- Beranda
- Stories from the Heart
STORY OF MY LIFE (SOML 17+) Romance dan Aksi
...
TS
herdimeidianto
STORY OF MY LIFE (SOML 17+) Romance dan Aksi


STORY OF MY LIFE
SEBUAH CERITA MENGENAI KEPASTIAN
Quote:
Blurb:
Aku masih terhenyak dalam menanti sebuah jawaban.
Bertanya mengenai kapan semuanya akan berakhir.
Apakah akan indah? Atau berakhir tragis.
Semuanya bisa saja terjadi, tinggal bagaimana kita menjalani sebuah cerita yang penuh dengan penantian. Semuanya untuk kamu ... wanita yang pernah berjanji untuk sehidup semati.
Aku masih terhenyak dalam menanti sebuah jawaban.
Bertanya mengenai kapan semuanya akan berakhir.
Apakah akan indah? Atau berakhir tragis.
Semuanya bisa saja terjadi, tinggal bagaimana kita menjalani sebuah cerita yang penuh dengan penantian. Semuanya untuk kamu ... wanita yang pernah berjanji untuk sehidup semati.
Quote:
Sinopsis singkat :
Hardy akhirnya memutuskan untuk berkuliah. Walau ia tahu benar kuliah termasuk hal yang cukup rumit untuk dijalani. Bagaimana tidak, orangtuanya memberikan ia sebuah keharusan guna sukses di dalam kuliahnya, sedangkan Hardy sendiri adalah seorang pria yang memiliki kehendak bebas dalam menjalani hidup. Rasanya ia benar-benar harus berjuang untuk memenuhi ekspektasi dari kedua orangtuanya yang terlampau tinggi untuk ia penuhi.
Novieta Dwi seorang perempuan yang menghabiskan sebagian waktunya di depan komputer. Memiliki wajah yang manis dan cantik tidak serta merta membuatnya menjadi populer di lingkungannya, malah membuat kesan tomboy begitu melekat di dirinya dikarenakan dirinya yang malas mencatut diri di depan cermin.
Fexia Xiaofei seorang perempuan muda yang mengambil kuliah jurusan Kedokteran. Bercita-cita menjadi seorang Dokter bedah plastik sembari menikmati masa mudanya yang penuh dengan kesenangan.
Ketiganya akhirnya bertemu di suatu keadaan yang tidak tepat. Dimana mengharuskan Hardy untuk memilih. Kepada siapa hati ini harus berlabuh. Mencintai wanita yang selalu ada disampingnya atau menerima cinta dari seorang wanita yang menaruh harapan besar kepada dirinya.
Hardy akhirnya memutuskan untuk berkuliah. Walau ia tahu benar kuliah termasuk hal yang cukup rumit untuk dijalani. Bagaimana tidak, orangtuanya memberikan ia sebuah keharusan guna sukses di dalam kuliahnya, sedangkan Hardy sendiri adalah seorang pria yang memiliki kehendak bebas dalam menjalani hidup. Rasanya ia benar-benar harus berjuang untuk memenuhi ekspektasi dari kedua orangtuanya yang terlampau tinggi untuk ia penuhi.
Novieta Dwi seorang perempuan yang menghabiskan sebagian waktunya di depan komputer. Memiliki wajah yang manis dan cantik tidak serta merta membuatnya menjadi populer di lingkungannya, malah membuat kesan tomboy begitu melekat di dirinya dikarenakan dirinya yang malas mencatut diri di depan cermin.
Fexia Xiaofei seorang perempuan muda yang mengambil kuliah jurusan Kedokteran. Bercita-cita menjadi seorang Dokter bedah plastik sembari menikmati masa mudanya yang penuh dengan kesenangan.
Ketiganya akhirnya bertemu di suatu keadaan yang tidak tepat. Dimana mengharuskan Hardy untuk memilih. Kepada siapa hati ini harus berlabuh. Mencintai wanita yang selalu ada disampingnya atau menerima cinta dari seorang wanita yang menaruh harapan besar kepada dirinya.
Daftar Isi :
1. Bagian satu : Hari Pertama Kuliah
2.Bagian dua : Sebuah Penyesalan
3.Part 3 Wanita Dari Masa Lalu
4.Bagian Empat : Aku dan Dirinya
5.Bagian Lima : Cerewet Tapi Perhatian
6.Bagian Enam : Antara Ego Melawan Logika
7.Bagian Tujuh : Cinta Dari Masa Lampau
Side Story :
1.1. Pesan Singkat Untuk Dirimu Yang Disana
2. 2. Sebuah Jeritan Hati
3.3. Suatu Kisah Di Sudut Rumah Sakit
Quote:
Note penulis : Silahkan menikmati cerita ini, tidak disarankan untuk mencari tahu mengenai siapa saja orang yang berada di dalam isi cerita. Dikarenakan tidak semua orang dalam cerita ini sudah memberikan persetujuan agar cerita ini ditayangkan seperti ini. Penulis hanya ingin berbagi mengenai cerita tentang sebuah kehidupan. Semoga kisah dalam perjalanan ini dapat memberikan pengetahuan dan juga pemahaman yang lebih mengenai sisi lain dari sebuah cerita cinta.
Peringatan keras :
Cerita ini tidak menjual delusi mengenai keindahan cinta semata. Jadi bagi yang mengharapkan semuanya akan berakhir indah tampaknya tidak akan semulus itu. Dikarenakan semuanya butuh proses dan semuanya butuh perjalanan.
Selamat menikmati dan happy reading.
Peringatan keras :
Cerita ini tidak menjual delusi mengenai keindahan cinta semata. Jadi bagi yang mengharapkan semuanya akan berakhir indah tampaknya tidak akan semulus itu. Dikarenakan semuanya butuh proses dan semuanya butuh perjalanan.
Selamat menikmati dan happy reading.
Polling
0 suara
Siapa wanita yang pantas mendampingi sang tokoh utama?
Diubah oleh herdimeidianto 26-12-2017 23:25
LISIN45 dan anasabila memberi reputasi
2
37.1K
Kutip
124
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
herdimeidianto
#18

Bagian Dua :
Sebuah Penyesalan[/FONT]
Sebuah Penyesalan[/FONT]
Quote:
Kami dibariskan dengan rapi di tengah lapangan sembari mendengarkan sepatah dua patah kata dari Ketua Pelaksana Ospek. Lebih dan kurang, ia menjelaskan mengenai OSPEK selama 3 hari ke depan yang akan dibagi-bagi menjadi Pengenalan Universitas, Pengenalan Fakultas dan terakhir adalah Pengenalan Organisasi. Tampaknya mulai 3 hari ke depan akan banyak hal-hal yang terjadi di antara kami semua.
***
Quote:
Akhirnya aku terpaksa mendengarkan semua rentetan acara di hari pertama OSPEK saat itu. Untuk pastinya aku lupa, mengenai apa saja yang terjadi di hari itu. Namun yang pasti tampaknya banyak hal bodoh yang terjadi, mulai dari beberapa peserta yang tidak membawa perlengkapan OSPEK seperti kaus kaki yang berlainan warna, topi kerucut khas badut yang terbuat dari karton, susu kalengan, coklat, buah-buahan dan terakhir papan nama bertuliskan nama-nama bodoh yang dihiasi dengan permen disana-sini. Jujur saja kalau harus mengingat hal ini rasanya malas sekali, apalagi memang, jika dipikir untuk sekarang ini acara seperti ini memang tidak banyak korelasinya untuk memupuk semua hal apapun yang mereka sebut “solidaritas”. Menurutku pribadi lebih ke arah ajang pembalasan dendam yang sudah menjadi warisan turun-temurun.
Mari kita hentikan membahas mengenai masa OSPEK yang menurutku suram dan hanya penuh dengan ajang pembalasan dendam. Aku masih mengingat setelah OSPEK hari pertama usai, akhirnya aku mulai mengenal beberapa teman di lingkungan ini.
Dimulai dengan perkenalanku dengan pria yang dipanggil “Gus” sebelumnya. Namanya adalah Gusti seorang pria kelahiran Palembang asli dengan gelar RM atau Raden Mas seperti orang Palembang pada umumnya Gusti ini juga gemar “berkelakar” atau kalau diartikan ke Bahasa Indonesia artinya adalah orang yang gemar melucu alias humoris romantis. Ia memiliki wajah persegi, muka yang sedikit berjerawat, kurus dan tinggi serta tidak lupa sepasang kaca mata dengan frame kotak selalu menghiasi wajahnya yang memiliki bola mata minimalis.
Kedua, akhirnya aku mengenal perempuan yang dipanggil “Vio” beberapa waktu yang lalu. Nama aslinya adalah Viola Dinata, seorang wanita cantik bertubuh mungil, dengan lesung pipi yang menambah manis wajahnya yang memang sudah terlihat cantik, kulit berwarna coklat, bola mata berwarna senada dan juga rambutnya yang bergelung indah membuatnya layak disebut sebagai bintangnya dari kelompok ini. Hal ini dikarenakan hanya terdapat 50 wanita di angkatan ini dari total 350 mahasiswa angkatan.
Vio tampaknya bisa disebut sebagai teman yang baik. Ia tampak tertarik dengan perkenalan kami masing-masing. Ternyata Vio dan Gusti adalah teman satu SMA, mereka juga gagal di SNMPTN dan akhirnya berakhir di tempat ini. Gusti yang gemar melucu terkadang terlalu sibuk mentertawakan hal yang sepatutnya tidak untuk ditertawakan, tidak jarang juga hal ini menjadi bumerang untuk dirinya sendiri, hingga kemudian salah seorang kakak tingkat yang mendengar Gusti berceloteh segera mendekat dan memberinya hukuman untuk push up sebanyak 15 kali. Aku hanya tertawa, melihat dirinya yang tidak bisa diam disaat orang lain tengah serius mengikuti OSPEK Universitas.
Setelah semua acara membosankan itu berakhir, Aku akhirnya beranjak keluar dari gedung Fakultas, kebetulan jarak rumah dan kampus cukup jauh. Oleh karena itu satu minggu sebelum OSPEK dimulai, aku sudah memutuskan untuk mencari kost-kostan, pikir-pikir selain mencoba untuk menjadi mandiri ada baiknya agar mencari kost di sekitaran kampus, tentunya hal ini dapat membuat penyakit suka terlambatku setidaknya sedikit berkurang, walaupun pada faktanya semakin dekat jarak kampus maka akan semakin sering kambuhnya penyakit telatku ini.
Viola sempat menawarkan tumpangan petang itu, kebetulan ia membawa mobil ke kampus. Aku hanya menggeleng pelan pertanda aku tidak terlalu membutuhkan tumpangan, hal ini dikarenakan jarak antara kampus dan juga kost-kostanku hanya berjarak sekitar 100 meter tepat di belakang kampus, rasanya sayang, jika harus merepotkan Viola mengantarkan aku ke belakang kampus, paling baru naik mobil sebentar sudah turun lagi. Vio kemudian segera berlalu setelah mengucapkan beberapa kata perpisahan, mungkin ia kangen dengan sosokku yang memang cukup tampan. Sorry ... just kidding.
Aku akhirnya sampai di depan sebuah pintu gerbang kost yang terbuat dari besi hitam, sebuah tangga sudah pasti menyapaku setiap harinya karena tangga ini menghadap ke pintu utama dari kamar kost. Ibu kost tinggal di lantai 3 dan aku berserta anak kost yang lain tinggal di lantai 1 bisa dibilang kost-kostan ini berbentuk mirip dengan rumah panggung yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa dengan alasan tidak cukupnya lahan untuk memperbesar rumah tersebut dan alhasil solusi membuat bangunan bertingkat adalah yang terpikirkan oleh si empunya rumah. Bicara soal harga kost, tampaknya hal yang cukup tabu untuk dibicarakan, tapi harga kost-kostan disini pada zaman itu memang cukup gila. Aku menempati sebuah ruangan dengan panjang 4x5 meter tidak kruang dan tidak lebih, dua buah kamar mandi yang terpisah berada di dalam rumah serta sebuah dapur umum dan akibat dari itu semua selama satu tahun ke depan aku diwajibkan untuk membayar sebesar 6 juta rupiah di tahun 2010, rasanya untuk sekedar kamar kecil berkeramik di zaman itu apalagi bentuknya yang kecil agak tidak masuk akal. Namun mau bicara apalagi, beginilah kehidupan disini. Aku yang mendengarkan harga kost-kostan temanku di Pulau Jawa sana saja tidak semahal ini dan rasanya iri juga ketika mereka mulai menceritakan kehidupan kost mereka di Pulau Jawa sana.
Aku mulai meletakkan tasku di atas meja belajar, membuka semua pakaianku dan memutuskan untuk mandi. Setelah semuanya selesai, aku berjalan pelan memasuki kamar dan menutup pintunya secara perlahan-lahan dari dalam, para penghuni kost yang lain tampaknya belum pulang, semuanya merupakan mahasiswa tingkat pertama sepertiku hanya saja berbeda Universitas. Mungkin di lain waktu aku akan menceritakan mereka dalam kisah ini.
Setelah selesai berganti pakaian, aku mulai menghidupkan laptop tua merk HP yang belum lama ini kubeli. Aku meminta membeli laptop kepada papa dengan alasan untuk memenuhi tugas-tugas kuliah, namun fakta sebenarnya laptop adalah sarana lain untuk menikmati musik, menonton video dan juga bermain game online. Aku mulai membuka playlist winamp-ku yang terisi dengan beberapa lagu rap yang cukup terkenal di zaman itu, seingatku aku dulu gemar dengan lagu-lagu rap mulai dari Saykoji, 8 Ball, dan juga Kungpow Chicken, beberapa lagu rap dari korea yang cukup populer di zamannya juga sering aku dengarkan walau tidak terlalu menyukai dance cover yang mereka sajikan.
Sedang bersantai di atas kasur sembari membaca sebuah buku hukum, tiba-tiba layar handphone-ku menyala, disana terlihat kedipan led berwarna merah dari handphone blackberry yang aku punya menandakan bahwa ada sebuah pesan BBM yang masuk. Aku yang penasaran segera mengambil handphone tersebut dan mengecek siapa yang mengirimkan pesan kepadaku.
Mari kita hentikan membahas mengenai masa OSPEK yang menurutku suram dan hanya penuh dengan ajang pembalasan dendam. Aku masih mengingat setelah OSPEK hari pertama usai, akhirnya aku mulai mengenal beberapa teman di lingkungan ini.
Dimulai dengan perkenalanku dengan pria yang dipanggil “Gus” sebelumnya. Namanya adalah Gusti seorang pria kelahiran Palembang asli dengan gelar RM atau Raden Mas seperti orang Palembang pada umumnya Gusti ini juga gemar “berkelakar” atau kalau diartikan ke Bahasa Indonesia artinya adalah orang yang gemar melucu alias humoris romantis. Ia memiliki wajah persegi, muka yang sedikit berjerawat, kurus dan tinggi serta tidak lupa sepasang kaca mata dengan frame kotak selalu menghiasi wajahnya yang memiliki bola mata minimalis.
Kedua, akhirnya aku mengenal perempuan yang dipanggil “Vio” beberapa waktu yang lalu. Nama aslinya adalah Viola Dinata, seorang wanita cantik bertubuh mungil, dengan lesung pipi yang menambah manis wajahnya yang memang sudah terlihat cantik, kulit berwarna coklat, bola mata berwarna senada dan juga rambutnya yang bergelung indah membuatnya layak disebut sebagai bintangnya dari kelompok ini. Hal ini dikarenakan hanya terdapat 50 wanita di angkatan ini dari total 350 mahasiswa angkatan.
Vio tampaknya bisa disebut sebagai teman yang baik. Ia tampak tertarik dengan perkenalan kami masing-masing. Ternyata Vio dan Gusti adalah teman satu SMA, mereka juga gagal di SNMPTN dan akhirnya berakhir di tempat ini. Gusti yang gemar melucu terkadang terlalu sibuk mentertawakan hal yang sepatutnya tidak untuk ditertawakan, tidak jarang juga hal ini menjadi bumerang untuk dirinya sendiri, hingga kemudian salah seorang kakak tingkat yang mendengar Gusti berceloteh segera mendekat dan memberinya hukuman untuk push up sebanyak 15 kali. Aku hanya tertawa, melihat dirinya yang tidak bisa diam disaat orang lain tengah serius mengikuti OSPEK Universitas.
Setelah semua acara membosankan itu berakhir, Aku akhirnya beranjak keluar dari gedung Fakultas, kebetulan jarak rumah dan kampus cukup jauh. Oleh karena itu satu minggu sebelum OSPEK dimulai, aku sudah memutuskan untuk mencari kost-kostan, pikir-pikir selain mencoba untuk menjadi mandiri ada baiknya agar mencari kost di sekitaran kampus, tentunya hal ini dapat membuat penyakit suka terlambatku setidaknya sedikit berkurang, walaupun pada faktanya semakin dekat jarak kampus maka akan semakin sering kambuhnya penyakit telatku ini.
Viola sempat menawarkan tumpangan petang itu, kebetulan ia membawa mobil ke kampus. Aku hanya menggeleng pelan pertanda aku tidak terlalu membutuhkan tumpangan, hal ini dikarenakan jarak antara kampus dan juga kost-kostanku hanya berjarak sekitar 100 meter tepat di belakang kampus, rasanya sayang, jika harus merepotkan Viola mengantarkan aku ke belakang kampus, paling baru naik mobil sebentar sudah turun lagi. Vio kemudian segera berlalu setelah mengucapkan beberapa kata perpisahan, mungkin ia kangen dengan sosokku yang memang cukup tampan. Sorry ... just kidding.
Aku akhirnya sampai di depan sebuah pintu gerbang kost yang terbuat dari besi hitam, sebuah tangga sudah pasti menyapaku setiap harinya karena tangga ini menghadap ke pintu utama dari kamar kost. Ibu kost tinggal di lantai 3 dan aku berserta anak kost yang lain tinggal di lantai 1 bisa dibilang kost-kostan ini berbentuk mirip dengan rumah panggung yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa dengan alasan tidak cukupnya lahan untuk memperbesar rumah tersebut dan alhasil solusi membuat bangunan bertingkat adalah yang terpikirkan oleh si empunya rumah. Bicara soal harga kost, tampaknya hal yang cukup tabu untuk dibicarakan, tapi harga kost-kostan disini pada zaman itu memang cukup gila. Aku menempati sebuah ruangan dengan panjang 4x5 meter tidak kruang dan tidak lebih, dua buah kamar mandi yang terpisah berada di dalam rumah serta sebuah dapur umum dan akibat dari itu semua selama satu tahun ke depan aku diwajibkan untuk membayar sebesar 6 juta rupiah di tahun 2010, rasanya untuk sekedar kamar kecil berkeramik di zaman itu apalagi bentuknya yang kecil agak tidak masuk akal. Namun mau bicara apalagi, beginilah kehidupan disini. Aku yang mendengarkan harga kost-kostan temanku di Pulau Jawa sana saja tidak semahal ini dan rasanya iri juga ketika mereka mulai menceritakan kehidupan kost mereka di Pulau Jawa sana.
Aku mulai meletakkan tasku di atas meja belajar, membuka semua pakaianku dan memutuskan untuk mandi. Setelah semuanya selesai, aku berjalan pelan memasuki kamar dan menutup pintunya secara perlahan-lahan dari dalam, para penghuni kost yang lain tampaknya belum pulang, semuanya merupakan mahasiswa tingkat pertama sepertiku hanya saja berbeda Universitas. Mungkin di lain waktu aku akan menceritakan mereka dalam kisah ini.
Setelah selesai berganti pakaian, aku mulai menghidupkan laptop tua merk HP yang belum lama ini kubeli. Aku meminta membeli laptop kepada papa dengan alasan untuk memenuhi tugas-tugas kuliah, namun fakta sebenarnya laptop adalah sarana lain untuk menikmati musik, menonton video dan juga bermain game online. Aku mulai membuka playlist winamp-ku yang terisi dengan beberapa lagu rap yang cukup terkenal di zaman itu, seingatku aku dulu gemar dengan lagu-lagu rap mulai dari Saykoji, 8 Ball, dan juga Kungpow Chicken, beberapa lagu rap dari korea yang cukup populer di zamannya juga sering aku dengarkan walau tidak terlalu menyukai dance cover yang mereka sajikan.
Sedang bersantai di atas kasur sembari membaca sebuah buku hukum, tiba-tiba layar handphone-ku menyala, disana terlihat kedipan led berwarna merah dari handphone blackberry yang aku punya menandakan bahwa ada sebuah pesan BBM yang masuk. Aku yang penasaran segera mengambil handphone tersebut dan mengecek siapa yang mengirimkan pesan kepadaku.
Quote:
‘Hai ... kamu lagi apa?
’
‘Ping!!!’
‘Ping!!!’ beberapa kali handphone-ku bergetar dikarenakan ping yang dikirimkan oleh seorang perempuan bernama Tiwi. Ia adalah mantanku di zaman SMP-SMA, kami menjalani hubungan yang cukup lama hampir 6 tahun lamanya, namun dengan alasan akan mengikuti UAN dan juga SNMPTN kami berpisah. Menurutnya, ia butuh waktu banyak untuk belajar lebih serius guna masuk ke Universitas Negeri terkenal di kota ini dan ternyata ia memang berhasil masuk kesana sedangkan aku tidak.
Seingatku sudah lama sejak terakhir kali kami berkomunikasi, aku memang jarang memberinya kabar setelah kami berpisah. Aku memang berniat menutup semua kenangan yang pernah ada, karena rasanya dikecewakan oleh orang yang kita sayang memang tidak sebanding dengan kenyataan yang ada, sedangkan Tiwi tampaknya memiliki beberapa penyesalan yang tidak banyak ia ceritakan kepadaku hingga saat ini.
Aku hanya tersenyum sembari mencoba membalas pesan dari Tiwi barusan.
‘Iya, tiw? Oh ... aku lagi baca buku ini. Kalau kamu?’
Tidak lama kemudian pesan itu telah dibaca dan dengan cepat dibalas oleh Tiwi.
‘Oh syukurlah ... belajar yang rajin ya! Ngomong-ngomong kamu sekarang kuliah di Universitas U** ?’
Aku terhenyak beberapa saat, pikirku tau darimana Tiwi mengenai tempat kuliahku yang sekarang, seingatku aku tidak pernah memberitahukannya mengenai aku yang berkuliah di daerah Plasa.
‘Iya aku kuliah di kampus daerah Plasa. Kamu sendiri gimana? Nyaman di kampus yang baru? Ngomong-ngomong selamat ya atas kelulusannya di kampus favorit itu. Kamu beruntung bisa masuk disana!’
‘Iya ... tapi sekarang kita jauh! Aku jadi tidak bisa ketemu kamu lagi ’ balasnya dengan memberi emoticon sedih diakhir kalimat.
‘Haha ... ya mau gimana lagi. Lagipula kamu sudah diterima disana, Wi! Selamat ya sekali lagi. Jangan sedih dan terus semangat! Kamu sudah punya kehidupan baru di tempat itu!’ aku mencoba menyemangatinya walau terkesan hanya basa-basi saja untuk memperpanjang percakapan.
‘Tapi ... aku ga bisa seperti ini terus! Aku kangen sama kamu, Hardy! ’
Aku hanya tersenyum kecut membaca pesan tersebut. Aku masih ingat benar kata-kata putus itu meluncur dengan lancar seolah tanpa penyesalan dari mulutnya sendiri dan sekarang setelah beberapa bulan berlalu, tampaknya penyesalan itu mulai kentara ia rasakan. Aku yang memang sudah memutuskan untuk menjalani kehidupan baru tanpa Tiwi akhirnya memutuskan untuk tidak membalas pesan itu lagi dan bersiap untuk tidur.
’‘Ping!!!’
‘Ping!!!’ beberapa kali handphone-ku bergetar dikarenakan ping yang dikirimkan oleh seorang perempuan bernama Tiwi. Ia adalah mantanku di zaman SMP-SMA, kami menjalani hubungan yang cukup lama hampir 6 tahun lamanya, namun dengan alasan akan mengikuti UAN dan juga SNMPTN kami berpisah. Menurutnya, ia butuh waktu banyak untuk belajar lebih serius guna masuk ke Universitas Negeri terkenal di kota ini dan ternyata ia memang berhasil masuk kesana sedangkan aku tidak.
Seingatku sudah lama sejak terakhir kali kami berkomunikasi, aku memang jarang memberinya kabar setelah kami berpisah. Aku memang berniat menutup semua kenangan yang pernah ada, karena rasanya dikecewakan oleh orang yang kita sayang memang tidak sebanding dengan kenyataan yang ada, sedangkan Tiwi tampaknya memiliki beberapa penyesalan yang tidak banyak ia ceritakan kepadaku hingga saat ini.
Aku hanya tersenyum sembari mencoba membalas pesan dari Tiwi barusan.
‘Iya, tiw? Oh ... aku lagi baca buku ini. Kalau kamu?’
Tidak lama kemudian pesan itu telah dibaca dan dengan cepat dibalas oleh Tiwi.
‘Oh syukurlah ... belajar yang rajin ya! Ngomong-ngomong kamu sekarang kuliah di Universitas U** ?’
Aku terhenyak beberapa saat, pikirku tau darimana Tiwi mengenai tempat kuliahku yang sekarang, seingatku aku tidak pernah memberitahukannya mengenai aku yang berkuliah di daerah Plasa.
‘Iya aku kuliah di kampus daerah Plasa. Kamu sendiri gimana? Nyaman di kampus yang baru? Ngomong-ngomong selamat ya atas kelulusannya di kampus favorit itu. Kamu beruntung bisa masuk disana!’
‘Iya ... tapi sekarang kita jauh! Aku jadi tidak bisa ketemu kamu lagi ’ balasnya dengan memberi emoticon sedih diakhir kalimat.
‘Haha ... ya mau gimana lagi. Lagipula kamu sudah diterima disana, Wi! Selamat ya sekali lagi. Jangan sedih dan terus semangat! Kamu sudah punya kehidupan baru di tempat itu!’ aku mencoba menyemangatinya walau terkesan hanya basa-basi saja untuk memperpanjang percakapan.
‘Tapi ... aku ga bisa seperti ini terus! Aku kangen sama kamu, Hardy! ’
Aku hanya tersenyum kecut membaca pesan tersebut. Aku masih ingat benar kata-kata putus itu meluncur dengan lancar seolah tanpa penyesalan dari mulutnya sendiri dan sekarang setelah beberapa bulan berlalu, tampaknya penyesalan itu mulai kentara ia rasakan. Aku yang memang sudah memutuskan untuk menjalani kehidupan baru tanpa Tiwi akhirnya memutuskan untuk tidak membalas pesan itu lagi dan bersiap untuk tidur.
***
[FONT="Book Antiqua"]OSPEK hari kedua.
Quote:
Rasanya tidak banyak hal yang terjadi di hari ini, selain mendengarkan, menunduk dan juga memberikan sedikit rasa hormat kepada para kakak tingkat dan semuanya berakhir dengan indah. Gusti dan Vio masih seperti kemarin gemar bercerita mengenai kehidupan masa SMA mereka kepadaku sedangkan aku malah menjadi seorang pendengar yang baik mendengarkan semua pembicaraan mereka. Setidaknya mulai hari itu, aku banyak mengetahui sisi lain dari mereka berdua, mulai dari Vio yang bercita-cita menjadi Dokter dan diterima di Universitas Indonesia, lalu dikarenakan jaraknya yang jauh dari kota ini akhirnya ia bernasib sama seperti diriku. Kemudian ada Gusti, yang sebenarnya lebih menyukai masuk Fakultas Ekonomi daripada masuk Fakultas Hukum, menurutnya orangtuanya adalah faktor utama kenapa ia bisa sampai disini.
Di hari kedua aku bertemu dengan teman karibku Anwar Harahap yang sebelumnya sudah aku ceritakan di awal cerita. Ia terlihat tengah menggoda beberapa perempuan muda di kantin Fakultas Ekonomi dan salah satu alasan aku bisa sampai di kantin Fakultas Ekonomi yang notabene berjarak sekitar 300 meter dari gedung Fakultas Hukum adalah dikarenakan Anwar meneleponku dan berjanji akan mentraktirku untuk makan siang. Aku yang menyanggupi hal tersebut segera bergegas menuju kantin Fakultas Ekonomi hingga akhirnya mendapati kenyataan bahwa manusia sok ganteng satu ini tengah sibuk berkenalan dengan beberapa wanita cantik.
“Hai ... Gw Anwar kalian habis ini ada acara? Kalau ga sibuk kayaknya lagi ada film bagus di Bioskop, gimana kalau kita nonton?” tawar Anwar sembari berjabat tangan dengan salah seorang wanita keturunan tionghoa yang memang cukup cantik jika dilihat oleh mata.
“Boleh ... tapi nanti ya! Soalnya aku masih ada kelas ini. Nanti aku kabarin.” elak wanita ini, begitu kentara tingkahnya sengaja untuk menghindari ajakan Anwar.
Namun pria pantang menyerah ini kembali menggunakan akal bulusnya untuk mencoba mendekati kembali wanita ini, “Tapi ... gimana caranya gw bisa ngehubungin kalau kontaknya aja ga punya! Sini mana pin BBM-nya nanti aku invite” desak Anwar.
Wanita ini hanya tersenyum kecut sembari memberikan pin BBM-nya kepada Anwar, dengan senyum senang penuh kemenangan Anwar segera menambahkan wanita ini ke salah satu kontak wanita calon incarannya kelak.
Aku tak sempat lagi menahan tawa sembari memperhatikan gerak-gerik Anwar sedari tadi. Aku benar-benar tidak menyangka gayanya di zaman SMA masih saja diterapkannya di masa kuliah. Aku masih ingat benar, bahwa Anwar pernah sok-sokan membawa gitar ke sekolah demi mencoba untuk menembak salah seorang gebetannya pada saat itu, padahal sesungguhnya cecunguk ini sama sekali tidak bisa bermain gitar, bahkan kunci dasarpun ia tak paham, tapi demi gengsi, ia rela membawa gitar itu sebagai salah satu properti untuk menaklukan wanita pujaan hatinya. Walau harus berakhir naas, karena memang Anwar tidak ada basic bermain gitar apalagi hanya dengan genjrang-genjreng aneh dengan suara yang tidak sama dengan nada alias fals.
“Apa kau tertawa-tawa dari tadi, Har! Kau meledekku, ya?” umpat Anwar yang melihatku mendekat ke arahnya.
“Haha ... maaf-maaf! Aku hanya tidak bisa menahan tawa ketika melihat kau merayu wanita barusan.” balasku sembari masih mencoba menahan tawa.
“Kau ini ada-ada saja, Har! Yah ... namanya juga usaha, mana tau dia bisa dibawa pulang ke kos!” timpal Anwar sembari tertawa penuh arti.
“Dasar baik!” balasku cepat sembari menimpuk kepalanya dengan botol minuman.
“Sakit anjir!! Yok kita makan, tenang aku yang traktir!” ajak Anwar sembari tersenyum.
“Iya-iya, bosku! Aku ikut saja!” balasku tanda setuju.
Kami berdua berjalan ke arah kantin Fakultas Ekonomi yang tidak jauh dari tempat kami berdiri saat ini. Namun ada sebuah pemandangan yang membuatku teralihkan untuk beberapa saat.
“Bukannya dia ...,”
Di hari kedua aku bertemu dengan teman karibku Anwar Harahap yang sebelumnya sudah aku ceritakan di awal cerita. Ia terlihat tengah menggoda beberapa perempuan muda di kantin Fakultas Ekonomi dan salah satu alasan aku bisa sampai di kantin Fakultas Ekonomi yang notabene berjarak sekitar 300 meter dari gedung Fakultas Hukum adalah dikarenakan Anwar meneleponku dan berjanji akan mentraktirku untuk makan siang. Aku yang menyanggupi hal tersebut segera bergegas menuju kantin Fakultas Ekonomi hingga akhirnya mendapati kenyataan bahwa manusia sok ganteng satu ini tengah sibuk berkenalan dengan beberapa wanita cantik.
“Hai ... Gw Anwar kalian habis ini ada acara? Kalau ga sibuk kayaknya lagi ada film bagus di Bioskop, gimana kalau kita nonton?” tawar Anwar sembari berjabat tangan dengan salah seorang wanita keturunan tionghoa yang memang cukup cantik jika dilihat oleh mata.
“Boleh ... tapi nanti ya! Soalnya aku masih ada kelas ini. Nanti aku kabarin.” elak wanita ini, begitu kentara tingkahnya sengaja untuk menghindari ajakan Anwar.
Namun pria pantang menyerah ini kembali menggunakan akal bulusnya untuk mencoba mendekati kembali wanita ini, “Tapi ... gimana caranya gw bisa ngehubungin kalau kontaknya aja ga punya! Sini mana pin BBM-nya nanti aku invite” desak Anwar.
Wanita ini hanya tersenyum kecut sembari memberikan pin BBM-nya kepada Anwar, dengan senyum senang penuh kemenangan Anwar segera menambahkan wanita ini ke salah satu kontak wanita calon incarannya kelak.
Aku tak sempat lagi menahan tawa sembari memperhatikan gerak-gerik Anwar sedari tadi. Aku benar-benar tidak menyangka gayanya di zaman SMA masih saja diterapkannya di masa kuliah. Aku masih ingat benar, bahwa Anwar pernah sok-sokan membawa gitar ke sekolah demi mencoba untuk menembak salah seorang gebetannya pada saat itu, padahal sesungguhnya cecunguk ini sama sekali tidak bisa bermain gitar, bahkan kunci dasarpun ia tak paham, tapi demi gengsi, ia rela membawa gitar itu sebagai salah satu properti untuk menaklukan wanita pujaan hatinya. Walau harus berakhir naas, karena memang Anwar tidak ada basic bermain gitar apalagi hanya dengan genjrang-genjreng aneh dengan suara yang tidak sama dengan nada alias fals.
“Apa kau tertawa-tawa dari tadi, Har! Kau meledekku, ya?” umpat Anwar yang melihatku mendekat ke arahnya.
“Haha ... maaf-maaf! Aku hanya tidak bisa menahan tawa ketika melihat kau merayu wanita barusan.” balasku sembari masih mencoba menahan tawa.
“Kau ini ada-ada saja, Har! Yah ... namanya juga usaha, mana tau dia bisa dibawa pulang ke kos!” timpal Anwar sembari tertawa penuh arti.
“Dasar baik!” balasku cepat sembari menimpuk kepalanya dengan botol minuman.
“Sakit anjir!! Yok kita makan, tenang aku yang traktir!” ajak Anwar sembari tersenyum.
“Iya-iya, bosku! Aku ikut saja!” balasku tanda setuju.
Kami berdua berjalan ke arah kantin Fakultas Ekonomi yang tidak jauh dari tempat kami berdiri saat ini. Namun ada sebuah pemandangan yang membuatku teralihkan untuk beberapa saat.
“Bukannya dia ...,”
#Bersambung
Note :
Silahkan share, koment, rate dan vote untuk cerita ini. Semoga kalian suka dan menikmati kisah ini.
Terimakasih.
Silahkan share, koment, rate dan vote untuk cerita ini. Semoga kalian suka dan menikmati kisah ini.
Terimakasih.
Diubah oleh herdimeidianto 16-11-2017 22:28
0
Kutip
Balas