- Beranda
- Stories from the Heart
Gw berteman dengan Kolong Wewe (Chapter 2)
...
TS
juraganpengki
Gw berteman dengan Kolong Wewe (Chapter 2)
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE(CHAPTER 2)

Covered By Agan Awayaye nyang ntop punya..
Prolog
Selepas pertempuran melawan Raja Siluman dengan di bantu banyak sahabat gaib dan berhasil melenyapkan satu Angkara Murka, Gw, Ridho, Bimo dan Suluh kembali ke dunia kami, dunia manusia.. Tanpa kekuatan, tanpa saling kenal.. Kami mulai hidup normal, meski dejavu dari kisah lampau kerap berbayang.. Hingga ‘mereka ’kembali...
Mereka Bilang Gw Hilang...
Mereka Bilang Gw Hilang (2)...[/URL
[URL="https://www.kaskus.co.id/show_post/59ea15432e04c8840e8b4567/5/-"]Dejavu...
Ribut...
Ketahuan Anggie...
One of My Biggest Lost...
One of My Biggest Lost (2)...
Selepas Kepergian Ayah...
Kelakuan Teh Yuyun Bikin Pusing Kepala Atas Bawah...
Kisah Kita Berdua Usai, Gie...
Liburan...
Pak Jaka dan Adik nya, Arum Kesuma...
Gangguan dan Insiden Takkan Pernah Terlupakan...
Ngobrol Santai Bareng Kak Silvi...
Sahabat...
Munculnya Sekar dan Kembalinya Semua Ingatan...
Sweater Hitam Kumal...
Kembalinya Ingatan Ridho...
Kembalinya Ingatan Ridho (2),,,
Masa Orientasi Mahasiswa Baru...
Bizzare Love Triangle Covered By Carla...
Empat Monyet Bertopeng...
Berkumpulnya Keempat Saudara...
Pengakuan Ridho...
Carla Carmelita dan Reinata Maulida...
Carla Carmelita dan Reinata Maulida (2)...
Cemburu Buta...
Kita Bersaudara, Dho...
Pembalasan Dendam...
Pembalasan Dendam (2)...
Dendam Yang Terbalas...
Ikhlas...
Tamparan Keras Carla...
Gugup Bikin Bego...
What's Wrong With You, Yank...
Selamat Datang Kembali, Anggie Ku..
Restu Ibu dan Bingkisan Aneh Viny...
Gw Kenapa ???...
Lu Bukan Imam Yang Gw Kenal...
Mata Hati Yang Tertutup...
Perkelahian Empat Saudara dan Munculnya Raja Tungga...
Perkelahian Empat Saudara dan Munculnya Raja Tungga (2)...
Pemulihan Dari Ajian Raja Pengasih...
Permohonan Maaf Dari Hati Terdalam...
Permohonan Maaf Dari Hati Terdalam (2)...
Maafin Gw Yaa, Guys...
Motor Gw...
Stay Away From My Daughter (Jauhi Putriku)...
Membayar Hutang Janji ke Tyo dan Tanggapan Ibu...
Perubahan Sikap Anggie...
Sebuah Tantangan...
Pengakuan Arya Yang Mengejutkan...
Taubatnya Dukun Sesat...
Taubatnya Dukun Sesat (2)...
Hancur nya Hati Seorang Papah dan Anak Perempuannya...
Liburan Lagi Bareng Anggie...
Sebuah Dosa Besar...
Sebuah Peringatan...
Sebuah Peringatan (2)...
Hadiah Raden Dwipa...
Restu Seorang Ayah...
Terganjal nya Hati...
Terluka nya Ridho...
Tantangan Baru...
Salon, Salah Satu Tempat Terhorror Buat Gw...
Ungkapan Hati...
Hari Pertunangan...
Kitab Langit dan Sebuah Wejangan..
My WonderWoman and The Second Lost of Love...
Reunian Bareng Empat Sahabat Baik...
Permintaan Maaf dan Sebuah Kabar yang Mengejutkan...
Giok Mustika Laut Utara...
Kekuatan Giok Mustika Laut Utara...
Sang Penolong Yang Tak Terduga...
Hukum Kerajaan Laut Utara...
Cinta Yang Aneh...
Reinata...
Susahnya Kuasain Emosi...
Pembunuh...
Ilmu Terlarang Yang Terakhir...
Tuh Kan Reinata Baper...
Alas Roban Bikin Kapok...
Jebakan...
I Love You So Much, Anggie...
Penjelasan Ke Reinata dan Sebuah Ancaman...
Serangan Jin Penjaga nya Reinata...
Dendam Kesumat...
Bayu Ambar dan Sebuah Pengorbanan Cinta...
Ungkapan Hati seorang Ayahanda..
Permintaan Yang Cukup Sulit...
Ayu Hilang...
Gw / Bayu Ambar Versus Nyi Kembang Wengi...
Permintaan Maaf Ayahanda...
Bertemunya Kedua Saudara Kembar...
Kilasan Masa Depan Mengejutkan Raden Dwipa...
Permintaan Maaf Terakhir Ke Ibu dan Ayu...
The Last Day With My Anggie..
Carla, Rei, Semuanya, Maafin Gw Yak...
Be Ready, Guys...
Empat Bagian Kitab Langit...
Kuasai Ragaku, Bayu Ambar...
Tipu Muslihat...
Tipu Muslihat (2)...
Datangnya Bantuan Tak Terduga...
Ajian Ambar Getih ( Ajian LAngit Darah)...
Mati kah, Aku???
Mati Suri...
I'm Back!!!
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3/FINAL CHAPTER)

Covered By Agan Awayaye nyang ntop punya..
Prolog
Selepas pertempuran melawan Raja Siluman dengan di bantu banyak sahabat gaib dan berhasil melenyapkan satu Angkara Murka, Gw, Ridho, Bimo dan Suluh kembali ke dunia kami, dunia manusia.. Tanpa kekuatan, tanpa saling kenal.. Kami mulai hidup normal, meski dejavu dari kisah lampau kerap berbayang.. Hingga ‘mereka ’kembali...
Mereka Bilang Gw Hilang...
Mereka Bilang Gw Hilang (2)...[/URL
[URL="https://www.kaskus.co.id/show_post/59ea15432e04c8840e8b4567/5/-"]Dejavu...
Ribut...
Ketahuan Anggie...
One of My Biggest Lost...
One of My Biggest Lost (2)...
Selepas Kepergian Ayah...
Kelakuan Teh Yuyun Bikin Pusing Kepala Atas Bawah...
Kisah Kita Berdua Usai, Gie...
Liburan...
Pak Jaka dan Adik nya, Arum Kesuma...
Gangguan dan Insiden Takkan Pernah Terlupakan...
Ngobrol Santai Bareng Kak Silvi...
Sahabat...
Munculnya Sekar dan Kembalinya Semua Ingatan...
Sweater Hitam Kumal...
Kembalinya Ingatan Ridho...
Kembalinya Ingatan Ridho (2),,,
Masa Orientasi Mahasiswa Baru...
Bizzare Love Triangle Covered By Carla...
Empat Monyet Bertopeng...
Berkumpulnya Keempat Saudara...
Pengakuan Ridho...
Carla Carmelita dan Reinata Maulida...
Carla Carmelita dan Reinata Maulida (2)...
Cemburu Buta...
Kita Bersaudara, Dho...
Pembalasan Dendam...
Pembalasan Dendam (2)...
Dendam Yang Terbalas...
Ikhlas...
Tamparan Keras Carla...
Gugup Bikin Bego...
What's Wrong With You, Yank...
Selamat Datang Kembali, Anggie Ku..
Restu Ibu dan Bingkisan Aneh Viny...
Gw Kenapa ???...
Lu Bukan Imam Yang Gw Kenal...
Mata Hati Yang Tertutup...
Perkelahian Empat Saudara dan Munculnya Raja Tungga...
Perkelahian Empat Saudara dan Munculnya Raja Tungga (2)...
Pemulihan Dari Ajian Raja Pengasih...
Permohonan Maaf Dari Hati Terdalam...
Permohonan Maaf Dari Hati Terdalam (2)...
Maafin Gw Yaa, Guys...
Motor Gw...
Stay Away From My Daughter (Jauhi Putriku)...
Membayar Hutang Janji ke Tyo dan Tanggapan Ibu...
Perubahan Sikap Anggie...
Sebuah Tantangan...
Pengakuan Arya Yang Mengejutkan...
Taubatnya Dukun Sesat...
Taubatnya Dukun Sesat (2)...
Hancur nya Hati Seorang Papah dan Anak Perempuannya...
Liburan Lagi Bareng Anggie...
Sebuah Dosa Besar...
Sebuah Peringatan...
Sebuah Peringatan (2)...
Hadiah Raden Dwipa...
Restu Seorang Ayah...
Terganjal nya Hati...
Terluka nya Ridho...
Tantangan Baru...
Salon, Salah Satu Tempat Terhorror Buat Gw...
Ungkapan Hati...
Hari Pertunangan...
Kitab Langit dan Sebuah Wejangan..
My WonderWoman and The Second Lost of Love...
Reunian Bareng Empat Sahabat Baik...
Permintaan Maaf dan Sebuah Kabar yang Mengejutkan...
Giok Mustika Laut Utara...
Kekuatan Giok Mustika Laut Utara...
Sang Penolong Yang Tak Terduga...
Hukum Kerajaan Laut Utara...
Cinta Yang Aneh...
Reinata...
Susahnya Kuasain Emosi...
Pembunuh...
Ilmu Terlarang Yang Terakhir...
Tuh Kan Reinata Baper...
Alas Roban Bikin Kapok...
Jebakan...
I Love You So Much, Anggie...
Penjelasan Ke Reinata dan Sebuah Ancaman...
Serangan Jin Penjaga nya Reinata...
Dendam Kesumat...
Bayu Ambar dan Sebuah Pengorbanan Cinta...
Ungkapan Hati seorang Ayahanda..
Permintaan Yang Cukup Sulit...
Ayu Hilang...
Gw / Bayu Ambar Versus Nyi Kembang Wengi...
Permintaan Maaf Ayahanda...
Bertemunya Kedua Saudara Kembar...
Kilasan Masa Depan Mengejutkan Raden Dwipa...
Permintaan Maaf Terakhir Ke Ibu dan Ayu...
The Last Day With My Anggie..
Carla, Rei, Semuanya, Maafin Gw Yak...
Be Ready, Guys...
Empat Bagian Kitab Langit...
Kuasai Ragaku, Bayu Ambar...
Tipu Muslihat...
Tipu Muslihat (2)...
Datangnya Bantuan Tak Terduga...
Ajian Ambar Getih ( Ajian LAngit Darah)...
Mati kah, Aku???
Mati Suri...
I'm Back!!!
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3/FINAL CHAPTER)
Diubah oleh juraganpengki 27-12-2017 11:17
regmekujo dan 47 lainnya memberi reputasi
48
1.1M
4K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
juraganpengki
#1246
Pengakuan Arya Yang Mengejutkan...
Gw menarik tubuh ke belakang guna menghindari tendangan Arya yang mengenai udara kosong.. Lalu membalas dengan sebuah pukulan ke arah dada kanannya.. Arya nampak terkejut, lalu bersalto kebelakang untuk menghindar..
Gw terus maju dan menyerang nya dari arah depan, sementara pemuda itu terus bersalto ke belakang, hingga akhirnya ia menghentakkan kaki melompat ke atas, dan meluncur turun, sambil mengarahkan kedua telapak tangannya ke bawah, ke arah kepala gw..
Dengan cepat, gw berputar satu kali seraya memutar kedua telapak tangan di depan dada, dan menghadang Tapak Wesi milik Arya dengan Tapak Jagat di atas kepala gw..
DRRDRRR!!!
Suara bergetar terdengar cukup keras, dari kedua telapak tangan kami yang saling menempel, dengan posisi Arya tegak lurus di atas gw, sementara gw menahan tubuhnya dengan dua lutut tertekuk.. Wajah Arya nampak pucat, karena sudah mengeluarkan hampir seluruh tenaga dalamnya.. Melihat hal itu, gw sengaja mengurangi tenaga dalam agar pemuda itu mau berhenti dan mengaku kalah..
Merasakan tenaga dalam gw di kedua tangan menurun, Arya malah terus menekan Tapak Jagat milik gw dengan seluruh tenaga dalamnya ke Tapak Wisa..
TES!!
Setetes darah jatuh dari hidung Arya yang masih tegak lurus berada di atas gw, mengenai kemeja yang gw pakai.. Sementara kedua telapak tangan kami masih terus menempel di atas.. Menyadari pemuda itu sedang memaksakan diri untuk terus mengeluarkan tenaga dalamnya, gw langsung menjatuhkan diri ke tanah, dengan posisi terlentang, lalu menendang tulang pinggulnya..
BUGG!!
Tendangan gw berhasil mengenai tulang pinggul Arya, dan membuatnya terpental dua tombak kebelakang.. Gw sendiri harus mengorbankan diri, jatuh menghantam tanah keras perkebunan singkong..
“HOEEKK”
Dari belakang, Arya terlihat memuntahkan darah segar dengan wajah sudah sangat pucat.. Dengan cepat gw bangkit dan berlari menuju Arya.. Lembu Rukmo langsung menghadang sambil menundukkan tanduk di kepala nya, yang sudah siap mengeluarkan sinar merah dan hitam..
“Gw mo nolongin Arya” Ucap gw yang langsung melewati Jin Penjaga Arya, dan segera menarik tubuh pemuda itu yang sudah meringkuk menggigil dan mendudukannya..
Dengan cepat gw mengatur nafas dan mulai menempelkan kedua telapak tangan ke punggung Arya.. Tenaga dalam gw sedikit demi sedikit tersalurkan ke tubuh pemuda itu.. Perlahan, Arya mulai menegakkan posisi duduknya, sambil menyilangkan kedua telapak tangan di dada nya..
Hawa tubuh Arya pun berangsur-angsur kembali menghangat.. Setelah dirasa cukup, gw mengontrol tenaga dalam dan menghentikan penyaluran ke tubuh pemuda tersebut..
“Makasih, Mam.. Lu udah mau nolongin gw” Ucap Arya sambil mencoba berdiri..
Gw mengangguk dan mengulurkan tangan untuk membantunya agar lebih mudah berdiri.. Meski pun luka dalam di tubuh Arya sudah cukup terobati, namun kondisi nya masih lemah..
“Gw tagih janji lu” Kata gw menunggu Arya menceritakan siapa otak dibalik Ilmu pelet yang menjerat Anggie..
Arya tersenyum dengan wajah sedikit pucat, lalu mengajak gw untuk duduk di sebuah bangku dari bilah-bilah bambu kering, yang ada di depan rumah berdinding bilik..
“Yang mengirimkan pelet ke Anggie itu, Papahnya sendiri, Mam..”Ucap Arya membuat kedua mata gw terbelalak tak percaya..
“Lu serius?” Tanya gw mencoba memastikan..
Arya menganggukkan kepala sebagai jawaban iya.. Gw menarik nafas dalam-dalam, menyadari betapa tega nya seorang ayah berbuat itu terhadap puterinya sendiri
“Beberapa hari yang lalu, gw bertemu dengan Papahnya Anggie.. Kedua orang tua gw mengenal beliau cukup baik.. Bahkan mereka sempat berniat menjodohkan gw sama Anggie.. Nah, dipertemuan itu Papahnya Anggie mengatakan niatnya untuk memelet Anggie, agar berpaling dari lu dan jatuh cinta ke gw.. Awalnya gw ga setuju, karena membuat orang lain jatuh cinta ke kita dengan bantuan Jin, bukan cara ksatria menurut gw.. Tapi karena Papahnya Anggie mengancam, akan menagih hutang kedua orang tua gw, akhirnya gw terpaksa menuruti nya” Jelas Arya yang terhenti karena melihat kedua tangan gw mulai terkepal..
“Lanjutin lagi, Ar” Pinta gw dengan wajah mulai memerah..
“Dia minta sehelai rambut gw buat di kasih ke dukun, yang sudah di perintahkan Papahnya buat mengirimkan pelet ke Anggie” Kata Arya dengan wajah sedikit menyiratkan penyesalan..
“Kenapa lu mau ikut campur dengan masalah gw sama Anggie dan Papahnya, Ar?” Tanya gw dengan pandangan menyelidiki..
“Jujur, Mam.. Gw dulu sempat deket ke Anggie, jauh sebelum lu kenal dia.. Semua karena hubungan baik kedua orang tua kami.. Karena kedekatan itu, lama-lama muncul rasa sayang buat Anggie.. Tapi dia nolak begitu gw nembak, dengan alasan sudah menganggap gw seperti kakak sendiri.. Dari situ gw mulai menjauh, dan kabar terakhir gw denger Anggie sudah punya pacar, yang ternyata lu..”Jawab Arya lagi..
“Lu tahu nama dan dimana rumah dukun yang menjerat cewe gw, Ar?” Tanya gw yang sudah geram dan akan memberi pelajaran ke dukun tersebut..
“Ki An*****i (sorry, namanya gw sensor karena selepas kejadian ini, beliau bertaubat), rumahnya ada di dalam hutan di daerah Gunung Bunder, Pamijahan Bogor.. Untuk kerumahnya harus berjalan kaki, Mam.. Hati-hati juga, banyak Jin yang menjaga dukun itu” Jawab Arya disusul sarannya..
Gw terdiam sambil menganggukkan kepala.. Dalam hati, gw mulai memanggil Sekar agar datang ke tempat kami berada.. Bau harum bunga kenanga mulai tercium, di susul oleh kemunculan Sekar Kencana di sebelah gw..
Sesaat, Arya nampak membesarkan kedua matanya dan tertegun melihat kehadiran Sekar.. Sementara Lembu Rukmo, Jin Penjaga nya Arya terdengar melenguh sejenak..
“Jin Penjaga lu cantik banget, Mam.. Tukar aja sama Jin Penjaga gw, mau ga?” Bisik Arya di dalam batin gw..
“Jaga mulut mu, anak muda!!!” Bentak Sekar Kencana sambil melotot ke arah Arya..
“Lu mamam tuh, emang enak dibentak Jin” Ucap gw dalam hati seraya mentertawakan Arya..
“Maaf, Nyai” Jawab Arya dengan kepala tertunduk..
“Kita pergi sekarang, Kang Mas.. Aku juga penasaran seperti apa rupa dukun sesat itu” Ucap Sekar yang mengacuhkan permintaan maaf Arya..
Gw mengerutkan dahi mendengar ucapan Sekar barusan, tanpa gw menjelaskan, Jin Wanita itu selalu tahu apa yang ada di dalam benak gw..
“Gw titip motor disini, Ar.. Selepas ngasih pelajaran ke tuh dukun, gw balik lagi buat ambil motor” Kata gw yang langsung di balas dengan acungan jempol Arya..
Kepala gw mengangguk ke arah Sekar, lalu Jin Penjaga gw itu mulai menempelkan tangannya ke bahu gw.. Seperti biasa, gw selalu memejamkan kedua mata saat akan berpindah tempat.. Karena kalau tidak, maka akibatnya kepala kita terasa akan seperti berada di atas sebuah perahu yang sedang diamuk badai..
“Buka mata mu, Kang Mas.. Kita sudah tiba” Perintah Sekar..
Gw membuka mata dan melihat tempat kami berada sekarang adalah di tengah-tengah hutan.. Pohon-pohon tinggi menjulang, dan suara suara hewan khas penghuni hutan terdengar bersahutan berkali-kali.. Beberapa ekor monyet sedang asyik melompat dan bergelayutan di dahan-dahan pohon.. Ada juga yang sedang menikmati buah-buahan yang tumbuh liar di sini..
“Lihat 20 tombak di hadapan mu, Kang Mas” Ucap Sekar sambil melemparkan pandangan ke depan..
Gw terperanjat, begitu melihat dua sosok mahluk setinggi kira-kita 30 meter sedang menatap kami dengan dua pasang mata besar berwarna merah menyala.. Ente tahu Sun Go Kong yang ngamuk pas jadi kera raksasa, nah bentuk dua mahluk yang ada di depan gw dan Sekar hampir sama.. Bedanya cuma di warna bulu mereka saja.. Yang satu hitam legam dan yang satu putih bersih..
“Apa kedatangan kalian untuk melakukan pesugihan?” Tanya kera raksasa yang berbulu hitam legam..
“Ciih!! Aku datang kesini untuk melenyapkan tuan mu” Jawab Sekar setelah meludah ke samping..
Semak-semak yang terkena ludahan Jin Penjaga gw itu, nampak langsung berlubang-lubang pada daunnya..
“Lancang sekali mulut mu Jin Binal.. Akan aku robek wajah mu yang cantik itu dengan sekali cakar” Balas Kera raksasa yang berbulu putih bersih, dengan suara khas perempuan..
Gw tertegun mendengar dan melihat dua mahluk berwujud kera raksasa itu.. Nampaknya mereka berlainan jenis, apa mungkin mereka sepasang suami istri?..
“Lekas lah kau berlari menembus semak belukar di bawah dua kera itu, Kang Mas.. Gunakan Pedang Jagat Samudera untuk menghancurkan pagar gaib yang menutupi.. Biar aku yang menghadapi dua Jin Penjaga itu.. Hati-hati, apa yang kau lihat bisa jadi ilusi.. Ikuti kata hati mu” Ucap Sekar..
“Astaghfirullah” Pekik gw sambil menutup mulut karena terkejut, begitu melihat Sekar sudah berubah menjadi sosok Kolong Wewe dengan tinggi badan seukuran dua kera raksasa itu..
Gw menarik tubuh ke belakang guna menghindari tendangan Arya yang mengenai udara kosong.. Lalu membalas dengan sebuah pukulan ke arah dada kanannya.. Arya nampak terkejut, lalu bersalto kebelakang untuk menghindar..
Gw terus maju dan menyerang nya dari arah depan, sementara pemuda itu terus bersalto ke belakang, hingga akhirnya ia menghentakkan kaki melompat ke atas, dan meluncur turun, sambil mengarahkan kedua telapak tangannya ke bawah, ke arah kepala gw..
Dengan cepat, gw berputar satu kali seraya memutar kedua telapak tangan di depan dada, dan menghadang Tapak Wesi milik Arya dengan Tapak Jagat di atas kepala gw..
DRRDRRR!!!
Suara bergetar terdengar cukup keras, dari kedua telapak tangan kami yang saling menempel, dengan posisi Arya tegak lurus di atas gw, sementara gw menahan tubuhnya dengan dua lutut tertekuk.. Wajah Arya nampak pucat, karena sudah mengeluarkan hampir seluruh tenaga dalamnya.. Melihat hal itu, gw sengaja mengurangi tenaga dalam agar pemuda itu mau berhenti dan mengaku kalah..
Merasakan tenaga dalam gw di kedua tangan menurun, Arya malah terus menekan Tapak Jagat milik gw dengan seluruh tenaga dalamnya ke Tapak Wisa..
TES!!
Setetes darah jatuh dari hidung Arya yang masih tegak lurus berada di atas gw, mengenai kemeja yang gw pakai.. Sementara kedua telapak tangan kami masih terus menempel di atas.. Menyadari pemuda itu sedang memaksakan diri untuk terus mengeluarkan tenaga dalamnya, gw langsung menjatuhkan diri ke tanah, dengan posisi terlentang, lalu menendang tulang pinggulnya..
BUGG!!
Tendangan gw berhasil mengenai tulang pinggul Arya, dan membuatnya terpental dua tombak kebelakang.. Gw sendiri harus mengorbankan diri, jatuh menghantam tanah keras perkebunan singkong..
“HOEEKK”
Dari belakang, Arya terlihat memuntahkan darah segar dengan wajah sudah sangat pucat.. Dengan cepat gw bangkit dan berlari menuju Arya.. Lembu Rukmo langsung menghadang sambil menundukkan tanduk di kepala nya, yang sudah siap mengeluarkan sinar merah dan hitam..
“Gw mo nolongin Arya” Ucap gw yang langsung melewati Jin Penjaga Arya, dan segera menarik tubuh pemuda itu yang sudah meringkuk menggigil dan mendudukannya..
Dengan cepat gw mengatur nafas dan mulai menempelkan kedua telapak tangan ke punggung Arya.. Tenaga dalam gw sedikit demi sedikit tersalurkan ke tubuh pemuda itu.. Perlahan, Arya mulai menegakkan posisi duduknya, sambil menyilangkan kedua telapak tangan di dada nya..
Hawa tubuh Arya pun berangsur-angsur kembali menghangat.. Setelah dirasa cukup, gw mengontrol tenaga dalam dan menghentikan penyaluran ke tubuh pemuda tersebut..
“Makasih, Mam.. Lu udah mau nolongin gw” Ucap Arya sambil mencoba berdiri..
Gw mengangguk dan mengulurkan tangan untuk membantunya agar lebih mudah berdiri.. Meski pun luka dalam di tubuh Arya sudah cukup terobati, namun kondisi nya masih lemah..
“Gw tagih janji lu” Kata gw menunggu Arya menceritakan siapa otak dibalik Ilmu pelet yang menjerat Anggie..
Arya tersenyum dengan wajah sedikit pucat, lalu mengajak gw untuk duduk di sebuah bangku dari bilah-bilah bambu kering, yang ada di depan rumah berdinding bilik..
“Yang mengirimkan pelet ke Anggie itu, Papahnya sendiri, Mam..”Ucap Arya membuat kedua mata gw terbelalak tak percaya..
“Lu serius?” Tanya gw mencoba memastikan..
Arya menganggukkan kepala sebagai jawaban iya.. Gw menarik nafas dalam-dalam, menyadari betapa tega nya seorang ayah berbuat itu terhadap puterinya sendiri
“Beberapa hari yang lalu, gw bertemu dengan Papahnya Anggie.. Kedua orang tua gw mengenal beliau cukup baik.. Bahkan mereka sempat berniat menjodohkan gw sama Anggie.. Nah, dipertemuan itu Papahnya Anggie mengatakan niatnya untuk memelet Anggie, agar berpaling dari lu dan jatuh cinta ke gw.. Awalnya gw ga setuju, karena membuat orang lain jatuh cinta ke kita dengan bantuan Jin, bukan cara ksatria menurut gw.. Tapi karena Papahnya Anggie mengancam, akan menagih hutang kedua orang tua gw, akhirnya gw terpaksa menuruti nya” Jelas Arya yang terhenti karena melihat kedua tangan gw mulai terkepal..
“Lanjutin lagi, Ar” Pinta gw dengan wajah mulai memerah..
“Dia minta sehelai rambut gw buat di kasih ke dukun, yang sudah di perintahkan Papahnya buat mengirimkan pelet ke Anggie” Kata Arya dengan wajah sedikit menyiratkan penyesalan..
“Kenapa lu mau ikut campur dengan masalah gw sama Anggie dan Papahnya, Ar?” Tanya gw dengan pandangan menyelidiki..
“Jujur, Mam.. Gw dulu sempat deket ke Anggie, jauh sebelum lu kenal dia.. Semua karena hubungan baik kedua orang tua kami.. Karena kedekatan itu, lama-lama muncul rasa sayang buat Anggie.. Tapi dia nolak begitu gw nembak, dengan alasan sudah menganggap gw seperti kakak sendiri.. Dari situ gw mulai menjauh, dan kabar terakhir gw denger Anggie sudah punya pacar, yang ternyata lu..”Jawab Arya lagi..
“Lu tahu nama dan dimana rumah dukun yang menjerat cewe gw, Ar?” Tanya gw yang sudah geram dan akan memberi pelajaran ke dukun tersebut..
“Ki An*****i (sorry, namanya gw sensor karena selepas kejadian ini, beliau bertaubat), rumahnya ada di dalam hutan di daerah Gunung Bunder, Pamijahan Bogor.. Untuk kerumahnya harus berjalan kaki, Mam.. Hati-hati juga, banyak Jin yang menjaga dukun itu” Jawab Arya disusul sarannya..
Gw terdiam sambil menganggukkan kepala.. Dalam hati, gw mulai memanggil Sekar agar datang ke tempat kami berada.. Bau harum bunga kenanga mulai tercium, di susul oleh kemunculan Sekar Kencana di sebelah gw..
Sesaat, Arya nampak membesarkan kedua matanya dan tertegun melihat kehadiran Sekar.. Sementara Lembu Rukmo, Jin Penjaga nya Arya terdengar melenguh sejenak..
“Jin Penjaga lu cantik banget, Mam.. Tukar aja sama Jin Penjaga gw, mau ga?” Bisik Arya di dalam batin gw..
“Jaga mulut mu, anak muda!!!” Bentak Sekar Kencana sambil melotot ke arah Arya..
“Lu mamam tuh, emang enak dibentak Jin” Ucap gw dalam hati seraya mentertawakan Arya..
“Maaf, Nyai” Jawab Arya dengan kepala tertunduk..
“Kita pergi sekarang, Kang Mas.. Aku juga penasaran seperti apa rupa dukun sesat itu” Ucap Sekar yang mengacuhkan permintaan maaf Arya..
Gw mengerutkan dahi mendengar ucapan Sekar barusan, tanpa gw menjelaskan, Jin Wanita itu selalu tahu apa yang ada di dalam benak gw..
“Gw titip motor disini, Ar.. Selepas ngasih pelajaran ke tuh dukun, gw balik lagi buat ambil motor” Kata gw yang langsung di balas dengan acungan jempol Arya..
Kepala gw mengangguk ke arah Sekar, lalu Jin Penjaga gw itu mulai menempelkan tangannya ke bahu gw.. Seperti biasa, gw selalu memejamkan kedua mata saat akan berpindah tempat.. Karena kalau tidak, maka akibatnya kepala kita terasa akan seperti berada di atas sebuah perahu yang sedang diamuk badai..
“Buka mata mu, Kang Mas.. Kita sudah tiba” Perintah Sekar..
Gw membuka mata dan melihat tempat kami berada sekarang adalah di tengah-tengah hutan.. Pohon-pohon tinggi menjulang, dan suara suara hewan khas penghuni hutan terdengar bersahutan berkali-kali.. Beberapa ekor monyet sedang asyik melompat dan bergelayutan di dahan-dahan pohon.. Ada juga yang sedang menikmati buah-buahan yang tumbuh liar di sini..
“Lihat 20 tombak di hadapan mu, Kang Mas” Ucap Sekar sambil melemparkan pandangan ke depan..
Gw terperanjat, begitu melihat dua sosok mahluk setinggi kira-kita 30 meter sedang menatap kami dengan dua pasang mata besar berwarna merah menyala.. Ente tahu Sun Go Kong yang ngamuk pas jadi kera raksasa, nah bentuk dua mahluk yang ada di depan gw dan Sekar hampir sama.. Bedanya cuma di warna bulu mereka saja.. Yang satu hitam legam dan yang satu putih bersih..
“Apa kedatangan kalian untuk melakukan pesugihan?” Tanya kera raksasa yang berbulu hitam legam..
“Ciih!! Aku datang kesini untuk melenyapkan tuan mu” Jawab Sekar setelah meludah ke samping..
Semak-semak yang terkena ludahan Jin Penjaga gw itu, nampak langsung berlubang-lubang pada daunnya..
“Lancang sekali mulut mu Jin Binal.. Akan aku robek wajah mu yang cantik itu dengan sekali cakar” Balas Kera raksasa yang berbulu putih bersih, dengan suara khas perempuan..
Gw tertegun mendengar dan melihat dua mahluk berwujud kera raksasa itu.. Nampaknya mereka berlainan jenis, apa mungkin mereka sepasang suami istri?..
“Lekas lah kau berlari menembus semak belukar di bawah dua kera itu, Kang Mas.. Gunakan Pedang Jagat Samudera untuk menghancurkan pagar gaib yang menutupi.. Biar aku yang menghadapi dua Jin Penjaga itu.. Hati-hati, apa yang kau lihat bisa jadi ilusi.. Ikuti kata hati mu” Ucap Sekar..
“Astaghfirullah” Pekik gw sambil menutup mulut karena terkejut, begitu melihat Sekar sudah berubah menjadi sosok Kolong Wewe dengan tinggi badan seukuran dua kera raksasa itu..
qthing12 dan 14 lainnya memberi reputasi
13