- Beranda
- Stories from the Heart
Gadis Bingung dan Pengembara
...
TS
hujan.soresore
Gadis Bingung dan Pengembara

Quote:
INDEX
Its freezing outside ...
Merindukanmu juga, sangat merindukanmu
Dan semua itu karena mereka pandir!
Gue Fahrezi
The Barbietch
Sore hari yang dijanjikan
Cerah...?
Rapat Rakyat Indonesia
Seuntai Awan Kecil
Day by day pass away
Well, I Should Say Thanks or Terima Kasih?
Janji sama gue..
Seperti beruang gendut kuning dengan baju merah kekecilan
Penghuni The Gloomy
Ada Rindu di Sepotong Ubi Cilembu
Itu milik Ezra
Gadis Bingung dengan rantai kacamata menjuntai
Ingin Bertemu Cerah
Pelangi di Senja Hari Bulan November
Candu
Hari-hari Bertualang Tanpa Akhir
Hari Hitam Legam
Semesta Bertautan
Dia Hanya Berhenti Bermain
Di Bawah Hujan
Abhipraya
Diubah oleh hujan.soresore 17-02-2018 05:20
anasabila memberi reputasi
1
8.9K
66
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
hujan.soresore
#30
Seperti beruang gendut kuning dengan baju merah kekecilan
A blue day, a blue jay
And a good beginning…
One crow, melting snow
Spring’s winning!
Setelah Arin pulang ke tanah air, aku memutuskan untuk pindah dari asrama. Awalnya tinggal di asrama jadi pilihan utama, karena selain lebih aman tempat ini juga lebih ramai dan suasananya sungguh menunjang untuk belajar dan berteman banyak. Tapi saat ini aku sungguh butuh privacy, dan banyak waktu sendiri untuk menyelesaikan tugas akhir.
Untuk itu flat di pinggir kota jadi pilihan utama. Sejak sebulan pertama aku menghabiskan banyak waktu untuk mencari flat kosong dengan suasana tinggal yang menyenangkan, dibantu beberapa orang teman, yang dari kesemuanya Ezra yang paling repot.
“Cerah…!” teriak Ezra suatu pagi dengan berlari di sepanjang selasar Fakultas Arts and social Science. Ia lalu mengatur nafas sejenak sebelum menjelaskan dengan excited sebuah flat yang ditemuinya di pinggir kota.
“Saya udah ketemu induk semangnya. Ngga tahu gimana menurut kamu ya, tapi menurut saya ini perfect. Penghuni sebelumnya mahasiswa doktoral dari Malaysia, baru pulang kampung satu minggu lalu. Induk semangnya juga belum sempet pasang iklan baru. Saya kebetulan dikasih tahu senior di UGM dulu, yang ternyata teman penghuni sebelumnya ini,” ujar Ezra panjang lebar.
Semua hal menyenangkan yang dipromosikan Ezra ternyata benar. Aku bahkan ingin segera pindah saat itu juga ketika melihat flat cantik itu untuk pertama kali. Letaknya dua blok dari halte shuttle bus menuju kampus. Bisa ditempuh sepuluh menit dengan jalan santai dan lima menit berlari.
Berada di jalan Mockingbird posisinya memang agak tersembunyi karena persis di sebelah lahan ruang terbuka hijau dan diapit oleh barisan pepohonan Oak yang agak rapat.
Tidak jauh dari situ ada mini market, yang sebenarnya lebih mirip toko kelontong atau warung ucok kalau di Ciputat. Flat ini tidak setinggi tetangga-tetangganya, hanya tiga lantai dari susunan bata teracota mencolok.
Masing-masing lantai terdiri dari empat kamar. Tidak ada lift, hanya tangga, pintunya juga tidak otomatis seperti flat-flat besar kebanyakan. Jadi bila lupa membawa kunci, atau teledor perihal kunci mengunci maka bersiaplah mencari tempat menginap.
Penjaga hanya ada dari jam sembilan pagi sampai jam empat sore. Selebihnya bila ada keluhan bisa disampaikan esok hari.
Yang menarik, di setiap jendela kamar ada pot gantung dengan Bunga Krisan warna-warni tumbuh di dalamnya. Induk semang mewajibkan setiap penghuni merawatnya baik-baik. Dinding sebelah timur ditumbuhi tanaman rambat yang berbunga seperti bunga terompet berwarna hijau muda.
Seluruh halaman ditumbuhi rumput hijau dengan bunga snowdrops menghampar di atasnya. Pemandangan yang sungguh menyenangkan di bulan September.
Pada halaman sebelah utara berjajar tiang-tiang kecil tempat parkir sepeda. Enam tiang jumlahnya cukup untuk memarkir satu sepeda tiap-tiap penghuni kamar dengan bersisian.
Flat ini juga punya pagar, tidak seperti kebanyakan flat. Sebenarnya hanya tembok bata yang mengapit jajaran rumpun teh-tehan yang salah satunya menopang kotak pos, lalu ada sepotong pintu besi klasik berwarna hitam sebatas pinggang orang bule dewasa sebagai gerbangnya.
Gerbang ini membuatku jatuh cinta untuk pertama kali. Lekukannya membentuk pola cantik yang sinkron, kesemuanya dikeling dengan cermat oleh tangan manusia, bukan di las. Ia juga menimbulkan bunyi berderit yang khas setiap di geser.
Bisa kubayangkan gerbang klasik ini dibuat pada abad ke-17, tadinya memagari salah satu taman pribadi milik salah seorang putri bangsawan nun jauh di seberang Samudra Atlantik. Lalu sengaja dibawa oleh pemiliknya saat terjadi eksodus besar-besaran ke dunia baru ini, untuk mengingatkannya pada taman kesayangan yang tertinggal di ujung dunia sana.
Terdapat jalan setapak kecil dari gerbang menuju pintu masuk flat. Jalan setapak pendek beralaskan batu dengan bunga bakung oranye dan pink mini sebagai pembatas di kiri kananya.
Setiap melalui jalanan ini aku menjelma jadi gadis kecil bertudung merah dalam lukisan di buku tebal 1001 dongeng anak karya Andersen. Kadang-kadang juga jadi beruang gendut kuning dengan baju merah kekecilan yang sedang menghirup wangi buttercup dengan khidmat di depan rumah pohonnya
And a good beginning…
One crow, melting snow
Spring’s winning!
Setelah Arin pulang ke tanah air, aku memutuskan untuk pindah dari asrama. Awalnya tinggal di asrama jadi pilihan utama, karena selain lebih aman tempat ini juga lebih ramai dan suasananya sungguh menunjang untuk belajar dan berteman banyak. Tapi saat ini aku sungguh butuh privacy, dan banyak waktu sendiri untuk menyelesaikan tugas akhir.
Untuk itu flat di pinggir kota jadi pilihan utama. Sejak sebulan pertama aku menghabiskan banyak waktu untuk mencari flat kosong dengan suasana tinggal yang menyenangkan, dibantu beberapa orang teman, yang dari kesemuanya Ezra yang paling repot.
“Cerah…!” teriak Ezra suatu pagi dengan berlari di sepanjang selasar Fakultas Arts and social Science. Ia lalu mengatur nafas sejenak sebelum menjelaskan dengan excited sebuah flat yang ditemuinya di pinggir kota.
“Saya udah ketemu induk semangnya. Ngga tahu gimana menurut kamu ya, tapi menurut saya ini perfect. Penghuni sebelumnya mahasiswa doktoral dari Malaysia, baru pulang kampung satu minggu lalu. Induk semangnya juga belum sempet pasang iklan baru. Saya kebetulan dikasih tahu senior di UGM dulu, yang ternyata teman penghuni sebelumnya ini,” ujar Ezra panjang lebar.
Semua hal menyenangkan yang dipromosikan Ezra ternyata benar. Aku bahkan ingin segera pindah saat itu juga ketika melihat flat cantik itu untuk pertama kali. Letaknya dua blok dari halte shuttle bus menuju kampus. Bisa ditempuh sepuluh menit dengan jalan santai dan lima menit berlari.
Berada di jalan Mockingbird posisinya memang agak tersembunyi karena persis di sebelah lahan ruang terbuka hijau dan diapit oleh barisan pepohonan Oak yang agak rapat.
Tidak jauh dari situ ada mini market, yang sebenarnya lebih mirip toko kelontong atau warung ucok kalau di Ciputat. Flat ini tidak setinggi tetangga-tetangganya, hanya tiga lantai dari susunan bata teracota mencolok.
Masing-masing lantai terdiri dari empat kamar. Tidak ada lift, hanya tangga, pintunya juga tidak otomatis seperti flat-flat besar kebanyakan. Jadi bila lupa membawa kunci, atau teledor perihal kunci mengunci maka bersiaplah mencari tempat menginap.
Penjaga hanya ada dari jam sembilan pagi sampai jam empat sore. Selebihnya bila ada keluhan bisa disampaikan esok hari.
Yang menarik, di setiap jendela kamar ada pot gantung dengan Bunga Krisan warna-warni tumbuh di dalamnya. Induk semang mewajibkan setiap penghuni merawatnya baik-baik. Dinding sebelah timur ditumbuhi tanaman rambat yang berbunga seperti bunga terompet berwarna hijau muda.
Seluruh halaman ditumbuhi rumput hijau dengan bunga snowdrops menghampar di atasnya. Pemandangan yang sungguh menyenangkan di bulan September.
Pada halaman sebelah utara berjajar tiang-tiang kecil tempat parkir sepeda. Enam tiang jumlahnya cukup untuk memarkir satu sepeda tiap-tiap penghuni kamar dengan bersisian.
Flat ini juga punya pagar, tidak seperti kebanyakan flat. Sebenarnya hanya tembok bata yang mengapit jajaran rumpun teh-tehan yang salah satunya menopang kotak pos, lalu ada sepotong pintu besi klasik berwarna hitam sebatas pinggang orang bule dewasa sebagai gerbangnya.
Gerbang ini membuatku jatuh cinta untuk pertama kali. Lekukannya membentuk pola cantik yang sinkron, kesemuanya dikeling dengan cermat oleh tangan manusia, bukan di las. Ia juga menimbulkan bunyi berderit yang khas setiap di geser.
Bisa kubayangkan gerbang klasik ini dibuat pada abad ke-17, tadinya memagari salah satu taman pribadi milik salah seorang putri bangsawan nun jauh di seberang Samudra Atlantik. Lalu sengaja dibawa oleh pemiliknya saat terjadi eksodus besar-besaran ke dunia baru ini, untuk mengingatkannya pada taman kesayangan yang tertinggal di ujung dunia sana.
Terdapat jalan setapak kecil dari gerbang menuju pintu masuk flat. Jalan setapak pendek beralaskan batu dengan bunga bakung oranye dan pink mini sebagai pembatas di kiri kananya.
Setiap melalui jalanan ini aku menjelma jadi gadis kecil bertudung merah dalam lukisan di buku tebal 1001 dongeng anak karya Andersen. Kadang-kadang juga jadi beruang gendut kuning dengan baju merah kekecilan yang sedang menghirup wangi buttercup dengan khidmat di depan rumah pohonnya
Diubah oleh hujan.soresore 03-11-2017 02:13
0