- Beranda
- Stories from the Heart
STORY OF MY LIFE (SOML 17+) Romance dan Aksi
...
TS
herdimeidianto
STORY OF MY LIFE (SOML 17+) Romance dan Aksi


STORY OF MY LIFE
SEBUAH CERITA MENGENAI KEPASTIAN
Quote:
Blurb:
Aku masih terhenyak dalam menanti sebuah jawaban.
Bertanya mengenai kapan semuanya akan berakhir.
Apakah akan indah? Atau berakhir tragis.
Semuanya bisa saja terjadi, tinggal bagaimana kita menjalani sebuah cerita yang penuh dengan penantian. Semuanya untuk kamu ... wanita yang pernah berjanji untuk sehidup semati.
Aku masih terhenyak dalam menanti sebuah jawaban.
Bertanya mengenai kapan semuanya akan berakhir.
Apakah akan indah? Atau berakhir tragis.
Semuanya bisa saja terjadi, tinggal bagaimana kita menjalani sebuah cerita yang penuh dengan penantian. Semuanya untuk kamu ... wanita yang pernah berjanji untuk sehidup semati.
Quote:
Sinopsis singkat :
Hardy akhirnya memutuskan untuk berkuliah. Walau ia tahu benar kuliah termasuk hal yang cukup rumit untuk dijalani. Bagaimana tidak, orangtuanya memberikan ia sebuah keharusan guna sukses di dalam kuliahnya, sedangkan Hardy sendiri adalah seorang pria yang memiliki kehendak bebas dalam menjalani hidup. Rasanya ia benar-benar harus berjuang untuk memenuhi ekspektasi dari kedua orangtuanya yang terlampau tinggi untuk ia penuhi.
Novieta Dwi seorang perempuan yang menghabiskan sebagian waktunya di depan komputer. Memiliki wajah yang manis dan cantik tidak serta merta membuatnya menjadi populer di lingkungannya, malah membuat kesan tomboy begitu melekat di dirinya dikarenakan dirinya yang malas mencatut diri di depan cermin.
Fexia Xiaofei seorang perempuan muda yang mengambil kuliah jurusan Kedokteran. Bercita-cita menjadi seorang Dokter bedah plastik sembari menikmati masa mudanya yang penuh dengan kesenangan.
Ketiganya akhirnya bertemu di suatu keadaan yang tidak tepat. Dimana mengharuskan Hardy untuk memilih. Kepada siapa hati ini harus berlabuh. Mencintai wanita yang selalu ada disampingnya atau menerima cinta dari seorang wanita yang menaruh harapan besar kepada dirinya.
Hardy akhirnya memutuskan untuk berkuliah. Walau ia tahu benar kuliah termasuk hal yang cukup rumit untuk dijalani. Bagaimana tidak, orangtuanya memberikan ia sebuah keharusan guna sukses di dalam kuliahnya, sedangkan Hardy sendiri adalah seorang pria yang memiliki kehendak bebas dalam menjalani hidup. Rasanya ia benar-benar harus berjuang untuk memenuhi ekspektasi dari kedua orangtuanya yang terlampau tinggi untuk ia penuhi.
Novieta Dwi seorang perempuan yang menghabiskan sebagian waktunya di depan komputer. Memiliki wajah yang manis dan cantik tidak serta merta membuatnya menjadi populer di lingkungannya, malah membuat kesan tomboy begitu melekat di dirinya dikarenakan dirinya yang malas mencatut diri di depan cermin.
Fexia Xiaofei seorang perempuan muda yang mengambil kuliah jurusan Kedokteran. Bercita-cita menjadi seorang Dokter bedah plastik sembari menikmati masa mudanya yang penuh dengan kesenangan.
Ketiganya akhirnya bertemu di suatu keadaan yang tidak tepat. Dimana mengharuskan Hardy untuk memilih. Kepada siapa hati ini harus berlabuh. Mencintai wanita yang selalu ada disampingnya atau menerima cinta dari seorang wanita yang menaruh harapan besar kepada dirinya.
Daftar Isi :
1. Bagian satu : Hari Pertama Kuliah
2.Bagian dua : Sebuah Penyesalan
3.Part 3 Wanita Dari Masa Lalu
4.Bagian Empat : Aku dan Dirinya
5.Bagian Lima : Cerewet Tapi Perhatian
6.Bagian Enam : Antara Ego Melawan Logika
7.Bagian Tujuh : Cinta Dari Masa Lampau
Side Story :
1.1. Pesan Singkat Untuk Dirimu Yang Disana
2. 2. Sebuah Jeritan Hati
3.3. Suatu Kisah Di Sudut Rumah Sakit
Quote:
Note penulis : Silahkan menikmati cerita ini, tidak disarankan untuk mencari tahu mengenai siapa saja orang yang berada di dalam isi cerita. Dikarenakan tidak semua orang dalam cerita ini sudah memberikan persetujuan agar cerita ini ditayangkan seperti ini. Penulis hanya ingin berbagi mengenai cerita tentang sebuah kehidupan. Semoga kisah dalam perjalanan ini dapat memberikan pengetahuan dan juga pemahaman yang lebih mengenai sisi lain dari sebuah cerita cinta.
Peringatan keras :
Cerita ini tidak menjual delusi mengenai keindahan cinta semata. Jadi bagi yang mengharapkan semuanya akan berakhir indah tampaknya tidak akan semulus itu. Dikarenakan semuanya butuh proses dan semuanya butuh perjalanan.
Selamat menikmati dan happy reading.
Peringatan keras :
Cerita ini tidak menjual delusi mengenai keindahan cinta semata. Jadi bagi yang mengharapkan semuanya akan berakhir indah tampaknya tidak akan semulus itu. Dikarenakan semuanya butuh proses dan semuanya butuh perjalanan.
Selamat menikmati dan happy reading.
Polling
0 suara
Siapa wanita yang pantas mendampingi sang tokoh utama?
Diubah oleh herdimeidianto 26-12-2017 23:25
LISIN45 dan anasabila memberi reputasi
2
37.2K
Kutip
124
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•55.1KAnggota
Tampilkan semua post
TS
herdimeidianto
#1

Bagian 1 Hari Pertama Kuliah :
Quote:
Sebelumnya perkenalkan namaku Hardy, hanya seorang pelajar bodoh yang baru saja menyelesaikan Sekolah Menengah Atasnya dari suatu sekolah swasta yang cukup terkenal di kota Palembang. Aku berniat untuk melanjutkan sekolahku di salah satu Universitas Negeri di kota Palembang. Namun sayang ... semuanya harus berakhir tragis, hal ini dikarenakan diriku yang harus menelan pil pahit setelah gagal di Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri, sebelumnya aku sudah mendapatkan PMDK dan Bidik misi yang mengharuskan agar kiranya aku dapat kuliah di salah satu Universitas Negeri namun di luar kota Palembang, dikarenakan mama adalah orang yang cemas terhadap tumbuh kembangku terutama karena aku adalah anak tunggal yang tentunya begitu disayangi oleh kedua orangtuaku. Niat baik berkuliah di luar pulau Sumatera terpaksa harus kukubur dalam-dalam, mengingat tidak diberikannya izin oleh kedua orangtuaku dan terpaksa aku harus kembali belajar untuk mengikuti seleksi SNMPTN tersebut.
Quote:
Pengalaman diterima dibeberapa Universitas lain tampaknya membuatku lupa diri. Aku menjadi anak yang malas-malasan dan menganggap remeh segala sesuatu mengenai SNMPTN. Alhasil ... pil pahit ketidak lulusanku itu terjadi, dikala pengumuman online mengenai SNMPTN diumumkan dan disana dinyatakan bahwa aku tidak lulus SNMPTN.
Tentunya ini membuat kedua orangtuaku kecewa, bahkan ayah memutuskan untuk tidak berbicara denganku selama beberapa bulan. Ayah sangat berharap agar aku dapat berkuliah di PTN tersebut dikarenakan menurutnya PTN tersebut adalah yang terbaik di kota Palembang. Berbeda dengan mama, ia selalu memberikanku support dan berharap agar aku tidak mudah menyerah. Aku masih ingat di kala sore hari sepulang mama dari pasar. Ia mengajakku berbicara serius mengenai masa depanku.
Tentunya ini membuat kedua orangtuaku kecewa, bahkan ayah memutuskan untuk tidak berbicara denganku selama beberapa bulan. Ayah sangat berharap agar aku dapat berkuliah di PTN tersebut dikarenakan menurutnya PTN tersebut adalah yang terbaik di kota Palembang. Berbeda dengan mama, ia selalu memberikanku support dan berharap agar aku tidak mudah menyerah. Aku masih ingat di kala sore hari sepulang mama dari pasar. Ia mengajakku berbicara serius mengenai masa depanku.
Quote:
“Kak!!!” panggil mama dari arah dapur.
Aku yang mendengarkan panggilan dari mama dengan serta merta meninggalkan ponselku dan mendekat menghampiri mama yang berada di meja makan.
“Ya ... ada apa, Ma?” tanyaku penasaran.
“Bagaimana? Apa keputusanmu sesudah ini?” ujar mama pelan.
Aku paham benar maksud dari arah omongan mama petang ini. Ia ingin bertanya mengenai kelanjutan apa yang harus aku lakukan setelah gagal di SNMPTN.
“Tekadku tetap sama, ma! Aku masih ingin berkuliah!” balasku mantap.
“Hmm ... ya sudah kalau begitu! Biar nanti mama yang bicara pada papa mengenai keputusanmu ini. Mama juga berharap agar kamu bisa kuliah, setidaknya mama harus memiliki seorang anak yang menyandang gelar Sarjana nantinya.”
“Terimakasih banyak, ma!”
Aku yang mendengarkan panggilan dari mama dengan serta merta meninggalkan ponselku dan mendekat menghampiri mama yang berada di meja makan.
“Ya ... ada apa, Ma?” tanyaku penasaran.
“Bagaimana? Apa keputusanmu sesudah ini?” ujar mama pelan.
Aku paham benar maksud dari arah omongan mama petang ini. Ia ingin bertanya mengenai kelanjutan apa yang harus aku lakukan setelah gagal di SNMPTN.
“Tekadku tetap sama, ma! Aku masih ingin berkuliah!” balasku mantap.
“Hmm ... ya sudah kalau begitu! Biar nanti mama yang bicara pada papa mengenai keputusanmu ini. Mama juga berharap agar kamu bisa kuliah, setidaknya mama harus memiliki seorang anak yang menyandang gelar Sarjana nantinya.”
“Terimakasih banyak, ma!”
Quote:
Mama hanya tersenyum dan perlahan berjalan ke arah dalam rumah. Ia berhenti di depan sebuah pintu yang merupakan kamar tidur mereka berdua. Mama memutuskan kiranya untuk berbicara mengenai kehidupanku di masa depan.
Sekitar 30 menit kemudian, aku melihat papa keluar dari dalam kamar. Ia berjalan ke arahku dan duduk di ruang tamu. Ia kemudian membuka omongan dan bertanya kepadaku sekali lagi, “Aku sudah mendengar keputusanmu lewat mama! Jadi ... apa kamu yakin untuk berkuliah lagi? Jujur saja, aku benar-benar kecewa dengan kebodohanmu yang bahkan tidak bisa masuk ke Universitas itu!” ujar papa dengan suaranya yang berat.
Aku terdiam beberapa saat sembari memikirkan apa yang harus aku bicarakan kepada papa, “Aku harap papa mengizinkan aku kuliah!” balasku cepat.
Sekitar 30 menit kemudian, aku melihat papa keluar dari dalam kamar. Ia berjalan ke arahku dan duduk di ruang tamu. Ia kemudian membuka omongan dan bertanya kepadaku sekali lagi, “Aku sudah mendengar keputusanmu lewat mama! Jadi ... apa kamu yakin untuk berkuliah lagi? Jujur saja, aku benar-benar kecewa dengan kebodohanmu yang bahkan tidak bisa masuk ke Universitas itu!” ujar papa dengan suaranya yang berat.
Aku terdiam beberapa saat sembari memikirkan apa yang harus aku bicarakan kepada papa, “Aku harap papa mengizinkan aku kuliah!” balasku cepat.
Quote:
“Kalau begitu Universitas mana yang kamu pilih?” tanya papa sekali lagi.
“Bagaimana kalau Universitas swasta yang berada di daerah Plasa?”
“Kamu yakin?”
“Iya aku sangat yakin, Pa!”
“Ya sudah kalau seperti itu! Lagipula aku sudah malas berdebat dengan mama! Aku harap kamu belajar lebih giat lagi! Aku malas memiliki seorang anak yang gagal di bidang akademis. Jujur saja, aku benci anak yang bodoh!” umpat papa sekali lagi.
“Aku berjanji akan memperbaiki ini semua, Pa!”
“Iya ... karena setelah kamu masuk ke Universitas ini dan nilaimu dibawah 3,5. Mohon maaf! Silahkan cari biaya kuliah sendiri! Aku tidak akan membayar uang kuliahmu!”
Mama yang mendengarkan hal tersebut segera menyela perkataan papa barusan, “Kamu ini gimana sih, Pa? Memangnya anak kita ini mau jadi Einstein? Kamu sendiri saja tidak kuliah kok memaksa anakmu seperti ini!” bela mama kepadaku.
“Justru karena hal itu! Aku menginginkan anak yang lebih pandai demi masa depan keluarga ini!” balas papa.
Hingga akhirnya mereka berdua terlibat perdebatan yang cukup alot. Aku yang mulai pusing dengan hal itu semua akhirnya angkat bicara, “Baiklah kalau memang mau papa seperti itu! Aku berjanji nilai IPK-ku akan diatas 3,5 jika sampai aku mendapatkan nilai dibawah tersebut aku siap menerima konsekuensinya!” ujarku lantang.
Papa yang mendengarkan hal tersebut kemudian tersenyum, “Baiklah ... mari kita lihat apa yang akan terjadi nantinya!’’
Papa memang adalah orang yang seperti itu. Ia gemar mengintimidasi anaknya sendiri demi tujuan yang ia anggap penting di masa depan. Ketika berada di usia tersebut aku tentu merasa tertekan dengan semua keinginan papa sampai dengan sekarang. Namun jika menelisik lebih dalam, mungkin maksud dari papa adalah membuatku menjadi pribadi yang kuat menghadapi segala rintangan terutama menghadapi dunia yang terlihat indah padahal sebenarnya tidak benar-benar seindah itu.
Lewat papa juga aku belajar mengenai tanggung jawab dan juga beban moral. Semua yang dilimpahkan kepadaku haruslah dipenuhi dengan hasil yang terbaik. Setidaknya kedua hal ini yang aku tangkap pertama kali sejak hari itu.
***
Quote:
Masa kuliah
Dua bulan kemudian akhirnya aku dinyatakan diterima disebuah kampus Swasta dibilangan daerah Plasa. Aku mendaftar ke kampus ini berbarengan dengan beberapa teman sedaerahku. Mereka tidak lain adalah temanku dari sekolah yang sebelumnya dan mereka juga bernasib sama seperti diriku ini yaitu gagal di ujian masuk SMNPTN, di tengah keputus asaan tersebut kami berempat memutuskan untuk berkuliah di kampus ini.
Temanku yang pertama bernama Anwar Harahap. Ia adalah seorang pemuda keturunan medan yang begitu gemar dengan game online, bisa dibilang sudah addict alias kecanduan dengan yang namanya game online seingatku dulu kami gemar bermain game Defense Of The Ancients atau biasa disebut Dota. Namun dibalik kesan gamer dan cuek dari yang ia perlihatkan sebenarnya ia adalah pria yang baik. Hanya saja ia terkesan tidak perduli dengan penampilan dirinya, hal ini terbukti dengan rambutnya yang gondrong acak-acakan dan juga jeans robek yang selalu menemani kemana dirinya pergi. Intinya Anwar begitu jauh dari kesan rapi sebagai seorang Mahasiswa.
Temanku yang kedua adalah Sunny. Nama aslinya sudah pasti bukan Sunny, tapi karena kebanyakan menonton Film dengan judul serupa yang dimainkan oleh Bunga Citra Lestari tampaknya membuat pria asli keturunan Minangkabau ini merasa bahwa dirinya cocok dengan nama tersebut. Mulai dari sosial media semacam fb, panggilan di pergaulan sehari-hari sampai nickname twitter ia ubah dengan nama Sunny. Padahal sepengetahuanku nama ini begitu tidak cocok dengan kulitnya yang memang hitam khas orang minang pada umumnya.
Temanku yang terakhir bernama Wenny. Ia satu-satunya perempuan manis yang menemani perjalanan kami mendaftar di kampus swasta ini. Wenny adalah temanku di SD bahkan sampai dengan sekarang kami harus bertemu kembali. Mungkin ini yang dinamakan takdir, aku tidak mau menyebutnya jodoh dikarenakan memang tidak memiliki perasaan apapun terhadap dirinya. Wenny bisa dibilang sebagai seorang wanita minang yang cukup cantik, rambutnya panjang yang selalu di kepang ala-ala pony tail, senyumnya yang indah, lesung pipi di kedua pipinya serta kulitnya yang hitam manis begitu kontras dengan bola matanya yang bulat kecoklatan. Sunny tampaknya menyukai Wenny, namun dikarenakan hubungan keluarga mereka yang tidak terlalu cocok. Sunny dengan terpaksa memendam rasa sukanya kepada Wenny.
Dua bulan kemudian akhirnya aku dinyatakan diterima disebuah kampus Swasta dibilangan daerah Plasa. Aku mendaftar ke kampus ini berbarengan dengan beberapa teman sedaerahku. Mereka tidak lain adalah temanku dari sekolah yang sebelumnya dan mereka juga bernasib sama seperti diriku ini yaitu gagal di ujian masuk SMNPTN, di tengah keputus asaan tersebut kami berempat memutuskan untuk berkuliah di kampus ini.
Temanku yang pertama bernama Anwar Harahap. Ia adalah seorang pemuda keturunan medan yang begitu gemar dengan game online, bisa dibilang sudah addict alias kecanduan dengan yang namanya game online seingatku dulu kami gemar bermain game Defense Of The Ancients atau biasa disebut Dota. Namun dibalik kesan gamer dan cuek dari yang ia perlihatkan sebenarnya ia adalah pria yang baik. Hanya saja ia terkesan tidak perduli dengan penampilan dirinya, hal ini terbukti dengan rambutnya yang gondrong acak-acakan dan juga jeans robek yang selalu menemani kemana dirinya pergi. Intinya Anwar begitu jauh dari kesan rapi sebagai seorang Mahasiswa.
Temanku yang kedua adalah Sunny. Nama aslinya sudah pasti bukan Sunny, tapi karena kebanyakan menonton Film dengan judul serupa yang dimainkan oleh Bunga Citra Lestari tampaknya membuat pria asli keturunan Minangkabau ini merasa bahwa dirinya cocok dengan nama tersebut. Mulai dari sosial media semacam fb, panggilan di pergaulan sehari-hari sampai nickname twitter ia ubah dengan nama Sunny. Padahal sepengetahuanku nama ini begitu tidak cocok dengan kulitnya yang memang hitam khas orang minang pada umumnya.
Temanku yang terakhir bernama Wenny. Ia satu-satunya perempuan manis yang menemani perjalanan kami mendaftar di kampus swasta ini. Wenny adalah temanku di SD bahkan sampai dengan sekarang kami harus bertemu kembali. Mungkin ini yang dinamakan takdir, aku tidak mau menyebutnya jodoh dikarenakan memang tidak memiliki perasaan apapun terhadap dirinya. Wenny bisa dibilang sebagai seorang wanita minang yang cukup cantik, rambutnya panjang yang selalu di kepang ala-ala pony tail, senyumnya yang indah, lesung pipi di kedua pipinya serta kulitnya yang hitam manis begitu kontras dengan bola matanya yang bulat kecoklatan. Sunny tampaknya menyukai Wenny, namun dikarenakan hubungan keluarga mereka yang tidak terlalu cocok. Sunny dengan terpaksa memendam rasa sukanya kepada Wenny.
***
Quote:
Kami berempat berpisah di depan gerbang kampus. Sunny dan Anwar berada di Fakultas Ekonomi, sedangkan Wenny mengambil Fakultas Pendidikan Biologi. Hanya tersisa aku sendiri yang mengambil Fakultas Hukum dan harus segera memasuki pelataran parkiran yang sudah mulai ramai.
Mataku nanar memperhatikan sekitar, dimana terdapat banyak mahasiswa baru yang datang dengan pakaian hitam putih sepertiku saat ini. Hari pertama masuk kuliah ini merupakan hari dimana para Mahasiswa baru akan mendapatkan Ospek singkat mengenai kampus.
Aku segera berjalan dengan agak cepat kearah kerumnan, hal ini dikarenakan seorang kakak tingkat dengan almamaternya yang berwarna merah meneriaki kami dari arah depan dengan memegang sebuah TOA pengeras suara.
“Hey!! Cepat!! Acara Ospeknya akan dimulai sebentar lagi! Atau mau aku berikan hukuman kepada kalian!” teriak pemuda tersebut sembari berteriak lantang ke arah kami yang berada di belakang kerumunan.
Kami mulai berdesak-desakan, memasuki koridor kampus dan berkumpul di tengah lapangan bulu tangkis yang berada tepat di tengah gedung Fakultas. Terlihat beberapa kakak tingkat dengan almamater berwarna merah tengah berada di depan barisan mengatur kami agar kiranya dapat berbaris dengan rapi.
“Semuanya lancang depang gerak!! Tegap gerak!!” perintah itu terdengan membahana keluar dari moncong sebuah TOA yang begitu kerasnya, rasanya kupingku hampir copot dari tempatnya ketika suara itu terdengar nyaring.
“Gila ... bisa hancur kupingku!” celetuk salah seorang pemuda kurus dengan rambutnya yang keriting. Ia menutup kupingnya yang sebelah kanan menghindari suara keras yang muncul dari TOA.
Seorang kakak tingkat yang melihat hal tersebut segera mendekat kearah pemuda ini dan memberikannya peringatan, “Kamu mau dihukum, ya? Cepat berbaris yang rapi! Sudah besar tapi baris saja tidak becus! Sudah seperti anak TK saja, Cih!!” umpat kakak tingkat dengan wajahnya yang penuh jerawat sembari memegangi TOA di tangan kanannya.
“Eh ... maaf-maaf, kak!” balas pemuda ini seadanya. Ia tampaknya cukup takut dengan ancaman dari sang kakak tingkat.
Seorang wanita yang berada di depan pemuda ini kemudian berkata, “Kamu sih, Gus! Jangan berbuat macam-macam untuk sekarang ini!” terdengar suaranya begitu lembut terdengar pada saat itu.
“Eh iya ... maaf-maaf! Aku keceplosan tadi, Vio!” balas pemuda yang dipanggil Gus barusan.
"Wanita yang menarik!" ujarku pelan.
Mataku nanar memperhatikan sekitar, dimana terdapat banyak mahasiswa baru yang datang dengan pakaian hitam putih sepertiku saat ini. Hari pertama masuk kuliah ini merupakan hari dimana para Mahasiswa baru akan mendapatkan Ospek singkat mengenai kampus.
Aku segera berjalan dengan agak cepat kearah kerumnan, hal ini dikarenakan seorang kakak tingkat dengan almamaternya yang berwarna merah meneriaki kami dari arah depan dengan memegang sebuah TOA pengeras suara.
“Hey!! Cepat!! Acara Ospeknya akan dimulai sebentar lagi! Atau mau aku berikan hukuman kepada kalian!” teriak pemuda tersebut sembari berteriak lantang ke arah kami yang berada di belakang kerumunan.
Kami mulai berdesak-desakan, memasuki koridor kampus dan berkumpul di tengah lapangan bulu tangkis yang berada tepat di tengah gedung Fakultas. Terlihat beberapa kakak tingkat dengan almamater berwarna merah tengah berada di depan barisan mengatur kami agar kiranya dapat berbaris dengan rapi.
“Semuanya lancang depang gerak!! Tegap gerak!!” perintah itu terdengan membahana keluar dari moncong sebuah TOA yang begitu kerasnya, rasanya kupingku hampir copot dari tempatnya ketika suara itu terdengar nyaring.
“Gila ... bisa hancur kupingku!” celetuk salah seorang pemuda kurus dengan rambutnya yang keriting. Ia menutup kupingnya yang sebelah kanan menghindari suara keras yang muncul dari TOA.
Seorang kakak tingkat yang melihat hal tersebut segera mendekat kearah pemuda ini dan memberikannya peringatan, “Kamu mau dihukum, ya? Cepat berbaris yang rapi! Sudah besar tapi baris saja tidak becus! Sudah seperti anak TK saja, Cih!!” umpat kakak tingkat dengan wajahnya yang penuh jerawat sembari memegangi TOA di tangan kanannya.
“Eh ... maaf-maaf, kak!” balas pemuda ini seadanya. Ia tampaknya cukup takut dengan ancaman dari sang kakak tingkat.
Seorang wanita yang berada di depan pemuda ini kemudian berkata, “Kamu sih, Gus! Jangan berbuat macam-macam untuk sekarang ini!” terdengar suaranya begitu lembut terdengar pada saat itu.
“Eh iya ... maaf-maaf! Aku keceplosan tadi, Vio!” balas pemuda yang dipanggil Gus barusan.
"Wanita yang menarik!" ujarku pelan.
Quote:
Aku hanya tersenyum melihat kebodohan yang terjadi di pagi hari seperti ini, rasanya OSPEK-OSPEK macam ini hanya terjadi di zaman SMP-SMA. Aku sendiri tidak menyangka kampus sebesar ini masih saja menerapkan warisan zaman penjajahan seperti ini untuk skala Universitas. Bukan maksud untuk merendahkan OSPEK, hanya saja OSPEK gaya-gaya militer seperti ini sudah banyak ditinggalkan oleh beberapa negara maju. Bahkan sekelas Malaysia dan Singapura saja sudah tidak menganut sistem pendidikan yang seperti ini.
Entah siapa yang harus disalahkan dalam kasus ini. Apakah pihak Universitas, Rektorat ataupun sistem pendidikan? Rasanya hal-hal yang tidak terlalu mendidik dan tidak lain adalah cara agar para senior unjuk gigi di depan para junior tampaknya sudah membuatku cukup muak dengan OSPEK seperti ini. Aku sungguh berharap agar nantinya adik-adik tingkatku nanti tidak seharusnya menjalani OSPEK macam ini.
Kami dibariskan dengan rapi di tengah lapangan sembari mendengarkan sepatah dua patah kata dari Ketua Pelaksana Ospek. Lebih dan kurang ia menjelaskan mengenai OSPEK selama 3 hari ke depan yang dibagi-bagi menjadi Pengenalan Universitas, Pengenalan Fakultas dan terakhir adalah Pengenalan Organisasi. Tampaknya mulai 3 hari ke depan akan banyak hal-hal yang terjadi di antara kami semua.
Entah siapa yang harus disalahkan dalam kasus ini. Apakah pihak Universitas, Rektorat ataupun sistem pendidikan? Rasanya hal-hal yang tidak terlalu mendidik dan tidak lain adalah cara agar para senior unjuk gigi di depan para junior tampaknya sudah membuatku cukup muak dengan OSPEK seperti ini. Aku sungguh berharap agar nantinya adik-adik tingkatku nanti tidak seharusnya menjalani OSPEK macam ini.
Kami dibariskan dengan rapi di tengah lapangan sembari mendengarkan sepatah dua patah kata dari Ketua Pelaksana Ospek. Lebih dan kurang ia menjelaskan mengenai OSPEK selama 3 hari ke depan yang dibagi-bagi menjadi Pengenalan Universitas, Pengenalan Fakultas dan terakhir adalah Pengenalan Organisasi. Tampaknya mulai 3 hari ke depan akan banyak hal-hal yang terjadi di antara kami semua.
#Bersambung
Note :
Silahkan share, koment, rate dan vote untuk cerita ini. Semoga kalian suka dan menikmati kisah ini.
Terimakasih.
Silahkan share, koment, rate dan vote untuk cerita ini. Semoga kalian suka dan menikmati kisah ini.
Terimakasih.
Diubah oleh herdimeidianto 15-11-2017 21:53
0
Kutip
Balas