Kaskus

Story

beanilla93Avatar border
TS
beanilla93
Vanilla
Hai agan-sis semua.
Setelah sering jadi silent reader, kayanya asik juga kalau saya mencoba share cerita juga.

Cerita ini 'based on true story'. Tapi ya mungkin dengan sedikit modifikasi. hehehe

Tapi kalo cerita ini bukan selera agan-sis, atau agan-sis merasa ceritanya aneh,
And you feel like you can't stand to read it anymore silahkan cari cerita lain.
Nggak usah sumpah serapah ya.
Karna buat saya mereka yg sumpah serapah itu, pikirannya sempit, kosa katanya terbatas.
Bingung mau komentar apa, ujungnya malah ngata-ngatain emoticon-Lempar Bata

Comment, critics and question allowed ya emoticon-Big Kiss

Spoiler for Prolog:


Indeks :
Part 1. Prolog
Part 2. Selected memories

Part 3. MY hero
Part 4. His journey
Part 5. Restriction
Part 6. The results

Part 7. First year
Part 8. We're classmate!
Part 9. The class president
Part 10. Embarrassing youth - intermezzo
Part 11. Wrong thought?
Part 12. Boom!
Part 13. Aftereffects
Part 14. "Manner maketh man"
Part 15. Reunion
Part 16. Let it loose
Part 17. Those shoulders
Part 18. The sunrise
Part 19. Present
Part 20. Year 7th

Part 21. Tom and jerry
Part 22. Crown Prince
Part 23. Amnesia
Part 24. "Okay, let's do that"
Part 25. Jalan belakang(back street)
Part 26. The castle
Part 27. Story about a long night
Part 28. The storm
Part 29. War
Part 30. Gotcha!
Part 31. End

Part 32. Abege
Part 33. Story of nasi goreng
Part 34. The reason behind cold martabak
Part 35. He knew it(all the time!)
Part 36. The betrayal
Part 37. Revealing the truth
Diubah oleh beanilla93 16-03-2018 13:46
anasabilaAvatar border
chamelemonAvatar border
chamelemon dan anasabila memberi reputasi
2
20.2K
182
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.7KAnggota
Tampilkan semua post
beanilla93Avatar border
TS
beanilla93
#67
Part 17. Azka - 10

"Nana belum ada di kamar masa. Gue ngga berani di kamar sendiri, di kamar sebelah banyak om-om sama mas-mas." ucapku pada Azka, sekembalinya dari mengecek keberadaan Nana di kamar penginapan kami.

"Lah, padahal perasaan kita udah muter jauh banget tadi. Pake macet segala, masa mereka belum nyampe? Coba bentar gue telpon si Langga." jawab Azka.

Azka pun mengisap panjang rokoknya yang memang sudah pendek, dan kemudian mematikannya dalam asbak. Dia lalu mengeluarkan handphonenya dan kemudian meletakkan nya di telinganya.

"Eh, kemane lo? Gue sama Vanilla udah sampe. Lo bawa kemana itu anak orangg?

Dih, gue mah ngga kaya lo. Udah buruan balik. Vanilla ngga berani sendirian.

Iye udah cepet baliiikkk. Dah!"

Azka memutuskan panggilan itu dan memasukkan ponselnya ke dalam kantong celananya.

V : Dimana katanya?
A : Ke indomar*t
V : Ngapain?
A : Beli cemilan katanya buat besok.
V : Hmm... Masih lama ngga katanya?
A : Bentar aja sih katanya. Tapi ya udah gue temenin dulu sampe mereka dateng.
V : Ya udah, nunggu di dalem aja yuk.
A : Serius nih? Lampu di kamar masih normal kan, ngga gelap? Takutnya khilaf kalo gelap-gelapan sama neng.
V : Coba aja, gue tendang tu 'masa depan' biar gelap sekalian.

Ucapku sambil berjalan menuju kamar penginapan.

"Dih, tapi minta temenin. Tapi galak" celetuk Azka yang mengikutiku di belakang.

Setelah membuka kunci dan pintu kamar, aku menyalakan lampu dan meletakkan tasku di meja.

"Begini ya kamar cewe?" ucap Azka saat memasuki kamar. Aku hanya menoleh dan tersenyum kepadanya.

"Kasurnya empuk kayanya nih?" celetuknya lagi.

"Tiduran aja kalo mau. Gue mau mandi. Nyalain tuh tv kalo bosen. Wifi juga ada, passwordnya di samping telepon. " ujarku pada Azka sambil membuka koper dan mengeluarkan baju dan peralatan mandi.

"Oke sippp. Kalo begini mah, disuruh nemenin sampe besok juga betah. "

A : Btw neng, itu bagus tuh. Pasti mahal ya?
V : Apaan?
A : Tuh, yang ngintip di pojok koper. Yang item, ada renda kembangnya.

"Azkaaaaa!!!!!!" teriakku setelah menyadari benda apa yang di maksud oleh Azka.

Aku pun menutup koperku dengan cepat dan memukulkan bantal ke badannya berkali-kali. Azka hanya terbahak sambil melindungi wajahnya dengan tangan.

"Udah ah gue mau mandi! Awas lo nyolong daleman gue! Gue ancurin beneran tu masa depan!" teriakku setelah merasa lelah. Aku pun melangkah menuju kamar mandi, meninggalkan Azka yang masih tertawa di balik bantal.

Setelah aku selesai mandi, aku menemukan Azka sedang tiduran di kasur sambil memainkan ponselnya dan membiarkan tv menyala.

"Main hp apa nonton tv?"

"Eh, udah kelar? Widih. Wangi amat nengg." sahut Azka sambil melihat ke arahku.

"Kalo main hp, tv nya dimatiin." ucapku sambil mematikan tv, tanpa mengindahkan Azka.

Cklek

"Nah lo ketahuaannnn!!! Berduaan dalam kamarrr!! Abis ngapain lo berdua? Yang cowo di kasur, yang cewe abis keramas. Pasti abis ada apa-apa nih. Hayo ngakuuuuu" teriak Langga heboh.

Terlihat Nana di belakang Langga yang hanya menggelengkan kepala melihat sambil melepaskan sepatunya dan memasuki kamar.

"Lo yang abis ngapainnn ontaaa!! Habis jam-jam an ya lo sama Nana jangan-jangan?" ujar Azka pada Langga sambil melemparkan bantal.

"Sembarangan tu mulut. Orang se jam aja kaga nyampe, gimana ceritanya bisa jam-jam an?" sahut Langga.

Nana yang mendengar sahutan Langga pun bergerak cepat mengambil bantal lain dan melemparkannya ke arah Langga.

N : Sama aja lo berdua! Oncom dasar! Kurang belaian lo berdua hah?
V : Tau ni berdua. Udah pulang sana. Ntar besok subuh ngga bisa bangun. Hus!
A : Ah elah neng, abis manis abang disuruh pulang.
V : Iya emang. Dah sana pulannggg.

Aku pun menarik tangan Azka agar segera bangun dan berdiri. Setelah dia berdiri, aku mendorong tubuhnya menuju pintu.

A : Oke, oke. Udah ngga usah di dorong. Ntar neng yang ngos-ngosan. Gue pulang yak neng. Na? Gue pulanggg!
N : Iya hati-hati yaa.
L : Jangan lupa, ntar malem jam 11 udah ready buat dijemput. Bangun duluan, dandan dulu.
V : Iya inget. Udah bawel, mau pulang aja ribet. Hati-hatii! Dahh!

Aku pun menutup pintu tanpa memperdulikan mereka berdua yang sepertinya masih mengomel di balik pintu.

23:00 WIB

'Tok-tok-tok'

"Vanilla... Nana...." panggil Langga dari balik pintu.

"Wih, ontime ni bapa-bapa. Mana si ceking?" ujar Nana sambil membukakan pintu.

L : Iya lah, kalau ngga ontime ditinggal kita. Udah siap belom?
V : Udah. Azka mana?
L : Ini yang ngedatengin gue, yang dicariin orang lain. Ck. Ada noh di depan, biasa, ngisep.

Setelah siap, aku, Nana dan Langga pun berjalan ke depan penginapan. Melihat kedatangan kami, Azka pun mematikan rokoknya. Nana dan Langga pergi sedikit lebih dahulu, aku dan Azka pun bergegas menaiki sepeda motor. Saat sudah menyalakan motor dan akan berjalan, ponsel Azka bergetar. Karena sudah dalam posisi duduk, Azka pun susah payah mengeluarkan ponsel tersebut dari kantong celananya. Saat ponsel sudah berhasil keluar, panggilan sudah terputus. Saat Azka sedang fokus pada ponselnya, aku mengunci helm Azka yang kulihat belum terkunci dari spion. Azka sedikit terkejut, namun dia hanya membiarkan tanganku.

'Bilang sama Nanto kita udah otw" ucap Azka sambil menyerahkan ponselnya kepadaku. Rupanya yang barusan menelpon adalah Nanto.

"Halo nan? Iya ini kami udah otw. Langga sama Nana udah duluan tadi.

Iya. Dah.."

"Lo aja yang pegang hp gue neng." ujar Azka saat aku mengembalikan ponselnya.

"Lah, kok?"
"Udah, masukkin tas aja."

Tanpa bertanya lebih lanjut, aku pun memasukkan ponsel Azka ke dalam tasku sebelum terlebih dahulu menguncinya.

"Pegangan neng, gue mau ngebut. "

Aku pun melingkarkan tanganku pada pinggang Azka. Azka pun memacu sepeda motor dengan cepat, membelah sunyinya jalanan di kota Malam.

----

Saat ini kami berenam sedang berada dalam sebuah hard top. Karena tujuan kami selanjutnya adalah melihat sunrise di sebuah gunung dengan inisial B yang memang terkenal di provinsi ini.

Tempat duduk bagian belakang mobil ini berhadap-hadapan. Nana dan Langga duduk bersebelahan di sebelah kiri mobil. Dan ya. Aku dan Azka duduk bersebelahan di seberang mereka berdua. Tempat duduk kami dipisahkan oleh barang-barang yang kami letakann di tengah.

Rute menuju ke gunung B memang sangat luar biasa. Sang driver tidak pernah menurunkan kecepatan mobil sama sekali. Sehingga keadaan di belakang pun sangat tidak stabil. Tubuh kami ikut terbawa apabila mobil ini sedang berbelok dan melewati tikungan. Walaupun aku merasa leherku sangat sakit karena kepalaku terayun mengikuti gerakan mobil. Dan kepalaku juga sangat sering terantuk jendela, tapi karena lelah, aku pun tetap memejamkan mataku dan berharap aku bisa tertidur.

Di saat aku sudah benar-benar akan tertidur, aku merasakan sebuah tangan di pipi sebelah kananku. Tangan itu dengan sangat hati-hati membawa kepalaku agar tersandar pada bahunya. Setelah kepalaku tersandar, tangan itu masih tidak lepas dari wajahku. Seolah ingin menjaga agar kepalaku tetap bersandar di bahunya.

Aku pun terjaga. Hatiku berdebar tidak karuan, karena aku tau persis siapa pemilik tangan dan bahu itu. Tapi aku tetap memejamkan mataku. Sampai akhirnya aku benar-benar tidur, dengan sebuah senyuman yang aku harap tidak dia ketahui pada saat itu.
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.