- Beranda
- Stories from the Heart
Diary 2 Dunia
...
TS
agusk1988
Diary 2 Dunia

Terima kasih mas AWAYAYE untuk cover keren nya.
Ilustrasi Ronggo Geni

Ilustrasi Dewi Puspa Kenanga

Halo agan/aganwati kaskuser sekalian. Halo juga untuk para momod sekalian. Gue adalah silent reader yang udah lama melintang di forum kaskus. Terkhusus untuk sub forum stories from the heart. Kali ini perkenankan gue untuk menceritakan sebuab kisah klasik tentang perjalanan anak manusia yang berawal mula beberapa tahun lalu.
Jika kalian bertanya ini real atau fiksi.? gue kembali kan ke pribadi para reader sekalian. Daripada pada nanti para reader sekalian kepo, anggap saja cerita ini fiksi
Tapi terlepas dari itu semua,, percaya lah bahwa " mereka", beserta " dunia mereka" itu ada. Jadi hormati lah " mereka" seperti kita menghormati sesama kita. Karena pada dasarnya " mereka" sama seperti kita. Ada baik, jahat beserta segala hal yang tak bisa di jelaskan secara logika.
Dan yang terakhir, harap patuhi rule yang berlaku di sub forum ini. Karena menghormati orang lain itu secara tidak langsung membuat kita juga akan di hormat i.
Silahkan di nikmati
Quote:
Spoiler for ILUSTRASI:
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 165 suara
Menurut Kalian Bagaimana Seharusnya Thread Ini Berjalan Ke Depannya
Tetep seperti sudah sudah mas, penuh dengan pesan kehidupan
90%
Tamat in saja mas,, sudah terlalu mainstream seperti Thread lain
9%
No Comment mas, emang situ siapa..?
1%
Diubah oleh agusk1988 18-07-2021 04:03
User telah dihapus dan 26 lainnya memberi reputasi
23
1M
2.9K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
agusk1988
#298
PART 25
Baru saja seperempat perjalanan yang ku lalui untuk sampai dirumah, tiba-tiba saja sebuah bola api melintas melesat terbang di atas kepala ku dan adek ku..
" mas... Kejar... Mas... " perintah adik ku sambil memukul mukul punggung ku dari belakang.
Aku pun memacu motor ku dan menuruti perkataan adek ku untuk mengejar ke arah mana bola api tersebut.. Tak berapa lama, bola api tersebut berhenti dan melayang layang di atas sebuah rumah dua lantai.
"DUARRRRRRRRR "
Bola api tersebut menghantam atap rumah tersebut hingga membuat beberapa genteng nya pecah dan hancur. Sesaat setelah bola api tersebut meledak, terdengar sebuah jeritan yang begitu Cumiikkan telinga, terdengar dari dalam rumah tersebut.
" AHHHHHHHHHHHHHHHH.... H.... H..... "
Aku pun menghentikan laju motor ku dan mematikan mesin nya. Kemudian aku berani kan diri untuk memasuki rumah tersebut.
" mas.... Kaki.... mu... Mas... "teriak adek ku sambil menunjuk ke arah bawah.
ALLAHU AKBAR...
Sebuah makhluk perempuan berbaju putih dengan potongan rambut memanjang, tiba-tiba saja memegang kaki ku hingga membuat ku tercekat.. Karena refleks, aku pun menendang kepala perempuan tadi hingga membuat kepala nya terpisah dari tubuh nya. Kepala tersebut menggelinding ke tengah jalan di penuhi darah segar berceceran.
Kepala perempuan makhluk tadi meski terpisah dari tubuhnya, bola mata nya masih saja bisa menatap ke arah ku tajam. Sesekali dia menyeringai hingga terlihat lah gigi nya yang runcing dan berwarna hitam. Dari mulut nya pun menetes mengeluarkan sesuatu hingga menimbulkan bau anyir yang membuat ku ingin muntah.
Sementara tangan perempuan tadi, masih saja mengenggam kaki ku seperti tak mau melepaskannya. Dia seperti nya tak ingin aku masuk ke dalam rumah tersebut. Karena jengkel, aku pun menendang tubuh perempuan tadi hingga membuat nya tersungkur ke samping menyentuh tanah. Tangan yang mencengkramku tadi, masih saja memegang kaki ku meski sudah terpisah dari badannya. Aku pun melepaskan lengan yang masih menempel di kakiku dan melemparkan nya ke tengah jalan tepat di samping kepala dari makhluk tadi berada.
HIHIHI.... HIHIHI... HIHIHI..
Makhluk itu pun tertawa karena telah berhasil mengerjai ku.
" bakar saja mas " ucap adik ku melihat makhluk tadi mempermainkan ku.
Aku pun membaca ayat kursi dan di lanjut dengan doa qulqu geni untuk membakar makhluk usil tadi.
SETTTTTT....
Makhluk tadi pun menghilang beserta kepala dan tangan yang telah terpisah dari tubuh nya. Aku pun segera membuka gembok pagar rumah tersebut dengan paksa dan mendorong motor ku masuk ke dalam.
Baru saja aku melewati pagar rumah tersebut, kini terpampang jelas di sekeliling ku makhluk tak kasat mata yang menatap tajam ke arah ku dan adek ku datang.
" dek, baca ayat kursi serta doa qulqu geni. Benteng i juga dengan ajian yang sudah di ajar kan bapak " perintah ku kepada adek ku karena makhluk disini sepertinya tak suka dengan kedatangan kami.
Adek ku pun menuruti permintaan ku dan merapalkan doa dan ayat yang seperti ku sebutkan tadi. Aneh memang melihat para makluk tersebut ada disini. Karena tempo hari waktu aku kesini, aku sama sekali tidak merasakan keberadaan makhluk makhluk tersebut. Seperti ada yang sengaja mengumpulkan mereka di tempat ini.
Aku pun terus mendorong motor ku sampe garasi rumah tersebut.
Makhluk makhluk tadi masih saja asyik melotot ke arah ku tanpa sekali pun berani mendekati ku.
" mas.... Awas..... " pekik adek ku sembari menendang sesuatu yang ntah gak tau itu apa.
BUGHHHHHHHH.. ARGHHHHHH...
Sebuah bunyi benturan disertai lenguhan, samar samar terdengar di telinga ku.
" kenapa dek teriak " tanya ku penasaran.
" itu mas lihat " jawab adek ku sambil menunjuk pot besar yang ada di halaman.
Sesosok makhluk besar berbulu hitam lebat dengan bola mata berwarna merah menyala, sedang mengerang kesakitan di sertai desis an yang sesekali keluar dari mulut nya. adek ku ini meski masih kelas 6 sd, dia sama seperti ku. Cuma karena dia belum akil baligh, ilmu nya belum sempurna. Maklum waktu itu masih takut di sunat dia nya.
Aneh kan, menghadapi makhluk begini adem ayem saja. Tapi begitu mendengar kata sunat, bisa ndak pulang dia karena ketakutan. Pernah sekali waktu adek ku tidur di rumah bu lek(tante) ku karena bapak ku ngomong dia akan di sunat kalo naik kelas 6 sd.
" gimana ini dek. " tanya ku ke adek ku yang masih bersiaga.
" minta bantuan bapak, pak dhe atau pak lek saja mas " saran adek ku.
Aku pun mengangguk dan segera melakukan kontak batin dengan keluarga besar ku. Sial aku gak bisa menghubungi mereka. Seperti ada sebuah kekuatan gaib besar yang menghalangi panggilan ku.
" gak bisa dek. Di halang halangi " ucap ku sedikit kesal.
" ya udah mas, aku dari rumah tadi bawa khodam juga koq " balas adek ku santai.
Karena makhluk tadi tidak lagi menyerang kami berdua, aku pun mengetuk pintu rumah tersebut.
" tok tok tok assalamualaikum " ritual wajib bertamu gan.
" walaikumsalam " jawab seseorang dari dalam rumah dan buru buru membuka kan pintu untuk kami.
" eh gus, koq bisa Ada disini " tanya seseorang membuka kan pintu yang ternyata mbak dina.
Rumah yang sangat famili ar saat aku mengejar bola api tadi adalah rumahnya pak Ryan. Sodara pak Andy.
" iya mbak tadi...... "
" AHHHHHHHHHHHHHHHH.. HHHH....
belum saja aku selesai ngomong, suara teriakan yang tadi sempat ku dengar, kini terdengar lagi di telinga ku.
"siapa mbak yang teriak teriak malam malam gini " tanya ku penasaran.
" mama gus, entah kenapa tadi tiba tiba beliau teriak teriak gak jelas gitu " jawab mbak dina.
" tadi ada suara ledakan kan di atas rumah mbak dina "tanya ku lagi memastikan.
" lho koq lu tau gus. Tepat sesaat setelah ledakan tersebut terdengar, mama ku teriak teriak gak jelas gitu. Kadang dia juga menangis gitu tanpa gw tau ap sebab nya " jawab mbak dina.
" ya udah mbak ayo masuk ke dalam rumah dulu " ajak ku ke mbak dina. (kurang ajar gak gan. Yang punya rumah siapa, yang mempersilahkan masuk siapa)
Aku mengajak masuk mbak dina karena melihat makhluk makhluk di luar tadi semakin menatap kami penuh dengan kebencian begitu mbak dina keluar. Karena tak ingin terjadi apa-apa dengan nya, aku pun mengajaknya masuk ke dalam rumah.
" eh tunggu, anak kecil ini siapa " tanya mbak dina menahan langkah ku.
" oh ini riyo adek ku " jawab ku singkat.
Mbak dina pun mempersilahkan kami masuk untuk melihat keadaan mama nya..
Tampak di ruang tamu, Mas Danu dan Pak Ryan menahan tubuh Bu Ayu yang meronta ronta. Beberapa ucapan kasar pun di lontar kan Bu Ayu karena dia di perlakukan seperti itu. Tentu saja Bu Ayu dalam keadaan tidak sadar mengucapkan nya.
" ada yang ngirim ini mas " seloroh adek ku dengan polos nya setelah melihat bu Ayu dari dekat.
Mas Danu dan Pak Ryan pun kaget karena tiba-tiba ada suara dari belakang. Mereka pun menoleh ke arah sumber suara.
" lho nak agus, koq bisa ada disini " tanya pak ryan setelah melihat kehadiran ku.
" iya pak, tadi habis dari rumah pak Andy buat ngajar ngaji reni " jawab ku sambil mendekati tubuh bu Ayu.
" eh lu pacaran sama sepupu gw reni ya gus " tanya mas danu kepada ku.
Sebuah pertanyaan yang di lontar kan di waktu tak tepat tentu nya jikalau melihat keadaan bu Ayu.
PLETAKKKKK...
Sebelah sandal mbak dina melayang tepat mengenai kepala mas danu. Mas danu hanya mengaduh dan menggosok gosok kepala nya yang terkena sendal tadi.
" jangan bercanda mas di saat seperti ini " ucap mbak dina kesal.
Mas danu pun hanya diam saja. Tak berani membantah argumen dari adek nya.
" Oia nak, maksud kiriman tadi apaan ya " tanya Pak Ryan yang seperti nya mendengar celotehan adek ku.
" ini pak. Ada orang yang tidak suka dengan keluarga bapak. Dan mereka mencelakai anggota keluarga bapak dengan cara gaib " jawab ku sembari mengambil gelas di dapur dan segera ku isi dengan air putih.
" astagfirullah nak. Siapa kah mereka gerangan. Selama ini kayak nya Bapak nggak punya musuh " jawab pak ryan membela diri.
" ya saya ngga tau. Mungkin bapak pikir bapak nggak punya musuh. Tapi penilaian mereka ke bapak kan kita juga gak tau " balas ku mematahkan argumen pak ryan.
Pak Ryan pun hanya diam saja mendengar omongan ku.
" mbak, kasih minum mama nya " aku pun menyerahkan segelas air putih yang telah ku baca kan ayat suci untuk di minum bu ayu.
" Huekkkkkkkkkkk....... "
Pecahan beling dan silet tiba-tiba saja di muntah kan Bu Ayu sepersekian detik setelah beliau meminum air yang ku berikan. Mbak Dina dan Pak Ryan pun tercekat kaget melihat apa yang terjadi dengan bu Ayu.
" Huekkkkkkkkkkk... "
Lagi lagi bu Ayu memuntahkan sesuatu dari dalam mulut nya. Nampak kini beberapa hewan melata seperti kelabang, kala jengking, kaki seribu keluar dari perut bu Ayu. Aku pun lantas pergi ke dapur untuk mencari sebuah baskom agar dapat ku pake untuk menampung benda benda serta hewan yang keluar dari perut bu Ayu.
Setelah menemukan baskom yang ku cari, aku pun memasukkan semua benda tadi dan langsung membakar nya. Saat ku bakar, benda benda tadi bukan nya menjadi debu, tapi malah hilang tak berbekas. Nampak baskom tersebut kini hanya sebuah wadah kosong.
" mas, ada yang gak suka barang kiriman nya sampean bakar " ucap adek ku memperingatkan ku untuk waspada.
" kamu panggil khodam mu buat jaga jaga, biar aku sembuhin ibu ini " balas ku ke adek ku.
Adek ku pun menurut i saran ku dan memanggil khodam yang sudah di berikan untuk nya.
Nampak lah kini seorang gadis cantik dengan atribut kerajaan kuno berdiri di samping adek ku. Sempak kenapa dapat khodam wanita, sementara Aku . Dapet khodam dari jenis api. Sangar lagi di bentuk nya.
" Dewi Puspa Arum (samaran) " ucap jin tersebut memperkenalkan diri sambil tersenyum ke arah ku.
Aku pun membalas senyuman dari nya tanpa membalas perkenalan nya. Tentu nya dia sudah tau siapa aku ini.
Setelah jin penjaga adek ku muncul, aku pun bisa memfokuskan diri untuk menyembuhkan Bu ayu. Aku memegang kening bu Ayu, merapalkan sesuatu dan lantas meniup kening beliau. Beliau yang tadi nya meronta ronta dan teriak teriak gak jelas pun kini pingsan terkulai lemas di atas karpet ruang tamu rumah nya. Pak ryan pun langsung panik melihat istrinya tiba-tiba pingsan.
" ibu ayu sekarang sudah gpp pak. Tolong sekarang di bawa ke kamarnya saja. Biar beliau bisa istirahat " pintaku ke Pak Ryan.
Pak Ryan pun menuruti permintaan ku. Dengan di bantu mas Danu, beliau menggotong tubuh bu Ayu untuk segera dibawa menuju kamar nya. Aku pun kini bersiap siap menghadapi makhluk tak kasat mata yang ada di luar tadi. Ntah sejak kapan mereka masuk ke dalam rumah ini.
" KURANG AJAR KAU ANAK MANUSIA,. BERANI BERANI KAU MENCAMPURI URUSAN KU " ucap salah satu dari makhluk tersebut dengan raut wajah yang amat sangat mengerikan.
" aku akan selalu ikut campur selama golongan mu menyakiti golongan ku yang beriman " balas ku ke makhluk tadi.
" HAHAHA AH.... HAHAHAH... HAHAHAHH... KAU YANG MASIH INGUSAN BISA APA HAI ANAK MANUSIA " balas makhluk tadi sambil tertawa dan ikuti tawa oleh makhluk lain lain nya.
" aku memang masih ingusan. Tapi setidaknya aku masih punya Allah SWT untuk tempat ku berserah dan memohon perlindungan " ucap ku dengan lantang.
" ARGHHHHHH.... Jangan kau sebut nama itu wahai anak manusia " makhluk tersebut pun makin marah dan bersiap menyerang ku.
" RONGGO GENI hadir " panggil ku ke jin penjaga ku.
" RONGGO GENI hadir mas agus " balas RONGGO geni seraya berlutut di hadapan ku.
" jangan kau berlutut di hadapan ku Ronggo Geni. Aki ini juga makhluk ciptaan Nya sama seperti mu " hardik ku keras.
" maaf mas. Sudah tugas saya untuk menjaga serta mematuhi perintah mas agus " balas Ronggo Geni sambil masih tetap berlutut.
" baik. Kalo begitu kau pun harus menuruti permintaan ku. Berdiri lah sekarang " perintah ku.
Ronggo Geni pun lantas berdiri seperti apa yang aku perintah kan. Sementara itu, Dewi Puspa Arum hanya tersenyum melihat percakapan kami berdua.
" mas awas.. " teriak adek ku keras.
BUGHHHHHHHHHHH.......
Sebuah pukulan tiba-tiba saja menghantam tubuh ku hingga membuat tubuh ku terlempar ke belakang dan membentur dinding rumah pak Ryan...
Arghh.... Cuihhhh...
Darah segar pun keluar dari mulut ku...
Baru saja seperempat perjalanan yang ku lalui untuk sampai dirumah, tiba-tiba saja sebuah bola api melintas melesat terbang di atas kepala ku dan adek ku..
" mas... Kejar... Mas... " perintah adik ku sambil memukul mukul punggung ku dari belakang.
Aku pun memacu motor ku dan menuruti perkataan adek ku untuk mengejar ke arah mana bola api tersebut.. Tak berapa lama, bola api tersebut berhenti dan melayang layang di atas sebuah rumah dua lantai.
"DUARRRRRRRRR "
Bola api tersebut menghantam atap rumah tersebut hingga membuat beberapa genteng nya pecah dan hancur. Sesaat setelah bola api tersebut meledak, terdengar sebuah jeritan yang begitu Cumiikkan telinga, terdengar dari dalam rumah tersebut.
" AHHHHHHHHHHHHHHHH.... H.... H..... "
Aku pun menghentikan laju motor ku dan mematikan mesin nya. Kemudian aku berani kan diri untuk memasuki rumah tersebut.
" mas.... Kaki.... mu... Mas... "teriak adek ku sambil menunjuk ke arah bawah.
ALLAHU AKBAR...
Sebuah makhluk perempuan berbaju putih dengan potongan rambut memanjang, tiba-tiba saja memegang kaki ku hingga membuat ku tercekat.. Karena refleks, aku pun menendang kepala perempuan tadi hingga membuat kepala nya terpisah dari tubuh nya. Kepala tersebut menggelinding ke tengah jalan di penuhi darah segar berceceran.
Kepala perempuan makhluk tadi meski terpisah dari tubuhnya, bola mata nya masih saja bisa menatap ke arah ku tajam. Sesekali dia menyeringai hingga terlihat lah gigi nya yang runcing dan berwarna hitam. Dari mulut nya pun menetes mengeluarkan sesuatu hingga menimbulkan bau anyir yang membuat ku ingin muntah.
Sementara tangan perempuan tadi, masih saja mengenggam kaki ku seperti tak mau melepaskannya. Dia seperti nya tak ingin aku masuk ke dalam rumah tersebut. Karena jengkel, aku pun menendang tubuh perempuan tadi hingga membuat nya tersungkur ke samping menyentuh tanah. Tangan yang mencengkramku tadi, masih saja memegang kaki ku meski sudah terpisah dari badannya. Aku pun melepaskan lengan yang masih menempel di kakiku dan melemparkan nya ke tengah jalan tepat di samping kepala dari makhluk tadi berada.
HIHIHI.... HIHIHI... HIHIHI..
Makhluk itu pun tertawa karena telah berhasil mengerjai ku.
" bakar saja mas " ucap adik ku melihat makhluk tadi mempermainkan ku.
Aku pun membaca ayat kursi dan di lanjut dengan doa qulqu geni untuk membakar makhluk usil tadi.
SETTTTTT....
Makhluk tadi pun menghilang beserta kepala dan tangan yang telah terpisah dari tubuh nya. Aku pun segera membuka gembok pagar rumah tersebut dengan paksa dan mendorong motor ku masuk ke dalam.
Baru saja aku melewati pagar rumah tersebut, kini terpampang jelas di sekeliling ku makhluk tak kasat mata yang menatap tajam ke arah ku dan adek ku datang.
" dek, baca ayat kursi serta doa qulqu geni. Benteng i juga dengan ajian yang sudah di ajar kan bapak " perintah ku kepada adek ku karena makhluk disini sepertinya tak suka dengan kedatangan kami.
Adek ku pun menuruti permintaan ku dan merapalkan doa dan ayat yang seperti ku sebutkan tadi. Aneh memang melihat para makluk tersebut ada disini. Karena tempo hari waktu aku kesini, aku sama sekali tidak merasakan keberadaan makhluk makhluk tersebut. Seperti ada yang sengaja mengumpulkan mereka di tempat ini.
Aku pun terus mendorong motor ku sampe garasi rumah tersebut.
Makhluk makhluk tadi masih saja asyik melotot ke arah ku tanpa sekali pun berani mendekati ku.
" mas.... Awas..... " pekik adek ku sembari menendang sesuatu yang ntah gak tau itu apa.
BUGHHHHHHHH.. ARGHHHHHH...
Sebuah bunyi benturan disertai lenguhan, samar samar terdengar di telinga ku.
" kenapa dek teriak " tanya ku penasaran.
" itu mas lihat " jawab adek ku sambil menunjuk pot besar yang ada di halaman.
Sesosok makhluk besar berbulu hitam lebat dengan bola mata berwarna merah menyala, sedang mengerang kesakitan di sertai desis an yang sesekali keluar dari mulut nya. adek ku ini meski masih kelas 6 sd, dia sama seperti ku. Cuma karena dia belum akil baligh, ilmu nya belum sempurna. Maklum waktu itu masih takut di sunat dia nya.
Aneh kan, menghadapi makhluk begini adem ayem saja. Tapi begitu mendengar kata sunat, bisa ndak pulang dia karena ketakutan. Pernah sekali waktu adek ku tidur di rumah bu lek(tante) ku karena bapak ku ngomong dia akan di sunat kalo naik kelas 6 sd.
" gimana ini dek. " tanya ku ke adek ku yang masih bersiaga.
" minta bantuan bapak, pak dhe atau pak lek saja mas " saran adek ku.
Aku pun mengangguk dan segera melakukan kontak batin dengan keluarga besar ku. Sial aku gak bisa menghubungi mereka. Seperti ada sebuah kekuatan gaib besar yang menghalangi panggilan ku.
" gak bisa dek. Di halang halangi " ucap ku sedikit kesal.
" ya udah mas, aku dari rumah tadi bawa khodam juga koq " balas adek ku santai.
Karena makhluk tadi tidak lagi menyerang kami berdua, aku pun mengetuk pintu rumah tersebut.
" tok tok tok assalamualaikum " ritual wajib bertamu gan.
" walaikumsalam " jawab seseorang dari dalam rumah dan buru buru membuka kan pintu untuk kami.
" eh gus, koq bisa Ada disini " tanya seseorang membuka kan pintu yang ternyata mbak dina.
Rumah yang sangat famili ar saat aku mengejar bola api tadi adalah rumahnya pak Ryan. Sodara pak Andy.
" iya mbak tadi...... "
" AHHHHHHHHHHHHHHHH.. HHHH....
belum saja aku selesai ngomong, suara teriakan yang tadi sempat ku dengar, kini terdengar lagi di telinga ku.
"siapa mbak yang teriak teriak malam malam gini " tanya ku penasaran.
" mama gus, entah kenapa tadi tiba tiba beliau teriak teriak gak jelas gitu " jawab mbak dina.
" tadi ada suara ledakan kan di atas rumah mbak dina "tanya ku lagi memastikan.
" lho koq lu tau gus. Tepat sesaat setelah ledakan tersebut terdengar, mama ku teriak teriak gak jelas gitu. Kadang dia juga menangis gitu tanpa gw tau ap sebab nya " jawab mbak dina.
" ya udah mbak ayo masuk ke dalam rumah dulu " ajak ku ke mbak dina. (kurang ajar gak gan. Yang punya rumah siapa, yang mempersilahkan masuk siapa)
Aku mengajak masuk mbak dina karena melihat makhluk makhluk di luar tadi semakin menatap kami penuh dengan kebencian begitu mbak dina keluar. Karena tak ingin terjadi apa-apa dengan nya, aku pun mengajaknya masuk ke dalam rumah.
" eh tunggu, anak kecil ini siapa " tanya mbak dina menahan langkah ku.
" oh ini riyo adek ku " jawab ku singkat.
Mbak dina pun mempersilahkan kami masuk untuk melihat keadaan mama nya..
Tampak di ruang tamu, Mas Danu dan Pak Ryan menahan tubuh Bu Ayu yang meronta ronta. Beberapa ucapan kasar pun di lontar kan Bu Ayu karena dia di perlakukan seperti itu. Tentu saja Bu Ayu dalam keadaan tidak sadar mengucapkan nya.
" ada yang ngirim ini mas " seloroh adek ku dengan polos nya setelah melihat bu Ayu dari dekat.
Mas Danu dan Pak Ryan pun kaget karena tiba-tiba ada suara dari belakang. Mereka pun menoleh ke arah sumber suara.
" lho nak agus, koq bisa ada disini " tanya pak ryan setelah melihat kehadiran ku.
" iya pak, tadi habis dari rumah pak Andy buat ngajar ngaji reni " jawab ku sambil mendekati tubuh bu Ayu.
" eh lu pacaran sama sepupu gw reni ya gus " tanya mas danu kepada ku.
Sebuah pertanyaan yang di lontar kan di waktu tak tepat tentu nya jikalau melihat keadaan bu Ayu.
PLETAKKKKK...
Sebelah sandal mbak dina melayang tepat mengenai kepala mas danu. Mas danu hanya mengaduh dan menggosok gosok kepala nya yang terkena sendal tadi.
" jangan bercanda mas di saat seperti ini " ucap mbak dina kesal.
Mas danu pun hanya diam saja. Tak berani membantah argumen dari adek nya.
" Oia nak, maksud kiriman tadi apaan ya " tanya Pak Ryan yang seperti nya mendengar celotehan adek ku.
" ini pak. Ada orang yang tidak suka dengan keluarga bapak. Dan mereka mencelakai anggota keluarga bapak dengan cara gaib " jawab ku sembari mengambil gelas di dapur dan segera ku isi dengan air putih.
" astagfirullah nak. Siapa kah mereka gerangan. Selama ini kayak nya Bapak nggak punya musuh " jawab pak ryan membela diri.
" ya saya ngga tau. Mungkin bapak pikir bapak nggak punya musuh. Tapi penilaian mereka ke bapak kan kita juga gak tau " balas ku mematahkan argumen pak ryan.
Pak Ryan pun hanya diam saja mendengar omongan ku.
" mbak, kasih minum mama nya " aku pun menyerahkan segelas air putih yang telah ku baca kan ayat suci untuk di minum bu ayu.
" Huekkkkkkkkkkk....... "
Pecahan beling dan silet tiba-tiba saja di muntah kan Bu Ayu sepersekian detik setelah beliau meminum air yang ku berikan. Mbak Dina dan Pak Ryan pun tercekat kaget melihat apa yang terjadi dengan bu Ayu.
" Huekkkkkkkkkkk... "
Lagi lagi bu Ayu memuntahkan sesuatu dari dalam mulut nya. Nampak kini beberapa hewan melata seperti kelabang, kala jengking, kaki seribu keluar dari perut bu Ayu. Aku pun lantas pergi ke dapur untuk mencari sebuah baskom agar dapat ku pake untuk menampung benda benda serta hewan yang keluar dari perut bu Ayu.
Setelah menemukan baskom yang ku cari, aku pun memasukkan semua benda tadi dan langsung membakar nya. Saat ku bakar, benda benda tadi bukan nya menjadi debu, tapi malah hilang tak berbekas. Nampak baskom tersebut kini hanya sebuah wadah kosong.
" mas, ada yang gak suka barang kiriman nya sampean bakar " ucap adek ku memperingatkan ku untuk waspada.
" kamu panggil khodam mu buat jaga jaga, biar aku sembuhin ibu ini " balas ku ke adek ku.
Adek ku pun menurut i saran ku dan memanggil khodam yang sudah di berikan untuk nya.
Nampak lah kini seorang gadis cantik dengan atribut kerajaan kuno berdiri di samping adek ku. Sempak kenapa dapat khodam wanita, sementara Aku . Dapet khodam dari jenis api. Sangar lagi di bentuk nya.
" Dewi Puspa Arum (samaran) " ucap jin tersebut memperkenalkan diri sambil tersenyum ke arah ku.
Aku pun membalas senyuman dari nya tanpa membalas perkenalan nya. Tentu nya dia sudah tau siapa aku ini.
Setelah jin penjaga adek ku muncul, aku pun bisa memfokuskan diri untuk menyembuhkan Bu ayu. Aku memegang kening bu Ayu, merapalkan sesuatu dan lantas meniup kening beliau. Beliau yang tadi nya meronta ronta dan teriak teriak gak jelas pun kini pingsan terkulai lemas di atas karpet ruang tamu rumah nya. Pak ryan pun langsung panik melihat istrinya tiba-tiba pingsan.
" ibu ayu sekarang sudah gpp pak. Tolong sekarang di bawa ke kamarnya saja. Biar beliau bisa istirahat " pintaku ke Pak Ryan.
Pak Ryan pun menuruti permintaan ku. Dengan di bantu mas Danu, beliau menggotong tubuh bu Ayu untuk segera dibawa menuju kamar nya. Aku pun kini bersiap siap menghadapi makhluk tak kasat mata yang ada di luar tadi. Ntah sejak kapan mereka masuk ke dalam rumah ini.
" KURANG AJAR KAU ANAK MANUSIA,. BERANI BERANI KAU MENCAMPURI URUSAN KU " ucap salah satu dari makhluk tersebut dengan raut wajah yang amat sangat mengerikan.
" aku akan selalu ikut campur selama golongan mu menyakiti golongan ku yang beriman " balas ku ke makhluk tadi.
" HAHAHA AH.... HAHAHAH... HAHAHAHH... KAU YANG MASIH INGUSAN BISA APA HAI ANAK MANUSIA " balas makhluk tadi sambil tertawa dan ikuti tawa oleh makhluk lain lain nya.
" aku memang masih ingusan. Tapi setidaknya aku masih punya Allah SWT untuk tempat ku berserah dan memohon perlindungan " ucap ku dengan lantang.
" ARGHHHHHH.... Jangan kau sebut nama itu wahai anak manusia " makhluk tersebut pun makin marah dan bersiap menyerang ku.
" RONGGO GENI hadir " panggil ku ke jin penjaga ku.
" RONGGO GENI hadir mas agus " balas RONGGO geni seraya berlutut di hadapan ku.
" jangan kau berlutut di hadapan ku Ronggo Geni. Aki ini juga makhluk ciptaan Nya sama seperti mu " hardik ku keras.
" maaf mas. Sudah tugas saya untuk menjaga serta mematuhi perintah mas agus " balas Ronggo Geni sambil masih tetap berlutut.
" baik. Kalo begitu kau pun harus menuruti permintaan ku. Berdiri lah sekarang " perintah ku.
Ronggo Geni pun lantas berdiri seperti apa yang aku perintah kan. Sementara itu, Dewi Puspa Arum hanya tersenyum melihat percakapan kami berdua.
" mas awas.. " teriak adek ku keras.
BUGHHHHHHHHHHH.......
Sebuah pukulan tiba-tiba saja menghantam tubuh ku hingga membuat tubuh ku terlempar ke belakang dan membentur dinding rumah pak Ryan...
Arghh.... Cuihhhh...
Darah segar pun keluar dari mulut ku...
myusuffebria525 dan 14 lainnya memberi reputasi
15


