Hai gan, ini dia episode 30 nya gan...
Jangan lupa untuk kunjungi Blog The Banker ya gan...
Versi buku dari The Banker juga sudah terbit gan. Isinya kompilasi cerita The Banker plus cerita dan karakter baru yang ga akan ditemukan di versi kaskus atau blog. Klik link dibawah ini untuk info lebih lanjut dan pemesanan ya:
Minggu, 7 pagi.
Bimo turun ke lantai satu rumahnya. Suasana sepi, Aisha sedang mewarnai di kamarnya dan istri Bimo masih puasa ngomong karena insiden di nikahan kemarin.
Bimo menarik napas panjang dan merasakan ketenangan yang luar biasa. Selalu ada hikmah dibalik ngambeknya istri Bimo. Setiap kali istri Bimo ngambek dan puasa ngomong, itu berarti
total silencebuat Bimo. Seperti laki – laki pada umumnya, salah satu kebutuhan Bimo adalah ketenangan dan kesunyian.
Bimo pun duduk di depan TV dan mulai menonton acara – acara Minggu pagi yang ga jauh – jauh dari acara makanan dan jalan – jalan ke gunung atau air terjun.
Suasana begitu tenang dan tubuh Bimo terasa rileks…
“Udah lama gw ga santai kaya gini…” pikir Bimo.
Beberapa menit nonton TV, Bimo bosan juga. Bimo pun berjalan ke teras.
Cuaca di luar terlihat agak mendung dan ternyata di depan rumah Bimo terlihat beberapa orang bapak – bapak dengan sepeda mereka masing – masing. Tampaknya mereka mau gowes bareng pagi ini. Salah satu dari mereka, Pak Aris menyapa Bimo.
Aris: “Pagi Pak Bimo…”
Bimo: “Pagi Pak…”
Aris: “Ayo ikut Pak… Kita mau gowes nih…”
Bimo: “Oh saya udah lama ga sepedaan Pak… Lain kali ya Pak…”
Tapi tiba – tiba Bimo ingat… Mungkin ini saat yang tepat untuk Bimo ikutan gowes sama bapak – bapak komplek. Saat dimana istri Bimo sedang puasa ngomong dan itu berarti pasti istri Bimo terlalu gengsi untuk ngomong dan ngelarang – larang Bimo pergi.
Bimo: “Eh Pak… Saya mau ikut deh…”
Aris: “Oh ayo Pak… Kita juga masih nunggu beberapa orang lagi kok…”
Bimo pun masuk rumah dan ngomong ke istrinya.
Bimo: “Aku mau sepedaan sama bapak – bapak ya…”
Istri Bimo: (judes) “Terserah…”
Bimo: (dalam hati) “
YESSS!!!”
Bimo langsung menuju gudang belakang tempat sepedanya disimpan. Walaupun rumah Bimo kecil, tapi udah cukup lama Bimo ga berkunjung ke gudang.
Gudang Bimo nyaris tidak terlihat karena tertutup kardus – kardus bekas TV dan kulkas yang udah jelas ga ada gunanya lagi tapi entah kenapa masih disimpan.
Setelah menyingkirkan beberapa kardus, Bimo pun menyentuh dinding di sebelah kanannya dan dari dinding itu keluarlah sebuah
keypad.
Bimo pun memasukkan kode di
keypad itu dan keluarlah alat yang ternyata sebuah
Retina Scanner.
Bimo berdiri di depan alat itu dan alat itu meng-
scan mata Bimo.
Tiba – tiba keluar suara seorang wanita.
“
Welcome Bimo…”
Pintu gudang pun terbuka.
Jangan ada yang percaya ya… Lebay doang semuanya… Orang cuma digembok pake gembok merek KRISBOW doang… Udah karatan pula… -Broto, Narator.
Bimo membuka pintu dan gudang itu begitu gelap. Di pojokan terkaparlah sepeda Bimo dalam keadaan yang begitu menyedihkan.
Begitu banyak laba – laba yang membuat sarang di sepeda Bimo membuat sepeda Bimo layaknya sebuah
cluster perumahan lengkap dengan pos
security di depannya.
Bimo membersihkan sarang laba – laba itu sambil berkali – kali meminta maaf pada para laba – laba disitu. Bimo bisa merasakan laba – laba itu menatapnya dengan tajam dan beberapa laba – laba pun terdengar menangis melihat rumahnya dirusak.
Untuk sejenak Bimo merasa seperti Satpol PP yang ngegusur pemukiman kumuh.
Bimo membawa sepedanya keluar. Sejenak Bimo memandangi sepedanya itu.
“Mmm ga buluk – buluk amat lah ini sepeda…” pikir Bimo.
Bimo memompa ban sepedanya dan Bimo pun siap untuk bergabung dengan bapak – bapak di depan. Tiba – tiba dia ingat dia belum memakai helm, sarung tangan, dan perlengkapan lainnya.
Bimo kembali ke gudang dan memasukkan kode lagi di
keypad.
Lemari di dalam gudang terbuka dan perlengkapan sepeda Bimo terbang dan langsung terpasang di badan Bimo bagai Tony Stark saat memakai
Iron Man Suit yang
Mark 42.
AMPUUUUUUNNNN LEBAAAAYYYYY!!!!!!... -Broto, Narator.
Ini yang sebenarnya… Bimo ngambil helm, sarung tangan, dll di gudang. Ditiup – tiup sama di tepok – tepok biar debunya terbang. Trus dipake satu - satu…
Bimo berjalan ke depan. Tiba – tiba Bimo merasa ada air menetes.
Aris: “Wah ujan… Saya ga mau ujan – ujanan Pak… Takut pilek…”
Pak Aris secepat kilat pergi dari depan rumah Bimo dan diikuti oleh bapak – bapak yang lain.
Tinggal Bimo keujanan dan bengong sendirian diatas sepedanya memakai helm dan sarung tangan yang masih agak berdebu.
Bimo: “Hah??? Bubar nih? Ya elah gw udah ribet bener ngambil sepeda ama helm… Kampreeeeetttttt…!!!”
“Susah dah bapak – bapak udah pada uzur… Ama gerimis aja takut bener…”
Bimo pun kembali ke rumah dengan tertunduk malu.
Istri Bimo memandangi Bimo yang masih memakai helm dengan heran, tapi tetap terlalu gengsi untuk bertanya.
Tapi akhirnya dia bersuara…
Istri Bimo: “Ga jadi?”
Bimo: “Ga jadi… Gerimis…”
Istri Bimo: “Lemah…”
Bimo: “……”
Istri Bimo: “Banyak yang abis nih di rumah… Kamu belanja ya…”
Bimo: “Hah?”
Istri Bimo menyerahkan secarik kertas berisi barang – barang yang perlu di beli. Tampaknya istri Bimo menyuruh Bimo belanja sebagai “hukuman” buat Bimo. Tapi yang istri Bimo ga tau adalah, Bimo sebenernya
happy banget kalo disuruh belanja sendirian… Alasannya
simple, Bimo udah jarang banget bisa keluar rumah sendirian selain ke kantor….
Bimo mengendarai mobilnya ke
supermarket dekat rumahnya. Setelah parkir Bimo langsung berjalan masuk.
Tujuan pertamanya adalah bagian daging. Bimo disuruh beli ayam mentah.
Dengan percaya diri Bimo melangkah. Bimo sama sekali tidak menyadari tantangan yang akan dihadapinya.
Di depan Bimo terlihat begitu banyak ayam yang sudah terbungkus plastik. Yang mengejutkan bagi Bimo adalah di ayam – ayam itu terdapat label yang berbeda – beda.
Terlihat ayam dengan label:
Ayam Negeri
Ayam Kampung
Ayam Organik
Ayam Probiotik
Bimo tertegun…
Bimo pun memberanikan diri bertanya ke mas – masnya…
Bimo: “Mas…”
Mas – mas ayam: “Bisa dibantu Pak?”
Bimo: “Mau beli ayam…”
Mas – mas ayam: “Silakan Pak… Mau yang mana?”
Bimo: “Ini apa bedanya ya masing – masing?”
Mas – mas ayam: “Beda Pak… Dari cara meliharanya sama makanannya…”
Bimo: “Contohnya?”
Mas – mas ayam: “Kalo ayam kampung meliharanya di alam bebas Pak…”
Bimo terbayang acara
My Trip My Adventure. Ayam – ayam berlarian, lompat ke sungai, main ciprat – cipratan sama ayam lain, dan meluncur di air terjun sambil bawa GoPro…
Maaf… -Broto, Narator.
Mas – mas ayam: “Kalo ayam negeri biasanya di peternakan ayam biasa Pak…”
Bimo: “Oooh kirain ayamnya lulusan sekolah negeri mas…”
Bimo berusaha melucu… Mas – mas ayam sama sekali ga tertawa…
Mas – mas ayam: “Kalo organik, selama dipelihara ga kena bahan kimia sama sekali Pak, baik dari makanan ataupun tempat meliharanya…”
“Kalo probiotik, selama dipelihara makanannya mengandung probiotik Pak, mikroorganisme yang dapat memperbaiki keseimbangan saluran cerna… Kadar kolesterolnya lebih sedikit dari ayam yang lain…”
Bimo: “Waduh… Ini ayam hidupnya jauh lebih sehat dari saya mas…”
Melucu lagi… Tetap gagal… Ekspresi mas – mas ayam tetap tidak berubah.
Mas – mas ayam: “Jadi yang mana Pak?”
Bimo: “Yang biasa aja deh mas…”
Mas – mas ayam: “Ayam negeri berarti ya Pak…”
Bimo: “Iya mas… Kalo udah digoreng juga ga berasa bedanya…”
Mas – mas ayam: “Hahahahahaha… Bisa aja Pak… Hahaha… Lucu banget nih Bapak…”
Bimo tidak melucu… Tapi mas – mas ayam tertawa…
Mas – mas ayam: “Mau dipotong Pak?”
Bimo: “Hah? Kan udah mati…”
Mas – mas ayam: “Wuahahahahahahaha… Aduh Pak bisa aja… Maksudnya mau dipotong – potong kecil ga ayamnya?... Hahahahaha…”
Bimo: (bengong) “Oh boleh…”
Bimo sama sekali ga melucu lagi… Tapi mas – mas ayam makin tertawa dengan kencang… Sambil motong ayam pun dia terus tertawa… Beberapa rekannya yang sedang menggiling daging sapi dan membersihkan sisik ikan pun sampai memandangi mas – mas ayam dengan pandangan heran…
Mas – mas ayam: “Silakan Pak…”
Bimo: “Makasih mas…”
Tiba – tiba mas – mas ayam itu mengangkat tangannya mengajak Bimo
tos sambil terus terkekeh… Sepertinya dia terkesan sekali dengan lelucon Bimo.
Bimo hanya tersenyum dan pergi…
Bimo tidak tertarik
tos sama orang yang pake sarung tangan plastik.
Instagram:
@commura.id
Senin, 9 pagi.
HP Bimo bergetar. Terlihat nomor yang tidak dikenal.
Bimo: “Halo…”
“Brooo akhirnya diangkat juga…”
Bimo langsung waspada karena dia pernah mendengar modus penipuan dengan gaya sok kenal di telepon kaya gini.
Bimo: “Siapa ini?”
“Afit broooo….”
Bimo: (dalam hati) “Hah Afit? Perasaan nomor gw udah gw ganti waktu kemarin dia nanya… Kok bisa nyambung?”
“Oh iya…”
Afit: “Wuih kemarin salah kayanya nomor lo bro… Gw harus nyoba ganti – ganti digit nomor HP lo sampe akhirnya nyambung… Salah sambung berkali – kali gw tadi…”
Bimo: (dalam hati) “Sakit jiwa…”
Afit: “Sori nih bro ganggu…”
Bimo: “Ada apaan?”
Afit: “Gw denger ada lowongan ya di
Corporate Banking bank lo?”
Bimo: “Hah? Ga tau gw… Gw kan di
Consumer Banking…”
Afit: “Gw nitip CV ke elo ya bro… Nanti tolong lo
forward ke orang
Corporate Banking…”
Bimo: “Hah mau gw kasih ke siapa? Gw ga banyak kenal orang
Corporate… Lagian bagian yang butuh orang juga gw ga tau yang mana…”
Afit: “Katanya sih mereka butuh
Relationship Manager (RM)… Ya udah gw kirim aja dulu CV gw ke elo ya… Nanti lo yang
forward ya…”
Bimo: “Lah mau gw
forward ke siapa?”
Afit: “Ya ke bagian
Marketing lah, tempatnya RM… Masa’ gitu aja nanya lo?”
Bimo: (dalam hati) “Wah setan nih orang… Dikira gw pembantunya kali…”
Afit: “Minta alamat email lo dong…”
Bimo: “Bro lo liat lowongan itu dimana? Lo kirim lewat
contact yang ada disitu aja…”
Afit: “Enakan lewat orang dalem bro… Pasti langsung dilihat nanti CV gw… Kalo lewat
contact yang ada di iklan lowongan nanti ketiban sama CV yang lain…”
Bimo: (dalam hati) “Asli nih orang… Ga tau dirinya level dewa…”
Afit: “Udah sini alamat email lo… Nanti lo forward sambil cerita dikit lah tentang gw… Bilang kalo gw S2 juga ya… Jangan sampe lupa tuh bro… Itu justru yang paling penting…”
Karena Bimo sudah kehabisan akal dan mulai mual, akhirnya Bimo pun memberikan alamat emailnya. Tidak lama kemudian masuk email dari Afit berisikan CVnya.
Bimo pun membuka CV itu.
Fotonya aja malesin.
Si Afit memasang foto wisuda S2 nya. Terlihat dia tersenyum lebar memakai toga dan membawa gulungan & map dengan lambang
Yu-Kap. Terlihat
background fotonya adalah lukisan lemari buku yang berisi buku – buku tebal tertata rapi.
Kayanya semua kampus di Indonesia memakai
background itu untuk foto wisudanya. Bimo pun penasaran siapa pelukis lukisan lemari buku itu. Siapapun itu, seharusnya dia sudah jadi sangat kaya karena lukisannya dipakai oleh semua kampus.
Kalo lo bingung lukisan itu kaya apa, lo search aja “foto wisuda” di Google…
-Broto, Narator.
Disamping foto itu tertulis sebuah
quotes:
“If you working hard, you can be everything you want…”
Di kanan bawah
quotes itu tertulis nama orang yang menulis atau mengucapkan
quotes itu. Dan ternyata
quotes itu diciptakan oleh Afit sendiri…
“Sakit jiwa… Pede banget bikin quotes sendiri… Kaya ada yang peduli aja… Bahasa Inggrisnya ngaco lagi… Tolol!!!” pikir Bimo.
Dibawah foto tertulis latar belakang pendidikan, termasuk gelar S2 bidang manajemen bisnis dari Yu-Kap yang luar biasa itu.
Dibawah pendidikan tertulis daftar pengalaman kerja dan daftarnya panjang banget. Si kampret ini hampir tiap tahun pindah kerja, bahkan ada yang cuma beberapa bulan.
Dan sesuai dengan analogi ikan yang dianutnya, terlihat perusahaan tempat Afit bekerja makin lama makin ga dikenal.
Ingin rasanya Bimo langsung men-
delete email itu, tapi kayanya kasian juga… Akhirnya Bimo pun menyimpan email itu dan menunggu saat dia sudah punya niat yang cukup untuk mem-
forwardnya…
Tiba – tiba HP Bimo bergetar. Terlihat ada pesan WA masuk.
Afit: “Udah di
forward bro?”
Bimo: (dalam hati) “Kamprett… Ga sabaran banget nih orang…”
“Sabar bro… Gw masih ada kerjaan lain…”
Afit: “Jangan lama – lama ya bro… Jangan sampe lowongannya diambil orang…”
Bimo: (dalam hati) “Setaaaannnn!!!...”
“OK…”
Bimo pun jadinya langsung meng-
forward CV si Afit ke orang
Corporate Banking pertama yang muncul di otak Bimo. Orang ini namanya Supri… Dia bagian…
Admin…
Yang nerima dan ngirim dokumen & surat.
Yang
booking ruang
meeting kalo ada yang mau
meeting.
Yang
booking mobil kantor kalo ada RM yang mau visit ke nasabah.
Email Bimo ke Supri:
Pri, ini ada orang nitip CV ke gw. Lo forward ke siapa aja yang kira – kira butuh orang di tempat lo. Kalo emang ga ada yang butuh orang, ya lo simpen aja buat bahan bacaan pas istirahat...
Peace, Love, & Gaul.
Thanks.
Bimo.
Bimo mengirim WA ke Afit…
Bimo: “Udah ya bro…”
Afit: “Thanks bro… Jangan lupa bantu
follow up ya…”
Bimo: (dalam hati) “Pala lo!!!”
“OK…”
Bersambung…