- Beranda
- Stories from the Heart
a little deaf rabbit
...
TS
prestant18
a little deaf rabbit
bismillahirrahmanirrahim

image source from google with some changes
selamat malam teman teman readers stories from the heart,
saya kembali lagi dengan corat coret yang mungkin tidak bermakna,
karena seperti yang dikatakan orang orang,
bahwa menulis jika terbiasa akan menjadi candu. .
begitulah apa yang saya alami, , hehehe
setelah menyelesaikan dua cerita yang saling berkaitan satu sama lain,
1. kisah keluarga perantau
2. perjalananku
kali ini saya akan menulis hal lain yang tidak berkaitan dengan dua cerita sebelumnya, ,
entah genre apa yang cocok,
namun yang jelas bukan horor. .
karena sudah amat sangat banyak thread horor berkualitas disini,
dan jelas saya bukan ahlinya untuk masalah tersebut
akhir kata, , ,
selamat menikmati tulisan saya, , ,
1. prolog
2. chapter 1
selamat sore, mohon maaf karena lama tidak muncul,
ada masalah teknis yang menyebabkan file saya hilang di laptop
jadi mau tidak mau saya harus menulis ulang.
insyaAllah dalam satu minggu kedepan akan saya mulai update kembali.
terimakasiih

image source from google with some changes
selamat malam teman teman readers stories from the heart,
saya kembali lagi dengan corat coret yang mungkin tidak bermakna,
karena seperti yang dikatakan orang orang,
bahwa menulis jika terbiasa akan menjadi candu. .
begitulah apa yang saya alami, , hehehe
setelah menyelesaikan dua cerita yang saling berkaitan satu sama lain,
1. kisah keluarga perantau
2. perjalananku
kali ini saya akan menulis hal lain yang tidak berkaitan dengan dua cerita sebelumnya, ,
entah genre apa yang cocok,
namun yang jelas bukan horor. .
karena sudah amat sangat banyak thread horor berkualitas disini,
dan jelas saya bukan ahlinya untuk masalah tersebut

akhir kata, , ,
selamat menikmati tulisan saya, , ,
1. prolog
2. chapter 1
selamat sore, mohon maaf karena lama tidak muncul,
ada masalah teknis yang menyebabkan file saya hilang di laptop

jadi mau tidak mau saya harus menulis ulang.
insyaAllah dalam satu minggu kedepan akan saya mulai update kembali.
terimakasiih

Diubah oleh prestant18 06-12-2017 16:05
arrasyid.pd988 dan 3 lainnya memberi reputasi
4
17.4K
87
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
prestant18
#4
CHAPTER 1
stasiun jatinegara, januari 2009
aku berlari lari kecil setelah keluar dari gerbong kereta,
kereta api yang baru saja membawaku datang kembali ke ibukota.
kukibaskan kedua tanganku karena jaket yang kupakai agak basah setelah kehujanan barusan.
hujan yang turun dengan deras sehingga membuat para penumpang yang turun dari kereta harus segera mencari tempat berlindung.
kulihat langit yang nampak gelap karena mendung,
sesekali terlihat kilatan cahaya menandakan tak lama lagi akan terdengar gemuruh suara guntur.
" JEGERRRRR!!! "
suara guntur menggelegar membuat orang orang yang berada di stasiun sedikit Cumiik karena terkejut.
begitu pula aku, yang masih terus berjalan perlahan lahan untuk bisa sampai di pintu keluar.
" ian!!! "
terdengar suara panggilan.
aku menoleh ke kanan dan kekiri mencari sumber suara itu.
" WOI, sini!! "
suara itu terdengar lagi.
kali ini aku sudah mendapati sumber suara tersebut.
aku menghampiri sosok yang berteriak teriak itu.
" sori ya, maksa jemput ujan ujan gini "
kataku kepada sosok perempuan didepanku.
" yaelah, santai aja kalee, , " jawabnya.
aku hanya tersenyum memperhatikan gadis basah itu.
oh iya,
namaku adalah brian, edwin febrian panjangnya.
aku memiliki beberapa panggilan karena namaku cukup familiar.
orang orang yang baru kenal biasa memanggilku edwin,
sedangkan keluarga dan juga orang yang dekat denganku memanggilku ian, atau singkatan dari brian ( baca: braiyen ).
mengapa harus dipanggil dengan aksen english?
akupun tak tahu,
sebab kata orang orang hidungku mancung seperti " wong londo "
dan andai saja kulitku lebih cerah, maka aku akan benar benar nampak seperti bule.
sayangnya aku hanya " wong ndeso " yang kulitnya legam terbakar matahari.
efek dari masa kecil yang " sobone " ( mainnya ) di sawah dan lapangan.
lalu darimana asal wajahku yang sedikit impor?
kalau kata bapak, ini berasal dari mbah buyutku,
yang dulu menikah dengan tentara belanda.
kakek buyutku yang wong londo itu beralih menjadi pembela nusantara ( dulu NKRI masih belum merdeka ) karena hati nuraninya berkata jika perbuatan yang bangsanya lakukan itu kejahatan.
sayangnya kakek buyutku ditangkap belanda kembali dan harus dieksekusi, meninggalkan istrinya yang sedang hamil tua.
seiring waktu berlalu,
mbah buyutku melahirkan anak laki laki yang juga berparas bule, itu kakekku.
kemudian dari kakek menurun ke bapak,
dan kini aku kebagian sisa sisa genetik kaukasian yang sudah nggak seberapa.
jika kakekku nampak masih sangat bule,
maka bapakku sudah lebih terlihat seperti wong jowo pada umumnya,
namun dengan kulit putih resik ( putih bersih ), paras yang nggantheng dan hidung bangir ( mancung ).
mungkin kalau bapak tinggal di ibukota, kegantengan bapak bisa dikatakan bersaing dengan barry prima di masa mudanya.
nah, , pas di aku, tinggal sisa sisanya saja.
memang aku masih kebagian hidung mancung, ,
tapi kulitku sudah seperti orang jawa pada umumnya, coklat sawo matang.
" ian, laper nih "
suara gadis disampingku membuyarkan lamunanku
oiya, gadis ini namanya adalah nala,
dia adalah teman sekampus.
teman menuntut ilmu yang kukenal setelah tiba di sini setengah tahun yang lalu.
dia gadis yang tomboy dan juga blak blakan.
namun kami jadi akrab karena ternyata orang tua nala adalah teman bapakku jaman sekolah dulu di desa.
" eh? ya ntar mampir warung bakso, "
jawabku.
" bener ya?! "
tanya nala memastikan.
" iya, beneran , , cewek nggak bisa diem kaya kamu pasti gampang laper "
jawabku kembali sekenanya.
nala nyengir dan meninju perutku.
aku terkejut karena harus menerima hantaman si tomboy ini.
namun aku sudah terbiasa. .
karena memang seperti itulah nala.
tak lama hujan mulai mereda,
walau langit masih terlihat mendung dan ada rintik rintik gerimis.
aku dan nala memutuskan untuk pergi dari stasiun.
aku berasal dari desa di daerah jawa tengah,
dimana desaku letaknya di pegunungan.
setelah lulus SMA tahun kemarin,
aku melanjutkan kuliah di sebuah universitas negeri di ibukota.
disini aku tinggal disebuah kost yang tidak seperti kost kostan.
maksudku kost yang lebih mirip rumah.
sebenarnya ini karena bantuan dari orang tua nala.
orang tua nala memiliki sebuah rumah berukuran kecil yang dulu mereka gunakan sebelum pindah ke rumah sekarang yang lebih besar.
orang tua nala mengetahui jika aku adalah anak bapak ketika mengantarkan nala pulang di masa ospek dulu.
( ketika ospek, nala berantem dengan senior karena tidak mau diplonco, dan karena aku orang yang berusaha melerai, malah aku ikut kena masalah.
maka jadilah aku dan nala berteman ).
ayah dan ibu nala terkejut ketika aku datang ke rumah mereka.
mereka memanggilku " januar " ( januar nama bapakku ).
walhasil setelah ditanya ini itu barulah kesalahpahaman ini lurus,
ayah dan ibu nala adalah teman SMA bapak.
mereka mengenaliku karena wajahku yang mirip dengan bapak.
maka jadilah semenjak saat itu orang tua nala memperlakukanku seperti anak sendiri.
kata mereka, dulu bapak dan satu orang temannya lagi membentuk sebuah geng bersama orang tua nala.
bisa dikatakan mereka adalah kawan akrab.
selama di ibukota ini, kesibukanku setiap hari adalah kuliah,
dan dalam seminggu, biasanya sebanyak 3 kali, aku mengisi kelas di sebuah bimbel kecil.
yah, walau sebenarnya uang bulananku dari bapak tidak pernah terlambat dan juga ekonomi keluargaku yang bisa dikatakan cukup dengan usaha kolam ikan milik bapak,
aku ingin lebih berguna saja dengan membantu anak anak belajar.
bimbel yang kuisi ini bukanlah bimbel besar.
namun daya tampungnya cukup luas.
ada dua puluhan anak yang menimba ilmu tambahan disini.
awal mula aku bisa ikut bergabung membantu disini juga karena ibu nala adalah salah satu pengelolanya.
pada suatu sore ketika aku baru saja menyelesaikan mengajar tambahan matematika, aku dihampiri ibu nala.
ibu nala: " ian, "
aku: " iya bu? "
ibu nala: " kamu sudah selesai? "
aku: " sudah bu, ada apakah? "
ibu nala: " kamu bisa bantu saya berarti? "
aku: " kalau saya bisa bantu, saya bantuin kok bu, , hehe, bantuan apakah memangnya? "
ibu nala mengajakku ke salah satu ruangan.
ibu nala: " kamu bisa bantu saya untuk memberikan les kepada seorang anak? "
aku: " seorang anak? kok sendirian bu? "
ibu nala: " iya, seorang anak, dia tertinggal cukup banyak "
aku: " tertinggal cukup banyak? kok bisa bu? "
ibu nala: " ee, , dia seorang difabel ian, seorang tunarungu "
aku terkejut mendengar penuturan ibu nala
mengapa menyerahkan penanganan seorang difabel kepadaku?
bukankah ada mbak diska yang lebih senior?
atau bu tiara yang juga sesama sesepuh disini seperti ibu nala.
ibu nala: " dia agak terganggu pendengarannya, tapi bisa bicara, , hanya perlu lebih berusaha saja kok, , saya yakin kamu bisa, kamu kan sabar dan telaten "
ibu nala berkata seakan tau pertanyaan apa yang ada di dalam kepalaku.
aku: " ee, , baik bu, saya coba ya? "
ibu nala tersenyum kepadaku.
lalu beliau menepuk punggungku, ,
seakan memberi semangat tambahan.
akupun masuk ke dalam ruangan yang dimaksud ibu nala.
===
" Kreekk "
suara daun pintu yang bergesekan dengan lantai memecah suasana.
di dalam ruangan kulihat seseorang duduk memunggungiku.
dia nampak asyik memperhatikan ke luar jendela.
" kok udah gede? "
pertanyaan pertama yang muncul didalam hatiku.
sebab kata ibu nala, anak tersebut masih kelas enam SD.
namun yang kulihat dari saat ini adalah sosok anak yang sudah cukup besar,
mungkin sudah remaja, bukan anak anak lagi, ,
aku menghampirinya dengan sedikit bingung.
sebab baru kali ini aku menghadapi seorang difabel.
" ah! "
gadis remaja itu nampak terkejut melihat aku sudah duduk di kursi pengajar.
rupanya dia terlalu asyik melihat keluar sampai tidak tau ada aku dibelakangnya.
diapun menundukkan kepalanya dan nampak takut.
aku memperhatikan sosok gadis kecil didepanku ini.
rambutnya lurus, diikat kuncir kuda.
matanya lebar dan lentik,
lalu hidungnya mancung.
nampaknya gadis ini memiliki garis keturunan dari timur tengah,
namun kulitnya berwarna kuning
" halo? salam kenal, saya brian, panggil saja mas ian "
aku membuka percakapan dengan perkenalan standar.
gaya perkenalan yang biasa kukatakan kepada para peserta bimbel baru.
namun aku lupa karena dihadapanku kini adalah seorang murid yang spesial.
dia hanya diam memperhatikanku.
aku memegang telingaku, memberikan gestur seakan aku bertanya tantang pendengarannya.
" IYA "
tiba tiba gadis ini berkata dengan suara yang cukup keras,
sampai membuatku terkejut.
ah, ,
mungkin lebih mudah jika menggunakan bahasa tertulis saja.
pikirku dalam hati.
aku mengambil buku dari dalam tas kecilku dan mulai menulis.
aku memperkenalkan diriku melalui tulisan.
gadis itu mengambil buku yang kusodorkan dan menuliskan
namanya hasna, ,
nama yang indah.
" hamaku hana hak gulu "
tiba tiba gadis ini bersuara.
ucapannya agak terbata bata dan kurang jelas.
namun secara garis besar masih bisa dimengerti
" jadi namamu hasna ya? "
aku bertanya kepada hasna untuk memperjelas mengenai makna yang kutangkap dari kata katanya tadi
hasna nampak memperhatikan wajahku dengan seksama.
kemudian dia kembali berkata " iya " dengan suara keras.
ahh, , , rupanya dia bisa membaca gerak bibir.
aku kembali melanjutkan perkenalan kecilku melalui media buku tulis,
dan sesekali diselingi dengan pembicaraan yang tentunya harus diucapkan dengan gestur bibir yang jelas.
hasna ini ternyata adalah seorang murid kelas enam sekolah dasar.
usia sebenarnya sudah hampir empat belas tahun,
namun dia pernah tinggal kelas sehingga membuatnya lebih bongsor daripada teman sepantarannya.
dia tinggal cukup jauh dari sini.
saat kutanya mengapa mengambil bimbel yang jauh dari rumah,
dia tulis jika ibunya bekerja di dekat sini.
aku mengangguk angguk tanda bahwa aku sudah mulai mengerti.
ternyata dia anak yang cukup terbuka,
aku mulai masuk kedalam materi les yang seharusnya diterima oleh hasna.
disini aku mulai menghadapi kesulitan.
sebab ternyata hasna belum memahaminya dengan benar.
aku menanyakan kepada hasna dimanakah yang tidak dimengerti, ,
hasna hanya diam.
dia memberikan reaksi yang sulit kumengerti.
akhirnya kuulangi kepadanya pertanyaan tersebut.
hasna kembali diam.
namun tidak lama dia menuliskan dua patah kata.
tidak tau
dan hasna kembali diam memperhatikanku.
membuatku jadi pusing.
aku mengambil buku paket yang dibawa oleh hasna.
kulihat halaman demi halaman dari buku matematika tersebut.
lho? ini kan buku kelas 5?
aku baru tersadar, ,
bukannya hasna ini murid kelas enam?
aku menulis di atas buku tulis yang menjadi sarana komunikasi kami.
hasna memperhatikan tulisanku, kemudian menulis sepotong kata dibawahnya,
tulisku lagi.
hasna kembali menjawab pendek melalui tulisannya.
aku jadi makin bingung karena reaksinya ambigu dan juga jawabannya sangat pendek.
kami sampai pada titik dimana hasna tidak tau dimana ketidamengertiannya,
sedangkan aku tidak tau bagaimana harus memulai mengajari anak ini.
akupun memberikan soal soal yang bobotnya untuk kelas lima SD sesuai kurikulum saat ini.
kusuruh hasna menjawabnya satu demi satu sambil memperbaiki letak kesalahannya.
dari sini barulah aku mengerti mengapa hasna membawa buku kelas lima,
sebab dia bahkan belum bisa mengerjakan soal kelas lima dengan baik.
kubimbing satu demi satu,
soal demi soal, ,
materi demi materi, ,
jika hasna belum mengerti,
maka aku mengulang penjelasan dan teorinya sampai hasna mengerti, ,
walaupun cara yang kugunakan terkadang berbeda dengan metode ajar biasa.
terkadang ditengah aku menjelaskan,
hasna hanya memperhatikanku dengan seksama, ,
nyaris tanpa reaksi, ,
aku bersabar dan tetap berusaha tersenyum ramah untuk kembali melanjutkan penjelasan.
sedikit demi sedikit,
hasna mulai bisa mengerjakan soal soal latihan itu.
jika dia berhasil mengerjakan,
aku melihat perubahan ekspresinya,
ada binar binar dalam sorot mata bulat tersebut.
kuperiksa hasil pekerjaan hasna,
semuanya benar.
rupanya gadis ini cukup pandai,
aku kembali menulis beberapa soal yang bobotnya kunaikan,
namun masih dalam materi yang sama.
setelah selesai,
kuberikan soal tersebut kepada hasna.
" nah hasna, coba sekarang kerjakan soal ini "
aku berkata sambil menulis kata kataku di buku.
hasna menerimanya dan tak sampai sepuluh menit,
lima soal tersebut berhasil dikerjakan dengan baik.
" wah cepet banget?! "
kataku setelah melihat hasna menyelesaikannya dengan cepat.
hasna hanya melihat dengan ekspresi bingung.
nampaknya aku berbicara terlalu cepat sehingga membuatnya bingung.
aku menulis kembali diatas buku,
hasna membaca tulisanku kemudian menatapku dengan tatapan yang datar lagi.
aku berusaha tersenyum, ,
menandakan jika tulisanku barusan hanyalah gurauan.
agar suasana menjadi cair.
hasna menulis dibawah kata kataku. .
setelah menulis, hasna kembali memperhatikan wajahku.
dia menantikan jawaban.
kutulis:
hasna membaca tulisanku,
lalu dia tertawa setengah berteriak,
" HYAA, nduk "
hasna mengucapkan kata panggilan yang tadi kutulis.
terdengar lucu dengan aksen khas dari hasna.
akupun membalasnya dengan tersenyum lebar.
hatiku terasa puas karena berhasil mengajari hasna.
jam menunjukan pukul 15:40, tanda waktu les sebentar lagi berakhir.
pelajaran yang menjadi materi kurasa sudah cukup.
hari ini hasna sudah banyak memngalami kemajuan.
aku rasa ketinggalan materinya bisa dilanjutkan di pertemuan berikutnya.
maka akupun bertanya kepada hasna tentang dirinya.
hasna menceritakan dirinya diatas kertas dengan baik,
tentang kesukaanya menonton film,
aku menimpali tulisan hasna dengan cukup senang,
sebab aku juga penggemar film,
awalnya kupikir hasna menyukai film film anak seperti keluaran disney dan pixar,
namun ternyata dia tahu banyak tentang film film bertema berat.
dia menulis jika ibunya suka menonton film semenjak dia kecil,
maka jadilah secara alami hasna mengikuti hobi ibunya dengan segala keterbatasan yang ada.
hasna bahkan menulis cukup banyak tentang film berjudul blood diamond.
aku hanya memperhatikan dengan seksama karena aku belum menonton film tersebut.
agak malu rasanya karena ternyata hasna tau lebih banyak tentang film daripada aku.
padahal di kampung aku termasuk orang yang paling up to date tentang film film terbaru.
tanyaku kepada hasna,
hasna menjawab tulisanku:
mmm, , , begitu ternyata.
aku jadi agak merasa bersalah karena pertanyaan barusan.
namun hasna malah tersenyum dengan memperlihatkan giginya.
==
jam belajar habis,
aku berdiri didepan pinggir jalan bersama hasna.
" hati hati hasna "
kataku kepadanya.
aku berusaha membuat gestur bibirku sejelas mungkin.
hasna memperhatikanku dengan seksama.
kemudian dia nampak mengambil sesuatu dari tasnya.
" huat hak hulu hatu "
kata hasna sambil menyodorkan sebuah benda kepadaku.
aku menerima benda tersebut,
sebuah jajanan tampaknya.
berbentuk bulat dengan bungkus berwarna emas.
sebuah coklat yang kutahu harganya mahal
" ah, iya, terimakasih hasna "
jawabku dengan tersenyum.
hasna memperhatikanku lagi.
lalu dia berkata pendek,
" IYA "
kemudian hasna berlalu pergi ke seberang jalan sambil melambaikan tangan.
aku membalas lambaian tangan hasna.
ahh, ,
ternyata ini semua tidak semenakutkan yang kubayangkan di awal.
hasna anak yang terbuka,
walaupun dengan keterbatasannya.
tadinya aku tidak berniat mengantarkan hasna sampai ke depan pintu.
namun aku tetap melakukannya juga,
entah mengapa, ,
apakah karena aku kasihan dengan fakta bahwa hasna adalah seorang penyandang disabilitas,
atau karena hasna adalah murid yang pertama yang kusayangi.
( bersambung )
aku berlari lari kecil setelah keluar dari gerbong kereta,
kereta api yang baru saja membawaku datang kembali ke ibukota.
kukibaskan kedua tanganku karena jaket yang kupakai agak basah setelah kehujanan barusan.
hujan yang turun dengan deras sehingga membuat para penumpang yang turun dari kereta harus segera mencari tempat berlindung.
kulihat langit yang nampak gelap karena mendung,
sesekali terlihat kilatan cahaya menandakan tak lama lagi akan terdengar gemuruh suara guntur.
" JEGERRRRR!!! "
suara guntur menggelegar membuat orang orang yang berada di stasiun sedikit Cumiik karena terkejut.
begitu pula aku, yang masih terus berjalan perlahan lahan untuk bisa sampai di pintu keluar.
" ian!!! "
terdengar suara panggilan.
aku menoleh ke kanan dan kekiri mencari sumber suara itu.
" WOI, sini!! "
suara itu terdengar lagi.
kali ini aku sudah mendapati sumber suara tersebut.
aku menghampiri sosok yang berteriak teriak itu.
" sori ya, maksa jemput ujan ujan gini "
kataku kepada sosok perempuan didepanku.
" yaelah, santai aja kalee, , " jawabnya.
aku hanya tersenyum memperhatikan gadis basah itu.
oh iya,
namaku adalah brian, edwin febrian panjangnya.
aku memiliki beberapa panggilan karena namaku cukup familiar.
orang orang yang baru kenal biasa memanggilku edwin,
sedangkan keluarga dan juga orang yang dekat denganku memanggilku ian, atau singkatan dari brian ( baca: braiyen ).
mengapa harus dipanggil dengan aksen english?
akupun tak tahu,
sebab kata orang orang hidungku mancung seperti " wong londo "
dan andai saja kulitku lebih cerah, maka aku akan benar benar nampak seperti bule.
sayangnya aku hanya " wong ndeso " yang kulitnya legam terbakar matahari.
efek dari masa kecil yang " sobone " ( mainnya ) di sawah dan lapangan.
lalu darimana asal wajahku yang sedikit impor?
kalau kata bapak, ini berasal dari mbah buyutku,
yang dulu menikah dengan tentara belanda.
kakek buyutku yang wong londo itu beralih menjadi pembela nusantara ( dulu NKRI masih belum merdeka ) karena hati nuraninya berkata jika perbuatan yang bangsanya lakukan itu kejahatan.
sayangnya kakek buyutku ditangkap belanda kembali dan harus dieksekusi, meninggalkan istrinya yang sedang hamil tua.
seiring waktu berlalu,
mbah buyutku melahirkan anak laki laki yang juga berparas bule, itu kakekku.
kemudian dari kakek menurun ke bapak,
dan kini aku kebagian sisa sisa genetik kaukasian yang sudah nggak seberapa.
jika kakekku nampak masih sangat bule,
maka bapakku sudah lebih terlihat seperti wong jowo pada umumnya,
namun dengan kulit putih resik ( putih bersih ), paras yang nggantheng dan hidung bangir ( mancung ).
mungkin kalau bapak tinggal di ibukota, kegantengan bapak bisa dikatakan bersaing dengan barry prima di masa mudanya.
nah, , pas di aku, tinggal sisa sisanya saja.
memang aku masih kebagian hidung mancung, ,
tapi kulitku sudah seperti orang jawa pada umumnya, coklat sawo matang.
" ian, laper nih "
suara gadis disampingku membuyarkan lamunanku
oiya, gadis ini namanya adalah nala,
dia adalah teman sekampus.
teman menuntut ilmu yang kukenal setelah tiba di sini setengah tahun yang lalu.
dia gadis yang tomboy dan juga blak blakan.
namun kami jadi akrab karena ternyata orang tua nala adalah teman bapakku jaman sekolah dulu di desa.
" eh? ya ntar mampir warung bakso, "
jawabku.
" bener ya?! "
tanya nala memastikan.
" iya, beneran , , cewek nggak bisa diem kaya kamu pasti gampang laper "
jawabku kembali sekenanya.
nala nyengir dan meninju perutku.
aku terkejut karena harus menerima hantaman si tomboy ini.
namun aku sudah terbiasa. .
karena memang seperti itulah nala.
tak lama hujan mulai mereda,
walau langit masih terlihat mendung dan ada rintik rintik gerimis.
aku dan nala memutuskan untuk pergi dari stasiun.
aku berasal dari desa di daerah jawa tengah,
dimana desaku letaknya di pegunungan.
setelah lulus SMA tahun kemarin,
aku melanjutkan kuliah di sebuah universitas negeri di ibukota.
disini aku tinggal disebuah kost yang tidak seperti kost kostan.
maksudku kost yang lebih mirip rumah.
sebenarnya ini karena bantuan dari orang tua nala.
orang tua nala memiliki sebuah rumah berukuran kecil yang dulu mereka gunakan sebelum pindah ke rumah sekarang yang lebih besar.
orang tua nala mengetahui jika aku adalah anak bapak ketika mengantarkan nala pulang di masa ospek dulu.
( ketika ospek, nala berantem dengan senior karena tidak mau diplonco, dan karena aku orang yang berusaha melerai, malah aku ikut kena masalah.
maka jadilah aku dan nala berteman ).
ayah dan ibu nala terkejut ketika aku datang ke rumah mereka.
mereka memanggilku " januar " ( januar nama bapakku ).
walhasil setelah ditanya ini itu barulah kesalahpahaman ini lurus,
ayah dan ibu nala adalah teman SMA bapak.
mereka mengenaliku karena wajahku yang mirip dengan bapak.
maka jadilah semenjak saat itu orang tua nala memperlakukanku seperti anak sendiri.
kata mereka, dulu bapak dan satu orang temannya lagi membentuk sebuah geng bersama orang tua nala.
bisa dikatakan mereka adalah kawan akrab.
selama di ibukota ini, kesibukanku setiap hari adalah kuliah,
dan dalam seminggu, biasanya sebanyak 3 kali, aku mengisi kelas di sebuah bimbel kecil.
yah, walau sebenarnya uang bulananku dari bapak tidak pernah terlambat dan juga ekonomi keluargaku yang bisa dikatakan cukup dengan usaha kolam ikan milik bapak,
aku ingin lebih berguna saja dengan membantu anak anak belajar.
bimbel yang kuisi ini bukanlah bimbel besar.
namun daya tampungnya cukup luas.
ada dua puluhan anak yang menimba ilmu tambahan disini.
awal mula aku bisa ikut bergabung membantu disini juga karena ibu nala adalah salah satu pengelolanya.
pada suatu sore ketika aku baru saja menyelesaikan mengajar tambahan matematika, aku dihampiri ibu nala.
ibu nala: " ian, "
aku: " iya bu? "
ibu nala: " kamu sudah selesai? "
aku: " sudah bu, ada apakah? "
ibu nala: " kamu bisa bantu saya berarti? "
aku: " kalau saya bisa bantu, saya bantuin kok bu, , hehe, bantuan apakah memangnya? "
ibu nala mengajakku ke salah satu ruangan.
ibu nala: " kamu bisa bantu saya untuk memberikan les kepada seorang anak? "
aku: " seorang anak? kok sendirian bu? "
ibu nala: " iya, seorang anak, dia tertinggal cukup banyak "
aku: " tertinggal cukup banyak? kok bisa bu? "
ibu nala: " ee, , dia seorang difabel ian, seorang tunarungu "
aku terkejut mendengar penuturan ibu nala
mengapa menyerahkan penanganan seorang difabel kepadaku?
bukankah ada mbak diska yang lebih senior?
atau bu tiara yang juga sesama sesepuh disini seperti ibu nala.
ibu nala: " dia agak terganggu pendengarannya, tapi bisa bicara, , hanya perlu lebih berusaha saja kok, , saya yakin kamu bisa, kamu kan sabar dan telaten "
ibu nala berkata seakan tau pertanyaan apa yang ada di dalam kepalaku.
aku: " ee, , baik bu, saya coba ya? "
ibu nala tersenyum kepadaku.
lalu beliau menepuk punggungku, ,
seakan memberi semangat tambahan.
akupun masuk ke dalam ruangan yang dimaksud ibu nala.
===
" Kreekk "
suara daun pintu yang bergesekan dengan lantai memecah suasana.
di dalam ruangan kulihat seseorang duduk memunggungiku.
dia nampak asyik memperhatikan ke luar jendela.
" kok udah gede? "
pertanyaan pertama yang muncul didalam hatiku.
sebab kata ibu nala, anak tersebut masih kelas enam SD.
namun yang kulihat dari saat ini adalah sosok anak yang sudah cukup besar,
mungkin sudah remaja, bukan anak anak lagi, ,
aku menghampirinya dengan sedikit bingung.
sebab baru kali ini aku menghadapi seorang difabel.
" ah! "
gadis remaja itu nampak terkejut melihat aku sudah duduk di kursi pengajar.
rupanya dia terlalu asyik melihat keluar sampai tidak tau ada aku dibelakangnya.
diapun menundukkan kepalanya dan nampak takut.
aku memperhatikan sosok gadis kecil didepanku ini.
rambutnya lurus, diikat kuncir kuda.
matanya lebar dan lentik,
lalu hidungnya mancung.
nampaknya gadis ini memiliki garis keturunan dari timur tengah,
namun kulitnya berwarna kuning
" halo? salam kenal, saya brian, panggil saja mas ian "
aku membuka percakapan dengan perkenalan standar.
gaya perkenalan yang biasa kukatakan kepada para peserta bimbel baru.
namun aku lupa karena dihadapanku kini adalah seorang murid yang spesial.
dia hanya diam memperhatikanku.
aku memegang telingaku, memberikan gestur seakan aku bertanya tantang pendengarannya.
" IYA "
tiba tiba gadis ini berkata dengan suara yang cukup keras,
sampai membuatku terkejut.
ah, ,
mungkin lebih mudah jika menggunakan bahasa tertulis saja.
pikirku dalam hati.
aku mengambil buku dari dalam tas kecilku dan mulai menulis.
Code:
halo, namaku brian, panggil saja mas ian, namamu siapa?
aku memperkenalkan diriku melalui tulisan.
gadis itu mengambil buku yang kusodorkan dan menuliskan
Code:
HASNA
namanya hasna, ,
nama yang indah.
" hamaku hana hak gulu "
tiba tiba gadis ini bersuara.
ucapannya agak terbata bata dan kurang jelas.
namun secara garis besar masih bisa dimengerti
" jadi namamu hasna ya? "
aku bertanya kepada hasna untuk memperjelas mengenai makna yang kutangkap dari kata katanya tadi
hasna nampak memperhatikan wajahku dengan seksama.
kemudian dia kembali berkata " iya " dengan suara keras.
ahh, , , rupanya dia bisa membaca gerak bibir.
aku kembali melanjutkan perkenalan kecilku melalui media buku tulis,
dan sesekali diselingi dengan pembicaraan yang tentunya harus diucapkan dengan gestur bibir yang jelas.
hasna ini ternyata adalah seorang murid kelas enam sekolah dasar.
usia sebenarnya sudah hampir empat belas tahun,
namun dia pernah tinggal kelas sehingga membuatnya lebih bongsor daripada teman sepantarannya.
dia tinggal cukup jauh dari sini.
saat kutanya mengapa mengambil bimbel yang jauh dari rumah,
dia tulis jika ibunya bekerja di dekat sini.
aku mengangguk angguk tanda bahwa aku sudah mulai mengerti.
ternyata dia anak yang cukup terbuka,
aku mulai masuk kedalam materi les yang seharusnya diterima oleh hasna.
disini aku mulai menghadapi kesulitan.
sebab ternyata hasna belum memahaminya dengan benar.
aku menanyakan kepada hasna dimanakah yang tidak dimengerti, ,
hasna hanya diam.
dia memberikan reaksi yang sulit kumengerti.
akhirnya kuulangi kepadanya pertanyaan tersebut.
hasna kembali diam.
namun tidak lama dia menuliskan dua patah kata.
tidak tau
dan hasna kembali diam memperhatikanku.
membuatku jadi pusing.
aku mengambil buku paket yang dibawa oleh hasna.
kulihat halaman demi halaman dari buku matematika tersebut.
lho? ini kan buku kelas 5?
aku baru tersadar, ,
bukannya hasna ini murid kelas enam?
aku menulis di atas buku tulis yang menjadi sarana komunikasi kami.
Code:
" kamu kelas enam kan? "
hasna memperhatikan tulisanku, kemudian menulis sepotong kata dibawahnya,
Code:
" IYA "
Code:
" ini kan buku kelas lima? "
tulisku lagi.
Code:
" IYA "
hasna kembali menjawab pendek melalui tulisannya.
aku jadi makin bingung karena reaksinya ambigu dan juga jawabannya sangat pendek.
kami sampai pada titik dimana hasna tidak tau dimana ketidamengertiannya,
sedangkan aku tidak tau bagaimana harus memulai mengajari anak ini.
akupun memberikan soal soal yang bobotnya untuk kelas lima SD sesuai kurikulum saat ini.
kusuruh hasna menjawabnya satu demi satu sambil memperbaiki letak kesalahannya.
dari sini barulah aku mengerti mengapa hasna membawa buku kelas lima,
sebab dia bahkan belum bisa mengerjakan soal kelas lima dengan baik.
kubimbing satu demi satu,
soal demi soal, ,
materi demi materi, ,
jika hasna belum mengerti,
maka aku mengulang penjelasan dan teorinya sampai hasna mengerti, ,
walaupun cara yang kugunakan terkadang berbeda dengan metode ajar biasa.
terkadang ditengah aku menjelaskan,
hasna hanya memperhatikanku dengan seksama, ,
nyaris tanpa reaksi, ,
aku bersabar dan tetap berusaha tersenyum ramah untuk kembali melanjutkan penjelasan.
sedikit demi sedikit,
hasna mulai bisa mengerjakan soal soal latihan itu.
jika dia berhasil mengerjakan,
aku melihat perubahan ekspresinya,
ada binar binar dalam sorot mata bulat tersebut.
kuperiksa hasil pekerjaan hasna,
semuanya benar.
rupanya gadis ini cukup pandai,
aku kembali menulis beberapa soal yang bobotnya kunaikan,
namun masih dalam materi yang sama.
setelah selesai,
kuberikan soal tersebut kepada hasna.
" nah hasna, coba sekarang kerjakan soal ini "
aku berkata sambil menulis kata kataku di buku.
hasna menerimanya dan tak sampai sepuluh menit,
lima soal tersebut berhasil dikerjakan dengan baik.
" wah cepet banget?! "
kataku setelah melihat hasna menyelesaikannya dengan cepat.
hasna hanya melihat dengan ekspresi bingung.
nampaknya aku berbicara terlalu cepat sehingga membuatnya bingung.
aku menulis kembali diatas buku,
Code:
" nduk, mengerjakannya jangan cepat cepat dong, mas ian membuatnya dengan susah payah lho "
hasna membaca tulisanku kemudian menatapku dengan tatapan yang datar lagi.
aku berusaha tersenyum, ,
menandakan jika tulisanku barusan hanyalah gurauan.
agar suasana menjadi cair.
hasna menulis dibawah kata kataku. .
Code:
" nduk itu apa? "
setelah menulis, hasna kembali memperhatikan wajahku.
dia menantikan jawaban.
kutulis:
Code:
" nduk itu singkatan dari genduk, sebutan untuk anak perempuan kecil yang cantik "
hasna membaca tulisanku,
lalu dia tertawa setengah berteriak,
" HYAA, nduk "
hasna mengucapkan kata panggilan yang tadi kutulis.
terdengar lucu dengan aksen khas dari hasna.
akupun membalasnya dengan tersenyum lebar.
hatiku terasa puas karena berhasil mengajari hasna.
jam menunjukan pukul 15:40, tanda waktu les sebentar lagi berakhir.
pelajaran yang menjadi materi kurasa sudah cukup.
hari ini hasna sudah banyak memngalami kemajuan.
aku rasa ketinggalan materinya bisa dilanjutkan di pertemuan berikutnya.
maka akupun bertanya kepada hasna tentang dirinya.
hasna menceritakan dirinya diatas kertas dengan baik,
tentang kesukaanya menonton film,
aku menimpali tulisan hasna dengan cukup senang,
sebab aku juga penggemar film,
awalnya kupikir hasna menyukai film film anak seperti keluaran disney dan pixar,
namun ternyata dia tahu banyak tentang film film bertema berat.
dia menulis jika ibunya suka menonton film semenjak dia kecil,
maka jadilah secara alami hasna mengikuti hobi ibunya dengan segala keterbatasan yang ada.
hasna bahkan menulis cukup banyak tentang film berjudul blood diamond.
aku hanya memperhatikan dengan seksama karena aku belum menonton film tersebut.
agak malu rasanya karena ternyata hasna tau lebih banyak tentang film daripada aku.
padahal di kampung aku termasuk orang yang paling up to date tentang film film terbaru.
Code:
" kamu suka film indonesia? seperti petualangan sherina? "
tanyaku kepada hasna,
hasna menjawab tulisanku:
Code:
" film indonesia tidak ada subtitlenya, jadi aku bingung. "
mmm, , , begitu ternyata.
aku jadi agak merasa bersalah karena pertanyaan barusan.
namun hasna malah tersenyum dengan memperlihatkan giginya.
==
jam belajar habis,
aku berdiri didepan pinggir jalan bersama hasna.
" hati hati hasna "
kataku kepadanya.
aku berusaha membuat gestur bibirku sejelas mungkin.
hasna memperhatikanku dengan seksama.
kemudian dia nampak mengambil sesuatu dari tasnya.
" huat hak hulu hatu "
kata hasna sambil menyodorkan sebuah benda kepadaku.
aku menerima benda tersebut,
sebuah jajanan tampaknya.
berbentuk bulat dengan bungkus berwarna emas.
sebuah coklat yang kutahu harganya mahal
" ah, iya, terimakasih hasna "
jawabku dengan tersenyum.
hasna memperhatikanku lagi.
lalu dia berkata pendek,
" IYA "
kemudian hasna berlalu pergi ke seberang jalan sambil melambaikan tangan.
aku membalas lambaian tangan hasna.
ahh, ,
ternyata ini semua tidak semenakutkan yang kubayangkan di awal.
hasna anak yang terbuka,
walaupun dengan keterbatasannya.
tadinya aku tidak berniat mengantarkan hasna sampai ke depan pintu.
namun aku tetap melakukannya juga,
entah mengapa, ,
apakah karena aku kasihan dengan fakta bahwa hasna adalah seorang penyandang disabilitas,
atau karena hasna adalah murid yang pertama yang kusayangi.
( bersambung )
Diubah oleh prestant18 18-11-2017 23:31
pulaukapok dan 3 lainnya memberi reputasi
4
Tutup