- Beranda
- Stories from the Heart
Gadis Bingung dan Pengembara
...
TS
hujan.soresore
Gadis Bingung dan Pengembara

Quote:
INDEX
Its freezing outside ...
Merindukanmu juga, sangat merindukanmu
Dan semua itu karena mereka pandir!
Gue Fahrezi
The Barbietch
Sore hari yang dijanjikan
Cerah...?
Rapat Rakyat Indonesia
Seuntai Awan Kecil
Day by day pass away
Well, I Should Say Thanks or Terima Kasih?
Janji sama gue..
Seperti beruang gendut kuning dengan baju merah kekecilan
Penghuni The Gloomy
Ada Rindu di Sepotong Ubi Cilembu
Itu milik Ezra
Gadis Bingung dengan rantai kacamata menjuntai
Ingin Bertemu Cerah
Pelangi di Senja Hari Bulan November
Candu
Hari-hari Bertualang Tanpa Akhir
Hari Hitam Legam
Semesta Bertautan
Dia Hanya Berhenti Bermain
Di Bawah Hujan
Abhipraya
Diubah oleh hujan.soresore 17-02-2018 05:20
anasabila memberi reputasi
1
8.9K
66
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•55.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
hujan.soresore
#6
Sore hari yang dijanjikan
Ini sore hari yang dijanjikan. Jam ke-lima berakhir resmi setelah aku melesat keluar kelas menyisakan keheranan separuh isinya. “Jadi, hari ini tidak ada diskusi tambahan di luar Cerah?” suara Pak Heryanto membahana dari mejanya.
Aku meringis kaku, huh sebenernya sih mau, mata kuliah yang dibawakan dosen ini memang seksi sekali, Komunikasi Politik. “Hari ini ngga dulu pak,” jawabku sekenanya, lalu ngebut ke lantai enam.
Sudah sepi, jadi kenyataan yang sangat menyebalkan. Tinggal dua kelas yang masih ada isinya, tapi sama sekali ngga jelas itu mahasiswa Jurusan Kessos apa bukan.
Bodoh, kemaren bukannya nanya di kelas yang mana. Aku menunggu dengan frustasi dan kesal di depan salah satu pintu kelas yang penghuninya bubar dua menit kemudian.
Celingukan, tak kutemui si pria gadis sunslik menambah dalam rasa frustasi dan kekesalan. Aku belum lagi selesai memaki-maki diri dalam hati saat lengan bajuku di tarik tanpa prikemanusiaan oleh seorang gendut.
“Fefe! Ngapain lo di sini?” teriakku spontan. “Kuliah dunks gue,” jawabnya penuh percaya diri.
Tumben mahluk ini. “Oh lo mahasiswa ya,” kataku lagi dengan posisi standby menghindari serangan fisik yang bisa datang sewaktu-waktu. Ternyata tidak datang, Fefe menggantinya dengan memajukan bibir.
Aku kembali ke aktivitas semula, memancing rasa penasaran Fefe. “Lo nyari siapa si?” Katanya kemudian.
Aku tersentak, bukan karena pertanyaan Fefe tentu saja, tapi karena Fefe. Fefe, mahluk yang merasa lebih sukses jadi musisi ketimbang mahasiswa, bukan, bukan karena itu. Karena dengan bodohnya aku baru inget kalau Fefe juga jurusan Kessos.
Fefe salah tingkah mendapat tatapan penuh kelegaan, lalu membalasnya dengan mengguncang tubuhku sekuat tenaga. “Lo kerasukan apa si sore ini?” ujarnya panik, yang kujawab dengan senyuman penuh arti.
Kira-kira beginilah percakapan yang terjadi selanjutnya:
“Fe lu Kessos enam kan?”
“Iya emang ngapa, lu jadi naksir gua gitu?”
“Bukan Fe, gua lagi nyari orang ni, penting,”
“Siapa sih Cerah? Anak kessos angkatan gua, gua kenal semua.”
“Pasti cuma satu kelas kan?”
“He… iya sih.”
“Ehm sebenernya gue ga yakin juga.”
“Iya siapa?” Fefe hilang kesabaran
“Ehm… Namanya gue lupa, pokoknya tinggi, gondrong gadis sunslik, dan kaus kakinya bersih…”
Fefe bingung. Aku mengagguk dengan yakin. Fefe mikir sebentar. Lalu bersiap meninggalkanku dengan penuh penyesalan.[/QUOTE]
Aku meringis kaku, huh sebenernya sih mau, mata kuliah yang dibawakan dosen ini memang seksi sekali, Komunikasi Politik. “Hari ini ngga dulu pak,” jawabku sekenanya, lalu ngebut ke lantai enam.
Sudah sepi, jadi kenyataan yang sangat menyebalkan. Tinggal dua kelas yang masih ada isinya, tapi sama sekali ngga jelas itu mahasiswa Jurusan Kessos apa bukan.
Bodoh, kemaren bukannya nanya di kelas yang mana. Aku menunggu dengan frustasi dan kesal di depan salah satu pintu kelas yang penghuninya bubar dua menit kemudian.
Celingukan, tak kutemui si pria gadis sunslik menambah dalam rasa frustasi dan kekesalan. Aku belum lagi selesai memaki-maki diri dalam hati saat lengan bajuku di tarik tanpa prikemanusiaan oleh seorang gendut.
“Fefe! Ngapain lo di sini?” teriakku spontan. “Kuliah dunks gue,” jawabnya penuh percaya diri.
Tumben mahluk ini. “Oh lo mahasiswa ya,” kataku lagi dengan posisi standby menghindari serangan fisik yang bisa datang sewaktu-waktu. Ternyata tidak datang, Fefe menggantinya dengan memajukan bibir.
Aku kembali ke aktivitas semula, memancing rasa penasaran Fefe. “Lo nyari siapa si?” Katanya kemudian.
Aku tersentak, bukan karena pertanyaan Fefe tentu saja, tapi karena Fefe. Fefe, mahluk yang merasa lebih sukses jadi musisi ketimbang mahasiswa, bukan, bukan karena itu. Karena dengan bodohnya aku baru inget kalau Fefe juga jurusan Kessos.
Fefe salah tingkah mendapat tatapan penuh kelegaan, lalu membalasnya dengan mengguncang tubuhku sekuat tenaga. “Lo kerasukan apa si sore ini?” ujarnya panik, yang kujawab dengan senyuman penuh arti.
Kira-kira beginilah percakapan yang terjadi selanjutnya:
“Fe lu Kessos enam kan?”
“Iya emang ngapa, lu jadi naksir gua gitu?”
“Bukan Fe, gua lagi nyari orang ni, penting,”
“Siapa sih Cerah? Anak kessos angkatan gua, gua kenal semua.”
“Pasti cuma satu kelas kan?”
“He… iya sih.”
“Ehm sebenernya gue ga yakin juga.”
“Iya siapa?” Fefe hilang kesabaran
“Ehm… Namanya gue lupa, pokoknya tinggi, gondrong gadis sunslik, dan kaus kakinya bersih…”
Fefe bingung. Aku mengagguk dengan yakin. Fefe mikir sebentar. Lalu bersiap meninggalkanku dengan penuh penyesalan.[/QUOTE]
Diubah oleh hujan.soresore 03-11-2017 01:51
0