Kaskus

Story

hujan.soresoreAvatar border
TS
hujan.soresore
Gadis Bingung dan Pengembara
Gadis Bingung dan Pengembara



Quote:


INDEX

Its freezing outside ...

Merindukanmu juga, sangat merindukanmu

Dan semua itu karena mereka pandir!

Gue Fahrezi

The Barbietch

Sore hari yang dijanjikan

Cerah...?

Rapat Rakyat Indonesia

Seuntai Awan Kecil

Day by day pass away

Well, I Should Say Thanks or Terima Kasih?

Janji sama gue..

Seperti beruang gendut kuning dengan baju merah kekecilan

Penghuni The Gloomy

Ada Rindu di Sepotong Ubi Cilembu

Itu milik Ezra

Gadis Bingung dengan rantai kacamata menjuntai

Ingin Bertemu Cerah

Pelangi di Senja Hari Bulan November

Candu

Hari-hari Bertualang Tanpa Akhir

Hari Hitam Legam

Semesta Bertautan

Dia Hanya Berhenti Bermain

Di Bawah Hujan

Abhipraya



Diubah oleh hujan.soresore 17-02-2018 05:20
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
8.9K
66
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
hujan.soresoreAvatar border
TS
hujan.soresore
#31
Penghuni The Gloomy
Dalam waktu tiga hari resmi sudah aku menjadi penghuni baru flat di sudut jalan Mockingbird. Ezra membantu mengangkat rupa-rupa harta yang kutumpuk selama hidup di kota ini. Kebanyakan baju dan buku.

Aku menempati lantai dua di pojok barat. Jendela kamarku menghadap langsung ke gerbang depan. Bisa ku dengar setiap pagi rupa-rupa deritan khas setiap gerbang klasik di geser.

Ku bilang rupa-rupa karena memang si gerbang berderit dengan suara berbeda untuk setiap orang yang berbeda. Misalnya derit saat tukang susu masuk berbeda dengan derit pengantar madu.

Derit induk semang berbeda dengan derit Mr. Deephali Banot yang tinggal di lantai dasar. Derit tukang potong rumput juga berbeda dengan derit tukang ledeng. Juga derit untukku berbeda dengan derit-derit yang lain.

Meskipun sangat elok dipandang, dan seperti banyak lukisan rumah klasik di buku dongeng, secara keseluruhan suasana flat ini sebenarnya agak muram.

Bukannya muram, tapi lebih mirip seorang oma-oma bule yang tenang dan sedang merajut kaus kaki wol di ruang tengah rumah-rumah pedesaan Inggris, dengan anjing terriernya yang menggonggong sesekali sementara di luar hujan badai dan kabut tebal bergulung-gulung menyapa bumi.

Karena itu aku menamainya The Gloomy.

Aku berbagi lantai dua The Gloomy dengan tiga orang lainnya, semuanya pelajar. Kamar pertama dengan nomer lima besar dan tulisan 'danger' tergantung hening di depan pintunya, ditempati Noah. Mahasiswa undergraduate yang amat bawel.

Noah produk orisinal kaum urban Ibukota Jakarta. Ikut program college persiapan universitas setingkat high school selama dua tahun, lalu lanjut mengambil Departemen Desain Creative di almamaterku. Orangtuanya pemilik waralaba salah satu café yang cabangnya tersebar hampir di setiap mal di Indonesia. Anak ini tipe the glam.

Sebenarnya, ada tiga tipikal mahasiswa Indonesia yang berkuliah di sini berdasarkan pengamatan yang kami -aku dan Arin- rumuskan.

Tipikal yang pertama, kebanyakan anggotanya para peraih beasiswa jenis award. Mereka ini golongan kaum terpelajar sejak semula, plus prestasi yang mengharumkan nama negara.

Kebanyakan memang bukan orang biasa. Di dominasi oleh wajah-wajah yang tidak asing di tanah air, biasanya presenter berita stasiun televisi cukup bergengsi, atau finalis kontes kecantikan tingkat nasional. Beberapa di antaranya ketua organisasi atau lsm tingkat nasional yang berafiliasi dengan berbagai lembaga negara maupun organisasi multinasional.

Beberapa yang paling beruntung memiliki koneksi dengan pejabat terkait. Jadi tipikal golongan ini hampir bisa didefinisikan sebagai golongan terpelajar dengan gaya ramah aristokrat yang menyenangkan.

Tentu saja mementingkan prestise, penuh kedisiplinan, juga selalu tampil rapih dan terhormat dalam setiap kesempatan. Karena semua hal yang menyilaukan diatas maka kami sepakat menamakan golongan ini the sparkling.

Golongan kedua di dominasi oleh anak-anak muda dengan asuransi keluarga. Tipe golongan ini cukup kontradiktif satu sama lain.

Di satu pihak ada anak-anak penurut yang menuntut ilmu di negeri orang sebagai kewajiban yang harus dijalani demi masa depan dan berbakti pada orang tua. Di pihak lain ada tipe pemberontak. Memilih negeri yang jauh untuk lari dari keluarga dan segala atributnya, pergi untuk mandiri dan mencari kebebasan dengan dalih kuliah.

Walaupun kontradiktif tipikal golongan kedua ini cenderung sama. Yang pertama pastilah jelas dari cara berpakaian. Beberapa bahkan memiliki fasilitas tambahan seperti mobil dan kondominium di pusat kota.

Mereka ini juga cenderung cuek dan bergaul dalam lingkaran. Sekalipun bekerja part time biasanya bukan untuk memenuhi kebutuhan pokok, tetapi untuk boot E.S.P.A.D.A, atau sun glasses Calvin Klein yang ulasanya terpampang di majalah Kosmo bulan ini. Karena kemeriahan hidupnya, maka kami menjuluki golongan ini the glam.

Tipe ketiga ini yang paling umum. Peraih beasiswa development. Didominasi oleh pelajar usia matang yang biasanya membawa keluarga. Beberapa diantaranya bahkan sudah beberapa kali mengajukan aplikasi beasiswa dan baru kali ini yang tembus.

Tipe ini di dominasi orang-orang bahagia dengan pikiran sederhana dan konsep-konsep konkrit untuk memajukan bangsa dan Negara tercinta.

Penampilan sederhana dengan ramah tamah khas rakyat Indonesia mendominasi golongan ini. Untuk soal keuangan pastinya rajin berhemat, dan bila bekerja part time pastilah untuk menambah tabungan untuk dibawa pulang kampung, karena beasiswa yang diterima sesungguhnya sudah cukup untuk mensejahterakan diri sendiri.

Golongan ini biasanya punya banyak sekali teman. Dari orang-orang dengan jabatan bergengsi sampai janitors di universitas. Selain itu golongan ini juga sangat gemar traveling dan berfoto.

Akun fesbuk senantiasa dipenuhi puluhan foto-foto terbaru setiap harinya. Tidak hanya di tempat-tempat wisata, beberapa lebih banyak foto absurd di bawah lampu jalan, di samping plat mobil, di parkiran lapangan bowling, bahkan di wc umum. Bisa ditebak aku dan Arin terdaftar di tipe ini. Untuk penghormatan kami menamakannya the blessing.

Sebenarnya ada satu lagi tipe yang agak jarang ditemui. Karena berbeda dari lainnya, tipe ini tidak kami masukkan ke golongan manapun.

Ini biasanya didominasi para pejabat pemerintahan atau BUMN yang mendapat dana studi dari pajak rakyat di negeri tercinta. Kebanyakan berharga diri amat tinggi, menderita sindrom mahatahu menahun, dan lebih memilih naik taksi ketimbang trem.

Saranku jangan berlama-lama membuka pembicaraan dengan orang tipe ini, “bawaanya teh pengen nonjok guah, bener dah,” begitulah kira-kira kutipan dari salah satu teman kami-yang paling sabar sekalipun-setelah terjebak dalam percakapan panjang dengan orang tipe ini. Mereka ini sering mempermalukan diri sendiri dalam perdebatan di depan khalayak karena arogansi dan penyakit mahatahu menahunnya.

Untungnya tidak terlalu banyak orang tipe ini, dan ada juga beberapa diantaranya yang tidak terlalu menahun penyakitnya. Kami dengan kejam menamakan golongan ini the pathetic.

Well, kembali ke lantai dua flat klasik di pojokan jalan mockingbird yang senantiasa berangin seoi-sepoi. Kamar di sebelah Noah di tempati Ehsan mahasiswa cerdas dari semenanjung Malayan.

Melihat Ehsan, tak heran kampung seuprit yang sering mengklaim ini-itu kepunyaan Indonesia itu maju pesat beberapa puluh tahun belakangan.

Ehsan ini bisa dikatakan sebagai gambaran nyata versi manusia dewasanya ikon majalah aku anak soleh. Tutur katanya terstruktur dan sopan. Seperti hidupnya yang terorganisasi dengan baik, mulai dari buku hingga pakaian. Sangat taat dengan jadwal, dan rajin beribadah.

Sebaliknya, kamar di seberang di huni seratus delapan puluh derajat kebalikan Ehsan. Namanya Mouza Sinclair, seorang disc jokey. Tipe perempuan yang akan membuat pria normal manapun berpaling sejenak.

Remaja awal dua puluhan dengan bentuk badan yang kurus di bagian yang tepat dan gendut di bagian yang tepat pula. Punya passion yang kuat terutama untuk membuktikan diri kepada keluarga. Ibunya blasteran Manado-Jerman, ayahnya orang Inggris tulen.

Kuliah di jurusan yang sama dengan Noah. Anak ini salah satu manusia yang diberikan banyak kelebihan oleh Tuhan. Wajahnya sangat Eropa, tapi bukan perempuan eropa yang lemah dan jadi budak mode di setiap zaman seperti di film-film dan majalah.

Kalau tidak berlebihan, bisa dibilang dia ini mungkin tipe Little Woman masa kini. Alisnya menukik tajam menegaskan garis hidung yang meluncur mulus di antara kedua mata biru rupawan. Pandangan matanya menunjukkan dia tidak suka diremehkan dalam bentuk apapun.

Anak ini sangat menikmati hidup dan membiarkan semua berjalan apa adanya. Seperti tumpukan baju kotor di sudut kamarnya. Prinsip hidupnya what life brings up next? Walaupun berwajah dan perawakan sangat bule, masa kecilnya yang unik ternyata di habiskan di Tomohon, sebuah kota kecil di sudut Sulawesi.

Dibesarkan di lingkungan peternakan tradisional khas Sulawesi oleh kakeknya yang Jerman dengan tiga ekor anjing gembala membuatnya menjadi gadis yang sangat istimewa.

Noah naksir berat pada Mouza. Tak ada satupun di flat ini yang meragukannya. Suatu hari di ruang makan ia pernah mengumpat dengan cukup keras. Tentunya dengan sengaja agar didengar Mouza, bonusnya terdengar juga di telinga orang-orang yang tidak tuli dalam radius sepuluh meter bujur sangkar dari mereka.

“Damn! I will do anything to get your (sensored),” ujarnya, entah dalam keadaan sadar atau tidak. Lantas disambut gelengan kepala Mr. Badong Chan student doctoral asal Philipina yang tinggal di lantai satu. Lemparan sandal tidur kuda nil dari Mouza yang mendarat telak di hidungnya. Dan mulut menganga dariku.

Anehnya, setelah peristiwa berdarah itu-karena hidung Noah benar-benar berdarah setelah ditimpuk sandal kudanil Mouza-keduanya malah terlihat bertambah akrab. Dunia memang absurd.
Diubah oleh hujan.soresore 04-11-2017 02:14
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.