- Beranda
- Stories from the Heart
Gadis Bingung dan Pengembara
...
TS
hujan.soresore
Gadis Bingung dan Pengembara

Quote:
Ketemu tulisan ini di hardisk komputer lama, seneng sekaligus kaget ternyata pernah hampir jadi penulis kisah romansa di jaman dahulu kala *ketawa kuntilanak. Sebenernya ini cerita gimana dulu ketemu suami, sebagian besar isinya memang kejadian, sisanya bumbu-bumbu yang membahagiakan penulisnya.
Biar ga bingung saya jelasin dulu, ceritanya ini jaman tahun 2000an akhir yaa, meskipun alat komunikasi udah canggih dan kita udah bisa fesbukan tapi yang namanya wasap, ato line, ato bbm dan sanak saudaranya belom lahir. Jadi tokoh-tokoh perwayangan saya semua berkomunikasi dengan messenger dan segenap jendela chatting masa dahulu kala termasuk telpon dan SMS. Ciyeeeeh yang dipojokan mesem-mesem sendiri. Pasti inget masa-masa menunggu kedipan ungu di jendela yahoo messenger tuuh. Nah lho jadi ketahuan kan umurnya *ketawa nenek lampir.
Semoga jadi bacaan senang-senang agan-agan yang baik hatinya sekalian yaaa, sembari menyeruput kopi, atau makan pisang goreng, atau nungguin jemuran kering, atau simply supaya lupa kalo kaki pegel waktu gelantungan penuh sesak di commuter line. Selamat membaca.
Biar ga bingung saya jelasin dulu, ceritanya ini jaman tahun 2000an akhir yaa, meskipun alat komunikasi udah canggih dan kita udah bisa fesbukan tapi yang namanya wasap, ato line, ato bbm dan sanak saudaranya belom lahir. Jadi tokoh-tokoh perwayangan saya semua berkomunikasi dengan messenger dan segenap jendela chatting masa dahulu kala termasuk telpon dan SMS. Ciyeeeeh yang dipojokan mesem-mesem sendiri. Pasti inget masa-masa menunggu kedipan ungu di jendela yahoo messenger tuuh. Nah lho jadi ketahuan kan umurnya *ketawa nenek lampir.
Semoga jadi bacaan senang-senang agan-agan yang baik hatinya sekalian yaaa, sembari menyeruput kopi, atau makan pisang goreng, atau nungguin jemuran kering, atau simply supaya lupa kalo kaki pegel waktu gelantungan penuh sesak di commuter line. Selamat membaca.
INDEX
Its freezing outside ...
Merindukanmu juga, sangat merindukanmu
Dan semua itu karena mereka pandir!
Gue Fahrezi
The Barbietch
Sore hari yang dijanjikan
Cerah...?
Rapat Rakyat Indonesia
Seuntai Awan Kecil
Day by day pass away
Well, I Should Say Thanks or Terima Kasih?
Janji sama gue..
Seperti beruang gendut kuning dengan baju merah kekecilan
Penghuni The Gloomy
Ada Rindu di Sepotong Ubi Cilembu
Itu milik Ezra
Gadis Bingung dengan rantai kacamata menjuntai
Ingin Bertemu Cerah
Pelangi di Senja Hari Bulan November
Candu
Hari-hari Bertualang Tanpa Akhir
Hari Hitam Legam
Semesta Bertautan
Dia Hanya Berhenti Bermain
Di Bawah Hujan
Abhipraya
Diubah oleh hujan.soresore 17-02-2018 05:20
anasabila memberi reputasi
1
8.9K
Kutip
66
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
hujan.soresore
#18
Seuntai Awan Kecil
Quote:
Tiba di Armidale pagi-pagi sekali. Biasanya kota ini selalu terlihat seperti susu bagiku; kental, pucat, dan sehat. Tapi tidak hari ini. Langit menutup dirinya kembali, sama seperti hari kemarin di Penrith.
Bedanya, tak ada selaksa hujan pun yang jatuh.
Hanya riak gerimis sesekali. Timbul tenggelam ditelan angin. Langit di akhir musim dingin yang kaku.
Ini sungguh negeri yang buruk untuk dijadikan tempat pelarian luka hati. Pantas setahuku tak ada satupun film romansa Hollywood yang mengambil setting di negeri ini. Ada mission imposible yang isinya melulu kejar-kejaran atau ide tentang memfilemkan raja gagap dari seberang benua.
Biasanya udara di kamar asrama ini begitu ringan. Tapi tidak hari ini. Aku masih memikirkan mu, dengan hujan sebagai latar belakangnya.
Hujan yang lekat dengan segala ingatan tentang mu. Hujan yang tak datang hari ini.
“Kamu pernah denger tentang Subcomandante Marcos,” ujarmu pendek memecah keheningan.
“Ehm, Milisi Zapatista kah?” jawabku menggantung.
Lalu diam lagi, suasana kaku menyebalkan berkelebat bolak-balik di antara kami.
Bukan, ini bukan karena pemimpin gerilya pemberontak di ujung dunia sana. Satu-satunya hal yang menyebalkan adalah percakapan ini berlangsung di bangku terdepan Kopaja P20 jurusan Lebak Bulus-Senen.
Lalu tak ada suara lagi yang pecah diantara kami, hanya diam sampai tujuan.
Aku ingat hari itu, ada dua hal yang memaksa kami duduk berdampingan dalam kopaja yang pontang panting itu. Pertama, teklap -rapat persiapan- untuk aksi Hari Tani. Kedua, rapat yang melibatkan kami sebagai partisipan pada pertemuan petani dunia yang diselenggarakan salah satu LSM rekanan organisasi kami.
Dan hebatnya, sejak turun, tepatnya menurunkan diri secara paksa dari kopaja yang supirnya selalu merasa kiamat sudah di depan mata itu, tak satu kata pun meluncur dari bibir manusia Fahrezi untukku. Dan herannya hanya untukku.
Setelah putus asa mengira-ngira dan yakin benar tak ada bau tak sedap yang keluar dari mulutku, atau bagian tubuhku yang lain, aku memutuskan orang ini punya penyakit mental.
Perkiraan pertama yang ku ambil, orang ini berkepribadian ganda.
Perkiraan kedua, orang ini punya penyakit mental takut berhadapan dengan orang lain dan cenderung menghindari percakapan serius.
Perkiraan ketiga orang ini menganggap aku terlalu pintar untuknya jadi takut salah bicara dan ketahuan bodoh. Dan perkiraan terakhir, orang ini naksir aku dan antara terpesona jadi speechless atau takut ketahuan salah tingkah jadi cuma diam saja. Absurd.
Keempat kesimpulan itu menutup hari yang sibuk tersebut dengan penuh rasa lega dipihakku dan diam seribu bahasa di seberang meja. Setidaknya begitulah pikirku. Perkiraanku hal itu akan menutup hari itu untuk selamanya. Tapi ternyata tidak sampai dua hari kemudian.
Selesai melakukan perdebatan konyol tentang sitem Khilafah dengan beberapa orang fundamentalis kampus. Bukan hendak melabeli sekelompok orang tertentu dengan pemahamannya, hanya mengutip sebutan mayoritas orang untuk beberapa manusia tipe ini. Karena label kupikir penting, aku sendiri tidak keberatan di beri label "si bodoh keras kepala" atau "manusia ceroboh sedunia" selama hal itu benar adanya mencerminkan diriku di mata publik.
Tidak, ini bukan kisah tentang sara dengan semua huruf kapital, tapi debat kusir itu membawaku harus berteduh di perpanjangan atap gerobak tukang gorengan di samping gerbang kampus.
Hujan mengucur dengan sangat deras dan tiba-tiba. Melihat kecilnya kemungkinan hujan ini akan berhenti dalam hitungan menit, aku bergegas mengayuh langkah ke warung internet di seberang. Tepat waktu sebelum air menggenangi undakan di pinggir pintunya.
Sanitasi buruk tampaknya salah satu label yang tepat untuk Indonesia selain gemah ripah loh jinawi yang terkenal ke seantero bumi itu.
Hal yang pertama kali kulakukan mencek surel, ratusan yang masuk dari berbagai milis.
Dan satu email yang membuat dunia tenangku bagai meminum soda satu botol utuh tanpa jeda.
From: fahreziahmad@ymail.com
To: pijarmataharicerah@ymail.com
Cc:
Subject: seuntai awan kecil
Alkisah hiduplah sebuah awan yang sangat kecil dan kesepian.
Karena ia sangat kecil, nyaris tak sampai seuntai, ia terbang berkeliaran sendiri jauh dari awan-awan besar.
Manakala awan-awan besar menjadikan diri mereka hujan untuk mencat hijau pegunungan, si awan kecil akan terbang mendekat menawarkan jasanya. Tapi mereka mengoloknya karena ia begitu kecil.
“Kau tak punya apa-apa buat diberikan,” awan-awan besar biasa memberitahunya.
“Alangkah kecil dirimu”. Mereka mengolok-oloknya menjadi-jadi.
Lantas, dengan sedih si awan kecil mencoba menyingkir ke tempat lain untuk menjadikan dirinya hujan. Tapi, kemanapun ia pergi awan-awan besar selalu mendesaknya minggir.
Maka, si awan kecil pergi lebih jauh lagi, sangat jauh, sampai ia tiba di padang gurun. Tempat ini sangat kering kerontang. Saking keringnya, sampai tak ada satu pun yang tumbuh.
Si awan kecil lalu berkata pada cerminnya, aku lupa memberi tahumu bahwa si awan kecil ini selalu membawa-bawa cermin agar ia bisa berbicara dengan dirinya saat ia sedang sendiri.
“Ini lokasi yang sangat sempurna untuk menjadikanku hujan, karena tak seorangpun pernah datang kemari,” ujar si awan.
Si awan kecil mengerahkan banyak upaya untuk menjadikan dirinya hujan.
Upayanya menelurkan satu tetes kecil hujan. Begitulah, si awan kecil lenyap dan berubah menjadi setetes kecil hujan. Sedikit demi sedikit si awan kecil yang kini tetes hujan kecil mengarungi udara.
Dengan segenap kesepiannya, ia jatuh dan jatuh, tapi tak ada yang menantikannya di bawah sana. Akhirnya tetes hujan kecil itu menciprat sendirian.
Karena padang gurun itu begitu lengang, si tetes hujan kecil menimbulkan kebisingan hebat saat menciprat tepat di atas sebuah batu.
Ia membangunkan bumi yang lalu bertanya, “ribut-ribut apa itu?” Katanya pada batu.
“Tetes hujan jatuh,” kata batu.
“Tetes hujan? Artinya hujan bakal turun,” ujar bumi lagi.
“Lekas! Bangun! Hujan akan turun!” bumi mengingatkan tetumbuhan yang bersembunyi dari terik matahari.
Maka, tumbuh-tumbuhan pun bangun dan mengintip dari balik tanah, untuk sesaat seiisi padang gurun tersaput warna hijau.
Awan-awan besar pun melihat hijau itu dari kejauhan. Lalu mereka berkata, “lihat, ada banyak hijau di sana, ada banyak tanaman membutuhkan air, ayo kita bikin hujan di tempat itu. Kita tidak pernah tahu di sana begitu hijau.”
Lalu pergilah mereka menjadikan hijau tempat yang dulunya padang gurun. Mereka curahkan hujan dan hujan, lalu tanaman pun tumbuh dan hijau mewarna-warna di segala penjuru sekaligus.
“Mujur nian kita ada di sini, tanpa kita tak bakal ada hijau,” ucap si awan-awan besar.
Dan saat itu, tak ada yang ingat akan seuntai awan kecil yang mengucurkan setetes hujan kecil yang cipratannya membangunkan mereka yang tertidur.
Tak ada yang ingat kecuali batu.
Si batu menyimpan rahasianya. Waktu berlalu, awan-awan besar pertama itupun lenyap dan tanaman-tanaman pertama itupun mati. Tapi batu yang tak pernah mati, memberitahu tanaman-tanaman baru yang terlahir, dan awan-awan baru yang tiba, mengenai kisah seuntai awan kecil yang mengucurkan setetes hujan kecil.
Subcomandante Marcos, 7 November 1997
***
Air mata hangat menggenangi sudut-sudut gagang kacamataku.
Tak tahu untuk apa dan mengapa. Mungkin untuk si awan kecil. Entahlah ada perasaan bahagia mengalir terus menerus setiap meresapi kata-katanya.
Bahkan hingga saat ini. Setelah ratusan hari dan ribuan mil jauhnya dari warnet di pojokan kampung Ciputat Raya.
Hujan tumpah amat deras di atas bantal putihku. Aku menangis seperti bayi. Lalu malam itu dihabiskan dengan mengunyah sekantong penuh éclairs.
Seperti hujan yang turun deras ada pelangi di ufuk dunia dan warna-warna hijau biru cerah yang ditinggalkannya.
Pelangi itu Fahrezi. Ia pelangi di ufuk dunia ku. Menjejak sesaat dengan penuh pesona, namun lalu hilang begitu saja ke udara.
Bedanya, tak ada selaksa hujan pun yang jatuh.
Hanya riak gerimis sesekali. Timbul tenggelam ditelan angin. Langit di akhir musim dingin yang kaku.
Ini sungguh negeri yang buruk untuk dijadikan tempat pelarian luka hati. Pantas setahuku tak ada satupun film romansa Hollywood yang mengambil setting di negeri ini. Ada mission imposible yang isinya melulu kejar-kejaran atau ide tentang memfilemkan raja gagap dari seberang benua.
Biasanya udara di kamar asrama ini begitu ringan. Tapi tidak hari ini. Aku masih memikirkan mu, dengan hujan sebagai latar belakangnya.
Hujan yang lekat dengan segala ingatan tentang mu. Hujan yang tak datang hari ini.
“Kamu pernah denger tentang Subcomandante Marcos,” ujarmu pendek memecah keheningan.
“Ehm, Milisi Zapatista kah?” jawabku menggantung.
Lalu diam lagi, suasana kaku menyebalkan berkelebat bolak-balik di antara kami.
Bukan, ini bukan karena pemimpin gerilya pemberontak di ujung dunia sana. Satu-satunya hal yang menyebalkan adalah percakapan ini berlangsung di bangku terdepan Kopaja P20 jurusan Lebak Bulus-Senen.
Lalu tak ada suara lagi yang pecah diantara kami, hanya diam sampai tujuan.
Aku ingat hari itu, ada dua hal yang memaksa kami duduk berdampingan dalam kopaja yang pontang panting itu. Pertama, teklap -rapat persiapan- untuk aksi Hari Tani. Kedua, rapat yang melibatkan kami sebagai partisipan pada pertemuan petani dunia yang diselenggarakan salah satu LSM rekanan organisasi kami.
Dan hebatnya, sejak turun, tepatnya menurunkan diri secara paksa dari kopaja yang supirnya selalu merasa kiamat sudah di depan mata itu, tak satu kata pun meluncur dari bibir manusia Fahrezi untukku. Dan herannya hanya untukku.
Setelah putus asa mengira-ngira dan yakin benar tak ada bau tak sedap yang keluar dari mulutku, atau bagian tubuhku yang lain, aku memutuskan orang ini punya penyakit mental.
Perkiraan pertama yang ku ambil, orang ini berkepribadian ganda.
Perkiraan kedua, orang ini punya penyakit mental takut berhadapan dengan orang lain dan cenderung menghindari percakapan serius.
Perkiraan ketiga orang ini menganggap aku terlalu pintar untuknya jadi takut salah bicara dan ketahuan bodoh. Dan perkiraan terakhir, orang ini naksir aku dan antara terpesona jadi speechless atau takut ketahuan salah tingkah jadi cuma diam saja. Absurd.
Keempat kesimpulan itu menutup hari yang sibuk tersebut dengan penuh rasa lega dipihakku dan diam seribu bahasa di seberang meja. Setidaknya begitulah pikirku. Perkiraanku hal itu akan menutup hari itu untuk selamanya. Tapi ternyata tidak sampai dua hari kemudian.
Selesai melakukan perdebatan konyol tentang sitem Khilafah dengan beberapa orang fundamentalis kampus. Bukan hendak melabeli sekelompok orang tertentu dengan pemahamannya, hanya mengutip sebutan mayoritas orang untuk beberapa manusia tipe ini. Karena label kupikir penting, aku sendiri tidak keberatan di beri label "si bodoh keras kepala" atau "manusia ceroboh sedunia" selama hal itu benar adanya mencerminkan diriku di mata publik.
Tidak, ini bukan kisah tentang sara dengan semua huruf kapital, tapi debat kusir itu membawaku harus berteduh di perpanjangan atap gerobak tukang gorengan di samping gerbang kampus.
Hujan mengucur dengan sangat deras dan tiba-tiba. Melihat kecilnya kemungkinan hujan ini akan berhenti dalam hitungan menit, aku bergegas mengayuh langkah ke warung internet di seberang. Tepat waktu sebelum air menggenangi undakan di pinggir pintunya.
Sanitasi buruk tampaknya salah satu label yang tepat untuk Indonesia selain gemah ripah loh jinawi yang terkenal ke seantero bumi itu.
Hal yang pertama kali kulakukan mencek surel, ratusan yang masuk dari berbagai milis.
Dan satu email yang membuat dunia tenangku bagai meminum soda satu botol utuh tanpa jeda.
From: fahreziahmad@ymail.com
To: pijarmataharicerah@ymail.com
Cc:
Subject: seuntai awan kecil
Alkisah hiduplah sebuah awan yang sangat kecil dan kesepian.
Karena ia sangat kecil, nyaris tak sampai seuntai, ia terbang berkeliaran sendiri jauh dari awan-awan besar.
Manakala awan-awan besar menjadikan diri mereka hujan untuk mencat hijau pegunungan, si awan kecil akan terbang mendekat menawarkan jasanya. Tapi mereka mengoloknya karena ia begitu kecil.
“Kau tak punya apa-apa buat diberikan,” awan-awan besar biasa memberitahunya.
“Alangkah kecil dirimu”. Mereka mengolok-oloknya menjadi-jadi.
Lantas, dengan sedih si awan kecil mencoba menyingkir ke tempat lain untuk menjadikan dirinya hujan. Tapi, kemanapun ia pergi awan-awan besar selalu mendesaknya minggir.
Maka, si awan kecil pergi lebih jauh lagi, sangat jauh, sampai ia tiba di padang gurun. Tempat ini sangat kering kerontang. Saking keringnya, sampai tak ada satu pun yang tumbuh.
Si awan kecil lalu berkata pada cerminnya, aku lupa memberi tahumu bahwa si awan kecil ini selalu membawa-bawa cermin agar ia bisa berbicara dengan dirinya saat ia sedang sendiri.
“Ini lokasi yang sangat sempurna untuk menjadikanku hujan, karena tak seorangpun pernah datang kemari,” ujar si awan.
Si awan kecil mengerahkan banyak upaya untuk menjadikan dirinya hujan.
Upayanya menelurkan satu tetes kecil hujan. Begitulah, si awan kecil lenyap dan berubah menjadi setetes kecil hujan. Sedikit demi sedikit si awan kecil yang kini tetes hujan kecil mengarungi udara.
Dengan segenap kesepiannya, ia jatuh dan jatuh, tapi tak ada yang menantikannya di bawah sana. Akhirnya tetes hujan kecil itu menciprat sendirian.
Karena padang gurun itu begitu lengang, si tetes hujan kecil menimbulkan kebisingan hebat saat menciprat tepat di atas sebuah batu.
Ia membangunkan bumi yang lalu bertanya, “ribut-ribut apa itu?” Katanya pada batu.
“Tetes hujan jatuh,” kata batu.
“Tetes hujan? Artinya hujan bakal turun,” ujar bumi lagi.
“Lekas! Bangun! Hujan akan turun!” bumi mengingatkan tetumbuhan yang bersembunyi dari terik matahari.
Maka, tumbuh-tumbuhan pun bangun dan mengintip dari balik tanah, untuk sesaat seiisi padang gurun tersaput warna hijau.
Awan-awan besar pun melihat hijau itu dari kejauhan. Lalu mereka berkata, “lihat, ada banyak hijau di sana, ada banyak tanaman membutuhkan air, ayo kita bikin hujan di tempat itu. Kita tidak pernah tahu di sana begitu hijau.”
Lalu pergilah mereka menjadikan hijau tempat yang dulunya padang gurun. Mereka curahkan hujan dan hujan, lalu tanaman pun tumbuh dan hijau mewarna-warna di segala penjuru sekaligus.
“Mujur nian kita ada di sini, tanpa kita tak bakal ada hijau,” ucap si awan-awan besar.
Dan saat itu, tak ada yang ingat akan seuntai awan kecil yang mengucurkan setetes hujan kecil yang cipratannya membangunkan mereka yang tertidur.
Tak ada yang ingat kecuali batu.
Si batu menyimpan rahasianya. Waktu berlalu, awan-awan besar pertama itupun lenyap dan tanaman-tanaman pertama itupun mati. Tapi batu yang tak pernah mati, memberitahu tanaman-tanaman baru yang terlahir, dan awan-awan baru yang tiba, mengenai kisah seuntai awan kecil yang mengucurkan setetes hujan kecil.
Subcomandante Marcos, 7 November 1997
***
Air mata hangat menggenangi sudut-sudut gagang kacamataku.
Tak tahu untuk apa dan mengapa. Mungkin untuk si awan kecil. Entahlah ada perasaan bahagia mengalir terus menerus setiap meresapi kata-katanya.
Bahkan hingga saat ini. Setelah ratusan hari dan ribuan mil jauhnya dari warnet di pojokan kampung Ciputat Raya.
Hujan tumpah amat deras di atas bantal putihku. Aku menangis seperti bayi. Lalu malam itu dihabiskan dengan mengunyah sekantong penuh éclairs.
Seperti hujan yang turun deras ada pelangi di ufuk dunia dan warna-warna hijau biru cerah yang ditinggalkannya.
Pelangi itu Fahrezi. Ia pelangi di ufuk dunia ku. Menjejak sesaat dengan penuh pesona, namun lalu hilang begitu saja ke udara.
Diubah oleh hujan.soresore 17-02-2018 04:41
0
Kutip
Balas