- Beranda
- Stories from the Heart
Gadis Bingung dan Pengembara
...
TS
hujan.soresore
Gadis Bingung dan Pengembara

Quote:
INDEX
Its freezing outside ...
Merindukanmu juga, sangat merindukanmu
Dan semua itu karena mereka pandir!
Gue Fahrezi
The Barbietch
Sore hari yang dijanjikan
Cerah...?
Rapat Rakyat Indonesia
Seuntai Awan Kecil
Day by day pass away
Well, I Should Say Thanks or Terima Kasih?
Janji sama gue..
Seperti beruang gendut kuning dengan baju merah kekecilan
Penghuni The Gloomy
Ada Rindu di Sepotong Ubi Cilembu
Itu milik Ezra
Gadis Bingung dengan rantai kacamata menjuntai
Ingin Bertemu Cerah
Pelangi di Senja Hari Bulan November
Candu
Hari-hari Bertualang Tanpa Akhir
Hari Hitam Legam
Semesta Bertautan
Dia Hanya Berhenti Bermain
Di Bawah Hujan
Abhipraya
Diubah oleh hujan.soresore 17-02-2018 05:20
anasabila memberi reputasi
1
8.9K
66
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
hujan.soresore
#37
Ingin bertemu Cerah
Usai rapat terakhir soal teknis pelaksanaan "Konferensi Rakyat Indonesia" siang itu Fahrezi bergegas memacu langkah. Sejawatnya volunteering di Kantor LSM lingkungan pojokan Mampang Prapatan serempak mengernyitkan dahi.
"Kemana looo," satu teriakan melolong sebelum Fahrezi sempat mencapai pintu keluar. Bam yang juga ada di ruang rapat mendadak teringat soal satu janji sore itu, yang tanpa sengaja dimediasinya. "Ketemu Ceraaaaah," teriaknya dibumbui suit-suit nyaring.
Mendadak satu ruangan gaduh. Bayu Pradipta, jomblo telak akhir 20an kepala divisi agitasi dan propaganda, antusias keluar dari kompartemennya di ruangan sebelah.
"Memang pada kenal Cerah?" tukas Fahrezi, alisnya bertaut keheranan.
"Jangan macem-macem Lu. Gw udah tagging dari berbulan-bulan lalu tu. Antri di belakang dong yang sopan kayak yang laen," Bayu menyikut Fahrezi. Ruangan kembali gaduh.
***
Jejak sepatu Fahrezi menyibak semak liar di sepanjang koridor taman usai gerbang Fakultas. Lalu ditelusurinya tangga tak sabar. Ia menyumpah kenapa tidak terpikir naik ojek langsung dari Mampang ke kampus siang tadi. Hari ini Ibu minta diantarkan, mau tak mau ia berkendara pribadi dari rumah.
Kemacetan tak tertembus memaksa Fahrezi memarkir mobil di sebuah sekolah menengah di persimpangan Ragunan. Menyambung ojek ke kampus disemangatinya tukang ojek paruh baya itu untuk lincah menembus kemacetan.
Jam lima lewat. Jarum panjang jam tangan analog di pergelangan kirinya menunjuk jauh dari angka 12. Seraya membenahi nafas Fahrezi berjalan memasuki satu-persatu ruang kelas sepanjang selasar lantai Lima. Kosong-melompong, begitu juga hatinya.
"Biawak!" teriak sebuah suara sember yang dikenali Fahrezi. Fefe sedang menikmati matahari jatuh sambil mengebulkan asap rokok di sisa pelataran terluar balkon tempat pot bebungaan tersusun apik.
"Ngapain Lu kuliah kagak tapi magrib begini dateng ke kelas. Mau naro pesugihan ya Lu," cecar Fefe.
Nama lengkap bassis berbakat nan tambun ini Fergie Novel Ananda. Kata Ibunya diambil dari tokoh dalam salah satu novel best seller New York times yang dibacanya sampai berlinang air mata waktu hamil Fefe dulu. Count Ferguson Hutingdon nama tokoh itu, disingkatnya Fergie. Lalu nama tengahnya ya simple, harfiahnya menunjuk pada novel alias buku bacaan fiksi. Sementara Ananda artinya anak.
Fefe benci sekali namanya karena menurutnya tidak bermakna dalam, picisan saja. Ia berkeras minta dipanggil Fefe. Slang Amerika untuk 'party' yang diciptakan sekelompok anak muda penggila pesta di Chicago. Selain itu dia juga fans berat penyanyi dan aktris asal Toronto Canada, Fefe Dobson.
"Gw ada janji di sini tadi jam 5. Tapi udah telatlah," jawab Fahrezi sekenanya usai bergabung di sebelah Fefe. Hening sejenak sampai Fefe teringat sesuatu.
"Sialan gw baru inget. Kadal buntung jangan bilang Lu janjian sama Cerah anak Jurnalistik enam itu," Fefe memaki-maki.
Fahrezi terbelalak, "lu juga kenal?".
"Kupret banget selera Lu dasar buaya muara. Jangan macem-macem perempuan baek-baek itu". Fefe belum puas lagi memaki-maki.
Fahrezi tercenung. Mendadak semua orang kenal si Gadis bingung, orang-orang di sekitarnya. Senja jatuh pelan di ufuk, menyisakan remang saja di segala arah, langit mendung hampir gulita. Fahrezi ikut meremang, Ia ingin bertemu Cerah.
"Kemana looo," satu teriakan melolong sebelum Fahrezi sempat mencapai pintu keluar. Bam yang juga ada di ruang rapat mendadak teringat soal satu janji sore itu, yang tanpa sengaja dimediasinya. "Ketemu Ceraaaaah," teriaknya dibumbui suit-suit nyaring.
Mendadak satu ruangan gaduh. Bayu Pradipta, jomblo telak akhir 20an kepala divisi agitasi dan propaganda, antusias keluar dari kompartemennya di ruangan sebelah.
"Memang pada kenal Cerah?" tukas Fahrezi, alisnya bertaut keheranan.
"Jangan macem-macem Lu. Gw udah tagging dari berbulan-bulan lalu tu. Antri di belakang dong yang sopan kayak yang laen," Bayu menyikut Fahrezi. Ruangan kembali gaduh.
***
Jejak sepatu Fahrezi menyibak semak liar di sepanjang koridor taman usai gerbang Fakultas. Lalu ditelusurinya tangga tak sabar. Ia menyumpah kenapa tidak terpikir naik ojek langsung dari Mampang ke kampus siang tadi. Hari ini Ibu minta diantarkan, mau tak mau ia berkendara pribadi dari rumah.
Kemacetan tak tertembus memaksa Fahrezi memarkir mobil di sebuah sekolah menengah di persimpangan Ragunan. Menyambung ojek ke kampus disemangatinya tukang ojek paruh baya itu untuk lincah menembus kemacetan.
Jam lima lewat. Jarum panjang jam tangan analog di pergelangan kirinya menunjuk jauh dari angka 12. Seraya membenahi nafas Fahrezi berjalan memasuki satu-persatu ruang kelas sepanjang selasar lantai Lima. Kosong-melompong, begitu juga hatinya.
"Biawak!" teriak sebuah suara sember yang dikenali Fahrezi. Fefe sedang menikmati matahari jatuh sambil mengebulkan asap rokok di sisa pelataran terluar balkon tempat pot bebungaan tersusun apik.
"Ngapain Lu kuliah kagak tapi magrib begini dateng ke kelas. Mau naro pesugihan ya Lu," cecar Fefe.
Nama lengkap bassis berbakat nan tambun ini Fergie Novel Ananda. Kata Ibunya diambil dari tokoh dalam salah satu novel best seller New York times yang dibacanya sampai berlinang air mata waktu hamil Fefe dulu. Count Ferguson Hutingdon nama tokoh itu, disingkatnya Fergie. Lalu nama tengahnya ya simple, harfiahnya menunjuk pada novel alias buku bacaan fiksi. Sementara Ananda artinya anak.
Fefe benci sekali namanya karena menurutnya tidak bermakna dalam, picisan saja. Ia berkeras minta dipanggil Fefe. Slang Amerika untuk 'party' yang diciptakan sekelompok anak muda penggila pesta di Chicago. Selain itu dia juga fans berat penyanyi dan aktris asal Toronto Canada, Fefe Dobson.
"Gw ada janji di sini tadi jam 5. Tapi udah telatlah," jawab Fahrezi sekenanya usai bergabung di sebelah Fefe. Hening sejenak sampai Fefe teringat sesuatu.
"Sialan gw baru inget. Kadal buntung jangan bilang Lu janjian sama Cerah anak Jurnalistik enam itu," Fefe memaki-maki.
Fahrezi terbelalak, "lu juga kenal?".
"Kupret banget selera Lu dasar buaya muara. Jangan macem-macem perempuan baek-baek itu". Fefe belum puas lagi memaki-maki.
Fahrezi tercenung. Mendadak semua orang kenal si Gadis bingung, orang-orang di sekitarnya. Senja jatuh pelan di ufuk, menyisakan remang saja di segala arah, langit mendung hampir gulita. Fahrezi ikut meremang, Ia ingin bertemu Cerah.
Diubah oleh hujan.soresore 04-11-2017 04:03
0