I Don’t Have a Friend, I Have Family
Tangan gue bergetar dan gue terus – terusan menghela nafas. Ini pertama kalinya gue kerja dan ini juga pertama kalinya gue mengajukan resign. Kalau ke sesama Orang Indonesia mungkin mudah. Tapi, gue harus meminta izin ke bos gue yang berasal dari China. Gue pun bingung memikirkan alasan apa yang tepat karena gue keluar di tengah – tengah project yang belum selesai. Setelah menenangkan diri, gue pun memberanikan diri untuk berbicara mengenai resign. Gue pun mengajak bos gue yang dari China untuk ke ruang meeting dan membicarakan hal ini.
Gue pun menjelaskan bahwasanya gue kurang puas dengan project game kali ini dan tentunya mengenai ketidakcocokan gue dengan bos berketombe. Selain itu, kemampuan gue untuk menulis tentunya akan berkurang karena jarang menulis lagi untuk perusahaan. Lebih ke tidak ada kerjaan yang bisa dikerjakan. Setelah menjelaskan dengan baik – baik. Bos gue mengijinkan gue untuk pergi dari perusahaan tersebut. Gue pun berterima kasih kepada dirinya karena dia tahu setidaknya gue lumayan tersiksa selama beberapa bulan ke belakang. Dia pun berpesan untuk terus mengembangkan potensi diri gue. Khususnya di bagian menulis dan game. Sama persis seperti teman – teman gue pernah katakan. Gue ada potensi yang kuat di dua bidang tersebut. Gue pun keluar dari ruangan meeting disusul oleh bos gue.
“Gimana net?” tanya GA kantor gue Deni ketika melihat gue keluar dari ruang meeting .
“Dibolehin sih koh. Hehe. Gue ijinnya gak sebulan. 2 mingguan lah sampe akhir bulan ini. Kan bisa di potong cuti” kata gue sambil cengengesan.
“Oke deh. Yah nanti gue sama siapa nih kalo dateng pagi – pagi. Disini kan lu doang yang dateng pagi” kata Deni lagi.
“Yah, mau gimana koh. Maapkan. Demi masa depan yang lebih baik” kata gue lagi sambil tersenyum.
“Iya gue tau. Semangat ya. Gue tau lu bisa lebih dari yang sekarang” kata Deni sambil memberikan gue semangat.
“Arigatou koh !” kata gue bersemangat.
Gue pun mengabari Aldi dan Vina kalau gue dibolehkan untuk resign.
“Nah cakep, pindah sana lu. Menuhin Jakarta doang hidup lu” balas Aldi setelah melihat pesan gue.
“Makanya, jangan grogi duluan Kak Cit. Gampang kan minta ijin gitu doang mah” balas Vina.
Vina tahu gue sejak pagi merasa nggak tenang karena bingung harus berkata apa. Dirinya hanya berkata gue harus tenang. Entah kenapa kata – kata “tenang aja” dari Vina selalu memberikan ketenangan tersendiri buat gue.
Diri gue pun flashback ke belakang. Dimana gue pertama kali interview di sini setahun setengah lalu. Satu tim dengan orang – orang yang kelakuan sehari - harinya berantakan namun sebenarnya pintar dalam bekerja. Mengalami banyak hal bersama mereka. Mulai dari menyelesaikan kerjaan yang terkadang bisa dibilang “Mission Imposible” hingga jalan – jalan kesana kemari bersama mereka. Secara nggak sadar, gue punya keluarga baru disini. Kalau meminjam istilah Dominic Torreto “I Don’t Have a Friend, I Have Family”.
Dua minggu berlalu dan sampai ke hari terakhir gue di kantor ini. Ternyata Evi juga menyusul gue untuk berhenti bekerja di kantor ini. Dirinya beralasan sudah tidak betah dan kebetulan sudah mendapatkan tempat baru. Ya, untuk sekelas dia yang setara dengan Aldi pengalaman kerjanya tentu sudah mudah untuk mendapatkan tempat baru.
“Ciee hari terakhir nih ye” goda Vina di Whatsapp
“Bawel ye. Tapi, iya sih” kata gue.
“Akhirnya ya, semoga setelah ini Kak Cit nggak ngeluh – ngeluh lagi ya. Aku kasian sama Kak Cit kalo gitu” kata Vina lagi.
“Semoga Vin. Tempat baru terlihat lebih menjanjikan sih” kata gue lagi.
“Apapun itu. Semangat Pak ! Yaudah nanti kalau udah pulang bilang ya. Perpisahannya jangan nangis loh” Goda Vina lagi.
“Nggak lah emangnya aku kamu. Yeee” balas gue lagi.
“Mau makan – makan tapi donggg. Traktir aku dulu nanti sebelum ke Bandung” Vina merajuk.
“Iye, mau makan apaan?” tanya gue.
“Beliin aku kentang goreng sama es mekdi aja sambil ngobrol. Kita lama nggak ngobrol berdua lama – lama pak. Keganggu mama sama papa terus. Lagian kan mekdi deket rumah aku juga ada jadi kita gak jauh - jauh” kata Vina panjang lebar.
“Sederhana banget. Gak mau yang mahalan lagi?” kata gue sombong ke Vina.
“Nggak cukup itu aja. Lagian kan cuma mau ngobrol aja. Nanti traktir yang mahalan boleh lah kapan – kapan” kata Vina lagi
“Oke siap tuan putri. Saya laksanakan” balas gue singkat.
Hari itu berlalu dengan cepat dan gue pun lebih santai menjalani hari tersebut. Tanpa beban pekerjaan karena pekerjaan sudah gue oper semua ke teman gue. Seharian gue hanya nonton pertandingan Dota, makan, ketawa – ketawa bareng teman di pantry dan lain – lain. Hingga tiba akhirnya jam – jam terakhir dan perpisahan itu dimulai. Gue mulai menyalami orang – orang satu kantor bersama dengan Evi. Banyak momen – momen mengharukan karena harus ada dua orang yang resign dalam satu hari. Bayu pun sebagai bawahan Evi yang paling dekat meneteskan air mata. Momen yang langka dimana seorang Bayu bisa meneteskan air mata.
Kita berfoto bersama dan akhirnya jam pulang tiba. Gue memilih untuk bermain Counter Strike dulu bersama teman – teman kantor gue. Sedangkan Evi memilih untuk pulang. Toh keesokan harinya Evi mengajak beberapa orang termasuk gue untuk makan – makan sebagai tanda perpisahan. Setelah selesai bermain CS kita pun bersiap pulang. Gue merapihkan keyboard, mouse dan headset yang selalu gue pakai selama ini dan memasukkan semuanya ke dalam tas khusus keyboard sambil melihat keadaan sekitar. Tentunya gue akan merindukan suasana kantor ini, kantor yang sudah menjadi tempat bekerja gue selama satu setengah tahun.
Gue pun berjalan meninggalkan gedung di kawasan Sudirman, Jakarta itu menuju ke halte busway. Ya, halte tempat gue kadang balik bareng Vina dulu. Entah kenapa gue ingin menghubungi Vina sembari pulang kantor. Gue pun menelpon dirinya. Nggak lama kemudian Vina mengangkat telponnya.
“Kenapa Kak Cit? Udah pulang?” tanya Vina begitu teleponnya tersambung.
“Belum. Lagi nunggu busway sih. Temenin bentar ya” pinta gue lagi.
“Pasti lagi galau kan?” tanya Vina seakan bisa menebak pikiran gue.
“Ya gitu lah hehe” jawab gue sambil nyengir.
“Emang berat sih. Aku aja yang cuma 6 bulan bisa merasa kangen sama temen – temen disitu. Tapi ya mau gimana ya kan. Life must go on” kata Vina lagi.
“Iya kamu bener Vin” kata gue singkat.
“Udah jangan galau – galau lagi Pak. Ingat. . .”
Sebelum Vina selesai berbicara gue pun memotong pembicaraan Vina
“Aku selalu ada kalau kamu butuh” sahut gue reflek memotong pembicaraan Vina.
“Wih, udah afal ya sekarang” kata Vina sambil tertawa.
“Makasih banyak ya Vin” kata gue lagi.
“As always, sama – sama ! Mau makan – makan lusa dong yayayayaya?” tanya Vina lagi dengan nada manjanya.
“Iyeee. Yaudah tar lusa ya. Maksa banget kamu” sahut gue sambil tertawa.
Busway yang gue tunggu pun datang.
“Udah dateng tuh buswaynya. Udahan yak telponnya. Nanti aku bilang kalau aku udah di rumah” kata gue lagi
“Okey, hati – hati yaa. Daah” kata Vina
“Daah” sahut gue sambil menutup telepon.
Pintu busway pun terbuka dan gue masuk ke dalamnya. Setidaknya gue merasa tenang. Walaupun gue pergi dari kantor ini. gue tetap punya teman – teman yang baik dan gue juga punya seseorang yang selalu memberikan dukungan gue dari belakang. Busway melaju dan gue memandang tingginya gedung – gedung di Jakarta.
“Aku bersyukur kita pernah bertemu Vin” kata gue dalam hati sambil tersenyum sendiri.
Setelah chapter ini, trit ini akan memasuki bagian Epilog yang akan disusun jadi sekitar 2 atau 3 chapter. Ane masih menyaring beberapa cerita karena ada cerita yang bersifat pribadi jadi ya di tunggu aja ya
ane juga akan menyelesaikan side chapter tentang teman - teman kantor. pada protes kenapa namanya nggak di tulis disini setelah mereka tahu trit ini
itu aja pesan ane. tetap ikutin ya kelanjutannya (padahal ane sering update ngaret)