Kaskus

Story

beanilla93Avatar border
TS
beanilla93
Vanilla
Hai agan-sis semua.
Setelah sering jadi silent reader, kayanya asik juga kalau saya mencoba share cerita juga.

Cerita ini 'based on true story'. Tapi ya mungkin dengan sedikit modifikasi. hehehe

Tapi kalo cerita ini bukan selera agan-sis, atau agan-sis merasa ceritanya aneh,
And you feel like you can't stand to read it anymore silahkan cari cerita lain.
Nggak usah sumpah serapah ya.
Karna buat saya mereka yg sumpah serapah itu, pikirannya sempit, kosa katanya terbatas.
Bingung mau komentar apa, ujungnya malah ngata-ngatain emoticon-Lempar Bata

Comment, critics and question allowed ya emoticon-Big Kiss

Spoiler for Prolog:


Indeks :
Part 1. Prolog
Part 2. Selected memories

Part 3. MY hero
Part 4. His journey
Part 5. Restriction
Part 6. The results

Part 7. First year
Part 8. We're classmate!
Part 9. The class president
Part 10. Embarrassing youth - intermezzo
Part 11. Wrong thought?
Part 12. Boom!
Part 13. Aftereffects
Part 14. "Manner maketh man"
Part 15. Reunion
Part 16. Let it loose
Part 17. Those shoulders
Part 18. The sunrise
Part 19. Present
Part 20. Year 7th

Part 21. Tom and jerry
Part 22. Crown Prince
Part 23. Amnesia
Part 24. "Okay, let's do that"
Part 25. Jalan belakang(back street)
Part 26. The castle
Part 27. Story about a long night
Part 28. The storm
Part 29. War
Part 30. Gotcha!
Part 31. End

Part 32. Abege
Part 33. Story of nasi goreng
Part 34. The reason behind cold martabak
Part 35. He knew it(all the time!)
Part 36. The betrayal
Part 37. Revealing the truth
Diubah oleh beanilla93 16-03-2018 13:46
anasabilaAvatar border
chamelemonAvatar border
chamelemon dan anasabila memberi reputasi
2
20.2K
182
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread53.4KAnggota
Tampilkan semua post
beanilla93Avatar border
TS
beanilla93
#74
Part 20. Azka - End

Mamah calling...

Aku merangkak pelan di samping tubuh Azka yang sedang tidur menelungkupkan seluruh tubuhnya ke tempat tidur, dan menepukkan tanganku pada punggung Azka.

"Azka... Mamah nelpon-." ucapanku terputus saat Azka tiba-tiba membalik badannya menghadapku.

Aku yang menyadari keberadaan wajahku yang sangat dekat dengan Azka hanya terdiam, dan menahan nafas tanpa ku sadari.

Berbeda denganku, Azka hanya tersenyum sambil memperlihatkan wajah mengantuk, dan matanya yang hanya tebuka sebelah. Dia pun mengambil ponselnya dari tanganku.

Setelah Azka mengambil ponselnya, aku pun menarik diri dan menyenderkan diriku pada kepala tempat tidur sambil mengatur ulang nafasku.

Aku yang memainkan ponselku di samping Azka pun lagi-lagi bisa mendengar pembicaraannya dengan Mamahnya. Tentu saja tanpa ku sengaja(lagi).

"Iya mah... Lagi tidur tadi, cape abis balik dari gunung... Hmm.. Iya, masih sama Vanilla tadi hpnya... Lagi nemenin, tadi malem ada yang ngetok kamar katanya, jadi kami disini dulu...Ada nih, lagi main hp anaknya...Van, mamah salam sama lo. Pengen ngobrol sama lo katanya, tapi gue ngga mau ah, soalnya pasti omongannya ntar ngawur. Ahahaha...." ucap Azka sambil melihat ke arahku. Samar-samar aku dapat mendengar tawa Mamah Azka di seberang sana.

"Salam balik buat Mamah." kataku pada Azka sambil tersenyum.

Kota Sebaya, keesokan harinya

"Azka, lo sebenarnya punya pacar ngga sih?" tanya Nana pada Azka yang sedang menyantap nasi cumi di hadapanku.

"Ngga ada Na. Lagi kosong." jawabnya singkat.

Nanto : Dia kan masih pencarian Na.
Langga : Azka mah gitu. Dideketin, ada sifat yang ngga suka di tinggalin gitu aja. Gimana mau nemu?
Azka : Bawel lo. Kaya punya pacar aja.
Nanto : Au nih si gembul.
Nana : Ahaha. Emang harusnya gimana Ngga?
Langga : Ya terima lah baik-buruknya seseorang apa adanya. Manusia kan ngga ada yang sempurna. Gitu tuh yang bisa bertahan lama. Iya ngga Van?

Aku yang kaget dengan pertanyaan mendadak dari Langga hanya menanggapinya dengan tersenyum. Entah kenapa, rasanya ada dorongan di dalam hatiku yang memerintahkan untuk melihat ke arah Azka yang sedang duduk di hadapanku.

Tidak ada perubahan, dia masih tetap fokus menyantap makanannya.

Langga : Kaya Vanilla tuh, udah berapa taun coba sama pacarnya yang sekarang.
Nana : Iya ya Van, awet banget lo. Dari kapan sih? 2011 bukan? Waktu jaman awal masuk kuliah?
Vanilla : Iya.
Nanto : Nana juga lama padahal kemaren sama si Iman. Sayang banget putus.
Langga : Nah! Mending Nana sama Azka aja? Iya ngga ka? Gimana na?
Azka : Mau na? Lo sama gue?

Aku terdiam mendengar perkataan Azka pada Nana. Ada perasaan aneh yang tidak bisa kujelaskan dalam hatiku. Perutku yang tadinya lapar tiba-tiba kehilangan nafsu makan. Aku pun mendorong pelan piring makananku sambil mengaduk pelan teh hangat di hadapanku.

Nana : Gila lo! Gue doyan cowok yang semok kaya teddy bear. Ngga doyan yang tipis kaya triplek.

Obrolan dan tawa teman-temanku semakin lama semakin tipis terdengar di telingaku. Hati dan pikiranku seolah dibawa menjauh walaupun fisikku sedang duduk di antara mereka.

Pembicaraan ini seolah kembali menyadarkanku yang tanpa kusadari mulai menumbuhkan perasaan pada Azka lagi. Aku terbuai akan semua perlakuan manis Azka padaku selama bersama dengannya beberapa hari. Aku tau, harusnya tidak boleh seperti itu.

Ya, aku ditampar oleh kenyataan bahwa aku memang sedang berpacaran dengan seseorang sejak 4 tahun yang lalu. Yah, walaupun saat itu, hubunganku memang sudah sangat kritis, diterpa rasa bosan. Aku dan pacarku bahkan tidak ada berkomunikasi sama sekali semenjak aku berangkat 4 hari sebelumnya. Tapi ya tetap saja... Ini semua salah.

Suasana hatiku menjadi suram di malam terakhir kami bersama ini. Besok Azka dan kedua temanku akan kembali ke kota Malam, karena Senin mereka ada kelas. Dan lusa, aku dan Nana akan pulang. Intinya, kami akan kembali ke kehidupan masing-masing setelah malam ini.

Perlakuan Azka yang berubah perlahan-lahan juga semakin membuat pikiranku tidak karuan.

Entah sejak kapan, Azka mulai mengurangi perhatian dan perlakuan yang sebelumnya dia lakukan dengan penuh totalitas kepadaku.

Aku merasa Azka semakin menjauh setelah pembicaraan(yang bagiku tidak menyenangkan) di tempat makan. Pada yang lain, dia masih banyak berbicara, tapi dia sama sekali tidak berbicara padaku.

Di mobil dalam perjalanan pulang ke rumah Manda(tempat menginap kami di Sebaya), aku hanya diam memandangi Azka yang sedang mengemudikan mobil. Nanto yang sedari tadi berbicara padaku hanya kutanggapi dengan respon seadanya. Tony dan Langga sedang berbicara serius di jok paling belakang.

Entah bagaimana awalnya, tanpa ku sadari air mataku keluar begitu saja.

"Tisu tisu woy! Vanilla nangis nih. Kacau kacau... Kebawa banget ni anak dengerin curhatan gue ampe nangis segala" ujar Nanto panik sambil menyerahkan tisu kepadaku.

Mataku yang buram ditutupi air mata bertemu dengan tatapan Azka melalui spion tengah mobil. Tapi tak lama kemudian, Azka kembali memfokuskan dirinya pada jalanan di depan tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Nanto yang mengira aku menangis karena mendengar ceritanya pun akhirnya hanya diam sambil mengelus pelan bahuku. Tidak lama kemudian, mobil berhenti di sebuah warung bubur yang terkenal di kota itu. Saat itu, Tony meminta Langga dan aku bertukar tempat. Aku pun menurutinya, karena rasanya sangat menyiksa melihat Azka yang tidak menghiraukan ku sama sekali saat itu.

Rupanya Tony juga sedang ada masalah dengan pacarnya.

Aku tidak sok ingin tahu dan menenenangkan Tony saat ini. Karena hatiku sendiri juga sedang perlu ditenangkan. Untuk saat ini, kami hanya ingin saling menguatkan. Alunan lagu melow semakin membuat kami tenggelam dalam kesedihan. Teman-teman kami yang lain pun hanya membiarkan kami berdua di belakang.

Rumah Manda, 03:00 AM

"Girls, kita mau pulang..." suara Nanto terdengar di depan pintu kamar Manda, tempat kami semua tidur.

Ya, walaupun aku sama sekali tidak memejamkan mataku dan malah membiarkannya terus menerus mengeluarkan air mata sejak pulang dari makan malam.

Aku pun membukakan pintu untuk Nanto, dan menyalakan lampu kamar untuk membangunkan yang lain.

"Beneran mau pulang subuh ini? Ngga besok pagi aja sekalian?"

"Gue juga maunya besok, tapi tau nih. Si cungkring ngedesak banget pulang sekarang." ujar Nanto pada Azka yang sedang bersender di dinding dan memainkan ponselnya.

"Gue besok kuliah pagi. Dah ah, buruan." ucap Azka tanpa melihat ke arah ku sama sekali. Setelah menyelesaikan kalimatnya, dia langsung turun menuruni tangga.

Sekarang aku, Nana, Tony dan Manda sudah di depan rumah Manda. Azka sudah duduk di depan kemudi, Nanto duduk di sebelahnya, dan Langga juga sudah duduk manis di jok bagian tengah.

"Hati-hati ya guys. Makasih banyakk.. Sampai Malam jangan lupa kasih kabar.." ucap Nana sambil menopangkan tangannya pada jendela tengah yang sedang terbuka.

Dengan segala tenaga yang tertinggal, aku pun menguatkan diri dan mendekat ke arah jendela pengemudi.

"Hati-hati nyetirnya. Makasih buat 4 harinya..." ucapku sambil melihat wajah Azka.

Tidak ada respon. Wajahnya keras dan dingin, tatapan matanya terarah ke depan. Aku lihat tangannya juga tergenggam erat pada kemudi.

"Azka?..." panggilku pelan sambil menahan air mata.

Dia pun mengalihkan pandangannya ke padaku.

"Iya." jawabnya dingin dengan tatapan mata yang tidak dapat ku artikan.

Aku pun hanya menundukkan kepalaku dan memundurkan diriku menjauhi mobil. Tidak lama mobil itu pun berjalan menjauhi kami.

Saat kembali ke kamar, aku pun menumpahkan semuanya tanpa menahannya lagi...



Quote:
Diubah oleh beanilla93 14-12-2017 08:17
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.