Kaskus

Story

hujan.soresoreAvatar border
TS
hujan.soresore
Gadis Bingung dan Pengembara
Gadis Bingung dan Pengembara



Quote:


INDEX

Its freezing outside ...

Merindukanmu juga, sangat merindukanmu

Dan semua itu karena mereka pandir!

Gue Fahrezi

The Barbietch

Sore hari yang dijanjikan

Cerah...?

Rapat Rakyat Indonesia

Seuntai Awan Kecil

Day by day pass away

Well, I Should Say Thanks or Terima Kasih?

Janji sama gue..

Seperti beruang gendut kuning dengan baju merah kekecilan

Penghuni The Gloomy

Ada Rindu di Sepotong Ubi Cilembu

Itu milik Ezra

Gadis Bingung dengan rantai kacamata menjuntai

Ingin Bertemu Cerah

Pelangi di Senja Hari Bulan November

Candu

Hari-hari Bertualang Tanpa Akhir

Hari Hitam Legam

Semesta Bertautan

Dia Hanya Berhenti Bermain

Di Bawah Hujan

Abhipraya



Diubah oleh hujan.soresore 17-02-2018 05:20
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
8.9K
66
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
hujan.soresoreAvatar border
TS
hujan.soresore
#36
Gadis bingung dan rantai kacamatanya yang menjuntai
Gadis bingung dengan rantai kacamata, begitulah ingatan pertama Fahrezi. Meski bediri tegak sekalipun, ditaksirnya tak lebih dari sebahunya sendiri. Ransel kebesaran menyampir sekenanya di bahu mungil, tampak berat tapi yang digelayuti nyaman saja sepertinya.

Fahrezi tak habis mengerti, apa saja yang dijejalkan si mungil itu dalam tasnya. Kemeja flanel, kuncir ekor kuda, kacamata bulat dengan rantai menggantung di pinggir pipi itu. Bibir Fahrezi terangkat sedikit. "Rantai kacamata," gelaknya dalam hati. Meski mencemooh, tak habis pikir dia, kenapa susah memalingkan pandangan dari gadis bingung dengan kacamata rantai itu.

Gadis itu, sekian meter saja jaraknya, berdiri sendirian di tengah selasar fakultas, menebar pandangan ke segala arah tak tetap tujuan. Bingung.

Pagi itu anomali sebenarnya bagi Fahrezi. Seumur hidupnya kecuali waktu ujian masuk, tak pernah dia mejejakan kaki di kampus. Kecuali matahari sudah naik paling tidak sepenggalan.

Semalam suntuk Fahrezi terjaga, menunggu hari membuka. Setelah kejadian malam tadi, dia cuma ingin melangkah keluar, kemana saja asal tidak di rumah.

Sayup azan subuh didengarnya tertelan gerung kendaraan masuk ke dalam garasi. Ujung jemari Fahrezi bergetar hebat. Ia bergelung mengepalkan tangan kuat-kuat di atas dada, sampai kukunya sendiri memberkaskan luka pada telapak tangan.

Harapannya, tubuhnya bisa meledak hebat, sampai hancur jadi serpihan ibarat confeti agar amarahnya tidak pecah saat itu juga.

Fahrezi lantas berdiri membatu di bawah shower tanpa repot membuka baju, menutup pintu kamar mandi atau mematikan penyejuk udara di kamarnya. Kalau bisa semua hujaman dingin itu mematikan marah yang menjalar menyakitkan di sekujur dirinya.

Setengah enam pagi Fahrezi menyeret kaki ke bawah, keluar dari rumah hanya itu yang dia mau. Hati-hati langkahnya menjejak tangga, ia ingin keluar tanpa bertemu siapapun dalam prosesnya.

"Sarapan dulu nak," suara halus Ibunya membuat Fahrezi terhenyak saat baru separuh melintasi ruang keluarga. Ibu berdiri di samping partisi menuju dapur.

"Iya," jawabnya pendek mengekor langkah sang Ibu ke meja makan.

Bi Patmi, wanita paruh baya yang sudah ikut keluarganya sejak Fahrezi dalam momongan itu, sigap menyiapkan sarapan saat melihatnya masuk ruang makan. Buru-buru ditepis Ibu yang ingin melayani sendiri anak bungsunya saat ini. Hening saja ruang makan pagi itu.

Fahrezi hampir tidak bisa mengangkat kepala untuk melihat wajah sang Ibu. Sekalipun ditutupi dengan baik ia tahu wajah Ibunya sembab. Sekalipun Ibu tersenyum untuknya, yang dia lihat cuma seseorang yang terluka hati dalam sekali. Itu membuatnya marah, marah sekali, sejak tidak bisa melakukan apa-apa, juga demi menjaga perasaan sang Ibu.

Denting alat makan meningkahi curahan perasaan keduanya dalam diam.

"Hari ini bawa mobilmu ya. Setidaknya Ibu merasa kamu aman sekalipun kamu tidak pulang," tukas Ibu saat Fahrezi bersiap pergi.

"Ngga perlu. Nanti malam aku pulang. Juga ibu bisa telpon kapan saja kalau mau," buru-buru dirangkulnya Ibu lalu bergegas pergi.

Kenyataan soal memakai seluruh fasilitas yang diberikan Ayahnya memuakkan bagi Fahrezi. Setidaknya beberapa tahun kebelakang ini, saat setiap hari segenap fasilitas itu sepertinya mesti ditebus dengan air mata Ibunya. Mengingat apapun tentang rumah saat ini membuatnya ingin berlari jauh-jauh sampai kakinya meleleh dan tidak lagi bisa diayunkan bila perlu.

Jadi disinilah Fahrezi pagi itu. Di lingkar fondasi bangunan fakultas yang dinamainya dan beberapa teman diskusi subversivenya dengan sebutan 'kastil' alias komunitas setengah lingkaran.

"Masya Allah kayaknya mau ada hujan badai sepagi ini ketemu lu di kampus," teriak Bam, mahasiswa ilmu politik berlogat jawa medok. Fahrezi dan Bam kerap terlibat dalam forum diskusi yang sama sejak tahun pertama di kampus.

Keduanya sedang mengobrol santai, tentang beberapa karya sastrawan Pramoedya, saat pandangan Fahrezi pertama kali tertumbuk pada si gadis bingung dengan rantai kacamata menjuntai.

"Mesti mahasiwi baru," ucap Fahrezi dalam hati merasa tidak pernah melihat sosok itu sebelumnya. Kaget setengah mati dia saat Bam melambai santai sembari meneriakkan nama gadis bingung berkacamata rantai menjuntai itu. Sosok yang sejak tadi diperhatikannya tanpa bisa memalingkan pandangan barang sejenak saja.

Tahu legenda negeri para unicorn yang kalau penghuninya berjalan meninggalkan jejak pelangi, pepohonannya dari gula-gula kapas dan rumah-rumahnya dari kue jahe. Fahrezi yakin gadis bingung ini berasal dari sana. Tergelak lagi dia dalam hati membayangkan itu.

Gadis bingung berjalan ke arahnya dan Bam. Langkahnya ringan saja ibarat awan, awan yang sangat kecil. Fahrezi terhenyak, tiba-tiba teringat suatu kisah yang ditulis pemimpin milisi gerilya amat populer di sudut Selatan Amerika sana. Kisah pendek yang sangat disukainya. Awan kecil.

"Gue pinjem," kata pertama meluncur dari mulut Gadis bingung membuat Fahrezi mengernyitkan dahi. Buku 'Larasati' miliknya yang baru saja di pegang Bam sudah berpindah tangan. Terselip mapan kini di barisan jemari mungil.

Buku itu karya Pramoedya, tak banyak yang tahu, apalagi tertarik. "Kejutkan aku lagi," ujar Fahrezi dalam hati seraya menantang mata si gadis bingung.

"Gue Cerah, Jurnalistik enam, mau barter sama buku apa? Tulisan Pram gue punya dua judul tetralogi Rumah Kaca sama Jejak langkah, terus Arok Dedes, Gadis Pantai, Di Tepi Kali Bekasi?” membahana suara gadis bingung dalam ruang pikir Fahrezi. Memantul-mantul gemanya, mengejutkan.

"Tan Malaka punya?" Fahrezi menjawab, ingin tahu dia, sangat ingin tahu.

Semakin berbinar-binar mata si gadis bingung waktu menyebutkan berderet-deret judul buku karya Tan koleksinya. Fahrezi menjawab satu judul dengan random.

Dia sudah punya buku itu sejujurnya, buku cetakan pula, bukan duplikasi fotokopian yang dijilid rapi macam yang ditawarkan gadis bingung. Padahal bawa saja buku Larasati itu, tinggal bilang titipkan lagi pada Bam bila sudah selesai dibaca.

Sekalipun hilang buku itu juga bisa dicarinya lagi cetakan yang lain. Tapi Fahrezi menyepakati waktu bertemu kembali dengan si gadis bingung untuk bertukar pinjam buku. Hanya karena dia ingin.

Ibarat awan kecil ditiup angin, berlalu si gadis bingung dengan Langkahnya yang ringan. "Cerah," Fahrezi mengguman dalam hati.
Diubah oleh hujan.soresore 03-11-2017 15:56
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.