Kaskus

Story

manzhah88Avatar border
TS
manzhah88
Rasanya Menyakiti [BB++]
Rasanya Menyakiti [BB++]

Hello Gays..
Kita bertemu lagi setelah sekian lama ane vakum dari dunia perKASKUSan..

Salam kenal uga buat para sepuh di SFTH dan seluruh penghuni jagad KASKUS.

Beberapa tahun yang Lalu ane pernah menulis sebuah cerita dan karena pekerjaan memaksa ane untuk berhenti menulis saat itu.
Tapi sekarang ALHAMDULILAH pekerjaan sudah mendukung ane untuk kembali menulis.
Dan ane janji ane bakal menulis serapih - rapihnya dan tidak mengentangi pembaca.

Oke langsung aja dan selamat menikmati dan berimajinasi.. emoticon-Ngacir

Quote:


Rasanya Menyakiti [BB++]

PROLOG

Apakah aku bersalah jika aku melakukan semua ini??
Dan jika memang bersalah. Bagaimana dengan orang tuaku yang menyebabkan semua ini??
Apakah menjadi orang tua maka mereka tidak bersalah??
Entahlah.. Mungkin waktu yang akan menjawab semua tanyaku..

Pertanyaanya sekarang adalah " apakah aku menikmati semua ini??"
Ya!!
Aku menikmatinya.
Tapi.. Aku benar - benar mencintai mereka..
Atau jangan - jangan hanya sekedar ... ??

Quote:
Diubah oleh manzhah88 09-11-2017 16:21
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
11.7K
69
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread54.1KAnggota
Tampilkan semua post
manzhah88Avatar border
TS
manzhah88
#22
Aku Pergi
Agustus, 19

PRANG..!!
kira kira seperti itu aku menggambarkan sebuah suara yang membangunkan ku dari lamunan ku di sore hari.

"PERGI AJA KAMU SAMA LONT* KAMU ITU" bentak ibuku pada ayahku.

"AKU YANG PERGI? COBA KAMU PIKIR SIAPA YANG MEMBELI RUMAH INI!!" ayahku berbicara dengan nada yang tak kalah garang.

"AKU GA AKAN PERNAH MAIN SAMA pramuria, AKU SEORANG JISLAM, DIMANA HARGA DIRIKU JIKA SAMPAI AKU MELAKUKAN ITU, ATAU KAMU YANG SEBENARNYA BERMAIN" ayahku kembali dengan argumentasinya.

saling adu argumen hampir setiap hari terjadi
hanya tak terjadi jika ayahku lebih memilih menghindar dan tidak pulang. tapi itu malah membuat argumen ibuku semakin menjadi.

yah beginilah kehidupanku, hancurnya keluarga ini mungkin sudah tak terhindarkan. aku muak akan semua ini. aku hanya bisa diam, hendak berbuat apa? entahlah.

dan tiba - tiba entah setan darimana aku mengemasi pakaian dan bukuku.

"Ibu, Ayah aku pergi dulu, dan jangan pernah dicari" dengan nada datar aku katakan kata - kata yang entah aku akan pergi karimana.

mereka diam dan ya hanya diam. hingga aku menaiki Satri* 2T ku yang legendaris itu dengan warna hitam orange.

ayahku datang menghampiri. "ini kamu pegang man, kamu pasti butuh, nanti ayah telfon kamu" ayahku dengan nada gemetar dan dari matanya mengeluarkan air mata.

benar saja dia memberiku uang sebesar
Rp 600.000.- aku memeluknya dan pergi

----------

aku tiba di bilangan JL Agus Salim di daerah Bekasi timur dan melihat banyak kontrakan disana. suasananya nyaman, dan yang membuatku merinding adalah kehangatan diantara keluarga mereka, saat anak dipeluk oleh ibunya, saat sang anak menangis hanya karena disuruh makan.

"mungkin aku akan tinggal disini" pikirku dalam hati dan sambil senyum sendiri, karena sang anak pemilik kontrakan adalah seorang wanita yang cantik.

"misi kak, saya mau nanya kontrakan, ada yang kosong kah?" tanganku dengan sedikit gugup.

"oh iya, sebentar saya panggilkan bapak ya" jawab gadis manis berwajah imut itu.

"BAPAAAK, ADA YANG NANYA KONTRAKAAN NIIH" aku terkejut ternyata gadis secantik itu suaranya cempreng, hihihihi.

-----------

Tok Tok Tok
"Mas, Mas" suara yang familiar berada tepat di depan pintu kontrakanku.

"Eh kakak, ada apa ya" jawabku kembali agak gugup.

"Ini, aku disuruh bapak ngasih kunci pager depan, oh iya jangan panggil kakak, aku masih muda, nama aku Vebrina" jawabnya sembari menjulurkan tangannya ke arahku.

"oh iya,kak, eh Vebrina aku iman" aku sangat tidak bisa menyembunyikan gugupku saat tangan lembut ini bersentuhan denganku.

"hihi, kamu lucu man, yaudah semoga betah ya, aku tinggal dulu" jawabnya sambil meninggalkan aku dalam kegugupan dan kesendirian ini
dan mataku tak mau berhenti memandang hingga dia hilang dari jangkauan kornea mataku.

jam sudah menunjukan pukul 20.00 WIB
Kriiiing, Kriiiing
entah bagaimana menggambarkan suara handphonenya Noki* ini karna percayalah pada tahun 2006 belum ada sama sekali smartfone.

"kakak dimana? kok aku kerumah kakak ga ada yang jawab sih?"ujar suara seorang yang kukenal disebrang sana.

"Putri? tau darimana rumah sama nomer handphone kk?" jawabku bingung.

-----------

harapan itu adalah pilihan, saat kau memilih berharap maka kamu akan memperjuangkan harapan itu, tapi saat kamu berhenti berharap maka apa yang akan kamu perjuangkan?
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.