- Beranda
- Stories from the Heart
Patahan Salib Bidadari
...
TS
setiawanari
Patahan Salib Bidadari
In the name of Allah, the beneficient, the merciful
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Terimakasih untuk gambar sampulnya awayeye
Terimakasih Kaskus, khususnya untuk sub forum SFTH yang telah menyediakan tempat menampilkan sebuah cerita. Sebuah fasilitas yang akan saya gunakan untuk menulis dimulai dari hari ini hingga di hari-hari selanjutnya.
Terlepas dari nyata atau tidaknya cerita ini, adalah tidak terlalu penting karena sebagian dari kisah nyata dan sebagian dari imaginasi saya. Harapan saya tokoh-tokoh dalam cerita ini dapat menjadi inspirasi untuk para pembaca cerita yang saya tulis ini dapat menjadikan saya untuk terus berkreatifitas.
Mohon maaf jika materi dalam cerita ini nantinya ada kesalahan dan menyinggung pihak-pihak tertentu sekiranya nasihat, kritik dan saran dari agan/sista yang lebih berpengalaman selalu sangat saya harapkan.
Menemani istirahat untuk menghilangkan lelah setelah pulang kerja/sekolah/kuliah, atau saat sedang menunggu sesuatu mari kita baca ceritanya. Ditemani alunan musik dan segelas kopi/cokelat/susu/teh hangat kita kembali ke beberapa tahun yang lalu!!!.
PEMBUKA CERITA
Terpaku di dalam rasa cinta yang tak mungkin pudar, menanti cinta datang membawa arti sampai segenap organ ini berhenti.
Sore itu saat cuaca cerah di lantai 6 gedung akademisi yang melahirkan sarjana ekonomi terbaik aku termenung. Melamunkan manis, asam, asin dan pahitnya segala kehendak Tuhan yang dianugerahkan kepada salah satu ciptaanNya.
Manusia diberikan otak untuk berfikir dan menggunakan logika lalu diberikan hati untuk merasakan. Hati adalah malaikat sedangkan otak kadang menjadi iblis dan sangat sulit untuk mengontrolnya menjadi malaikat. Hati menjerit saat kita berbuat salah sedangkan otak adalah penyebab semua kesalahan yang dilakukan manusia. Malaikat dan iblis adalah gambaran dari manusia, sebagai simbol antara kebaikan dan kejahatan. Kebaikan tidak akan bersanding dengan kejahatan dan sebaliknya.
“Permisi Mas! Bisa pindah duduknya, lantainya mau di bersihkan!” Sapa seorang petugas cleaning service membuyarkan lamunanku.
“Oh, iya mas”. Jawabku sambil berlalu pergi menuju tempat parkir motor tepatnya dihalaman depan kampus.
Karamnya cinta ini
Tenggelamkanku diduka yang terdalam
Hampa hati terasa
Kau tinggalkanku meski ku tak rela
Salahkah diriku hingga saat ini
Kumasih mengharap
Kau tuk kembali………
Sore itu gerimis turun saat aku pulang, tak terasa sampai ditempat kos yang kebetulan hanya berjarak 10 menit dari kampus air hujan membasahi jaket jeans yang ku kenakan. Segera aku mengambil handuk dan membersihkan diri, bersiap untuk mengucapkan syukur kepada Yang Maha Kuasa. Dengan ritual sholat Ashar aku merasakan kedamaian yang tidak ada bandingannya, sebagai bentuk kepatuhan dan rasa syukur atas semua yang diberikan Tuhan baik itu berkah yang membuat hati senang maupun musibah sebagai ujian kepada hambanya agar menjadi sosok yang lebih kuat.
Waktunya istirahat, kurebahkan badan ini di kasur busa sebagai surga dunia yang paling indah, sambil memutar lagu menemaniku melepas lelah. Secangkir kopi hitam telah kusiapkan untuk menghangatkan suasana karena diluar hujan turun semakin deras. Kupandangi sebuah kalung berwarna emas berliontin salib yang bersanding dengan sebuah kalung perak berliontin lafaz Allah, tergantung dibawah poster foto Ibu Sundari Sukotjo tepat di tengah-tengah dinding kamar kosku. Masih menampakkan kilaunya meski kalung-kalung itu sudah hampir 4 tahun lamanya. Aku bangkit dari tempat tidur, meminum sedikit kopi hitam, sambil menarik nafas dalam sedalam yang aku mampu. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu di sore ini, ya aku merasakan suatu kerinduan yang luar biasa dengan pemilik kalung salib yang tergantung dikamarku, seorang yang sangat suka musik klasik, seseorang pecinta sepakbola, seseorang yang suka kopi hitam dan mungkin pernah mencintaiku walaupun tak pernah mengungkapkan sepatah katapun.
“Ya Tuhan hari ini aku kangen banget sama dia, meski tak sebesar kangen ku kepadaMu, tapi sungguh seolah-olah aku merasa sangat lemah dan sangat kehilangan. Hari ini tepat 4 bulan yang lalu dia beranjak pergi dari tempat ini, dia pergi untuk cita-citanya, untuk impiannya dan bodohnya aku belum sempat mengutarakan seluruh perasaanku kepadanya. Perbedaan keyakinanlah yang menghalangi, aku bahkan hanya bisa diam membisu saat ku ingin mengucapkan seluruh rasa cinta ini aku takut rasa cinta kepada makhluk ciptaanMu melebihi rasa cintaku padaMu. Tak kuasa air mata ini menetes, berusaha ku tahan tapi tak sanggup karena mungkin ini air mata rindu yang mencapai puncaknya.
Aku bukan seorang penulis tetapi hari ini tiba-tiba ingin sekali aku ingin sekali memainkan jariku di keyboard yang biasanya hanya kupakai untuk membuat tugas. Aku ingin menulis tentang dirimu tentang cerita kita, walaupun mungkin tidak berujung bahagia tidak apa karena mungkin dengan tulisan ini aku bisa mencurahkan segala isi hati dan kerinduanku kepada mu. Kenangan indah tentang hari-hari yang pernah kulalui dengan seorang bidadari yang telah merubah seluruh hidupku, meski meninggalkan perasaan yang terus menggantung entah sampai kapan. Bidadari yang datang di hidupku, menemaniku sejenak lalu pergi meninggalkan patahan salibnya di hidupku.
Mungkin suatu saat nanti
Kau temukan bahagia meski tak bersamaku
Bila nanti kau tak kembali
Kenanglah aku sepanjang hidupmu
Sekilas Gambar Tentang Aku
Harapan Sesuai dengan Kenyataan
Kerikil Kecil dan Awan yang Jauh
Pertemuan dengan Sahabat
Sepatu Mengawali Sebuah Impian
Dunia Kampus dan Teman Baru
Keluarga Kecil Bernama HALTE
Sesuatu Mengganggu Pesta Akhir Smester
Diantara Rasa Kagum dan Penasaran
Meluapnya Sebuah Emosi
Hubungan yang Semakin Dekat
Kegelisahan Menghadapi Perasaan yang Berbeda
Siang Menjadi Malam dan Sebaliknya
Perjalanan yang Semakin Indah
Momen Menggelikan dan Warna Kehidupan
Dilema Menghadapi Ungkapan Perasaan
Tetangga di Sekitar Kami
Liontin Salib untuk Leher yang Indah
Kepedihan Cerita di Masa Lalu
Senyuman untuk Hati yang Terluka
Sosok yang Menjadi Pertanyaan
Mencoba Menghilangkan Trauma
Pelangi yang Hilang Bersama Turunnya Hujan
Malam Kebahagiaan Bersama Keluarga Kecil
Bidadari Kecil Kini Telah Dewasa
Kebahagiaan Kini Tinggal Prasasti
Semua Terjadi Sangat Cepat
Sebuah Cinta yang Salah
Surga yang Tak Layak untuk Dilihat
Rumput Dingin Di Bawah Bangku Taman
Pahitnya Sebuah Ucapan
Air Mata Menepis Kerasnya Kata-kata
Satu Langkah ke Arah Normal
Bertahan Hanya dalam Waktu Singkat
Semakin Tenggelam dalam Kedekatan
Lilin Kecil di Malam Penuh Kebahagiaan
Selamat Datang Kemarau
Kerinduan yang Teramat Dalam
Hembusan Angin Masa Lalu
Sayap yang Kuat Untuk Bidadari Kecil
Tinta Biru Menorehkan Luka
Berusaha Menyembunyikan Luka
Hilangnya Rasa Segan
Keberhasilan Tanpa Perayaan
Berharap Hanya Andai Saja
Serpihan Kenangan yang Menyiksa
Tempat Baru
Berita Baik Bersama Undangan
Selamat Menempuh Hidup Baru
Kesan yang Baik di Hari Pertama
Insiden Kecil dan Masa yang Telah Terlewati
Menutup Momen 4 Tahun Kebersamaan
Kotak Makan Siang
Keberanian Untuk Memulai
Pahitnya Sambutan Selamat Datang
Seperti Kembali ke Waktu Itu
Teka Teki dari Perhatian Sederhana
Cerita di Ujung Sore
Peneduh Panasnya Amarah
Mengungungkapkan tak Semudah Membayangkan
Titik Terang yang Terasa Gelap
Patahan Salib Bidadari
Terimakasih Untuk Masa yang Terlewati
Apa yang Sebenarnya Terjadi
Kembali Terjatuh
Dunia Ciptakan Keindahan
Dan Kebahagiaan [TAMAT]
Kata Penutup (Q&A)
Diubah oleh setiawanari 10-07-2018 17:35
nona212 dan calebs12 memberi reputasi
3
111.1K
608
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
setiawanari
#326
Kotak Makan Siang
Sekuat apapun kenangan yang melekat pada bagian otak kecil manusia pada akhirnya lama lama akan memudar. Perputaran waktu bersama dengan datangnya hal-hal yang baru membuat otak akan merekam memori, menempati ruang untuk menyingkirkan memori lama. Sesuatu hal yang masih menjadi misteri adalah ketika sebuah kenangan akan selalu muncul disaat manusia dalam titik lemah. Membuka memori lama dan menggeser sejenak memori baru. Jutaan syaraf tersembunyi di tempurung kepala masih menyimpan misteri tentang bagaimana sesuatu hal yang belum ada penjelasan secara ilmiah. Meskipun banyak teori dari berbagai penelitian.
Senin pagi kantor tampak sibuk di pertengahan bulan Desember terutama divisi keuangan. Mungkin membereskan pekerjaan untuk laporan akhir tahun.
" Mbak, gak makan ke kantin?" Kataku menghampiri Mbak Widia saat jam istirahat tiba.
" Oh, gw bawa makanan dari rumah. Wan nih tadi gw bawain buat Lo. Cobain deh!" Kata Mbak Widia memberikan kotak nasi yang aku belum tau apa isinya.
" Makasih Mbak."
" Lo mau makan di kantin?"
" Hmmmm, di pantry aja mbak."
" Oke, tunggu bentar." Jawab Mbak Widia membereskan dokumen lalu kami berjalan menuju pantry.
Lagi-lagi pikiran kotorku muncul saat berjalan di belakang Mbak Widia. Sebagai lelaki normal pada umumnya pikiran ini muncul saat harus melihat tubuh padat berisi menggunakan rok bahan silver dengan atasan baju tipis berwarna abu-abu. Lenggak-lenggok dia berjalan betisnya yang putih nampak indah ditopang sepatu hak tinggi. Rambut hitam panjangnya tergerai dengan kacamata frame hitam menghiasi mata sipitnya. Wanita dengan kulit putih mulus di depanku, serasa aku berjalan dibelakang aktris film panas Asia timur.
" Gimana enak gak?" Kata Mbak Widia saat aku menikmati nasi dan sepotong ayam teriyaki buatannya.
" Enak mbak, sering-sering aja gini biar saya jadi tambah semangat kerja."
" Ye enak aja, hari ini aja gw bangunnya pagi banget jadi sempet masak."
" Mbak, kemaren makasih ya kiriman bunganya."
" Iya, oh iya nanti kopi ijazah kamu jangan lupa kasih gw ya, lagi itu kan baru SKL yang Lo kasih."
" Oke siap mbak."
" Kakimu udah sembuh Wan?"
" Udah Mbak lagian cuma luka lecet aja, sebenernya kemaren terlalu berlebihan sampai harus ke RS segala."
" Bukannya berlebihan Wan, namanya kecelakaan kelihatannya aja lecet-lecet doang kan kita gak tau luka dalamnya jadi buat mastiin aja Lo gak apa-apa. Lagian sayang kan asuransinya kalau gak kepakai."
" Iya Mbak Wid, makasih ya kemaren udah nganterin ke RS."
" Aah biasa aja lah, lagian itu udah tanggung jawab saya sebagai atasan. Selagi gw bisa bantu pasti gw bantu."
" Mbak, saya Sholat dulu ya kotak nasinya saya taruh sini?" Kataku meletakkan kotak di atas wastafel.
" Iya, biar nanti di cuci OB. Eh gw nitip permen kopi ya Wan beliin dulu nanti uangnya gw ganti."
" Oke mbak." Kataku melangkah ke mushola kantor di lantai dasar bersebelahan dengan kantin.
Rasa kantuk membuat mata ini serasa berat untuk dibuka, selesai mengucap terimakasih dan syukur kepada Tuhan. Semilir angin dari kipas menggerakkan naluri seolah ingin merebahkan tubuh lebih lama di karpet hijau. Namun waktu istirahat yang hanya tinggal 15menit menyadarkanku untuk segera kembali ke ruang kerja. Tidak lupa singgah di kantin membeli 18 permen kopi untuk atasanku.
" Woi, buru-buru amat masuknya? Lo gak makan Wan?" Teriak Arif duduk bersama Nita dibangkitkan kantin dengan rokok tinggal setengah batang di tangannya.
" Makan tadi gw di pantry, hehehe jangan iri ya tadi gw dibawain bokel sama Mbak Wid, chicken katsu. Hehehehe." Kataku duduk di samping Arif.
" Serius Lo Wan? Enak amat idup Lo gw aja hampir 2 tahun gawe dimari belum pernah ngerasain yang begituan, betul kan Nit." Kata Arif.
" Kalau gw sih sering dikasih kue, atau oleh-oleh dari Mbak Wid." Jawab Nita.
" Ye itu ma beda!!! Dia kan kalau ngasih kue atau oleh-oleh gak personal tapi buat 1 ruangan lha ini main umpet-umpetan. Wah jangan-jangan Mbak Wid lagi cari bapak buat anaknya Bro, pinter lagi carinya yang muda."
" Wah kalau ngomong kecepetan Lo Rif, yaudah masuk yuk." Kataku dan kami pun beranjak dari kantin kembali bergulat dengan aktivitas hingga pukul 5 sore nanti.
Suara keyboard komputer mulai senyap menandakan jam pulang kantor. Aku segera membereskan tumpukan kertas, dan beranjak menuju tempat parkir.
" Tumben gak ujan nih, duluan gw ya Wan." Kata Arif pulang kantor.
" Oke, hati-hati Rif." Jawabku mengaitkan tali helm.
Baru berjalan keluar gerbang aku melihat Mbak Widia berjalan ke arah jalan raya.
" Hei Mbak Wid, kok jalan kaki gak bawa mobil?" Kataku menghentikan motor.
" Oooh lagi gak bawa Wan." Jawab Mbak Widia.
" Hmmmmm, apa saya anterin kebetulan saya bawa helm 2."
" Aaah gak usah, gw naik busway aja lagian tar malah Lo kemaleman." Jawab Mbak Widia melihat ke motorku sambil mengerutkan dahi.
" Ya gak lah, lagian baru jam 5 masa kemaleman, udah gakpapa mbak itung-itung gantian tadi siang Mbak Wid kan udah bawain saya makan siang."
" Hmmm tapi gak ngrepotin nih."
" Enggak, ayo Mbak." Kataku turun melepas helm yang aku ikat di jok belakang bersama jas hujan.
" Aduh joknya kecil amat sih Wan, majuan dikit dong." Kata Mbak Widia sebelum aku melepas kopling.
" Iya mbak ini udah mepet tangki malahan." Jawabku berjalan perlahan dari gigi satu, dua tiga, empat tapi harus turun ke gigi dua lagi karena jalanan yang macet.
" Motor Lo antik banget, mogok gak nih?"
" Aah bilang aja tua mbak, ya enggak lah kalau mogok tar Mbak Wid dorong ya!"
" Enak aja, Lo yang dorong lah!"
" Oooh aku yang dorong terus Mbak Wid yang naik gitu?"
" Ya nggak lah, Lo dorong aja gw naik busway, hahahaha."
" Busyet jahatnya."
Motor terus melaju, membawa dua orang berbeda kelamin menyusuri jalanan ibukota yang sangat padat. Beberapa pasang mata melihat ke arah kami, seperti iri dengan apa yang mereka lihat. Seorang wanita cantik, dengan tubuh padat berisi, kulit putih mulusnya harus bersentuhan dengan onggokan besi tua.
" Namanya lelaki matanya emang gak bisa ditahan, lihat paha kebuka dikit aja kedipnya sengaja di tahan." Batinku melihat dari kaca spion pengendara sepeda motor di belakang matanya terus melihat ke arahku. Meski membawa seorang wanita yang mungkin pasangannya karena tangan yang melingkar di perut pengendara itu.
Gerimis turun bersamaan dengan azan magrib, kami tiba di rumah Mbak Widia.
" Ujan Wan, mampir dulu lah sekalian sembahyang." Kata Mbak Widia turun dari motor.
" Hmmm, gak usah Mbak saya bawa jas ujan kok." Jawabku menerima helm dari mbak Widia dan kembali mengikatnya di jok belakang.
" Eeeh mama udah pulang." Kata ibu-ibu keluar bersama anak kecil yang berlari menghampiri Mbak Widia.
" Eeeeeh Dede Marsha, udah mamam sayang?" Kata Mbak Widia langsung menggendong gadis kecil kira-kira berusia 3 tahun.
" Udah dong ma, tadi mamam sama ayam oleng dituapin nenek." Jawab gadis kecil itu.
" Anak pinter, abis berapa ayam gorengnya sayang"
" Emmmm dua, satu dede satu lagi nenek."
" Eh itu ada Om, salim dulu sama Om dedenya." Kata mbak mendekatkan gadis kecil itu ke arahku yang bersiap memakai jas hujan. Gadis itu pun mengulurkan tangannya nampak malu dan langsung menyembunyikan wajahnya di dada Mbak Widia.
" Iiih malu ya belum kenal?" Kata Widia mengusap usap kepala gadis itu.
" Masuk dulu nak, deres ujannya." Kata ibu-ibu yang yang keluar bersama Marsha.
" Tau deres gini masa Lo mau nekat, ayo masuk dulu." Kata Mbak Widia menarik tanganku.
" Oh baik Mbak kalau begitu." Jawabku meletakkan kembali jas hujan dan masuk ke rumah Mbak Widia.
Rumah dua tingkat yang cukup luas, terdapat ruang tamu saat memasuki pintu. Dua kamar di ruang tengah membatasi dapur dan ruang makan. Beberapa foto tergantung di dinding ruang tamu, satu yang menjadi perhatianku adalah foto pernikahan Mbak Widia dengan suaminya.
" Wan, kalau mau sembahyang di situ ya ambil wudunya di kamar mandi belakang." Kata mbak Widia menunjukkan tempat sholat di samping ruang makan.
" Iya mbak." Jawabku melangkah ke kamar mandi.
Selesai sholat hujan di luar masih deras, aku kembali keluar menuju ruang tamu. Memberi kabar ke Indri jika aku pulang agak malam hari ini.
" Nak, ayo makan dulu pasti udah laper kan?" Kata Bu Yati ( Ibu Mbak Widia).
" Wah jadi ngrepotin nih Bu, tadi siang udah di bawain makanan sama Mbak Wid, ini mampir kesini makan lagi." Jawabku.
" Orang cuma makanan kok ngrepotin, udah ngabari orang tuamu kalau pulang telat?" Kata Pak Subandi (ayah Mabak Widia).
" Bapak, orang tuanya Awan udah..." Jawab Mbak Widia.
" Oh maaf kalau begitu, bapak gak tau." Kata Pak Subandi memotong kata-kata Mbak Widia.
" Iya Pak, gakpapa yaudah saya ambil nasinya ya Pak, Bu." Kataku.
" Oh iya, silahkan nak silahkan. Jangan sungkan-sungkan." Kata Bu Yati mendekatkan mau ke arahku.
" Jadi di Jakarta ini kamu tinggal sama siapa?" Pertanyaan Pak Subandi membuka obrolan hangat makan malam sambil menunggu hujan reda.
Aku bercerita tentang diriku dari awal hingga malam ini aku bisa menikmati makanan bersama mereka. Begitu juga dengan Mbak Widia dan keluarganya menceritakan kisah yang tak kalah seru. Pak Subandi berasal dari Kota Palembang hingga akhirnya menetap di kota ini karena pekerjaan sebagai pegawai swasta yang harus bertugas di Jakarta. Bermula dari pekerjaan akhirnya bertemu dengan Ibu Yati perempuan asli kelahiran Jakarta. Membina keluarga hingga di karuniai 3 orang anak salah satunya Mbak Widia sebagai anak kedua dari 3 bersaudara. Kakak laki-lakinya telah menikah dan ikut istrinya di kota Pemalang sedangkan adik laki-lakinya sedang menempuh pendidikan di luar negeri.
Hujan hanya menyisakan titik-titik air kecil yang kebanyakan orang menyebutnya hujan awet. Aku berpamitan pulang, meski berat meninggalkan Marsha yang nampak mulai akrab denganku meski baru bertemu untuk pertama kali.
" Hati-hati dijalan ya Wan, besuk jangan telat." Kata Mbak Widia mengantarkanku di depan gerbang menggendong Marsha yang matanya tampak sayu pertanda mulai mengantuk.
" Iya Mbak, makasih. Dada Marsha om pulang dulu ya!" Kataku berpamitan dan mencium kedua pipi tembem gadis kecil dalam gendongan Mbak Widia.
" Kenapa Mama nya gak minta cium sekalian." Batinku memacu motor menerobos rintik hujan.
Sebuah kejadian yang membuatku sejenak melupakan bayang wajah gadis yang hingga saat ini belum ada kabar tentangnya. Melupakan hanya sebentar karena disaat ingin memejamkan mata dia akan kembali menghampiri ku bahkan mengikuti hingga ke alam mimpiku.
Senin pagi kantor tampak sibuk di pertengahan bulan Desember terutama divisi keuangan. Mungkin membereskan pekerjaan untuk laporan akhir tahun.
" Mbak, gak makan ke kantin?" Kataku menghampiri Mbak Widia saat jam istirahat tiba.
" Oh, gw bawa makanan dari rumah. Wan nih tadi gw bawain buat Lo. Cobain deh!" Kata Mbak Widia memberikan kotak nasi yang aku belum tau apa isinya.
" Makasih Mbak."
" Lo mau makan di kantin?"
" Hmmmm, di pantry aja mbak."
" Oke, tunggu bentar." Jawab Mbak Widia membereskan dokumen lalu kami berjalan menuju pantry.
Lagi-lagi pikiran kotorku muncul saat berjalan di belakang Mbak Widia. Sebagai lelaki normal pada umumnya pikiran ini muncul saat harus melihat tubuh padat berisi menggunakan rok bahan silver dengan atasan baju tipis berwarna abu-abu. Lenggak-lenggok dia berjalan betisnya yang putih nampak indah ditopang sepatu hak tinggi. Rambut hitam panjangnya tergerai dengan kacamata frame hitam menghiasi mata sipitnya. Wanita dengan kulit putih mulus di depanku, serasa aku berjalan dibelakang aktris film panas Asia timur.
" Gimana enak gak?" Kata Mbak Widia saat aku menikmati nasi dan sepotong ayam teriyaki buatannya.
" Enak mbak, sering-sering aja gini biar saya jadi tambah semangat kerja."
" Ye enak aja, hari ini aja gw bangunnya pagi banget jadi sempet masak."
" Mbak, kemaren makasih ya kiriman bunganya."
" Iya, oh iya nanti kopi ijazah kamu jangan lupa kasih gw ya, lagi itu kan baru SKL yang Lo kasih."
" Oke siap mbak."
" Kakimu udah sembuh Wan?"
" Udah Mbak lagian cuma luka lecet aja, sebenernya kemaren terlalu berlebihan sampai harus ke RS segala."
" Bukannya berlebihan Wan, namanya kecelakaan kelihatannya aja lecet-lecet doang kan kita gak tau luka dalamnya jadi buat mastiin aja Lo gak apa-apa. Lagian sayang kan asuransinya kalau gak kepakai."
" Iya Mbak Wid, makasih ya kemaren udah nganterin ke RS."
" Aah biasa aja lah, lagian itu udah tanggung jawab saya sebagai atasan. Selagi gw bisa bantu pasti gw bantu."
" Mbak, saya Sholat dulu ya kotak nasinya saya taruh sini?" Kataku meletakkan kotak di atas wastafel.
" Iya, biar nanti di cuci OB. Eh gw nitip permen kopi ya Wan beliin dulu nanti uangnya gw ganti."
" Oke mbak." Kataku melangkah ke mushola kantor di lantai dasar bersebelahan dengan kantin.
Rasa kantuk membuat mata ini serasa berat untuk dibuka, selesai mengucap terimakasih dan syukur kepada Tuhan. Semilir angin dari kipas menggerakkan naluri seolah ingin merebahkan tubuh lebih lama di karpet hijau. Namun waktu istirahat yang hanya tinggal 15menit menyadarkanku untuk segera kembali ke ruang kerja. Tidak lupa singgah di kantin membeli 18 permen kopi untuk atasanku.
" Woi, buru-buru amat masuknya? Lo gak makan Wan?" Teriak Arif duduk bersama Nita dibangkitkan kantin dengan rokok tinggal setengah batang di tangannya.
" Makan tadi gw di pantry, hehehe jangan iri ya tadi gw dibawain bokel sama Mbak Wid, chicken katsu. Hehehehe." Kataku duduk di samping Arif.
" Serius Lo Wan? Enak amat idup Lo gw aja hampir 2 tahun gawe dimari belum pernah ngerasain yang begituan, betul kan Nit." Kata Arif.
" Kalau gw sih sering dikasih kue, atau oleh-oleh dari Mbak Wid." Jawab Nita.
" Ye itu ma beda!!! Dia kan kalau ngasih kue atau oleh-oleh gak personal tapi buat 1 ruangan lha ini main umpet-umpetan. Wah jangan-jangan Mbak Wid lagi cari bapak buat anaknya Bro, pinter lagi carinya yang muda."
" Wah kalau ngomong kecepetan Lo Rif, yaudah masuk yuk." Kataku dan kami pun beranjak dari kantin kembali bergulat dengan aktivitas hingga pukul 5 sore nanti.
Suara keyboard komputer mulai senyap menandakan jam pulang kantor. Aku segera membereskan tumpukan kertas, dan beranjak menuju tempat parkir.
" Tumben gak ujan nih, duluan gw ya Wan." Kata Arif pulang kantor.
" Oke, hati-hati Rif." Jawabku mengaitkan tali helm.
Baru berjalan keluar gerbang aku melihat Mbak Widia berjalan ke arah jalan raya.
" Hei Mbak Wid, kok jalan kaki gak bawa mobil?" Kataku menghentikan motor.
" Oooh lagi gak bawa Wan." Jawab Mbak Widia.
" Hmmmmm, apa saya anterin kebetulan saya bawa helm 2."
" Aaah gak usah, gw naik busway aja lagian tar malah Lo kemaleman." Jawab Mbak Widia melihat ke motorku sambil mengerutkan dahi.
" Ya gak lah, lagian baru jam 5 masa kemaleman, udah gakpapa mbak itung-itung gantian tadi siang Mbak Wid kan udah bawain saya makan siang."
" Hmmm tapi gak ngrepotin nih."
" Enggak, ayo Mbak." Kataku turun melepas helm yang aku ikat di jok belakang bersama jas hujan.
" Aduh joknya kecil amat sih Wan, majuan dikit dong." Kata Mbak Widia sebelum aku melepas kopling.
" Iya mbak ini udah mepet tangki malahan." Jawabku berjalan perlahan dari gigi satu, dua tiga, empat tapi harus turun ke gigi dua lagi karena jalanan yang macet.
" Motor Lo antik banget, mogok gak nih?"
" Aah bilang aja tua mbak, ya enggak lah kalau mogok tar Mbak Wid dorong ya!"
" Enak aja, Lo yang dorong lah!"
" Oooh aku yang dorong terus Mbak Wid yang naik gitu?"
" Ya nggak lah, Lo dorong aja gw naik busway, hahahaha."
" Busyet jahatnya."
Motor terus melaju, membawa dua orang berbeda kelamin menyusuri jalanan ibukota yang sangat padat. Beberapa pasang mata melihat ke arah kami, seperti iri dengan apa yang mereka lihat. Seorang wanita cantik, dengan tubuh padat berisi, kulit putih mulusnya harus bersentuhan dengan onggokan besi tua.
" Namanya lelaki matanya emang gak bisa ditahan, lihat paha kebuka dikit aja kedipnya sengaja di tahan." Batinku melihat dari kaca spion pengendara sepeda motor di belakang matanya terus melihat ke arahku. Meski membawa seorang wanita yang mungkin pasangannya karena tangan yang melingkar di perut pengendara itu.
Gerimis turun bersamaan dengan azan magrib, kami tiba di rumah Mbak Widia.
" Ujan Wan, mampir dulu lah sekalian sembahyang." Kata Mbak Widia turun dari motor.
" Hmmm, gak usah Mbak saya bawa jas ujan kok." Jawabku menerima helm dari mbak Widia dan kembali mengikatnya di jok belakang.
" Eeeh mama udah pulang." Kata ibu-ibu keluar bersama anak kecil yang berlari menghampiri Mbak Widia.
" Eeeeeh Dede Marsha, udah mamam sayang?" Kata Mbak Widia langsung menggendong gadis kecil kira-kira berusia 3 tahun.
" Udah dong ma, tadi mamam sama ayam oleng dituapin nenek." Jawab gadis kecil itu.
" Anak pinter, abis berapa ayam gorengnya sayang"
" Emmmm dua, satu dede satu lagi nenek."
" Eh itu ada Om, salim dulu sama Om dedenya." Kata mbak mendekatkan gadis kecil itu ke arahku yang bersiap memakai jas hujan. Gadis itu pun mengulurkan tangannya nampak malu dan langsung menyembunyikan wajahnya di dada Mbak Widia.
" Iiih malu ya belum kenal?" Kata Widia mengusap usap kepala gadis itu.
" Masuk dulu nak, deres ujannya." Kata ibu-ibu yang yang keluar bersama Marsha.
" Tau deres gini masa Lo mau nekat, ayo masuk dulu." Kata Mbak Widia menarik tanganku.
" Oh baik Mbak kalau begitu." Jawabku meletakkan kembali jas hujan dan masuk ke rumah Mbak Widia.
Rumah dua tingkat yang cukup luas, terdapat ruang tamu saat memasuki pintu. Dua kamar di ruang tengah membatasi dapur dan ruang makan. Beberapa foto tergantung di dinding ruang tamu, satu yang menjadi perhatianku adalah foto pernikahan Mbak Widia dengan suaminya.
" Wan, kalau mau sembahyang di situ ya ambil wudunya di kamar mandi belakang." Kata mbak Widia menunjukkan tempat sholat di samping ruang makan.
" Iya mbak." Jawabku melangkah ke kamar mandi.
Selesai sholat hujan di luar masih deras, aku kembali keluar menuju ruang tamu. Memberi kabar ke Indri jika aku pulang agak malam hari ini.
" Nak, ayo makan dulu pasti udah laper kan?" Kata Bu Yati ( Ibu Mbak Widia).
" Wah jadi ngrepotin nih Bu, tadi siang udah di bawain makanan sama Mbak Wid, ini mampir kesini makan lagi." Jawabku.
" Orang cuma makanan kok ngrepotin, udah ngabari orang tuamu kalau pulang telat?" Kata Pak Subandi (ayah Mabak Widia).
" Bapak, orang tuanya Awan udah..." Jawab Mbak Widia.
" Oh maaf kalau begitu, bapak gak tau." Kata Pak Subandi memotong kata-kata Mbak Widia.
" Iya Pak, gakpapa yaudah saya ambil nasinya ya Pak, Bu." Kataku.
" Oh iya, silahkan nak silahkan. Jangan sungkan-sungkan." Kata Bu Yati mendekatkan mau ke arahku.
" Jadi di Jakarta ini kamu tinggal sama siapa?" Pertanyaan Pak Subandi membuka obrolan hangat makan malam sambil menunggu hujan reda.
Aku bercerita tentang diriku dari awal hingga malam ini aku bisa menikmati makanan bersama mereka. Begitu juga dengan Mbak Widia dan keluarganya menceritakan kisah yang tak kalah seru. Pak Subandi berasal dari Kota Palembang hingga akhirnya menetap di kota ini karena pekerjaan sebagai pegawai swasta yang harus bertugas di Jakarta. Bermula dari pekerjaan akhirnya bertemu dengan Ibu Yati perempuan asli kelahiran Jakarta. Membina keluarga hingga di karuniai 3 orang anak salah satunya Mbak Widia sebagai anak kedua dari 3 bersaudara. Kakak laki-lakinya telah menikah dan ikut istrinya di kota Pemalang sedangkan adik laki-lakinya sedang menempuh pendidikan di luar negeri.
Hujan hanya menyisakan titik-titik air kecil yang kebanyakan orang menyebutnya hujan awet. Aku berpamitan pulang, meski berat meninggalkan Marsha yang nampak mulai akrab denganku meski baru bertemu untuk pertama kali.
" Hati-hati dijalan ya Wan, besuk jangan telat." Kata Mbak Widia mengantarkanku di depan gerbang menggendong Marsha yang matanya tampak sayu pertanda mulai mengantuk.
" Iya Mbak, makasih. Dada Marsha om pulang dulu ya!" Kataku berpamitan dan mencium kedua pipi tembem gadis kecil dalam gendongan Mbak Widia.
" Kenapa Mama nya gak minta cium sekalian." Batinku memacu motor menerobos rintik hujan.
Sebuah kejadian yang membuatku sejenak melupakan bayang wajah gadis yang hingga saat ini belum ada kabar tentangnya. Melupakan hanya sebentar karena disaat ingin memejamkan mata dia akan kembali menghampiri ku bahkan mengikuti hingga ke alam mimpiku.
g.gowang memberi reputasi
1