Quote:
Titik-titik air beku di jendela yang menceritakannya. Mereka bercerita dengan membentuk pola-pola cantik nan kecil yang berubah-ubah setiap saat. Hitam dan putih juga perak. Tepatnya hitam dengan titik-titik putih dan kilatan keperakan yang sangat cantik.
“Its snow in June mate, orang-orang tahunya salju selalu turun di bulan Desember, tapi disini mereka menari lebih awal,” komentar Naomi saat melihatku begitu terpesona dengan serpihan hujan es.
Aku tersenyum menyimpan malu. “Its okay dear, just enjoy your first snow, snow in June, that's because God bless Australia,” kata Naomi lagi, kali ini dengan nada bangga tak terkira pada negaranya. Dasar bule sialan, umpatku dalam hati.
Satu tahun yang singkat sejak salju pertama itu. Tak pernah terbayangkan winter berikutnya akulah yang lalu menjelma jadi salju itu. Tak pernah segalanya terasa sedingin ini, I’m freezing…
“Saljunya cantik, tapi aku lebih suka hujan,” begitu kataku, lalu tawa renyahmu terdengar amat merdu. “Tolong jangan ingatkan aku lagi, tolong, atau aku tak akan pernah bisa lewat student centre lagi tanpa mengharu biru,” jawabmu memohon, memaksaku balas tertawa. Sambungan telephone antar benua itu seperti baru satu jam lalu terjadi.
Aku masih ingat setiap saatnya, bahkan bagian paling menyakitkan..
"Cerah, Well, mungkin kalau tak ada kamu, maka dunia tak seindah seperti yang terlihat saat ini. Itu benar, bukan pujian, dan aku tidak sedang merayu. Menyenangkan melebur bersamamu selama ini. Mendadak semua jadi cantik, dan warna-warna yang sebelumnya pudar mendadak cerah. Mungkin karena namamu. Bukan, mungkin karena kamu. Ya, karena kamu.
Terima kasih. Aku menikmati setiap halnya Cerah. Sungguh. Tapi yang saat ini ada bukan pilihan. Ini benar-benar jalan yang harus diambil. Ku ambil tepatnya.
Ingatlah, menguap bukan berarti hilang Cerah. Melainkan berubah jadi bentuk baru untuk menjaga keindahan. Aku tidak sedang beretorika untuk kabarkan perpisahan. Hanya pengakuan. Aku tidak bisa menjaga mu kali ini.
Maaf."
Surel terakhir itu memenuhi duniaku sejak tiga minggu yang lalu. Tepatnya 21 hari, atau 507 jam kurang lebih sampai hari ini. Aku ingat setiap hurufnya. Lalu hubungan ini menjadi satu arah.
Tak ada surel balasan. Tak ada lagi tanda ungu menyala di messenger. Bahkan tidak nada sambungan tanda terkoneksi dari selular. Yang tertinggal hanya suara empuk operator selular dalam bahasa inggris dan Indonesia yang mengabarkan nomor yang anda tuju berada di luar jangkauan. Dan, tentu saja semua Message failed yang memenuhi sent items, lalu hati yang berserakan tak kasat mata menyesaki dada yang bisa meledak setiap saat. Membuncah sekenanya.
“Excuse me, saya mau ke toilet,” ujar wanita disebelahku melemparkan aku kembali ke dunia nyata. Lalu pantat gendutnya bergeser kepayahan di hadapanku.
Tanpa tahu diri,bule overweight ini berdiri dan menggeser badan keluar bangku, sama sekali tidak memberi kesempatan padaku untuk memberi jalan terlebih dahulu. Rambut ikal kemerahanya yang dibiarkan tergerai hingga kepunggung terasa menggelitik di pipi.
Aaaaarrghhh….! Ini sudah ketiga kalinya ibu gendut berbau keju parmesan itu melewatiku. Awalnya memang sudah izin dengan manis saat pertamakali kami menjejakkan bokong di bis ini.
“Maaf dear, saya memiliki kandung kemih yang lemah jadi harap maklum kalau akan sering bolak-balik ke kamar mandi,” begitu katanya santai.
Kukira ini cuma basa-basi sopan santun. Ternyata sejak dari Penrith Bus Interchange, sudah tiga kali si gendut ini bolak balik ke kamar mandi. Padahal sekarang belum lagi tiba di Cranebrook, bahkan belum lewat Andrews Road sama sekali.
“Saya dapat nomor bangku disini, dan akan menyalahi peraturan kalau kita berganti tempat duduk,” begitu jawaban manis si tambun penuh makna lain saat aku menawarkan pergantian tempat duduk.
Seperti katanya tadi, aku hanya harus harap maklum bukan mengharapkan belas kasihan pergantian tempat duduk. Ratusan hari sudah hidup bersama-sama orang dengan rata-rata habit dan karakter seperti wanita berbau keju parmesan ini membuatku terpaksa selalu harap maklum, dan merindukan Jakarta.