- Beranda
- Stories from the Heart
DIBALIK JENDELA RUMAH WALET [TAMAT]
...
TS
dudatamvan88
DIBALIK JENDELA RUMAH WALET [TAMAT]
TRILOGI
OTHER STORY OF BORNEO
SEASON II
Salam penghuni Jagad KASKUS Terutama yang berada di Sub Forum SFTH
Hari ini ane nulis kisah kelanjutan dari cerita yang ane tulis sebelumnya mengenai hal - hal yang ane alami beberapa tahun yang lalu
Dan ane tetep mohon dengan sangat Kritik. Saran. Dan bimbinganya Buat ane yang Nubie ini.


![DIBALIK JENDELA RUMAH WALET [TAMAT]](https://s.kaskus.id/images/2017/09/30/9887347_201709301052350189.jpg)
OTHER STORY OF BORNEO
SEASON II
Salam penghuni Jagad KASKUS Terutama yang berada di Sub Forum SFTH
Hari ini ane nulis kisah kelanjutan dari cerita yang ane tulis sebelumnya mengenai hal - hal yang ane alami beberapa tahun yang lalu
Dan ane tetep mohon dengan sangat Kritik. Saran. Dan bimbinganya Buat ane yang Nubie ini.


Quote:
Quote:
![DIBALIK JENDELA RUMAH WALET [TAMAT]](https://s.kaskus.id/images/2017/09/30/9887347_201709301052350189.jpg)
Quote:
Quote:
PROLOG
Masih terngiang dengan jelas dikepalaku rasa sakit akan Kehilangan.
Semua yang aku miliki saat aku berjaya di jakarta hanya seperti cerita dongeng yang berakhir dengan tragis.
Rian mengajakku untuk merantau kekota Bontang.
Aku berharap bisa merubah hidupku saat aku menginjakan kaki di pulau terbeasar di indonesia ini.
Tapi semuanya tidak berjalan begitu lancar saat aku dan rian berkendara menyusuri Jalan Poros Sejauh 240 kilometer Dari kota Balikpapan menuju ke Kota Bontang.
Di kota ini aku Bertemu dengan lingkungan baru.
Bertemu dengan teman baru.
Dan hal yang tak pernah kubayangkan ternyata juga kualami di kota ini.
Akulah sang wakil janji itu.
Akankah semuanya akan berakhir disini???
Masih terngiang dengan jelas dikepalaku rasa sakit akan Kehilangan.
Semua yang aku miliki saat aku berjaya di jakarta hanya seperti cerita dongeng yang berakhir dengan tragis.
Rian mengajakku untuk merantau kekota Bontang.
Aku berharap bisa merubah hidupku saat aku menginjakan kaki di pulau terbeasar di indonesia ini.
Tapi semuanya tidak berjalan begitu lancar saat aku dan rian berkendara menyusuri Jalan Poros Sejauh 240 kilometer Dari kota Balikpapan menuju ke Kota Bontang.
Di kota ini aku Bertemu dengan lingkungan baru.
Bertemu dengan teman baru.
Dan hal yang tak pernah kubayangkan ternyata juga kualami di kota ini.
Akulah sang wakil janji itu.
Akankah semuanya akan berakhir disini???
Quote:
Quote:
Quote:
Diubah oleh dudatamvan88 25-11-2017 00:14
vanpad dan 39 lainnya memberi reputasi
40
951.2K
4.1K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•54KAnggota
Tampilkan semua post
TS
dudatamvan88
#3452
KEMBALI
Tujuanya sudah jelas. Aku harus kesana dan membunuhnya. Menghentikan semua kekejaman ini dan mengakhiri pembunuhan yang mbak endah lakukan. Aku harus menceritakan semuanya pada pak totok. Tanpa mempedulikan apapun lagi aku menembus jalan yang diterangi lampu menuju rumah pak totok. Tak ada keraguan. Tak ada ketakutan. Sekarang yang ada hanyalah emosi yang harus segera aku tuntaskan.
"Gelap??" tanyaku pada diriku sendiri karena mendapati rumah pak totok gelap seperti tak ada orang di dalamnya.
Beberapa kali aku mengetuk pagar dan memanggil tapi sama sekali tak ada jawaban.
Dengan pagar yang tidak terlalu tinggi sebenarnya mudah saja bagiku untuk memanjat pagar rumah pak totok dan memasukinya. Tapi jika ada yang melihat dan meneriakiku maka aku akan menjadi tertuduh pencuri yang pertama kali tertangkap di komplek perumahan ini.
DDDRRRRRTTTTTTTT tiba - tiba telponku bergetar dan saat kulihat ternyata nomor dari pak yudi yang menghubungiku.
"Pak yudi nelpon?? Tumben??" ujarku dalam hati sambil mengangkat telpon dari pak yudi.
"Ada apaan ya pak yudi??" gumanku pada diriku sendiri.
Entah sudah berapa lama aku mengetuk dan berteriak dan dapat kupastikan benar - benar tak ada orang di dalam rumah ini. Tapi kemana mereka??
Tunggu sebentar.. Pak yudi adalah teman pak totok " mungkin aku bisa mengetahui sesuatu darinya" gumanku pelan dan tanpa pikir panjang langsung mengarahkan sepeda motorku ke arah rumah pak yudi.
Kebetulan rumah pak yudi berada tidak jauh Walaupun sudah diluar komplek perumahan tempat pak totok tinggal. Hanya berkisar 10 menit aku sudah sampai di depan rumah pak yudi.
"Assalamualakum pak" ujarku sambil mengetuk pintubdepan rumah pak yudi.
"Waalaikum salam.. Indra kah??" terdengar suara seorang laki - laki menjawab salamku yang kutebak adalah suara pak yudi. Tak lama kemudian pak yudi membuka pintu dan mempersilahkanku untuk masuk.
"Ada apa ya pak?? Tadi dibtelpon kayaknya penting banget??" tanyaku ke pak yudi langsung pada intinya.
"Oh.. Engga ndra.. Saya mau ngobrol aja sama kamu.. Gimana kerjaan disana?? Kamu betah??" ujar pak yudi dan membuatku benar - benar emosi karena dia menyuruhku datang dengan nada serius di telpon hanya untuk mengobrol.
"Wah.. Saya kira ada apa pak.. Lumayan betah pak.." ujarku lemas dengan senyum yang sangat kupaksakan.
"Saya udah denger semuanya dari aji ndra" sahut pak yudi.
DEG
"Maa.. Maksud bapak gimana??" ujarku bingung.
"Jadi gini ndra.. Saya sudah denger dari aji apa yang terjadi di sana dan menurut saya pribadi antara bengkelmu disana dan bangunan di depanya dan semua kejadian itu bukan kebetulan" ujar pak yudi sambil menyalakan sebatang rokok.
"wah.. Berati mas aji cerita ya gimana petualangan kami disana???" tanyaku sedikit gugup.
"Bukan itu yang saya maksud.. Saya ini temanya totok udah lama.. Totok itu dulunya ya kaya kamu ini.. Sendirian di kota ini.. Ga punya apa - apa sampe dia kenal sama endah dan nikah taun lalu.. Nah. Endah ini janda ndra dan dia kaya raya tanah tempat bengkelmu berdiri itu juga punya endah.. Dulu totok sering nanya - nanya ke saya gimana kalo buka bengkel disana dan saya setuju.. Tapi disana udah berdiri bangunan itu.. Yang dibangun ga seperti rumah biasa.. Bangunan yang dibuat agar orang - orang ga ada yang curiga.. Bangunan rumah walet.. Tapi endah setiap ditanya selalu ngomong kalo tanah di depan itu sudah dijualnya dan pemilik tanah itu yang bangun.. Udah banyak yang bilang kalo endah dan keluarganya itu ngelakui pesugihan karena beberapa taun yang lalu suaminya mati bunuh diri ngegorok lehernya sendiri.. Dan saya jadi semakin yakin ini ulahnya endah.. Maafin saya ndra.. Saya ga ngira kalo semua cerita orang itu ternyata bener dan saya nempatin kamu disana" ujar pak totok panjang lebar hingga tak terasa abu rokok di tanganya telah memanjang.
Sebenarnya aku ingin sekali menceritakan fakta bahwa sebenarnya orang yang telah menggorok lehernya sendiri adalah ayah dari perempuan yang siang ini kami makamkan dan ada kemungkinan jika lusi pun ditarik paksa oleh lingkaran perjanjian iblis mbak endah. Tapi jika aku menceritakanya pak yudi akan bertanya darimana aku tau?? Dan bagaimana aku menjawabnya??
"Akhirnya kalian makamin dimana ndra?? Tulang.. Oh maaf.. Jenazah yang kalian gali itu??" tanya pak yudi.
"Wah.. Saya belum ketemu pak dion.. Dia sama aji yang makamin" ujarku dengan sedikit canggung.
"Jadi gimana keputusanmu ndra?? Kamu mau lanjut kerja disana atau??" tanya pak yudi terpotong menunggu jawabanku.
Aku hanya bisa terdiam memikirkan jawaban untuk pak yudi. Apa yang harus kukatakan?? Sedangkan saat ini aku sedang dalam perjalanan membuat perhitungan dengan orang yang kami berdua bicarakan. Tapi setidaknya ada sebuah titik terang yang kudapat bahwa kemungkinan sangat besar pak totok sama sekali tidak terlibat dengan kegiatan mbak endah.
"Saya ga tau pak.. Trus kalo saya emang keluar saya musti bilang apa sama pak totok?? Dia orangnya baik banget" ujarku lesu. "Yaudah pak mungkin malem ini gini aja dulu ya.. Saya ada keperluan lain.. Saya pamit dulu" lanjutku dengan berdiri dari sofa ruang tamu pak yudi.
"Kamu mau langsung pulang ke bengkel kah??" tanya pak yudi.
Aku hanya tersenyum menjawab pertanyaan pak yudi sambil menyalaminya. Pak yudi terlihat lesu dan ragu melihat gerak - gerikku.
"Kamu ga papa ndra??" tanya pak yudi.
"Ga papa pak.. Saya tinggal dulu ya" ujarku dengan meninggalkanya.
Dalam kebingungan Aku mengambil nafas dalam - dalam mencoba menenangkan diri dengan memikirkan kemana aku harus pergi sekarang.
"Tenang ndraa.. Tenang.. Semuanya bakal abu - abu saat lu emosi.. Tenang" ujarku pelan untuk menenangkan pikiranku sendiri. "Balik ke bengkel.. Gw akan balik ke benkel.. Gw pasti bisa ngelacak dia.. Pasti" lanjutku dengan mengarahkan motor melintasi jalur gelap poros Sangatta - Bontang.
Dengan mengendarai motor seperti dani pedrosa walaupun matic aku akhirnya bisa mencapai bengkel dalam waktu 1 jam 20 menit. Sebuah rekor untukku yang tanpa henti melantunkan zikir sepanjang perjalanan dan suasanan gelap dan sepi menyambutku saat aku tiba di bengkel karena memang tak ada satupun lampu yang menyala dan penerangan hanya titik - titik kecil cahaya lampu rumah warga di kejauhan. Tapi sepertinya ada yang aneh. Sepi kali ini benar - benar berbeda seperti biasanya karena entah kenapa malam ini sama sekali tak ada suara serangga yang saling bersahut - sahutan. Aaaaakkhh.. "Peduli setan dengan jangkrik" umpatku sambil membuka pintu roling dor.
Setelah memasukkan motor dan menutup semua pintu aku langsung merebahkan diri di kasur dan berteriak sekencang - kencangnya. Entah ada yang mendengarkan atau tidak tapi aku benar - benar muak dengan semua takdir ini. Takdir yang seolah - olah menyalahkanku. Takdir yang meruncing kepadaku. Takdir yang entah kenapa terasa sangat kebetulan tapi akulah tokoh utama dari semua kisah keji ini.
"AAAAAAAAAAAAAAKKKKKKHHHHHHH..
KEEEENAAAAPAAAAAAA????" teriakku sekencang - kencangnya.
Mau menangispun rasanya air mataku sudah sangat kering.
"Pak aksa.. Paaak.. Saya butuh bantuan paaaak" ujarku lirih.
Sejenak aku menenangkan diri dan mengingat semua yang pernah aku peroleh dulu. Sesuatu yang memang sebenarnya tak pernah hilang dari diriku.
"Nur℅`=`¢[¢|×€[|{``¢|[¢¢€=€©°€€€=€¶`°€€Π¥€=|×€=[¢×€€°€=**************#####*****************+$;$--$;$!"""-******" ujarku pelan melafalkan apa yang pernah kuhafal dan pernah kuamalkan.
whussssss
angin lembut yang entah datang darimana tiba - tiba berhembus ke arahku padahal sedari tadi aku sama sekali belum menyalakan kipas angin di kamar ini. Sejuk. Tenang. Dan cahaya putih terang yang menyilaukan tiba - tiba menyorot tepat ke arah mataku.
DEG
"Ternyata emang bisa balik??" ujarku pada diriku sendiri dengan tersenyum kecil. "Huh.. Ternyata emang udah garisnya.. Pilhan gw ke kalimantan maka akan begini.. Kalo gw tetep di jakarta maka jadi begini.. Dan pak sami.. Ucapan selamat datangnya bener - bener ga lucu pak" ujarku dengan tertawa saat menyadari semuanya.
Dan saat aku mengatakan semuanya berarti memang dalam artian sebenarnya. Secara sederhana mungkin akan disebut dengan membaca kemungkinan. Jika kita memilih baik maka akan menuai baik begitu pula sebaliknya tapi bagaimana cara menggambarkan saat semua pilihan yang ada beserta dengan hasilnya di kehidupanku kini terpampang dengan jelas di dalam pikiranku?? (Biarlah menjadi misteri)
"Lu disana mbak??" gumanku saat mengetahui posisi mbak endah ternyata tepat berada di dekatku. Di dalam rumah walet yang berdiri kokoh di depan bengkel. Aku segera beranjak berdiri dan membuka pintu kamar.
DEG
"Astagfirullah" ujarku terkejut saat mendapati dinding bercat putih yang ada tepat berada di depan pintu kamarku terdapat sebuah tulisan yang sebelumnya tidak ada disana. Sebuah tulisan berwarna merah yang bertinta darah.
"MATI"
"Gelap??" tanyaku pada diriku sendiri karena mendapati rumah pak totok gelap seperti tak ada orang di dalamnya.
Beberapa kali aku mengetuk pagar dan memanggil tapi sama sekali tak ada jawaban.
Dengan pagar yang tidak terlalu tinggi sebenarnya mudah saja bagiku untuk memanjat pagar rumah pak totok dan memasukinya. Tapi jika ada yang melihat dan meneriakiku maka aku akan menjadi tertuduh pencuri yang pertama kali tertangkap di komplek perumahan ini.
DDDRRRRRTTTTTTTT tiba - tiba telponku bergetar dan saat kulihat ternyata nomor dari pak yudi yang menghubungiku.
"Pak yudi nelpon?? Tumben??" ujarku dalam hati sambil mengangkat telpon dari pak yudi.
Quote:
"Ada apaan ya pak yudi??" gumanku pada diriku sendiri.
Entah sudah berapa lama aku mengetuk dan berteriak dan dapat kupastikan benar - benar tak ada orang di dalam rumah ini. Tapi kemana mereka??
Tunggu sebentar.. Pak yudi adalah teman pak totok " mungkin aku bisa mengetahui sesuatu darinya" gumanku pelan dan tanpa pikir panjang langsung mengarahkan sepeda motorku ke arah rumah pak yudi.
Kebetulan rumah pak yudi berada tidak jauh Walaupun sudah diluar komplek perumahan tempat pak totok tinggal. Hanya berkisar 10 menit aku sudah sampai di depan rumah pak yudi.
"Assalamualakum pak" ujarku sambil mengetuk pintubdepan rumah pak yudi.
"Waalaikum salam.. Indra kah??" terdengar suara seorang laki - laki menjawab salamku yang kutebak adalah suara pak yudi. Tak lama kemudian pak yudi membuka pintu dan mempersilahkanku untuk masuk.
"Ada apa ya pak?? Tadi dibtelpon kayaknya penting banget??" tanyaku ke pak yudi langsung pada intinya.
"Oh.. Engga ndra.. Saya mau ngobrol aja sama kamu.. Gimana kerjaan disana?? Kamu betah??" ujar pak yudi dan membuatku benar - benar emosi karena dia menyuruhku datang dengan nada serius di telpon hanya untuk mengobrol.
"Wah.. Saya kira ada apa pak.. Lumayan betah pak.." ujarku lemas dengan senyum yang sangat kupaksakan.
"Saya udah denger semuanya dari aji ndra" sahut pak yudi.
DEG
"Maa.. Maksud bapak gimana??" ujarku bingung.
"Jadi gini ndra.. Saya sudah denger dari aji apa yang terjadi di sana dan menurut saya pribadi antara bengkelmu disana dan bangunan di depanya dan semua kejadian itu bukan kebetulan" ujar pak yudi sambil menyalakan sebatang rokok.
"wah.. Berati mas aji cerita ya gimana petualangan kami disana???" tanyaku sedikit gugup.
"Bukan itu yang saya maksud.. Saya ini temanya totok udah lama.. Totok itu dulunya ya kaya kamu ini.. Sendirian di kota ini.. Ga punya apa - apa sampe dia kenal sama endah dan nikah taun lalu.. Nah. Endah ini janda ndra dan dia kaya raya tanah tempat bengkelmu berdiri itu juga punya endah.. Dulu totok sering nanya - nanya ke saya gimana kalo buka bengkel disana dan saya setuju.. Tapi disana udah berdiri bangunan itu.. Yang dibangun ga seperti rumah biasa.. Bangunan yang dibuat agar orang - orang ga ada yang curiga.. Bangunan rumah walet.. Tapi endah setiap ditanya selalu ngomong kalo tanah di depan itu sudah dijualnya dan pemilik tanah itu yang bangun.. Udah banyak yang bilang kalo endah dan keluarganya itu ngelakui pesugihan karena beberapa taun yang lalu suaminya mati bunuh diri ngegorok lehernya sendiri.. Dan saya jadi semakin yakin ini ulahnya endah.. Maafin saya ndra.. Saya ga ngira kalo semua cerita orang itu ternyata bener dan saya nempatin kamu disana" ujar pak totok panjang lebar hingga tak terasa abu rokok di tanganya telah memanjang.
Sebenarnya aku ingin sekali menceritakan fakta bahwa sebenarnya orang yang telah menggorok lehernya sendiri adalah ayah dari perempuan yang siang ini kami makamkan dan ada kemungkinan jika lusi pun ditarik paksa oleh lingkaran perjanjian iblis mbak endah. Tapi jika aku menceritakanya pak yudi akan bertanya darimana aku tau?? Dan bagaimana aku menjawabnya??
"Akhirnya kalian makamin dimana ndra?? Tulang.. Oh maaf.. Jenazah yang kalian gali itu??" tanya pak yudi.
"Wah.. Saya belum ketemu pak dion.. Dia sama aji yang makamin" ujarku dengan sedikit canggung.
"Jadi gimana keputusanmu ndra?? Kamu mau lanjut kerja disana atau??" tanya pak yudi terpotong menunggu jawabanku.
Aku hanya bisa terdiam memikirkan jawaban untuk pak yudi. Apa yang harus kukatakan?? Sedangkan saat ini aku sedang dalam perjalanan membuat perhitungan dengan orang yang kami berdua bicarakan. Tapi setidaknya ada sebuah titik terang yang kudapat bahwa kemungkinan sangat besar pak totok sama sekali tidak terlibat dengan kegiatan mbak endah.
"Saya ga tau pak.. Trus kalo saya emang keluar saya musti bilang apa sama pak totok?? Dia orangnya baik banget" ujarku lesu. "Yaudah pak mungkin malem ini gini aja dulu ya.. Saya ada keperluan lain.. Saya pamit dulu" lanjutku dengan berdiri dari sofa ruang tamu pak yudi.
"Kamu mau langsung pulang ke bengkel kah??" tanya pak yudi.
Aku hanya tersenyum menjawab pertanyaan pak yudi sambil menyalaminya. Pak yudi terlihat lesu dan ragu melihat gerak - gerikku.
"Kamu ga papa ndra??" tanya pak yudi.
"Ga papa pak.. Saya tinggal dulu ya" ujarku dengan meninggalkanya.
Dalam kebingungan Aku mengambil nafas dalam - dalam mencoba menenangkan diri dengan memikirkan kemana aku harus pergi sekarang.
"Tenang ndraa.. Tenang.. Semuanya bakal abu - abu saat lu emosi.. Tenang" ujarku pelan untuk menenangkan pikiranku sendiri. "Balik ke bengkel.. Gw akan balik ke benkel.. Gw pasti bisa ngelacak dia.. Pasti" lanjutku dengan mengarahkan motor melintasi jalur gelap poros Sangatta - Bontang.
Dengan mengendarai motor seperti dani pedrosa walaupun matic aku akhirnya bisa mencapai bengkel dalam waktu 1 jam 20 menit. Sebuah rekor untukku yang tanpa henti melantunkan zikir sepanjang perjalanan dan suasanan gelap dan sepi menyambutku saat aku tiba di bengkel karena memang tak ada satupun lampu yang menyala dan penerangan hanya titik - titik kecil cahaya lampu rumah warga di kejauhan. Tapi sepertinya ada yang aneh. Sepi kali ini benar - benar berbeda seperti biasanya karena entah kenapa malam ini sama sekali tak ada suara serangga yang saling bersahut - sahutan. Aaaaakkhh.. "Peduli setan dengan jangkrik" umpatku sambil membuka pintu roling dor.
Setelah memasukkan motor dan menutup semua pintu aku langsung merebahkan diri di kasur dan berteriak sekencang - kencangnya. Entah ada yang mendengarkan atau tidak tapi aku benar - benar muak dengan semua takdir ini. Takdir yang seolah - olah menyalahkanku. Takdir yang meruncing kepadaku. Takdir yang entah kenapa terasa sangat kebetulan tapi akulah tokoh utama dari semua kisah keji ini.
"AAAAAAAAAAAAAAKKKKKKHHHHHHH..
KEEEENAAAAPAAAAAAA????" teriakku sekencang - kencangnya.
Mau menangispun rasanya air mataku sudah sangat kering.
"Pak aksa.. Paaak.. Saya butuh bantuan paaaak" ujarku lirih.
Sejenak aku menenangkan diri dan mengingat semua yang pernah aku peroleh dulu. Sesuatu yang memang sebenarnya tak pernah hilang dari diriku.
"Nur℅`=`¢[¢|×€[|{``¢|[¢¢€=€©°€€€=€¶`°€€Π¥€=|×€=[¢×€€°€=**************#####*****************+$;$--$;$!"""-******" ujarku pelan melafalkan apa yang pernah kuhafal dan pernah kuamalkan.
whussssss
angin lembut yang entah datang darimana tiba - tiba berhembus ke arahku padahal sedari tadi aku sama sekali belum menyalakan kipas angin di kamar ini. Sejuk. Tenang. Dan cahaya putih terang yang menyilaukan tiba - tiba menyorot tepat ke arah mataku.
DEG
"Ternyata emang bisa balik??" ujarku pada diriku sendiri dengan tersenyum kecil. "Huh.. Ternyata emang udah garisnya.. Pilhan gw ke kalimantan maka akan begini.. Kalo gw tetep di jakarta maka jadi begini.. Dan pak sami.. Ucapan selamat datangnya bener - bener ga lucu pak" ujarku dengan tertawa saat menyadari semuanya.
Dan saat aku mengatakan semuanya berarti memang dalam artian sebenarnya. Secara sederhana mungkin akan disebut dengan membaca kemungkinan. Jika kita memilih baik maka akan menuai baik begitu pula sebaliknya tapi bagaimana cara menggambarkan saat semua pilihan yang ada beserta dengan hasilnya di kehidupanku kini terpampang dengan jelas di dalam pikiranku?? (Biarlah menjadi misteri)
"Lu disana mbak??" gumanku saat mengetahui posisi mbak endah ternyata tepat berada di dekatku. Di dalam rumah walet yang berdiri kokoh di depan bengkel. Aku segera beranjak berdiri dan membuka pintu kamar.
DEG
"Astagfirullah" ujarku terkejut saat mendapati dinding bercat putih yang ada tepat berada di depan pintu kamarku terdapat sebuah tulisan yang sebelumnya tidak ada disana. Sebuah tulisan berwarna merah yang bertinta darah.
"MATI"
Diubah oleh dudatamvan88 22-11-2017 22:19
symoel08 dan 16 lainnya memberi reputasi
17
![DIBALIK JENDELA RUMAH WALET [TAMAT]](https://s.kaskus.id/images/2017/09/30/9887347_201709300850100467.jpg)
![DIBALIK JENDELA RUMAH WALET [TAMAT]](https://s.kaskus.id/images/2017/10/11/9931379_20171011035147.jpg)
![DIBALIK JENDELA RUMAH WALET [TAMAT]](https://s.kaskus.id/images/2017/10/08/9887347_201710080143290163.jpg)