Kaskus

Story

setiawanariAvatar border
TS
setiawanari
Patahan Salib Bidadari
In the name of Allah, the beneficient, the merciful
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh


Patahan Salib Bidadari
Terimakasih untuk gambar sampulnya awayeye

Terimakasih Kaskus, khususnya untuk sub forum SFTH yang telah menyediakan tempat menampilkan sebuah cerita. Sebuah fasilitas yang akan saya gunakan untuk menulis dimulai dari hari ini hingga di hari-hari selanjutnya.

Terlepas dari nyata atau tidaknya cerita ini, adalah tidak terlalu penting karena sebagian dari kisah nyata dan sebagian dari imaginasi saya. Harapan saya tokoh-tokoh dalam cerita ini dapat menjadi inspirasi untuk para pembaca cerita yang saya tulis ini dapat menjadikan saya untuk terus berkreatifitas.

Mohon maaf jika materi dalam cerita ini nantinya ada kesalahan dan menyinggung pihak-pihak tertentu sekiranya nasihat, kritik dan saran dari agan/sista yang lebih berpengalaman selalu sangat saya harapkan.

Menemani istirahat untuk menghilangkan lelah setelah pulang kerja/sekolah/kuliah, atau saat sedang menunggu sesuatu mari kita baca ceritanya. Ditemani alunan musik dan segelas kopi/cokelat/susu/teh hangat kita kembali ke beberapa tahun yang lalu!!!.


PEMBUKA CERITA

Terpaku di dalam rasa cinta yang tak mungkin pudar, menanti cinta datang membawa arti sampai segenap organ ini berhenti.

Sore itu saat cuaca cerah di lantai 6 gedung akademisi yang melahirkan sarjana ekonomi terbaik aku termenung. Melamunkan manis, asam, asin dan pahitnya segala kehendak Tuhan yang dianugerahkan kepada salah satu ciptaanNya.

Manusia diberikan otak untuk berfikir dan menggunakan logika lalu diberikan hati untuk merasakan. Hati adalah malaikat sedangkan otak kadang menjadi iblis dan sangat sulit untuk mengontrolnya menjadi malaikat. Hati menjerit saat kita berbuat salah sedangkan otak adalah penyebab semua kesalahan yang dilakukan manusia. Malaikat dan iblis adalah gambaran dari manusia, sebagai simbol antara kebaikan dan kejahatan. Kebaikan tidak akan bersanding dengan kejahatan dan sebaliknya.

“Permisi Mas! Bisa pindah duduknya, lantainya mau di bersihkan!” Sapa seorang petugas cleaning service membuyarkan lamunanku.
“Oh, iya mas”. Jawabku sambil berlalu pergi menuju tempat parkir motor tepatnya dihalaman depan kampus.

Karamnya cinta ini
Tenggelamkanku diduka yang terdalam
Hampa hati terasa
Kau tinggalkanku meski ku tak rela
Salahkah diriku hingga saat ini
Kumasih mengharap
Kau tuk kembali………


Sore itu gerimis turun saat aku pulang, tak terasa sampai ditempat kos yang kebetulan hanya berjarak 10 menit dari kampus air hujan membasahi jaket jeans yang ku kenakan. Segera aku mengambil handuk dan membersihkan diri, bersiap untuk mengucapkan syukur kepada Yang Maha Kuasa. Dengan ritual sholat Ashar aku merasakan kedamaian yang tidak ada bandingannya, sebagai bentuk kepatuhan dan rasa syukur atas semua yang diberikan Tuhan baik itu berkah yang membuat hati senang maupun musibah sebagai ujian kepada hambanya agar menjadi sosok yang lebih kuat.

Waktunya istirahat, kurebahkan badan ini di kasur busa sebagai surga dunia yang paling indah, sambil memutar lagu menemaniku melepas lelah. Secangkir kopi hitam telah kusiapkan untuk menghangatkan suasana karena diluar hujan turun semakin deras. Kupandangi sebuah kalung berwarna emas berliontin salib yang bersanding dengan sebuah kalung perak berliontin lafaz Allah, tergantung dibawah poster foto Ibu Sundari Sukotjo tepat di tengah-tengah dinding kamar kosku. Masih menampakkan kilaunya meski kalung-kalung itu sudah hampir 4 tahun lamanya. Aku bangkit dari tempat tidur, meminum sedikit kopi hitam, sambil menarik nafas dalam sedalam yang aku mampu. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu di sore ini, ya aku merasakan suatu kerinduan yang luar biasa dengan pemilik kalung salib yang tergantung dikamarku, seorang yang sangat suka musik klasik, seseorang pecinta sepakbola, seseorang yang suka kopi hitam dan mungkin pernah mencintaiku walaupun tak pernah mengungkapkan sepatah katapun.

“Ya Tuhan hari ini aku kangen banget sama dia, meski tak sebesar kangen ku kepadaMu, tapi sungguh seolah-olah aku merasa sangat lemah dan sangat kehilangan. Hari ini tepat 4 bulan yang lalu dia beranjak pergi dari tempat ini, dia pergi untuk cita-citanya, untuk impiannya dan bodohnya aku belum sempat mengutarakan seluruh perasaanku kepadanya. Perbedaan keyakinanlah yang menghalangi, aku bahkan hanya bisa diam membisu saat ku ingin mengucapkan seluruh rasa cinta ini aku takut rasa cinta kepada makhluk ciptaanMu melebihi rasa cintaku padaMu. Tak kuasa air mata ini menetes, berusaha ku tahan tapi tak sanggup karena mungkin ini air mata rindu yang mencapai puncaknya.

Aku bukan seorang penulis tetapi hari ini tiba-tiba ingin sekali aku ingin sekali memainkan jariku di keyboard yang biasanya hanya kupakai untuk membuat tugas. Aku ingin menulis tentang dirimu tentang cerita kita, walaupun mungkin tidak berujung bahagia tidak apa karena mungkin dengan tulisan ini aku bisa mencurahkan segala isi hati dan kerinduanku kepada mu. Kenangan indah tentang hari-hari yang pernah kulalui dengan seorang bidadari yang telah merubah seluruh hidupku, meski meninggalkan perasaan yang terus menggantung entah sampai kapan. Bidadari yang datang di hidupku, menemaniku sejenak lalu pergi meninggalkan patahan salibnya di hidupku.


Mungkin suatu saat nanti
Kau temukan bahagia meski tak bersamaku
Bila nanti kau tak kembali
Kenanglah aku sepanjang hidupmu


Sekilas Gambar Tentang Aku
Harapan Sesuai dengan Kenyataan
Kerikil Kecil dan Awan yang Jauh
Pertemuan dengan Sahabat
Sepatu Mengawali Sebuah Impian
Dunia Kampus dan Teman Baru
Keluarga Kecil Bernama HALTE
Sesuatu Mengganggu Pesta Akhir Smester
Diantara Rasa Kagum dan Penasaran
Meluapnya Sebuah Emosi
Hubungan yang Semakin Dekat
Kegelisahan Menghadapi Perasaan yang Berbeda
Siang Menjadi Malam dan Sebaliknya
Perjalanan yang Semakin Indah

Momen Menggelikan dan Warna Kehidupan
Dilema Menghadapi Ungkapan Perasaan
Tetangga di Sekitar Kami
Liontin Salib untuk Leher yang Indah
Kepedihan Cerita di Masa Lalu
Senyuman untuk Hati yang Terluka
Sosok yang Menjadi Pertanyaan
Mencoba Menghilangkan Trauma
Pelangi yang Hilang Bersama Turunnya Hujan
Malam Kebahagiaan Bersama Keluarga Kecil
Bidadari Kecil Kini Telah Dewasa
Kebahagiaan Kini Tinggal Prasasti
Semua Terjadi Sangat Cepat
Sebuah Cinta yang Salah
Surga yang Tak Layak untuk Dilihat
Rumput Dingin Di Bawah Bangku Taman
Pahitnya Sebuah Ucapan
Air Mata Menepis Kerasnya Kata-kata
Satu Langkah ke Arah Normal
Bertahan Hanya dalam Waktu Singkat
Semakin Tenggelam dalam Kedekatan
Lilin Kecil di Malam Penuh Kebahagiaan
Selamat Datang Kemarau
Kerinduan yang Teramat Dalam
Hembusan Angin Masa Lalu
Sayap yang Kuat Untuk Bidadari Kecil
Tinta Biru Menorehkan Luka
Berusaha Menyembunyikan Luka
Hilangnya Rasa Segan
Keberhasilan Tanpa Perayaan
Berharap Hanya Andai Saja
Serpihan Kenangan yang Menyiksa
Tempat Baru
Berita Baik Bersama Undangan
Selamat Menempuh Hidup Baru
Kesan yang Baik di Hari Pertama
Insiden Kecil dan Masa yang Telah Terlewati
Menutup Momen 4 Tahun Kebersamaan
Kotak Makan Siang
Keberanian Untuk Memulai
Pahitnya Sambutan Selamat Datang
Seperti Kembali ke Waktu Itu
Teka Teki dari Perhatian Sederhana
Cerita di Ujung Sore
Peneduh Panasnya Amarah
Mengungungkapkan tak Semudah Membayangkan
Titik Terang yang Terasa Gelap
Patahan Salib Bidadari
Terimakasih Untuk Masa yang Terlewati
Apa yang Sebenarnya Terjadi
Kembali Terjatuh
Dunia Ciptakan Keindahan
Dan Kebahagiaan [TAMAT]

Kata Penutup (Q&A)
Diubah oleh setiawanari 10-07-2018 17:35
calebs12Avatar border
nona212Avatar border
nona212 dan calebs12 memberi reputasi
3
111.2K
608
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.6KAnggota
Tampilkan semua post
setiawanariAvatar border
TS
setiawanari
#343
Keberanian Untuk Memulai
Kopi, bubuk hitam yang membutuhkan proses panjang untuk menikmatinya. Beberapa orang punya cara tersendiri untuk merasakan kenikmatan kopi. Menciptakan filosofi bagi penikmatnya dan menjadi candu yang sulit digantikan dengan minuman lainnya.

Minuman dengan segala keunikannya menimbulkan berbagai persepsi saat melihat orang menikmati kopi. Penikmat kopi manis merasa aneh melihat orang minum kopi tanpa gula. Mual rasanya melihat orang minum es kopi bagi penikmat kopi panas. Tapi itulah persepsi seseorang tentang kopi. Sebuah minuman nikmat yang menjadi racun bagi penderita asam lambung.

" Eh nasinya kurang ya Wan?" Kata Mbak Widia waktu istirahat siang ini.
" Ah enggak kok Mbak, cukup ini mah. Mbak tapi gakpapa nih Mbak Widia sering banget bawain makan buatku?"
" Ya gakpapa lah Wan, kan sekalian Lo nemenin gw makan siang, abis di kantin makanannya gak ada yang selera."
" Ehmmmm tapi gak enak sama yang lain Mbak, tar disangka ada sesuatu lagi, terlebih saya kan orang baru."
" Maksudnya anak-anak kantor? Ooh gak mungkin lah. Gw tau mereka kok, dikantor ini ma udah kaya keluarga jadi gak ada yang mikirin kaya gitu. Atau jangan-jangan Lo gak suka ya masakanku?"
" Suka kok Mbak, masakan Mbak Wid enak." Jawabku melanjutkan makan.

Sejak pertama kali dia membawakan makanan untukku hampir setiap hari kebiasaan itu terus berulang. Aku merasa hubunganku dengan Mbak Widia melebihi sekedar relasi antara atasan dan bawahan. Setiap hari kita bertemu bahkan disaat libur pun tak jarang aku berkunjung ke rumahnya. Sekedar menemani Marsha bermain atau memang ibunya yang minta untuk di temani.

Sebuah kedekatan yang membuatku semakin nyaman, merasa ingin bertindak lebih jauh lagi. Tatap matanya, sikapnya, aku merasa seperti terhipnotis ingin melangkah lebih jauh. Sikap seorang atasan yang mungkin terlalu berlebihan untuk bawahannya. Aku yakin ada maksud tertentu dengan semua sikap Mbak Widia kepadaku.

" Shit, kenapa pikiranku jadi kacau gini ingin melangkah tapi ada sesuatu yang masih terus saja kuharapkan kehadirannya!" Batinku sejenak meletakkan sendok.

" Kok bengong Wan? Ada apa?" Tanya Mbak Widia.
" Oh gak ada apa-apa Mbak, cuma bingung aja malem Minggu saya mau jalan, tapi gak ada temen." Jawabku kembali menghabiskan makanan.
" Makanya cari pacar biar ada yang nemenin, hahahaha."
" Lagi nyari sih Mbak, tapi belum ketemu aja." Jawabku.
" Eh Lo gak mau ngajak gw Wan? Gw juga lagi kosong lho malem Minggu." Jawab Mbak Widia membuatku lega karena itulah jawaban yang aku nantikan.
" Hmmmm sebenernya maksud saya tadi begitu Mbak, tapi saya sungkan nanti disangka kurang ajar lagi masa bawahan ngajak jalan atasannya?" Kataku.
" Hahahaha yaelah Lo itu jaim banget sih Wan kalau masalah beginian, jadi gimana yakin gak mau ngajak gw jalan?"
" Mau Mbak, eh maksudnya kalau Mbak Widia gak keberatan terus ada waktu kosong."
" Oke, nanti gw pikirin dulu terus itu juga kalau Marsha gak rewel, hehehehehe. Yaudah gw masuk duluan ya, nanti kotak nasinya biar di beresin OB." Kata Mbak Widia meninggalkan pantry.
" Iya Mbak, saya sholat dulu." Jawabku lalu beranjak menuju mushola kantor di lantai dasar.


" Baru mau sholat Wan? Wah kayanya makin lengket aja sama Widia. Beruntung Lo, hahahahahaha." Kata Pak Veri saat aku duduk melepas sepatu.
" Aah Pak Veri bisa aja, orang cuma nemenin makan kok Pak." Jawabku.
" Semua juga berawal dari temen makan Wan tar lama-lama juga jadi temen tidur." Celoteh Arif disamping Pak Veri.
" Aaah Lo kalau punya mulut belum pernah kemasukan kaos kaki sih, niiiih." Kataku melempar kaos kaki ke wajah Arif namun dengan cepat dia menghindar.
" Njir, bau banget ini taruh di kolam kayanya ikan juga pada mabok Wan, hahahaha. Yah gitu aja marah canda kali." Jawab Arif menutup hidungnya.

" Eh tapi kali ini Arif ada benernya Wan. Hehehehe yaah kalau seandainya gw belum punya bini mungkin bakalan gw deketin juga tu Widia." Jawab Pak Veri.
" Lah kenapa Pak Veri malah belain Arif? Yaudah lah Pak liat nanti aja. Saya sholat dulu ya pak." Kataku masuk ke mushola.
" Wan gw tunggu di tangga naik yak." Teriak Arif saat aku membuka keran tempat wudu.

Jam masuk kantor telah tiba, suasana kantor pun tidak berubah seperti hari-hari biasanya. Kesibukan dan aktivitas yang sama namun berbeda dengan perasaanku. Sebuah dilema masih berada diantara kayakinan dan keraguan tentang langkahku. Seorang perempuan atasan kerjaku, membuatku semakin yakin inilah jalan yang harus kulalui. Bayangan masa lalu masih menari dalam pikiranku membuatku ragu karena hati kecil ini masih saja berharap menantikan sosoknya. Berharap sebuah jawaban iya atau tidak, hanya salah satu dari dua jawaban itu yang kunantikan.

Akhirnya jarum pendek berhenti di angka lima dan jarum panjang sejenak diam dia angka dua belas. Meski jarum merah terus berjalan tapi ini waktunya pulang kantor. Aku berjalan ke parkiran bersama orang asli Jakarta yang sifatnya hampir sama dengan Sandro. Celotehnya, gayanya dan ekspresinya bisa dikatakan mirip meski ketampanannya dibawah Sandro.

" Liat apaan Lo?" Kata Arif tiba di parkiran.
" Gak papa, ternyata hari ini Mbak Wid bawa mobil, siapa tau gak bawa kan bisa bareng gitu." Jawabku.
" Yaelah, bener-bener Lo udah kepelet sama janda itu Wan, tapi bagus lah seenggaknya temen kerja gw udah laku semua, hahahaha."
" Lah emang ada masalah Rif?"
" Ya bukan masalah sih, tapi yang jelas kan cuma Lo doang yang jomblo dimari. Awalnya sih gak yakin tampang kaya Lo gak punya cewek ehhh gak taunya kalah sama Yudi, biar gemulai gitu juga ada cewek doi." Kata Arif menyalakan sebatang rokok.
" Mungkin cuma kamuflase aja kali Rif, kayanya Yudi sukanya sama Lo dah. Soalnya sering banget waktu briefing dia lirik-lirik Lo."
" Iiiih najis emang gw cowok apaan, mending gw jomblo seumur hidup daripada jadi Gay."
" Eh Rif tapi menurut Lo Mbak Widia itu gimana sih? Kira-kira cocok gak sama gw?"
" Hhhhhmmm, tumben Lo nanya pendapat gw hahahaha. Ya meski umur dia lebih tua kayanya Lo cocok Wan. Mbak Wid udah hampir kepala tiga tapi masih keliatan ABG mukanya. Malah kalau gw bilang dikantor keliatan paling muda doi."
" Sip dah kalau gitu, kali ini pendapat Lo gw terima."

" Tapi Lo serius Wan, atau jangan-jangan cuma...." Kata Arif menatapku.
" Cuma apa Rif?"

" Oooh enggak, gw tau kok track record Lo yang jomblo dari lahir hingga sekarang." Jawab Arif mematikan puntung rokoknya.
" Maksudnya gw cuma main-main gitu Rif?" Kataku sedikit emosi membaca pikiran Arif.
" Ya gitu lah Wan, kalau gw boleh kasih saran sih Lo pikirin mateng-mateng lagi. Gw sih yakin Lo bukan tipe cowok yang cuma main-main dalam sebuah hubungan. Tapi ini karena usia Lo yang terpaut jauh, terlebih Mbak Wid juga janda dengan satu anak apa Lo udah bener-bener siap? Jangan sampai Lo cuma manfaatin untuk kepentingan Lo aja. Gw juga cowok dan gw pribadi sih kalau Mbak Wid deketin gw pasti gak bakal gw tolak tapi yah cuma buat bantu ngilangin kesepian dia aja. Suatu saat juga bakal berakhir, karena mungkin gw cuma liat Mbak Wid dari pesona tubuh dan wajahnya aja. Wan jangan sampai pikiran Lo sama dengan yang gw pikirin."

" Njir, ya gak lah! kalau pikiran mesum Lo pasti juga sama Rif. Tapi ini lebih dari sekedar itu, gw pengen bener-bener sama dia kalau emang dia mau sama gw."
" Nah kalau emang Lo serius, ya lanjut lah yang penting dia mau dulu sama Lo, hahahaha." Jawab Arif kembali menyalakan rokok.

" Lho kalian belum pulang?" Kata mbak Widia tiba di tempat parkir.
" Oh belum Mbak, ngasep dulu biar gak stress." Jawab Arif.
" Jangan banyak-banyak ngrokok kamu Rif, kasihan paru-parumu nanti sakit. Oh iya Wan nanti malem Minggu jadi ya, kamu ke rumah abis isya aja." Kata Mbak Widia melanjutkan langkahnya menuju mobil.
" Siap mbak, hati-hati Mbak." Kataku dengan perasaan lega.

Mobil Mbak Widia meninggalkan area kantor yang mulai sepi karena berakhirnya aktivitas kerja.


" Napa senyum-senyum? Wah Lo mau nembak doi malem Minggu?" Kata Arif mengusapkan tangannya di wajahku.
" Njir, Lo tadi di kantin makan apa sih Rif tangan Lo kaya bau terasi?"
" Pecel ayam, hehehe ya masa makan pecel ayam tangan gw bau duren."
" Jorok Lo, makan sih makan tapi cuci tangan lah yang bersih Napa."
" Ya maksudnya buat makan malem Wan, kalau di rumah cuma ada nasi kan paling nggak bau pecel ayamnya masih berasa pas gw makan malam."
" Gak lucu Rif, yang ada tangan Lo dikrikitin tikus pas tidur, hahahaha."

" Eh, iya kan malem Minggu Lo mau jadian kan? Traktir lah Senin."
" Yaelah kaya anak kecil aja pakai PJ segala. Baru mau jalan main jadian aja. Tar lah kalau mang bener jadian gw traktir Lo makan."
" Asyiikkk, kalau gitu gw doain dah biar cepet."
" Yaaah doain gw, mang doa Lo manjur?"
" Waaaah ngecilin dia, tapi iya sih kadang manjur tapi banyakan enggaknya."

" Eh Rif Lo mau gak doa Lo di kabulin, semua doa Lo. Dari yang baik sampai doa yang jelek?"
" Wah pasti ngarah ke hal yang gak bener nih?"
" Serius Rif, mau gak?"
" Ya mau sih, tapi perasaan gw kok gak enak ya? Gimana caranya Wan?"

" Gini Rif, kalau doa Lo mau di kabulin, Lo gw ajak ke tempat yang angker, yang mistis, nah disana Lo gw gebukin, duit Lo gw ambil terus Lo gw tinggalin sendiri dalam keadaan babak-belur. Disaat itu Lo berdoa sambil nangis-nangis pasti doa Lo dikabulin. Soalnya doa orang yang teraniaya pasti paling di duluin masuk draftnya di meja Tuhan."
" Naaah ya kan pasti ujung-ujungnya gak bener, kalau begono boleh Wan di coba tapi tar gw doain Lo menderita tujuh tikungan eh turunan."
" Wah salah gw ngasih saran Lo malah mau doain gw menderita. Yaudah balik yuk keburu ujan." Kataku menutup pembicaraan dan akhirnya kami kembali pulang meninggalkan gedung kantor yang semakin sunyi.


Tiba di rumah tampak seorang perempuan duduk bersama Indri di teras tempat kos.

" Nilla? Kenapa akhir-akhir ini sering kemari?" Batinku memarkirkan motor.

" Assalamualaikum." Kataku menyapa kedua gadis itu.
" Walaukumsalam." Jawab mereka bersamaan.
" Eh Nilla, udah lama Nil?" Kataku.
" Belum Mas, baru aja dateng abis dari mushola tadi mampir dulu." Jawab Nilla.
" Masyaallah udah setengah 7 ya, yaudah gw tinggal solat dulu ya." Kataku masuk meninggalkan Indri dan Nilla.

Selesai sholat dan mandi aku kembali keluar menemui mereka.

" Ngobrolnya gak di dalem aja Ndri?" Kataku duduk bergabung dengan mereka.
" Aah disini aja Mas, di dalem panas kayanya mau ujan, eh Mas, Mbak Nilla, Indri tinggal ke dalem dulu ya!" Jawab Indri masuk.

Tinggal aku dan Nilla di teras, menyebabkan keheningan sejenak.

" Eh Nill gimana kuliahnya?" Kataku mencoba membuka obrolan.
" Alhamdulillah lancar Mas, meskipun gak pinter-pinter banget." Jawab Nilla.
" Ah sekarang ma pinter gak penting yang penting rajin. Eh kok Lo ambil jurusan pendidikan sih emang mau jadi guru?"
" Iya Mas, soalnya kayanya tenaga guru masih banyak di butuhin di negeri ini. Terlebih dari SMA aku udah sering ajar les anak-anak, mungkin awalnya dari situ.
" Wah kalau gurunya kamu tar gw jadi anak sekolah lagi dah, hehehehe."
" Iiih mana ada anak sekolah mukanya kaya mas Awan yang ada tar di kelas paling tua, hahahaha. Oh iya Mas jam segini baru pulang kerja?"
" Sebenernya pulang jam lima tadi, tapi ngobrol dulu sama temen-temen kantor jadi agak telat."
" Enak yah kalau udah kerja gak mikirin tugas-tugas numpuk."
" Aaah sama aja kali, justru tugas makin banyak kalau udah kerja. Makanya pas sekolah atau kuliah dikasih tugas-tugas buat belajar, jadi pas masuk dunia kerja udah terbiasa."
" Iya sih mas, tapi kadang banyak banget hampir tiap mata kuliah ada tugas rumah, kalau ada 10 mata kuliah berarti kan sepuluh tugas."
" Ya kerjain aja lah, ntar kalau kamu jadi guru kan gantian kamu yang kasih tugas, ya kan?"
" Iya Mas."

Trrrrrr.... Trrrrrr.... Trrrrrr.....
Telepon Nilla berdering.

" Hallo, assalamualaikum Bu..." Kata Nilla menjawab telepon.
...............
" Lagi di tempat Indri Bu, ada apa?"
...............
" Oooh yaudah Nilla pulang ya."
..............
" Walaikumsallam." Kata Nilla menutup telepon.

" Mas, aku pulang dulu ya, tadi Ibu telepon katanya ada tamu gitu." Kata Nilla beranjak dari duduknya.
" Oooh iya yaudah, salam buat bapak dan ibu kamu."

" Lho mau kemana Mbak?" Kata Indri keluar dari kosan.
" Aku pulang dulu Ndri, tar lain waktu kemari lagi deh." Jawab Nilla.
" Oooh iya Mbak."

" Assalamualaikum."
" Walaikumsallam." Jawab ku dan Indri bersamaan.

" Kamu dari mana sih orang pulang baru keluar?" Kataku masuk ke dalam kos diikuti Indri.
" Indri gak kemana-mana kok Mas, dari tadi di kosan." Jawab Indri membuatku jengkel.
" Wah makin ngeselin aja nih kalau ditanya, maksudnya kenapa ninggalin aku sama Nilla di teras, dedeeeeeee." Kataku memencet hidung adikku.
" Iiiiiiihhhhhhhhhhhh, kan Mas juga gitu kalau di tanya sering bikin jengkel jawabnya. Hehehehe. Emang enak!"
" Waaaah minta di pencet lagi idungnya nih anak." Kataku bersiap mendaratkan tanganku dihidungnya namun kali ini Indri berhasil menghindar.
" Iya, enggak enggak ampun Mas, ehhhmmm tadi Indri sengaja tinggal Mas Awan sama Mbak Nilla biar ngobrol berdua gitu. Siapa tau ada hal pribadi yang mau di omongin gitu?"
" Wah bener-bener nih anak, bukannya ikutan ngobrol malah kabur. Ya Tuhan taruh dimana ya? Mana penting lagi." Kataku berdiri membuka lemari mencari sesuatu. Aku mencari di sela-sela baju, membuka laci, mengangkat buku-buku di meja komputer, merogoh isi tas. Tampak kepanikan melandaku.

" Nyari apaan sih Mas?" Kata Indri bingung masih duduk di tepi springbed.
" Coba berdiri Ndri apa di bawah kasur ya?" Kataku meminta Indri berdiri, lalu mencarinya di bawah springbed. Membalik bantal dan guling namun tidak menemukannya juga.

" Nyari apaan sih mas? Kayanya penting banget." Kata Indri semakin bingung.
" Kamu gak liat Ndri, aduuuuh bantuin dong!"
" Iiiihhhh bantuin gimana sih mas Indri aja gak tau mas nyari apaan." Kata indri dengan ekspresi kesal.

" Apa diluar ya? Yaudah bantuin Mas nyari diluar Ndri!" Kataku menarik tangan Indri.
" Yaampun mas nyari apa sih sebenernya? di tanya malah bikin bingung!" Kata Indri melepaskan tarikan tanganku.

" Hmmmm nyari makan malem, laper nih perutku. Mau bantu nyari nggak?" Kataku membuka pintu kosan.

Indri pun mengikuti di belakangku, hanya terdiam sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Wajahnya menunduk nampak menyembunyikan kekesalan yang ditahan.

" Hehehehehe satu sama." Kataku memulai suapan pertama makan di malam yang mungkin sebentar lagi hujan akan turun.
g.gowang
g.gowang memberi reputasi
1
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.