- Beranda
- Stories from the Heart
Diary 2 Dunia
...
TS
agusk1988
Diary 2 Dunia

Terima kasih mas AWAYAYE untuk cover keren nya.
Ilustrasi Ronggo Geni

Ilustrasi Dewi Puspa Kenanga

Halo agan/aganwati kaskuser sekalian. Halo juga untuk para momod sekalian. Gue adalah silent reader yang udah lama melintang di forum kaskus. Terkhusus untuk sub forum stories from the heart. Kali ini perkenankan gue untuk menceritakan sebuab kisah klasik tentang perjalanan anak manusia yang berawal mula beberapa tahun lalu.
Jika kalian bertanya ini real atau fiksi.? gue kembali kan ke pribadi para reader sekalian. Daripada pada nanti para reader sekalian kepo, anggap saja cerita ini fiksi
Tapi terlepas dari itu semua,, percaya lah bahwa " mereka", beserta " dunia mereka" itu ada. Jadi hormati lah " mereka" seperti kita menghormati sesama kita. Karena pada dasarnya " mereka" sama seperti kita. Ada baik, jahat beserta segala hal yang tak bisa di jelaskan secara logika.
Dan yang terakhir, harap patuhi rule yang berlaku di sub forum ini. Karena menghormati orang lain itu secara tidak langsung membuat kita juga akan di hormat i.
Silahkan di nikmati
Quote:
Spoiler for ILUSTRASI:
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 165 suara
Menurut Kalian Bagaimana Seharusnya Thread Ini Berjalan Ke Depannya
Tetep seperti sudah sudah mas, penuh dengan pesan kehidupan
90%
Tamat in saja mas,, sudah terlalu mainstream seperti Thread lain
9%
No Comment mas, emang situ siapa..?
1%
Diubah oleh agusk1988 18-07-2021 04:03
User telah dihapus dan 26 lainnya memberi reputasi
23
1M
2.9K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
agusk1988
#861
PART 43
" kamu sudah bangun ngger " sapa pria tua dengan baju dan sorban putih...
Pria tua tadi pun berjalan ke ranjang tempat tubuh ku terbaring.. Di pegang nya kening ku oleh beliau sembari membaca sesuatu...
Subhanallah...
Hawa hangat seketika aku rasakan setelah pria tadi selesai menyentuh kening ku.. Rasa sakit yang tadi ku rasakan pun berangsur angsur hilang...
" aki ini siapa.? Dan saat ini aku sedang berada dimana " tanya ku sembari mencoba bangun...
Pria tadi pun tersenyum ke arah ku...
" aku Arya Wirabuana ngger " jawab pria tua tadi singkat..
" ja.. Jadi aki ini leluhur ku " ucap ku lagi tergagap...
" bener ngger. Aku adalah leluhur mu. Dan disini adalah sebuah dunia antara dunia orang yang masih hidup dengan dunia orang yang sudah mati " kata leluhur ku lagi..
" maafkan aku ki yang telah kurang ajar tak mengenali leluhur nya sendiri " ucap ku menyesal dan kini bersimpuh mencium kedua punggung tangannya..
" tak apa ngger.. Aki sudah senang kamu mampir kesini setelah sekian lama " kata Ki Wirabuana dengan suara yang sangat berwibawa..
" aki tau siapa Arya Banaspati " tanya ku lagi ke leluhur ku
" akan ada saatnya kau tahu semuanya ngger. Tapi saat itu bukan sekarang "..
" kembali lah ngger. Belum saatnya untuk mu berada disini. "
" tutup lah kedua mata mu, akan aku antar kau kembali ke tubuh asli mu " tambah leluhur ku..
Aku pun lantas menuruti perkataan beliau dan memejamkan kedua mataku.. Sebuah sentuhan yang hangat ku rasakan di ubun ubun kepala ku...
SLAPPPPPPP....
Aku pun kembali jatuh pingsan untuk kedua kalinya.. Suara tangis sesenggukan,, membangunkan ku untuk kedua kalinya.. Perlahan lahan kucoba membuka kedua mata ku yang teramat sangat berat..
" dimana aku sekarang " ucap ku pelan sembari melihat keadaan di sekitar ku..
Tampak sebuah selang oksigen untuk alat bantu pernapasan terpasang di kedua lubang hidungku.. Kabel kabel dari Alat buat monitoring detak jantung juga menempel di keempat sudut dada ku..
" kamu akhirnya sadar juga mas " ucap seseorang dengan suara parau..
" eh kamu nduk.. Aku sekarang ada dimana " tanya ku lagi..
" kamu di rumah sakit kak. Sudah dua hari kamu pingsan sejak dari sma mbak silvi " sahut seorang lainnya diiringi tangis sesenggukan..
" Stella.. Kamu koq disini juga dek. Memang apa yang terjadi dengan ku.? " setelah pingsan aku seperti lupa dengan kejadian yang menimpa ku..
" gw lihat tubuh lu terpental beberapa meter ke belakang dan jatuh berguling guling di tanah. Setelah itu, kami pun menghampiri lu dan melihat lu sudah tak sadar kan diri "
" kami pikir lu sudah meninggalkan kami gus. Karena detak jantung serta denyut nadi lu sama sekali tak terasa " timpal seseorang dari ujung ranjang tempat tubuh asli ku terbaring..
Hmmmm,, jadi aku sempat mati suri..
" tapi anehnya, saat kami membawa tubuh mu ke rumah sakit, organ organ vital lu kembali kerja dengan normal " ucap nya lagi keheranan..
" berarti Yang Di Atas belum berkehendak untuk kematian ku Nay " balas ku terkekeh..
CEKITTTTT....
" jangan bercanda mas. Nduk benar benar takut akan kehilangan dirimu " cubit Reni di lengan ku sembari menangis semakin keras..
" awwww... Sakit nduk.. Koq malah di cubit sih " protes ku...
" hehehe,, kebiasaan mas " kata Reni enteng..
" ehhhh koq aku dibawa ke rumah sakit segala sih. Orang tua ku mana punya uang buat membiayai semua pengobatan ku " kata ku ke reni dan Stella..
" kakak gak usah memikirkan masalah biaya. Ayah dan Om Adrian yang akan menanggung semuanya " ucap Stella..
" tapi dek..... "
" iya dek.. Kamu gak perlu memikirkan hal itu. Cukup fokus saja untuk kesembuhan mu " potong seseorang dari luar dan kini masuk ke dalam ruang tempat aku di rawat yang ternyata mbak silvi..
" tapi mbak... "
" udah dek jangan ngebantah lagi " bentak mbak silvi hingga membuat yang ada di ruangan itu menoleh ke arah nya..
Aku pun diam tak berkutik setelah dibentak oleh mbak silvi...
" dek ada yang ingin bertemu dengan mu "
" nad, ayo masuk " teriak mbak silvi keluar ruangan...
Tak selang beberapa lama, seorang gadis dengan pakaian khas rumah sakit terlihat dari balik pintu dan kini berjalan mendekati ku..
" maafin mbak dek " ucap mbak nadia sembari memeluk tubuh ku dan menangis sesenggukan...
" hey hey hey... Aku gpp mbak. Jadi tolong mbak nadia jangan nangis " kataku seraya melepas pelukan dari mbak nadia..
" maafkan jin penjaga putri bapak nak " sahut seseorang dari luar dan kini ikut masuk ke dalam ruangan tempat aku di rawat...
" Ki Rengga " pekik ku pelan..
Aku pun langsung beringsut dari tempat tidur ku dan merapal ajian perlindungan diri...
" tenang tenang anak muda.. Kedatangan ku kesini ku kesini hanya untuk menyampaikan ucapan terima kasih karena dirimu telah menyelamatkan putri semata wayang ku " kata Ki Rengga..
Ajian perlindungan diri pun aku batal kan dan perlahan lahan kewaspadaan ku kukendurkan setelah mendengar ucapan Ki Rengga...
" aku akan membuat perhitungan dengan mu kalau sampai terjadi sesuatu dengan anak ku Rengga " timpal seseorang lagi dari luar ruangan yang ternyata bapak ku...
Suasana pun mendadak hening saat bapak ku berucap seperti itu.. Tak lama setelah bapak masuk, ibu dan adek ku pun ikut masuk untuk menjenguk ku...
" sudah pak sudah. Yang lalu biarlah berlalu. Tapi kita juga tak boleh sedikit pun mengendurkan keenam indera kita "
" sebab ada bahaya lebih besar yang sedang mengintai "kataku memecah keheningan...
" maksud mu anak muda " tanya Ki Rengga yang sepertinya kurang faham dengan ucapan ku..
" sepersekian detik sebelum aku melancarkan serangan Pamungkas ke Kala Geni, muncul sosok yang lebih besar yang menyelamatkan nya "
" sosok tersebut mengaku bernama Arya Banaspati. Dan dia bilang akan ada sebuah pertempuran besar antara kebatilan dan kebajikan di masa yang akan datang " kata ku lagi menjelaskan...
Bapak dan Ki Rengga pun terhenyak kaget saat aku menyebutkan kata Arya Banaspati...
" sekarang kau sudah lihat kan Rengga siapa Arya Banaspati sesungguhnya " ucap Bapak ku sembari berfikir sesuatu..
" iya kang,,, aku sudah salah karena terlalu bergantung kepada jin hitam itu " balas Ki Rengga tertunduk..
" bertobat lah Rengga sebelum terlambat.. Sebab aku yakin keluarga besar juga masih menerima mu kembali "kata bapak ku lagi...
" tunggu tunggu tunggu. Keluarga besar yang mana pak " tanya ku karena ucapan bapak yang ngambang..
" kakek bapak mu serta kakek ku itu bersaudara anak muda.. Jadi secara tidak langsung aku ini masih kerabat mu " sahut Ki Rengga menerangkan maksud dari ucapan bapak ku...
" jadi aku dan mbak nadia masih saudara " tnya ku lagi mengeyitkan dahi...
" iya kalian masih bersaudara " jawab Ki Rengga singkat...
Aku dan mbak nadia pun langsung shock dan beradu pandang satu sama lain... Kami hanya berdiam diri mematung.. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut kami...
" sudah sudah. Reuni nya nanti saja di rumah. Tujuan kita kesini kan buat jenguk anak kita pak " sahut ibu ku mengalihkan topik..
Bapak ku pun tak melanjutkan percakapan nya dengan Ki Rengga dan memilih duduk di sofa yang di siapkan rumah sakit untuk para penjenguk.. Bakal mahal nih bayar nya kalo fasilitas nya kayak gini..
Karena tak ingin menjadi beban keluarga pak arman dan pak Adrian lebih lama, aku pun meminta agar dibolehkan pulang dari rumah sakit hari itu juga.. Sebenarnya Reni tidak mengizinkanku dan dia bilang papa nya sanggup membiayai seluruh biaya rumah sakit kalo misalnya pak arman atau pak Adrian tak mau lagi membiayai nya..
Namun karena tak ingin merepotkan lebih banyak orang lagi, aku tetap kekeuh pada pendiri an ku agar pulang hari itu juga.. Setelah dokter melepas segala alat bantu yang menempel di tubuh ku, aku pun di ijinkan pulang.. Sementara itu Nadia harus tetep tinggal beberapa hari lagi untuk memantau perkembangan otak nya...
Sore itu pun rumah ku mendadak ramai karena penuh dengan tetangga serta kerabat yang penasaran dengan keadaan ku.. Stella, Reni, Kanaya dan mbak silvi yang ikut mengantar kepulangan ku pun di sambut hangat oleh keluarga besar ku... Setelah turun dari mobil milik keluarga Reni, aku pun langsung masuk ke dalam rumah dan beristirahat di dalam kamar...
Keempat bidadari yang berganti an menunggu ku di rumah sakit pun ikut masuk hingga membuat suasana sore itu sangat canggung...
" gimana kang... Apa kita lancar kan serangan balasan " ucap Pak Lek(saudara orang tua kita yang lebih muda) ku dengan emosi..
TOANKKKKKK....
" kowe ojo ngompor ngompor i wae " sungut ibu ku kesal dan memukul kepalanya dengan nampan bekas pakai untuk menampung minuman tamu yang hadir di rumah ku sore itu...
Pak Lek ku pun hanya cengengesan sembari sesekali memegang i kepala yang bekas di getok ibu ku...
" ciye... Pantes kowe cepet sembuh. Orang ditunggu i empat bidadari cantik kayak gini " goda kang paijo yang ikut menjenguk ku saat tiba dirumah...
Aku pun langsung melempar kang paijo dengan bantal yang biasa ku pakai tidur karena dia tidak pandai membaca situasi yang saat ini aku alami ... Kanaya, Mbak Silvi, Reni dan Stella pun hanya tersenyum satu sama lain...
" baik kowe jo. Baca situasi lah " sahut kang japrik dari belakang...
Kang paijo pun hanya nyengir kuda...
" gimana ceritanya gus kamu bisa pingsan dua hari di rumah sakit " tanya kang tikno yang sudah lebih dulu masuk dan duduk di pojokan..
" biasa kang. Ada makhluk tak kasat mata berilmu tinggi yang menyerang ku. Padahal sebelumnya aku hampir saja mengalahkan anak buah nya " gerutuku kesal...
" terus kelanjutan pertempuran nya gimana gus " tanya kang paijo yang juga ikut selonjoran di pojokan...
" nah itu dia kang. Kayaknya nanti akan ada rembugan di keluarga besar. Dan pasti para murid akan di wajib kan untuk ikut "
" sebab jin yang membuat ku pingsan bilang bahwa dia akan kembali dengan pertempuran yang lebih besar " jawab ku begidik...
" insya Allah kami berempat akan bantu gus. Hidup mati sudah ada yang ngatur. Jadi kalo kita mati untuk sesuatu yang baik, insya Allah kami ikhlas " sahut kang blanggur bijak...
" terima kasih banyak kang " kata ku lagi terharu dengan kekompakan yang di tunjukkan temen sekampung ku ini...
4 bidadari tadi pun hanya terdiam membisu menyimak percakapan ku dengan kang paijo and the genk... Tampak kekhawatiran terlihat jelas di guratan guratan wajah mereka...
" kalian tenang saja.. Makhluk itu tak akan kembali dalam waktu dekat " ucap ku menenangkan mereka...
" apa nggak bisa lu abaikan makhluk yang tadi lu sebutkan dan mencoba hidup normal laik nya remaja SMA lainnya gus " kata Kanaya dengan wajah berkaca kaca..
" sayang nya gak bisa Nay.. Di dalam kekuatan yang besar, terdapat sebuah tanggung jawab yang besar pula untuk ku emban " ucap ku mengutip pernyataan Ben Parker( paman Peter Parker di film spiderman 1)..
" baik lah kalo gitu mas. Kami hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk mu " sahut Reni yang sepertinya bisa bersikap makin dewasa..
" doa dari kalian semua sudah lebih dari cukup untuk ku nduk " balas ku sembari membelai rambut reni...
Mereka pun mengangguk dan kini mulai mengobrol dengan kang paijo dkk... Bedug maghrib terdengar begitu nyaring sebagai tanda bahwa waktu sholat telah tiba.. Aku pun mengajak Kanaya, Mbak Silvi, dan Reni untuk sholat berjamaah bersama di mushola yang hanya berjarak 50 meter dari rumah ku...
Sementara itu kang paijo dkk pamit ke rumah masing-masing untuk mengambil peci serta sarung.. Aku pun mengambil dua mukena milik kakak perempuan ku(kk perempuan ku kerja di Sidoarjo dan hanya pulang saat lebaran) dan lantas memberikan nya ke Stella sama mbak silvi. Maklum postur mereka berdua hampir sama dengan mbak ku.. Jadi aku yakin mukena ini pas untuk mereka..
Tapi jangan salah, meski kecil, mbak silvi ini tubuhnya padat berisi...sedang untuk Reni serta Kanaya, biar nanti pake mukena cadangan yang ada di mushola.. Setelah selesai mengambil wudhlu, aku pun lantas langsung memakai peci serta kulingkarkan sarung harimau duduk di pinggang ku..
" kamu kelihatan keren Kalao kayak gini dek " ucap mbak silvi setelah selesai memakai mukena yang tadi ku berikan...
" mbak silvi juga cantik kok pakai mukena itu " balas ku buat pujian yang tadi mbak silvi lontar kan...
CEKITTTTTT....
" Mbak silvi doang yang dipuji " sahut Stella dengan bibir nya yang manyun...
" awwwwww... Sakit dek... Batal kan wudhlu yang tadi ku ambil " ucap ku menggosok gosok lengan ku yang bekas di cubit Stella....
" iya kamu juga cantik koq pake mukena itu... Makin imut malah " kataku lagi sembari mencubit balik kedua pipi nya...
" ahhhhhh kak agus... Sakit tau " dengus Stella seraya memegang i pipi nya yang bekas aku cubit...
Kanaya dan Reni pun hanya tersenyum melihat tingkah polah kami... Tak terasa kami telah sampai di mushola dan kini ke kamar mandi untuk mengambil wudhlu lagi...
SUBHANALLAH....
" Kalian berempat sangat cantik kalo seperti ini " ucap ku spontan saat melihat reni, Kanaya, Stella serta mbak silvi selesai mengambil wudhlu dan memakai mukena masing-masing...
Keempat gadis tadi pun hanya tersenyum dan wajah mereka mulai terlihat memerah..
Setelah selesai menunaikan 3 rakaat, kami berlima pun kembali ke rumah ku untuk bersantap makan malam..
" kamu sudah bangun ngger " sapa pria tua dengan baju dan sorban putih...
Pria tua tadi pun berjalan ke ranjang tempat tubuh ku terbaring.. Di pegang nya kening ku oleh beliau sembari membaca sesuatu...
Subhanallah...
Hawa hangat seketika aku rasakan setelah pria tadi selesai menyentuh kening ku.. Rasa sakit yang tadi ku rasakan pun berangsur angsur hilang...
" aki ini siapa.? Dan saat ini aku sedang berada dimana " tanya ku sembari mencoba bangun...
Pria tadi pun tersenyum ke arah ku...
" aku Arya Wirabuana ngger " jawab pria tua tadi singkat..
" ja.. Jadi aki ini leluhur ku " ucap ku lagi tergagap...
" bener ngger. Aku adalah leluhur mu. Dan disini adalah sebuah dunia antara dunia orang yang masih hidup dengan dunia orang yang sudah mati " kata leluhur ku lagi..
" maafkan aku ki yang telah kurang ajar tak mengenali leluhur nya sendiri " ucap ku menyesal dan kini bersimpuh mencium kedua punggung tangannya..
" tak apa ngger.. Aki sudah senang kamu mampir kesini setelah sekian lama " kata Ki Wirabuana dengan suara yang sangat berwibawa..
" aki tau siapa Arya Banaspati " tanya ku lagi ke leluhur ku
" akan ada saatnya kau tahu semuanya ngger. Tapi saat itu bukan sekarang "..
" kembali lah ngger. Belum saatnya untuk mu berada disini. "
" tutup lah kedua mata mu, akan aku antar kau kembali ke tubuh asli mu " tambah leluhur ku..
Aku pun lantas menuruti perkataan beliau dan memejamkan kedua mataku.. Sebuah sentuhan yang hangat ku rasakan di ubun ubun kepala ku...
SLAPPPPPPP....
Aku pun kembali jatuh pingsan untuk kedua kalinya.. Suara tangis sesenggukan,, membangunkan ku untuk kedua kalinya.. Perlahan lahan kucoba membuka kedua mata ku yang teramat sangat berat..
" dimana aku sekarang " ucap ku pelan sembari melihat keadaan di sekitar ku..
Tampak sebuah selang oksigen untuk alat bantu pernapasan terpasang di kedua lubang hidungku.. Kabel kabel dari Alat buat monitoring detak jantung juga menempel di keempat sudut dada ku..
" kamu akhirnya sadar juga mas " ucap seseorang dengan suara parau..
" eh kamu nduk.. Aku sekarang ada dimana " tanya ku lagi..
" kamu di rumah sakit kak. Sudah dua hari kamu pingsan sejak dari sma mbak silvi " sahut seorang lainnya diiringi tangis sesenggukan..
" Stella.. Kamu koq disini juga dek. Memang apa yang terjadi dengan ku.? " setelah pingsan aku seperti lupa dengan kejadian yang menimpa ku..
" gw lihat tubuh lu terpental beberapa meter ke belakang dan jatuh berguling guling di tanah. Setelah itu, kami pun menghampiri lu dan melihat lu sudah tak sadar kan diri "
" kami pikir lu sudah meninggalkan kami gus. Karena detak jantung serta denyut nadi lu sama sekali tak terasa " timpal seseorang dari ujung ranjang tempat tubuh asli ku terbaring..
Hmmmm,, jadi aku sempat mati suri..
" tapi anehnya, saat kami membawa tubuh mu ke rumah sakit, organ organ vital lu kembali kerja dengan normal " ucap nya lagi keheranan..
" berarti Yang Di Atas belum berkehendak untuk kematian ku Nay " balas ku terkekeh..
CEKITTTTT....
" jangan bercanda mas. Nduk benar benar takut akan kehilangan dirimu " cubit Reni di lengan ku sembari menangis semakin keras..
" awwww... Sakit nduk.. Koq malah di cubit sih " protes ku...
" hehehe,, kebiasaan mas " kata Reni enteng..
" ehhhh koq aku dibawa ke rumah sakit segala sih. Orang tua ku mana punya uang buat membiayai semua pengobatan ku " kata ku ke reni dan Stella..
" kakak gak usah memikirkan masalah biaya. Ayah dan Om Adrian yang akan menanggung semuanya " ucap Stella..
" tapi dek..... "
" iya dek.. Kamu gak perlu memikirkan hal itu. Cukup fokus saja untuk kesembuhan mu " potong seseorang dari luar dan kini masuk ke dalam ruang tempat aku di rawat yang ternyata mbak silvi..
" tapi mbak... "
" udah dek jangan ngebantah lagi " bentak mbak silvi hingga membuat yang ada di ruangan itu menoleh ke arah nya..
Aku pun diam tak berkutik setelah dibentak oleh mbak silvi...
" dek ada yang ingin bertemu dengan mu "
" nad, ayo masuk " teriak mbak silvi keluar ruangan...
Tak selang beberapa lama, seorang gadis dengan pakaian khas rumah sakit terlihat dari balik pintu dan kini berjalan mendekati ku..
" maafin mbak dek " ucap mbak nadia sembari memeluk tubuh ku dan menangis sesenggukan...
" hey hey hey... Aku gpp mbak. Jadi tolong mbak nadia jangan nangis " kataku seraya melepas pelukan dari mbak nadia..
" maafkan jin penjaga putri bapak nak " sahut seseorang dari luar dan kini ikut masuk ke dalam ruangan tempat aku di rawat...
" Ki Rengga " pekik ku pelan..
Aku pun langsung beringsut dari tempat tidur ku dan merapal ajian perlindungan diri...
" tenang tenang anak muda.. Kedatangan ku kesini ku kesini hanya untuk menyampaikan ucapan terima kasih karena dirimu telah menyelamatkan putri semata wayang ku " kata Ki Rengga..
Ajian perlindungan diri pun aku batal kan dan perlahan lahan kewaspadaan ku kukendurkan setelah mendengar ucapan Ki Rengga...
" aku akan membuat perhitungan dengan mu kalau sampai terjadi sesuatu dengan anak ku Rengga " timpal seseorang lagi dari luar ruangan yang ternyata bapak ku...
Suasana pun mendadak hening saat bapak ku berucap seperti itu.. Tak lama setelah bapak masuk, ibu dan adek ku pun ikut masuk untuk menjenguk ku...
" sudah pak sudah. Yang lalu biarlah berlalu. Tapi kita juga tak boleh sedikit pun mengendurkan keenam indera kita "
" sebab ada bahaya lebih besar yang sedang mengintai "kataku memecah keheningan...
" maksud mu anak muda " tanya Ki Rengga yang sepertinya kurang faham dengan ucapan ku..
" sepersekian detik sebelum aku melancarkan serangan Pamungkas ke Kala Geni, muncul sosok yang lebih besar yang menyelamatkan nya "
" sosok tersebut mengaku bernama Arya Banaspati. Dan dia bilang akan ada sebuah pertempuran besar antara kebatilan dan kebajikan di masa yang akan datang " kata ku lagi menjelaskan...
Bapak dan Ki Rengga pun terhenyak kaget saat aku menyebutkan kata Arya Banaspati...
" sekarang kau sudah lihat kan Rengga siapa Arya Banaspati sesungguhnya " ucap Bapak ku sembari berfikir sesuatu..
" iya kang,,, aku sudah salah karena terlalu bergantung kepada jin hitam itu " balas Ki Rengga tertunduk..
" bertobat lah Rengga sebelum terlambat.. Sebab aku yakin keluarga besar juga masih menerima mu kembali "kata bapak ku lagi...
" tunggu tunggu tunggu. Keluarga besar yang mana pak " tanya ku karena ucapan bapak yang ngambang..
" kakek bapak mu serta kakek ku itu bersaudara anak muda.. Jadi secara tidak langsung aku ini masih kerabat mu " sahut Ki Rengga menerangkan maksud dari ucapan bapak ku...
" jadi aku dan mbak nadia masih saudara " tnya ku lagi mengeyitkan dahi...
" iya kalian masih bersaudara " jawab Ki Rengga singkat...
Aku dan mbak nadia pun langsung shock dan beradu pandang satu sama lain... Kami hanya berdiam diri mematung.. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut kami...
" sudah sudah. Reuni nya nanti saja di rumah. Tujuan kita kesini kan buat jenguk anak kita pak " sahut ibu ku mengalihkan topik..
Bapak ku pun tak melanjutkan percakapan nya dengan Ki Rengga dan memilih duduk di sofa yang di siapkan rumah sakit untuk para penjenguk.. Bakal mahal nih bayar nya kalo fasilitas nya kayak gini..
Karena tak ingin menjadi beban keluarga pak arman dan pak Adrian lebih lama, aku pun meminta agar dibolehkan pulang dari rumah sakit hari itu juga.. Sebenarnya Reni tidak mengizinkanku dan dia bilang papa nya sanggup membiayai seluruh biaya rumah sakit kalo misalnya pak arman atau pak Adrian tak mau lagi membiayai nya..
Namun karena tak ingin merepotkan lebih banyak orang lagi, aku tetap kekeuh pada pendiri an ku agar pulang hari itu juga.. Setelah dokter melepas segala alat bantu yang menempel di tubuh ku, aku pun di ijinkan pulang.. Sementara itu Nadia harus tetep tinggal beberapa hari lagi untuk memantau perkembangan otak nya...
Sore itu pun rumah ku mendadak ramai karena penuh dengan tetangga serta kerabat yang penasaran dengan keadaan ku.. Stella, Reni, Kanaya dan mbak silvi yang ikut mengantar kepulangan ku pun di sambut hangat oleh keluarga besar ku... Setelah turun dari mobil milik keluarga Reni, aku pun langsung masuk ke dalam rumah dan beristirahat di dalam kamar...
Keempat bidadari yang berganti an menunggu ku di rumah sakit pun ikut masuk hingga membuat suasana sore itu sangat canggung...
" gimana kang... Apa kita lancar kan serangan balasan " ucap Pak Lek(saudara orang tua kita yang lebih muda) ku dengan emosi..
TOANKKKKKK....
" kowe ojo ngompor ngompor i wae " sungut ibu ku kesal dan memukul kepalanya dengan nampan bekas pakai untuk menampung minuman tamu yang hadir di rumah ku sore itu...
Pak Lek ku pun hanya cengengesan sembari sesekali memegang i kepala yang bekas di getok ibu ku...
" ciye... Pantes kowe cepet sembuh. Orang ditunggu i empat bidadari cantik kayak gini " goda kang paijo yang ikut menjenguk ku saat tiba dirumah...
Aku pun langsung melempar kang paijo dengan bantal yang biasa ku pakai tidur karena dia tidak pandai membaca situasi yang saat ini aku alami ... Kanaya, Mbak Silvi, Reni dan Stella pun hanya tersenyum satu sama lain...
" baik kowe jo. Baca situasi lah " sahut kang japrik dari belakang...
Kang paijo pun hanya nyengir kuda...
" gimana ceritanya gus kamu bisa pingsan dua hari di rumah sakit " tanya kang tikno yang sudah lebih dulu masuk dan duduk di pojokan..
" biasa kang. Ada makhluk tak kasat mata berilmu tinggi yang menyerang ku. Padahal sebelumnya aku hampir saja mengalahkan anak buah nya " gerutuku kesal...
" terus kelanjutan pertempuran nya gimana gus " tanya kang paijo yang juga ikut selonjoran di pojokan...
" nah itu dia kang. Kayaknya nanti akan ada rembugan di keluarga besar. Dan pasti para murid akan di wajib kan untuk ikut "
" sebab jin yang membuat ku pingsan bilang bahwa dia akan kembali dengan pertempuran yang lebih besar " jawab ku begidik...
" insya Allah kami berempat akan bantu gus. Hidup mati sudah ada yang ngatur. Jadi kalo kita mati untuk sesuatu yang baik, insya Allah kami ikhlas " sahut kang blanggur bijak...
" terima kasih banyak kang " kata ku lagi terharu dengan kekompakan yang di tunjukkan temen sekampung ku ini...
4 bidadari tadi pun hanya terdiam membisu menyimak percakapan ku dengan kang paijo and the genk... Tampak kekhawatiran terlihat jelas di guratan guratan wajah mereka...
" kalian tenang saja.. Makhluk itu tak akan kembali dalam waktu dekat " ucap ku menenangkan mereka...
" apa nggak bisa lu abaikan makhluk yang tadi lu sebutkan dan mencoba hidup normal laik nya remaja SMA lainnya gus " kata Kanaya dengan wajah berkaca kaca..
" sayang nya gak bisa Nay.. Di dalam kekuatan yang besar, terdapat sebuah tanggung jawab yang besar pula untuk ku emban " ucap ku mengutip pernyataan Ben Parker( paman Peter Parker di film spiderman 1)..
" baik lah kalo gitu mas. Kami hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk mu " sahut Reni yang sepertinya bisa bersikap makin dewasa..
" doa dari kalian semua sudah lebih dari cukup untuk ku nduk " balas ku sembari membelai rambut reni...
Mereka pun mengangguk dan kini mulai mengobrol dengan kang paijo dkk... Bedug maghrib terdengar begitu nyaring sebagai tanda bahwa waktu sholat telah tiba.. Aku pun mengajak Kanaya, Mbak Silvi, dan Reni untuk sholat berjamaah bersama di mushola yang hanya berjarak 50 meter dari rumah ku...
Sementara itu kang paijo dkk pamit ke rumah masing-masing untuk mengambil peci serta sarung.. Aku pun mengambil dua mukena milik kakak perempuan ku(kk perempuan ku kerja di Sidoarjo dan hanya pulang saat lebaran) dan lantas memberikan nya ke Stella sama mbak silvi. Maklum postur mereka berdua hampir sama dengan mbak ku.. Jadi aku yakin mukena ini pas untuk mereka..
Tapi jangan salah, meski kecil, mbak silvi ini tubuhnya padat berisi...sedang untuk Reni serta Kanaya, biar nanti pake mukena cadangan yang ada di mushola.. Setelah selesai mengambil wudhlu, aku pun lantas langsung memakai peci serta kulingkarkan sarung harimau duduk di pinggang ku..
" kamu kelihatan keren Kalao kayak gini dek " ucap mbak silvi setelah selesai memakai mukena yang tadi ku berikan...
" mbak silvi juga cantik kok pakai mukena itu " balas ku buat pujian yang tadi mbak silvi lontar kan...
CEKITTTTTT....
" Mbak silvi doang yang dipuji " sahut Stella dengan bibir nya yang manyun...
" awwwwww... Sakit dek... Batal kan wudhlu yang tadi ku ambil " ucap ku menggosok gosok lengan ku yang bekas di cubit Stella....
" iya kamu juga cantik koq pake mukena itu... Makin imut malah " kataku lagi sembari mencubit balik kedua pipi nya...
" ahhhhhh kak agus... Sakit tau " dengus Stella seraya memegang i pipi nya yang bekas aku cubit...
Kanaya dan Reni pun hanya tersenyum melihat tingkah polah kami... Tak terasa kami telah sampai di mushola dan kini ke kamar mandi untuk mengambil wudhlu lagi...
SUBHANALLAH....
" Kalian berempat sangat cantik kalo seperti ini " ucap ku spontan saat melihat reni, Kanaya, Stella serta mbak silvi selesai mengambil wudhlu dan memakai mukena masing-masing...
Keempat gadis tadi pun hanya tersenyum dan wajah mereka mulai terlihat memerah..
Setelah selesai menunaikan 3 rakaat, kami berlima pun kembali ke rumah ku untuk bersantap makan malam..
Diubah oleh agusk1988 21-11-2017 15:40
myusuffebria525 dan 12 lainnya memberi reputasi
13


