- Beranda
- Stories from the Heart
Kisah Sebuah Ruangan
...
TS
shinnhard
Kisah Sebuah Ruangan

Spoiler for "Beberapa Kata":
Disebelah rumah yang bangunanya sedikit ditinggikan. Diatas kami ada sebuah jendela yang menghadap ke timur. Aku dan dirinya ada berada di bawah itu. Lebih dekat aku memperhatikannya bahwa wanginya kali ini berbeda. Suatu hal yang refleks buatku. Maksudku, ya seperti itu. Diwajahnya, terlihat sekali. Bahwa dia memang mengecewakan sesuatu. Mungkin, dia berpikir bahwa penjelasannya tadi mengecewakanku.
Quote:
“Aku ngerti kok” kataku
“Kok bisa?” tanyanya sedikit membungkukan badan
“Bisa dong!!”
“Aku kan tanya serius! Lagian kamu bener ngerti kan aku ngomong apa tadi.”
“Kenapa terburu – buru? Kan katamu waktu itu, akan 2 bulan lagi??” Tanyaku sedikit kebingungan.
“Mereka udah nemu tempatnya. Kalau ga salah sih, minggu depan aku udah berkemas”
Aku sedikit menundukan kepalaku. Sepertinya pusing, aku gangerti sih. Kayanya aku ingin menangis deh!
“Kamu menangis? Heii!?” tanyanya sambil menagah melihat wajahku
“Enggak lah kamu bego!!” aku kaget dan juga mendorong tubuhnya.
‘bruk!!’
“Aw!!” katanya
“Ehh?!!!”
“Maafin aku” lanjutku sambil memenggang tubuhnya lagi
Aku tidak sadar. Tangan ini rasanya bergerak sendiri. Dibarengin rasa kekecewaan dan juga emosi. Aku sampai tak bisa mengendalikannya.
“Gapapa, aku ngerti kok” katanya sambil tersenyum lalu berdiri dan juga memegang tanganku.
Dia berdiri.
Sambil tersenyum seperti memaklumi
Lalu, memegang tanganku yang dingin.
“Kamu gapapa kan?”
“Aku. Aku mau beli kalung yang pernah kulihat waktu itu.”
“Lalu, satu bagian buatmu dan satu bagian lagi kusimpan.”
Dia kebingungan mendengarku. Lalu dibarengi dengan senyuman dan kini, kesedihannya terlihat.
Halo!! salam kenal

Disini gue mau nyuguhin suatu cerita yang mungkin berbeda dari kebanyakan orang.
Ini kisah tentang masa kecil gue
dimana mungkin agan/aganwati semua hampir pernah ngalaminnya.Lebih lanjutnya, mending langsung baca aja ceritanya yaa.

RULES
Quote:
1.Untuk yang pertama, dibiasakan membaca bismillah dulu ya gan

2.Rulesnya mengikuti apa yang ada di SFTH aja ya gan

3.Tokoh yang ada disini mungkin 80% benar dan tidak dibuat - buat ya gan. yang merasa elu termasuk tokoh dalam cerita ini(Kegeeran) lu bisa langsung pm ane aja ya

4.Biasakan berkomentar secara sopan yaa gan dan juga tidak terlalu OOT untuk kepentingan bersama

5.Jangan lupa makan

Beberapa pertanyaan yang mungkin diajukan
Quote:
Q: Halo gan, selamat datang di SFTH.
A: Terima kasih semua, senang sekali

Q: Ini cerita asli atau gimana?
A: bagaimana sudut pandang aja sih. mungkin Rules no 3 bisa menjawab

Q: Latar Belakang dimana nih kira - kira?
A: Kota GADIS yaa. Sedikit lebih jauh di ujung. termasuk kabupaten. Sekitaran tahun 2007(Lupa gua)

Q: Ceritanya aneh nih?
A: Nikmati aja ya gan. Gue ngusahaain untuk pake sudut pandang waktu itu. Maklum. Masih bocah
disertain gambar kok biar mudah dipahami. (ngejelasin kalo TS bukan Penulis)Q: Tujuannya bikin tulisan ini buat apa?
A: sebenernya biar diliat salah satu tokoh disini sih gan(Kejujuran membuahkan hasil
) tapi overall buat hiburan semata.Q: Update?
A: Masih belum bisa dibilang sih gan, masih sibuk juga.(Maklum pelajar) Jadi mungkin random

Q: Oke gan mantap
A: Siap gan. silahkan nikmati

INDEKS
Quote:
1. Chapter 0 : Introduction
2. Chapter 1
3. Chapter 2
4. Chapter 3
5. Chapter 4
6. Chapter 5
7. Chapter 6
8. Chapter7
2. Chapter 1
3. Chapter 2
4. Chapter 3
5. Chapter 4
6. Chapter 5
7. Chapter 6
8. Chapter7
Quote:
Untuk para pembaca tercinta. Dimohon untuk yang merasa menjadi salah satu tokoh di cerita ini untuk pm langsung ke ane. Dan juga perlu diketahui bahwa cerita ini tidak seluruhnya benar. Karena ane tidak pernah menulis diary dan juga ingatan ane yang mungkin s *edikit banget. Jadi ane pake cerita ini sebagai acuan. Apa mungkin terjadi di cerita ini berbeda dari kejadian aslinya karena perbedaan prespektif dari semua tokoh.
Salam.

Spoiler for "Edited":
Berhubung ane agak renggang, Jadwal Update dihitung 2 hari sekali ya Gan/Ganwati semuaa

Update : Selasa,Kamis dan Sabtu. (mungkin ada perubahan)
Regards

Diubah oleh shinnhard 07-11-2017 15:34
anasabila memberi reputasi
1
1.9K
Kutip
11
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
shinnhard
#11
Chapter 7:
Hari minggu mungkin gak banyak yang aku lakukan. Sama seperti biasanya. Tetapi aku semangat buat membeli nasi pecel yang dijual di warung sisi jalan favoritku. Biasanya, aku makan di warung pecel itu jam 6 pagi. Kalau hari minggu jam 7 pun gak masalah.
Warung Nasi Pecel favoritku tergolong laris. Kalau aku datang jam 8 lebih, pasti sudah habis. Kalau aku datang pagi, aku bakal dapet nasi yang masih hangat keluar dari panci, lebih enak.
Aku : “Mbak. Aku kaya biasa aja yaa..” kataku ketika duduk di tempat nasi pecel tersebut.
Mbak Lulu: “Eh sena… udah kesini aja masih pagi juga” balas mbak itu.
Mbak Lulu biasanya aku memanggilnya. Itu nama panggilannya.Dia mungkin cukup tua, lebih muda dari nenek ku sih. Mungkin, seumuran dengan mamahku. Orang yang membeli nasi pecelnya juga lumayan banyak.
Aku : “Kalau nggak pagi – pagi nasinya udah gak anget lagi sih!” kataku kepada tukang nasi pecel itu.
Mbak Lulu: “Yaudahh.. nihh pakai kuah juga kann??” tanya Mbak Lulu
Aku : “Iyaa” kataku
Aku harus cerita, nasi pecel mungkin gak pakai kuah yaa. Biasanya kan hanya ada nasi, sayur dan juga bumbu kacang ditambah peyek dibungkus dengan daun pisang. Tetapi, aku lebih suka menambahkannya dengan kuah yang khusus dibuat sama Mbak nya ini. keliatannya aneh tapi aku suka, jadi aku lebih suka beli disini.
Ketika aku sedang menunggu mbak nya membuat nasi pecel, tiba – tiba datang seorang cewek yang mungkin asing bagi orang sini. Cewek yang baru – baru saja diomongin sama aku dan temanku. Kak Adinda.
Dia masuk, lalu menghampiri Mbak Lulu.
Kak Adinda: “Mbak.. nasi pecelnya satu yaa..” kata Kak Adinda
Mbak Lulu : “ehh?? Ohh iyaa tunggu bentar yaa..” balas mbak lulu ketika melihatnya.
Aku kaget! saat melihatnya aku langsung diam, nunduk. Aku pengen cepet – cepet keluar. kalau dia tahu aku disini nanti aku dikira siapa(sindrom kegeeran saat kecil) Lalu pulang lagi kerumah. Laper juga sih. Tapi, kenapa dia malah beli nasi pecel disini? Aku ingat kalau waktu itu aku pernah dibuat bodoh saat ngomong dengannya.
Mbak Lulu : “Senaa!! Gak pake peyek yaa?” tanya mbak lulu sambil berteriak.
Aku sadar lalu melihat ke Mbak Lulu
Aku : “EH??!! Iyaa mbak gak pake peyek!!” aku lalu melihat ke Kak Adinda.
Kak Adinda: “heii.. kamuu??” kata Kak Adinda.
Sial!!! Aku ketahuan. Mbak Lulu pakai teriak sih!! Ketahuan kann!!.
Aku : “i—yaa hai!!” kataku sambil tersenyum. mampus aku!!
Kak Adinda: “Kamu yang waktu itu kan??’ kata dia.
Aku : “Yang dirumah nenek.” balasku masih senyum.
Aku ingin cepat pulang!! mbak Lulu sepertinya curiga melihatku. Lalu hal yang gak aku duga terjadi. Aku mengobrol dengan Kak Adinda sambil menunggu nasi pecel yang aku beli. Tetapi, mungkin Mbak Lulu memang ingin menjahiliku. Jadi dia sedikit lebih lama untuk memberikan Nasi Pecel yang aku pesan. Dan juga malah nasi pecel punya kak adinda di dahulukan.
Aku : “Loh kok mbak dia dulu??!!” kataku sambil bisik.
Mbak Lulu : “ohh maaf mbak lupa.. hehehe..” kata mbak Lulu sambil mengedipkan mata. Aku hanya bisa diam kesal mendengarnya.
Dan karena itu.
Aku.
Berjalan pulang.
Bersama Kak Adinda.
Hadeuhh!! Bisa gawat akuuu!! Apalagi kalau temanku yang lain melihat, mereka nanti bisa bertanya hal yang aneh kepadaku. Kalau aku ingat, Revi lah yang mengetahui lebih awal nama kak Adinda, saat hari jum’at. Aku memang tidak menyebutkan namanya Adinda, dan revi duluan yang menyebutkannya. Jadi, dia yang menang. Dan dia yang mendapatkan kartunya kembali -_-“
Saat dijalan aku hanya diam saja. Kalau aky mengajak ngobrol duluan nanti dikira sok kenal.
Kak Adinda : “Kamu sering beli pecel disini?” tanya Kak Adinda saat sedang berjalan membawa keresek berisi nasi pecel.
Aku : “Iyaa, biasanya aku makan ditempat. Tapi kayanya piringnya belum dicuci jadi ya dibungkus saja” Mbak lulu bohong kepadaku soal ini.
Kak Adinda :“enak tidak sih??!! Aku juga sempet nyasar kesini!” kata Kak Adinda.
Aku jadi teringat kata – kata nenek. bahwa dia baru dan jadinya belum tahu daerah sini.
Aku : “Favoritku... Aku sih lebih suka yang pakai kuah. Jadi aku bilang enak... hehehe..” Balasku dengan senyum kecut.
Kak Adinda : “Pake kuah?”
Aku : “Iyaa.” Aku sedikit berbangga diri. selama ini, cuma beberapa orang saja yang tahu kalau di warung nasi pecel ini bisa menggunakan kuah.. hahaha!
Aku : "Memang aneh sih, tapi lebih enak pake kuah. Mau coba?" tanyaku
Kak Adinda : “Hmmm..boleh, dimana?” tanyanya.
Aku langsung diam. Aku diajak!!. Sebenernya, aku gak niat untuk ngajak dia.
Aku : “a—anu.. gak tauu..” balasku
Dia juga diam
“
Kak Adinda: "gimana kalo dirumah nenek saja? Ya??” tanyanya
Aku : “ehh??!! Dirumah nenek?? tap—“
Kak Adinda: “Iyaa dirumah nenek, lagian nenek yang yuruh aku buat datang ke warung sini. Katanya jalannya tinggal lurus doang. Tapi aku bingung lurus yang mana, jadinya sempet nyasar deh.. hehe…” katanya.
Dan aku berjalan bersama dengan kantung keresek dan juga senyuman dia.
Sampai rumah nenek, aku langsung pergi ke dapur untuk mengambil piring dan juga sendok. Sementara, kak Adinda masih duduk di ruang tamu nenek. Ini menegangkan! Sedikit lama aku diam di dapur, sambil berpikir beberapa bahasan yang mungkin bisa dibicarakan nanti. Kalau malah diem kan jadi gak seru
Aku kembali, dia masih duduk di sofa kulit warna coklat di ruang tamu rumah nenek. Aku lalu merapihkan meja dan membuka nasi pecel yang sudah aku beli. Dia pun berusaha membukanya.
Aku : “Ehh… jangan begitu!” kataku . saat aku melihat cara membukanya yang mungkin aneh.
Aku : “Kalau begitu nanti tumpah.”
Aku membenarkan caranya. Cara yang paling efektif adalah hanya membuka bungkusnya dan menaruhnya di piring tanpa memindahkan dari wadah daun pisang. Jadi, aku pake piring buat alas aja.(semua orang tahu ini)
Aku : “Nih.. cobain punyaku.. mungkin sedikit beda..” kataku. dia mengambil dari tanganku, lalu memakannya.
Kak Adinda: “Iyaa beda, lebih halus juga. Sedikit aneh sih!” balasnya.
Aku : “Awalnya juga kaya gitu, tapi nanti lama – kelamaan kamu bakal doyan loh!!” kataku dengan bangga.
Kak Adinda: “Wah iyaa??.. oke…”
Aku sadar dan menunduk malu melihanya! Cantik sih! aku lanjut makan sama kak Adinda. Aku pikir, ada yang beda dari caraku makan nasi pecel. Yang asalnya aku makan cuma fokus melahap nasi pecel. Sekarang aku makan sedikit pelan, 'biar tidak disangka orang kelaparan’. Aneh juga sih!!
Kami hanya berdiam diri di ruangan itu. Sampai pada akhirnya,
Kak Adinda: “Disini besar yaa? Beda sama yang disebelah” ucapnya tiba – tiba.
Aku melongo sebentar
Aku : “Emang dirumahmu lebih kecil yaa?” tanyaku. Aku tahu sih, terlihat sekali perbandingannya.
Kak Adinda: “Iyaa kecil banget. Tapi… puanjaaaangg.. kebelakang.. hahaha!!” balasnya.
Aku melihatnya hanya tersenyum.
Aku : “Aku belum pernah lihat ruangan itu kak..” kataku.
Kak Adinda: “Ehh belum?? Aku kirain ruangan itu dipakai. Pantes aja pas pertama kesini sedikit kotor.” Katanya. Aku hanya diam saja.
Lalu,
Kak Adinda: “Mau melihat??” tawarnya.
Quote:
Hari minggu mungkin gak banyak yang aku lakukan. Sama seperti biasanya. Tetapi aku semangat buat membeli nasi pecel yang dijual di warung sisi jalan favoritku. Biasanya, aku makan di warung pecel itu jam 6 pagi. Kalau hari minggu jam 7 pun gak masalah.
Warung Nasi Pecel favoritku tergolong laris. Kalau aku datang jam 8 lebih, pasti sudah habis. Kalau aku datang pagi, aku bakal dapet nasi yang masih hangat keluar dari panci, lebih enak.
Aku : “Mbak. Aku kaya biasa aja yaa..” kataku ketika duduk di tempat nasi pecel tersebut.
Mbak Lulu: “Eh sena… udah kesini aja masih pagi juga” balas mbak itu.
Mbak Lulu biasanya aku memanggilnya. Itu nama panggilannya.Dia mungkin cukup tua, lebih muda dari nenek ku sih. Mungkin, seumuran dengan mamahku. Orang yang membeli nasi pecelnya juga lumayan banyak.
Aku : “Kalau nggak pagi – pagi nasinya udah gak anget lagi sih!” kataku kepada tukang nasi pecel itu.
Mbak Lulu: “Yaudahh.. nihh pakai kuah juga kann??” tanya Mbak Lulu
Aku : “Iyaa” kataku
Aku harus cerita, nasi pecel mungkin gak pakai kuah yaa. Biasanya kan hanya ada nasi, sayur dan juga bumbu kacang ditambah peyek dibungkus dengan daun pisang. Tetapi, aku lebih suka menambahkannya dengan kuah yang khusus dibuat sama Mbak nya ini. keliatannya aneh tapi aku suka, jadi aku lebih suka beli disini.
Ketika aku sedang menunggu mbak nya membuat nasi pecel, tiba – tiba datang seorang cewek yang mungkin asing bagi orang sini. Cewek yang baru – baru saja diomongin sama aku dan temanku. Kak Adinda.
Dia masuk, lalu menghampiri Mbak Lulu.
Kak Adinda: “Mbak.. nasi pecelnya satu yaa..” kata Kak Adinda
Mbak Lulu : “ehh?? Ohh iyaa tunggu bentar yaa..” balas mbak lulu ketika melihatnya.
Aku kaget! saat melihatnya aku langsung diam, nunduk. Aku pengen cepet – cepet keluar. kalau dia tahu aku disini nanti aku dikira siapa(sindrom kegeeran saat kecil) Lalu pulang lagi kerumah. Laper juga sih. Tapi, kenapa dia malah beli nasi pecel disini? Aku ingat kalau waktu itu aku pernah dibuat bodoh saat ngomong dengannya.
Mbak Lulu : “Senaa!! Gak pake peyek yaa?” tanya mbak lulu sambil berteriak.
Aku sadar lalu melihat ke Mbak Lulu
Aku : “EH??!! Iyaa mbak gak pake peyek!!” aku lalu melihat ke Kak Adinda.
Kak Adinda: “heii.. kamuu??” kata Kak Adinda.
Sial!!! Aku ketahuan. Mbak Lulu pakai teriak sih!! Ketahuan kann!!.
Aku : “i—yaa hai!!” kataku sambil tersenyum. mampus aku!!
Kak Adinda: “Kamu yang waktu itu kan??’ kata dia.
Aku : “Yang dirumah nenek.” balasku masih senyum.
Aku ingin cepat pulang!! mbak Lulu sepertinya curiga melihatku. Lalu hal yang gak aku duga terjadi. Aku mengobrol dengan Kak Adinda sambil menunggu nasi pecel yang aku beli. Tetapi, mungkin Mbak Lulu memang ingin menjahiliku. Jadi dia sedikit lebih lama untuk memberikan Nasi Pecel yang aku pesan. Dan juga malah nasi pecel punya kak adinda di dahulukan.
Aku : “Loh kok mbak dia dulu??!!” kataku sambil bisik.
Mbak Lulu : “ohh maaf mbak lupa.. hehehe..” kata mbak Lulu sambil mengedipkan mata. Aku hanya bisa diam kesal mendengarnya.
Dan karena itu.
Aku.
Berjalan pulang.
Bersama Kak Adinda.
Hadeuhh!! Bisa gawat akuuu!! Apalagi kalau temanku yang lain melihat, mereka nanti bisa bertanya hal yang aneh kepadaku. Kalau aku ingat, Revi lah yang mengetahui lebih awal nama kak Adinda, saat hari jum’at. Aku memang tidak menyebutkan namanya Adinda, dan revi duluan yang menyebutkannya. Jadi, dia yang menang. Dan dia yang mendapatkan kartunya kembali -_-“
Saat dijalan aku hanya diam saja. Kalau aky mengajak ngobrol duluan nanti dikira sok kenal.
Kak Adinda : “Kamu sering beli pecel disini?” tanya Kak Adinda saat sedang berjalan membawa keresek berisi nasi pecel.
Aku : “Iyaa, biasanya aku makan ditempat. Tapi kayanya piringnya belum dicuci jadi ya dibungkus saja” Mbak lulu bohong kepadaku soal ini.
Kak Adinda :“enak tidak sih??!! Aku juga sempet nyasar kesini!” kata Kak Adinda.
Aku jadi teringat kata – kata nenek. bahwa dia baru dan jadinya belum tahu daerah sini.
Aku : “Favoritku... Aku sih lebih suka yang pakai kuah. Jadi aku bilang enak... hehehe..” Balasku dengan senyum kecut.
Kak Adinda : “Pake kuah?”
Aku : “Iyaa.” Aku sedikit berbangga diri. selama ini, cuma beberapa orang saja yang tahu kalau di warung nasi pecel ini bisa menggunakan kuah.. hahaha!
Aku : "Memang aneh sih, tapi lebih enak pake kuah. Mau coba?" tanyaku
Kak Adinda : “Hmmm..boleh, dimana?” tanyanya.
Aku langsung diam. Aku diajak!!. Sebenernya, aku gak niat untuk ngajak dia.
Aku : “a—anu.. gak tauu..” balasku
Dia juga diam
“
Kak Adinda: "gimana kalo dirumah nenek saja? Ya??” tanyanya
Aku : “ehh??!! Dirumah nenek?? tap—“
Kak Adinda: “Iyaa dirumah nenek, lagian nenek yang yuruh aku buat datang ke warung sini. Katanya jalannya tinggal lurus doang. Tapi aku bingung lurus yang mana, jadinya sempet nyasar deh.. hehe…” katanya.
Dan aku berjalan bersama dengan kantung keresek dan juga senyuman dia.
Sampai rumah nenek, aku langsung pergi ke dapur untuk mengambil piring dan juga sendok. Sementara, kak Adinda masih duduk di ruang tamu nenek. Ini menegangkan! Sedikit lama aku diam di dapur, sambil berpikir beberapa bahasan yang mungkin bisa dibicarakan nanti. Kalau malah diem kan jadi gak seru
Aku kembali, dia masih duduk di sofa kulit warna coklat di ruang tamu rumah nenek. Aku lalu merapihkan meja dan membuka nasi pecel yang sudah aku beli. Dia pun berusaha membukanya.
Aku : “Ehh… jangan begitu!” kataku . saat aku melihat cara membukanya yang mungkin aneh.
Aku : “Kalau begitu nanti tumpah.”
Aku membenarkan caranya. Cara yang paling efektif adalah hanya membuka bungkusnya dan menaruhnya di piring tanpa memindahkan dari wadah daun pisang. Jadi, aku pake piring buat alas aja.(semua orang tahu ini)
Aku : “Nih.. cobain punyaku.. mungkin sedikit beda..” kataku. dia mengambil dari tanganku, lalu memakannya.
Kak Adinda: “Iyaa beda, lebih halus juga. Sedikit aneh sih!” balasnya.
Aku : “Awalnya juga kaya gitu, tapi nanti lama – kelamaan kamu bakal doyan loh!!” kataku dengan bangga.
Kak Adinda: “Wah iyaa??.. oke…”
Aku sadar dan menunduk malu melihanya! Cantik sih! aku lanjut makan sama kak Adinda. Aku pikir, ada yang beda dari caraku makan nasi pecel. Yang asalnya aku makan cuma fokus melahap nasi pecel. Sekarang aku makan sedikit pelan, 'biar tidak disangka orang kelaparan’. Aneh juga sih!!
Kami hanya berdiam diri di ruangan itu. Sampai pada akhirnya,
Kak Adinda: “Disini besar yaa? Beda sama yang disebelah” ucapnya tiba – tiba.
Aku melongo sebentar
Aku : “Emang dirumahmu lebih kecil yaa?” tanyaku. Aku tahu sih, terlihat sekali perbandingannya.
Kak Adinda: “Iyaa kecil banget. Tapi… puanjaaaangg.. kebelakang.. hahaha!!” balasnya.
Aku melihatnya hanya tersenyum.
Aku : “Aku belum pernah lihat ruangan itu kak..” kataku.
Kak Adinda: “Ehh belum?? Aku kirain ruangan itu dipakai. Pantes aja pas pertama kesini sedikit kotor.” Katanya. Aku hanya diam saja.
Lalu,
Kak Adinda: “Mau melihat??” tawarnya.
Diubah oleh shinnhard 07-11-2017 15:31
0
Kutip
Balas