- Beranda
- Stories from the Heart
(Horror true story) Berawal dari penasaran hingga menjadi fatal
...
TS
sikodir.kodir
(Horror true story) Berawal dari penasaran hingga menjadi fatal

Prolog
heningkan cipta sejenak utk para pahlawan kita yg berjuang dan mempersembahkan kemerdekaan NKRI.
Quote:
Halo agan dan sista penghuni kaskus khususon di forum SFTH. Perkenalkan, nama gw Fadli Arya Putra (tentunya nama ada yg gw samarkan). Sebelumnya gw jg curcol di forum H2H, tp kali ini gw ingin berbagi kisah nyata yg gw jalani dan alami selama ini. Kenapa gw ngasih cover seperti gambar diatas?? Karena ada hubungannya dengan perjalanan hidup gw dan mengubah hidup gw (jauh dari agama). Kisah ini awal di mulai 16 tahun yg lalu. Atau lebih tepatnya di awal tahun 2001 hingga sekarang belum selesai. Semua berawal dari rasa penasaran hingga menjadi fatal. Mohon maaf jika tulisan dan bahasa gw amburadul. Karena gw bukan penulis. Disini gw hanya ingin berbagi kisah, berharap tidak ada yg mengalaminya selain gw. Jd gw mohon kaskuser yg membaca kisah nyata gw ini dengan bijak dan jgn asal nge-judge. Dan bagi yg kenal gw cukup diem aja.
*Nb : selama gw masih bisa update berarti gw masih selamat/hidup. Gw janji enggak bakalan kentang. Dan mohon tinggalkan jejak!

Quote:
side story
Quote:
cerita Diponegoro (cerita sampingan)
Quote:
Diubah oleh sikodir.kodir 06-12-2017 11:13
ueki19 dan 34 lainnya memberi reputasi
33
773.2K
1.9K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
sikodir.kodir
#1166
Warisan 1.1
Quote:
Waktu terus berjalan..getir hati yg ku rasakan, aku singkirkan. Kini hari berganti hari saya lalui tanpa gina. Tanpa seorang pendamping yg tulus mengerti akan kondisi ku. Tp sekarang aku sudah menyingkirkan. Secepat itu kah aku melupakan kasih sayangnya ? Ya, benar, secepat itu !
Seiring berjalannya waktu, saya menjadi mengerti bahwa tidak ada sosok yg seperti gina. Tp semua sudah terlambat..nasi sudah menjadi bubur. Setelah dua bulan kecelakaan yg di alami gina, gina dijodohkan keluarga nya. Saya menerima undangannya. Gina dan calon suami nya sendiri yg memberikan undangan acara akad dan resepsi ke saya. Langkah dan lembaran baru bagi gina. Saya harus merelakannya.
Bisnis yg saya jalankan jg berjalan lancar. Selain mendapatkan modal dari warisan, saya mendapatkan modal dari bank. Menikmati ? Ya saya saat itu menikmati uang haram yg mengalir. Saya tidak mau munafik atas hal itu. Tp saya masih menutupi rapat2 ke keluarga. Kalau ditanya kok bisa semudah ini jalannya ? Saya menjawab ya begini lah kalau mau bekerja keras dan ulet. Sungguh kebohongan semua yg saya ucapkan.
Saya tenggelam dalam gemerlapnya duniawi. Saya makin menjauh dari sang pencipta. Makin melupakannya.. tp malah makin menikmati hasil haram duniawi ini. Sungguh..saya adalah salah satu orang yg akan merugi dikemudian hari. Karena apa yg saya perbuat di dunia maka harus saya pertanggung jawabkan di kehidupan selanjutnya. Tak satu pun orang yg dapat menjamin dirinya. Semua akan terhakimi. Tiada dusta diri yg tak terhakimi. Itu pasti..
"Mas...kok baru kelihatan ? Ambil barang2nya bapak yg masih di kantor ya ?" Ucap pak giyono yg tanpa saya sadari sudah berdiri dibelakang saya.
"Eh...bapak"
"Iya ni pak baru sempat ke kantor alm.bpk buat ambil barang2" jawab saya menyalami beliau.
Semua mata di ruangan lantai 3 gedung berlian prov.jateng tertuju ke saya. Mungkin mereka (rekan kerja alm.bpk) melihat saya seperti melihat sosok almarhum yg sedang berdiri meja merapikan barang2.
"Mas fadli lupa sama tawaran saya ?"
"Oh...tawaran sowan (bertamu) ke rumah pak giyono ya ?" Jawab saya berlagak mengingat apa yg dimaksud tawaran tsb.
"Hmmm....kalau apa yg saya ucapkan gak penting, maka saya gak akan pernah bilang mas"
Kali ini ucapan beliau agak sedikit berbisik dengan mimik muka yg serius.
"Ya pak, nanti malam hbs isya saya sowan (bertamu) ke rumah bapak"
Beliau berpesan ke saya, saya harus datang sendirian ke rumah beliau. Tak lama kemudian beliau pamit karena sebentar lg mengikuti sidang paripurna.
Tepat jam 19.00wib saya berangkat menuju ke rumah pak giyono. Jarak yg saya tempuh cukup jauh karena rumah pak giyono berada di perbatasan kota semarang. Lebih tepatnya di daerah semarang timur.
"Kayaknya ini rumahnya"
Ucap saya pd diri sendiri setelah yakin rumah yg saya tuju tidak salah. Saya menekan bell di pintu depan rumahnya. Tak lama kemudian ada yg membuka nya. Wajah yg familiar bagi saya. Wajah yg tidak begitu terlihat tua, kumis yg khas, dan memakai kopiah. Pak giyono sendiri yg membuka pintu.
"Sudah lama ya mas menunggu ?" Sapa beliau basa basi.
"Ah enggak kok pak, barusan sekali mencet bell sudah dibukain bapak" jawab saya.
"Mari mas masuk...terakhir main kesini sama bapak ngasih undangan mas fredi nikahan itu ya mas ?" Ucap beliau sambil berjalan memasuki rumah membelakangi saya.
"Iya pak, betul.."
Jawab saya sambil melihat halaman rumah beliau ada yg sedikit berbeda. Biasanya saya melihat ada kandang ular yg lumayan besar di pekarangan rumahnya.
Pak giyono orangnya selain kejawen dan suka aneka satwa juga sangat menyukai gebyok dan ukiran kayu jati. Terlihat hampir yg menempel di rumahnya terbuat dari kayu jati. Lukisan dan beberapa tokoh wayang di ruang tamu juga menunjukan kecintaan beliau terhadap seni. Saat itu di rumah pak giyono hanya ada beliau, sopir pribadi nya dan pembantu rumah tangga. Kebetulan keluarga (istri dan anak2 beliau) sedang pergi berlibur.
"Mas mau minum apa ? Ning kene ora ono congyang hehe (disini tidak ada congyang alias minuman keras)" ucap beliau menawarkan keramahannya sambil bercanda.
"Air putih saja pak.." jawab saya
"Mosok adoh2 kok ngombe toyo petak ! Duh gusti... wedangan wae ya ? (Masak jauh2 kok minum air putih ! Aduh Tuhan... minum yg hangat2 aja ya ?)"
"Mbak...! Beliin wedang ronde di depan gang sana. Sama beli martabak"
Beliau menyuruh mbak rewang utk memberi suguhan tamu nya (saya).
"Duh pak kok repot2 sih..."
Saya merasa sungkan atas jamuan beliau.
"Repot piye ? Nek sampeyan jaluk e dijamu ning tempat pijet lha kui baru ngerepoti (repot gmn ? Kalau kamu minta nya dijamu di tempat pijet lha itu baru repotin)"
"Asu...hahahahaa"
"Huahahahaaa lha ngono(begitu) lho kyk bapak mu. Aku seneng kalau km ceplas ceplos kyk alm.bapak"
beliau tertawa karena ucapannya membuat saya dongkol.
Ya omongan saya memang ceplas ceplos. Bukan saya tidak menghormati atau tidak sopan ke beliau yg lebih tua dengan saya berucap seperti itu. Tp kedekatan emosional keluarga saya dan beliau lah yg menjadi seperti tidak ada batas.
"Begini mas fadli, tujuan bapak mengundang mas fadli ke rumah bukan utk sekedar guyonan saja. Ada yg harus bapak sampaikan..."
Ucapan dan mimik muka pak giyono berubah 180 derajat. Yg tadi masih bercanda, sekarang berubah serius.
"Bisa dikatakan ini warisan mas..warisan dari bapak mas fadli. entah mas fadli siap atau tidak siap, bisa melihat atau tidak, tp ini tetap harus di berikan ke garis keturunan keluarga alm.bapak mas fadli"
"Maksud bapak apa ?"
Tanya saya ke beliau karena belum mengerti maksudnya.
"Kalau ini kebaikan mas fadli mau menerima ? Tp kalau ini masih samar, apa mas fadli juga mau menerima ??" Ucap beliau.
bersambung..
Nb : utk part warisan memang sengaja saya update nya gak panjang2. Daya ingat saya yg agak sedikit lupa di bagian ini. Tp saya berusaha mengingat sedetail mungkin. Jd mohon di maklumi ya gan. Part selanjutnya yg akan saya update mari kita flashback sejenak ke cerita gina 1.2 (cerita sebelumnya gina 1.1).
Diubah oleh sikodir.kodir 10-11-2017 21:22
as1313 dan 2 lainnya memberi reputasi
3