- Beranda
- Stories from the Heart
Diary 2 Dunia
...
TS
agusk1988
Diary 2 Dunia

Terima kasih mas AWAYAYE untuk cover keren nya.
Ilustrasi Ronggo Geni

Ilustrasi Dewi Puspa Kenanga

Halo agan/aganwati kaskuser sekalian. Halo juga untuk para momod sekalian. Gue adalah silent reader yang udah lama melintang di forum kaskus. Terkhusus untuk sub forum stories from the heart. Kali ini perkenankan gue untuk menceritakan sebuab kisah klasik tentang perjalanan anak manusia yang berawal mula beberapa tahun lalu.
Jika kalian bertanya ini real atau fiksi.? gue kembali kan ke pribadi para reader sekalian. Daripada pada nanti para reader sekalian kepo, anggap saja cerita ini fiksi
Tapi terlepas dari itu semua,, percaya lah bahwa " mereka", beserta " dunia mereka" itu ada. Jadi hormati lah " mereka" seperti kita menghormati sesama kita. Karena pada dasarnya " mereka" sama seperti kita. Ada baik, jahat beserta segala hal yang tak bisa di jelaskan secara logika.
Dan yang terakhir, harap patuhi rule yang berlaku di sub forum ini. Karena menghormati orang lain itu secara tidak langsung membuat kita juga akan di hormat i.
Silahkan di nikmati
Quote:
Spoiler for ILUSTRASI:
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 165 suara
Menurut Kalian Bagaimana Seharusnya Thread Ini Berjalan Ke Depannya
Tetep seperti sudah sudah mas, penuh dengan pesan kehidupan
90%
Tamat in saja mas,, sudah terlalu mainstream seperti Thread lain
9%
No Comment mas, emang situ siapa..?
1%
Diubah oleh agusk1988 18-07-2021 04:03
User telah dihapus dan 26 lainnya memberi reputasi
23
1M
2.9K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
agusk1988
#245
PART 22
Seseorang yang tadi memanggil ku pun kini ikut menyalami ku seperti tamu undangan yang lain.
" wah.. Bapak. Koq bisa disini. Nggak keliling emangnya " sindir ku sambil berbisik di pinggir telinga Pak Adi.
Ya Pak Adhi. Takdir apa yang mempertemukan kami untuk yang ketiga kalinya.. Mungkin cuma kebetulan. Tapi rumah Pak Adi kan jauh letaknya dari rumah Pak Arman. Jadi gak mungkin beliau di undang karena sebagai tetangga.
Mendengar sindiran ku seperti itu, pak Adi pun menarik lengan ku dan mengajak ku ke tempat yang rada sepi dari kerumunan tamu undangan yasinan malam itu.
" sampai sebegitu nya kah nak agus membenci saya hingga setiap kita bertemu selalu ucapan gak enak hati yang anak berikan " balas pak yang seperti nya tak terima dengan sindiran yang ku berikan .
Aku hanya tersenyum getir tanpa membalas perkataan nya.
" tenang nak, Bapak ke sini cuma ingin ikut kirim doa buat keponakan Bapak koq " tanpa di tanya, pak adi pun menjelaskan maksud kedatangan nya kesini.
Hahh.... Keponakan..? Berarti Pak Adi ini saudara dari salah satu orang tua Bang David dong. Tunggu tunggu, apa pak Arman juga lelaku hal yang sama seperti pak Adi untuk memperoleh kekayaan.?
Sebentar sebentar, kamu gak boleh suudzon gus. Meski mereka bersaudara, belum tentu mereka melakukan hal yang sama juga. Kan kamu tau gak ada yang aneh di dalam area rumah pak Arman. Beda halnya nya dengan rumah Pak adi yang di penuhi sesajen serta beberapa penghuni gaib yang tak bersahabat.
" bapak tau yang nak agus pikir kan. Arman mencari uang dengan cara yang halal koq. Dan karena iri dengan adek bapak itulah, bapak membuat perjanjian dengan jin " ucap Pak Adi yang seperti nya bisa membaca isi pikiran ku.
" pak ngilang kemana sih, maen ninggalin kita gitu aja " teriak seorang ibu dengan dandanan baju gamis berjalan ke arah tempat kami berbincang.
Tak berapa lama , seorang gadis dengan dandanan busana muslim, ikut berjalan menghampiri kami.
" lho nak agus. Koq bisa ada di sini " ucap ibu tadi yang ternyata istri nya Pak Adi.
" he he iya bu. Bang David kan teman saya di sekolah. Tadi pulang sekolah dia ngajak saya kesini "
" dan terdampar lah saya saya di rumahnya sampai sekarang " jawab ku mencoba beramah tamah.
" Om, dateng bukannya langsung masuk ke dalam rumah tapi malah asyik ngobrol di sini ". Panggil seseorang dengan suara cewek dan kembali berjalan menghampiri kami.
"lho ngobrol sama kak Agus to. Kok kalian bisa kenal " tanya Stella keheranan melihat ku bersama Pak Adi om nya.
" iya Stell, dulu waktu temen saya lamaran, saya di ajak ke rumah mempelai wanita nya. Karena kebetulan Bapak saya yang di minta i tolong buat nyari hari baik nya. Dan kebetulan Pak Adi lah calon mertua temen saya itu " jawab ku agak bersandiwara namun tak bohong ke Stella.
Tak bohong karena aku mengucapkan hal yang sesungguhnya. Tapi ku anggap sandiwara karena gak mungkin aku menceritakan pertemuan pertama ku dengan pak adi yang sesungguhnya .
" dek, koq dandanan lu malam ini beda banget. Agak tertutup dari biasanya " Kak Cindy pun ikut berbincang dan mengomentari penampilan Stella malam itu.
" iya mbak, soalnya tadi siang gw di marah i dan di ceramah i pak ustadz karena dandan ku yang bgitu terbuka. Jadi gw berdandan seperti inilah sekarang " jawab Stella tersenyum sambil melirik ke arah ku.
Kak Cindy sepertinya tau arti dari lirikan si Stella. Karena saat ini dia juga ikut melirik ke arah ku. Aku pun lantas beringsut dan membuang muka ke arah lain.
Sumpah malem itu aku kagum dengan dandanan Stella. Dia menggunakan busana muslim panjang terusan di padu dengan jilbab berwarna hijau. Ingin rasanya aku memuji penampilan nya malam itu. Akan tetapi karena ada Cindy, aku hanya memuji penampilan dari dalam hati.
Kami pun akhirnya pergi meninggalkan tempat tersebut dan ikut kembali membaur dengan para tamu undangan. Tadi nya aku ingin ikut tamu undangan yang lain yasinan di halaman saja, namun tiba-tiba saja Stella menarik lengan ku agar ikut dia masuk ke dalam rumah menyusul om, tante dan sepupu nya yang lebih dulu masuk.
Aslinya aku agak malu ikut rombongan yasinan yang ada di dalam rumah. Secara disitu banyak kiai kiai kondang yang akan memimpin jalan nya acara malam itu. Aku yang orang asing ini tidak sepantasnya berada di situ.
" Stell ayo ambil wudhu lagi . Batal kan wudhu kita karna tadi kamu pake menarik tangan ku segala " ajak ku ke Stella.
" he he ayo kak " jawab nya cengar cengir sembari berjalan di belakang ku dan ikut pergi ke kamar mandi
Mendekati waktunya, semakin banyak saja tamu undangan yang memadati halaman rumah bapak Arman. Ini orang satu kabupaten apa di undang yak..? Banyak amat tamunya.
Jam 19.30 acara yasinan pun di mulai. Setelah selesai membaca surat Yasin, acara pun di lanjutkan dengan bacaan tahlil. Selepas itu berturut turut di ikuti dengan bacaan shalawat nabi dan di tutup dengan doa. Jam 20.30 seluruh rangkaian acara pun berakhir dan dilanjutkan dengan beramah tamah. Atau bahasa gaulnya.... MANGAN GRATIS... (makan gratis).
Tanpa malu malu, aku pun ikut menyantap sajian malam itu dengan lahap nya. Aku paling anti jaim gan kalo menyangkut makanan.
Stella dan Cindy hanya tersenyum melihat kelakuan ku ini. Mungkin mereka pikir aku ini seperti orang yang tidak pernah makan selama satu minggu.
ALLLAHUMA SALLI ALA MUHAMMAD...
Sebuah bacaan shalawat sebagai tanda berakhirnya seluruh acara malam itu pun di ucap kan oleh kiai pemimpin yasinan. Hal ini lantas membuat para tamu undangan membubarkan diri dan membawa satu buah berkat untuk di bawa pulang ke rumah masing-masing.
Pak Arman dan Pak Adi sebagai pemilik rumah pun berdiri di samping pintu luar untuk menyalami para tamu dan mengucapkan terima kasih atas kehadiran mereka malam itu. Karena udah terbiasa, aku pun ikut beliau beliau ke depan untuk menyalami para tamu juga.
" semoga ilmu mu membawa berkah buat hajat hidup orang banyak nak " ucap seorang sambil tersenyum saat mengenggam tangan ku.
" insya Allah, sekalian minta doa restu nya Pak Kiai " jawab ku membalas senyum dan menyalami beliau sambil mencium punggung tangan nya.
" pasti nak, Bapak akan selalu mendoakan mu " ucap kiai tadi dan kini pergi meninggalkan rumah pak Arman untuk kembali ke rumahnya.
Setelah semua tamu undangan pulang ke rumah masing-masing, kini pun hanya beberapa kerabat yang masih tersisa di rumah Pak Arman. Karena bingung mau ngapain, aku pun membantu ibu ibu untuk membereskan sisa acara malam itu.
" gak usah nak. Biar ibu saja. Nak agus ikut gabung saja dengan para lelaki di ruang tamu " larang bu jasmin ketika tau aku ingin membantu nya.
" gpp koq bu. Lagian aku disini bukan siapa siapa. Aku juga tidak mengenal kerabat pak Arman " jawab ku seraya membawa tumpukan piring ke dapur.
Bu jasmin pun akhirnya membiarkan aku membantu nya karena beliau mengerti apa yang aku ucapkan. Daripada aku berkumpul dengan orang yang asing yang tidak mungkin nanti mereka akan menghina ku karena keadaan ku ( semua kerabat pak Arman orang yang berada) lebih baik aku bantu ibunya bang David karena beliau sedikit banyak telah mengenal ku.
Jam 21. 00 aku selesai membantu ibu jasmin dan bergegas menemui bang David di ruang tamu agar lekas mengantarkan ku pulang seperti janji nya tadi siang. Namun saat berbicara dengan bang David, pak Arman menahan kepulangan ku dan ingin membicarakan sesuatu dengan ku.
" nak maaf sebelum pulang, boleh gak bapak minta sesuatu " tanya Pak Arman yang kini berpindah dari ruang tamu menuju ruang yang tadi di pake sholat maghrib.
Bu jasmin, Stella,, Bang David juga ikut masuk dalam ruangan tersebut.
" boleh saja pak. Kalo saya sanggup, insya Allah saya kabulkan " jawab ku penuh diplomasi.
" anu... Bapak sekeluarga minta tolong buat di ajari membaca Kitab suci Al Qur'an nak " ucap Pak Arman malu malu.
" waduh pak, saya ini juga masih dalam proses belajar. Jadi gak mungkin buat saya mengajari Pak Arman, Bu Jasmin atau Bang David yang notabene umur nya di atas ku "
" tapi untuk Stella mungkin bisa saya ajari karena umurnya masih di bawah saya "
" kalo untuk Pak Arman nanti saya bisa minta tolong ustad di kampung kenalan saya. Atau bpk bisa minta tolong kiai yang memimpin yasinan tadi "
" karena sepertinya beliau orang yang arif " balas ku panjang lebar.
Pak Arman pun mengangguk menerima saran ku. Di ikuti anggukan Bu Jasmin, dan Bang David. Saat aku memandang Stella, dia pun ikut mengangguk di sertai senyum merona di bibirnya.
Ahhhh.... Cantik banget sih kamu dek.
Jam 21.30 Bang David mengantarku pulang ke rumah. Tak lupa sebelumnya aku berpamitan dengan Pak Arman dan kerabat nya yang masih ngumpul di ruang tamu. Tapi tidak terlihat keluarga pak Adi. Ntah kapan mereka pulang ke rumahnya.
Jam 22.00. Aku pun sampe di rumah.
" bang kalo lewat kebun pisang yang tadi kita lewati dan ada hal yang aneh, abaikan saja "
" langsung tarik gas dan pulang ke rumah " pesan ku ke Bang David.
" emang ada apa an gus ".? Tnya bang David penasaran.
" udah ikuti saja saran ku. Kalo tidak lihat saja apa yang terjadi nanti " ucap ku lagi setengah mengancam.
Bang David pun mengangguk dan menyelah motor sport nya kembali...
" oia satu lagi, tolong naek motornya yang sopan bang. Ini kampung dan sudah malam. Takutnya abang digebukin pemuda yang biasa maen remi di pos ronda " ucap ku lagi mengingat kan.
Bang David hanya melambaikan tangan dan langsung menarik tuas gas motor nya untuk menembus gelapnya malam.
Aku pun lalu masuk ke dalam rumah karena ku lihat lampu teras rumah ku udah mati.
" Koq ini tas berat banget ya. Perasaan tadi enteng enteng saja pas di rumah Bang David."
Karena penasaran aku pun langsung membuka tas ku. Dan alhamdulillah, banyak sekali kue kue kering yang di bungkus plastik hitam berada di dlam tas ku. Selain itu ada juga sebuah box yang bentuk nya seperti berkat yang diberikan kepada tamu yang telah hadir di acara yasinan nya Kirana.
Makasih bu jasmin, semoga Allah membalas kebaikan ibu dan untuk Kirana di lapang kan kubur nya.
Karena semua orang rumah sudah tidur, aku pun menaruh kue kue dan makanan tadi di ruang makan dan langsung bergegas pergi tidur setelah sesaat mengambil wudhu dan menunaikan ibadah sholat isya.
Jam 05.00 aku terbangun karena mendengar ibu ku teriak teriak melihat begitu banyak kue berada di meja makan. Aku pun langsung menjelaskan bahwa itu semua pemberian dari Ibu tmen ku.
Jam 06.00 aku telah siap siap berangkat ke sekolah. Aku berlari ke jalan depan untuk menunggu Windy sepupu ku lewat. Maklum karena sepeda ku tertinggal di sekolah, aku pun terpaksa nebeng sepupu ku ini..
" lho mas, ngapain berdiri di sini " tanya sepupu ku keheranan melihat ku pagi2 berdiri di pinggir jalan.
" dek nebeng ya, sepeda ku ketinggalan di sekolah "pinta ku dengan wajah memelas.
" ya udah ayok " jawab sepupu ku.
Baru saja aku mau naik di atas boncengan motor nya ( keluarga sepupu ku secara finansial lebih mapan dari keluarga ku) motor sport Bang David melintas dan berhenti tepat di depan ku.
" gus, gw jemput lu " ucap Bang David sambil melepas helm nya.
" ehh.. Maaf dek. Aku ikut Bang David saja kalo gitu " ujar ku sembari turun dari boncengan motor dek Win.
" ohhh dasar bocah gemblong " sungut Dek win kesal dan memacu motor nya meninggal kan ku dan bang David..
" eh gus, lu kenal sama si Windy " ucap Bang David tiba tiba karena melihat ku yang akrab dengan dek Windy.
" bukan kenal lagi bang, kita udah saling tau luar dalam (waktu kecil sering mandi bareng di kali) " jawab ku disertai teka teki.
" luar dalam.. Ja.. Jadi lu udah "gituan" sama si Windy. " ucap Bang David semakin penasaran .
" gituan dhengkul mu mlengse bang. Ya ialah aku tau luar dalam. Secara kita waktu kecil sering mandi bareng di kali"
" windy itu sepupu aku bang " ucap ku lagi kini tuntas.
" oh, sial lu cuk. Bikin jantung gue deg deg deg an aje " jawab bang David sambil mengelus dada.
" kenapa bang, naksir sama sepupu ku " goda ku ke bang David.
Bukan nya menjawab, Bang David hanya mesam mesem saja dengan pertanyaan ku.
" eh gus, koq omongan lu bisa manjur banget sih ke adek gw " tnya bang David mengalihkan topik pembicaraan.
" manjur gimana bang " aku pun tak mengerti maksud perkataan nya.
" lu tau gus, sejak lu bilang sebaik baiknya wanita adalah mereka yang mampu menjaga aurat nya "...
" semua baju baju adek gw yang terletak seksi di kumpul in dan di masukkan nya ke dalam satu kardus. Saat gw tanya kenapa, eh dia malah jawab. "
" gw ingin diri gw seperti gaun yang berada di etalase butik bang. Bukan seperti baju yang di jajan in pedagang kaki lima pasar "
" begitu gus jawab nya "..
" ya alhamdulillah dong bang kalo gitu. dia akhirnya dapet hidayah dan mau hijrah. "
" abang sendiri kapan mau hijrah. Masak iqamah saja gak bisa. Gimana nanti kalo adzanin anak " ucap ku skak mat ke bang David.
Bang David hanya diam saja mendengar perkataan ku. Sesekali dia mencondongkan dada nya ke depan dan mengambil nafas yang panjang. Aku pun merasa bersalah karena telah berucap seperti itu. Sebuah ucapan yang begitu menohok hati nya.
" udah bang gak usah di pikirin. Aku cuma bercanda koq "
" ayo buruan berangkat ke sekolah. Telat kita nanti ntar " ajak ku agar bang David melupakan ucapan ku tadi.
Bang David pun menyerahkan helm cadangan dan segera ku kenakan ke kepala. Kami pun berangkat sekolah bersama.
Jam 06.45 kami sampai di sekolah, nampak kini mata para siswa melihat ke arah Bang David ketika baru datang. Aku yakin mereka pada heran. Kenapa aku yang notabene kelas 1,bisa datang boncengan dengan bang David yang sudah kelas 3.
Setelah mengucapkan terima kasih ke bang David karena telah menjemput dan mengantarkan ku, aku pun lantas berjalan menuju kelas ku.
" nduk, mas mulai besok dapet pekerjaan sampingan " ucap ku ke reni sambil meletakkan tas ku di atas meja.
" lho mas kan masih kelas 1 pekerjaan sampingan seperti apa emangnya " reni pun menoleh ke belakang.
" private ngajar ngaji nduk " jawab ku sembari mengambil posisi duduk yang nyaman.
" cewek pa cowok mas murid nya " tanya reni kini dengan wajah serius menatap ku.
" cewek nduk, kelas 3 smp " jawab ku dan memalingkan wajah.
"........"
Hening......
Reni langsung terdiam begitu mendengar murid yang akan aku ajari seorang cewek....
Seseorang yang tadi memanggil ku pun kini ikut menyalami ku seperti tamu undangan yang lain.
" wah.. Bapak. Koq bisa disini. Nggak keliling emangnya " sindir ku sambil berbisik di pinggir telinga Pak Adi.
Ya Pak Adhi. Takdir apa yang mempertemukan kami untuk yang ketiga kalinya.. Mungkin cuma kebetulan. Tapi rumah Pak Adi kan jauh letaknya dari rumah Pak Arman. Jadi gak mungkin beliau di undang karena sebagai tetangga.
Mendengar sindiran ku seperti itu, pak Adi pun menarik lengan ku dan mengajak ku ke tempat yang rada sepi dari kerumunan tamu undangan yasinan malam itu.
" sampai sebegitu nya kah nak agus membenci saya hingga setiap kita bertemu selalu ucapan gak enak hati yang anak berikan " balas pak yang seperti nya tak terima dengan sindiran yang ku berikan .
Aku hanya tersenyum getir tanpa membalas perkataan nya.
" tenang nak, Bapak ke sini cuma ingin ikut kirim doa buat keponakan Bapak koq " tanpa di tanya, pak adi pun menjelaskan maksud kedatangan nya kesini.
Hahh.... Keponakan..? Berarti Pak Adi ini saudara dari salah satu orang tua Bang David dong. Tunggu tunggu, apa pak Arman juga lelaku hal yang sama seperti pak Adi untuk memperoleh kekayaan.?
Sebentar sebentar, kamu gak boleh suudzon gus. Meski mereka bersaudara, belum tentu mereka melakukan hal yang sama juga. Kan kamu tau gak ada yang aneh di dalam area rumah pak Arman. Beda halnya nya dengan rumah Pak adi yang di penuhi sesajen serta beberapa penghuni gaib yang tak bersahabat.
" bapak tau yang nak agus pikir kan. Arman mencari uang dengan cara yang halal koq. Dan karena iri dengan adek bapak itulah, bapak membuat perjanjian dengan jin " ucap Pak Adi yang seperti nya bisa membaca isi pikiran ku.
" pak ngilang kemana sih, maen ninggalin kita gitu aja " teriak seorang ibu dengan dandanan baju gamis berjalan ke arah tempat kami berbincang.
Tak berapa lama , seorang gadis dengan dandanan busana muslim, ikut berjalan menghampiri kami.
" lho nak agus. Koq bisa ada di sini " ucap ibu tadi yang ternyata istri nya Pak Adi.
" he he iya bu. Bang David kan teman saya di sekolah. Tadi pulang sekolah dia ngajak saya kesini "
" dan terdampar lah saya saya di rumahnya sampai sekarang " jawab ku mencoba beramah tamah.
" Om, dateng bukannya langsung masuk ke dalam rumah tapi malah asyik ngobrol di sini ". Panggil seseorang dengan suara cewek dan kembali berjalan menghampiri kami.
"lho ngobrol sama kak Agus to. Kok kalian bisa kenal " tanya Stella keheranan melihat ku bersama Pak Adi om nya.
" iya Stell, dulu waktu temen saya lamaran, saya di ajak ke rumah mempelai wanita nya. Karena kebetulan Bapak saya yang di minta i tolong buat nyari hari baik nya. Dan kebetulan Pak Adi lah calon mertua temen saya itu " jawab ku agak bersandiwara namun tak bohong ke Stella.
Tak bohong karena aku mengucapkan hal yang sesungguhnya. Tapi ku anggap sandiwara karena gak mungkin aku menceritakan pertemuan pertama ku dengan pak adi yang sesungguhnya .
" dek, koq dandanan lu malam ini beda banget. Agak tertutup dari biasanya " Kak Cindy pun ikut berbincang dan mengomentari penampilan Stella malam itu.
" iya mbak, soalnya tadi siang gw di marah i dan di ceramah i pak ustadz karena dandan ku yang bgitu terbuka. Jadi gw berdandan seperti inilah sekarang " jawab Stella tersenyum sambil melirik ke arah ku.
Kak Cindy sepertinya tau arti dari lirikan si Stella. Karena saat ini dia juga ikut melirik ke arah ku. Aku pun lantas beringsut dan membuang muka ke arah lain.
Sumpah malem itu aku kagum dengan dandanan Stella. Dia menggunakan busana muslim panjang terusan di padu dengan jilbab berwarna hijau. Ingin rasanya aku memuji penampilan nya malam itu. Akan tetapi karena ada Cindy, aku hanya memuji penampilan dari dalam hati.
Kami pun akhirnya pergi meninggalkan tempat tersebut dan ikut kembali membaur dengan para tamu undangan. Tadi nya aku ingin ikut tamu undangan yang lain yasinan di halaman saja, namun tiba-tiba saja Stella menarik lengan ku agar ikut dia masuk ke dalam rumah menyusul om, tante dan sepupu nya yang lebih dulu masuk.
Aslinya aku agak malu ikut rombongan yasinan yang ada di dalam rumah. Secara disitu banyak kiai kiai kondang yang akan memimpin jalan nya acara malam itu. Aku yang orang asing ini tidak sepantasnya berada di situ.
" Stell ayo ambil wudhu lagi . Batal kan wudhu kita karna tadi kamu pake menarik tangan ku segala " ajak ku ke Stella.
" he he ayo kak " jawab nya cengar cengir sembari berjalan di belakang ku dan ikut pergi ke kamar mandi
Mendekati waktunya, semakin banyak saja tamu undangan yang memadati halaman rumah bapak Arman. Ini orang satu kabupaten apa di undang yak..? Banyak amat tamunya.
Jam 19.30 acara yasinan pun di mulai. Setelah selesai membaca surat Yasin, acara pun di lanjutkan dengan bacaan tahlil. Selepas itu berturut turut di ikuti dengan bacaan shalawat nabi dan di tutup dengan doa. Jam 20.30 seluruh rangkaian acara pun berakhir dan dilanjutkan dengan beramah tamah. Atau bahasa gaulnya.... MANGAN GRATIS... (makan gratis).
Tanpa malu malu, aku pun ikut menyantap sajian malam itu dengan lahap nya. Aku paling anti jaim gan kalo menyangkut makanan.
Stella dan Cindy hanya tersenyum melihat kelakuan ku ini. Mungkin mereka pikir aku ini seperti orang yang tidak pernah makan selama satu minggu.
ALLLAHUMA SALLI ALA MUHAMMAD...
Sebuah bacaan shalawat sebagai tanda berakhirnya seluruh acara malam itu pun di ucap kan oleh kiai pemimpin yasinan. Hal ini lantas membuat para tamu undangan membubarkan diri dan membawa satu buah berkat untuk di bawa pulang ke rumah masing-masing.
Pak Arman dan Pak Adi sebagai pemilik rumah pun berdiri di samping pintu luar untuk menyalami para tamu dan mengucapkan terima kasih atas kehadiran mereka malam itu. Karena udah terbiasa, aku pun ikut beliau beliau ke depan untuk menyalami para tamu juga.
" semoga ilmu mu membawa berkah buat hajat hidup orang banyak nak " ucap seorang sambil tersenyum saat mengenggam tangan ku.
" insya Allah, sekalian minta doa restu nya Pak Kiai " jawab ku membalas senyum dan menyalami beliau sambil mencium punggung tangan nya.
" pasti nak, Bapak akan selalu mendoakan mu " ucap kiai tadi dan kini pergi meninggalkan rumah pak Arman untuk kembali ke rumahnya.
Setelah semua tamu undangan pulang ke rumah masing-masing, kini pun hanya beberapa kerabat yang masih tersisa di rumah Pak Arman. Karena bingung mau ngapain, aku pun membantu ibu ibu untuk membereskan sisa acara malam itu.
" gak usah nak. Biar ibu saja. Nak agus ikut gabung saja dengan para lelaki di ruang tamu " larang bu jasmin ketika tau aku ingin membantu nya.
" gpp koq bu. Lagian aku disini bukan siapa siapa. Aku juga tidak mengenal kerabat pak Arman " jawab ku seraya membawa tumpukan piring ke dapur.
Bu jasmin pun akhirnya membiarkan aku membantu nya karena beliau mengerti apa yang aku ucapkan. Daripada aku berkumpul dengan orang yang asing yang tidak mungkin nanti mereka akan menghina ku karena keadaan ku ( semua kerabat pak Arman orang yang berada) lebih baik aku bantu ibunya bang David karena beliau sedikit banyak telah mengenal ku.
Jam 21. 00 aku selesai membantu ibu jasmin dan bergegas menemui bang David di ruang tamu agar lekas mengantarkan ku pulang seperti janji nya tadi siang. Namun saat berbicara dengan bang David, pak Arman menahan kepulangan ku dan ingin membicarakan sesuatu dengan ku.
" nak maaf sebelum pulang, boleh gak bapak minta sesuatu " tanya Pak Arman yang kini berpindah dari ruang tamu menuju ruang yang tadi di pake sholat maghrib.
Bu jasmin, Stella,, Bang David juga ikut masuk dalam ruangan tersebut.
" boleh saja pak. Kalo saya sanggup, insya Allah saya kabulkan " jawab ku penuh diplomasi.
" anu... Bapak sekeluarga minta tolong buat di ajari membaca Kitab suci Al Qur'an nak " ucap Pak Arman malu malu.
" waduh pak, saya ini juga masih dalam proses belajar. Jadi gak mungkin buat saya mengajari Pak Arman, Bu Jasmin atau Bang David yang notabene umur nya di atas ku "
" tapi untuk Stella mungkin bisa saya ajari karena umurnya masih di bawah saya "
" kalo untuk Pak Arman nanti saya bisa minta tolong ustad di kampung kenalan saya. Atau bpk bisa minta tolong kiai yang memimpin yasinan tadi "
" karena sepertinya beliau orang yang arif " balas ku panjang lebar.
Pak Arman pun mengangguk menerima saran ku. Di ikuti anggukan Bu Jasmin, dan Bang David. Saat aku memandang Stella, dia pun ikut mengangguk di sertai senyum merona di bibirnya.
Ahhhh.... Cantik banget sih kamu dek.
Jam 21.30 Bang David mengantarku pulang ke rumah. Tak lupa sebelumnya aku berpamitan dengan Pak Arman dan kerabat nya yang masih ngumpul di ruang tamu. Tapi tidak terlihat keluarga pak Adi. Ntah kapan mereka pulang ke rumahnya.
Jam 22.00. Aku pun sampe di rumah.
" bang kalo lewat kebun pisang yang tadi kita lewati dan ada hal yang aneh, abaikan saja "
" langsung tarik gas dan pulang ke rumah " pesan ku ke Bang David.
" emang ada apa an gus ".? Tnya bang David penasaran.
" udah ikuti saja saran ku. Kalo tidak lihat saja apa yang terjadi nanti " ucap ku lagi setengah mengancam.
Bang David pun mengangguk dan menyelah motor sport nya kembali...
" oia satu lagi, tolong naek motornya yang sopan bang. Ini kampung dan sudah malam. Takutnya abang digebukin pemuda yang biasa maen remi di pos ronda " ucap ku lagi mengingat kan.
Bang David hanya melambaikan tangan dan langsung menarik tuas gas motor nya untuk menembus gelapnya malam.
Aku pun lalu masuk ke dalam rumah karena ku lihat lampu teras rumah ku udah mati.
" Koq ini tas berat banget ya. Perasaan tadi enteng enteng saja pas di rumah Bang David."
Karena penasaran aku pun langsung membuka tas ku. Dan alhamdulillah, banyak sekali kue kue kering yang di bungkus plastik hitam berada di dlam tas ku. Selain itu ada juga sebuah box yang bentuk nya seperti berkat yang diberikan kepada tamu yang telah hadir di acara yasinan nya Kirana.
Makasih bu jasmin, semoga Allah membalas kebaikan ibu dan untuk Kirana di lapang kan kubur nya.
Karena semua orang rumah sudah tidur, aku pun menaruh kue kue dan makanan tadi di ruang makan dan langsung bergegas pergi tidur setelah sesaat mengambil wudhu dan menunaikan ibadah sholat isya.
Jam 05.00 aku terbangun karena mendengar ibu ku teriak teriak melihat begitu banyak kue berada di meja makan. Aku pun langsung menjelaskan bahwa itu semua pemberian dari Ibu tmen ku.
Jam 06.00 aku telah siap siap berangkat ke sekolah. Aku berlari ke jalan depan untuk menunggu Windy sepupu ku lewat. Maklum karena sepeda ku tertinggal di sekolah, aku pun terpaksa nebeng sepupu ku ini..
" lho mas, ngapain berdiri di sini " tanya sepupu ku keheranan melihat ku pagi2 berdiri di pinggir jalan.
" dek nebeng ya, sepeda ku ketinggalan di sekolah "pinta ku dengan wajah memelas.
" ya udah ayok " jawab sepupu ku.
Baru saja aku mau naik di atas boncengan motor nya ( keluarga sepupu ku secara finansial lebih mapan dari keluarga ku) motor sport Bang David melintas dan berhenti tepat di depan ku.
" gus, gw jemput lu " ucap Bang David sambil melepas helm nya.
" ehh.. Maaf dek. Aku ikut Bang David saja kalo gitu " ujar ku sembari turun dari boncengan motor dek Win.
" ohhh dasar bocah gemblong " sungut Dek win kesal dan memacu motor nya meninggal kan ku dan bang David..
" eh gus, lu kenal sama si Windy " ucap Bang David tiba tiba karena melihat ku yang akrab dengan dek Windy.
" bukan kenal lagi bang, kita udah saling tau luar dalam (waktu kecil sering mandi bareng di kali) " jawab ku disertai teka teki.
" luar dalam.. Ja.. Jadi lu udah "gituan" sama si Windy. " ucap Bang David semakin penasaran .
" gituan dhengkul mu mlengse bang. Ya ialah aku tau luar dalam. Secara kita waktu kecil sering mandi bareng di kali"
" windy itu sepupu aku bang " ucap ku lagi kini tuntas.
" oh, sial lu cuk. Bikin jantung gue deg deg deg an aje " jawab bang David sambil mengelus dada.
" kenapa bang, naksir sama sepupu ku " goda ku ke bang David.
Bukan nya menjawab, Bang David hanya mesam mesem saja dengan pertanyaan ku.
" eh gus, koq omongan lu bisa manjur banget sih ke adek gw " tnya bang David mengalihkan topik pembicaraan.
" manjur gimana bang " aku pun tak mengerti maksud perkataan nya.
" lu tau gus, sejak lu bilang sebaik baiknya wanita adalah mereka yang mampu menjaga aurat nya "...
" semua baju baju adek gw yang terletak seksi di kumpul in dan di masukkan nya ke dalam satu kardus. Saat gw tanya kenapa, eh dia malah jawab. "
" gw ingin diri gw seperti gaun yang berada di etalase butik bang. Bukan seperti baju yang di jajan in pedagang kaki lima pasar "
" begitu gus jawab nya "..
" ya alhamdulillah dong bang kalo gitu. dia akhirnya dapet hidayah dan mau hijrah. "
" abang sendiri kapan mau hijrah. Masak iqamah saja gak bisa. Gimana nanti kalo adzanin anak " ucap ku skak mat ke bang David.
Bang David hanya diam saja mendengar perkataan ku. Sesekali dia mencondongkan dada nya ke depan dan mengambil nafas yang panjang. Aku pun merasa bersalah karena telah berucap seperti itu. Sebuah ucapan yang begitu menohok hati nya.
" udah bang gak usah di pikirin. Aku cuma bercanda koq "
" ayo buruan berangkat ke sekolah. Telat kita nanti ntar " ajak ku agar bang David melupakan ucapan ku tadi.
Bang David pun menyerahkan helm cadangan dan segera ku kenakan ke kepala. Kami pun berangkat sekolah bersama.
Jam 06.45 kami sampai di sekolah, nampak kini mata para siswa melihat ke arah Bang David ketika baru datang. Aku yakin mereka pada heran. Kenapa aku yang notabene kelas 1,bisa datang boncengan dengan bang David yang sudah kelas 3.
Setelah mengucapkan terima kasih ke bang David karena telah menjemput dan mengantarkan ku, aku pun lantas berjalan menuju kelas ku.
" nduk, mas mulai besok dapet pekerjaan sampingan " ucap ku ke reni sambil meletakkan tas ku di atas meja.
" lho mas kan masih kelas 1 pekerjaan sampingan seperti apa emangnya " reni pun menoleh ke belakang.
" private ngajar ngaji nduk " jawab ku sembari mengambil posisi duduk yang nyaman.
" cewek pa cowok mas murid nya " tanya reni kini dengan wajah serius menatap ku.
" cewek nduk, kelas 3 smp " jawab ku dan memalingkan wajah.
"........"
Hening......
Reni langsung terdiam begitu mendengar murid yang akan aku ajari seorang cewek....
myusuffebria525 dan 13 lainnya memberi reputasi
14


