- Beranda
- Stories from the Heart
Yaudah 3: Kuliah Kerja Nyata?
...
TS
dasadharma10
Yaudah 3: Kuliah Kerja Nyata?
Selamat datang di thread ketiga yang merupakan lanjutan dari Yaudah Gue Mati Ajadan Yaudah 2: Challenge Accepted.
Sebelumnya, ijinkan gue buat memperkenalkan diri. Bagi pembaca setia kisah gue, pastinya kalian udah enggak asing dengan nama Muhdawi. Tapi bagi pembaca yang baru masuk ke thread ini, pastinya kalian asing dengan nama yang enggak biasa itu. Perkenalkan, nama lengkap gue Muhammad Danang Wijaya. Biasanya orang-orang manggil gue Dawi yang diambil dari singkatan nama gue Muhdawi. Kalian bisa panggil gue Dawi, atau kalo mau ikut-ikutan manggil gue Sawi juga enggak masalah. Gue orangnya idem, apa yang lo mau, kalo gue bisa, pasti gue usahakan. Anyway, langsung aja masuk lebih dalam ke thread ini. Sekali lagi gue ucapkan, selamat datang di thread ini.
Sebelumnya, ijinkan gue buat memperkenalkan diri. Bagi pembaca setia kisah gue, pastinya kalian udah enggak asing dengan nama Muhdawi. Tapi bagi pembaca yang baru masuk ke thread ini, pastinya kalian asing dengan nama yang enggak biasa itu. Perkenalkan, nama lengkap gue Muhammad Danang Wijaya. Biasanya orang-orang manggil gue Dawi yang diambil dari singkatan nama gue Muhdawi. Kalian bisa panggil gue Dawi, atau kalo mau ikut-ikutan manggil gue Sawi juga enggak masalah. Gue orangnya idem, apa yang lo mau, kalo gue bisa, pasti gue usahakan. Anyway, langsung aja masuk lebih dalam ke thread ini. Sekali lagi gue ucapkan, selamat datang di thread ini.
Quote:
Quote:
Spoiler for Sinopsis:
Spoiler for Index:
Diubah oleh dasadharma10 16-10-2018 23:34
andybtg dan 14 lainnya memberi reputasi
11
359.3K
1.3K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
dasadharma10
#31
PART 4
Hampir dua tahun gue dan Emil tinggal di kosan yang baru ini, hampir dua tahun juga kita mengenal warga kosan ini. Orang yang barusan, Edo, kalo masalah materi dia adalah orang yang paling tajir di kosan kita. Tapi kalo ngomongin masalah percintaan, dia yang paling miskin di kosan kita. Jangan harap deh lihat dia jalan sama pacar, ngarepin dia ngobrol sama cewek aja mustahil. Semisal dia dinner bareng cewek nih ya, mungkin bakalan masuk dalam rekor MURI.
“The most impossible dinner ever!” seru gue.
Ya sebenerrnya enggak seberlebihan itu sih, tapi kalo jadi dia ya tetep aja sedih.
“Gue tuh suka bingung, Wi,” ucapnya tiba-tiba kembali duduk di sofa lobi.
“Lhah, kok lo balik lagi? Gue kira lo udah masuk kamar.”
“Gue udah kasih yang terbaik, apa yang dia minta juga gue turutin. Hubungan model gimanapun udah gue lalui, permainan model apa juga gue jabanin,” kata Edo menuntut jawaban dari gue. “Tapi kenapa dia masih pilih cowok lain, ya?”
“Yaudah sih biarin aja,” tanggap gue. “Jangan kecewa kalo dia pilih yang lain, emang susah ngeyakinin anjing kalo daging lebih enak daripada tulang.”
“Hus!” Emil menjewer gue, “Enggak ada ya pake banding-bandingin sama binatang.”
“Gue tuh pengin banget punya hubungan kayak lo berdua,” kata Edo serius. “Tapi gue enggak tau gimana caranya pertahanin hubungan seseru kalian ini.”
“Yaelah, Do,” ucap gue menghembuskan asap tebal. “Kita juga sering ribut kali. Malahan dulu kita sempat saling menjauh padahal hati pengin tetep barengan.”
“Nah terus? Gimana caranya biar tetep barengan? Biasanya kan kalo udah ribut pasti salah satu pengin pisah.”
“Kamu harus yakin dulu,” kata Emil memberikan jawaban. “Kamu harus paham kalo enggak ada hubungan yang selalu cerah.”
“Enggak ada hubungan yang selalu cerah?” Edo terlihat berpikir keras, “Maksud lo, Mil?”
“Ya gitu… enggak ada hubungan yang selalu cerah.”
“Enggak ada hubungan yang selalu cerah,” sambung gue. “Tapi dua orang yang mau saling berbagi payung bisa selamat dari badai.”
“Nah itu!” timpal suara dari belakang gue. “Itu yang paling penting dari sebuah hubungan!”
Sewaktu gue tengok, ada mas-mas berdiri di belakang gue lagi ngetok-ngetok rokok. Badan ideal, tinggi, wangi, muka sama rambutnya cocok banget. Ini semisal gue cewek, cowok kayak dia bakalan gue nilai sembilan! Tunggu, cewek kan enggak pake nilai cowok pake angka, ahh... ya pokoknya gitulah.
“Lhoh, mas Dwiki?” panggil gue begitu sadar ada orang di belakang gue. “Kapan dateng?”
“Baru jam dua tadi,” jawabnya duduk di sebelah gue. “Masih jet lag ini.”
“Mil, jagain Junior bentar dong,” seru suara mbak Saski. “Aku mau ke Indomaret bentar.”
“Iya, Mbak,” kata Emil beranjak dari lobi. “Papanya enggak mau tanggung jawab, ya?”
“Sembarangan kamu, Mil,” ucap mbak Saski paspasan.
Ini mbak Saski, cewek yang menurut gue paling keibuan yang pernah gue temui. Lebih keibuan dari Sintya, ibu kos, dan bahkan nyokap gue sendiri. Dia adalah istri yang paling dicintai suaminya. Dan mas Dwiki ini, dialah suami yang sangat mencintai mbak Saski. Terdengar lebay, tapi mereka bener-bener harmonis. Kalian pasti bakalan iri kalo lihat mereka kumpul sama Junior.
“Kamu kalo mau belajar masalah hubungan ya belajar sama ahlinya,” kata mas Dwiki menyalakan rokok. “Mumpung ada Dawi sama Emil yang satu kosan, kamu belajar sama mereka berdua. Aku yang udah nikah dan punya anak aja masih belajar sama dia masa kamu enggak?”
“Masalahnya mereka berdua ini kalo ditanyain serius kadang malah bikin bete aku, Mas,” jelas Edo. “Bukannya tercerahkan yang ada malah makin butek.”
“Ya… orangnya emang begini sih,” kata mas Dwiki. “Enggak cocok jadi guru, tapi ilmunya setara guru.”
“Ngaco aja mas ini,” bantah gue. “Mana ada setara guru.”
“Lhoh... gimana, to? Ilmu kalian berdua tuh banyak banget, lho.” Mas Dwiki menghisap rokoknya dalam-dalam, “Pelajaran dari kalian yang aku ambil tuh lumayan banyak, lho. Saski aja setuju sama pendapatku ini. Salah satunya pemahaman soal ‘makin setia makin banyak cobaan’ dari kalian berdua, itu enggak semua orang paham yang begituan. Apalagi pasangan yang belum nikah kayak kalian ini, jarang-jarang ada yang paham begituan.”
“Mas nih lebay,” kata gue malu-malu. “Mana ada yang begituan.”
“Pasangan jaman sekarang itu kebanyakan cuma paham kalo cinta itu saling memberi dan menerima.” Mas Dwiki kembali menghisap rokoknya dalam-dalam, “Padahal cinta itu enggak serendah itu, enggak secetek itu. Cinta itu bukan sekedar memberi dan menerima, bukan sekedar hubungan yang mirip kayak jual beli. Apalagi sekedar memberi tanpa mengharap apa-apa, dipikir lagi hubungan sama pengemis apa?”
Sejujurnya gue enggak pernah ngomong kayak gitu, selebihnya, mas Dwiki improvisasi sendiri.
“Ya iya juga, sih,” setuju Edo. “Terus gimana biar hubungan kita enggak sekedar cuma memberi dan menerima atau cuma memberi tanpa mengharap apa-apa?”
“Caranya ya cari pacar dulu,” kata gue menghembuskan asap tebal. “Satuin pemikiran, kalo udah sama baru deh saling memberi masukan.”
“Terus cara cari pacar paling baik gimana?” tanya Edo lagi.
“Kalo itu,” ucap mas Dwiki menyalakan rokok kedua. “Tiap orang beda-beda.”
“Terus ya…,” sindiri gue. “Mumpung istri lagi keluar rokok mulu.”
“Kangen aku, Wi,” kata mas Dwiki ketawa-tawa. “Peraturan di Jepang ketat banget soal rokok.”
Hampir dua tahun gue dan Emil tinggal di kosan yang baru ini, hampir dua tahun juga kita mengenal warga kosan ini. Orang yang barusan, Edo, kalo masalah materi dia adalah orang yang paling tajir di kosan kita. Tapi kalo ngomongin masalah percintaan, dia yang paling miskin di kosan kita. Jangan harap deh lihat dia jalan sama pacar, ngarepin dia ngobrol sama cewek aja mustahil. Semisal dia dinner bareng cewek nih ya, mungkin bakalan masuk dalam rekor MURI.
“The most impossible dinner ever!” seru gue.
Ya sebenerrnya enggak seberlebihan itu sih, tapi kalo jadi dia ya tetep aja sedih.
“Gue tuh suka bingung, Wi,” ucapnya tiba-tiba kembali duduk di sofa lobi.
“Lhah, kok lo balik lagi? Gue kira lo udah masuk kamar.”
“Gue udah kasih yang terbaik, apa yang dia minta juga gue turutin. Hubungan model gimanapun udah gue lalui, permainan model apa juga gue jabanin,” kata Edo menuntut jawaban dari gue. “Tapi kenapa dia masih pilih cowok lain, ya?”
“Yaudah sih biarin aja,” tanggap gue. “Jangan kecewa kalo dia pilih yang lain, emang susah ngeyakinin anjing kalo daging lebih enak daripada tulang.”
“Hus!” Emil menjewer gue, “Enggak ada ya pake banding-bandingin sama binatang.”
“Gue tuh pengin banget punya hubungan kayak lo berdua,” kata Edo serius. “Tapi gue enggak tau gimana caranya pertahanin hubungan seseru kalian ini.”
“Yaelah, Do,” ucap gue menghembuskan asap tebal. “Kita juga sering ribut kali. Malahan dulu kita sempat saling menjauh padahal hati pengin tetep barengan.”
“Nah terus? Gimana caranya biar tetep barengan? Biasanya kan kalo udah ribut pasti salah satu pengin pisah.”
“Kamu harus yakin dulu,” kata Emil memberikan jawaban. “Kamu harus paham kalo enggak ada hubungan yang selalu cerah.”
“Enggak ada hubungan yang selalu cerah?” Edo terlihat berpikir keras, “Maksud lo, Mil?”
“Ya gitu… enggak ada hubungan yang selalu cerah.”
“Enggak ada hubungan yang selalu cerah,” sambung gue. “Tapi dua orang yang mau saling berbagi payung bisa selamat dari badai.”
“Nah itu!” timpal suara dari belakang gue. “Itu yang paling penting dari sebuah hubungan!”
Sewaktu gue tengok, ada mas-mas berdiri di belakang gue lagi ngetok-ngetok rokok. Badan ideal, tinggi, wangi, muka sama rambutnya cocok banget. Ini semisal gue cewek, cowok kayak dia bakalan gue nilai sembilan! Tunggu, cewek kan enggak pake nilai cowok pake angka, ahh... ya pokoknya gitulah.
“Lhoh, mas Dwiki?” panggil gue begitu sadar ada orang di belakang gue. “Kapan dateng?”
“Baru jam dua tadi,” jawabnya duduk di sebelah gue. “Masih jet lag ini.”
“Mil, jagain Junior bentar dong,” seru suara mbak Saski. “Aku mau ke Indomaret bentar.”
“Iya, Mbak,” kata Emil beranjak dari lobi. “Papanya enggak mau tanggung jawab, ya?”
“Sembarangan kamu, Mil,” ucap mbak Saski paspasan.
Ini mbak Saski, cewek yang menurut gue paling keibuan yang pernah gue temui. Lebih keibuan dari Sintya, ibu kos, dan bahkan nyokap gue sendiri. Dia adalah istri yang paling dicintai suaminya. Dan mas Dwiki ini, dialah suami yang sangat mencintai mbak Saski. Terdengar lebay, tapi mereka bener-bener harmonis. Kalian pasti bakalan iri kalo lihat mereka kumpul sama Junior.
“Kamu kalo mau belajar masalah hubungan ya belajar sama ahlinya,” kata mas Dwiki menyalakan rokok. “Mumpung ada Dawi sama Emil yang satu kosan, kamu belajar sama mereka berdua. Aku yang udah nikah dan punya anak aja masih belajar sama dia masa kamu enggak?”
“Masalahnya mereka berdua ini kalo ditanyain serius kadang malah bikin bete aku, Mas,” jelas Edo. “Bukannya tercerahkan yang ada malah makin butek.”
“Ya… orangnya emang begini sih,” kata mas Dwiki. “Enggak cocok jadi guru, tapi ilmunya setara guru.”
“Ngaco aja mas ini,” bantah gue. “Mana ada setara guru.”
“Lhoh... gimana, to? Ilmu kalian berdua tuh banyak banget, lho.” Mas Dwiki menghisap rokoknya dalam-dalam, “Pelajaran dari kalian yang aku ambil tuh lumayan banyak, lho. Saski aja setuju sama pendapatku ini. Salah satunya pemahaman soal ‘makin setia makin banyak cobaan’ dari kalian berdua, itu enggak semua orang paham yang begituan. Apalagi pasangan yang belum nikah kayak kalian ini, jarang-jarang ada yang paham begituan.”
“Mas nih lebay,” kata gue malu-malu. “Mana ada yang begituan.”
“Pasangan jaman sekarang itu kebanyakan cuma paham kalo cinta itu saling memberi dan menerima.” Mas Dwiki kembali menghisap rokoknya dalam-dalam, “Padahal cinta itu enggak serendah itu, enggak secetek itu. Cinta itu bukan sekedar memberi dan menerima, bukan sekedar hubungan yang mirip kayak jual beli. Apalagi sekedar memberi tanpa mengharap apa-apa, dipikir lagi hubungan sama pengemis apa?”
Sejujurnya gue enggak pernah ngomong kayak gitu, selebihnya, mas Dwiki improvisasi sendiri.
“Ya iya juga, sih,” setuju Edo. “Terus gimana biar hubungan kita enggak sekedar cuma memberi dan menerima atau cuma memberi tanpa mengharap apa-apa?”
“Caranya ya cari pacar dulu,” kata gue menghembuskan asap tebal. “Satuin pemikiran, kalo udah sama baru deh saling memberi masukan.”
“Terus cara cari pacar paling baik gimana?” tanya Edo lagi.
“Kalo itu,” ucap mas Dwiki menyalakan rokok kedua. “Tiap orang beda-beda.”
“Terus ya…,” sindiri gue. “Mumpung istri lagi keluar rokok mulu.”
“Kangen aku, Wi,” kata mas Dwiki ketawa-tawa. “Peraturan di Jepang ketat banget soal rokok.”
JabLai cOY dan 2 lainnya memberi reputasi
3
