- Beranda
- Stories from the Heart
(Horror true story) Berawal dari penasaran hingga menjadi fatal
...
TS
sikodir.kodir
(Horror true story) Berawal dari penasaran hingga menjadi fatal

Prolog
heningkan cipta sejenak utk para pahlawan kita yg berjuang dan mempersembahkan kemerdekaan NKRI.
Quote:
Halo agan dan sista penghuni kaskus khususon di forum SFTH. Perkenalkan, nama gw Fadli Arya Putra (tentunya nama ada yg gw samarkan). Sebelumnya gw jg curcol di forum H2H, tp kali ini gw ingin berbagi kisah nyata yg gw jalani dan alami selama ini. Kenapa gw ngasih cover seperti gambar diatas?? Karena ada hubungannya dengan perjalanan hidup gw dan mengubah hidup gw (jauh dari agama). Kisah ini awal di mulai 16 tahun yg lalu. Atau lebih tepatnya di awal tahun 2001 hingga sekarang belum selesai. Semua berawal dari rasa penasaran hingga menjadi fatal. Mohon maaf jika tulisan dan bahasa gw amburadul. Karena gw bukan penulis. Disini gw hanya ingin berbagi kisah, berharap tidak ada yg mengalaminya selain gw. Jd gw mohon kaskuser yg membaca kisah nyata gw ini dengan bijak dan jgn asal nge-judge. Dan bagi yg kenal gw cukup diem aja.
*Nb : selama gw masih bisa update berarti gw masih selamat/hidup. Gw janji enggak bakalan kentang. Dan mohon tinggalkan jejak!

Quote:
side story
Quote:
cerita Diponegoro (cerita sampingan)
Quote:
Diubah oleh sikodir.kodir 06-12-2017 11:13
ueki19 dan 34 lainnya memberi reputasi
33
774.3K
1.9K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
sikodir.kodir
#255
Desa Randu 1.4
Kali ini gw di RS ditemenin reza. Jd gw bisa update lg gan. kondisi fara belum membaik, td jalani ct scan gan, karena di leher belakang fara ada jendolan kecil. Dokter yg membaca hasilnya baru bisa datang lg besok. Semoga fara baik2 saja dan lekas sembuh. Amiin..
Part Alan
"Yg kamu alami apa lan? Kok kamu lari sampai ketakutan gt"
Tanya gw menatap kearahnya. Gw sebenarnya agak kesel sama ini anak, bikin repot! Pakai acara kejar2an segala. Bikin khawatir juga. Liat muka nya saat itu rasanya pengen gw gampar gan.
Penjelasan alan..
"Aku, bayu dan doni memang salah ninggalin kalian, kami malah memutuskan nunggu di mobil. Pas di mobil(diluarnya) aku ngelihat pohon randu sambil mbatin ini pohon randu kok gede amat. Nah pas lg lihat keatas, mataku ini kyk lihat ada sosok bergelantungan di cabang pohon. Aku kucek mataku memastikan apa yg aku lihat beneran apa enggak"
Alan menjeda penjelasannya dengan minum teh manis yg di pegangnya. Menenangkan dirinya sendiri. Mencoba utk enggak panik.
"Terus..yg aku lihat ternyata bener2 ada!! Sosok wanita berpakaian warna merah lusuh, mengayunkan kaki nya, rambut acak2an, awalnya wajah terlihat pucat kemudian berubah mengeluarkan darah. Tatapan sosok itu tadinya menatap ke arah depannya. Tapi, perlahan lahan menatap ke bawah..ke arahku! Menatapku dendam kyk seperti aku punya salah pada nya"
"Aku berusaha baca2 doa dan meminta yg lain ikut membaca doa juga. Tp dia malah ketawa ketawa melihat aku membaca doa. Ternyata doni sama bayu tidak melihat apa2. kemudian sosok itu melayang turun ke arahku. Terus..kira2 kl kalian ada di posisi ku mau gimana?"
Rasa sebel saya ke alan menghilang seketika mendengar penjelasan dari alan rasanya saya jd merasa bersalah karena saya tidak di posisinya. Entah apa yg akan gw lakukan jika berada di posisi nya. Temen2 yg lain jg diam hanya saling menatap.
"Aku memutuskan lari..meninggalkan itu tempat! Kalau pun aku harus celaka, maka biar aku saja yg celaka, toh temen2 yg lain tidak melihat. Dugaanku benar! Aku di kejarnya. Dia terbang melayang di atas ku. Setelah aku jatuh di area sawah, sosok merah ini melayang di depanku! Dia berkata, CELAKA LAH!!! Hiiiihiiiihiiiiii..! Aku melihat mulutnya mengeluarkan cairan hitam pekat"
"Sosok merah melayang di depanku ini hilang begitu mas aziz dan mas huda (kedua santri pak kiyai) di dekatku"
Begitulah kira2 penjelasan dari alan yg gw inget.
Bagai di hantui kecemasan dan ketakutan setelah mendengarkan penjelasan reza dan alan. Semua terdiam berpikir. Entah apa yg mereka pikirkan saat itu. Yg gw pikirkan hanya lah sungguh ceroboh dan bodohnya langkah kami. Saat itu usia kami rata2 17-19th harusnya kita habiskan utk bersenang senang. Bukan malah pergi nyari demit. Benar2 kurang kerjaan! Kebodohan ini berawal dari hausnya rasa penasaran kami tentang keberadaan mereka. Bahkan saat itu gw masih mengira noni hanya lah khayalan pikiran gw. Apa yg akan kami hadapi depan? Mau tidak mau harus menghadapi kenyataan.
"Fad ini gimana?"
Tanya doni yg terlihat ketakutan.
"Nanti coba kl pak kiyai udah pulang kita coba membicarakan hal ini"
( Dibawah ini obrolan gw sama reza yg barusan terjadi,
Reza : fad, km cerita di Kaskus itu mau km cerita kan semuanya?
Gw : belum tau za, gw takut kl ada yg asal nge-judge. Makin merasa bersalah lg gw. Knp emg?
Reza : aku kira bener2 udah km Pendem ini kisah. Km kan tau sendiri lika liku hidupmu ini sudah terlanjur jauh. Km sekarang jg lg membangun mental semenjak ditinggal gina. Saranku sih kl mau cerita silahkan saja, tp km filter.
Gw : hmm...
Reza : sorry ya kl aku barusan bahas gina.
Gw : enggak apa za, santai aja. Sekarang harapan gw salah satu nya adl fara.
Gw : gw cm pengen semua ini selesai za.
Reza : amiin...
Lanjut ke cerita )
"Mas ayo sarapan dulu, sarapannya udah siap, di meja makan belakang ya" ucap salah satu santri pak kiyai mempersilahkan kami. gw lupa nama nya.
Kami semua saling memandang karena sungkan. Masih duduk dibawah malu2 hehe.
"Halah wes tho mas..ayo tho...iku lho lauk e iwak pithik (lauk legend), tempe goreng, iwak mujair goreng, sayur sop, sambel terasi. Anget2 enak mas..ayo tho"
bujuk mas santri ini ke kami.
Sungguh sambutan yg hangat dari tuan rumah ke tamu seperti kami ini. Padahal perbuatan kami semalem secara tidak langsung sudah menyalahi desa ini. Rasanya benar2 malu sama diri sendiri.
Di luar rumah pak kiyai, di tiap kelas/ruang pondok pesantren banyak anak santri membaca ayat suci. Suara mereka bisa kedengaran dari sini. Seperti suasana di kota santri, asik menyenangkan hati.
"Assalamu'alaikum.." salam pak kiyai memasuki rumahnya.
"Waalaikumsalam.." menjawab salam beliau.
Gw bergegas langsung menceritakan ke pak kiyai soal apa yg di alami sama reza dan alan. Pak kiyai mendengar kan cerita gw dengan serius. Sesekali beliau menanyakan ke reza dan alan. harapan gw semoga pak kiyai mempunyai gambaran apa yg harus kita lakukan.
"Nak, bapak ini bukan orang sakti atau punya ilmu yg semacam itu. Kl bapak menyarankan, bapak hanya bisa memberi saran, minta lah perlindungan kepada ALLAH SWT. Hanya itu perlindungan yg paling aman. Meminta lah hanya kepada-NYA. Mumpung ini jam shalat duha belum terlewat, lebih baik kalian segera shalat duha dan berdoa setelah itu."
Mendengar nasehat dari beliau sungguh bijak, pikir gw. Beliau tidak seperti menggurui kami. Beliau selalu memberi nasehat utk selalu melibatkan ALLAH di setiap jalan mu.
"Shalat duha itu gmn pak kiyai cara nya??"
"ALLAH AKBAR...!" jawab beliau sambil mengelus dada.
Jujur aja gan saat itu kita2 memang enggak tau. Cuma saling pandang plongah plongoh. Pernah diajarin sih sama orang tua. Tp tetep aja gak di lakuin. Dari pada salah kan lebih baik bertanya cara nya hehehe..
Selesai shalat duha kami semua berpamitan sama pak kiyai dan beberapa santri yg ada. Pak kiyai memberikan siraman rohani sebelum kita pulang. Beliau memberikan bekal pelajaran utk selalu mendekatkan diri kepada Tuhan. Pak kiyai sebenarnya menawarkan kami utk disini dulu sampai sore hari. Tp karena bsk hari senin dan pertama kali besok masuk kelas 3 SMA, kami harus berpamitan pulang. orang tua kita2 jg udah pada nyariin.
"Jangan sungkan kl mau main kesini lg"
Tentu yg di maksud beliau adl ke ponpes nya. Bukan ke tempat pesugihan. Sambil tersenyum beliau melepas kami. seperti melepas santri yg hijrah ke kota.
"Assalamu'alaikum pak kiyai..."
Salam perpisahan dari kami utk selamanya. Karena sebulan setelah itu beliau menutup usia. Kembali ke Rahmatullah. Semoga amal dan ibadah beliau diterima. Dan ditempatkan di sisi-NYA. Amiin...
Part Alan
"Yg kamu alami apa lan? Kok kamu lari sampai ketakutan gt"
Tanya gw menatap kearahnya. Gw sebenarnya agak kesel sama ini anak, bikin repot! Pakai acara kejar2an segala. Bikin khawatir juga. Liat muka nya saat itu rasanya pengen gw gampar gan.
Penjelasan alan..
"Aku, bayu dan doni memang salah ninggalin kalian, kami malah memutuskan nunggu di mobil. Pas di mobil(diluarnya) aku ngelihat pohon randu sambil mbatin ini pohon randu kok gede amat. Nah pas lg lihat keatas, mataku ini kyk lihat ada sosok bergelantungan di cabang pohon. Aku kucek mataku memastikan apa yg aku lihat beneran apa enggak"
Alan menjeda penjelasannya dengan minum teh manis yg di pegangnya. Menenangkan dirinya sendiri. Mencoba utk enggak panik.
"Terus..yg aku lihat ternyata bener2 ada!! Sosok wanita berpakaian warna merah lusuh, mengayunkan kaki nya, rambut acak2an, awalnya wajah terlihat pucat kemudian berubah mengeluarkan darah. Tatapan sosok itu tadinya menatap ke arah depannya. Tapi, perlahan lahan menatap ke bawah..ke arahku! Menatapku dendam kyk seperti aku punya salah pada nya"
"Aku berusaha baca2 doa dan meminta yg lain ikut membaca doa juga. Tp dia malah ketawa ketawa melihat aku membaca doa. Ternyata doni sama bayu tidak melihat apa2. kemudian sosok itu melayang turun ke arahku. Terus..kira2 kl kalian ada di posisi ku mau gimana?"
Rasa sebel saya ke alan menghilang seketika mendengar penjelasan dari alan rasanya saya jd merasa bersalah karena saya tidak di posisinya. Entah apa yg akan gw lakukan jika berada di posisi nya. Temen2 yg lain jg diam hanya saling menatap.
"Aku memutuskan lari..meninggalkan itu tempat! Kalau pun aku harus celaka, maka biar aku saja yg celaka, toh temen2 yg lain tidak melihat. Dugaanku benar! Aku di kejarnya. Dia terbang melayang di atas ku. Setelah aku jatuh di area sawah, sosok merah ini melayang di depanku! Dia berkata, CELAKA LAH!!! Hiiiihiiiihiiiiii..! Aku melihat mulutnya mengeluarkan cairan hitam pekat"
"Sosok merah melayang di depanku ini hilang begitu mas aziz dan mas huda (kedua santri pak kiyai) di dekatku"
Begitulah kira2 penjelasan dari alan yg gw inget.
Bagai di hantui kecemasan dan ketakutan setelah mendengarkan penjelasan reza dan alan. Semua terdiam berpikir. Entah apa yg mereka pikirkan saat itu. Yg gw pikirkan hanya lah sungguh ceroboh dan bodohnya langkah kami. Saat itu usia kami rata2 17-19th harusnya kita habiskan utk bersenang senang. Bukan malah pergi nyari demit. Benar2 kurang kerjaan! Kebodohan ini berawal dari hausnya rasa penasaran kami tentang keberadaan mereka. Bahkan saat itu gw masih mengira noni hanya lah khayalan pikiran gw. Apa yg akan kami hadapi depan? Mau tidak mau harus menghadapi kenyataan.
"Fad ini gimana?"
Tanya doni yg terlihat ketakutan.
"Nanti coba kl pak kiyai udah pulang kita coba membicarakan hal ini"
( Dibawah ini obrolan gw sama reza yg barusan terjadi,
Reza : fad, km cerita di Kaskus itu mau km cerita kan semuanya?
Gw : belum tau za, gw takut kl ada yg asal nge-judge. Makin merasa bersalah lg gw. Knp emg?
Reza : aku kira bener2 udah km Pendem ini kisah. Km kan tau sendiri lika liku hidupmu ini sudah terlanjur jauh. Km sekarang jg lg membangun mental semenjak ditinggal gina. Saranku sih kl mau cerita silahkan saja, tp km filter.
Gw : hmm...
Reza : sorry ya kl aku barusan bahas gina.
Gw : enggak apa za, santai aja. Sekarang harapan gw salah satu nya adl fara.
Gw : gw cm pengen semua ini selesai za.
Reza : amiin...
Lanjut ke cerita )
"Mas ayo sarapan dulu, sarapannya udah siap, di meja makan belakang ya" ucap salah satu santri pak kiyai mempersilahkan kami. gw lupa nama nya.
Kami semua saling memandang karena sungkan. Masih duduk dibawah malu2 hehe.
"Halah wes tho mas..ayo tho...iku lho lauk e iwak pithik (lauk legend), tempe goreng, iwak mujair goreng, sayur sop, sambel terasi. Anget2 enak mas..ayo tho"
bujuk mas santri ini ke kami.
Sungguh sambutan yg hangat dari tuan rumah ke tamu seperti kami ini. Padahal perbuatan kami semalem secara tidak langsung sudah menyalahi desa ini. Rasanya benar2 malu sama diri sendiri.
Di luar rumah pak kiyai, di tiap kelas/ruang pondok pesantren banyak anak santri membaca ayat suci. Suara mereka bisa kedengaran dari sini. Seperti suasana di kota santri, asik menyenangkan hati.
"Assalamu'alaikum.." salam pak kiyai memasuki rumahnya.
"Waalaikumsalam.." menjawab salam beliau.
Gw bergegas langsung menceritakan ke pak kiyai soal apa yg di alami sama reza dan alan. Pak kiyai mendengar kan cerita gw dengan serius. Sesekali beliau menanyakan ke reza dan alan. harapan gw semoga pak kiyai mempunyai gambaran apa yg harus kita lakukan.
"Nak, bapak ini bukan orang sakti atau punya ilmu yg semacam itu. Kl bapak menyarankan, bapak hanya bisa memberi saran, minta lah perlindungan kepada ALLAH SWT. Hanya itu perlindungan yg paling aman. Meminta lah hanya kepada-NYA. Mumpung ini jam shalat duha belum terlewat, lebih baik kalian segera shalat duha dan berdoa setelah itu."
Mendengar nasehat dari beliau sungguh bijak, pikir gw. Beliau tidak seperti menggurui kami. Beliau selalu memberi nasehat utk selalu melibatkan ALLAH di setiap jalan mu.
"Shalat duha itu gmn pak kiyai cara nya??"
"ALLAH AKBAR...!" jawab beliau sambil mengelus dada.
Jujur aja gan saat itu kita2 memang enggak tau. Cuma saling pandang plongah plongoh. Pernah diajarin sih sama orang tua. Tp tetep aja gak di lakuin. Dari pada salah kan lebih baik bertanya cara nya hehehe..
Selesai shalat duha kami semua berpamitan sama pak kiyai dan beberapa santri yg ada. Pak kiyai memberikan siraman rohani sebelum kita pulang. Beliau memberikan bekal pelajaran utk selalu mendekatkan diri kepada Tuhan. Pak kiyai sebenarnya menawarkan kami utk disini dulu sampai sore hari. Tp karena bsk hari senin dan pertama kali besok masuk kelas 3 SMA, kami harus berpamitan pulang. orang tua kita2 jg udah pada nyariin.
"Jangan sungkan kl mau main kesini lg"
Tentu yg di maksud beliau adl ke ponpes nya. Bukan ke tempat pesugihan. Sambil tersenyum beliau melepas kami. seperti melepas santri yg hijrah ke kota.
"Assalamu'alaikum pak kiyai..."
Salam perpisahan dari kami utk selamanya. Karena sebulan setelah itu beliau menutup usia. Kembali ke Rahmatullah. Semoga amal dan ibadah beliau diterima. Dan ditempatkan di sisi-NYA. Amiin...
ukhoy dan 5 lainnya memberi reputasi
4