- Beranda
- Stories from the Heart
Diary 2 Dunia
...
TS
agusk1988
Diary 2 Dunia

Terima kasih mas AWAYAYE untuk cover keren nya.
Ilustrasi Ronggo Geni

Ilustrasi Dewi Puspa Kenanga

Halo agan/aganwati kaskuser sekalian. Halo juga untuk para momod sekalian. Gue adalah silent reader yang udah lama melintang di forum kaskus. Terkhusus untuk sub forum stories from the heart. Kali ini perkenankan gue untuk menceritakan sebuab kisah klasik tentang perjalanan anak manusia yang berawal mula beberapa tahun lalu.
Jika kalian bertanya ini real atau fiksi.? gue kembali kan ke pribadi para reader sekalian. Daripada pada nanti para reader sekalian kepo, anggap saja cerita ini fiksi
Tapi terlepas dari itu semua,, percaya lah bahwa " mereka", beserta " dunia mereka" itu ada. Jadi hormati lah " mereka" seperti kita menghormati sesama kita. Karena pada dasarnya " mereka" sama seperti kita. Ada baik, jahat beserta segala hal yang tak bisa di jelaskan secara logika.
Dan yang terakhir, harap patuhi rule yang berlaku di sub forum ini. Karena menghormati orang lain itu secara tidak langsung membuat kita juga akan di hormat i.
Silahkan di nikmati
Quote:
Spoiler for ILUSTRASI:
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 165 suara
Menurut Kalian Bagaimana Seharusnya Thread Ini Berjalan Ke Depannya
Tetep seperti sudah sudah mas, penuh dengan pesan kehidupan
90%
Tamat in saja mas,, sudah terlalu mainstream seperti Thread lain
9%
No Comment mas, emang situ siapa..?
1%
Diubah oleh agusk1988 18-07-2021 04:03
User telah dihapus dan 26 lainnya memberi reputasi
23
1M
2.9K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
agusk1988
#363
PART 29
Sesuai request para reader, update Tengah malam..
Sekelebat bayangan yang tadi melintas di samping ku, kini telah berubah menjadi makhluk bertubuh tinggi besar dengan bulu berwarna hitam pekat yang tumbuh di sekujur tubuhnya.
Takut makhluk tersebut memiliki niat jahat, aku pun berinisiatif memanggil jin penjaga ku..
" aku tidak ingin menyakiti mu wahai anak manusia. Tak perlu kau panggil jin penjaga mu " cegah makluk tadi yang sepertinya bisa membaca isi fikiran ku.
" bagaimana mungkin aku bisa mempercayai kata kata mu. Makhluk yang di ciptakan untuk menjerumuskan segenap anak cucu Adam ke dalam jurang kenistaan " balas ku ragu.
" keris di lengan kiri mu, bisa membunuh ku dengan mudah jikalau aku berbuat sesuatu yang buruk terhadap mu " ucap makhluk tadi meyakinkan diriku.
" baik lah, aku pegang kata kata mu "
" terus apa tujuan mu sampai sampai berani menampakkan wujud mu di depan mataku " tanya ku lagi kepada makhluk tersebut.
" aku penunggu tempat tempat ini " jawab makhluk tersebut sembari menunjuk bangunan tua yang ada di tengah tanah lapang.
" dan aku tahu tujuan mu kesini. Pergi lah ke sumur tua yang terletak di bagian belakang bangunan tua tersebut "
" niscaya kau akan menemukan apa yang kau cari disini " ucap makhluk tadi.
" baik lah. Terima kasih atas bantuan dari mu " balas ku ke makhluk tadi.
Makhluk tadi hanya mengangguk terus menghilang dari hadapan ku. Aku pun lantas mengajak Pak Fariz dan keluarga serta tim pencarian ke sumur belakang seperti yang di katakan makhluk tadi.
Terlihat kini sebuah sumur tua terpampang jelas di mataku. Yang terlihat aneh, sumur tersebut seperti baru di tutup dengan sebuah material yang telah di cor. Tampak jelas perbedaan antara cor bangunan sumur tersebut dengan cor tutup yang berada di atas nya. Karena curiga, aku pun meminta bantuan anak buah pak Fariz untuk mengangkat lempengan beton yang menutup sumur tersebut.
Bau busuk tercium begitu menusuk hidup sesaat setelah lempengan beton yang menutupi sumur tersebut berhasil kami buka.
" Pak, Bu, Nay. Harap kalian sabar dan ikhlas melihat isi sumur tersebut " ucap ku ragu ke keluarga Pak Fariz.
Pak Fariz pun mengangguk dan meminta anak buah nya untuk turun ke bawah. Berbekal masker, senter serta tali, anak buah Pak Fariz pun menuruni sumur gelap yang menurut tidak terlalu dalam. Air di dalam sumur itu pun tak terlalu banyak. Maklum, hujan masih sesekali mengguyur kota ku tercinta.
Sayup sayup aku mendengar sebuah teriakan dari dalam sumur. Rupanya anak buah Pak Fariz, meminta kantong jenazah karena di dasar sumur dia menemukan sesosok mayat. Kantong tadi akan dia gunakan untuk menampung sesesok mayat yang di temukannya di dasar sumur tadi . Setelah kantong jenazah di lempar kan ke bawah, anak buah Pak Fariz pun memberi kode agar kami menarik bersama kantong tersebut ke atas.
Kantong jenazah tadi pun akhirnya sampai di ujung bibir sumur. Dengan hati hati kami mengangkat kantong tersebut dan meletakkan nya ke dalam mobil ambulance yang tadi telah di persiapkan tim Pak Fariz.
Tangis keluarga Pak Fariz pecah seketika saat kantong jenazah tadi di buka oleh tim forensik kepolisian. Nampak kini di dalam kantong jenazah tersebut sesosok mayat gadis kecil dengan seragam putih merah yang sudah memulai kelihatan membusuk. Gadis tersebut masih memakai tas Hello kitty yang menjadi tokoh animasi favorit nya. Aku pun tau siapa sosok dalam kantong jenazah tersebut.
Namun karena keluarga Pak Fariz sudah mengenali sosok tersebut, aki pun tak perlu susah susah untuk menjelaskan nya.
" sabar nay. Vanya dah tenang koq di alam sana " ucap ku sambil mengelus elus punggung naya.
Tangis kanaya pun semakin pecah mendengar ucapan dari ku. Pak Fariz dan Bu Farida pun berpelukan sembari menangis melihat tubuh putri nya yang kini terbujur kaku.
" pak, ayo kita bawa pulang dan kebumikan jenazah Vanya dengan layak. Tak baik membiarkan tubuh almarhumah berlama lama " ucap ku lagi kini ke Pak Fariz.
" ayo nak. Mari kita bawa pulang dan kebumikan dengan layak jenazah putri bapak " jawab Pak Fariz sembari menutup pintu belakang ambulance dan kembali ke mobil nya.
Sepanjang perjalanan, Bu Farida hanya menangis sesenggukan tanpa sekali pun mengucapkan sepatah kata. Aku yang tak tega pun mencoba untuk menghibur beliau.
" Bu, saya tau ibu sedang berkabung. Tapi apa Ibu tau kalo setiap air mata ibu yang jatuh hanya menambah dosa buat Vanya "
" segala sesuatu di dunia ini hanya milik Allah bu. Dan saat Dia meminta kembali apa yang menjadi hak Nya, kita tak bisa menolak. kita ini hanya manusia biasa yang lemah "
" ikhlas kan bu. Kirim doa buat Vanya. Insya Allah hal itu akan lebih bermanfaat buat nya " ucap ku sok bijak. Pada orang tua lagi.
Bu Farida pun mengurangi tangisan nya secara bertahap. Nampak kini beliau menyeka sisa sisa air mata yang masih membasahi pipi nya.
" makasih banyak gus udah banyak bantu keluarga gw " sahut Kanaya sembari merebahkan kepala nya di pundak ku.
" sama-sama nay. Kita sesama makhluk ciptaan Nya, wajib untuk saling tolong menolong " balas ku sembari menggeser posisi duduk ku karena tak nyaman dengan tindakan kanaya.
Kanaya bukan nya mengerti maksud perubahan posisi duduk ku, tapi malah semakin merapatkan tubuh nya ke tubuh ku. Kalo gak inget ndoro putri di rumah, udah ku terkam itu body cewek. Rejeki kan gak boleh di tolak.
Jam 18.00 kami sampai kembali di rumah Pak Fariz. Lebih cepat dari dugaan ku. Kalo tidak ada bantuan dari makhluk berbulu hitam tadi, mungkin kami masih bergelut dengan waktu mencari keberadaan tubuh Vanya.
Sial nya, hari itu aku melewatkan waktu dhuhur sama ashar karena terlalu fokus ke pencarian Vanya.. Tak ingin kecolongan lagi, aku pun pamit pulang ke keluarga Pak Fariz.
Namun lagi lagi Kanaya menghalangi kepulangan ku. Dia meminta agar aku pulang selepas jenazah Vanya di kebumikan saja. Karena tak ingin melakukan pekerjaan yang setengah tengah, aku pun menuruti permintaan Kanaya. Tapi aku pamit dulu buat nyari masjid atau mushola buat sholat maghrib. Terus nanti balik lagi ke rumahnya. Dan Kanaya tidak keberatan dengan hal itu.
Koq gak di rumah Kanaya saja gan..? Terlalu banyak orang bray. Saya juga gak enak menanyakan ke Kanaya dimana ruang sholat. Maklum keluarga Pak Fariz bener-bener shock. Seminggu Vanya menghilang, eh saat di temukan sudah menjadi mayat.
Setelah selesai sholat maghrib di masjid terdekat, aku pun kembali ke kediaman Pak Fariz. Nampak kini bendera kuning terpasang di depan pagar rumah nya. Bukan bendera merah putih gan, secara 17 Agustus sudah lewat.
Para pelayat pun berbondong bondong memadati rumah duka. Nampak kini halaman rumah Pak Fariz semakin ramai. Dari kejauhan, aku melihat dua sosok yang sedang melayat, begitu familiar di mataku. Aku pun mendekati dua sosok yang tadi datang secara bersamaan menaiki mobil .
" assalamualaikum, malem pak " salam ku kepada mereka.
" eh,, walaikumsalam " jawab kedua sosok tadi kaget.
" lho nak agus, ngapain bisa ada di sini " tanya salah satu sosok tersebut yang ternyata Pak Andy.
" nganterin Vanya pak " jawab ku singkat.
" nganterin Vanya gimana nak. Kan nak Vanya nya sudah meninggal " tanya Pak Ryan kini terlihat kebingungan.
" Vanya yang saya antar bukan yang sekarang lagi dimandikan pak. Tetapi Vanya 'yang lain' " jawab ku sembari mengambil nafas rada panjang.
" jadi arwah Vanya nemuin nak agus " tanya Pak Andy gantian.
" iya Pak tadi pagi di sekolah. Terus ilang karna melihat mbak dina. Eh pas aku mau pulang, dia sudah muncul lagi dan berdiri di samping jok motor ku " ucap ku lagi.
Pak Ryan dan Pak Andy pun langsung memegang tengkuk nya masing-masing sesaat setelah mendengar cerita dari ku.
" koq Pak Ryan dan Pak Andy ada disini " tanya ku karena heran mereka berdua ada disini malam itu.
" oh,, Pak Fariz itu temen kami sma dulu. Dan tadi dia kasih kabar kalo anak nya yang hilang sudah diketemukan. Namun sayangnya bukan kabar yang baik " jawab Pak Andy menghempaskan nafas nya yang berat.
KRUKKKKKKKKK.....
Tiba tiba saja perut ku berbunyi saat sedang berbincang dengan pak Andy serta pak Ryan. Aku pun lantas menundukkan muka karena malu melihat mereka.
" nak agus laper ya. Emang belum makan " tanya Pak Andy sambil tersenyum pada ku.
" belum pak. Dari tadi siang malah " jawab ku masih sambil nunduk.
" emang keterlaluan si Fariz itu mas. Masak tamu nya gak di kasih makan " sungut Pak Andy kesal.
" ya udah nak tunggu disini sebentar " ujar Pak Ryan sambil berlari ke arah mobil nya.
5 menit kemudian, beliau pun kembali sambil membawa sebuah kotak berukuran sedang. Beliau langsung menyerah kan kotak tersebut kepada ku.
" apa ini pak "tanya ku sambil membuka tutup kotak tersebut.
" tadi bapak habis dari restoran. Trus bapak bungkus in buat yang di rumah. Eh tadi bu Ayu telfon kalo semua yang di rumah udah pada makan malam. "
" jadi ya udah, nasi kotak ini buat nak agus " jawab Pak Ryan sambil tersenyum.
" terima kasih pak. " ucap ku lagi kegirangan.
Kalo urusan makanan gak pernah ku tolak gan. Kualat kalo nolak rejeki.
Karena tak enak di lihat para pelayat makan sambil berdiri, aku pun pamit ke Pak Ryan dan Pak Andy untuk makan di pos satpam saja. Beliau pun setuju karena juga ingin kedalam menemui teman nya Pak Fariz. Satpam yang tadi siang penuh curiga terhadap ku pun kini senyum senyum gak jelas melihat ku yang tengah asyik makan.
"sorry boss, porsi nya cuma untuk satu orang ".
Kelar makan, aku pun menyusul Pak Ryan dan Pak Andy masuk ke dalam rumah Pak Fariz. Nampak kini di depan ku jenazah Vanya telah selesai di kafani dan langsung masukan ke dalam keranda jenazah. Aku pun berinisiatif ikut memanggul keranda jenazah yang di atas nya terbaring tubuh Vanya.
Aku ingin mengantarkan Vanya ke peristirahatan terakhir nya. Gak sembarangan orang gan bisa memanggul keranda jenazah. Butuh psikis serta fisik yang kuat. Meski di tengah jalan biasa nya bergantian dengan pelayat yang lain. Tetep saja harus tatag.
Setelah selesai di sholat kan di masjid yang tadi aku pakai buat sholat magrib, jenazah Vanya pun langsung di bawa ke pemakaman umum terdekat. Nampak kini iring iringan pelayat memenuhi jalan sepanjang arah ke makam.
Perjalanan ke makam umum pun , terasa berlalu begitu cepat. Maklum, karena mungkin masih kecil dan belum banyak dosa, jenazah Vanya terasa sangat enteng ketika keranda nya aku panggul.
SERRRRRR.......
Hawa dingin tiba-tiba saja menyerang tubuh ku hingga membuat bulu kuduk ku berdiri. Kontan aku pun meminta pelayat yang di belakang untuk menggantikan ku memanggul keranda jenazah nya si Vanya. Aku pun lantas berjalan rada pelan di banding pelayat yang lain. Pak Andy dan Pak Ryan yang ikut mengantarkan jenazah Vanya sampai ke pemakaman, melihat gelagat aneh yang aku tunjukkan. Mereka pun ikut memperlambat langkah nya dan kini berjalan beriringan dengan ku.
" ada apa nak agus " tnya Pak Andy memperhatikan gerak gerik ku.
" gak tau pak. Tiba-tiba saja bulu kuduk ku berdiri. Hawa dingin juga menyelimuti tubuh ku " jawab ku sembari menggosok gosok kan kedua telapak tangan ku satu sama lain.
" sama nak. Tiba tiba saja bapak juga merasakan hawa yang sangat dingin. Sampai sampai tubuh ini mati rasa " sahut Pak Ryan sembari memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jas nya.
" semoga saja nak tidak terjadi apa-apa " timpal Pak Andy yang kelihatan nya juga mulai ikut kedinginan.
Ntah kenapa rasanya hawa dingin hanya meliputi kami bertiga. Pelayat lain aku lihat masih biasa biasa saja sembari mengucapkan kalimat tahlil sepanjang perjalanan.
" semoga saja pak tidak ada..... "
" ALLAAHU... AKBAR......
Belum kelar omongan ku, Pak Andy sudah berteriak hingga membuat ku dan Pak Ryan tercekat kaget...
" nak apa itu nak." ucap Pak Andy panik sembari menunjuk nunjuk ke arah pohon kelapa yang jauh dari pintu masuk pemakaman.
ASTAGFIRULLAH.....
Aku pun tercekat kaget ketika melihat ke arah yang di tunjuk oleh Pak Andy.
Sebuah benda jatuh dari pohon kelapa tersebut dan menggelinding ke arah kami....
Sesuai request para reader, update Tengah malam..
Sekelebat bayangan yang tadi melintas di samping ku, kini telah berubah menjadi makhluk bertubuh tinggi besar dengan bulu berwarna hitam pekat yang tumbuh di sekujur tubuhnya.
Takut makhluk tersebut memiliki niat jahat, aku pun berinisiatif memanggil jin penjaga ku..
" aku tidak ingin menyakiti mu wahai anak manusia. Tak perlu kau panggil jin penjaga mu " cegah makluk tadi yang sepertinya bisa membaca isi fikiran ku.
" bagaimana mungkin aku bisa mempercayai kata kata mu. Makhluk yang di ciptakan untuk menjerumuskan segenap anak cucu Adam ke dalam jurang kenistaan " balas ku ragu.
" keris di lengan kiri mu, bisa membunuh ku dengan mudah jikalau aku berbuat sesuatu yang buruk terhadap mu " ucap makhluk tadi meyakinkan diriku.
" baik lah, aku pegang kata kata mu "
" terus apa tujuan mu sampai sampai berani menampakkan wujud mu di depan mataku " tanya ku lagi kepada makhluk tersebut.
" aku penunggu tempat tempat ini " jawab makhluk tersebut sembari menunjuk bangunan tua yang ada di tengah tanah lapang.
" dan aku tahu tujuan mu kesini. Pergi lah ke sumur tua yang terletak di bagian belakang bangunan tua tersebut "
" niscaya kau akan menemukan apa yang kau cari disini " ucap makhluk tadi.
" baik lah. Terima kasih atas bantuan dari mu " balas ku ke makhluk tadi.
Makhluk tadi hanya mengangguk terus menghilang dari hadapan ku. Aku pun lantas mengajak Pak Fariz dan keluarga serta tim pencarian ke sumur belakang seperti yang di katakan makhluk tadi.
Terlihat kini sebuah sumur tua terpampang jelas di mataku. Yang terlihat aneh, sumur tersebut seperti baru di tutup dengan sebuah material yang telah di cor. Tampak jelas perbedaan antara cor bangunan sumur tersebut dengan cor tutup yang berada di atas nya. Karena curiga, aku pun meminta bantuan anak buah pak Fariz untuk mengangkat lempengan beton yang menutup sumur tersebut.
Bau busuk tercium begitu menusuk hidup sesaat setelah lempengan beton yang menutupi sumur tersebut berhasil kami buka.
" Pak, Bu, Nay. Harap kalian sabar dan ikhlas melihat isi sumur tersebut " ucap ku ragu ke keluarga Pak Fariz.
Pak Fariz pun mengangguk dan meminta anak buah nya untuk turun ke bawah. Berbekal masker, senter serta tali, anak buah Pak Fariz pun menuruni sumur gelap yang menurut tidak terlalu dalam. Air di dalam sumur itu pun tak terlalu banyak. Maklum, hujan masih sesekali mengguyur kota ku tercinta.
Sayup sayup aku mendengar sebuah teriakan dari dalam sumur. Rupanya anak buah Pak Fariz, meminta kantong jenazah karena di dasar sumur dia menemukan sesosok mayat. Kantong tadi akan dia gunakan untuk menampung sesesok mayat yang di temukannya di dasar sumur tadi . Setelah kantong jenazah di lempar kan ke bawah, anak buah Pak Fariz pun memberi kode agar kami menarik bersama kantong tersebut ke atas.
Kantong jenazah tadi pun akhirnya sampai di ujung bibir sumur. Dengan hati hati kami mengangkat kantong tersebut dan meletakkan nya ke dalam mobil ambulance yang tadi telah di persiapkan tim Pak Fariz.
Tangis keluarga Pak Fariz pecah seketika saat kantong jenazah tadi di buka oleh tim forensik kepolisian. Nampak kini di dalam kantong jenazah tersebut sesosok mayat gadis kecil dengan seragam putih merah yang sudah memulai kelihatan membusuk. Gadis tersebut masih memakai tas Hello kitty yang menjadi tokoh animasi favorit nya. Aku pun tau siapa sosok dalam kantong jenazah tersebut.
Namun karena keluarga Pak Fariz sudah mengenali sosok tersebut, aki pun tak perlu susah susah untuk menjelaskan nya.
" sabar nay. Vanya dah tenang koq di alam sana " ucap ku sambil mengelus elus punggung naya.
Tangis kanaya pun semakin pecah mendengar ucapan dari ku. Pak Fariz dan Bu Farida pun berpelukan sembari menangis melihat tubuh putri nya yang kini terbujur kaku.
" pak, ayo kita bawa pulang dan kebumikan jenazah Vanya dengan layak. Tak baik membiarkan tubuh almarhumah berlama lama " ucap ku lagi kini ke Pak Fariz.
" ayo nak. Mari kita bawa pulang dan kebumikan dengan layak jenazah putri bapak " jawab Pak Fariz sembari menutup pintu belakang ambulance dan kembali ke mobil nya.
Sepanjang perjalanan, Bu Farida hanya menangis sesenggukan tanpa sekali pun mengucapkan sepatah kata. Aku yang tak tega pun mencoba untuk menghibur beliau.
" Bu, saya tau ibu sedang berkabung. Tapi apa Ibu tau kalo setiap air mata ibu yang jatuh hanya menambah dosa buat Vanya "
" segala sesuatu di dunia ini hanya milik Allah bu. Dan saat Dia meminta kembali apa yang menjadi hak Nya, kita tak bisa menolak. kita ini hanya manusia biasa yang lemah "
" ikhlas kan bu. Kirim doa buat Vanya. Insya Allah hal itu akan lebih bermanfaat buat nya " ucap ku sok bijak. Pada orang tua lagi.
Bu Farida pun mengurangi tangisan nya secara bertahap. Nampak kini beliau menyeka sisa sisa air mata yang masih membasahi pipi nya.
" makasih banyak gus udah banyak bantu keluarga gw " sahut Kanaya sembari merebahkan kepala nya di pundak ku.
" sama-sama nay. Kita sesama makhluk ciptaan Nya, wajib untuk saling tolong menolong " balas ku sembari menggeser posisi duduk ku karena tak nyaman dengan tindakan kanaya.
Kanaya bukan nya mengerti maksud perubahan posisi duduk ku, tapi malah semakin merapatkan tubuh nya ke tubuh ku. Kalo gak inget ndoro putri di rumah, udah ku terkam itu body cewek. Rejeki kan gak boleh di tolak.
Jam 18.00 kami sampai kembali di rumah Pak Fariz. Lebih cepat dari dugaan ku. Kalo tidak ada bantuan dari makhluk berbulu hitam tadi, mungkin kami masih bergelut dengan waktu mencari keberadaan tubuh Vanya.
Sial nya, hari itu aku melewatkan waktu dhuhur sama ashar karena terlalu fokus ke pencarian Vanya.. Tak ingin kecolongan lagi, aku pun pamit pulang ke keluarga Pak Fariz.
Namun lagi lagi Kanaya menghalangi kepulangan ku. Dia meminta agar aku pulang selepas jenazah Vanya di kebumikan saja. Karena tak ingin melakukan pekerjaan yang setengah tengah, aku pun menuruti permintaan Kanaya. Tapi aku pamit dulu buat nyari masjid atau mushola buat sholat maghrib. Terus nanti balik lagi ke rumahnya. Dan Kanaya tidak keberatan dengan hal itu.
Koq gak di rumah Kanaya saja gan..? Terlalu banyak orang bray. Saya juga gak enak menanyakan ke Kanaya dimana ruang sholat. Maklum keluarga Pak Fariz bener-bener shock. Seminggu Vanya menghilang, eh saat di temukan sudah menjadi mayat.
Setelah selesai sholat maghrib di masjid terdekat, aku pun kembali ke kediaman Pak Fariz. Nampak kini bendera kuning terpasang di depan pagar rumah nya. Bukan bendera merah putih gan, secara 17 Agustus sudah lewat.
Para pelayat pun berbondong bondong memadati rumah duka. Nampak kini halaman rumah Pak Fariz semakin ramai. Dari kejauhan, aku melihat dua sosok yang sedang melayat, begitu familiar di mataku. Aku pun mendekati dua sosok yang tadi datang secara bersamaan menaiki mobil .
" assalamualaikum, malem pak " salam ku kepada mereka.
" eh,, walaikumsalam " jawab kedua sosok tadi kaget.
" lho nak agus, ngapain bisa ada di sini " tanya salah satu sosok tersebut yang ternyata Pak Andy.
" nganterin Vanya pak " jawab ku singkat.
" nganterin Vanya gimana nak. Kan nak Vanya nya sudah meninggal " tanya Pak Ryan kini terlihat kebingungan.
" Vanya yang saya antar bukan yang sekarang lagi dimandikan pak. Tetapi Vanya 'yang lain' " jawab ku sembari mengambil nafas rada panjang.
" jadi arwah Vanya nemuin nak agus " tanya Pak Andy gantian.
" iya Pak tadi pagi di sekolah. Terus ilang karna melihat mbak dina. Eh pas aku mau pulang, dia sudah muncul lagi dan berdiri di samping jok motor ku " ucap ku lagi.
Pak Ryan dan Pak Andy pun langsung memegang tengkuk nya masing-masing sesaat setelah mendengar cerita dari ku.
" koq Pak Ryan dan Pak Andy ada disini " tanya ku karena heran mereka berdua ada disini malam itu.
" oh,, Pak Fariz itu temen kami sma dulu. Dan tadi dia kasih kabar kalo anak nya yang hilang sudah diketemukan. Namun sayangnya bukan kabar yang baik " jawab Pak Andy menghempaskan nafas nya yang berat.
KRUKKKKKKKKK.....
Tiba tiba saja perut ku berbunyi saat sedang berbincang dengan pak Andy serta pak Ryan. Aku pun lantas menundukkan muka karena malu melihat mereka.
" nak agus laper ya. Emang belum makan " tanya Pak Andy sambil tersenyum pada ku.
" belum pak. Dari tadi siang malah " jawab ku masih sambil nunduk.
" emang keterlaluan si Fariz itu mas. Masak tamu nya gak di kasih makan " sungut Pak Andy kesal.
" ya udah nak tunggu disini sebentar " ujar Pak Ryan sambil berlari ke arah mobil nya.
5 menit kemudian, beliau pun kembali sambil membawa sebuah kotak berukuran sedang. Beliau langsung menyerah kan kotak tersebut kepada ku.
" apa ini pak "tanya ku sambil membuka tutup kotak tersebut.
" tadi bapak habis dari restoran. Trus bapak bungkus in buat yang di rumah. Eh tadi bu Ayu telfon kalo semua yang di rumah udah pada makan malam. "
" jadi ya udah, nasi kotak ini buat nak agus " jawab Pak Ryan sambil tersenyum.
" terima kasih pak. " ucap ku lagi kegirangan.
Kalo urusan makanan gak pernah ku tolak gan. Kualat kalo nolak rejeki.
Karena tak enak di lihat para pelayat makan sambil berdiri, aku pun pamit ke Pak Ryan dan Pak Andy untuk makan di pos satpam saja. Beliau pun setuju karena juga ingin kedalam menemui teman nya Pak Fariz. Satpam yang tadi siang penuh curiga terhadap ku pun kini senyum senyum gak jelas melihat ku yang tengah asyik makan.
"sorry boss, porsi nya cuma untuk satu orang ".
Kelar makan, aku pun menyusul Pak Ryan dan Pak Andy masuk ke dalam rumah Pak Fariz. Nampak kini di depan ku jenazah Vanya telah selesai di kafani dan langsung masukan ke dalam keranda jenazah. Aku pun berinisiatif ikut memanggul keranda jenazah yang di atas nya terbaring tubuh Vanya.
Aku ingin mengantarkan Vanya ke peristirahatan terakhir nya. Gak sembarangan orang gan bisa memanggul keranda jenazah. Butuh psikis serta fisik yang kuat. Meski di tengah jalan biasa nya bergantian dengan pelayat yang lain. Tetep saja harus tatag.
Setelah selesai di sholat kan di masjid yang tadi aku pakai buat sholat magrib, jenazah Vanya pun langsung di bawa ke pemakaman umum terdekat. Nampak kini iring iringan pelayat memenuhi jalan sepanjang arah ke makam.
Perjalanan ke makam umum pun , terasa berlalu begitu cepat. Maklum, karena mungkin masih kecil dan belum banyak dosa, jenazah Vanya terasa sangat enteng ketika keranda nya aku panggul.
SERRRRRR.......
Hawa dingin tiba-tiba saja menyerang tubuh ku hingga membuat bulu kuduk ku berdiri. Kontan aku pun meminta pelayat yang di belakang untuk menggantikan ku memanggul keranda jenazah nya si Vanya. Aku pun lantas berjalan rada pelan di banding pelayat yang lain. Pak Andy dan Pak Ryan yang ikut mengantarkan jenazah Vanya sampai ke pemakaman, melihat gelagat aneh yang aku tunjukkan. Mereka pun ikut memperlambat langkah nya dan kini berjalan beriringan dengan ku.
" ada apa nak agus " tnya Pak Andy memperhatikan gerak gerik ku.
" gak tau pak. Tiba-tiba saja bulu kuduk ku berdiri. Hawa dingin juga menyelimuti tubuh ku " jawab ku sembari menggosok gosok kan kedua telapak tangan ku satu sama lain.
" sama nak. Tiba tiba saja bapak juga merasakan hawa yang sangat dingin. Sampai sampai tubuh ini mati rasa " sahut Pak Ryan sembari memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jas nya.
" semoga saja nak tidak terjadi apa-apa " timpal Pak Andy yang kelihatan nya juga mulai ikut kedinginan.
Ntah kenapa rasanya hawa dingin hanya meliputi kami bertiga. Pelayat lain aku lihat masih biasa biasa saja sembari mengucapkan kalimat tahlil sepanjang perjalanan.
" semoga saja pak tidak ada..... "
" ALLAAHU... AKBAR......
Belum kelar omongan ku, Pak Andy sudah berteriak hingga membuat ku dan Pak Ryan tercekat kaget...
" nak apa itu nak." ucap Pak Andy panik sembari menunjuk nunjuk ke arah pohon kelapa yang jauh dari pintu masuk pemakaman.
ASTAGFIRULLAH.....
Aku pun tercekat kaget ketika melihat ke arah yang di tunjuk oleh Pak Andy.
Sebuah benda jatuh dari pohon kelapa tersebut dan menggelinding ke arah kami....
myusuffebria525 dan 11 lainnya memberi reputasi
12


