- Beranda
- Stories from the Heart
a little deaf rabbit
...
TS
prestant18
a little deaf rabbit
bismillahirrahmanirrahim

image source from google with some changes
selamat malam teman teman readers stories from the heart,
saya kembali lagi dengan corat coret yang mungkin tidak bermakna,
karena seperti yang dikatakan orang orang,
bahwa menulis jika terbiasa akan menjadi candu. .
begitulah apa yang saya alami, , hehehe
setelah menyelesaikan dua cerita yang saling berkaitan satu sama lain,
1. kisah keluarga perantau
2. perjalananku
kali ini saya akan menulis hal lain yang tidak berkaitan dengan dua cerita sebelumnya, ,
entah genre apa yang cocok,
namun yang jelas bukan horor. .
karena sudah amat sangat banyak thread horor berkualitas disini,
dan jelas saya bukan ahlinya untuk masalah tersebut
akhir kata, , ,
selamat menikmati tulisan saya, , ,
1. prolog
2. chapter 1
selamat sore, mohon maaf karena lama tidak muncul,
ada masalah teknis yang menyebabkan file saya hilang di laptop
jadi mau tidak mau saya harus menulis ulang.
insyaAllah dalam satu minggu kedepan akan saya mulai update kembali.
terimakasiih

image source from google with some changes
selamat malam teman teman readers stories from the heart,
saya kembali lagi dengan corat coret yang mungkin tidak bermakna,
karena seperti yang dikatakan orang orang,
bahwa menulis jika terbiasa akan menjadi candu. .
begitulah apa yang saya alami, , hehehe
setelah menyelesaikan dua cerita yang saling berkaitan satu sama lain,
1. kisah keluarga perantau
2. perjalananku
kali ini saya akan menulis hal lain yang tidak berkaitan dengan dua cerita sebelumnya, ,
entah genre apa yang cocok,
namun yang jelas bukan horor. .
karena sudah amat sangat banyak thread horor berkualitas disini,
dan jelas saya bukan ahlinya untuk masalah tersebut

akhir kata, , ,
selamat menikmati tulisan saya, , ,
1. prolog
2. chapter 1
selamat sore, mohon maaf karena lama tidak muncul,
ada masalah teknis yang menyebabkan file saya hilang di laptop

jadi mau tidak mau saya harus menulis ulang.
insyaAllah dalam satu minggu kedepan akan saya mulai update kembali.
terimakasiih

Diubah oleh prestant18 06-12-2017 16:05
arrasyid.pd988 dan 3 lainnya memberi reputasi
4
17.4K
87
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
prestant18
#3
PROLOG
JAKARTA TIMUR, 2014
" ANAK BUDEK! , ANAK BUDEK! ANAK BUDEK! "
terdengar sorak sorak dari beberapa anak kecil.
usia mereka mungkin masih sekitar 7 sd 9 tahun.
" eh, eh! ada yang dateng, kabur kabur! "
salah satu dari mereka memberikan komando kepada teman temannya untuk pergi karena melihat kedatanganku.
sontak mereka semua lari berhamburan,
meninggalkan seseorang yang nampaknya masih teman mereka terduduk diatas jalan setapak.
" kamu nggak papa? "
aku bertanya kepada anak itu.
namun anak laki laki yang terlihat menahan tangis itu malah nampak takut denganku.
" nggak papa, ayo om bantu bangun "
aku menjulurkan tangan kananku.
dia masih nampak ragu ragu.
" nggak papa, ayo bangun, pakaianmu kotor kalau duduk disitu "
ujarku lagi, kali ini ditambah senyuman.
akhirnya anak tersebut menerima uluran tanganku dan bangun bersama dengan tarikan dariku.
kubantu dia membersihkan pakaiannya yang kotor oleh tanah.
dia nampak canggung.
" kamu kenapa tadi? "
aku berjongkok untuk menyesuaikan dengan tinggi tubuhnya.
namun wajahnya nampak bingung oleh pertanyaanku.
dia malah meremas remas ujung kaus yang dia kenakan sambil terdiam.
aku akhirnya sedikit tersadar,
kuangkat tangan kananku dan memberikan isyarat menunjuk kepadanya, disusul jari telunjuk yang melingkar dengan ibu jari, sedangkan sisa jari lainnya terangkat,
seperti memberikan kode " ok "
sembari berisyarat aku tetap berkata namun dengan intonasi dan gerak bibir yang lebih jelas.
" kamu baik baik saja? "
anak tersebut mengangguk.
aahh, , rupanya anak laki laki ini tidak dapat mendengar.
" rumah kamu dimana? "
tanyaku lagi.
kali ini anak itu nampak mengerti dengan pertanyaanku.
dia menunjuk kearah selatan,
aku tersenyum dan mengajaknya kesana.
aku berniat mengantar anak tersebut pulang.
" sahid! "
tiba tiba terdengar panggilan dari arah selatan.
arah dimana anak tadi menunjukan rumahnya berada.
aku menoleh dan melihat seorang wanita paruh baya menghampiri kami.
dia nampak cemas dan setelah sampai langsung meraih anak laki laki tersebut.
nampaknya dia ibu dari anak ini.
" mmaaama "
anak itu mengeluarkan suara, terdengar seperti mama, namun sedikit tidak jelas.
ibu itu lantas membersihkan baju anaknya yang masih nampak kotor.
aku berdiri disebelah mereka sembari memperhatikan bagaimana si ibu begitu khawatir dengan anaknya.
kini aku juga bisa melihat wajah si anak tadi sudah berubah lebih cerah.
ada kedamaian bersama dengan kehadiran si ibu.
" mas siapa ya? "
si ibu bertanya kepadaku, membuat lamunanku sesaat buyar.
" oh, maaf, saya cuma orang lewat bu, tadi putra ibu sedang diganggu teman temannya, ketika saya hampiri, mereka bubar "
si ibu kembali memperhatikanku.
tatapan matanya nampak menyelidik.
aku paham dengan kondisi ini,
ibu mana yang tidak khawatir anaknya bersama dengan orang asing yang tak dikenal.
maka akupun menyunggingkan senyum di wajahku.
" terimakasih mas, maaf merepotkan, putra saya memang tidak dapat mendengar, jadi dia sering diganggu oleh anak anak lain "
ibu tersebut kini membalas senyumku dan meminta maaf.
" iya bu, nggak papa "
jawabku singkat.
sekali lagi ibu itu meminta maaf dan kemudian pamit.
aku sempat melihat sahid, anak tersebut menoleh kepadaku.
aku kembali tersenyum dan melambaikan tangan kananku.
kali ini sahid nampak tersenyum simpul dan kembali berjalan menjauh.
aku menghela nafas,
ada sedikit rasa perih dihati ketika melihat anak sekecil sahid memiliki keterbatasan yang membuatnya harus menerima perlakuan buruk dari teman temannya.
sosok sahid mengingatkanku kepada seseorang.
" ah, mungkin sekarang dia sudah besar "
ujarku ketika mengingat kenangan itu.
aku kembali menghela nafas dan membalikan badanku untuk pulang. . . .
cerita ini aku persembahkan untuk para difabel diluar sana.
utamanya penyandang tunarungu & Tuli ( T huruf besar ),
ada anggapan yang mengatakan jika kata " tuli " itu kasar dan " tunarungu " itu halus.
awalnya akupun menganggap begitu,
sebab ini mengacu kepada KBBI, dimana tuli berarti tidak dapat mendengar ( karena rusak pendengarannya ).
lebih sering dikonotasikan dengan istilah kasar, tidak sopan dan juga merendahkan.
sedangkan tunarungu diartikan di dalam KBBI menjadi tidak dapat mendengar.
namun lebih banyak digunakan di indonesia karena dianggap lebih sopan.
namun ternyata setelah banyak membaca dan mendalami mengenai hal ini lebih dalam,
ternyata para difabel itu lebih menyukai disebut Tuli. ( T besar )
istilah Tuli lebih mengacu kepada kelompok minoritas linguistik yang menggunakan bahasa isyarat.
( dimana ini berhubungan dengan sosial di amerika, sebagian besar Tuli mengadopsi istilah Tuli dari kata deaf )
Tuli dan orang dengar ( orang yang dapat mendengar dengan normal ) memiliki budaya yang berbeda.
jika orang dengar menggunakan bahasa suara untuk berkomunikasi,
maka Tuli menggunakan bahasa isyarat.
bahasa isyarat dan budaya Tuli merupaka identitas dan jati diri.
sedangkan tunarungu, dari segi makna kosakata, dikaitkan dengan kondisi pendengaran yang rusak, tidak bisa berbicara dan tidak normal.
ada yang menganggap ini sebuah penyakit sehingga perlu diperiksa, diberi alat bantu dengar, dan perlakuan lain lain agar dapat seperti " orang normal ".
memang ada benarnya karena kebanyakan dari kita menganggap bahwa tuli adalah penyakit dan merupakan " ketidaknormalan " yang membuat kita berpikir bahwa mereka Tuli sangat memerlukan belas kasihan dan bantuan.
melalui edukasi bahwa Tuli adalah sebuah kelompok budaya minoritas,
dimana orang yang tidak dapat mendengar dengan baik pun adalah orang normal, yang setara dengan orang dengar.
maka harapannya kedepan tidak ada lagi diskriminasi kepada para Tuli.
sebab walau tidak dapat mendengar,
mereka tetap berkomunikasi dengan cara mereka,
sebuah bahasa isyarat, budaya yang menjadi cara Tuli berkomunikasi,
tanpa perlu dikasihani.
karena mereka dan kita itu sama.
melalui cerita yang akan aku tulis,
aku juga ingin menyampaikan pesan,
bahwa diluar sana masih banyak orang orang berempati tinggi yang tidak memandang rendah dan menyepelekan para difabel.
jangan patah semangat!
Tuhan menciptakan manusia dengan segala kelebihan dan kekurangannya.
dan yakinlah, anda memiliki kelebihan yang tidak dimiliki orang lain.
selamat membaca
" ANAK BUDEK! , ANAK BUDEK! ANAK BUDEK! "
terdengar sorak sorak dari beberapa anak kecil.
usia mereka mungkin masih sekitar 7 sd 9 tahun.
" eh, eh! ada yang dateng, kabur kabur! "
salah satu dari mereka memberikan komando kepada teman temannya untuk pergi karena melihat kedatanganku.
sontak mereka semua lari berhamburan,
meninggalkan seseorang yang nampaknya masih teman mereka terduduk diatas jalan setapak.
" kamu nggak papa? "
aku bertanya kepada anak itu.
namun anak laki laki yang terlihat menahan tangis itu malah nampak takut denganku.
" nggak papa, ayo om bantu bangun "
aku menjulurkan tangan kananku.
dia masih nampak ragu ragu.
" nggak papa, ayo bangun, pakaianmu kotor kalau duduk disitu "
ujarku lagi, kali ini ditambah senyuman.
akhirnya anak tersebut menerima uluran tanganku dan bangun bersama dengan tarikan dariku.
kubantu dia membersihkan pakaiannya yang kotor oleh tanah.
dia nampak canggung.
" kamu kenapa tadi? "
aku berjongkok untuk menyesuaikan dengan tinggi tubuhnya.
namun wajahnya nampak bingung oleh pertanyaanku.
dia malah meremas remas ujung kaus yang dia kenakan sambil terdiam.
aku akhirnya sedikit tersadar,
kuangkat tangan kananku dan memberikan isyarat menunjuk kepadanya, disusul jari telunjuk yang melingkar dengan ibu jari, sedangkan sisa jari lainnya terangkat,
seperti memberikan kode " ok "
sembari berisyarat aku tetap berkata namun dengan intonasi dan gerak bibir yang lebih jelas.
" kamu baik baik saja? "
anak tersebut mengangguk.
aahh, , rupanya anak laki laki ini tidak dapat mendengar.
" rumah kamu dimana? "
tanyaku lagi.
kali ini anak itu nampak mengerti dengan pertanyaanku.
dia menunjuk kearah selatan,
aku tersenyum dan mengajaknya kesana.
aku berniat mengantar anak tersebut pulang.
" sahid! "
tiba tiba terdengar panggilan dari arah selatan.
arah dimana anak tadi menunjukan rumahnya berada.
aku menoleh dan melihat seorang wanita paruh baya menghampiri kami.
dia nampak cemas dan setelah sampai langsung meraih anak laki laki tersebut.
nampaknya dia ibu dari anak ini.
" mmaaama "
anak itu mengeluarkan suara, terdengar seperti mama, namun sedikit tidak jelas.
ibu itu lantas membersihkan baju anaknya yang masih nampak kotor.
aku berdiri disebelah mereka sembari memperhatikan bagaimana si ibu begitu khawatir dengan anaknya.
kini aku juga bisa melihat wajah si anak tadi sudah berubah lebih cerah.
ada kedamaian bersama dengan kehadiran si ibu.
" mas siapa ya? "
si ibu bertanya kepadaku, membuat lamunanku sesaat buyar.
" oh, maaf, saya cuma orang lewat bu, tadi putra ibu sedang diganggu teman temannya, ketika saya hampiri, mereka bubar "
si ibu kembali memperhatikanku.
tatapan matanya nampak menyelidik.
aku paham dengan kondisi ini,
ibu mana yang tidak khawatir anaknya bersama dengan orang asing yang tak dikenal.
maka akupun menyunggingkan senyum di wajahku.
" terimakasih mas, maaf merepotkan, putra saya memang tidak dapat mendengar, jadi dia sering diganggu oleh anak anak lain "
ibu tersebut kini membalas senyumku dan meminta maaf.
" iya bu, nggak papa "
jawabku singkat.
sekali lagi ibu itu meminta maaf dan kemudian pamit.
aku sempat melihat sahid, anak tersebut menoleh kepadaku.
aku kembali tersenyum dan melambaikan tangan kananku.
kali ini sahid nampak tersenyum simpul dan kembali berjalan menjauh.
aku menghela nafas,
ada sedikit rasa perih dihati ketika melihat anak sekecil sahid memiliki keterbatasan yang membuatnya harus menerima perlakuan buruk dari teman temannya.
sosok sahid mengingatkanku kepada seseorang.
" ah, mungkin sekarang dia sudah besar "
ujarku ketika mengingat kenangan itu.
aku kembali menghela nafas dan membalikan badanku untuk pulang. . . .
cerita ini aku persembahkan untuk para difabel diluar sana.
utamanya penyandang tunarungu & Tuli ( T huruf besar ),
ada anggapan yang mengatakan jika kata " tuli " itu kasar dan " tunarungu " itu halus.
awalnya akupun menganggap begitu,
sebab ini mengacu kepada KBBI, dimana tuli berarti tidak dapat mendengar ( karena rusak pendengarannya ).
lebih sering dikonotasikan dengan istilah kasar, tidak sopan dan juga merendahkan.
sedangkan tunarungu diartikan di dalam KBBI menjadi tidak dapat mendengar.
namun lebih banyak digunakan di indonesia karena dianggap lebih sopan.
namun ternyata setelah banyak membaca dan mendalami mengenai hal ini lebih dalam,
ternyata para difabel itu lebih menyukai disebut Tuli. ( T besar )
istilah Tuli lebih mengacu kepada kelompok minoritas linguistik yang menggunakan bahasa isyarat.
( dimana ini berhubungan dengan sosial di amerika, sebagian besar Tuli mengadopsi istilah Tuli dari kata deaf )
Tuli dan orang dengar ( orang yang dapat mendengar dengan normal ) memiliki budaya yang berbeda.
jika orang dengar menggunakan bahasa suara untuk berkomunikasi,
maka Tuli menggunakan bahasa isyarat.
bahasa isyarat dan budaya Tuli merupaka identitas dan jati diri.
sedangkan tunarungu, dari segi makna kosakata, dikaitkan dengan kondisi pendengaran yang rusak, tidak bisa berbicara dan tidak normal.
ada yang menganggap ini sebuah penyakit sehingga perlu diperiksa, diberi alat bantu dengar, dan perlakuan lain lain agar dapat seperti " orang normal ".
memang ada benarnya karena kebanyakan dari kita menganggap bahwa tuli adalah penyakit dan merupakan " ketidaknormalan " yang membuat kita berpikir bahwa mereka Tuli sangat memerlukan belas kasihan dan bantuan.
melalui edukasi bahwa Tuli adalah sebuah kelompok budaya minoritas,
dimana orang yang tidak dapat mendengar dengan baik pun adalah orang normal, yang setara dengan orang dengar.
maka harapannya kedepan tidak ada lagi diskriminasi kepada para Tuli.
sebab walau tidak dapat mendengar,
mereka tetap berkomunikasi dengan cara mereka,
sebuah bahasa isyarat, budaya yang menjadi cara Tuli berkomunikasi,
tanpa perlu dikasihani.
karena mereka dan kita itu sama.
melalui cerita yang akan aku tulis,
aku juga ingin menyampaikan pesan,
bahwa diluar sana masih banyak orang orang berempati tinggi yang tidak memandang rendah dan menyepelekan para difabel.
jangan patah semangat!
Tuhan menciptakan manusia dengan segala kelebihan dan kekurangannya.
dan yakinlah, anda memiliki kelebihan yang tidak dimiliki orang lain.
selamat membaca

padasw dan destinationbali memberi reputasi
2