- Beranda
- Stories from the Heart
Patahan Salib Bidadari
...
TS
setiawanari
Patahan Salib Bidadari
In the name of Allah, the beneficient, the merciful
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Terimakasih untuk gambar sampulnya awayeye
Terimakasih Kaskus, khususnya untuk sub forum SFTH yang telah menyediakan tempat menampilkan sebuah cerita. Sebuah fasilitas yang akan saya gunakan untuk menulis dimulai dari hari ini hingga di hari-hari selanjutnya.
Terlepas dari nyata atau tidaknya cerita ini, adalah tidak terlalu penting karena sebagian dari kisah nyata dan sebagian dari imaginasi saya. Harapan saya tokoh-tokoh dalam cerita ini dapat menjadi inspirasi untuk para pembaca cerita yang saya tulis ini dapat menjadikan saya untuk terus berkreatifitas.
Mohon maaf jika materi dalam cerita ini nantinya ada kesalahan dan menyinggung pihak-pihak tertentu sekiranya nasihat, kritik dan saran dari agan/sista yang lebih berpengalaman selalu sangat saya harapkan.
Menemani istirahat untuk menghilangkan lelah setelah pulang kerja/sekolah/kuliah, atau saat sedang menunggu sesuatu mari kita baca ceritanya. Ditemani alunan musik dan segelas kopi/cokelat/susu/teh hangat kita kembali ke beberapa tahun yang lalu!!!.
PEMBUKA CERITA
Terpaku di dalam rasa cinta yang tak mungkin pudar, menanti cinta datang membawa arti sampai segenap organ ini berhenti.
Sore itu saat cuaca cerah di lantai 6 gedung akademisi yang melahirkan sarjana ekonomi terbaik aku termenung. Melamunkan manis, asam, asin dan pahitnya segala kehendak Tuhan yang dianugerahkan kepada salah satu ciptaanNya.
Manusia diberikan otak untuk berfikir dan menggunakan logika lalu diberikan hati untuk merasakan. Hati adalah malaikat sedangkan otak kadang menjadi iblis dan sangat sulit untuk mengontrolnya menjadi malaikat. Hati menjerit saat kita berbuat salah sedangkan otak adalah penyebab semua kesalahan yang dilakukan manusia. Malaikat dan iblis adalah gambaran dari manusia, sebagai simbol antara kebaikan dan kejahatan. Kebaikan tidak akan bersanding dengan kejahatan dan sebaliknya.
“Permisi Mas! Bisa pindah duduknya, lantainya mau di bersihkan!” Sapa seorang petugas cleaning service membuyarkan lamunanku.
“Oh, iya mas”. Jawabku sambil berlalu pergi menuju tempat parkir motor tepatnya dihalaman depan kampus.
Karamnya cinta ini
Tenggelamkanku diduka yang terdalam
Hampa hati terasa
Kau tinggalkanku meski ku tak rela
Salahkah diriku hingga saat ini
Kumasih mengharap
Kau tuk kembali………
Sore itu gerimis turun saat aku pulang, tak terasa sampai ditempat kos yang kebetulan hanya berjarak 10 menit dari kampus air hujan membasahi jaket jeans yang ku kenakan. Segera aku mengambil handuk dan membersihkan diri, bersiap untuk mengucapkan syukur kepada Yang Maha Kuasa. Dengan ritual sholat Ashar aku merasakan kedamaian yang tidak ada bandingannya, sebagai bentuk kepatuhan dan rasa syukur atas semua yang diberikan Tuhan baik itu berkah yang membuat hati senang maupun musibah sebagai ujian kepada hambanya agar menjadi sosok yang lebih kuat.
Waktunya istirahat, kurebahkan badan ini di kasur busa sebagai surga dunia yang paling indah, sambil memutar lagu menemaniku melepas lelah. Secangkir kopi hitam telah kusiapkan untuk menghangatkan suasana karena diluar hujan turun semakin deras. Kupandangi sebuah kalung berwarna emas berliontin salib yang bersanding dengan sebuah kalung perak berliontin lafaz Allah, tergantung dibawah poster foto Ibu Sundari Sukotjo tepat di tengah-tengah dinding kamar kosku. Masih menampakkan kilaunya meski kalung-kalung itu sudah hampir 4 tahun lamanya. Aku bangkit dari tempat tidur, meminum sedikit kopi hitam, sambil menarik nafas dalam sedalam yang aku mampu. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu di sore ini, ya aku merasakan suatu kerinduan yang luar biasa dengan pemilik kalung salib yang tergantung dikamarku, seorang yang sangat suka musik klasik, seseorang pecinta sepakbola, seseorang yang suka kopi hitam dan mungkin pernah mencintaiku walaupun tak pernah mengungkapkan sepatah katapun.
“Ya Tuhan hari ini aku kangen banget sama dia, meski tak sebesar kangen ku kepadaMu, tapi sungguh seolah-olah aku merasa sangat lemah dan sangat kehilangan. Hari ini tepat 4 bulan yang lalu dia beranjak pergi dari tempat ini, dia pergi untuk cita-citanya, untuk impiannya dan bodohnya aku belum sempat mengutarakan seluruh perasaanku kepadanya. Perbedaan keyakinanlah yang menghalangi, aku bahkan hanya bisa diam membisu saat ku ingin mengucapkan seluruh rasa cinta ini aku takut rasa cinta kepada makhluk ciptaanMu melebihi rasa cintaku padaMu. Tak kuasa air mata ini menetes, berusaha ku tahan tapi tak sanggup karena mungkin ini air mata rindu yang mencapai puncaknya.
Aku bukan seorang penulis tetapi hari ini tiba-tiba ingin sekali aku ingin sekali memainkan jariku di keyboard yang biasanya hanya kupakai untuk membuat tugas. Aku ingin menulis tentang dirimu tentang cerita kita, walaupun mungkin tidak berujung bahagia tidak apa karena mungkin dengan tulisan ini aku bisa mencurahkan segala isi hati dan kerinduanku kepada mu. Kenangan indah tentang hari-hari yang pernah kulalui dengan seorang bidadari yang telah merubah seluruh hidupku, meski meninggalkan perasaan yang terus menggantung entah sampai kapan. Bidadari yang datang di hidupku, menemaniku sejenak lalu pergi meninggalkan patahan salibnya di hidupku.
Mungkin suatu saat nanti
Kau temukan bahagia meski tak bersamaku
Bila nanti kau tak kembali
Kenanglah aku sepanjang hidupmu
Sekilas Gambar Tentang Aku
Harapan Sesuai dengan Kenyataan
Kerikil Kecil dan Awan yang Jauh
Pertemuan dengan Sahabat
Sepatu Mengawali Sebuah Impian
Dunia Kampus dan Teman Baru
Keluarga Kecil Bernama HALTE
Sesuatu Mengganggu Pesta Akhir Smester
Diantara Rasa Kagum dan Penasaran
Meluapnya Sebuah Emosi
Hubungan yang Semakin Dekat
Kegelisahan Menghadapi Perasaan yang Berbeda
Siang Menjadi Malam dan Sebaliknya
Perjalanan yang Semakin Indah
Momen Menggelikan dan Warna Kehidupan
Dilema Menghadapi Ungkapan Perasaan
Tetangga di Sekitar Kami
Liontin Salib untuk Leher yang Indah
Kepedihan Cerita di Masa Lalu
Senyuman untuk Hati yang Terluka
Sosok yang Menjadi Pertanyaan
Mencoba Menghilangkan Trauma
Pelangi yang Hilang Bersama Turunnya Hujan
Malam Kebahagiaan Bersama Keluarga Kecil
Bidadari Kecil Kini Telah Dewasa
Kebahagiaan Kini Tinggal Prasasti
Semua Terjadi Sangat Cepat
Sebuah Cinta yang Salah
Surga yang Tak Layak untuk Dilihat
Rumput Dingin Di Bawah Bangku Taman
Pahitnya Sebuah Ucapan
Air Mata Menepis Kerasnya Kata-kata
Satu Langkah ke Arah Normal
Bertahan Hanya dalam Waktu Singkat
Semakin Tenggelam dalam Kedekatan
Lilin Kecil di Malam Penuh Kebahagiaan
Selamat Datang Kemarau
Kerinduan yang Teramat Dalam
Hembusan Angin Masa Lalu
Sayap yang Kuat Untuk Bidadari Kecil
Tinta Biru Menorehkan Luka
Berusaha Menyembunyikan Luka
Hilangnya Rasa Segan
Keberhasilan Tanpa Perayaan
Berharap Hanya Andai Saja
Serpihan Kenangan yang Menyiksa
Tempat Baru
Berita Baik Bersama Undangan
Selamat Menempuh Hidup Baru
Kesan yang Baik di Hari Pertama
Insiden Kecil dan Masa yang Telah Terlewati
Menutup Momen 4 Tahun Kebersamaan
Kotak Makan Siang
Keberanian Untuk Memulai
Pahitnya Sambutan Selamat Datang
Seperti Kembali ke Waktu Itu
Teka Teki dari Perhatian Sederhana
Cerita di Ujung Sore
Peneduh Panasnya Amarah
Mengungungkapkan tak Semudah Membayangkan
Titik Terang yang Terasa Gelap
Patahan Salib Bidadari
Terimakasih Untuk Masa yang Terlewati
Apa yang Sebenarnya Terjadi
Kembali Terjatuh
Dunia Ciptakan Keindahan
Dan Kebahagiaan [TAMAT]
Kata Penutup (Q&A)
Diubah oleh setiawanari 10-07-2018 17:35
nona212 dan calebs12 memberi reputasi
3
111.2K
608
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
setiawanari
#380
Seperti Kembali ke Waktu Itu
Malam telah tiba, langit tidak cerah, mendung dari sore tidak kunjung menghilang tidak juga segera turun hujan. Detak jantung bersama denyut nadiku permenit terasa bergetar lebih banyak dari biasanya. Mengendarai motor menuju rumah Mbak Widia, mengajaknya menikmati malam untuk pertama kali. Meski masih dibayangi perasaan dari waktu yang telah terlewati aku berusaha berjalan ke depan. Menggenggam erat stang, memaju mundurkan perseneling, sesekali menarik handle rem hingga akhirnya tibalah di tujuanku malam ini.
" Assalamualaikum." Sapaku dari luar gerbang dikala waktu menunjukkan pukul 20 lewat 8 menit.
" Walaikumsallam." Jawab wanita dengan celana jeans hitam dan kaos putih polos tertutup cardigan hitam berjalan membuka gerbang rumah.
" Mau masuk dulu atau langsung jalan Wan?" Tanya Mbak Widia.
" Hmmm, jalan dulu aja mbak baru nanti masuknya." Jawabku.
" Maksudnya?"
" Ya kalau Mbak Widia udah siap langsung aja Mbak, tar kalau gak kemaleman baru saya mampir gitu. Oh iya Marsha udah tidur?"
" Yeee dateng-dateng ya di tanya Marsha, mamanya gak di tanyain nih? Hehehehe."
" Hehehehe ya kan mau di tinggal jalan mamanya takutnya rewel gitu Mbak, kan kasihan."
" Oooh, udah tidur dia, yaudah aku ambil tas dulu ya bentar." Kata Mbak Widia kembali masuk ke dalam rumah dan gerimis turun seolah langit berusaha menghalangi acaraku malam ini.
" Yaaah ujan Wan, hmmmm pakai mobil aja ya!" Kata Mbak Widia.
" Oke Mbak, saya masukin dulu motornya." Jawabku.
Beberapa saat kemudian kami berangkat menuju daerah selatan kota Jakarta. Ditemani gerimis dan sorot lampu kendaraan membuat suasana sangat meneduhkan hati. Disampingku duduk seorang wanita cantik, wangi parfumnya menggairahkanku untuk terus menginjak gas. Sesekali bibir sensualnya bernyanyi mengikuti lirik dari lagu yang keluar speaker mobil. Dinginnya suasana malam ini membuat pikiran ku melayang. Membayangkan hal yang kebanyakan lelaki pikirkan saat harus bersama wanita dengan keindahan lekuk tubuhnya. Terbukanya pintu mobil membuyarkan imaginasiku, kami keluar mobil berjalan menuju meja makan di salah satu resto dengan konsep minimalis. Sangat minimalis karena tanpa atap, hanya ada kursi plastik dan meja kayu. Meskipun kecil dan berada tepat di pinggir jalan namun sangat ramai pembeli.
" Perasaan gak ada tikungannya kenapa disebut G*lai T*kungan?" Batinku.
" Akhirnya sampai juga, ujannya juga udah berhenti." Kata Mbak Widia menyantap sepotong daging kecil dan nasi hangat.
" Eh Mbak Wid emang kenyang makan segini?" Kataku melihat porsi yang terlalu kecil.
" Ya kenyang laaah, kalau kamu gak kenyang nambah aja sih, tinggal bilang."
" Wah kalau saya sih bisa nambah 3 kali ini ma, porsinya terlalu mini. Oh iya Mbak Wid kok tau tempat ini sering makan disini."
" Sering lah, dulu sama Mas Adit waktu pacaran hampir tiap malam Minggu kesini." Jawab Mbak Widia dengan raut wajah sedikit berubah.
" Oooh, maaf Mbak saya gak bermaksud...."
" Yaudahlah Wan gakpapa kok, semuanya sudah berlalu, eh buruan makannya."
" Iya-iya Mbak, emang udah mau pulang?"
" Ya enggak lah, malahan baru di mulai malam minggunya, hehehehe." Jawab Mbak Widia tersenyum menatapku. Bening matanya menyiratkan kebaikan dan perhatian yang membuatku semakin tertarik dengan wanita di depanku.
38 menit berlalu kami menikmati makanan hingga akhirnya menyisakan tiga piring kosong.
" Mbak, mau kemana lagi kita?" Kataku menyalakan mesin mobil.
" Kan kamu yang ngajakin jalan kok malah nanya aku?" Jawab Mbak Widia.
" Maksudnya siapa tau Mbak Wid ada tempat asyik gitu!"
" Hmmmmm, oooh gitu yaudah kita ikuti angin yang berhembus aja Wan, hehehehe."
" Yaaah serius nih Mbak!"
" Oke, kamu ikuti arahanku aja tar juga sampai kok tempat yang asyik buat nongkrong, pasti kamu suka."
" Naaah gitu dong!"
Mobil menyusuri jalanan basah menuju pusat kota jakarta, mengikuti arahan Mbak Widia hingga kami tiba dilokasi.
" Lho, ini kan?" Kataku saat mobil memasuki gerbang salah satu club malam.
" Iya Wan, emang kenapa kamu gak pernah dugem?" Jawab Mbak Widia.
" Hmmmmm, pernah sih Mbak cuma gak terlalu sering." Jawabku sedikit kaget.
" Terus gimana atau mau ke tempat lain?"
" Hmmm, gak usah Mbak yaah sekali-kali lah kalau asyik kan lain kali bisa kita lanjutin." Kataku keluar dari mobil berjalan menuju puntu masuk klub malam.
Mbak Widia berjalan disampingku, tanpa gandengan tangan yang sedikit aku harapkan. Suasana gelap saat tiba di dalam hanya kelap-kelip lampu LED warna warni yang menyala. Hentakan musik menenggelamkan pengunjung larut dalam kegembiraan. Seolah aku kembali ke beberapa tahun yang lalu, suasana yang hampir serupa membuatku tertegun sejenak. Mengingatkan semuanya saat aku harus berdiri diantara mimpi dan nyata. Menyaksikan surga di atas pedihnya kehidupan dan derai air mata. Dan malam ini aku kembali kesini meski dengan orang, tempat dan momen yang berbeda.
" Hey kok bengong aja, duduk situ yuk." Kata Mbak Widia menarik tanganku sambil berbisik sangat dekat di telingaku karena kencangnya suara musik
" Mbak Wid sering ke klub malam Mbak?" Tanyaku sesaat kami duduk di kursi bulat dengan meja dengan bentuk yang sama.
" Yaaah nggak sering sih paling kalau libur aja dan Marsha lagi bisa di tinggal. Kamu mau pesen apa?" Jawab Mbak Widia.
" Hhhhmmmm, aku C*ca C*la aja Mbak!"
" Hah? Gak minum yang....."
" Nggak Mbak, takut mabuk tar bahaya lagi bawa mobilnya."
" Yaaaaah payah kamu Wan, emang kamu gak pernah minum-minum kaya gini ya?"
" Pernah sih Mbak, yaaah cuma iseng-iseng aja. Rasanya pahit jadi gak terlalu suka."
" Hahahahaha, kalau manis ma jus kali Wan." Jawab Mbak Widia lalu memesan minuman ke waiters yang datang dengan cara yang unik. Cukup menyalakan korek api dan di acungkan ke atas maka waiters akan datang menghampiri korek itu.
" Wow, kuat mbak segitu diabisin sendiri?" Kataku melihat sebotol minuman meski dengan kadar alkohol yang tidak terlalu tinggi.
" Ya kalau gak abis kamu bantuin lah, hehehehe dari tadi main hp mulu sih? Taruh napa."
" Ini aku ngabari adikku kalau pulangnya telat, takutnya nunggu sampai pagi lagi."
" Ooooh kirain." Kata mbak Widia menyalakan rokok lalu mulai menikmati minuman membuat tenggorokan ini terasa haus.
" Hey, Wid udah lama kau datang?" Kata salah satu dari 2 orang wanita dan seorang pria menghampiri meja kami.
" Belum Ver, kok kalian disini juga?"
" Yeeeeee, harusnya juga gw yang nanya kok Lo tumben kemari biasanya mainnya di jakarta barat." Jawab wanita itu.
" Yaaa lagi pengen aja kemari, hehehehe, oh iya kenalin nih temen gw ehhhmmm rekan kerja gw di kantor. Oh iya Wan nih temen kuliah gw dulu kenalin." Kata Mbak Widia.
Aku mengulurkan tangan berkenalan dengan mereka yang lalu bergabung di meja kami. Meja kembali penuh dengan beberapa botol minuman meski aku tetap memilih softdrink dan air putih.
Menjelang tengah malam suasana semakin ramai terlebih saat seorang yang mungkin cukup terkenal di dunia gemerlap malam keluar memainkankan piringan hitam. Bintang tamu paling dinantikan malam ini meski aku tidak pernah mendengarnya. Sorak Sorai pengunjung bergemuruh saat bintang tamu itu memulai penampilannya. Kedua tangannya sangat terampil memutar-mutar tombol dan memainkan disk hitam seperti menghipnotis pengunjung untuk berdiri, bergoyang mengikuti setiap hentakan musik.
" Bangun dong Wan, masa mau duduk aja." Kata Mbak Widia beranjak bersama ketiga temannya.
" Yaudah kalian duluan tar aku nyusul." Jawabku.
" Aaaah payah brondong kau Wid." Kata Ana.
" Sssst kalau ngomong! sembarangan aja." Jawab Mbak Widia dan mereka pun berjalan menuju lantai dansa.
Tinggallah aku sendiri menatap meja dengan minuman yang seakan menyapaku untuk kembali meminumnya. Tertegun disini menyaksikan beberapa orang berjoget ria menikmati malam. Tanpa sadar kepalaku sesekali ikut bergoyang meski dengan suasana yang tidak nyaman. Di depan sana di bawah sorot lampu remang remang ramai orang berjoget. Mataku tertuju ke Mbak Widia, nampak sangat asyik bergoyang menikmati hentakan musik. Sesekali mulutnya terlihat bernyanyi mengikuti lirik lagu yang diputar.
Beberapa saat kemudian seorang pria mendekatinya, entah apa yang dibicarakan. Mereka terlihat berjoget bersama berhadap-hadapan sambil terus berbicara satu sama lain di sela-sela pergantian lagu. Aku berfikir mungkin saja temannya yang malam ini datang. Ingin sekali aku bergabung dengan mereka namun aku urungkan. Hanya berusaha menahan rasa kesal saat pria itu sesekali bergoyang sangat dekat dengan Mbak Widia.
Hampir 2 jam lamanya 2 orang bintang tamu malam ini menampilkan aksinya, memainkan musik menghibur pengunjung hingga akhirnya selesai. Mbak Widia pun kembali ke meja bersama ketiga orang temannya namun pria yang berjoget dengan Mbak Widia tidak ikut bergabung.
" Eh, Wid, Awan kita pulang dulu ya! Kalian lanjutin deh sampai pagi!" Kata Vera.
" Lho kok pulang baru juga jam 2?" Jawab Mbak Widia.
" Aaah biarin lah Wid udah pusing banget kepala gw, tar malah gak bisa pulang lagi." Jawab Ana.
" Yaelah Mbak baru segitu aja udah pusing saya abis tiga botol belum kenapa-napa." Jawabku.
" Yeee Lo lagi minum c*ca c*la abis se krat juga gak bakal mabuk." Jawab Ana.
" Yaudah lah gw duluan yak." Kata Vera meninggalkan kami bersama Ana dan Rio.
" Mbak Wid? Mau pulang jam berapa?" Tanyaku.
" Oooh, bentar lagi dah abisin minum dulu nih dikit lagi kok." Jawab Mbak Widia.
" Jangan banyak-banyak Mbak tar pingsan, aku ke toilet dulu ya Mbak." Kataku berjalan melewati kerumunan orang-orang yang berdiri, bergoyang seperti zombie.
" Siapa cowok itu? Bukannya itu yang tadi berjoget dengan Mbak Widia?" Batinku saat langkahku terhenti beberapa meter dari mejaku.
Dari kejauhan aku perhatikan pria itu sedang berbicara serius dengan Mbak Widia. Raut wajah Mbak Widia nampak kesal dan tidak menghiraukan keberadaan lelaki itu. Sesekali lelaki itu berbisik namun dibalas gelengan kepala dari Mbak Widia. Dan pada akhirnya lelaki itu menarik tangan Mbak Widia seperti mengajak pindah dari tempat duduknya. Namun Mbak Widia segera melepaskan tarikan tangan dari lelaki itu membuat pria itu tampak marah. Aku segera berjalan menghampiri mereka berharap apa yang kupikirkan berhasil.
" Hey sayang! Mau nambah lagi minumnya?" Kataku menggeser kursi merapat ke tubuh sebelah kiri Mbak Widia sambil tangan kananku merangkul pinggangnya.
" Eeeh, hhmmm udah Say, aku udah gak kuat." Jawab Mbak Widia menyandarkan kepalanya di pundak kananku seperti mengetahui apa yang aku pikirkan.
" Aaah biasanya segini belum apa-apa, kalau gitu pulang aja yuk, udah pagi."
" Iya mungkin aku lagi gak fit malem ini." Kata Mbak Widia lalu kami berdiri hendak melangkah keluar dari klub malam.
Baru berjalan beberapa langkah pria yang berbicara dengan Mbak Widia menepuk pundakku dari belakang.
" Mbak tunggu di mobil, aku ada urusan sebentar." Bisikku ke Mbak Widia.
" Udahlah Wan gak usah di ladenin, aku sering liat dia disini." Jawab Mbak berbisik lalu menarik tanganku.
" Tenang aja Mbak, saya cuma pengen tau aja orang ini." Kataku meyakinkan Mbak Widia kemudian dia berjalan meninggalkanku. Aku berbalik menatap pria yang menepuk pundakku.
" Ada apa bos?" Kataku kembali duduk di bangku tempatku sebelumnya dan pria itu mengikutiku.
" Heh Lo mau main-main sama gw ya?" Kata pria itu.
" Main apa bos? Udah pagi gini mau main apa lagi?"
" Oke asal Lo tau cewek tadi cewek incaran gw dan Lo udah berani ganggu rencana gw."
" Lah siapa yang ganggu? Itu namanya Widia cewek gw, dan gw yang ajak kemari. Jadi gak ada urusannya sama Lo. Paham?" Kataku hendak berdiri namun tangan lelaki itu dengan mencegah langkahku.
" Hahahahahaha, mau kemana bro? Jangan buru-buru lah. Lo bisa bebas di mari tapi di luar belum tentu Lo bisa lari. Lo gak tau kan siapa gw?" Kata pria itu mengeluarkan dompet dari saku celana, menunjukkan sebuah lencana dan kartu tanda dia seorang penegak hukum. Aku hanya terdiam menunduk tanpa berani menatap pria itu.
" Jadi gimana lo udah tau kan? Mending gak usah ambil resiko dan cari masalah bro. Hari ini gw masih berbaik hati, jadi mending Lo pulang dan jangan pernah gw sampai liat Lo kemari lagi. Kalau cewek tadi boleh lah, hahahahahaha. Anak kemaren sore aja udah sok-sok an." Kata pria itu beranjak sambil menepuk-nepuk pundakku.
" Hahahahahaha njiir, mimpi apa gw semalem ketemu orang kaya Lo bos, Lo kira ini bar punya nenek Lo, mau gw kemari mau kagak terserah gw. Emang gw minta dibayarin Lo, hahahahahaha" Kataku menghentikan langkah lelaki itu dan kembali duduk.
" Ooooh Lo bener-bener mau cari masalah sama gw?" Kata pria itu memegang dan menekan pundakku.
" Eit tenang dulu bos, santai aja sekarang mau Lo itu dokter, hakim, pengacara, anak menteri, apapun itu gw gak peduli. Kalau Lo sangka gw takut sama ancaman, Lo salah orang bos. Lo kira gw takut sama pol*si macem Lo. Sini bos coba buka mata Lo, nah Lo tau kan orang-orang ini siapa?" Kataku memperlihatkan foto-foto bersama beberapa anggota T*I dan P*lisi termasuk bersama Mas Toha. Pria itu pun nampak terkejut membuka beberapa gambar dari file dihpku. Tidak berapa lama akhirnya dia memberikan hp itu kembali kepadaku.
" Jadi gimana? Gw yakin Lo pasti kenal kan beberapa orang ini? Lo macem-macem doooor abis karir bahkan nyawa Lo." Kataku melangkah pergi meninggalkan P*lisi yang malam ini mungkin tersesat hingga harus terdampar di tempat ini.
Tok. Tok.
Sura kaca mobil aku ketuk.
" Iiiihh lama banget Wan, gw takut Lo kenapa-napa?" Kata Mbak Widia keluar dari mobil kedua tangannya memegang pipiku.
" Aaah gak papa kok Mbak, yaudah balik yuk Mbak keburu subuh." Kataku masuk mobil
" Bener Lo gak papa Wan? Terus gimana kok bisa...."
" Bisa lah hehehehe yaudah ntar saya ceritain lain waktu, langsung pulang kan?" Kataku mulai menginjak pedal gas.
" Iya lah, udah pagi mau kemana lagi?"
" Ya kirain mau kemana lagi gitu?"
" Mau kemana? Udah deh jangan aneh-aneh, arah rumah aja."
" Siap boss."
Mobil kembali melaju menuju rumah Mbak Widia, melewati jalanan yang cukup sepi hingga sangat cepat kami tiba. Setelah mobil terparkir dan yang punya mobil tiba dengan selamat aku berpamitan. Tawaran menginap aku tolak dengan alasan harus pulang karena sudah berjanji dengan Indri. Mbak Widia akhirnya mengijinkanku pulang meski kekhawatiran tampak diraut wajahnya yang tetap cantik dengan mata yang mulai dipaksakan untuk terjaga.
Aku pulang menyusuri jalanan ibu kota yang dingin, di waktu seperempat malam menjelang pagi. Sesekali beberapa orang yang mengendari motor klasik seperti ku menyapa dengan geberan suara gas dan acungan jempol. Dini hari waktu mereka pulang dari acara kumpul-kumpul komunitas atau mereka menyebutnya kopdar.
Malam yang panjang bersama wanita cantik atasanku sendiri. Aku menikmatinya meski tetap saja memikirkan tentang dia yang telah berlalu dan masih menjadi teka-teki hingga di pagi menjelang subuh ini. Kubuka perlahan pintu tempat kos dengan kunci serep, ternyata Indri terlelap di atas spring tempat tidurku. Aku cium keningnya, lalu kembali merebahkan diri di matras, memejamkan mata untuk mengistirahatkan raga.
" Assalamualaikum." Sapaku dari luar gerbang dikala waktu menunjukkan pukul 20 lewat 8 menit.
" Walaikumsallam." Jawab wanita dengan celana jeans hitam dan kaos putih polos tertutup cardigan hitam berjalan membuka gerbang rumah.
" Mau masuk dulu atau langsung jalan Wan?" Tanya Mbak Widia.
" Hmmm, jalan dulu aja mbak baru nanti masuknya." Jawabku.
" Maksudnya?"
" Ya kalau Mbak Widia udah siap langsung aja Mbak, tar kalau gak kemaleman baru saya mampir gitu. Oh iya Marsha udah tidur?"
" Yeee dateng-dateng ya di tanya Marsha, mamanya gak di tanyain nih? Hehehehe."
" Hehehehe ya kan mau di tinggal jalan mamanya takutnya rewel gitu Mbak, kan kasihan."
" Oooh, udah tidur dia, yaudah aku ambil tas dulu ya bentar." Kata Mbak Widia kembali masuk ke dalam rumah dan gerimis turun seolah langit berusaha menghalangi acaraku malam ini.
" Yaaah ujan Wan, hmmmm pakai mobil aja ya!" Kata Mbak Widia.
" Oke Mbak, saya masukin dulu motornya." Jawabku.
Beberapa saat kemudian kami berangkat menuju daerah selatan kota Jakarta. Ditemani gerimis dan sorot lampu kendaraan membuat suasana sangat meneduhkan hati. Disampingku duduk seorang wanita cantik, wangi parfumnya menggairahkanku untuk terus menginjak gas. Sesekali bibir sensualnya bernyanyi mengikuti lirik dari lagu yang keluar speaker mobil. Dinginnya suasana malam ini membuat pikiran ku melayang. Membayangkan hal yang kebanyakan lelaki pikirkan saat harus bersama wanita dengan keindahan lekuk tubuhnya. Terbukanya pintu mobil membuyarkan imaginasiku, kami keluar mobil berjalan menuju meja makan di salah satu resto dengan konsep minimalis. Sangat minimalis karena tanpa atap, hanya ada kursi plastik dan meja kayu. Meskipun kecil dan berada tepat di pinggir jalan namun sangat ramai pembeli.
" Perasaan gak ada tikungannya kenapa disebut G*lai T*kungan?" Batinku.
" Akhirnya sampai juga, ujannya juga udah berhenti." Kata Mbak Widia menyantap sepotong daging kecil dan nasi hangat.
" Eh Mbak Wid emang kenyang makan segini?" Kataku melihat porsi yang terlalu kecil.
" Ya kenyang laaah, kalau kamu gak kenyang nambah aja sih, tinggal bilang."
" Wah kalau saya sih bisa nambah 3 kali ini ma, porsinya terlalu mini. Oh iya Mbak Wid kok tau tempat ini sering makan disini."
" Sering lah, dulu sama Mas Adit waktu pacaran hampir tiap malam Minggu kesini." Jawab Mbak Widia dengan raut wajah sedikit berubah.
" Oooh, maaf Mbak saya gak bermaksud...."
" Yaudahlah Wan gakpapa kok, semuanya sudah berlalu, eh buruan makannya."
" Iya-iya Mbak, emang udah mau pulang?"
" Ya enggak lah, malahan baru di mulai malam minggunya, hehehehe." Jawab Mbak Widia tersenyum menatapku. Bening matanya menyiratkan kebaikan dan perhatian yang membuatku semakin tertarik dengan wanita di depanku.
38 menit berlalu kami menikmati makanan hingga akhirnya menyisakan tiga piring kosong.
" Mbak, mau kemana lagi kita?" Kataku menyalakan mesin mobil.
" Kan kamu yang ngajakin jalan kok malah nanya aku?" Jawab Mbak Widia.
" Maksudnya siapa tau Mbak Wid ada tempat asyik gitu!"
" Hmmmmm, oooh gitu yaudah kita ikuti angin yang berhembus aja Wan, hehehehe."
" Yaaah serius nih Mbak!"
" Oke, kamu ikuti arahanku aja tar juga sampai kok tempat yang asyik buat nongkrong, pasti kamu suka."
" Naaah gitu dong!"
Mobil menyusuri jalanan basah menuju pusat kota jakarta, mengikuti arahan Mbak Widia hingga kami tiba dilokasi.
" Lho, ini kan?" Kataku saat mobil memasuki gerbang salah satu club malam.
" Iya Wan, emang kenapa kamu gak pernah dugem?" Jawab Mbak Widia.
" Hmmmmm, pernah sih Mbak cuma gak terlalu sering." Jawabku sedikit kaget.
" Terus gimana atau mau ke tempat lain?"
" Hmmm, gak usah Mbak yaah sekali-kali lah kalau asyik kan lain kali bisa kita lanjutin." Kataku keluar dari mobil berjalan menuju puntu masuk klub malam.
Mbak Widia berjalan disampingku, tanpa gandengan tangan yang sedikit aku harapkan. Suasana gelap saat tiba di dalam hanya kelap-kelip lampu LED warna warni yang menyala. Hentakan musik menenggelamkan pengunjung larut dalam kegembiraan. Seolah aku kembali ke beberapa tahun yang lalu, suasana yang hampir serupa membuatku tertegun sejenak. Mengingatkan semuanya saat aku harus berdiri diantara mimpi dan nyata. Menyaksikan surga di atas pedihnya kehidupan dan derai air mata. Dan malam ini aku kembali kesini meski dengan orang, tempat dan momen yang berbeda.
" Hey kok bengong aja, duduk situ yuk." Kata Mbak Widia menarik tanganku sambil berbisik sangat dekat di telingaku karena kencangnya suara musik
" Mbak Wid sering ke klub malam Mbak?" Tanyaku sesaat kami duduk di kursi bulat dengan meja dengan bentuk yang sama.
" Yaaah nggak sering sih paling kalau libur aja dan Marsha lagi bisa di tinggal. Kamu mau pesen apa?" Jawab Mbak Widia.
" Hhhhmmmm, aku C*ca C*la aja Mbak!"
" Hah? Gak minum yang....."
" Nggak Mbak, takut mabuk tar bahaya lagi bawa mobilnya."
" Yaaaaah payah kamu Wan, emang kamu gak pernah minum-minum kaya gini ya?"
" Pernah sih Mbak, yaaah cuma iseng-iseng aja. Rasanya pahit jadi gak terlalu suka."
" Hahahahaha, kalau manis ma jus kali Wan." Jawab Mbak Widia lalu memesan minuman ke waiters yang datang dengan cara yang unik. Cukup menyalakan korek api dan di acungkan ke atas maka waiters akan datang menghampiri korek itu.
" Wow, kuat mbak segitu diabisin sendiri?" Kataku melihat sebotol minuman meski dengan kadar alkohol yang tidak terlalu tinggi.
" Ya kalau gak abis kamu bantuin lah, hehehehe dari tadi main hp mulu sih? Taruh napa."
" Ini aku ngabari adikku kalau pulangnya telat, takutnya nunggu sampai pagi lagi."
" Ooooh kirain." Kata mbak Widia menyalakan rokok lalu mulai menikmati minuman membuat tenggorokan ini terasa haus.
" Hey, Wid udah lama kau datang?" Kata salah satu dari 2 orang wanita dan seorang pria menghampiri meja kami.
" Belum Ver, kok kalian disini juga?"
" Yeeeeee, harusnya juga gw yang nanya kok Lo tumben kemari biasanya mainnya di jakarta barat." Jawab wanita itu.
" Yaaa lagi pengen aja kemari, hehehehe, oh iya kenalin nih temen gw ehhhmmm rekan kerja gw di kantor. Oh iya Wan nih temen kuliah gw dulu kenalin." Kata Mbak Widia.
Aku mengulurkan tangan berkenalan dengan mereka yang lalu bergabung di meja kami. Meja kembali penuh dengan beberapa botol minuman meski aku tetap memilih softdrink dan air putih.
Menjelang tengah malam suasana semakin ramai terlebih saat seorang yang mungkin cukup terkenal di dunia gemerlap malam keluar memainkankan piringan hitam. Bintang tamu paling dinantikan malam ini meski aku tidak pernah mendengarnya. Sorak Sorai pengunjung bergemuruh saat bintang tamu itu memulai penampilannya. Kedua tangannya sangat terampil memutar-mutar tombol dan memainkan disk hitam seperti menghipnotis pengunjung untuk berdiri, bergoyang mengikuti setiap hentakan musik.
" Bangun dong Wan, masa mau duduk aja." Kata Mbak Widia beranjak bersama ketiga temannya.
" Yaudah kalian duluan tar aku nyusul." Jawabku.
" Aaaah payah brondong kau Wid." Kata Ana.
" Sssst kalau ngomong! sembarangan aja." Jawab Mbak Widia dan mereka pun berjalan menuju lantai dansa.
Tinggallah aku sendiri menatap meja dengan minuman yang seakan menyapaku untuk kembali meminumnya. Tertegun disini menyaksikan beberapa orang berjoget ria menikmati malam. Tanpa sadar kepalaku sesekali ikut bergoyang meski dengan suasana yang tidak nyaman. Di depan sana di bawah sorot lampu remang remang ramai orang berjoget. Mataku tertuju ke Mbak Widia, nampak sangat asyik bergoyang menikmati hentakan musik. Sesekali mulutnya terlihat bernyanyi mengikuti lirik lagu yang diputar.
Beberapa saat kemudian seorang pria mendekatinya, entah apa yang dibicarakan. Mereka terlihat berjoget bersama berhadap-hadapan sambil terus berbicara satu sama lain di sela-sela pergantian lagu. Aku berfikir mungkin saja temannya yang malam ini datang. Ingin sekali aku bergabung dengan mereka namun aku urungkan. Hanya berusaha menahan rasa kesal saat pria itu sesekali bergoyang sangat dekat dengan Mbak Widia.
Hampir 2 jam lamanya 2 orang bintang tamu malam ini menampilkan aksinya, memainkan musik menghibur pengunjung hingga akhirnya selesai. Mbak Widia pun kembali ke meja bersama ketiga orang temannya namun pria yang berjoget dengan Mbak Widia tidak ikut bergabung.
" Eh, Wid, Awan kita pulang dulu ya! Kalian lanjutin deh sampai pagi!" Kata Vera.
" Lho kok pulang baru juga jam 2?" Jawab Mbak Widia.
" Aaah biarin lah Wid udah pusing banget kepala gw, tar malah gak bisa pulang lagi." Jawab Ana.
" Yaelah Mbak baru segitu aja udah pusing saya abis tiga botol belum kenapa-napa." Jawabku.
" Yeee Lo lagi minum c*ca c*la abis se krat juga gak bakal mabuk." Jawab Ana.
" Yaudah lah gw duluan yak." Kata Vera meninggalkan kami bersama Ana dan Rio.
" Mbak Wid? Mau pulang jam berapa?" Tanyaku.
" Oooh, bentar lagi dah abisin minum dulu nih dikit lagi kok." Jawab Mbak Widia.
" Jangan banyak-banyak Mbak tar pingsan, aku ke toilet dulu ya Mbak." Kataku berjalan melewati kerumunan orang-orang yang berdiri, bergoyang seperti zombie.
" Siapa cowok itu? Bukannya itu yang tadi berjoget dengan Mbak Widia?" Batinku saat langkahku terhenti beberapa meter dari mejaku.
Dari kejauhan aku perhatikan pria itu sedang berbicara serius dengan Mbak Widia. Raut wajah Mbak Widia nampak kesal dan tidak menghiraukan keberadaan lelaki itu. Sesekali lelaki itu berbisik namun dibalas gelengan kepala dari Mbak Widia. Dan pada akhirnya lelaki itu menarik tangan Mbak Widia seperti mengajak pindah dari tempat duduknya. Namun Mbak Widia segera melepaskan tarikan tangan dari lelaki itu membuat pria itu tampak marah. Aku segera berjalan menghampiri mereka berharap apa yang kupikirkan berhasil.
" Hey sayang! Mau nambah lagi minumnya?" Kataku menggeser kursi merapat ke tubuh sebelah kiri Mbak Widia sambil tangan kananku merangkul pinggangnya.
" Eeeh, hhmmm udah Say, aku udah gak kuat." Jawab Mbak Widia menyandarkan kepalanya di pundak kananku seperti mengetahui apa yang aku pikirkan.
" Aaah biasanya segini belum apa-apa, kalau gitu pulang aja yuk, udah pagi."
" Iya mungkin aku lagi gak fit malem ini." Kata Mbak Widia lalu kami berdiri hendak melangkah keluar dari klub malam.
Baru berjalan beberapa langkah pria yang berbicara dengan Mbak Widia menepuk pundakku dari belakang.
" Mbak tunggu di mobil, aku ada urusan sebentar." Bisikku ke Mbak Widia.
" Udahlah Wan gak usah di ladenin, aku sering liat dia disini." Jawab Mbak berbisik lalu menarik tanganku.
" Tenang aja Mbak, saya cuma pengen tau aja orang ini." Kataku meyakinkan Mbak Widia kemudian dia berjalan meninggalkanku. Aku berbalik menatap pria yang menepuk pundakku.
" Ada apa bos?" Kataku kembali duduk di bangku tempatku sebelumnya dan pria itu mengikutiku.
" Heh Lo mau main-main sama gw ya?" Kata pria itu.
" Main apa bos? Udah pagi gini mau main apa lagi?"
" Oke asal Lo tau cewek tadi cewek incaran gw dan Lo udah berani ganggu rencana gw."
" Lah siapa yang ganggu? Itu namanya Widia cewek gw, dan gw yang ajak kemari. Jadi gak ada urusannya sama Lo. Paham?" Kataku hendak berdiri namun tangan lelaki itu dengan mencegah langkahku.
" Hahahahahaha, mau kemana bro? Jangan buru-buru lah. Lo bisa bebas di mari tapi di luar belum tentu Lo bisa lari. Lo gak tau kan siapa gw?" Kata pria itu mengeluarkan dompet dari saku celana, menunjukkan sebuah lencana dan kartu tanda dia seorang penegak hukum. Aku hanya terdiam menunduk tanpa berani menatap pria itu.
" Jadi gimana lo udah tau kan? Mending gak usah ambil resiko dan cari masalah bro. Hari ini gw masih berbaik hati, jadi mending Lo pulang dan jangan pernah gw sampai liat Lo kemari lagi. Kalau cewek tadi boleh lah, hahahahahaha. Anak kemaren sore aja udah sok-sok an." Kata pria itu beranjak sambil menepuk-nepuk pundakku.
" Hahahahahaha njiir, mimpi apa gw semalem ketemu orang kaya Lo bos, Lo kira ini bar punya nenek Lo, mau gw kemari mau kagak terserah gw. Emang gw minta dibayarin Lo, hahahahahaha" Kataku menghentikan langkah lelaki itu dan kembali duduk.
" Ooooh Lo bener-bener mau cari masalah sama gw?" Kata pria itu memegang dan menekan pundakku.
" Eit tenang dulu bos, santai aja sekarang mau Lo itu dokter, hakim, pengacara, anak menteri, apapun itu gw gak peduli. Kalau Lo sangka gw takut sama ancaman, Lo salah orang bos. Lo kira gw takut sama pol*si macem Lo. Sini bos coba buka mata Lo, nah Lo tau kan orang-orang ini siapa?" Kataku memperlihatkan foto-foto bersama beberapa anggota T*I dan P*lisi termasuk bersama Mas Toha. Pria itu pun nampak terkejut membuka beberapa gambar dari file dihpku. Tidak berapa lama akhirnya dia memberikan hp itu kembali kepadaku.
" Jadi gimana? Gw yakin Lo pasti kenal kan beberapa orang ini? Lo macem-macem doooor abis karir bahkan nyawa Lo." Kataku melangkah pergi meninggalkan P*lisi yang malam ini mungkin tersesat hingga harus terdampar di tempat ini.
Tok. Tok.
Sura kaca mobil aku ketuk.
" Iiiihh lama banget Wan, gw takut Lo kenapa-napa?" Kata Mbak Widia keluar dari mobil kedua tangannya memegang pipiku.
" Aaah gak papa kok Mbak, yaudah balik yuk Mbak keburu subuh." Kataku masuk mobil
" Bener Lo gak papa Wan? Terus gimana kok bisa...."
" Bisa lah hehehehe yaudah ntar saya ceritain lain waktu, langsung pulang kan?" Kataku mulai menginjak pedal gas.
" Iya lah, udah pagi mau kemana lagi?"
" Ya kirain mau kemana lagi gitu?"
" Mau kemana? Udah deh jangan aneh-aneh, arah rumah aja."
" Siap boss."
Mobil kembali melaju menuju rumah Mbak Widia, melewati jalanan yang cukup sepi hingga sangat cepat kami tiba. Setelah mobil terparkir dan yang punya mobil tiba dengan selamat aku berpamitan. Tawaran menginap aku tolak dengan alasan harus pulang karena sudah berjanji dengan Indri. Mbak Widia akhirnya mengijinkanku pulang meski kekhawatiran tampak diraut wajahnya yang tetap cantik dengan mata yang mulai dipaksakan untuk terjaga.
Aku pulang menyusuri jalanan ibu kota yang dingin, di waktu seperempat malam menjelang pagi. Sesekali beberapa orang yang mengendari motor klasik seperti ku menyapa dengan geberan suara gas dan acungan jempol. Dini hari waktu mereka pulang dari acara kumpul-kumpul komunitas atau mereka menyebutnya kopdar.
Malam yang panjang bersama wanita cantik atasanku sendiri. Aku menikmatinya meski tetap saja memikirkan tentang dia yang telah berlalu dan masih menjadi teka-teki hingga di pagi menjelang subuh ini. Kubuka perlahan pintu tempat kos dengan kunci serep, ternyata Indri terlelap di atas spring tempat tidurku. Aku cium keningnya, lalu kembali merebahkan diri di matras, memejamkan mata untuk mengistirahatkan raga.
0