- Beranda
- Stories from the Heart
Yaudah 3: Kuliah Kerja Nyata?
...
TS
dasadharma10
Yaudah 3: Kuliah Kerja Nyata?
Selamat datang di thread ketiga yang merupakan lanjutan dari Yaudah Gue Mati Ajadan Yaudah 2: Challenge Accepted.
Sebelumnya, ijinkan gue buat memperkenalkan diri. Bagi pembaca setia kisah gue, pastinya kalian udah enggak asing dengan nama Muhdawi. Tapi bagi pembaca yang baru masuk ke thread ini, pastinya kalian asing dengan nama yang enggak biasa itu. Perkenalkan, nama lengkap gue Muhammad Danang Wijaya. Biasanya orang-orang manggil gue Dawi yang diambil dari singkatan nama gue Muhdawi. Kalian bisa panggil gue Dawi, atau kalo mau ikut-ikutan manggil gue Sawi juga enggak masalah. Gue orangnya idem, apa yang lo mau, kalo gue bisa, pasti gue usahakan. Anyway, langsung aja masuk lebih dalam ke thread ini. Sekali lagi gue ucapkan, selamat datang di thread ini.
Sebelumnya, ijinkan gue buat memperkenalkan diri. Bagi pembaca setia kisah gue, pastinya kalian udah enggak asing dengan nama Muhdawi. Tapi bagi pembaca yang baru masuk ke thread ini, pastinya kalian asing dengan nama yang enggak biasa itu. Perkenalkan, nama lengkap gue Muhammad Danang Wijaya. Biasanya orang-orang manggil gue Dawi yang diambil dari singkatan nama gue Muhdawi. Kalian bisa panggil gue Dawi, atau kalo mau ikut-ikutan manggil gue Sawi juga enggak masalah. Gue orangnya idem, apa yang lo mau, kalo gue bisa, pasti gue usahakan. Anyway, langsung aja masuk lebih dalam ke thread ini. Sekali lagi gue ucapkan, selamat datang di thread ini.
Quote:
Quote:
Spoiler for Sinopsis:
Spoiler for Index:
Diubah oleh dasadharma10 16-10-2018 23:34
andybtg dan 14 lainnya memberi reputasi
11
360K
1.3K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
dasadharma10
#12
PART 3
IYA, gue tau. Gue paham sepenuhnya dengan ucapan gue pada Emil. Dari siangnya ketemuan sama Arya, sampai sorenya duduk berdua sama Emil, otak gue mulai lebih mudah dalam memikirkan kondisi gue pada saat ini. Ya emang sih kata nikah itu enggak seharusnya gampang banget buat diucapin. Apalagi untuk seorang gue, mahasiswa tingkat akhir yang enggak lulus-lulus tapi calon udah minta dinikahin. Tapi ketika jiwa dan materi seorang cowok belum cukup bisa untuk meyakinkan seorang cewek, apalagi yang bisa kalo bukan sebuah kata-kata yang meyakinkan? Cowok yang dipegang kan kata-katanya, wajar aja kalo kata-kata seorang cowok selalu terdengar meyakinkan.
Gue juga sebenernya agak bingung, sewaktu masih SD dan SMP ngucapin kata nikah itu masih terdengar tabu banget, rasanya tuh belum pantas. Tapi entah kenapa beberapa tahun setelahnya, puluhan juta kata nikah terdengar dari berbagai tembok SMA di seluruh pelosok negeri. “Setelah lulus SMA aku pengin nikahin kamu,” terus “Aku yakin kamu jodohku, aku pengin kita nikah,” bahkan sampai “Kalo kejadian, aku janji pasti nikahin kamu.” Kata nikah itu seolah enggak bener-bener tabu lagi pada saat SMA. Tapi begitu masuk kuliah, apalagi masa-masa kritis kayak gue ini, kata nikah itu rasanya kayak sebuah momok yang menakutkan. Sebuah kata tabu yang kalo diucapkan rasanya bikin kepikiran sama segala hal. Sebuah kata yang kalo salah-salah diucapkan bakal mempermalukan keturuan kita tujuh generasi. Dari tabu, berubah tak tabu, hingga jadi makin tabu, sebuah ironi kata nikah.
Balik lagi ke masalah KKN. Dari warnet baru yang seminggu yang lalu ditemukan Emil demi bisa nemenin gue main DotA, kita balik ke kosan. Sementara gue parkirin mobil, Emil langsung lari ke kamar buat ambil netbook dan menyalakan router. Enggak kayak dua tahun sebelumnya sewaktu kita berdua tinggal terpisah, sekarang kita tinggal di kosan yang sama. Kosan campur yang bener-bener tercampur, sampai-sampai bayar dua kamar tapi cuma satu yang ditempatin. Yah… kayak main kucing-kucingan sama ibu kos gitu. Hari-hari biasa gue tidur di kamar Emil, tapi sewaktu ibu kos dateng, gue balik ke kamar gue yang pada dasarnya kita jadiin gudang. Meski kadang gue terpaksa tidur tanpa alas di kamar gue sendiri gara-gara ibu kos enggak pulang-pulang.
“Sepi amat ini kosan,” kata gue berjalan ke arah lobi. “Biasanya jam-jam segini rame.”
“Tau darimana kamu? Orang biasanya jam-jam seigi kita masih di warnet.” Emil meletakkan netbook di meja lobi, “Dukun, Pak?”
“Biasa kita balik udah rame, kan?”
“Tuh kan, sok tau lagi,” kata Emil membuka website kampus gue. “Orang tiap sampai kosan kamu langsung tidur.”
“Emang cowok enggak pernah ada benernya di depan cewek,” sindir gue.
Kita berdua segera mencari informasi masalah KKN dari website, tentang syarat, ketentuan KKN, bahkan sampai mencari tau berapa lama gue harus tidur di rumah KKN. Entah emang lagi rejeki atau emang caranya gitu, ternyata KKN di kampus gue bisa daftar online. Gue segera mengisi data diri dan submit ke website khusus KKN. Begitu nomor rekening kampus gue keluar, Emil segera membuka e-banking.
“Segampang ini?” tanya gue. “Kirain harus mondar-mandir ke kampus.”
“Kamunya aja yang katro,” sindir Emil mengotak-atik hapenya. “Cuma gara-gara takut tidur di rumah perkampungan aja sampai telat lulus.”
“Ye… biarin, tiap orang punya ketakutan sendiri-sendiri kali.” Gue keluarkan vape dari tas gue, “Ngomongin soal tidur, kalo gue ketiduran di gudang lo jangan ikutan tidur di gudang,”
“Ya masa tidur sendiri,” kata Emil enggak terima. “Mending nyusulin.”
“Kan tinggal bangunin aja,” ucap gue menjitaknya pelan. “Bukannya malah ikut-ikutan tidur tanpa alas.”
“Kalo kamu enggak bangun? Masa iya aku tidur sendiri?” Emil terlihat tertegun menyadari sesuatu lalu menatap gue, “Masa iya aku tidur sendiri?”
“Dibilang tinggal bangunin aku, cipratin air ke muka dikit juga bangun, kan?”
“Enggak,” gelengnya. “Kalo kamu KKN, masa iya aku tidur sendiri?”
“Ya mau gimana lagi,” ucap gue menarik kepalanya ke arah dada gue. “Mau gue cepet lulus, enggak?”
“Woe… masih sore nih,” kata seseorang dari arah halaman. “Masa iya udah disuguhin pemandangan kayak gini. Enggak ada pri-kejombloannya banget.”
“Bodo,” kata gue mempererat pelukan gue ke Emil. “Dari mana lo, Do? Masih belum dapet cewek?”
“Si bangke…, gue dari Indomaret doang masa iya ditanya begitu? Lo pikir sekarang pacar tersedia dalam bentuk sachet? Sekali pakai?”
Gue sama Emil cuma ketawa mendengar penjelasan Edo. Ini orang emang kocaknya minta ampun, salah satu orang yang bikin kita betah di sini ya Edo ini.
“Tapi tadi gue disenyumin sama mbak-mbak Indomaret.” Edo menunjukkan layar hapenya, terlihat seorang mbak-mbak Indomaret lagi memberikan kembalian ke seorang pelanggan, “Cakep, kan?”
“Ya terus?” tanya gue. “Lo baper sama dia?”
“Ya iyalah….” Edo mencoblos susu kotak yang sempat dibelinya, “Dia pasti juga ada rasa.”
“Mungkin juga, sih.” Gue melepaskan pelukan gue dari Emil dan menghisap vape dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan, “Cuma ada dua kemungkinan kalo udah kayak gini Do.”
“Dua kemungkinan?”
“Mungkin dia emang suka sama lo,” kata gue meyakinkan. “Tapi mungkin juga dia cuma jalanin tugasnya dengan baik.”
“Bete gue ngomong sama lo, Wi,” ucapnya beranjak dari lobi. “Asli bete.”
IYA, gue tau. Gue paham sepenuhnya dengan ucapan gue pada Emil. Dari siangnya ketemuan sama Arya, sampai sorenya duduk berdua sama Emil, otak gue mulai lebih mudah dalam memikirkan kondisi gue pada saat ini. Ya emang sih kata nikah itu enggak seharusnya gampang banget buat diucapin. Apalagi untuk seorang gue, mahasiswa tingkat akhir yang enggak lulus-lulus tapi calon udah minta dinikahin. Tapi ketika jiwa dan materi seorang cowok belum cukup bisa untuk meyakinkan seorang cewek, apalagi yang bisa kalo bukan sebuah kata-kata yang meyakinkan? Cowok yang dipegang kan kata-katanya, wajar aja kalo kata-kata seorang cowok selalu terdengar meyakinkan.
Gue juga sebenernya agak bingung, sewaktu masih SD dan SMP ngucapin kata nikah itu masih terdengar tabu banget, rasanya tuh belum pantas. Tapi entah kenapa beberapa tahun setelahnya, puluhan juta kata nikah terdengar dari berbagai tembok SMA di seluruh pelosok negeri. “Setelah lulus SMA aku pengin nikahin kamu,” terus “Aku yakin kamu jodohku, aku pengin kita nikah,” bahkan sampai “Kalo kejadian, aku janji pasti nikahin kamu.” Kata nikah itu seolah enggak bener-bener tabu lagi pada saat SMA. Tapi begitu masuk kuliah, apalagi masa-masa kritis kayak gue ini, kata nikah itu rasanya kayak sebuah momok yang menakutkan. Sebuah kata tabu yang kalo diucapkan rasanya bikin kepikiran sama segala hal. Sebuah kata yang kalo salah-salah diucapkan bakal mempermalukan keturuan kita tujuh generasi. Dari tabu, berubah tak tabu, hingga jadi makin tabu, sebuah ironi kata nikah.
Balik lagi ke masalah KKN. Dari warnet baru yang seminggu yang lalu ditemukan Emil demi bisa nemenin gue main DotA, kita balik ke kosan. Sementara gue parkirin mobil, Emil langsung lari ke kamar buat ambil netbook dan menyalakan router. Enggak kayak dua tahun sebelumnya sewaktu kita berdua tinggal terpisah, sekarang kita tinggal di kosan yang sama. Kosan campur yang bener-bener tercampur, sampai-sampai bayar dua kamar tapi cuma satu yang ditempatin. Yah… kayak main kucing-kucingan sama ibu kos gitu. Hari-hari biasa gue tidur di kamar Emil, tapi sewaktu ibu kos dateng, gue balik ke kamar gue yang pada dasarnya kita jadiin gudang. Meski kadang gue terpaksa tidur tanpa alas di kamar gue sendiri gara-gara ibu kos enggak pulang-pulang.
“Sepi amat ini kosan,” kata gue berjalan ke arah lobi. “Biasanya jam-jam segini rame.”
“Tau darimana kamu? Orang biasanya jam-jam seigi kita masih di warnet.” Emil meletakkan netbook di meja lobi, “Dukun, Pak?”
“Biasa kita balik udah rame, kan?”
“Tuh kan, sok tau lagi,” kata Emil membuka website kampus gue. “Orang tiap sampai kosan kamu langsung tidur.”
“Emang cowok enggak pernah ada benernya di depan cewek,” sindir gue.
Kita berdua segera mencari informasi masalah KKN dari website, tentang syarat, ketentuan KKN, bahkan sampai mencari tau berapa lama gue harus tidur di rumah KKN. Entah emang lagi rejeki atau emang caranya gitu, ternyata KKN di kampus gue bisa daftar online. Gue segera mengisi data diri dan submit ke website khusus KKN. Begitu nomor rekening kampus gue keluar, Emil segera membuka e-banking.
“Segampang ini?” tanya gue. “Kirain harus mondar-mandir ke kampus.”
“Kamunya aja yang katro,” sindir Emil mengotak-atik hapenya. “Cuma gara-gara takut tidur di rumah perkampungan aja sampai telat lulus.”
“Ye… biarin, tiap orang punya ketakutan sendiri-sendiri kali.” Gue keluarkan vape dari tas gue, “Ngomongin soal tidur, kalo gue ketiduran di gudang lo jangan ikutan tidur di gudang,”
“Ya masa tidur sendiri,” kata Emil enggak terima. “Mending nyusulin.”
“Kan tinggal bangunin aja,” ucap gue menjitaknya pelan. “Bukannya malah ikut-ikutan tidur tanpa alas.”
“Kalo kamu enggak bangun? Masa iya aku tidur sendiri?” Emil terlihat tertegun menyadari sesuatu lalu menatap gue, “Masa iya aku tidur sendiri?”
“Dibilang tinggal bangunin aku, cipratin air ke muka dikit juga bangun, kan?”
“Enggak,” gelengnya. “Kalo kamu KKN, masa iya aku tidur sendiri?”
“Ya mau gimana lagi,” ucap gue menarik kepalanya ke arah dada gue. “Mau gue cepet lulus, enggak?”
“Woe… masih sore nih,” kata seseorang dari arah halaman. “Masa iya udah disuguhin pemandangan kayak gini. Enggak ada pri-kejombloannya banget.”
“Bodo,” kata gue mempererat pelukan gue ke Emil. “Dari mana lo, Do? Masih belum dapet cewek?”
“Si bangke…, gue dari Indomaret doang masa iya ditanya begitu? Lo pikir sekarang pacar tersedia dalam bentuk sachet? Sekali pakai?”
Gue sama Emil cuma ketawa mendengar penjelasan Edo. Ini orang emang kocaknya minta ampun, salah satu orang yang bikin kita betah di sini ya Edo ini.
“Tapi tadi gue disenyumin sama mbak-mbak Indomaret.” Edo menunjukkan layar hapenya, terlihat seorang mbak-mbak Indomaret lagi memberikan kembalian ke seorang pelanggan, “Cakep, kan?”
“Ya terus?” tanya gue. “Lo baper sama dia?”
“Ya iyalah….” Edo mencoblos susu kotak yang sempat dibelinya, “Dia pasti juga ada rasa.”
“Mungkin juga, sih.” Gue melepaskan pelukan gue dari Emil dan menghisap vape dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan, “Cuma ada dua kemungkinan kalo udah kayak gini Do.”
“Dua kemungkinan?”
“Mungkin dia emang suka sama lo,” kata gue meyakinkan. “Tapi mungkin juga dia cuma jalanin tugasnya dengan baik.”
“Bete gue ngomong sama lo, Wi,” ucapnya beranjak dari lobi. “Asli bete.”
JabLai cOY dan 2 lainnya memberi reputasi
3
