- Beranda
- Stories from the Heart
STORY OF MY LIFE (SOML 17+) Romance dan Aksi
...
TS
herdimeidianto
STORY OF MY LIFE (SOML 17+) Romance dan Aksi


STORY OF MY LIFE
SEBUAH CERITA MENGENAI KEPASTIAN
Quote:
Blurb:
Aku masih terhenyak dalam menanti sebuah jawaban.
Bertanya mengenai kapan semuanya akan berakhir.
Apakah akan indah? Atau berakhir tragis.
Semuanya bisa saja terjadi, tinggal bagaimana kita menjalani sebuah cerita yang penuh dengan penantian. Semuanya untuk kamu ... wanita yang pernah berjanji untuk sehidup semati.
Aku masih terhenyak dalam menanti sebuah jawaban.
Bertanya mengenai kapan semuanya akan berakhir.
Apakah akan indah? Atau berakhir tragis.
Semuanya bisa saja terjadi, tinggal bagaimana kita menjalani sebuah cerita yang penuh dengan penantian. Semuanya untuk kamu ... wanita yang pernah berjanji untuk sehidup semati.
Quote:
Sinopsis singkat :
Hardy akhirnya memutuskan untuk berkuliah. Walau ia tahu benar kuliah termasuk hal yang cukup rumit untuk dijalani. Bagaimana tidak, orangtuanya memberikan ia sebuah keharusan guna sukses di dalam kuliahnya, sedangkan Hardy sendiri adalah seorang pria yang memiliki kehendak bebas dalam menjalani hidup. Rasanya ia benar-benar harus berjuang untuk memenuhi ekspektasi dari kedua orangtuanya yang terlampau tinggi untuk ia penuhi.
Novieta Dwi seorang perempuan yang menghabiskan sebagian waktunya di depan komputer. Memiliki wajah yang manis dan cantik tidak serta merta membuatnya menjadi populer di lingkungannya, malah membuat kesan tomboy begitu melekat di dirinya dikarenakan dirinya yang malas mencatut diri di depan cermin.
Fexia Xiaofei seorang perempuan muda yang mengambil kuliah jurusan Kedokteran. Bercita-cita menjadi seorang Dokter bedah plastik sembari menikmati masa mudanya yang penuh dengan kesenangan.
Ketiganya akhirnya bertemu di suatu keadaan yang tidak tepat. Dimana mengharuskan Hardy untuk memilih. Kepada siapa hati ini harus berlabuh. Mencintai wanita yang selalu ada disampingnya atau menerima cinta dari seorang wanita yang menaruh harapan besar kepada dirinya.
Hardy akhirnya memutuskan untuk berkuliah. Walau ia tahu benar kuliah termasuk hal yang cukup rumit untuk dijalani. Bagaimana tidak, orangtuanya memberikan ia sebuah keharusan guna sukses di dalam kuliahnya, sedangkan Hardy sendiri adalah seorang pria yang memiliki kehendak bebas dalam menjalani hidup. Rasanya ia benar-benar harus berjuang untuk memenuhi ekspektasi dari kedua orangtuanya yang terlampau tinggi untuk ia penuhi.
Novieta Dwi seorang perempuan yang menghabiskan sebagian waktunya di depan komputer. Memiliki wajah yang manis dan cantik tidak serta merta membuatnya menjadi populer di lingkungannya, malah membuat kesan tomboy begitu melekat di dirinya dikarenakan dirinya yang malas mencatut diri di depan cermin.
Fexia Xiaofei seorang perempuan muda yang mengambil kuliah jurusan Kedokteran. Bercita-cita menjadi seorang Dokter bedah plastik sembari menikmati masa mudanya yang penuh dengan kesenangan.
Ketiganya akhirnya bertemu di suatu keadaan yang tidak tepat. Dimana mengharuskan Hardy untuk memilih. Kepada siapa hati ini harus berlabuh. Mencintai wanita yang selalu ada disampingnya atau menerima cinta dari seorang wanita yang menaruh harapan besar kepada dirinya.
Daftar Isi :
1. Bagian satu : Hari Pertama Kuliah
2.Bagian dua : Sebuah Penyesalan
3.Part 3 Wanita Dari Masa Lalu
4.Bagian Empat : Aku dan Dirinya
5.Bagian Lima : Cerewet Tapi Perhatian
6.Bagian Enam : Antara Ego Melawan Logika
7.Bagian Tujuh : Cinta Dari Masa Lampau
Side Story :
1.1. Pesan Singkat Untuk Dirimu Yang Disana
2. 2. Sebuah Jeritan Hati
3.3. Suatu Kisah Di Sudut Rumah Sakit
Quote:
Note penulis : Silahkan menikmati cerita ini, tidak disarankan untuk mencari tahu mengenai siapa saja orang yang berada di dalam isi cerita. Dikarenakan tidak semua orang dalam cerita ini sudah memberikan persetujuan agar cerita ini ditayangkan seperti ini. Penulis hanya ingin berbagi mengenai cerita tentang sebuah kehidupan. Semoga kisah dalam perjalanan ini dapat memberikan pengetahuan dan juga pemahaman yang lebih mengenai sisi lain dari sebuah cerita cinta.
Peringatan keras :
Cerita ini tidak menjual delusi mengenai keindahan cinta semata. Jadi bagi yang mengharapkan semuanya akan berakhir indah tampaknya tidak akan semulus itu. Dikarenakan semuanya butuh proses dan semuanya butuh perjalanan.
Selamat menikmati dan happy reading.
Peringatan keras :
Cerita ini tidak menjual delusi mengenai keindahan cinta semata. Jadi bagi yang mengharapkan semuanya akan berakhir indah tampaknya tidak akan semulus itu. Dikarenakan semuanya butuh proses dan semuanya butuh perjalanan.
Selamat menikmati dan happy reading.
Polling
0 suara
Siapa wanita yang pantas mendampingi sang tokoh utama?
Diubah oleh herdimeidianto 26-12-2017 23:25
LISIN45 dan anasabila memberi reputasi
2
37.2K
Kutip
124
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
herdimeidianto
#24

Perhatian Gambar Hanya Pemanis Saja.
Bagian tiga :
Wanita Dari Masa Lalu
Wanita Dari Masa Lalu
Part sebelumnya :
“Iya-iya, bosku! Aku ikut saja!” balasku tanda setuju.
Kami berdua berjalan ke arah kantin Fakultas Ekonomi yang tidak jauh dari tempat kami berdiri saat ini. Namun ada sebuah pemandangan yang membuatku teralihkan untuk beberapa saat.
“Bukannya dia ...,”
“Iya-iya, bosku! Aku ikut saja!” balasku tanda setuju.
Kami berdua berjalan ke arah kantin Fakultas Ekonomi yang tidak jauh dari tempat kami berdiri saat ini. Namun ada sebuah pemandangan yang membuatku teralihkan untuk beberapa saat.
“Bukannya dia ...,”
***
Quote:
Anwar yang sadar dengan perubahan sikapku yang cepat segera melihat ke arah mana mataku tengah memandang. Ia hanya tersenyum simpul ketika menyadari apa yang sedang kutatap dari kejauhan.
“Kalau soal wanita, tampaknya matamu itu tidak minus ya, Har?” ledek Anwar kepadaku.
“Mataku ini hanya minus 1 dodol! Lagipula ini masih siang, sinar matahari tentunya lebih banyak dan sudah pasti mataku bisa melihat kejauhan!” bantahku yang tidak setuju dengan argumen Anwar barusan.
“Kalau soal wanita ngeles aja terus! Sudah sana! Temui dia, bukankah sudah lama, kau tidak bertemu dengan Cici-mu itu!” ledek Anwar sembari ngeloyor pergi ke arah bangku kantin yang masih terlihat kosong.
Aku dan Fexia memang sebenarnya berpacaran, bahkan ketika aku menjalin hubungan dengan Tiwi. Aku dan Fexia tetap saja backstreet, memang hanya keluarga dan orang terdekat saja yang mengetahui hal ini. Lagipula ketika kami pertama kali berpacaran, statusku dengan Tiwi pada saat itu memang sedang break. Aku dan Tiwi memang bersama selama kurang lebih 7 tahun lamanya, namun hubungan kami sangat sering putus dan nyambung dikarenakan sikap kami berdua yang tidak pernah dewasa, bahkan sering kali aku menyia-nyiakan Tiwi di sela-sela kesibukanku dengan sekolah, teman dan juga game online yang begitu kugemari.
Beruntung, Fexia adalah orang yang menerimaku apa adanya, bahkan ia rela belajar untuk bermain game online demi diriku. Masih teringat nyata ketika itu ada sebuah game online yang menjual estetika karakter yang dapat dibeli dengan rupiah, isinya kurang lebih adalah game dance dengan basis online yang bernama “Ayo Dance” mungkin untuk yang zaman SMP-nya mengenal game ini berarti kita seumuran.
Biasanya kami menghabiskan waktu dengan bermain game bersama di rumah Fexia, di rumahku atau juga mengikuti acara kumpul keluarga besar. Fexia memang sudah terbiasa dengan keluarga besarku, bahkan kedua keluarga kami sudah begitu dekat layaknya saudara.
“Kalau soal wanita, tampaknya matamu itu tidak minus ya, Har?” ledek Anwar kepadaku.
“Mataku ini hanya minus 1 dodol! Lagipula ini masih siang, sinar matahari tentunya lebih banyak dan sudah pasti mataku bisa melihat kejauhan!” bantahku yang tidak setuju dengan argumen Anwar barusan.
“Kalau soal wanita ngeles aja terus! Sudah sana! Temui dia, bukankah sudah lama, kau tidak bertemu dengan Cici-mu itu!” ledek Anwar sembari ngeloyor pergi ke arah bangku kantin yang masih terlihat kosong.
Quote:
Jantungku berdegup dengan kencang, pertanda aku cukup grogi dengan keadaan yang seperti ini. Bagaimana tidak, setelah sekian lama akhirnya aku berjumpa kembali dengan wanita yang begitu kukagumi di masa lalu. Ia adalah Fexia Felicia Santoso anak dari salah satu kenalan mama. Aku mengenalnya di salah satu acara arisan teman-teman mama, dimana pada saat itu, aku sempat hadir menemani mama di acara arisan tersebut.
Mama berteman akrab dengan orangtua Fexia. Mereka sering ke luar kota bersama ataupun mengikuti arisan ala ibu-ibu pada umumnya, tampaknya keakraban mereka terjalin jauh sebelum kami berdua dilahirkan. Menurut mama, Ibu Fexia adalah teman karibnya di masa sekolah, seiring berjalannya waktu aku dan Fexia menjadi akrab dan kerap menghabiskan waktu berdua, selama kedua orangtua kami tengah sibuk dengan arisan mereka.
Sesuai namanya, Fexia adalah seorang gadis keturunan Tionghoa yang memiliki wajah yang cukup imut. Aku sendiri begitu mengagumi wajahnya yang lucu dan menggemaskan itu, rasanya jika sedang berada dekat dengannya akan sangat menyenangkan jika bisa mencubit pipinya yang chubby dan akan berwarna merah ketika kucubit, karena kulitnya yang putih bagaikan pualam. Fexia memiliki rambut yang cukup panjang, rambutnya gemar ia urai tanpa pernah sekalipun aku melihatnya memakai ikat rambut, bola matanya berwarna coklat, giginya yang gingsul akan terlihat ketika ia tersenyum, serta satu buah lesung pipi menghiasi wajahnya, dimana kebanyakan orang memiliki lesung pipi sejumlah dua buah, sedangkan Fexia hanya memiliki satu dan itu berada di pipinya yang sebelah kiri, rasanya jika mengingat itu semua membuat aku ingin kembali ke masa lalu.
Aku masih terdiam mematung untuk beberapa saat, sembari memastikan benarkah wanita yang berada tak jauh dari hadapanku sekarang adalah Fexia? Atau hanya mirip semata, seingatku Fexia sedang berkuliah di kota Bandung. Lalu menggapa sosok indah ini bisa ada di kota Palembang? Masih lekat dalam perasaan penasaran dan raguku yang bercampur aduk. Aku akhirnya memberanikan diri untuk mendekat ke arah kerumunan wanita yang kini tengah bersenda gurau sembari menikmati segelas kopi latte di tengah hari yang terik.
Mama berteman akrab dengan orangtua Fexia. Mereka sering ke luar kota bersama ataupun mengikuti arisan ala ibu-ibu pada umumnya, tampaknya keakraban mereka terjalin jauh sebelum kami berdua dilahirkan. Menurut mama, Ibu Fexia adalah teman karibnya di masa sekolah, seiring berjalannya waktu aku dan Fexia menjadi akrab dan kerap menghabiskan waktu berdua, selama kedua orangtua kami tengah sibuk dengan arisan mereka.
Sesuai namanya, Fexia adalah seorang gadis keturunan Tionghoa yang memiliki wajah yang cukup imut. Aku sendiri begitu mengagumi wajahnya yang lucu dan menggemaskan itu, rasanya jika sedang berada dekat dengannya akan sangat menyenangkan jika bisa mencubit pipinya yang chubby dan akan berwarna merah ketika kucubit, karena kulitnya yang putih bagaikan pualam. Fexia memiliki rambut yang cukup panjang, rambutnya gemar ia urai tanpa pernah sekalipun aku melihatnya memakai ikat rambut, bola matanya berwarna coklat, giginya yang gingsul akan terlihat ketika ia tersenyum, serta satu buah lesung pipi menghiasi wajahnya, dimana kebanyakan orang memiliki lesung pipi sejumlah dua buah, sedangkan Fexia hanya memiliki satu dan itu berada di pipinya yang sebelah kiri, rasanya jika mengingat itu semua membuat aku ingin kembali ke masa lalu.
Aku masih terdiam mematung untuk beberapa saat, sembari memastikan benarkah wanita yang berada tak jauh dari hadapanku sekarang adalah Fexia? Atau hanya mirip semata, seingatku Fexia sedang berkuliah di kota Bandung. Lalu menggapa sosok indah ini bisa ada di kota Palembang? Masih lekat dalam perasaan penasaran dan raguku yang bercampur aduk. Aku akhirnya memberanikan diri untuk mendekat ke arah kerumunan wanita yang kini tengah bersenda gurau sembari menikmati segelas kopi latte di tengah hari yang terik.
Quote:
“Permisi ... numpang lewat!” sapaku seadanya ke beberapa kerumunan mahasiswa yang berada di hadapanku.
Aku kemudian menjulurkan tanganku ke arah depan dan memegang pundak wanita yang kucuriga adalah Fexia sembari berujar pelan, “Fexia ...,”
Wanita itu kemudian berbalik ke arahku, matanya menatapku lekat-lekat. Tak lama, ia kemudian tersenyum dan sebuah pelukan hangat memeluk ragaku di tengah kerumunan pasang mata yang kini tengah memperhatikan kami berdua.
“Hardy!! Aku rindu denganmu, sayang!!” ujarnya lirih, tanpa terasa air mata mengalir dari wajahnya yang bulat.
“Xia ... lepasin dong! Malu ... ini kan di tempat umum!” ujarku sembari mencoba melepas pelukan Fexia, walau sebenarnya pelukan ini sudah lama kunantikan, tapi rasa malu tampaknya lebih dominan dari semua itu.
“Kamu jahat!! Kenapa tidak bilang kalau kamu kuliah disini sekarang? Aku sampai rela dari Bandung kerumah kamu, cuma untuk ketemu langsung sama kamu! Tapi ... kata Tante Eni kamu sudah kost di kota ini sekarang dan berkuliah di kampus di daerah Plasa. Kenapa kamu tidak pernah membalas pesan, chat facebook ataupun twit twitterku? Kamu masih marah?” selidiknya. Ia tampaknya benar-benar kecewa denganku pada saat itu.
“Maaf ... Xia! Aku bisa jelaskan ini nanti!” tawarku kepadanya, tentunya aku tidak ingin masalah pribadiku menjadi konsumsi publik di tengah ramainya kantin Fakultas Ekonomi pada siang itu.
Fexia yang mulai menyadari dengan kegelisahanku itu akhirnya sadar dan kemudian menarik tanganku pergi dari kerumunan teman-temannya.
“Aku pergi sebentar ya!” ujarnya kepada teman-temannya sembari mengajakku berlalu.
“Aku butuh penjelasan untuk ini semua! Harus ...,” ujarnya lirih di tengah perjalanan itu.
Fexia berjalan ke arah mobil sedan merk Honda City berwarna hitam dengan plat nomor BG 145* EZ yang terparkir rapi di depan Fakultas Kedokteran. Aku mulai berpikir, apa Fexia pindah ke kampus ini juga? Masih dalam kebinggunganku, Fexia segera menekan remot mobil dan membuka kunci mobil, yang merupakan pertanda bahwa aku harus masuk ke dalam mobil tersebut.
Ia segera menghidupkan mesin mobil dan juga AC mobil, lalu melepas kaca mata berframe bulat yang menghiasi wajahnya sembari menatap wajahku dalam-dalam.
“Jadi ... apa yang mau kamu jelaskan kepadaku, Hardy?” ujarnya dengan nada serius.
“Aku hanya bisa minta maaf, Xia! Bukan maksudku untuk menghindar darimu setelah kejadian itu! Hanya saja ... aku rasa kita memang tidak seharusnya menjadi seperti ini!” terangku kepada Fexia. Aku sengaja memperhalus bahasaku agar kiranya, ia tidak tersinggung dengan maksud yang tersirat dari kalimat tersebut.
Aku kemudian menjulurkan tanganku ke arah depan dan memegang pundak wanita yang kucuriga adalah Fexia sembari berujar pelan, “Fexia ...,”
Wanita itu kemudian berbalik ke arahku, matanya menatapku lekat-lekat. Tak lama, ia kemudian tersenyum dan sebuah pelukan hangat memeluk ragaku di tengah kerumunan pasang mata yang kini tengah memperhatikan kami berdua.
“Hardy!! Aku rindu denganmu, sayang!!” ujarnya lirih, tanpa terasa air mata mengalir dari wajahnya yang bulat.
“Xia ... lepasin dong! Malu ... ini kan di tempat umum!” ujarku sembari mencoba melepas pelukan Fexia, walau sebenarnya pelukan ini sudah lama kunantikan, tapi rasa malu tampaknya lebih dominan dari semua itu.
“Kamu jahat!! Kenapa tidak bilang kalau kamu kuliah disini sekarang? Aku sampai rela dari Bandung kerumah kamu, cuma untuk ketemu langsung sama kamu! Tapi ... kata Tante Eni kamu sudah kost di kota ini sekarang dan berkuliah di kampus di daerah Plasa. Kenapa kamu tidak pernah membalas pesan, chat facebook ataupun twit twitterku? Kamu masih marah?” selidiknya. Ia tampaknya benar-benar kecewa denganku pada saat itu.
“Maaf ... Xia! Aku bisa jelaskan ini nanti!” tawarku kepadanya, tentunya aku tidak ingin masalah pribadiku menjadi konsumsi publik di tengah ramainya kantin Fakultas Ekonomi pada siang itu.
Fexia yang mulai menyadari dengan kegelisahanku itu akhirnya sadar dan kemudian menarik tanganku pergi dari kerumunan teman-temannya.
“Aku pergi sebentar ya!” ujarnya kepada teman-temannya sembari mengajakku berlalu.
“Aku butuh penjelasan untuk ini semua! Harus ...,” ujarnya lirih di tengah perjalanan itu.
Fexia berjalan ke arah mobil sedan merk Honda City berwarna hitam dengan plat nomor BG 145* EZ yang terparkir rapi di depan Fakultas Kedokteran. Aku mulai berpikir, apa Fexia pindah ke kampus ini juga? Masih dalam kebinggunganku, Fexia segera menekan remot mobil dan membuka kunci mobil, yang merupakan pertanda bahwa aku harus masuk ke dalam mobil tersebut.
Ia segera menghidupkan mesin mobil dan juga AC mobil, lalu melepas kaca mata berframe bulat yang menghiasi wajahnya sembari menatap wajahku dalam-dalam.
“Jadi ... apa yang mau kamu jelaskan kepadaku, Hardy?” ujarnya dengan nada serius.
“Aku hanya bisa minta maaf, Xia! Bukan maksudku untuk menghindar darimu setelah kejadian itu! Hanya saja ... aku rasa kita memang tidak seharusnya menjadi seperti ini!” terangku kepada Fexia. Aku sengaja memperhalus bahasaku agar kiranya, ia tidak tersinggung dengan maksud yang tersirat dari kalimat tersebut.
***
Quote:
Aku kembali teringat dengan kejadian 6 bulan yang lalu, dimana Fexia untuk pertama kalinya mengatakan kepadaku mengenai rencana kedua orangtua kami yang menargetkan agar setelah lulus kuliah, kami berdua bisa membina hubungan yang lebih serius dalam artian “menikah”. Bagaikan petir di siang bolong, ketika aku mendengarkan hal tersebut, kontak aku terkejut bukan kepalang, rasanya darah berhenti mengalir dari kepalaku saat itu juga. Bagaimana tidak, sejujurnya aku dan Fexia itu berbeda agama. Aku seorang Muslim walaupun bukan seorang yang taat dan dia adalah seorang penganut agama Budhist yang taat, rasanya untuk menyatukan kami berdua dalam ikatan pernikahan itu akan lumayan susah. Bukan karena kami tidak mendapatkan restu, hanya saja aku belum benar-benar yakin akan dirinya yang kelak akan menjadi ibu dari anak-anakku nantinya.
Aku mencoba membayangkan, bagaimana rasanya harus menuntun seorang yang bukan dari agamaku untuk belajar kembali mengenai agamaku sendiri, toh sedangkan diriku pribadi saja yang dicekoki dengan agama ini dari lahir saja masih merasa malas untuk menjalankannya, apalagi dia yang sama sekali tidak mengetahui luar dan dalam dari ajaran agama ini, setidaknya aku tidak ingin menambah beban, terutama jikalau nantinya ia malah tidak bisa mengemban agama yang baru akan ia anut.
Aku mencoba membayangkan, bagaimana rasanya harus menuntun seorang yang bukan dari agamaku untuk belajar kembali mengenai agamaku sendiri, toh sedangkan diriku pribadi saja yang dicekoki dengan agama ini dari lahir saja masih merasa malas untuk menjalankannya, apalagi dia yang sama sekali tidak mengetahui luar dan dalam dari ajaran agama ini, setidaknya aku tidak ingin menambah beban, terutama jikalau nantinya ia malah tidak bisa mengemban agama yang baru akan ia anut.
***
Quote:
“Hei ... Sayang!! Kamu melamun?” tanyanya penasaran sembari melambaikan tangannya tepat di hadapanku.
Aku yang tersadar dengan apa yang barusan kulakukan segera mencoba kembali fokus dengan apa yang akan kami bahas kedepannya.
“Eh ... sorry-sorry, Xia! Aku jadi kurang fokus!” balasku seadanya.
“Dasar kamu ini! Memang susah sekali, jika diminta serius!” ejeknya.
“Jadi kamu mau menghindar dan menjauhi aku, sayang?” tanyanya sekali lagi.
Aku yang tersadar dengan apa yang barusan kulakukan segera mencoba kembali fokus dengan apa yang akan kami bahas kedepannya.
“Eh ... sorry-sorry, Xia! Aku jadi kurang fokus!” balasku seadanya.
“Dasar kamu ini! Memang susah sekali, jika diminta serius!” ejeknya.
“Jadi kamu mau menghindar dan menjauhi aku, sayang?” tanyanya sekali lagi.
Aku dan Fexia memang sebenarnya berpacaran, bahkan ketika aku menjalin hubungan dengan Tiwi. Aku dan Fexia tetap saja backstreet, memang hanya keluarga dan orang terdekat saja yang mengetahui hal ini. Lagipula ketika kami pertama kali berpacaran, statusku dengan Tiwi pada saat itu memang sedang break. Aku dan Tiwi memang bersama selama kurang lebih 7 tahun lamanya, namun hubungan kami sangat sering putus dan nyambung dikarenakan sikap kami berdua yang tidak pernah dewasa, bahkan sering kali aku menyia-nyiakan Tiwi di sela-sela kesibukanku dengan sekolah, teman dan juga game online yang begitu kugemari.
Beruntung, Fexia adalah orang yang menerimaku apa adanya, bahkan ia rela belajar untuk bermain game online demi diriku. Masih teringat nyata ketika itu ada sebuah game online yang menjual estetika karakter yang dapat dibeli dengan rupiah, isinya kurang lebih adalah game dance dengan basis online yang bernama “Ayo Dance” mungkin untuk yang zaman SMP-nya mengenal game ini berarti kita seumuran.
Biasanya kami menghabiskan waktu dengan bermain game bersama di rumah Fexia, di rumahku atau juga mengikuti acara kumpul keluarga besar. Fexia memang sudah terbiasa dengan keluarga besarku, bahkan kedua keluarga kami sudah begitu dekat layaknya saudara.
Quote:
“Aku masih belum yakin dengan semua ini, Xia!”
“Maksudmu? Kamu tidak yakin denganku?” balasnya sembari terisak, terlihat air mata perlahan keluar dari bola matanya yang indah.
“Iya ... aku masih belum yakin dengan hubungan kita, apalagi dengan niat untuk menikah setelah kuliah! Kamu tentu tahu, aku tidak mungkin pindah agama!” belaku.
“Cuma karena itu? Bukankah kamu sudah dengar sendiri sayang! Mama sudah memberikan izin untuk aku pindah menjadi seorang muslim!” balas Fexia sembari menatapku penuh arti, rasanya ditatap oleh seorang wanita dengan wajah cantik sembari menangis itu membuat batinku berontak. Aku memang lelaki lemah yang tidak bisa melihat wanita menangis di depan mataku.
Aku segera mengambil tisu yang berada di dashboard mobil dan dengan perlahan mengelap air mata yang terjatuh dari bola matanya.
“Sudah ... hentikan! Aku tidak mau kamu menangisi hal yang tidak perlu seperti ini, rasanya terlalu sayang, jika air matamu tertumpah untuk aku!”
“Kamu jahat, sayang! Jahat ... kamu pergi setelah aku benar-benar sayang kepadamu! Kamu ninggalin aku, ketika izin sudah didapat! Memangnya aku kurang apa? Apa kamu pikir, aku tidak tahu hubunganmu dengan wanita bernama Tiwi itu? Apa aku kurang cantik daripada Tiwi? Apa aku kurang seksi?” cecarnya kepadaku. Ia benar-benar larut dalam emosi sembari memberondongku dengan banyak pertanyaan.
“Maafkan aku, Xia!” balasku lirih, tidak banyak hal yang dapat kukatakan pada saat itu selain maaf, rasanya aku benar-benar bersalah memperlakukan Fexia.
“Kamu terlalu banyak bicara, sayang!” balas Fexia sembari terisak dalam tangis.
“Maksudmu? Kamu tidak yakin denganku?” balasnya sembari terisak, terlihat air mata perlahan keluar dari bola matanya yang indah.
“Iya ... aku masih belum yakin dengan hubungan kita, apalagi dengan niat untuk menikah setelah kuliah! Kamu tentu tahu, aku tidak mungkin pindah agama!” belaku.
“Cuma karena itu? Bukankah kamu sudah dengar sendiri sayang! Mama sudah memberikan izin untuk aku pindah menjadi seorang muslim!” balas Fexia sembari menatapku penuh arti, rasanya ditatap oleh seorang wanita dengan wajah cantik sembari menangis itu membuat batinku berontak. Aku memang lelaki lemah yang tidak bisa melihat wanita menangis di depan mataku.
Aku segera mengambil tisu yang berada di dashboard mobil dan dengan perlahan mengelap air mata yang terjatuh dari bola matanya.
“Sudah ... hentikan! Aku tidak mau kamu menangisi hal yang tidak perlu seperti ini, rasanya terlalu sayang, jika air matamu tertumpah untuk aku!”
“Kamu jahat, sayang! Jahat ... kamu pergi setelah aku benar-benar sayang kepadamu! Kamu ninggalin aku, ketika izin sudah didapat! Memangnya aku kurang apa? Apa kamu pikir, aku tidak tahu hubunganmu dengan wanita bernama Tiwi itu? Apa aku kurang cantik daripada Tiwi? Apa aku kurang seksi?” cecarnya kepadaku. Ia benar-benar larut dalam emosi sembari memberondongku dengan banyak pertanyaan.
“Maafkan aku, Xia!” balasku lirih, tidak banyak hal yang dapat kukatakan pada saat itu selain maaf, rasanya aku benar-benar bersalah memperlakukan Fexia.
“Kamu terlalu banyak bicara, sayang!” balas Fexia sembari terisak dalam tangis.
Quote:
Perlahan-lahan wajahnya mendekat kepadaku. Aku hanya diam mematung, susah sekali rasanya nalar untuk bereaksi sesuai dengan kehendak pada saat ini, ingin rasanya menolak, namun naluri priaku berkata lain, tidak ada cara lain selain menikmati apa yang telah terjadi. Kalian mau bilang aku bangs*t?? Ia aku lelaki bangs*t pada saat itu. Bibirnya mulai mendekat senada dengan deru nafas kami yang memburu. Aku dan Fexia mulai larut dalam bertemunya kedua bibir yang basah dan kemudian bertukar saliva sembari lidah kami bertaut menari-nari, rasanya begitu indah pergumulan singkat di tengah hari pada saat itu, beruntung kaca mobil Fexia memang gelap hampir 80%, menjadikan tidak akan ada yang menyadari apa yang telah terjadi di dalam mobil, kecuali memang terjadi tragedi mobil goyang di parkiran kampus siang itu.
Aku kemudian sadar. Apa yang kulakukan bersama Fexia memang tidak benar, sebuah ciuman singkat ini hanya membuat luka menjadi robek kembali untuk kesekian kalinya, membuat rasa cinta yang terkikis itu kembali dan perlahan-lahan sembuh. Aku yang masih mencoba menolak karena gengsi, segera mendorong Fexia untuk melepaskan pergumulan kami dan keluar dari dalam mobil. Aku tak ubahnya seorang pecundang yang mencoba lari dari masalah yang harusnya kuhadapi dan disana hanya tersisa Fexia yang terdiam membatu melihat tingkahku.
Aku kemudian sadar. Apa yang kulakukan bersama Fexia memang tidak benar, sebuah ciuman singkat ini hanya membuat luka menjadi robek kembali untuk kesekian kalinya, membuat rasa cinta yang terkikis itu kembali dan perlahan-lahan sembuh. Aku yang masih mencoba menolak karena gengsi, segera mendorong Fexia untuk melepaskan pergumulan kami dan keluar dari dalam mobil. Aku tak ubahnya seorang pecundang yang mencoba lari dari masalah yang harusnya kuhadapi dan disana hanya tersisa Fexia yang terdiam membatu melihat tingkahku.
#Bersambung
Note Penulis : Sorry kalau updatenya telat, karena seharian harus sibuk dengan urusan kuliah di kampus. Cerita ini kemungkinan akan update setiap harinya dalam minggu-minggu ini. Jika ada perubahan jadwal nanti akan diinfokan. Bagi yang ingin berinteraksi dengan penulis langsung bisa melalui Instagram di @Mayhard20 atau ke Line dengan id Mayhard20.
Selamat membaca kisah ini, ambil yang baik dan buang yang buruk. Karena cinta ini hanya berkisah mengenai cinta dari dua sisi yang berbeda.
Selamat membaca kisah ini, ambil yang baik dan buang yang buruk. Karena cinta ini hanya berkisah mengenai cinta dari dua sisi yang berbeda.
Diubah oleh herdimeidianto 18-11-2017 15:41
0
Kutip
Balas