Quote:
Papan nama jalan Castlereagh terlewati dengan cepat. 05.00 am waktu Sidney sekarang, atau sekitar jam satu pagi di Jakarta.
Jam satu pagi, waktu yang selalu menyenangkan untuk dilewati dengan tetap terjaga. Jam lima pagi, sebaliknya, waktu yang selalu menyenangkan untuk memulai tidur.
Dua hal inilah yang menyebabkan kuliah pagi selalu menjadi jadwal menyebalkan yang harus dihadiri. Tapi ironi ini justru balik mencipta saat-saat menyenangkan saat kaki-kaki harus berpacu diantara aspal basah.
Sama seperti hari itu. Terbayang raut wajah tenang Profesor Yunan saat mempersilahkan mahasiswinya biang terlambat ini masuk kelas di injury time. Lalu, dengan wajah sama tenangnya beliau membebankan tugas abstrak tentang bahasan hari itu yang harus dikumpulkan paling lambat setelah jam istirahat, siang itu juga di mejanya. Abstrak ini semacam tebusan untuk tanda v di buku absen. Bayangan yang tentu saja memaksa kaki terus berlari.
Rutinitas pagi yang hampir selalu di awali dengan berlari ini sangat menyenangkan, hanya saja endingnya tidak selalu menyenangkan. Kalimat, “dosennya ngga dateng,” dari mulut KM adalah salah satu penanda akhir cerita pagi yang buruk.
Apalagi penyebab shock di cerita pagi, selain mengingat pengorbanan mandi melawan dingin dan kuatnya hasrat untuk tidur, lalu lari dua setengah kilometer kost-an−kampus tanpa sarapan, hanya untuk berakhir luntang-lantung di pojokan kantin.
Tak habis lebih dari sekeranjang bendungan! Untuk ditukar dengan ending pagi yang buruk. Tapi di penghujung scene ending pagi yang buruk itulah kita bertemu. Tepatnya, aku menemuimu.
Semua bermula dari kenyataan putus asa setelah sepuluh menit celingukan mencari bangku kosong di kantin, membuat suara cempreng pria kurus kering dengan logat jawa medok jadi pemompa semangat yang sempurna.
“CERAAAAAAAAH di sebelah sini…!” teriakan cempreng membahana dengan penebalan sempurna di setiap konsonan, terutama pada huruf d dan b.
Tak ada yang bisa menyaingi sapaan cempreng penuh kebahagiaan ini. Ini adalah milik Bam. Seorang mahasiswa ilmu politik tingkat tiga yang sempat kehilangan arah hidup setelah membaca Madilog ini bernama asli Ibrahim.
Kenyataan bertemu Bam di pagi hari sebenarnya cukup mengejutkan. Karena Bam salah satu makhluk nocturnal yang baru memulai hari di atas jam tiga sore. “Sialan gue ada kuliah dosennya ga masuk. Padahal gue udah bangun pagi,” omelan Bam terdengar saat belum lagi aku sampai dihadapannya, ternyata Bam juga mengalami scene ending pagi yang buruk.
Lalu, aku terhenyak. Oke mungkin agak berlebihan, tapi itulah yg terjadi. Bukan karena Bam atau dandanan absurdnya. Melainkan Larasati. Bukan, ini bukan orang, well, mungkin memang orang, tapi, tokoh cerita lebih tepatnya.
Enteng dan menggoda untuk direbut dari genggaman Bam, novel sekitar dua ratusan halaman itu karangan penulis terhormat Pramoedya Ananta Toer.
“Dapet dari mana lo, gue setaun nyariin ini di mana-mana sampe kuitang juga ga nemu-nemu,” cerocosku tanpa ampun, sambil, bukan merebut, merampas dengan kalap lebih tepatnya, Larasati, dari genggaman Bam.
Bam terdiam, mungkin hatinya hancur menerima kenyataan novel lebih berharga bagi temannya, membuat ending scene pagi Bam yang buruk bertambah buruk. Tapi dengan kejam aku hanya menunggu jawaban, tanpa tergoda tatapan memelas, lebih tepatnya atlit tinju amatir yang baru naik ring milik Bam.
Bam memalingkan kepala tanpa daya. Tampaklah si pemilik novel yang walau Cuma tiga puluh centi di belakang kami, tapi seperti tidak pernah eksis sebelumnya. “Oh,” lalu aku mengangguk bahagia.
Mungkin pemandangan si pemilik novel ini sedikit berbeda antara aku dan Bam. Karena yang tertangkap ingatanku yakni celana jeans belel, lalu, sangat menarik, kaus kaki putih bersih dalam sepasang sepatu kets hitam putih yang diinjak sekenanya di bagian tumit.
Sepatu ini luar biasa buruk rupanya, kupikir pastilah si kaus kaki sedang disiksa di dalam sana. Dan bagi si kaus kaki mungkin lebih baik mati daripada mengalami siksaan nan kejam di dalam sepatu buruk rupa. Untuk itulah anggukan bahagia tadi. Aku bersyukur, mengingat kenyataan mereka benar-benar benda mati.
“Gue pinjem,” kataku mantap pada si pemilik kaus kaki. Tentu saja dengan terlebih dahulu memalingkan kepala ke arah sebaliknya. “Boleh tapi barter,” jawabnya tak kalah mantap.
Well, orang ini ironi, mungkin, begitulah dalam hatiku yang keluar lewat tatapan acuh padanya. Manis sekali, dengan rambut lurus gadis sunslik yang tergerai lemas sampai ke bahu, sebenernya dari muka lebih cocok jadi vokalis boyband ketimbang pemilik sepatu buruk rupa dan novel Larasati.
“Deal! Gue Cerah, Jurnalistik enam, mau barter sama buku apa? Tulisan Pram gue punya dua judul tetralogi Rumah Kaca sama Jejak langkah, terus Arok Dedes, Gadis Pantai, Di Tepi Kali Bekasi?” tak ada jawaban, hanya senyum. Well mungkin aku memang terlalu bersemangat.
“Tan Malaka punya?” Sebuah suara akhirnya mengawali bisnis. Permintaan yang cukup mengejutkan, tapi akhirnya pagi itu ditutup dengan kesepakatan larasati dan merdeka 100%.
“Gue Fahrezi, Kesejahtraan Sosial enam, besok sore gw kuliah jam ke-lima di lantai enam, bisa anter ke kelas gue sore-sore bukunya?”
“Pasti!” jawabku mantap. Lalu semua orang bubar dengan bahagia. Termasuk Bam yang tiba-tiba mendapati dirinya tengah beraksi menggoda gadis-gadis semester dua.