Kaskus

Story

manzhah88Avatar border
TS
manzhah88
Rasanya Menyakiti [BB++]
Rasanya Menyakiti [BB++]

Hello Gays..
Kita bertemu lagi setelah sekian lama ane vakum dari dunia perKASKUSan..

Salam kenal uga buat para sepuh di SFTH dan seluruh penghuni jagad KASKUS.

Beberapa tahun yang Lalu ane pernah menulis sebuah cerita dan karena pekerjaan memaksa ane untuk berhenti menulis saat itu.
Tapi sekarang ALHAMDULILAH pekerjaan sudah mendukung ane untuk kembali menulis.
Dan ane janji ane bakal menulis serapih - rapihnya dan tidak mengentangi pembaca.

Oke langsung aja dan selamat menikmati dan berimajinasi.. emoticon-Ngacir

Quote:


Rasanya Menyakiti [BB++]

PROLOG

Apakah aku bersalah jika aku melakukan semua ini??
Dan jika memang bersalah. Bagaimana dengan orang tuaku yang menyebabkan semua ini??
Apakah menjadi orang tua maka mereka tidak bersalah??
Entahlah.. Mungkin waktu yang akan menjawab semua tanyaku..

Pertanyaanya sekarang adalah " apakah aku menikmati semua ini??"
Ya!!
Aku menikmatinya.
Tapi.. Aku benar - benar mencintai mereka..
Atau jangan - jangan hanya sekedar ... ??

Quote:
Diubah oleh manzhah88 09-11-2017 16:21
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
11.7K
69
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread54.2KAnggota
Tampilkan semua post
manzhah88Avatar border
TS
manzhah88
#33
Legend Of Binatang Among - Among
Agustus, 24

malam yang cerah dengan hitam tapi ada sedikit warna kebiruan gelap dan titik - titik putih berkelap - kelip.

Plak
"GAPLE..!!" teriak salah satu bapak2 penghuni kontrakan di tempatku tinggal ini.
suasana ramai ini kerap terjadi hampir setiap malam sebagai ajang para bapak - bapak untuk sekedar melepas penat sembari menjaga keamanan.
aku nikmati kopi hitamku dan tiap Batang rokok yang kubakar dalam obrolan yang cukup seru malam ini bersama 4 orang laki - Laki setengah baya.

"Lu kok tinggal sendiri man? orang tua kemana? masi sekolah gini kok Lu dilepaskan sendiri?" tanya pak Hamid, salah seorang bapak - bapak dengan tubuh kekar dan kumis tebal yang sangat menambah wibawanya.

"orang tua saya, karna sesuatu harus pulang ke Jawa pak, saya ga mau pindah sekolah jadi saya lanjutin disini, lagian sendirian ga buruk - buruk amat kok, hhe" jawabku asal nyeplos.

"ati - ati Lu, jangan kebawa yang engga - engga" potong pak Sunadi salah satu bapak - bapak yang berkumpul bersamaku.

Kriiing
suara telponku berbunyi memecah obrolan kami.

"Iya yah, ada apa?" jawabku ke HP yang menelpon adalah ayahku.

"kamu ngontrak dimana? ayah mau ke sana sekarang" tanya ayahku.

"Jl. Agus Salim no 1**" ujarku.

"yaudah ayah kesana" ujar ayahku.

"iya ati - ati" belum sempat menjawabku telpon sudah tertutup.

"bapaLu man?" tanya pak Hamid dengan raut wajah penasaran.

"iya pak, dia mau kesini" jawabku seadanya.

15 menit berlalu dan ayahku mengabari bahwa dia sudah di depan gerbang kontrakanku.

"saya tinggal dulu pak, bapak saya udah di depan biar saya jemput masuk" ucapku sembari meninggalkan para manusia paruh baya itu.

"inov*? sejak kapan dia punya mobil? ah mungkin milik temanya" gumanku sendiri dalam hati sembari mencium tangan dan memeluk ayahku.

"kamu tinggal disini? ini ayah beliin dispenser sama kasur, tadi ayah pulang komputernya uda kamu bawa kata Ibu, tapi kamu butuh TV ga?" ayahku tak henti berbicara dan aku asumsikan dia senang sekali bertemu denganku.

"alhamdulilah, akhirnya ga tidur di ubin" ucapku sekenanya.

ayahku mengusap kepalaku sembari tersenyum
dan kamipun mengangkut segala perabotan yang ayahku bawa ke dalam kontrakan, dan bapak - bapak yang tadi menemani obrolan malamku tak melepaskan pandangannya dari kami

"mau tinggal disini juga pak" sapa salah satu tetanggaku itu.

"oh engga, saya cuma nganterin barang - barangnya iman aja, setelah ini saya langsung mau ke Bogor ada kerjaan" jawab ayahku dengan sesopan mungkin.

"oh begitu, yasudah mari kami bantu pak" pak Sunadi langsung berdiri dan diikuti yang lainya membantu kami.


"trus kelanjutannya gimana ini yah" tanyaku pada ayahku yang sedang duduk di depan pintu.

"pokonya iman tinggal disini dulu ya, maaf ayah ga bisa lagi pertahanan ibu" jawab ayahku dengan mata yang mulai berkaca - kaca.

"jangan dipertahankan yah" aku tak kuasa membendung air mataku.

"iya, ayah tau kamu pasti bilang begitu, akhirnya kamu tau kan alasan ayah selalu ga bisa nahan emosi saat debat sama ibumu" ujar ayahku dengan air mata menemani obrolan 2 orang pria malam ini.

"man kamu pegang ini, nanti ayah tranferin kamu, kamu tinggal telpon aja kalo kamu butuh ya" ayahku menyodorkan ATM Bank BC* padaku.

"lah terus ayah megang apa?" tanyaku bingung
"ayah ada lagi, itu sengaja ayah bikin kemarin buat kamu" jawab ayahku datar.

"oh, yaudah bisa jajan, hehehe" jawabku manja seperti anak kecil.

"jangan boros, beli yang kamu perlu - perlu aja" jawab ayahku dengan nada tegas.

"iya - iya" jawabku dengan senyum manja ke ayahku.

"yaudah ayah tinggal dulu, nanti ayah telpon lagi ya, kamu jaga kesehatan, jangan ngelakuin yang aneh - aneh" ujranya.

"iya, ati - ati" aku tak menanyakan apa - apa karna aku tau kesibukan ayahku sebagai sopir seorang Bos di salah satu perusahaan swasta di Jakarta bahkan aku dengar Bosnya itu orang asing.

aku langkahkan kakiku kearah bapak - bapak yang tadi menemaniku mengobrol dan waktu telah menunjukan pukul 23.22 cukup malam untuk seorang anak sekolahan sepertiku, tapi apa daya karena kopiku tadi belum habis
aku nyalakan kembali rokokku menikmati setiap hembusan nafasku
dari pendengaran ku sepertinya semakin malam obrolan ini semakin menjurus.

"Man" sapa pak pudin, menurutku orang ini paling supel diantara yang lainya.

"iya pak" jawabku agak penasaran.

"Lu mau gw ajarin cara ngerayu wadon ga? biar dapat jatah" jawabnya dengan agak semangat.

"hehehehehehehe" aku jawab dia hanya dengan tawa berpura - pura polos.

"nih dengerin bae bae ya" jawabnya dengan senyum lebar diwajahnya.
cowo : kamu udah pernah liat binatang among - among belom?
cewe : belom, apaan tu?
cowo : kamu tutup mata dulu, nanti pas ngeliat jangan teriak, soalnya dia takut ama suara bisa mati lemes dia
cewe : iya aku tutup mata ( disini Lu harus mulai ngebuka clana Lu man )
cowo : kamu udah boleh buka mata kamu
pasti langsung dikeny*t tuh among - among hahahahahaha" kelakar pak pudin diikuti tawa seluruh bapak - bapak dan termasuk aku tertawa geli dan lepas dimalam yang sunyi ini.

"Binatang among - among? Leh uga" pikirku dalam hati sambil nyengir sendiri

-------------

Agustus, 25

sore sepulang sekolah aku mengistirahatkan tubuhku di kasur nyaman pemberian ayahku.

"mandi dulu terus tidur enak nih" pikirku dalam hati.

Kreeek
Suara pintu triplek terbuka.
"MAAAN, GW PINJEM KOMPUTER LU YA" teriak vebrina masuk tanpa permisi dan langsung memainkan komputerku.

"IYA, GW MANDI" jawabku berteriak yang tak kalah kencangnya dengan suara vebrina.

selesai mandi aku hanya mengenakan celana pendek tanpa baju dan berselendangkan handuk
aku lihat wajah cantik Vebrina sedang serius di depan komputer.

"Lu lagi ngapain sih?" tanyaku basa basi.

"Belajar Exel" jawabnya tanpa menoleh.

aku mendekatinya agak penasaran dengan apa yang dia kerjakan. semakin dekat pikiranku menjadi semakin aneh, darahku berdesir dari ujung rambut sampai kaki yang dingin karena air setelah mandi ini belum 100% kering
aku dekatkan wajahku ke pundaknya yang hanya memakai tank top longgar.

"Its show time" pikirku dalam hati.
"Veb, Lu pernah liat binatang among - among engga?" tanyaku sedikit gugup.

"Binatang among - among, apaan tu? sejenis marmut ya?" jawabnya sambil menengok dan wajah kami begitu dekat.

--------------

Tak akan ada yang dimulai jika kita mengawalinya dengan sebuah ketakutan.
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.