Kaskus

Story

hujan.soresoreAvatar border
TS
hujan.soresore
Gadis Bingung dan Pengembara
Gadis Bingung dan Pengembara



Quote:


INDEX

Its freezing outside ...

Merindukanmu juga, sangat merindukanmu

Dan semua itu karena mereka pandir!

Gue Fahrezi

The Barbietch

Sore hari yang dijanjikan

Cerah...?

Rapat Rakyat Indonesia

Seuntai Awan Kecil

Day by day pass away

Well, I Should Say Thanks or Terima Kasih?

Janji sama gue..

Seperti beruang gendut kuning dengan baju merah kekecilan

Penghuni The Gloomy

Ada Rindu di Sepotong Ubi Cilembu

Itu milik Ezra

Gadis Bingung dengan rantai kacamata menjuntai

Ingin Bertemu Cerah

Pelangi di Senja Hari Bulan November

Candu

Hari-hari Bertualang Tanpa Akhir

Hari Hitam Legam

Semesta Bertautan

Dia Hanya Berhenti Bermain

Di Bawah Hujan

Abhipraya



Diubah oleh hujan.soresore 17-02-2018 05:20
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
8.9K
66
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
hujan.soresoreAvatar border
TS
hujan.soresore
#32
Ada Rindu di Sepotong Ubi Cilembu
Akhir pekan yang hangat dan menyenangkan tiba. Setelah satu minggu penuh mengumpulkan data riset ke sana-kemari, akhirnya tiba giliran untuk merapikannya dalam bentuk karya ilmiah yang teketik rapih. Tapi sebelum mengerjakannya, aku berfikir untuk bersantai sejenak setelah melalui kerja rodi riset yang jenuh dan melelahkan.

Ezra menawariku wisata belanja produk pertanian di daerah Hawksburry. Aku menyambutnya dengan senang hati. Di daerah ini memang terdapat banyak ranch, dan produk pertanian organiknya juga cukup terkenal di sepanjang pesisir selatan Negara bagian New South Wales.

Karena letaknya agak jauh kami berencana menginap di rumah salah seorang kenalan Ezra. Seorang antropolog asal Indonesia yang menikahi perempuan Australia.

Tiba di rumah Pak Abimanyu membuat aku serasa diterbangkan ribuan kilometer ke daerah kauman Jogyakarta. Mulai dari pintu geser, furniture, cat, sampai semua hiasan dindingnya, sangat Jogja. Bukan Cuma itu, kami juga disuguhi makanan khas Jogjakarta yakni gudeg, lengkap dengan sambal kreceknya, istri Pak Abimanyu sendiri, yakni Ibu Rosemarry yang membuatnya.

Lima belas tahun menetap di Jogjakarta membuat Ibu Rosemarry yang hobi memasak jadi mumpuni dengan menu-menu tradisonal khas jawa tengah. Bukan hanya itu, bonusnya ia juga jadi amat fasih berbahasa jawa. Mengesankan bagiku yang lahir di Jogjakarta, dengan kemampuan bahasa jawa yang nol.

Suasana makan siang itu berakhir dengan kekalahan di pihakku, lantaran tidak ada satu orangpun yang duduk di ruang makan ini mau berbicara selain dengan bahasa Jawa. Tapi perang harga diri itu berakhir indah segera setelah cita rasa krecek menyusup di ruang-ruang lidahku.

Perasaan hangat berada di rumah datang silih berganti dengan kerinduan pada setiap wajah yang kunantikan di tanah air.

Aku rindu ibuku dan segala sesuatu tentangnya.

Bulir bulir hangat memaksa keluar dari sudut mata. Pak Abimanyu mengangguk maklum. Dan makan siang hari itu berlangsung lebih hikmat dari mengheningkan cipta di upacara bendera manapun.

Sore itu kami pergi ke salah satu ranch di jalan Bourke dengan sepeda pinjaman.

Pemiliknya Mr. Jamail imigran asal Lebanon. Seorang muslim yang simpatik, kutaksir usianya di awal empat puluhan. Dia membawa kami berkeliling ranchnya yang luas dengan berjalan kaki sambil menceritakan keajaiban alam yang dikaruniakan Tuhan.

Seperti seorang ayah yang menceritakan bayinya, ia menceritakan tentang benih-benih yang tadinya benda mati bisa menjadi hidup dan bertumbuh, dibantu sentuhan unsur lain yang sama matinya dengan si benih. Air, tanah, dan udara.

“See? Bukankah itu keajaiban anakku? Semua unsur di alam ini memiliki jiwa” ujarnya, lalu bertasbih menyebutkan Asma Allah beberapa kali dengan gaya khas. Ezra mengangguk-angguk takzim.

Setelah memutari setengah ladangnya kami sampai ke lumbung. Di sini tersusun rapi peti-peti kayu berisi hasil panen. Dari wortel, kembang kol, tomat, kentang, hingga berbagai tanaman bumbu seperti daun basil, seledri, dan daun bawang.

Susunanya dibuat sangat menarik, sehingga aku merasa berada di supermarket paling ramah lingkungan sedunia.

Di sudut lainnya tersusun berbagai bunga-bungaan segar, juga hasil panen Mr. Jamail. Sudah di bungkus kertas-kertas putih, “Itu semua pesanan orang dear,” ujar Mr. Jamail saat melihatku memandangi tumpukan bunga-bunga warna warni yang di dominasi morning glory itu.

Bukan, salah, bukannya tumpukan morning glory yang menyita perhatianku. Melainkan peti kayu yang ada di sampingnya. Peti itu, ada Fahrezi membayang di dasarnya.

“Pengen banget makan ubi cilembu deh,” ujarku pada The Barbietch dan Arin. Sore itu kami tengah duduk menikmati udara di halaman kantin Student Centre, setelah kuliah-kuliah panjang yang membosankan. Rachel tidak menaggapi karena sedang sibuk memperhatikan sekelompok anggota klub basket yang tengah lari bolak-balik di seberang kami.

“Beli aja, di karpur ada, mau gue temenin?” jawab Arin.“Yah itu sih bukan makan ubi cilembu namanya. Harus di puncak Rin. Ubinya di makan anget-anget, apalagi kalo lagi hujan, itu baru namanya menikmati ubi cilembu secara kaffah. Bukan cuma makan,” kataku, larut dengan ingatan rasa manis ubi cilembu berbalut gosongan yang terperangkap di suhu minus puncak.

“Hayuk, ke puncak makan ubi cilembu. Sore ini mau?” suara ini milik Fahrezi yang tiba-tiba ada di belakang kami. Fahrezi yang tinggi. Rambutnya melayang ringan di tiup angin seperti rumpun dandelion.

“Jangankan ke puncak. Ke bulan juga Fahrezi ikhlas nganterin kamu,” Rachel serta merta menanggapi, memalingkan sejenak konsentrasinya dari para atlet basket kampus.

Fahrezi tertawa, lembut dan manis. Seperti gulali kapas warna-warni di pasar malam.

Kami pergi, sore itu juga. Ke puncak, makan ubi cilembu dengan segelas teh tawar hangat, di tikungan masjid At-Taawun. Saat langit meremang membuka hari kami turun ke Ciputat. Aku memimpikan bulan berubah menjadi ubi cilembu malam itu.

“How do you get that?” Ujarku pada Mr. Jamail.

“What dear, this yams?” ujar Mr. Jamail menunjuk pada peti berisikan ubi cilembu.
Aku mengangguk kaku menahan tangis yang bisa pecah kapan saja.

Gently, gently, the wind blows dandelions parachutes into the afternoon sun…
Diubah oleh hujan.soresore 03-11-2017 03:03
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.