Quote:
Aku berlari bagai kesetanan melintasi pagar tanaman sepanjang pedestrian side menuju Armidale Interchange Bus.
Untuk kali ini aku sungguh tidak ingin terlambat. Dan tarikan nafas lega yang panjang berhembus serta merta pantatku menjejak di atas bangku bus yang tinggi dan empuk.
Ini hari yang sungguh penting. Karena ada dua hal yang patut dirayakan. Pertama, tepatnya kemarin, judul penelitian thesisku diterima oleh para pembimbing yang terhormat. Kedua, Arin tersayang akan menghadapi ujian akhirnya sore ini.
Arin yang manis, penopangku selama masa-masa sulit di pulau besar paling selatan bumi ini sebentar lagi akan menamatkan studinya, menyandang master untuk pertama kalinya, lalu pulang ke tanah air dengan gilang gemilang.
Aku tersenyum sangat lebar dan bersulang dengan udara merayakan kebahagiannya saat pertama kali mendengar kabar itu.
Dua hari yang lalu tepatnya, saat sedang mengeringkan rambut di sore musim panas yang panjang tiba-tiba ringtone penanda sambungan masuk di ponselku berbunyi. Tadinya kupikir dari teman sekelas mengabarkan hasil ujian, ternyata dari Arin.
“Hello it’s Arin speaking, can I help you?” terdengar suara Arin menggodaku dari speaker phone.
“Ada apa si Rin? Ga usah basa-basi udah, mau ngabarin gue, lu jadian sama Rusian-Georgian muslim si gebetan lu itu,” ujarku disambut tawa renyahnya.
“Hahaha, tenang sist ini kabar yang lebih hebat dari itu, dijamin lu bakal meneteskan air mata saking senengnya,” jawab Arin.
Bisa kubayangkan di seberang sana Arin menelpon dengan pose favoritnya, duduk di tempat tidur dengan mengangkat kedua kaki hingga dagunya bisa bertopang di atas lutut, lalu kepala ditelengkan ke sebelah sisi untuk menahan ponsel, sementara kedua tanganya sibuk mengorek-ngokrek kotoran di ujung kuku jempol kaki.
Aku cuma tersenyum menanggapinya sambil membayangkan hal selanjutnya yang tengah dilakukan Arin, hal ini sekaligus bagian kesukaanya, yakni mengendus-ngendus ujung jarinya dengan hikmat setelah puas dengan kegiatan mengorek-ngokrek kotoran di ujung jempol.
“Hei, Cerah! Kok diem aja si,” teriakan Arin dari speaker mengaggetkanku.
“Iya ada apa sih yang mulia, bagaimana hamba bisa tahu bila yang mulia tak kunjung bercerita,” jawabku, bisa kubayangkan Arin memajukan bibirnya, sebal kusebut yang mulia.
“Baiklah hambaku, dengar baik-baik kabar gembira dari tuan putri Arin ya,” ujarnya serta merta, tidak seperti biasa kali ini Arin menanggapi positif panggilan yang mulia, bisa kubayangkan pastilah ada kejadian yang sangat membuatnya senang hari ini.
“Besok gue sidang Cerah,” ujarnya pendek.
Aku terkejut dan diam sesaat. “What?! Ariiiiiiiiin! No way! Lu akan ninggalin gue membusuk di benua ini sendirian,” teriakku histeris kemudian.
“Hahaha.. iya dong, ngapain gue nungguin orang males yang thesisnya terhambat cuma gara-gara patah hati,” jawaban heartless Arin sungguh menyinggungku sampai ke tulang.
“Iya janji gue semester ini serius digarap deh,” jawabku pasrah.
“Heh, gue ga butuh janji-janji lu, yang penting buktinya. Dan gue sidang Kamis jam empat sore. Gue ga butuh janji lu akan dateng, tapi gue butuh lu bener-bener dateng,” kata-kata Arin layaknya komando perang yang keluar dari mulut jendral besar.
“Siap komandan! Perintah diterima,” jawabanku itu lalu menutup percakapan menyenangkan di sore hari musim panas yang panjang dan lengang.