- Beranda
- Stories from the Heart
Gadis Bingung dan Pengembara
...
TS
hujan.soresore
Gadis Bingung dan Pengembara

Quote:
INDEX
Its freezing outside ...
Merindukanmu juga, sangat merindukanmu
Dan semua itu karena mereka pandir!
Gue Fahrezi
The Barbietch
Sore hari yang dijanjikan
Cerah...?
Rapat Rakyat Indonesia
Seuntai Awan Kecil
Day by day pass away
Well, I Should Say Thanks or Terima Kasih?
Janji sama gue..
Seperti beruang gendut kuning dengan baju merah kekecilan
Penghuni The Gloomy
Ada Rindu di Sepotong Ubi Cilembu
Itu milik Ezra
Gadis Bingung dengan rantai kacamata menjuntai
Ingin Bertemu Cerah
Pelangi di Senja Hari Bulan November
Candu
Hari-hari Bertualang Tanpa Akhir
Hari Hitam Legam
Semesta Bertautan
Dia Hanya Berhenti Bermain
Di Bawah Hujan
Abhipraya
Diubah oleh hujan.soresore 17-02-2018 05:20
anasabila memberi reputasi
1
8.9K
66
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
hujan.soresore
#54
Pelangi di senja hari bulan November
"Kamu ikut teklap aksi hari tani?" ucap Fahrezi, dan segera disesalinya. Hari ini dia bertemu Cerah di selasar fakultas yang sama, tempat pertama kali dalam seumur hidup gadis itu dilihatnya.
Pertemuan ini tertunda satu minggu lebih lantaran ia terlambat sore itu, lantaran besoknya selama satu minggu ia volunteering. Jadi panitia ini dan itu di Konferensi Rakyat Indonesia.
Bagi Fahrezi hari ini lama sekali datangnya. Ia mengutuki diri sendiri yang tidak sanggup bertanya sedikit pun soal Cerah pada siapapun. Masih mengejutkanya bahwa banyak orang dalam semesta kecilnya mengenal Cerah, sedangkan baginya gadis itu baru saja datang dari negeri para unicorn.
Diledek habis-habisan oleh Bam selama KRI berlangsung dia diam sejadinya. Cuma saja si gadis bingung itu selalu lekat. Mengekor di belakang sudut Mata.
Sore itu Fahrezi iseng menggenjreng gitar di halaman aula, usai rapat teater singkat. Terhenyak sejenak ia saat melihat kuncir kuda seorang gadis berayun bersisian bersama rantai kacamata dengan ritme sempurna. Ransel kebesaran di pundak mungil itu berlalu di hadapannya dengan langkah seringan awan. Si awan kecil.
"Cerah?" Fahrezi berujar spontan.
Kuncir ekor kuda bersisian dengan rantai kacamata tersibak sesaat setelah si gadis bingung mendengar namanya disebut. Kedua alis si gadis bertaut sesaat, lantas digantikan senyum saat pandangannya tertumbuk sosok Fahrezi.
"Impresi garis lengkung sempurna. Seperti pelangi di senja hari bulan November senyuman itu," tukas Fahrezi dalam hati. Malamnya Fahrezi bermimpi tentang negeri para unicorn. Pepohonannya dari gula-gula kapas dan rumah-rumahnya dari kue jahe.
***
Cerah mengulurkan Larasati di hadapannya, juga Merdeka 100%. Mereka duduk bersisian sore itu. Fahrezi kembali mengutuki diri sendiri sebab cuma bisa terdiam saja dari tadi, sampai pertanyaan bodoh soal rapat aksi hari tani itu terlontar. "Bodoh!" Teriaknya dalam hati.
Cerah mengangguk perlahan, menatap Fahrezi dari balik lensa. Banyak jeda di sana. "Jadi lo mau balikin buku gw waktu teklap nanti?" Cerah berkesimpulan, mengurai jeda. Fahrezi merapatkan bibir dalam-dalam seraya mengangguk. Lalu si awan kecil berlalu dari hadapannya.
You've got me feelin' like a child now
Cause every time I see your bubbly face
I get the tingles in a silly place..
Pertemuan ini tertunda satu minggu lebih lantaran ia terlambat sore itu, lantaran besoknya selama satu minggu ia volunteering. Jadi panitia ini dan itu di Konferensi Rakyat Indonesia.
Bagi Fahrezi hari ini lama sekali datangnya. Ia mengutuki diri sendiri yang tidak sanggup bertanya sedikit pun soal Cerah pada siapapun. Masih mengejutkanya bahwa banyak orang dalam semesta kecilnya mengenal Cerah, sedangkan baginya gadis itu baru saja datang dari negeri para unicorn.
Diledek habis-habisan oleh Bam selama KRI berlangsung dia diam sejadinya. Cuma saja si gadis bingung itu selalu lekat. Mengekor di belakang sudut Mata.
Sore itu Fahrezi iseng menggenjreng gitar di halaman aula, usai rapat teater singkat. Terhenyak sejenak ia saat melihat kuncir kuda seorang gadis berayun bersisian bersama rantai kacamata dengan ritme sempurna. Ransel kebesaran di pundak mungil itu berlalu di hadapannya dengan langkah seringan awan. Si awan kecil.
"Cerah?" Fahrezi berujar spontan.
Kuncir ekor kuda bersisian dengan rantai kacamata tersibak sesaat setelah si gadis bingung mendengar namanya disebut. Kedua alis si gadis bertaut sesaat, lantas digantikan senyum saat pandangannya tertumbuk sosok Fahrezi.
"Impresi garis lengkung sempurna. Seperti pelangi di senja hari bulan November senyuman itu," tukas Fahrezi dalam hati. Malamnya Fahrezi bermimpi tentang negeri para unicorn. Pepohonannya dari gula-gula kapas dan rumah-rumahnya dari kue jahe.
***
Cerah mengulurkan Larasati di hadapannya, juga Merdeka 100%. Mereka duduk bersisian sore itu. Fahrezi kembali mengutuki diri sendiri sebab cuma bisa terdiam saja dari tadi, sampai pertanyaan bodoh soal rapat aksi hari tani itu terlontar. "Bodoh!" Teriaknya dalam hati.
Cerah mengangguk perlahan, menatap Fahrezi dari balik lensa. Banyak jeda di sana. "Jadi lo mau balikin buku gw waktu teklap nanti?" Cerah berkesimpulan, mengurai jeda. Fahrezi merapatkan bibir dalam-dalam seraya mengangguk. Lalu si awan kecil berlalu dari hadapannya.
You've got me feelin' like a child now
Cause every time I see your bubbly face
I get the tingles in a silly place..
Diubah oleh hujan.soresore 17-02-2018 03:58
0