Quote:
Hujan, selimut, dan Larasati membuat sore itu jadi salah satu adegan di film klasik. Segalanya hampir sempurna, sampai…
“Hidup kamu tu menjemukan, kontras sama nama. Gimana kalo kita sekarang dandanin kamu. Buang selimut bau itu, simpen buku kamu yang ga akan pernah aku baca itu di rak, trus cari pacar yang baik hati, tampan, dan sejahtera?”
Awalnya muncul suara lalu bau cologne dan parfum bermerek yang dicampur paksa dengan takaran empat semprot banding satu.
Dan pemilik suara serta bau-bauan kembang setaman ini tidak akan pernah membiarkan dirinya diacuhkan. Rachel The Barbietch, Sangat terampil menggunakan eye liner, kuas blush-on, dan lipstick. Expert dalam memasang bulu mata palsu, serta menambahkan efek gradasi sehingga hidung bisa tampak lebih mancung, dagu lebih panjang, dan tulang pipi lebih tegas secara dramatis dalam sekejap.
Bukan, bukan make-up aktris, bukan tukang rias penganten, dan bukan juga murid merek salon training centre. Hanya Rachel, jurusan manajemen, sangat konsisten mengejar nilai A, pacar yang harus selalu tampan dengan bonus kendaran klimis. Menabung untuk Zara dan Levi’s. Sesekali LV.
Pernah ambil peran sebagai sutradara jadian temporerku yang hancur dalam sekejap dengan salah satu rekomendasinya. Merasa bersalah, setiap hari mengajukan calon baru, tidak berhasil, lalu beralih menjadi penata gaya dan busana pribadiku yang berakhir dengan kelelahan dan frustasi kedua belah pihak. Upaya terakhirnya menghancurkan setiap soreku yang tenang dan bahagia.
Tindakan pamungkasnya sore ini merampas paksa Larasati.
“Ga akan aku balikin sampe kamu janji udah punya pacar, at least seorang gebetan untuk dikenalkan akhir bulan ini,” seraya bersiap melenggang keluar kamar dengan barang sitaannya.
Merasa tak berdaya Larasatiku di bredel paksa, “Ga usah nunggu sampe akhir bulan ini Barb, gue udah dapet gebetan,” teriakku buru-buru, yang segera kusesali bersamaan meluncurnya kata terakhir.
The Barbietch serta merta berbalik dengan pose kejut ala pragawati di catwalk. Alis mata dinaikkan tiga perempat lalu meluncurkan pertanyaan dengan tambahan efek rasa ingin tahu tingkat tinggi.
“Siapa?” intonasinya mirip-mirip pertanyaan “siapa pembunuhnya?” di salah satu adegan sinetron.
“Pokoknya ada, anak FISIP,” jawaban spontan yang kenyataanya tidak mengarah ke siapa-siapa ini ternyata menyulut mental presenter infotaiment The Barbietch.
“Buktinya lagi lo pegang tu, dan besok juga gw janjian sama dia di Fakultasnya,” kalimat ini meluncur dengan takzim bersamaan dengan bayangan sepasang kaus kaki putih bersih di dalam sepatu buruk rupa yang tiba-tiba melintas.
Setelah menampilkan pose berpikir beberapa saat, lalu dengan manis Larasati kembali berpindah tangan. Seterusnya “Let see the progress,” yang diiringi dengan senyum puas the barbietch menutup sore itu meninggalkan rasa frustasi di pojokan kamar.
Dua kali frustasi tepatnya. Pertama jelas soal gebetan karangan tadi. Kedua, pertanyaan siapa? The Barbietch yang tidak terjawab dengan nama, itu karena memang aku lupa namanya. Yes indeed! Aku lupa nama si pria gadis sunslik kaus kaki putih bersih itu.