Quote:
Hampir seminggu sejak percakapan bersama Fefe. Tak ada tanda-tanda si pria gadis sunslik. Kuputuskan mengeluarkan Merdeka 100% dari daftar barang bawaan dalam ransel.
Buku ini tipis sebenarnya, tapi kupikir bisa lecek kelamaan di dalam ransel. Tidak mengherankan memang, karena sejak pertama kalinya aku mengenal tas dalam hidup ini, aku selalu bernafsu memasukan apa saja di dalamnya dengan menjejalkan apa saja itu, sampai tas bisa dikancingkan kembali dengan sempurna.
Minggu ini sepi, entah mengapa bahkan Bam yang biasanya sudah seperti semak bluntas di kampus pun turut menghilang. Semua pesan singkat ku kembali lagi dalam bentuk pending message.
Selain perkara hilangnya Bam dan pria gadis sunslik secara misterius, tak ada yang menghalangiku sore itu untuk melenggang santai menuju kampus.
Kali ini tidak lewat jalan raya, agak memutar memang, inilah kenikmatan jalan santai menuju kampus. Perjalanan mulus tanpa asap, dan istimewanya bisa berpapasan dengan rombongan anak-anak yang sedang bermain. Seru, kadang-kadang aku sengaja berjalan pelan-pelan atau menabrakan diri dengan mereka.
Bersentuhan dengan anak-anak itu bagiku seperti makan permen butter scotch, ada kegembiraan aneh yang lucu dan lembut lumer perlahan di dalam lidah lalu hati.
Salah satu spot menyenangkan lagi yang berada dalam jalurku sore itu yakni sebuah tempat yang dinamakan pemiliknya sekalian “Aula”. Ini sebenarnya gedung serbaguna milik salah satu organisasi luar kampus.
Tempat ini ironi. Pertama, karena terdaftar sebagai fasilitas milik salah satu organisasi mahasiswa paling terkenal se-negeri ini.
Namun, keadaanya sangat menyedihkan. Tak ada yang heran kalau setiap pergantian kabinet lima tahun sekali paling tidak ada tiga orang menteri atau pejabat setingkat menteri yang sewaktu mahasiswa aktif menjalankan organisasi ini, atau paling tidak sebagai simpatisan. Tapi sungguh mengherankan kalau ternyata aula mereka tetap berdiri tanpa perubahan sejak dibangunnya pada 1970an.
Suatu kali bahkan, beberapa tahun belum lama ini gempa tektonik ringan melanda Jawa Barat, kabarnya hampir seluruh sekat plafon aula memasrahkan dirinya pada gravitasi. Menyisakan langit-langit yang menganga dengan pemandangan genteng yang masih saja sombong walau sudah berbaring berjauhan satu sama lain. Ompong.
Ironi kedua, seperti layaknya fasilitas organisasi lainnya, aula juga dipenuhi para mahasiswa cerdas yang entah kenapa senang mereduksi kemalasan sebagai salah satu bentuk kreativitas. Ini menjelaskan mengapa halamanya selalu dipenuhi sampah mulai plastik ciki sampai bekas korek kuping.
Seperti hari ini, ada dua hal yang sama-sama berserakan di depan aula; sampah dan manusia. Untung saja semua yang lewat masih bisa membedakan keduanya dengan jelas.
Suara fals aduhai dan gitar fals aduhai mengiringi langkahku saat hampir mendekati aula. Pemiliknya tentu saja sekelompok pria berantakan, dan yang menjadi pusatnya karena menggenjreng gitar adalah pria gondrong bersweater coklat.
Ada peraturan tidak tertulis sebenarnya yang beredar diantara para perempuan, terutama teman sesama mahasiswi saat melewati aula. Yakni, jangan mengundang perhatian dengan cara apapun.
Hindari pakaian dan asesoris mencolok, usahakan berjalan dengan gaya sewajarnya, dan jangan pernah mengobrol atau tertawa dengan cekikikan maupun dengan suara keras saat berjalan dalam kumpulan.
Bila hal-hal diatas tidak dilakukan, dijamin waktu tiga puluh detik melintas di depan bangunan hampir rubuh itu akan terasa seperti satu jam penghinaan di ruang publik. Di mulai dengan celetukan-celetukan sadis yang baru akan berakhir dengan pahit di tikungan depan Warsun Mang Sadi, lima meter jarak dari aula.
Tapi bila peraturan di jalankan dengan sebaik-baiknya, sebaliknya celetukan sadis akan berubah jadi suit-suit manis yang meskipun tetap kurang ajar setidaknya tidak berakhir terlalu pahit. Dan yang paling beruntung adalah diabaikan.
Sudah separuh jalan dan syukurnya aku masih diabaikan. Yah, setidaknya sampai seseorang dari sekelompok pria berantakan merangkai huruf namaku dengan sinkron dalam suatu tindakan verbal, dan sialnya melibatkan semua telinga dalam radius empat meter darinya.
“Cerah..?”
Pertanyaan meminta kepastian ini diiringi berhenti mendadaknya suara fals aduhai, gitar fals aduhai, dan langkahku. Datang dari si pengenjreng gitar bersweater coklat dan gondrong, yang ternyata tak lain tak bukan si pria tinggi gadis sunslik berkaos kaki putih bersih.
Anehnya, mungkin karena terkejut, aku mendadak ingat namanya. Iya, nama si pria gadis sunslik itu, “Fahrezi!” meluncur mulus dari bibirku.
“Hey mana buku barteran gue?” katanya selanjutnya, saat itu juga aku baru ngeh kalau si pria gadis sunslik ternyata cadel. Lalu sore yang lucu di depan aula hampir rubuh itu di tutup dengan aku menyimpan nomor CDMAnya di ponselku.