Kaskus

Story

hujan.soresoreAvatar border
TS
hujan.soresore
Gadis Bingung dan Pengembara
Gadis Bingung dan Pengembara



Quote:


INDEX

Its freezing outside ...

Merindukanmu juga, sangat merindukanmu

Dan semua itu karena mereka pandir!

Gue Fahrezi

The Barbietch

Sore hari yang dijanjikan

Cerah...?

Rapat Rakyat Indonesia

Seuntai Awan Kecil

Day by day pass away

Well, I Should Say Thanks or Terima Kasih?

Janji sama gue..

Seperti beruang gendut kuning dengan baju merah kekecilan

Penghuni The Gloomy

Ada Rindu di Sepotong Ubi Cilembu

Itu milik Ezra

Gadis Bingung dengan rantai kacamata menjuntai

Ingin Bertemu Cerah

Pelangi di Senja Hari Bulan November

Candu

Hari-hari Bertualang Tanpa Akhir

Hari Hitam Legam

Semesta Bertautan

Dia Hanya Berhenti Bermain

Di Bawah Hujan

Abhipraya



Diubah oleh hujan.soresore 17-02-2018 05:20
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
8.9K
66
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.5KAnggota
Tampilkan semua post
hujan.soresoreAvatar border
TS
hujan.soresore
#26
Well, I Should Say Thanks or Terima Kasih?
Itulah alasanku berlari tunggang langgang dari asrama menuju halte shuttle bus, dan dari halte shuttle bus menuju terminal di pagi yang tenang ini.

Tidak bisa datang sehari lebih awal dan menginap di flat Arin karena kemarin jadwalku untuk menghadap pembimbing akademik, demi mempertangungjawabkan penyelesaian thesis di ujung semester depan.

Leganya karena ternyata tidak lagi menerima penolakan dan kritik yang menohok mental. Kali ini hanya komitmen dan willingness yang jadi topik utama pembicaraan.

Entah karena si pembimbing ini bosan melihatku dengan permasalahan yang itu-itu saja, atau karena isi proposal thesisku memang menarik hatinya. Tak mau berspekulasi dan mengira-ngira, mudah-mudahan saja dia tidak berubah pikiran. Doa yang terus kupanjatkan seiiring langkah demi langkah yang kujejakkan menuju pintu keluar.

Bersiap mencari posisi senyaman mungkin untuk memulai tidur lagi. Aku memang mengorbankan hampir separuh jam tidur malamku untuk memastikan diri tidak terlambat untuk bisa mengejar bus pertama ini.

Belum sempat terpejam, mataku menabrak sesosok pria yang berlari sekuat tenaga berusaha mengejar bus yang mulai berjalan perlahan.

Tiba-tiba merasa iba, bisa saja aku yang berada pada posisinya. Tak tahu punya motif apa aku memohon pada supir yang sepertinya cuek pada penderitaan pria yang masih sekuat tenaga berlari mengejar bus ini di luar sana.

“Please, then you even didn’t lose anything,” ujarku menghiba pada sopir bus, beruntung aku duduk pada posisi sangat strategis untuk menawar karena tepat dibelakang supir. Aku suka posisi ini, karena kupikir punya spare yang luas untuk meregangkan otot kaki.

Si supir berjanggut tebal kemerahan mirip semak birch dengan nama Andrew Lane tercetak terang pada bet di atas kantong seragam biru mudanya. Ia menengok sesaat padaku lewat spion.

“Please Mr. Lane,” ujarku lagi sambil menangkupkan dua tangan di depan bibir.

Ia lalu mengangkat bahu dan berpaling sejenak ke spion yang merefleksikan si pria yang kini mulai terengah-engah masih berlari dengan menyeret ransel 90 milinya.

“As your wish young lady,” ujar Mr. Lane manis lalu perlahan menghentikan laju bus.

Si pria yang tadinya tunggang langgang menapaki aspal basah di luar kini mendaki tangga bus dengan terengah-engah. “Thank you,” ujarnya pada Andrew Lane susah payah di sela-sela nafas yang timbul tenggelam.

“Don’t need too, say thanks to young lady behind me,” ujar Andrew Lane sambil mengedipkan sebelah matanya padaku lewat spion.

Si pria terlambat menghampiriku setelah sebelumnya sempat memulihkan diri dengan berpegangan pada tiang di pinggir tangga dekat pintu. Sambil mengecek nomer bangku di tiketnya.

“Well, I should say thanks or terimaksih?” ujarnya mantap.

Pastinya tidak ada keraguan kalau wajahku sangat Asia Tenggara. Tapi dari mana si sok tahu ini bisa memastikan Indonesia.

Tidak menunggu jawaban dariku, pria terlambat sok tahu memalingkan pandangan pada kondektur, “B-4 this is should be my seat,” ujarnya lagi dengan gaya sok tahu yang sama. Lalu ia serta merta menjejakkan pantat di sampingku setelah terlebih dulu menyimpan ranselnya di kabin atas.

“Makasih banyak ya udah bantu berhentiin bis ini buat saya, maaf sebelumnya, saya Ezra,” cerocos si pria terlambat sok tahu dalam bahasa Indonesia yang sangat lancar seraya menyerahkan sebelah tanganya di hadapanku.

Aku bingung, tapi kusambut juga sambil menggumankan nama perlahan. “Cerah”.

“Well, berarti emang Arin bener, saya ngga salah orang,” ujarnya lagi sedikit mengagetkanku karena menyebut-nyebut Arin.

“Maaf, saya temennya Arin, baru satu semester di sini, kebetulan juga ambil media studies. Seharusnya saya hubungi kamu dulu dari kemarin, supaya bisa berangkat bareng. Tapi berapa kali saya telepon ngga dijawab. Mau sms ngga enak, akhirnya yah udah saya gambling, mudah-mudahan aja ketemu di bis, ternyata bener,” penjelasan panjang lebarnya sama sekali tidak menjawab kebingunganku. Ia lalu tertawa renyah saat melihatku hanya mengernyitkan kening.

Namanya Ezra Abhinawa, teman Arin saat sempat direkrut jadi asisten peneliti seorang Profesor gendut asal Kanada yang berteman akrab dengan salah satu dosen favorit Arin di kampus.

Arin yang direkomendasikan si dosen ini untuk membantu penelitian si Profesor gendut lalu terbang ke Jogja dua bulan penuh selama liburan semester. Kejadian ini kira-kira tiga sampai empat tahun yang lalu.

Ezra jadi patner penelitian Arin. Dan dia menelpon kemarin sore tepat di saat aku menghadap pembimbing yang terhormat. Tiga missed call ketika ku cek ponsel, namun tidak ada panggilan atau pesan lagi, jadi kuabaikan.

Aku ingat, dulu waktu masih berbagi kamar dengan Arin di asrama pojokan Ciputat ia pernah bercerita tentang patner penelitiannya yang tampan dan sopan. Ini jadi bahan tertawa nakal kami berdua mengingat Arin dan Nanda, a simple couple tidak akan pernah terpisahkan.

Aku tersenyum ingat kejadian itu. Ternyata Ezra mengikuti saran Arin mendaftar beasiswa yang sama dengan kami setelah kami resmi meninggalkan negara tercinta demi menuntut ilmu selama satu tahun ajaran. Ia mengambil jurusan yang sama dengan Arin, tapi terlempar di kampus yang sama denganku.

“Kok kita ngga pernah ketemu ya?” tanyaku setelah selesai mendengar penjelasan panjangnya.

“Pernah kok, dua kali. Yang pertama waktu acara penyambutan mahasiswa baru bareng mahasiswa Indonesia yang lain, trus yang kedua di kuliah umumnya Professor Geoff,” jawaban Ezra membuat ingatanku melayang pada acara penyambutan mahasiswa baru enam bulan lalu.

Saat semuanya terasa tidak pasti dan melayang bagiku, dan saat ini aku sungguh sedang tidak ingin membongkar ingatan lain yang jadi penyebabnya.

Lalu kuliah umum Proffesor Geoff , kebetulan selebarannya di tempel di jalan menuju asrama dengan tema Secret Agenda behind The Set. Dasyhat nian, konon Proffesor muda nan charming ini sempat berguru langsung dengan Noam Chompsky yang bagai dewa teori media kritis itu, di almamaternya dulu, nun jauh diseberang Samudra Pasifik.
Diubah oleh hujan.soresore 04-11-2017 02:10
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.