- Beranda
- Stories from the Heart
Aku Terpaksa Mendesah, Padahal Aku Tak Merasakan Apapun [Bukan BB++] (Short Story)
...
TS
yunusritonga
Aku Terpaksa Mendesah, Padahal Aku Tak Merasakan Apapun [Bukan BB++] (Short Story)
Cerita ini di tulis berdasarkan curahan hati seorang wanita kepada saya pada akhir bulan september lalu namun terputus dan tidak sepenuhnya ia ceritakan.
Beberapakali ia menunda untuk bercerita kepada saya karena ia juga memiliki kesibukan namun pada akhirnya curahan hatinya ini selesai ia sampaikan seminggu yang lalu, dan atas izin beliau saya dapat menuliskan kembali curhatan yang menurut saya akan sangat menginspirasi semua orang khususnya para wanita.
Cerita ini berisi kehidupan pribadi seorang wanita, dijamin BUKAN BB++, namun jika ada terdapat kata-kata vulgar mohon di tegur, takutnya saya melampaui batas.
Selamat membaca
Semoga menginspirasi kita semua
Beberapakali ia menunda untuk bercerita kepada saya karena ia juga memiliki kesibukan namun pada akhirnya curahan hatinya ini selesai ia sampaikan seminggu yang lalu, dan atas izin beliau saya dapat menuliskan kembali curhatan yang menurut saya akan sangat menginspirasi semua orang khususnya para wanita.
Cerita ini berisi kehidupan pribadi seorang wanita, dijamin BUKAN BB++, namun jika ada terdapat kata-kata vulgar mohon di tegur, takutnya saya melampaui batas.
Selamat membaca
Semoga menginspirasi kita semua
Quote:
Quote:
Diubah oleh yunusritonga 07-11-2017 12:54
tien212700 dan 3 lainnya memberi reputasi
4
28.3K
97
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
yunusritonga
#31
Bagian 2
Quote:
Back to 10 mei 2016
"Asraaaa selamat yah, udah dua tahun aja, selamat ulang tahun juga Ega"
Tiba-tiba Nuri dan suaminya datang menghalau lamunanku, ia mencubit gemas pipi anakku yang berada di gendongan Rio.
Nuri adalah salah satu sahabatku yang selama ini sering menceritakan kehidupan pribadinya, namun semenjak pernikahaku aku tak ingin lagi mendengar cerita-cerita mereka yang bagiku hanya dongeng.
Nuri juga tak pernah kuceritakan masalah yang ku hadapi selama pernikahanku dengan Rio.
Selain malu, aku juga tak ingin mengumbar-umbar aib kehidupan pribadiku.
"Jadi kapan mau nambah nih?"
Pertanyaan Nuri itu mengejutkanku.
Pertanyaan yang tak pernah kuharapkan, bukan aku tak menyayangi anakku yang kukandung selama sembilan bulan, dan melahirkannya dengam mempertaruhkan nyawa.
Namun adakah moment yang bisa ku ingat saat aku dan suamiku berusaha menanam benih untuk memperoleh anak, hanya itu yang kuharapkan.
"Ah kalo aku siap-siap saja, semua tergantung Asra."
Sahut Rio menanggapi pernyataan Nuri.
'Shiiittt enak di elu, berat di gue'
Andai kata-kata itu dapat kulontarkan secara langsung, namun tidak, aku tak seberani itu.
Aku hanya tersenyum tak memberikan jawaban, menjaga agar keluarga kecilku terlihat harmonis.
☆☆☆☆
"Bunda.... kayaknya bener, Ega udah kepengen adik tuh"
Bisik Rio dengan lembut tepat di teligaku, hembusan nafasnya membuat bulu kudukku berdiri disaat aku mencoba memejamkan mata.
'Astaga mulai lagi' batinku
Memang sudah beberapa hari kami tak melakulan hubungan suami istri, karena aku sedang datang bulan, hanya itu satu-satunya kesempatanku untuk menolaknya.
"Aku masih dapet yah..."
Bisikku kembali.
Ia segera membaringkan tubuhnya, tak memberikan reaksi apa-apa mungkin ada kekecewaan dalam dirinya. Tapi apakah dia pernah memikirkan kekecewaanku.
Aku terpaksa harus berbohong kepada suamiku itu, padahal aku sudah bersih dari haid dua hari yang lalu.
Entah sampai kapan aku harus begini, aku sadar hubungan yang tak jujur tak akan bertahan lama, namun bagaimana aku mengatakan kepadanya aku takut ia tersinggung dan marah padaku.
Namun disisi lain batinku tersiksa harus menahan semua ini. Tak jarang di tengah malam air mataku menitih membayangkan kenikmatan-kenikmatam yang tak pernah kurasakan, cerita-cerita yang selalu terngiang, apalagi film-film blue yang beberapakali kutonton dulu semasa SMa masih terlintas jelas bayangan akan desahan-desahan nikmat pemeran wanita ketika di Rimm*ngpemeran pria atau saat mereka bersama-sama mencapai puncak kenikmatan, tetapi mengapa saat aku sdah memiliki seorang suami, mengapa aku tak mendapatkan seperti apa yang kulihat.
Apa yang salah tuhan, ada apa dengan suamiku, mengapa ia tak seperti suami-suami temanku, atau setidaknya mengerti kebutuhanku,??
Bahkan memegang kemaluannya saja aku tak pernah, apalagi mengulumnya, memang aku tak pernah meminta, tapi apa salahnya dia memmerintahkanku untuk melakukan itu.
Apa yang salah???
chisaa memberi reputasi
1