Smile (S), gw masih sering kekampus, entah itu nongkrong, ngopi, atau sekedar baca buku di perpus. Sekarang gue lagi di salah satu kelas dikampus gw lagi baring diatas meja, kebetulan kelasnya kosong, diakhir akhir semester sih memang sudah banyak kelas yang g berpenghuni, kebanyakan mahasiswanya kalau urusan kampus selesai memilih di rumah masing-masing atau pulkam ketimbang stay di kampus yang semakin hari semakin sunyi menjelang libur.

"Deeeeee..." Baru aja pe we mau   tiduran, ada orang di luar kelas manggil. "Siapa sih?" gerutu gw dalam hati

"Rajin bener ngampus Deeeeee, giliran orang mau libur lu rajin, giliran kuliah, lu 'ngampus' diluar" sembur orang yang baru masuk sambil lembar sebungkus rokok kearah gw.

Dia Budi, sohib gw, teman seperjuangan tapi beda jurusan, ga tau kenalnya dulu bagai mana tapi sampai sekarang kita sering jalan bareng, mendaki bareng, berdiskusi tentang politik, atau bedah buku bareng tapi yaa ujung ujungnya pasti bahas JAV. emoticon-Blue Guy Bata (S) maklum anak muda, muda ngeres otaknya. emoticon-Blue Guy Peace
Tapi secara garis besar Budi itu sahabat karib gw di kampung orang, selama 2 tahunan lebih gw jalan bareng dia terus. Orang yang sangat gw inget kalau gw kesusahan, apalagi masalah dompet pasti dia, begitupun sebaliknya, kita ini sama, sama-sama saling menyusahin. Mungkin itu sedikit "deskripsi" gw tentang Budi.

"Tau aja gw dimari, Oia rokok lo ganti ya?" Sambil kutangkap sebungkus rokok dari Budi.

"Kite dah lama kenal tong, bau lu busuk, tadi pas dekat - dekat sini, gue cium ada yang aneh, nah ternyata Lo dalam sini kan?" Budi tertawa puas sembari melempar korek api ke gue dari depan kelas yang gue minta dengan gaya mematik rokok ke dia

gw bakar rokok pemberian Budi dan melempar kembali bungkusan rokok mildnya yg sebelumnya sudah kumasukkan korek pemberian Budi dalam bungkus rokok tadi. "Anjrit Lo,.. lu sogok gue pake rokok buat hina gue? Hahaaa"
"Lo sendiri ngapain disini, bukannya urusan Lo juga dah kelar?" Tanya gw heran

"Itu si Tris masih ada urusan sama nilainya" Tris itu seangkatan kami dan dia pacarnya Budi, cwe yang bisa dibilang salah satu primadona fakultasnya. Sebelum kenal gw Budi, dia sudah pacaran sama Tris, orangnya baik, bodinya bak pramugari, parasnya ayu, pantasnya kata temen-temen dia salah satu miss universe nya kampus. Tapi yang gua heranin, kok bisa ya si Budi dapetin Tris? Dulu sih pernah gw tanyain sama si Budi, jawabannya "Tanya si Tris, gw mah nembak aja trus diterima" jawabnya sambil setengah tersenyum. Sebenarnya g percaya, karena bila dilihat dari segi face, Budi tuh underlevel banget buat Tris. "Kok standar cwe se 'WAH' Tris langsung mau sama si Budi gilo itu?" Tapi setelah kenal lama sama Budi akhirnya gw dapet jawabannya langsung dari mulut Tris kenapa dia mau jadian sama Budi. Mungkin dibagian lain gw ceritain kisah mereka .

"Oo kirain dah clear urusannya"

" Di,,, rokok lu kok ganti ya?" Penasaran karena gw tau pasti rokoknya Budi tuh kretek. Mengulang pertanyaan td ke Budi yang belum sempat dia jawab. "Eh Tris masih lama kan? Ngopi yuk? Lama ga nongkrong kite ni!" Sambil kuanggukkan kepala sebagai kode mengajak.

"Rokok nemu td di kosan, ya mumpung gratis De"  sambil tertawa tanda puas
"Ayo kekantin, lama juga g ngopi bareng lo, lagian tadi gw bilang sama Tris memang mau ngopi, eh tau nya ketemu Lo "

"Nemu atau mulung sih?"
"Mulung juga g papa, yang jelas gratis[/I]" sambil tertawa gw keluar kelas menuju kantin bersama Budi yang memang akhir-akhir ini gw jarang banget sama dia, jangan kan ngopi, ketemu aja mungkin dalam bulan ini cuman 2 kali doang. Katanya sih sibuk urus nilai. Wajarlah, Budi itu sama kaya gw, nilai kuliah hancur, dia sih masih mending, orang-orang di fakultasnya baik-baik, jadi bisa bantu urus nilainya, sedang kan gw, jangankan bantu, malah kebanyakan di PHP in.

Masalah gua sama Budi sama mengenai nilai yang hancur, akibat sering ga masuk kuliah karena kebanyakan terhegemoni dengan aktivitas luar kampus yang kami namakan 'Hobby'.
Ya hobi kami sama, sama sama suka traveling, sama-sama suka ketinggian, bila di barat, butuh heroin buat orang kecanduan, bagiku cukup ajak kami di atap-atap gunung, sudah bisa membuat kami sakho, dan buat lo semua, bila kalian ga ingin kecanduan, jangan pernah naik gunung, karena sekali kalian mencoba, di rehab pun kalian tak akan lepas dari candunya!!
Diubah oleh yusriyp 23-12-2017 09:04
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
5.7K
63
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
yusriypAvatar border
TS
yusriyp
#12
VI


Akhirnya sampailah kami dikaki gunung yang akan kami daki. Masih terlihat sunyi karena biasanya diwaktu weekendseperti ini banyak pendaki yang akan nanjak disini tapi berhubung masih pagi, jam masih menunjukkan pukul 10 jadi nampak masih lengang tempat registrasinya. Sepertinya nanti sore barulah tempat ini dipadati oleh para pendaki.
Inisiatif seorang Budilah yang mengatur schedule pendakian dilakukan pagi hari, biar jalur g padat serta bisa menikmati waktu yang lebih lama di tempat camp katanya.
Nilai plus seorang Budi itu bukan hanya pacarnya yang cantik tapi management perjalanan yang top markotop, skill di alam bebasnya juga bisa diadu. Dia juga punya idealisme yang kuat, juga sangat Romantis dengan caranya yang sederhana. Pernah suatu ketika sebelum dia memacari Tris, Tris bercerita waktu masih mahasiswa Baru, Tris diganggu oleh senior sepulangnya dari kampus, disitu entah dari mana munculnya Budi langsung menghajar senior kurang ajar tadi, padahal pada waktu itu Tris belum saling kenal dengan Budi, setelah puas menghajar senior tadi, Budi berkata "cuman bencong yang ganggu cwe" sembari berlalu tanpa mempedulikan Tris. Sejak itu Tris mencari tau tentang Budi dan bak gayung bersambut, Tris yang cantik, smart dan berada, lelaki normal mana yang bisa menahan hasrat ingin memilikinya, apalagi setelah kenal, Budi semakin dekat dengan Tris, Tris yang telah terkesan oleh Budi diawal jumpa mereka, tanpa pikir panjang langsung mengiyakan tanda mereka jadian sewaktu Budi menembaknya hampir 2 setengah tahun lalu dan sampai sekarang hubungan mereka sangat jauh dari kata renggang. Betul kata para pujangga, buatlah kesan baik saat pertama bertemu seorang wanita karena mereka menilaimu saat itu atau bisa dibilang perspektif seorang wanita tergantung kesan yang kau berikan diawal jumpa.
Memikirkan cara pertemuan ke dua temanku itu, entah kenapa gw langsung teringat kejadian beberapa waktu lalu dikosan Dini, gw terbayang reka ulang pertemuan gw bersama putri, tampak gw sangat Kaku saat berkenalan, gw juga beberapakali salah tingkah didepannya. Mungkin karena itu SMS gw g pernah dibalas oleh Putri karena gw tidak memberikan kesan positif saat pertama bertemu dengan dia.
"Mungkin saja" refleks bibir gw menjawab lamunan gw sendiri.

"Mungkin apa De?" Ternyata dari tadi gw yang melamun diperhatikan oleh gadis tepat disamping gw, dia Vivi pemilik mobil Fortuner yang kami tumpangi tadi, kami memang duduk bersebelahan di 'bale-bale' beberapa meter dari pos registrasi menunggu Budi dan lainnya menyelesaikan administrasi untuk pendakian kami. Sedari tadi gw asik melamun dia juga asyik merhatiin mimik muka gw, terlihat dari wajahnya yang heran sambil melontarkan pertanyaan ke gw. Mungkin puncak dari rasa penasarannya melihat tingkah laku gw yang melamun sambil bicara sendiri. akhirnya gw dibuat salting oleh gadis cantik belesteran Indo Cina  itu. Vivi, gadis cantik keturunan cina terlihat jelas dari perawakannya, seandainya ia berkecimpung di dunia model, mungkin ia bakal sukses di karirnya dengan modal face yang sangat cantik menurut gw dan body bak peragawati, tinggi semampai dengan rambut sedikit ikal.

"Itu anak-anak sudah selesai, ayuk gabung mereka" pintaku ke Vivi sambil menunjuk kearah teman-teman. Untungnya gw berhasil ngeles dari pertanyaannya, jika tidak, habis deh gw di cercai pertanyaan kepo dari Vivi yang entah sejak kapan ia merhatiin gw .

                              ------

Akhirnya mulailah kami mendaki yang diawali doa yang dipimpin Budi, selangkah demi selangkah jalur kami lewati. Seperti perkiraan ku, Budi membawa 2 tas, dobel pedal istilah kami bila membawa 2 tas, 1 dibelakang 1 didepan. Tris yang ga mau kalah membawa carrier yang kapasitas 40L, sementara yang lain juga membawa daypack terkecuali Vivi, dia cuman memegang botol air minum, menunggu rollingan bila saja ada yg temannya yang lelah ingin diganti. Sementara gw hanya membawa daypack pribadiku sendiri, awalnya mau bawa dobel juga tapi mereka sepertinya masih semangat 45, jadi biarin aja dulu, nanti juga capek pikirku 😂😂🤣

Tibalah kami di Penanjakan pertama dipendakian ini, setelalah melewati pematang sawah, kami mau tidak mau, siap tidak siap harus melewati tanjakan yang agak menguras tenaga ini, belum lagi cuaca siang ini yang amat terik membuat semuanya terlihat sempoyongan berjalan, namun Budi yang mengambil peran sebagai leader amat bersemangat memompa semangat yang lain, sehingga mereka terlihat sangat bersemangat melewati tanjakan itu. Setibanya bagian atas tanjakan mereka terlihat istrahat, gw yang baru nyampe karena posisi gw jadi sweeper atau tim sapu jadi agak telat nyampainya, gw liat mereka senyum-senyum, malah Ita sudah mau go lagi. "hebat bener mereka" gumam gw karena tak ada nampak kelelahan diwajah gadis-gadis cantik ini tapi coba kita liat nanti, camp terakhir masih jauh, belum ada setengah perjalanan. Siapa yang KO duluan 🤣😂😂😂

Perjalanan sudah memasuki area Hutan, pohon-pohonnya menjulang, tidak ada lagi trik matahari seperti diawal perjalan tadi, namun jalur tetap, tetap menanjak, amat jarang di temui jalur bonus atau landai, kecuali nanti dipos 5, jalurnya agak landai walaupun hanya beberapa meter, selebihnya nanjak terus sampai tempat camp terakhir.

Sudah hampir 3jam perjalanan, sekarang Gw berjalan bersama Ita dan akhirnya gw pun dobel pedal juga, Ita sudah terlihat lelah jadi gw bawa tasnya. Beberapa meter didepan terlihat Vivi sudah bergantian dengan Vanessa membawa daypack, mungkin Efek lelah juga, sementara Tris, Mika dan Budi masih setia dengan bawaan mereka. Gw udah beri isyarat buat mereka ber lima lanjut hingga tempat camp meninggal gw dan Ita, Ita sudah sangat lelah jadi kami berdua beristirahat di perjalanan menuju pos 8. Tidak baik menyuruh teman yang lain istirahat saat mereka ingin jalan, takutnya mereka drop, apalagi perjalanan tinggal 300an meter lagi menuju tempat camp. Gw Biarkan sja mereka duluan, lagian kalau mereka duluan, mereka bisa langsung mendirikan tenda dan keperluan yang lain ketika sampai.

Tinggal gw dan Ita rehat sejenak di tengah hutan ini, tak ada pendaki lain yang lewat. Masih siang, mungkin bila kami berjalan agak sore, pasti banyak lalu lalang pendaki dihadapan kami.
Gw ambil tembakau, sambil menggulungnya dan kubakar ujungnya, "nikmat bener ni tembakau" ucap gw pelan. Gw juga keluarkan solo stove ku, kompor berbahan bakar kayu andalanku, gw mau masak air buat ngopi sembari memulihkan stamina Ita yang terlihat sangat capek. Gw cuman masak 1 gelas kopi, gw tawari ke Ita yang entah perasaan gw aja atau bagai mana, seperti nya dari tadi ia merhatiin gw terus. Atau gw yang ke GR-an? Entah!!

Posisi gw dan Ita berhadapan saat ini, gw duduk bersila depan segelas kopi dan Ita juga duduk meluruskan kaki, obrolan ringan kami sambil sedikit bercanda memecah beningnya hutan siang ini sampai tiba-tiba Ita berucap "K, Ita syang kakak Dede" sambil menatap gw tajam.

Syok, bingung serta tak percaya mendengar ucapan gadis cantik depan gw sekarang yang gw dengar sangat jelas, hanya 1 meter posisi dia depan gw, engga mungkin gw salah dengar.
Diubah oleh yusriyp 08-12-2017 17:32
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.