- Beranda
- Stories from the Heart
Diary 2 Dunia
...
TS
agusk1988
Diary 2 Dunia

Terima kasih mas AWAYAYE untuk cover keren nya.
Ilustrasi Ronggo Geni

Ilustrasi Dewi Puspa Kenanga

Halo agan/aganwati kaskuser sekalian. Halo juga untuk para momod sekalian. Gue adalah silent reader yang udah lama melintang di forum kaskus. Terkhusus untuk sub forum stories from the heart. Kali ini perkenankan gue untuk menceritakan sebuab kisah klasik tentang perjalanan anak manusia yang berawal mula beberapa tahun lalu.
Jika kalian bertanya ini real atau fiksi.? gue kembali kan ke pribadi para reader sekalian. Daripada pada nanti para reader sekalian kepo, anggap saja cerita ini fiksi
Tapi terlepas dari itu semua,, percaya lah bahwa " mereka", beserta " dunia mereka" itu ada. Jadi hormati lah " mereka" seperti kita menghormati sesama kita. Karena pada dasarnya " mereka" sama seperti kita. Ada baik, jahat beserta segala hal yang tak bisa di jelaskan secara logika.
Dan yang terakhir, harap patuhi rule yang berlaku di sub forum ini. Karena menghormati orang lain itu secara tidak langsung membuat kita juga akan di hormat i.
Silahkan di nikmati
Quote:
Spoiler for ILUSTRASI:
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 165 suara
Menurut Kalian Bagaimana Seharusnya Thread Ini Berjalan Ke Depannya
Tetep seperti sudah sudah mas, penuh dengan pesan kehidupan
90%
Tamat in saja mas,, sudah terlalu mainstream seperti Thread lain
9%
No Comment mas, emang situ siapa..?
1%
Diubah oleh agusk1988 18-07-2021 04:03
User telah dihapus dan 26 lainnya memberi reputasi
23
1M
2.9K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
agusk1988
#329
PART 27
Aneh nya meski gadis cilik tersebut menghilang, kertas yang di berikan nya kini berada dalam genggam an ku. Aku pun buru buru memasukkan kertas tersebut ke saku celana ku dan mencari lagi keberadaan gadis cilik tersebut.
Celingak clinguk mata ku memandang area sekitar, namun tak kutemukan jua sosok gadis tersebut. Mbak dina pun kembali melihat ku dengan tatapan aneh.
" gus, nyari apaan " ucap mbak dina kini ikut Celingak celinguk sperti yg ku lakukan .
" ehhhh... Nggak mbak. Yuk masuk kelas " balas ku sembari mendorong motor ku masuk ke parkir an sekolah.
Cukup lama kek nya aku terlalu fokus dengan gadis cilik tersebut. Sampai lupa bahwa waktu telah cepat berlalu. sekolah yang tadinya terlihat lengang dan sepi, kini telah ramai dengan kehadiran siswa yang lalu lalang memasuki gerbang sekolah..
SRETTTTTT.......
Sebuah bayangan putih melintas tepat di atas kepalaku sesaat setelah aku memarkirkan motor ku.
HIHIHI.... HIHIHI.....HIHIHI....
Tawa renyah terdengar dari bayangan tersebut. Dia menatap ke arah ku dengan wajahnya yang pucat di serta i senyum menyeringai. Nampak gigi nya yang hitam seperti arang terlihat ketika dia lagi tersenyum.
"mbak... Mbak... Pagi-pagi udah isengin orang. Pergi sana "
" balik sana ke tempat favorit mbak " batin ku dalam hati.
Ntah tau maksudku atau dia bisa membaca pikiran ku, bayangan putih itu pun melesat terbang ke tempat favorit nya selama ini. Pohon Mangga..
Aku pun langsung menuju ke kelas setelah tak lagi melihat sosok bayangan mbak mbak yang iseng tadi.
" wah yang berangkat pake motor baru " goda Agung yang rupa nya udah masuk duluan ke kelas.
" iya cuk. Baru di kasih calon mertua kemaren malem " jawab ku sambil melirik ke arah reni.
Reni pun salah tingkah mendengar jawaban polos dari ku. Nampak dia kini bersembunyi di balik kedua telapak tangannya. wajahnya terlihat memerah kek udang rebus karena menahan malu .
" cie... Cie... Cie... Dari papa nya reni to" sahut Tiara sembari ikut melirik ke arah reni.
Reni pun makin menyembunyikan mukanya karena sepertinya udah tak kuat lagi menahan malu.
" kenapa nduk sembunyi " tanya ku sembari memegang tangan nya.
" ahhhhh.... Nduk malu mas " jawabannya sambil masih tak mau membuka tangkupan telapak tangan nya.
" kenapa malu..emang nduk gak mau sama mas " goda ku reni.
CITTTTTTTTT......
Reni pun langsung mencubit pinggang ku setelah mendengar perkataan ku tadi. Aku pun langsung meringis kesakitan sembari menggosok gosok pinggang ku yang bekas di cubit oleh reni.
Saat lagi asyik asyik ngobrol, tiba-tiba saja ada anak kelas dua yang masuk ke kelas dan berjalan mendekat ke arah kami.. Ternya anak kelas dua tadi adalah mbak dina dan Shinta.
" gus makasih banget buat yang semalem " ucap mbak dina saat sudah berada di dekat kami.
" sama-sama mbak. Gimana bu ayu, udah sehat " tanya ku ke mbak dina.
" emang semalam ada apa mas. Dan Tante ayu kenapa " samber reni sembari membuka tangkupan kedua tangannya.
" tadi malem mama kena santet ren. Untung ada si agus yang nolongin " jawab mbak dina sambil menepuk nepuk pundak ku.
" koq bisa mas. Gimana ceritanya " ucap reni lagi yang sepertinya tidak percaya dengan omongan mbak dina.
" habis rumah nduk, tiba-tiba mas melihat ada bola api yang terbang tepat di atas kepala mas "
" mas dan adek mas pun langsung mengejar kemana arah bola api tersebut pergi. Dan tanpa dinyana, bola api tersebut berhenti tepat di atas atap rumah pak Ryan. Terus tak berapa lama, bola api itu pun meledak " terang ku reni.
Ekspresi reni berubah seketika saat aku bilang bola api tersebut meledak. Dia yang tadi nya menutup muka nya karena malu, kini terlihat seperti melamun memikirkan sesuatu.
" terus tante gimana mbak " tanya reni yang sepertinya sudah tersadar dari lamunannya.
" alhamdulillah ren. Setelah di bantu agus, kondisi mama menjadi lebih baik. Tadi pagi udah bisa beraktifitas seperti biasa " jawab mbak dina.
Temen temen ku yang lain pun terlihat khusuk mendengar penjelasan dari mbak dina.
" eh gus, gimana jadi ikut ekskul pramuka "sahut Shinta tiba-tiba.
" wah gimana ya shin. Aku paling males ikut yang begituan " jawab ku malas malas an.
" yah koq gitu sih gus. Kan gw pengen lu ikut. Itung sebagai permintaan maaf lu tempo hari karena udah suudzon sama gw " kata Shinta lagi dengan wajah memelas.
Anjrit..... Kena headshot rasanya dengar Shinta bilang sebagai permintaan maaf tempo hari .
" aku ikut kalo temen temen ku juga ikut shin " ucap ku lagi mengajukan syarat.
" semua anak kelas satu boleh ikut koq gus " jawab mbak dina singkat.
Aku pun memandang ke arah tmen temen ku yang sedari tadi menyimak pembicaraan kami. Sebuah anggukan pun mereka berikan sesat setelah aku memandangi mereka satu persatu.
" oke deal. Trus kita bisa mulai kapan " tanya ku lagi ke Shinta.
" minggu ini bisa. Latihan nya tiap hari sabtu sore " jawab Shinta singkat.
Ucapan Shinta pun menjadi sambutan terakhir pagi itu. Maklum, bel jam pelajaran jam pertama sudah berbunyi beberapa detik yang lalu . Shinta dan mbak dina pun langsung ngacir balik ke kelas nya sendiri.
" mas, ulang tahun mu kapan sih " ucap reni tiba-tiba meski proses KBM udah di mulai.
" udah lewat nduk. Tanggal 16 bulan agustus kemaren " jawab ku sembari memperhatikan papan tulis.
" yahhh koq gak bilang sih masss " balas reni dengan sedikit ekspresi kekecewaan di wajahnya.
" lha nduk gak nanya. Lagian mas gak pernah raya in koq ulang tahun mas " jawab ku kini tapi sambil menatap mata reni.
" ya udah. Tahun depan raya in bareng nduk ya mas " ucap reni dengan mata yang berbinar binar.
" insya Allah nduk. Kalo ulang tahun mu sendiri kapan " tanya ku balik ke reni.
" hmmmmmmm 2 Januari mas " jawabnya sembari tersenyum pada ku.
" bentar lagi ya nduk berarti " ucap ku seraya membalas senyuman dari nya.
Tak ada yang istimewa dalam proses belajar mengajar pagi itu. Maklum mata pelajaran dari jam pertama sampai istirahat, adalah mata pelajaran yang tidak aku sukai. Aku pun malas malasan mengikuti jalannya proses belajar mengajar...
Teng..... Teng... Teng....
Bel istirahat pertama pun berbunyi. Aku pun lantas mengajak tmen segeng ku untuk pergi ke kantin...
" nduk nanti sore abis ashar aku ke rumah mu ya " obrol ku reni sambil memasukkan sesendok nasi pecel ke dalam mulut ku.
" asyikk... Yang benar mas " balas reni kegirangan.
" iya nduk, mas mau ambil sepeda mas yang semalam tertinggal di rumah mu. Kan lumayan bisa di pake adek ku pergi ke sekolah " ucap ku sembari memasukkan suapan terakhir nasi pecel yang jadi menu favorit ku.
" yahhhh... Cuma mau ngambil sepeda doang ya mas " balas reni sedikit kecewa mendengar alasan ku ke rumahnya.
" nanti mas temenin nduk koq sampai waktu maghrib " kataku sembari mengelus rambutnya.
" yayy... Ya udah mas kalo gitu. Nduk tunggu " ucap nya sembari tersenyum ceria ke arah ku.
Karena urusan ku di kantin sudah selesai, aku pun lantas mengajak reni untuk meninggalkan tempat tersebut dan mengajak reni ke kembali ke kelas. Di sepanjang perjalanan, dengan manja nya dia menggandeng tangan ku sambil sesekali tersenyum ke arah ku. Aku pun hanya tersenyum dan mengusap usap rambut nya karna gemas dengan tingkah nya ini.
Temen segeng ku kemana.? Mereka udah ngacir duluan kemana. Meninggalkan aku berdua dengan reni di kantin..
Sesaat setelah kembali ke kelas, bel masuk pun berbunyi.
Tak ada yang spesial terjadi selama proses belajar mengajar , jadi langsung saya skip..
Jam 13.30 bel pulang pun berbunyi..
Aku yang nanti ashar mau maen ke rumah reni pun ,memutuskan untuk langsung pulang ke rumah agar bisa cepat cepat istirahat tidur siang. Maklum, tidur siang adalah rutinitas wajib harian ku..
" sial, pake ketinggalan lagi " umpat ku dalam hati karena tak menemukan kunci kontak motor dalam saku celana ku.
Aku pun langsung berlari kembali ke kelas karena yakin kunci motor ku jatuh di dalam kelas. atau mungkin tak sengaja ku taruh di loker meja sekolah ku.. 10 menit aku Celingak celinguk mencari di dalam kelas dan mengubek ubek loker meja ku, tak kutemukan juga dimana kunci kontak ku berada.
Saat masih sibuk mencari, tiba-tiba saja kurasakan ada benda panjang yang mengganjal di saku sebelah kanan celana sekolah ku. Aku pun lantas merogoh ke dalam saku ku. Dan ternyata.. Kunci kontak ku ada disana. Padahal tadi udah aku cek gak ada disana. Namun kenapa sekarang benda tersebut ada disana..
Saat aku menarik kunci kontak ku dari saku celana, ada secarik kertas yang ikut tertarik dan terjatuh ke lantai...
" lho, ini kan kertas yang di berikan gadis cilik tadi pagi " gumam ku dalam hati.
Aku pun cuma garuk garuk kepala dan cepat cepat pergi meninggalkan ruang kelas ku. Jujur, tiba-tiba saja hawa dingin menyerang tubuh ku sesat setelah aku memungut kertas tersebut dari lantai.. Kontan hal itu pun membuat bulu kuduk ku berdiri..
ALLAHU... AKBAR....
Tiba tiba saja, gadis cilik yang tadi menghilang sudah berdiri disamping motor ku. Nampak sebuah senyuman tersungging dari bibir nya yang mungil. Namun masih saja tatapan nya dingin disertai wajah yang sangat pucat.
Aku pun berlari menghampiri gadis tersebut...
" kak anterin aku pulang " ucap gadis itu lagi untuk kedua kalinya.
" tadi pagi adek hilang kemana " tanya ku penasaran tanpa mengiyakan permintaan nya dulu.
" aku pergi karena ada temen kakak. Teman kakak kan gak bisa melihat aku " jawab gadis tersebut disertai teka teki.
" oh ya udah kakak anterin pulang . Nama adek siapa " tanya ku sebelum mengantarkan nya ke rumah.
" vanya kak " jawab gadis tersebut singkat.
Aku pun lantas menghidupkan mesin motor ku dan meminta vanya naek keboncengan belakang beberapa saat setelah dia memberitahukan namanya..
Entah kenapa bulu kuduk ku berdiri lagi saat tangan vannya melingkar di pinggang ku. Hawa dingin pun semakin menyerang ku hingga membuat tubuh ku menggigil kedinginan.
" hangat sekali tubuh kakak " ucap vanya sembari mengencangkan pelukan nya.
Aku pun hanya tersenyum saja melihat tingkah gadis cilik yang duduk di Jok belakang motor ku ini. Berbekal secarik kertas yang di berikan vanya tadi pagi, aku pun menggeber motor ku menuju alamat yang ada dalam secarik kertas tersebut.
Setengah jam lamanya aku muter muter mencari alamat dalam secarik kertas tersebut. Maklum jaman itu belum ada gugel maps bos.aku pun kini memasuki kompleks perumahan elit yang ada di kota ku. Aku pun lantas bertanya kepada security yang berjaga di depan, apakah bener alamat yang berada di kertas tersebut sudah dekat.
Dengan ramah security pun menunjukkan ke arah serta jalan komplek mana yang harus ku lewati agar lekas sampai ke alamat tadi.
10 menit kemudian, aku pun sampai di rumah yang tertulis pada secarik kertas yang di berikan vanya. Anehnya, vanya yang sepanjang perjalanan memeluk erat tubuh ku dari belakang, tiba-tiba saja menghilang sesaat setelah aku menghentikan laju motor ku di depan rumah pada kertas yang ia berikan.
Tak ingin berfikir terlalu jauh, aku pun lantas menemui pos satpam yang berada di pojok dari rumah besar tersebut. Aku hanya ingin pastikan kalau rumah itu bener bener yang tertera dalam alamat yang di berikan oleh vanya..
"assalamualaikum. Maaf pak numpang nanya " ucap ku sembari melepaskan helm yang membungkus kepala ku.
" walaikumsalam dek. Boleh mau nanya apa." tanya security sembari melihat ku dari ujung kepala sampai ujung kaki.
" apa bener ini perumahan xxxxx blok xxxx no xxxx " tanya ku sambil menyerahkan secarik kertas yang ku ambil dari saku celana ku.
" bener dek. Ada perlu apa ya " tanya security itu lagi sambil makin Intens memperhatikan ku.
Ini satpam maho kali ya. Meleng amat mandangi nya.. .
" itu pak, mau nganter dek vanya pulang sekolah " jawab ku masih dengan sikap sopan.
Ekspresi satpam tadi langsung berubah saat aku menyebutkan nama vanya. Tanpa menjawab pertanyaan ku, satpam tadi mempersilahkan aku masuk agar bertemu dengan pemilik rumah langsung.
" tok tok tok assalamualaikum " ku ketuk pintu rumah yang sangat megah itu.
Tiba tiba saja hawa dingin kembali menyerang tubuh ku saat aku mengetuk pintu rumah tersebut.
" terima kasih kak udah anterin vanya pulang " ucap vanya dibelakang ku.
Aku pun menoleh ke belakang kaget tiba-tiba mendengar suara vanya.
" eh kamu dek, ngilang kemana tadi "tanya ku keheranan melihat dia tiba-tiba ada disini.
Penampilan vanya saat ini, sangat berbeda dengan vanya yang kutemui tadi pagi dan ku bonceng selepas pulang sekolah. Nampak kini gadis cilik tersebut mengenakan pakaian yang serba berwarna putih. Pucat di wajah nya pun kini berganti dengan raut muka penuh cahaya yang amat menyilaukan mata.
" vanya pergi dulu ya kak. Dadah kakak " ucap vanya lagi sembari melambaikan tangan dan menghilang terbang ke atas langit .
Ya kini vanya benar-benar menghilang di depan mata ku sendiri. Karena tau ini sudah gak beres, aku pun memanggil Ronggi Geni jin penjaga ku.
" Ronggo Geni hadir " panggil ku dalam hati.
" Ronggo Geni hadir mas Agus " jawab Ronggo Geni kini berada di samping ku.
" kamu cari dimana sumber aura dari gadis yang tadi bersama ku. Kalo sudah ketemu, langsung laporan ke aku " perintah ku ke Ronggo Geni.
" sendiko dhawuh mas agus " Ronggo Geni pun menghilang dari hadapan ku.
Setelah sekian lama menunggu, akhirnya terdengar juga sebuah jawaban salam dari dalam rumah.
" walaikumsalam " terdengar suara perempuan sembari membuka kan pintu.
Nampak kini ibu ibu berumur sekitar 40-45 an berdiri di hadapan ku.
" ada perlu apa nak " ucap ibu tadi dengan tatapan asing ke arah ku.
" maaf bu, saya cuma mau mengantarkan vanya pulang sekolah . Dan alamat yang tertulis di dalam kertas yang di berikan nya, adalah rumah ini " ucap ku sembari memberikan secarik kertas yang tadi pagi di berikan vanya.
Ibu tersebut hanya diam beberapa saat sembari memandang i tulisan yang berada dalam kertas dengan seksama. Sepertinya ia ingin memastikan sesuatu dengan tulisan tersebut ..
" anu.. Nak... Vanya...kan........... ........ "
Ibu tadi pun tak menyelesaikan ucapan nya. Nampak kini beliau duduk bersimpuh di lantai iringi sebuah tangisan yang terdengar sangat pilu...
Aneh nya meski gadis cilik tersebut menghilang, kertas yang di berikan nya kini berada dalam genggam an ku. Aku pun buru buru memasukkan kertas tersebut ke saku celana ku dan mencari lagi keberadaan gadis cilik tersebut.
Celingak clinguk mata ku memandang area sekitar, namun tak kutemukan jua sosok gadis tersebut. Mbak dina pun kembali melihat ku dengan tatapan aneh.
" gus, nyari apaan " ucap mbak dina kini ikut Celingak celinguk sperti yg ku lakukan .
" ehhhh... Nggak mbak. Yuk masuk kelas " balas ku sembari mendorong motor ku masuk ke parkir an sekolah.
Cukup lama kek nya aku terlalu fokus dengan gadis cilik tersebut. Sampai lupa bahwa waktu telah cepat berlalu. sekolah yang tadinya terlihat lengang dan sepi, kini telah ramai dengan kehadiran siswa yang lalu lalang memasuki gerbang sekolah..
SRETTTTTT.......
Sebuah bayangan putih melintas tepat di atas kepalaku sesaat setelah aku memarkirkan motor ku.
HIHIHI.... HIHIHI.....HIHIHI....
Tawa renyah terdengar dari bayangan tersebut. Dia menatap ke arah ku dengan wajahnya yang pucat di serta i senyum menyeringai. Nampak gigi nya yang hitam seperti arang terlihat ketika dia lagi tersenyum.
"mbak... Mbak... Pagi-pagi udah isengin orang. Pergi sana "
" balik sana ke tempat favorit mbak " batin ku dalam hati.
Ntah tau maksudku atau dia bisa membaca pikiran ku, bayangan putih itu pun melesat terbang ke tempat favorit nya selama ini. Pohon Mangga..
Aku pun langsung menuju ke kelas setelah tak lagi melihat sosok bayangan mbak mbak yang iseng tadi.
" wah yang berangkat pake motor baru " goda Agung yang rupa nya udah masuk duluan ke kelas.
" iya cuk. Baru di kasih calon mertua kemaren malem " jawab ku sambil melirik ke arah reni.
Reni pun salah tingkah mendengar jawaban polos dari ku. Nampak dia kini bersembunyi di balik kedua telapak tangannya. wajahnya terlihat memerah kek udang rebus karena menahan malu .
" cie... Cie... Cie... Dari papa nya reni to" sahut Tiara sembari ikut melirik ke arah reni.
Reni pun makin menyembunyikan mukanya karena sepertinya udah tak kuat lagi menahan malu.
" kenapa nduk sembunyi " tanya ku sembari memegang tangan nya.
" ahhhhh.... Nduk malu mas " jawabannya sambil masih tak mau membuka tangkupan telapak tangan nya.
" kenapa malu..emang nduk gak mau sama mas " goda ku reni.
CITTTTTTTTT......
Reni pun langsung mencubit pinggang ku setelah mendengar perkataan ku tadi. Aku pun langsung meringis kesakitan sembari menggosok gosok pinggang ku yang bekas di cubit oleh reni.
Saat lagi asyik asyik ngobrol, tiba-tiba saja ada anak kelas dua yang masuk ke kelas dan berjalan mendekat ke arah kami.. Ternya anak kelas dua tadi adalah mbak dina dan Shinta.
" gus makasih banget buat yang semalem " ucap mbak dina saat sudah berada di dekat kami.
" sama-sama mbak. Gimana bu ayu, udah sehat " tanya ku ke mbak dina.
" emang semalam ada apa mas. Dan Tante ayu kenapa " samber reni sembari membuka tangkupan kedua tangannya.
" tadi malem mama kena santet ren. Untung ada si agus yang nolongin " jawab mbak dina sambil menepuk nepuk pundak ku.
" koq bisa mas. Gimana ceritanya " ucap reni lagi yang sepertinya tidak percaya dengan omongan mbak dina.
" habis rumah nduk, tiba-tiba mas melihat ada bola api yang terbang tepat di atas kepala mas "
" mas dan adek mas pun langsung mengejar kemana arah bola api tersebut pergi. Dan tanpa dinyana, bola api tersebut berhenti tepat di atas atap rumah pak Ryan. Terus tak berapa lama, bola api itu pun meledak " terang ku reni.
Ekspresi reni berubah seketika saat aku bilang bola api tersebut meledak. Dia yang tadi nya menutup muka nya karena malu, kini terlihat seperti melamun memikirkan sesuatu.
" terus tante gimana mbak " tanya reni yang sepertinya sudah tersadar dari lamunannya.
" alhamdulillah ren. Setelah di bantu agus, kondisi mama menjadi lebih baik. Tadi pagi udah bisa beraktifitas seperti biasa " jawab mbak dina.
Temen temen ku yang lain pun terlihat khusuk mendengar penjelasan dari mbak dina.
" eh gus, gimana jadi ikut ekskul pramuka "sahut Shinta tiba-tiba.
" wah gimana ya shin. Aku paling males ikut yang begituan " jawab ku malas malas an.
" yah koq gitu sih gus. Kan gw pengen lu ikut. Itung sebagai permintaan maaf lu tempo hari karena udah suudzon sama gw " kata Shinta lagi dengan wajah memelas.
Anjrit..... Kena headshot rasanya dengar Shinta bilang sebagai permintaan maaf tempo hari .
" aku ikut kalo temen temen ku juga ikut shin " ucap ku lagi mengajukan syarat.
" semua anak kelas satu boleh ikut koq gus " jawab mbak dina singkat.
Aku pun memandang ke arah tmen temen ku yang sedari tadi menyimak pembicaraan kami. Sebuah anggukan pun mereka berikan sesat setelah aku memandangi mereka satu persatu.
" oke deal. Trus kita bisa mulai kapan " tanya ku lagi ke Shinta.
" minggu ini bisa. Latihan nya tiap hari sabtu sore " jawab Shinta singkat.
Ucapan Shinta pun menjadi sambutan terakhir pagi itu. Maklum, bel jam pelajaran jam pertama sudah berbunyi beberapa detik yang lalu . Shinta dan mbak dina pun langsung ngacir balik ke kelas nya sendiri.
" mas, ulang tahun mu kapan sih " ucap reni tiba-tiba meski proses KBM udah di mulai.
" udah lewat nduk. Tanggal 16 bulan agustus kemaren " jawab ku sembari memperhatikan papan tulis.
" yahhh koq gak bilang sih masss " balas reni dengan sedikit ekspresi kekecewaan di wajahnya.
" lha nduk gak nanya. Lagian mas gak pernah raya in koq ulang tahun mas " jawab ku kini tapi sambil menatap mata reni.
" ya udah. Tahun depan raya in bareng nduk ya mas " ucap reni dengan mata yang berbinar binar.
" insya Allah nduk. Kalo ulang tahun mu sendiri kapan " tanya ku balik ke reni.
" hmmmmmmm 2 Januari mas " jawabnya sembari tersenyum pada ku.
" bentar lagi ya nduk berarti " ucap ku seraya membalas senyuman dari nya.
Tak ada yang istimewa dalam proses belajar mengajar pagi itu. Maklum mata pelajaran dari jam pertama sampai istirahat, adalah mata pelajaran yang tidak aku sukai. Aku pun malas malasan mengikuti jalannya proses belajar mengajar...
Teng..... Teng... Teng....
Bel istirahat pertama pun berbunyi. Aku pun lantas mengajak tmen segeng ku untuk pergi ke kantin...
" nduk nanti sore abis ashar aku ke rumah mu ya " obrol ku reni sambil memasukkan sesendok nasi pecel ke dalam mulut ku.
" asyikk... Yang benar mas " balas reni kegirangan.
" iya nduk, mas mau ambil sepeda mas yang semalam tertinggal di rumah mu. Kan lumayan bisa di pake adek ku pergi ke sekolah " ucap ku sembari memasukkan suapan terakhir nasi pecel yang jadi menu favorit ku.
" yahhhh... Cuma mau ngambil sepeda doang ya mas " balas reni sedikit kecewa mendengar alasan ku ke rumahnya.
" nanti mas temenin nduk koq sampai waktu maghrib " kataku sembari mengelus rambutnya.
" yayy... Ya udah mas kalo gitu. Nduk tunggu " ucap nya sembari tersenyum ceria ke arah ku.
Karena urusan ku di kantin sudah selesai, aku pun lantas mengajak reni untuk meninggalkan tempat tersebut dan mengajak reni ke kembali ke kelas. Di sepanjang perjalanan, dengan manja nya dia menggandeng tangan ku sambil sesekali tersenyum ke arah ku. Aku pun hanya tersenyum dan mengusap usap rambut nya karna gemas dengan tingkah nya ini.
Temen segeng ku kemana.? Mereka udah ngacir duluan kemana. Meninggalkan aku berdua dengan reni di kantin..
Sesaat setelah kembali ke kelas, bel masuk pun berbunyi.
Tak ada yang spesial terjadi selama proses belajar mengajar , jadi langsung saya skip..
Jam 13.30 bel pulang pun berbunyi..
Aku yang nanti ashar mau maen ke rumah reni pun ,memutuskan untuk langsung pulang ke rumah agar bisa cepat cepat istirahat tidur siang. Maklum, tidur siang adalah rutinitas wajib harian ku..
" sial, pake ketinggalan lagi " umpat ku dalam hati karena tak menemukan kunci kontak motor dalam saku celana ku.
Aku pun langsung berlari kembali ke kelas karena yakin kunci motor ku jatuh di dalam kelas. atau mungkin tak sengaja ku taruh di loker meja sekolah ku.. 10 menit aku Celingak celinguk mencari di dalam kelas dan mengubek ubek loker meja ku, tak kutemukan juga dimana kunci kontak ku berada.
Saat masih sibuk mencari, tiba-tiba saja kurasakan ada benda panjang yang mengganjal di saku sebelah kanan celana sekolah ku. Aku pun lantas merogoh ke dalam saku ku. Dan ternyata.. Kunci kontak ku ada disana. Padahal tadi udah aku cek gak ada disana. Namun kenapa sekarang benda tersebut ada disana..
Saat aku menarik kunci kontak ku dari saku celana, ada secarik kertas yang ikut tertarik dan terjatuh ke lantai...
" lho, ini kan kertas yang di berikan gadis cilik tadi pagi " gumam ku dalam hati.
Aku pun cuma garuk garuk kepala dan cepat cepat pergi meninggalkan ruang kelas ku. Jujur, tiba-tiba saja hawa dingin menyerang tubuh ku sesat setelah aku memungut kertas tersebut dari lantai.. Kontan hal itu pun membuat bulu kuduk ku berdiri..
ALLAHU... AKBAR....
Tiba tiba saja, gadis cilik yang tadi menghilang sudah berdiri disamping motor ku. Nampak sebuah senyuman tersungging dari bibir nya yang mungil. Namun masih saja tatapan nya dingin disertai wajah yang sangat pucat.
Aku pun berlari menghampiri gadis tersebut...
" kak anterin aku pulang " ucap gadis itu lagi untuk kedua kalinya.
" tadi pagi adek hilang kemana " tanya ku penasaran tanpa mengiyakan permintaan nya dulu.
" aku pergi karena ada temen kakak. Teman kakak kan gak bisa melihat aku " jawab gadis tersebut disertai teka teki.
" oh ya udah kakak anterin pulang . Nama adek siapa " tanya ku sebelum mengantarkan nya ke rumah.
" vanya kak " jawab gadis tersebut singkat.
Aku pun lantas menghidupkan mesin motor ku dan meminta vanya naek keboncengan belakang beberapa saat setelah dia memberitahukan namanya..
Entah kenapa bulu kuduk ku berdiri lagi saat tangan vannya melingkar di pinggang ku. Hawa dingin pun semakin menyerang ku hingga membuat tubuh ku menggigil kedinginan.
" hangat sekali tubuh kakak " ucap vanya sembari mengencangkan pelukan nya.
Aku pun hanya tersenyum saja melihat tingkah gadis cilik yang duduk di Jok belakang motor ku ini. Berbekal secarik kertas yang di berikan vanya tadi pagi, aku pun menggeber motor ku menuju alamat yang ada dalam secarik kertas tersebut.
Setengah jam lamanya aku muter muter mencari alamat dalam secarik kertas tersebut. Maklum jaman itu belum ada gugel maps bos.aku pun kini memasuki kompleks perumahan elit yang ada di kota ku. Aku pun lantas bertanya kepada security yang berjaga di depan, apakah bener alamat yang berada di kertas tersebut sudah dekat.
Dengan ramah security pun menunjukkan ke arah serta jalan komplek mana yang harus ku lewati agar lekas sampai ke alamat tadi.
10 menit kemudian, aku pun sampai di rumah yang tertulis pada secarik kertas yang di berikan vanya. Anehnya, vanya yang sepanjang perjalanan memeluk erat tubuh ku dari belakang, tiba-tiba saja menghilang sesaat setelah aku menghentikan laju motor ku di depan rumah pada kertas yang ia berikan.
Tak ingin berfikir terlalu jauh, aku pun lantas menemui pos satpam yang berada di pojok dari rumah besar tersebut. Aku hanya ingin pastikan kalau rumah itu bener bener yang tertera dalam alamat yang di berikan oleh vanya..
"assalamualaikum. Maaf pak numpang nanya " ucap ku sembari melepaskan helm yang membungkus kepala ku.
" walaikumsalam dek. Boleh mau nanya apa." tanya security sembari melihat ku dari ujung kepala sampai ujung kaki.
" apa bener ini perumahan xxxxx blok xxxx no xxxx " tanya ku sambil menyerahkan secarik kertas yang ku ambil dari saku celana ku.
" bener dek. Ada perlu apa ya " tanya security itu lagi sambil makin Intens memperhatikan ku.
Ini satpam maho kali ya. Meleng amat mandangi nya.. .
" itu pak, mau nganter dek vanya pulang sekolah " jawab ku masih dengan sikap sopan.
Ekspresi satpam tadi langsung berubah saat aku menyebutkan nama vanya. Tanpa menjawab pertanyaan ku, satpam tadi mempersilahkan aku masuk agar bertemu dengan pemilik rumah langsung.
" tok tok tok assalamualaikum " ku ketuk pintu rumah yang sangat megah itu.
Tiba tiba saja hawa dingin kembali menyerang tubuh ku saat aku mengetuk pintu rumah tersebut.
" terima kasih kak udah anterin vanya pulang " ucap vanya dibelakang ku.
Aku pun menoleh ke belakang kaget tiba-tiba mendengar suara vanya.
" eh kamu dek, ngilang kemana tadi "tanya ku keheranan melihat dia tiba-tiba ada disini.
Penampilan vanya saat ini, sangat berbeda dengan vanya yang kutemui tadi pagi dan ku bonceng selepas pulang sekolah. Nampak kini gadis cilik tersebut mengenakan pakaian yang serba berwarna putih. Pucat di wajah nya pun kini berganti dengan raut muka penuh cahaya yang amat menyilaukan mata.
" vanya pergi dulu ya kak. Dadah kakak " ucap vanya lagi sembari melambaikan tangan dan menghilang terbang ke atas langit .
Ya kini vanya benar-benar menghilang di depan mata ku sendiri. Karena tau ini sudah gak beres, aku pun memanggil Ronggi Geni jin penjaga ku.
" Ronggo Geni hadir " panggil ku dalam hati.
" Ronggo Geni hadir mas Agus " jawab Ronggo Geni kini berada di samping ku.
" kamu cari dimana sumber aura dari gadis yang tadi bersama ku. Kalo sudah ketemu, langsung laporan ke aku " perintah ku ke Ronggo Geni.
" sendiko dhawuh mas agus " Ronggo Geni pun menghilang dari hadapan ku.
Setelah sekian lama menunggu, akhirnya terdengar juga sebuah jawaban salam dari dalam rumah.
" walaikumsalam " terdengar suara perempuan sembari membuka kan pintu.
Nampak kini ibu ibu berumur sekitar 40-45 an berdiri di hadapan ku.
" ada perlu apa nak " ucap ibu tadi dengan tatapan asing ke arah ku.
" maaf bu, saya cuma mau mengantarkan vanya pulang sekolah . Dan alamat yang tertulis di dalam kertas yang di berikan nya, adalah rumah ini " ucap ku sembari memberikan secarik kertas yang tadi pagi di berikan vanya.
Ibu tersebut hanya diam beberapa saat sembari memandang i tulisan yang berada dalam kertas dengan seksama. Sepertinya ia ingin memastikan sesuatu dengan tulisan tersebut ..
" anu.. Nak... Vanya...kan........... ........ "
Ibu tadi pun tak menyelesaikan ucapan nya. Nampak kini beliau duduk bersimpuh di lantai iringi sebuah tangisan yang terdengar sangat pilu...
Diubah oleh agusk1988 28-10-2017 08:34
myusuffebria525 dan 12 lainnya memberi reputasi
13


