- Beranda
- Stories from the Heart
(Horror true story) Berawal dari penasaran hingga menjadi fatal
...
TS
sikodir.kodir
(Horror true story) Berawal dari penasaran hingga menjadi fatal

Prolog
heningkan cipta sejenak utk para pahlawan kita yg berjuang dan mempersembahkan kemerdekaan NKRI.
Quote:
Halo agan dan sista penghuni kaskus khususon di forum SFTH. Perkenalkan, nama gw Fadli Arya Putra (tentunya nama ada yg gw samarkan). Sebelumnya gw jg curcol di forum H2H, tp kali ini gw ingin berbagi kisah nyata yg gw jalani dan alami selama ini. Kenapa gw ngasih cover seperti gambar diatas?? Karena ada hubungannya dengan perjalanan hidup gw dan mengubah hidup gw (jauh dari agama). Kisah ini awal di mulai 16 tahun yg lalu. Atau lebih tepatnya di awal tahun 2001 hingga sekarang belum selesai. Semua berawal dari rasa penasaran hingga menjadi fatal. Mohon maaf jika tulisan dan bahasa gw amburadul. Karena gw bukan penulis. Disini gw hanya ingin berbagi kisah, berharap tidak ada yg mengalaminya selain gw. Jd gw mohon kaskuser yg membaca kisah nyata gw ini dengan bijak dan jgn asal nge-judge. Dan bagi yg kenal gw cukup diem aja.
*Nb : selama gw masih bisa update berarti gw masih selamat/hidup. Gw janji enggak bakalan kentang. Dan mohon tinggalkan jejak!

Quote:
side story
Quote:
cerita Diponegoro (cerita sampingan)
Quote:
Diubah oleh sikodir.kodir 06-12-2017 11:13
ueki19 dan 34 lainnya memberi reputasi
33
773.2K
1.9K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
sikodir.kodir
#291
perpisahan 1.1 (ending part perpisahan)
Tadi sore sya menjenguk dek fara sekalian membawakan pesanan agan fadli. Makanan favoritnya, yaitu gendar janganan plus bakwan. Duduk di lantai, bersandar kan dinding, fadli menikmati makanan dengan lahap, walau sesekali merasa kepedesan. Pandangan mata nya tertuju pada anak gadis berumur 5 tahun yg sedang tertidur. Buah hati nya fara.
Bayangkanlah
Gina mengemudi sambil mencoba menenangkan kesedihan yg sya rasakan. Apa yg diucapkan tak sanggup membuat hati ini tenang. Mudah baginya berucap jika tidak merasakan apa yg aku rasa. Rasa persahabatan yg sekejap hilang dipisahkan oleh kematian. Renungkan lah gina jika kamu bertualang bersama sahabat mu suka dan duka kalian bersama. Melakukan kebodohan dan ketakutan bersama. Tp kini kau kehilangan mereka utk selamanya. Renungkan, rasakan dan tumpahkan jika kamu merasakan hal yg aku rasa. Itu lah yg ada dipikiran sya pd waktu itu.
Mobil kami berhenti di bahu jalan setelah terowongan. Dari sisi jalan tempat kejadian, sya memperhatikan tikungan sebelum masuk terowongan, itu lah tempat yg merenggut empat sahabatku. Di lokasi kejadian masih ada beberapa petugas yg membersihkan sisa sisa kecelakaan. Dan memberikan tanda bagi pengendara lain utk berhati hati. Mobil korban sudah di Derek petugas toll.
Sya hanya nurut apa yg di ucapkan gina menuju ke rumah duka. Sya meminta gina melajukan mobilnya ke rumah duka alm. Andi terlebih dahulu.sepanjang perjalanan sya hanya diam. Entah apa yg gina ucapkan, indera pendengaran sya seperti tidak mendengarnya. Mungkin karena sya dalam suasana duka yg mendalam.
Diujung jalan gang rumah duka alm. Andi bendera warna kuning di sematkan pada tiang. Mobil tidak bisa masuk lebih jauh lagi. Hanya motor yg masih bisa masuk mendekat ke rumah duka. Sya dan gina berjalan menyalami tetangga alm. Andi yg sudah datang terlebih dahulu. Sya dan gina duduk di kursi yg sudah di sediakan. Obrolan dari tetangga almarhum terdengar di telinga kami berdua. Mereka bertanya tanya soal kematian andi. Sungguh risih rasanya di telinga kami.
Mata sya tertuju pada orang yg sangat aku kenal, adek perempuan andi. Dia datang menghampiriku memberikan salam dan memeluk ku. Kesedihannya tidak bisa ditutupi.
Pecah tangisan tessa adek dari almarhum. Karena tessa sudah terbiasa melihat sya bersama andi dan teman2 lainnya. Tapi kali ini tessa hanya melihat sya seorang diri.
Tessa mempersilahkan sya bertemu andi utk yg terakhir kali nya sebelum di kubur. Di ruang tamu ibunda andi duduk bersimpuh di bawah menangisi jenazah putra tercinta nya. Ayah alm.andi menyalami sya terlihat tegar mengalami musibah ini. Mengucapkan “kita harus ikhlas mas kita harus mengikhlas kan andi” kita saling menguatkan diri.
sya di persilahkan keluarga almarhum utk men-shalati andi. Gina yg mendengar ucapan tersebut menjadi khawatir. Kena air wudhu saja fadli rasanya seperti disiram air panas, apa lg sampai shalat ? mungkin bisa kejang2 di tempat.Itu lah yg gina takutkan kl apa yg sya alami akan menjadi perhatian di sekitaran warga dan keluarga almarhum.
alasan dari gina pd keluarga almarhum utk membawa sya pergi dari rumah duka andi. Sya hanya diam karena memang tidak berpikir sejauh apa yg gina pikirkan. Mendengar penjelasan dari gina, keluarga andi memahami kondisi kami yg masih harus mengunjungi rumah duka sahabat sya lainnya.
Di tempat rumah duka beni, doni mau pun farid hal yg terjadi sama saja. Sya tidak bisa men-shalati, membaca kan yasin dan mendoakan sahabat2 terbaik sya. Sya hanya bisa mengucapkan bela sungkawa, menangis dan melihat sahabat sya utk terakhir kali nya. Itu pun dalam keadaan sudah menjadi jenazah. pantas kah sya disebut sahabat mereka ?
saya percaya ini takdir Tuhan, saya percaya ini kehendak Tuhan, dan saya percaya ini rencana Tuhan..
Next : menunggu kematian
Quote:
Bayangkanlah
Gina mengemudi sambil mencoba menenangkan kesedihan yg sya rasakan. Apa yg diucapkan tak sanggup membuat hati ini tenang. Mudah baginya berucap jika tidak merasakan apa yg aku rasa. Rasa persahabatan yg sekejap hilang dipisahkan oleh kematian. Renungkan lah gina jika kamu bertualang bersama sahabat mu suka dan duka kalian bersama. Melakukan kebodohan dan ketakutan bersama. Tp kini kau kehilangan mereka utk selamanya. Renungkan, rasakan dan tumpahkan jika kamu merasakan hal yg aku rasa. Itu lah yg ada dipikiran sya pd waktu itu.
Mobil kami berhenti di bahu jalan setelah terowongan. Dari sisi jalan tempat kejadian, sya memperhatikan tikungan sebelum masuk terowongan, itu lah tempat yg merenggut empat sahabatku. Di lokasi kejadian masih ada beberapa petugas yg membersihkan sisa sisa kecelakaan. Dan memberikan tanda bagi pengendara lain utk berhati hati. Mobil korban sudah di Derek petugas toll.
Quote:
Quote:
Sya hanya nurut apa yg di ucapkan gina menuju ke rumah duka. Sya meminta gina melajukan mobilnya ke rumah duka alm. Andi terlebih dahulu.sepanjang perjalanan sya hanya diam. Entah apa yg gina ucapkan, indera pendengaran sya seperti tidak mendengarnya. Mungkin karena sya dalam suasana duka yg mendalam.
Diujung jalan gang rumah duka alm. Andi bendera warna kuning di sematkan pada tiang. Mobil tidak bisa masuk lebih jauh lagi. Hanya motor yg masih bisa masuk mendekat ke rumah duka. Sya dan gina berjalan menyalami tetangga alm. Andi yg sudah datang terlebih dahulu. Sya dan gina duduk di kursi yg sudah di sediakan. Obrolan dari tetangga almarhum terdengar di telinga kami berdua. Mereka bertanya tanya soal kematian andi. Sungguh risih rasanya di telinga kami.
Quote:
Mata sya tertuju pada orang yg sangat aku kenal, adek perempuan andi. Dia datang menghampiriku memberikan salam dan memeluk ku. Kesedihannya tidak bisa ditutupi.
Quote:
Pecah tangisan tessa adek dari almarhum. Karena tessa sudah terbiasa melihat sya bersama andi dan teman2 lainnya. Tapi kali ini tessa hanya melihat sya seorang diri.
Tessa mempersilahkan sya bertemu andi utk yg terakhir kali nya sebelum di kubur. Di ruang tamu ibunda andi duduk bersimpuh di bawah menangisi jenazah putra tercinta nya. Ayah alm.andi menyalami sya terlihat tegar mengalami musibah ini. Mengucapkan “kita harus ikhlas mas kita harus mengikhlas kan andi” kita saling menguatkan diri.
sya di persilahkan keluarga almarhum utk men-shalati andi. Gina yg mendengar ucapan tersebut menjadi khawatir. Kena air wudhu saja fadli rasanya seperti disiram air panas, apa lg sampai shalat ? mungkin bisa kejang2 di tempat.Itu lah yg gina takutkan kl apa yg sya alami akan menjadi perhatian di sekitaran warga dan keluarga almarhum.
Quote:
alasan dari gina pd keluarga almarhum utk membawa sya pergi dari rumah duka andi. Sya hanya diam karena memang tidak berpikir sejauh apa yg gina pikirkan. Mendengar penjelasan dari gina, keluarga andi memahami kondisi kami yg masih harus mengunjungi rumah duka sahabat sya lainnya.
Di tempat rumah duka beni, doni mau pun farid hal yg terjadi sama saja. Sya tidak bisa men-shalati, membaca kan yasin dan mendoakan sahabat2 terbaik sya. Sya hanya bisa mengucapkan bela sungkawa, menangis dan melihat sahabat sya utk terakhir kali nya. Itu pun dalam keadaan sudah menjadi jenazah. pantas kah sya disebut sahabat mereka ?
saya percaya ini takdir Tuhan, saya percaya ini kehendak Tuhan, dan saya percaya ini rencana Tuhan..
Quote:
Next : menunggu kematian
Diubah oleh sikodir.kodir 31-10-2017 11:51
safefem memberi reputasi
2