- Beranda
- Stories from the Heart
Kesunyian Menjadi Teman Terbaik [TAMAT]
...
TS
ferdy988
Kesunyian Menjadi Teman Terbaik [TAMAT]
![Kesunyian Menjadi Teman Terbaik [TAMAT]](https://s.kaskus.id/images/2017/09/30/8075495_201709300528270171.jpg)
Nice cover by Awayaye
Quote:
Spoiler for Q&A:
Salman namaKu, terlahir dari rahim seorang ibu yang entah bagaimana bentuk fisik dan wajahnya,karna saat usiaku genap 8 hari manusia yang di ciptakan untuk melindungiku telah pergi meninggalkanku menuju alam keabadian.
Sedangkan Ayah ku adalah seorang pengangguran yang hanya bisa makan dari jerih payah istrinya,males bekerja,bisanya hanya bermain judi dan menghabiskan uang istrinya,kerjaannya ketika pulang hanya bisa marah dan marah kepada Ibuku dan kakak kakak ku.
Ketika ku lahir pun Ayah enggak sedikit pun memperdulikan ku,tangisan ku hanya bisa mengganggunya,hingga sampai tega ingin membunuhku namun kasih sayang dari Kakak ku yang berjumlah 3 orang mereka rela menjadi bulan bulanan Ayah hanya untuk melindungiku.
Hingga ketika umurku menginjak 2 minggu,aku di bawa oleh Kakak ku yang tertua untuk di titipkan ke rumah orang yang mau merawat ku,namun enggak ada satu pun tetangga yang mau merawat anak bayi.
Hingga suatu hari datanglah sepasang suami istri kerumah ku lalu meminta izin kepada Ayah ku untuk merawat dan mengadopsi aku sebagai anak angkatnya,dengan santai Ayah kandungku berucap
Quote:
Akhirnya tanpa pikir panjang sepasang suami istri tersebut membayar beberapa rupiah untuk bisa membawa ku pulang,yah diriku hanya sebuah barang murahan bagi Ayah ku yang tega menukarkan ku dengan beberapa rupiah uang.
Akhirnya aku pun dibesarkan oleh kedua orang tua angkat yang sangat mencintai dan menyayangiku seperti anak mereka sendiri,kebetulan mereka sepasang suami istri yang belum di karuniai seorang anak karna salah satu dari mereka mandul.
Semenjak TK aku sudah terbiasa dengan kesendirian,entah kenapa anak anak sebaya dengan ku begitu menjauhiku bahkan anak tetangga pun enggan bermain dengan ku,di lingkungan kampung tempat ku tinggal pun aku selalu di anggap enggak ada,bahkan nenek dari orang tua Ayah angkat ku enggan memanggilku dengan sebutan Cucu.
Ketika ku SD diriku kenyang dengan bullyan teman teman seangkatan ku,kadang uang jajan ku dirampas begitu saja tanpa ada perlawanan sama sekali dariku,kadang aku di bilang anak pungut,lalu ada berkata aku adiknya Ujang.
Ketika ku pulang sekolah langsung ku peluk Ibu ku seraya berucap,"Bu tadi uang jajan ku di ambil oleh teman teman ku,aku juga di bilang anak pungut,apa bener Bu aku bukan anak Ibu?"tanya ku dengan polos
Quote:
Aku pun kembali tenang,yah setiap diriku ada masalah atau habis di bully dengan teman sebaya ku pasti larinya kepelukan Ibu ku.
Selama 6 tahun bersekolah enggak pernah sehari pun ku menyentuh jajanan,nasi bungkus atau mainan seperti kebanyakan teman teman ku,karna uang jajan ku selalu di rampas oleh teman yang disegani di sekolah ku,ku bertanya pada diriku sendiri
Quote:
Diantara sekian banyak teman teman ku di SD hanya ada satu yang perduli dengan ku,selalu menawarkan uang,atau jajanan untuk ku ketika aku merasa lapar,Wulan namanya wanita yang baik dan selalu melindungi ku ketika ku di hina teman teman ku,selalu membela ku ketika aku dicaci,kami akrab hanya di sekolah karna ibu Wulan sama seperti warga lainnya yang menganggap ku sebagai anak aneh.
Kata kata cacian seperti bodoh,tolol,anak buangan dan lain sebagainya selalu menjadi langganan masuk ketelinga ku saat di sekolah maupun di lingkungan kampung tempat ku tinggal,dan lagi lagi hanya ibu lah yang aku punya sebagai tempat ku bersandar dari lelahnya mendengar cacian dan cibiran dari mereka yang menghina ku.
Ayah angkat ku selalu mengajarkan kepada ku
Quote:
itu lah kata Ayah yang Ku pegang hingga ku menginjak kan kaki ke bangku sekolah lanjutan tingkat pertama.
Disini lah awal cerita ku...
Spoiler for pdf Episode 1:
Spoiler for Index:
Spoiler for episode II (kehidupan setelah pernikahan):
Polling
0 suara
Siapakah Wanita Yang Akan Menjadi Istri Salman
Diubah oleh ferdy988 11-04-2020 17:45
sargopip dan 8 lainnya memberi reputasi
9
165.6K
718
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ferdy988
#443
Part54
"Saya sudah siap Pak,Setelah memikirkan nya dengan matang,akhirnya dengan tegas saya memilih Resign dari perusahaan ini?"jawab ku sembari meletakkan bolpoin di atas kertas
"loh Anda bener bener sudah memikirkannya Mas?tunjangan yang akan diberikan serta gaji untuk karyawan yang di mutasi padahal lumayan lho"ujar Site Manager
"Saya tahu itu Pak,namun bagi saya keluarga adalah yang paling penting dalam hidup saya saat ini"
Site Manager tersebut tersenyum kepadaku lalu berdiri dan menepuk bahuku sembari berkata "pilihan yang bijak,pilihan Anda mengingatkan saya sewaktu pertama kali masuk di perusahaan ini,dan ketika itu saya memilih dimutasi dari pada memikirkan keluarga saya akhirnya hanya penyesalan yang saya terima karna saat ini saya jauh dari keluarga,yah semoga pilihan Mas Salman terbaik untuk Mas Salman dan semoga mendapatkan pekerjaan yang lebih baik lagi setelah disini"
"terimakasih Pak,saya pamit dulu"ujar ku seraya menjabat tangannya lalu keluar dari ruangannya
Aku berjalan pelan keluar dari kantor sembari membathin "Maaffin anakmu Mak,maaffin aku San mungkin keputusan ku saat ini akan merugikan kalian dan akan mengubah semua rencana ku namun aku memilih untuk resign karna aku sayang kalian berdua,kalian adalah harta yang berharga bagiku dari pada uang dan tunjuangan yang menggiurkan untukku"
Malam harinya aku duduk berdua dengan Emak lalu surat pengunduran diriku aku tunjukan ke Emak.
"maaffin aku Mak telah mengecewakan Emak"ucap ku lirih
Saat Emak membaca surat tersebut aku tatap wajahnya,ternyata Beliau malah tersenyum lalu berucap "sebenernya Emak saat menandatangi surat izin yang kamu kasih itu juga terpaksa,Emak berharap kamu kerja disini aja meski gaji sedikit Emak enggak apa apa yang penting bisa liat kamu"
"Emak seriusan enggak kecewa?"ujar ku
"iyah,dan dengan surat ini Emak semakin yakin kalau Anak Emak emang bener bener sayang sama Emak
"
"Alhamdulillah,makasih Mak udah mendukung keputusan dari ku,doakan Salman supaya dapat kerjaan yang lebih bagus dari sebelumnya yah Mak"ujar ku sembari menciumnya
"iyah pasti emak doakan kok"seraya mengusap rambut ku
"kalau Arsanti gimana Mak?"
"udah enggak usah mikirin aku Mas,aku sama jawabannya seperti Emak"ujar Arsanti yang keluar dari pintu dapur sembari menghidangkan teh kepadaku
"tapi kamu tau kan gaji di sini kecil daripada di tambang?"
"aku enggak perduli gaji Mas,yang aku harapkan kamu tetap disini menemani ku,kita ulang lagi usaha yang sudah kita rencanakan dari awal yah"sembari memeluk lengan ku
"tuh denger Nak,jarang jarang ada wanita sesabar dan sepengertian kayak Arsanti,dan Emak harap kamu tetap semangat yah mencari kerja disini,calon istri yang baik adalah yang mau berusaha dari Nol bersama calon suaminya bukan mau ketika banyak duit aja"
"iyah Mak,berarti enggak salah kan Salman milih dia
"
"iyah yang penting sekarang kamu cari kerja dulu,uang buat nikah masih kamu simpen kan?"
"masih kok Mak"
"yaudah tuh duit disempen jangan dipake pokoknya saat kamu udah kerja dapet beberapa bulan baru deh nikah sama Arsanti"
"iyah Mak,doakan yah moga enggak lama panggilan kerjanya di tempat lain"
"aamiin"jawab Emak
Setelah itu Emak pergi meninggalkan kami berdua untuk melanjutkan aktifitasnya menonton sinetron,sedangkan aku dan Arsanti berdua di ruang tamu.
"kamu bener enggak pernah menyesal aku sudah keluar dari dunia pertambangan?"
"sama sekali enggak Mas,aku malah seneng kok karna waktu kebersamaan kita makin terjalin berbeda ketika Mas kerja di tambang pas aku tidur mas udah berangkat,pulang pas aku ngantuk"
"makasih yah kamu sudah ngertiin aku,jujur tanpa dukungan mu dan Emak entah aku mungkin akan depresi menghadapi masalah ini"
"udah selayaknya aku terus mendukungmu mas,aku yakin kok Allah selalu bersama hambaNya yang sabar,dan aku yakin kelak rencana kita akan benar benar terwujud
"
"aamiin"ucap ku lalu mencium rambutnya yang harum
"oia Mas aku izin pulang yah pas liburan semester ini,maklum kangen sama Mas Andre dan Alfian dirumah"
"oh yaudah pulang aja,nitip salam aja yah buat Kak Fatimah bilang maaf enggak bisa hadir di pesta pernikahan mereka karna aku juga pas lagi training kerja kemaren"
"iyah Mas entar aku salamin deh"
3 hari setelah Arsanti pergi untuk pulang menemui Mas dan adiknya aku disibukkan kembali mencari pekerjaan kesana kemari,puluhan surat lamaran kerja aku masukan kebeberapa perusahaan yang dekat dengan rumah ku hingga ke banjarmasin,namun tak satu pun lamaran pekerjaan ku direspon dikarnakan pengalaman kerja ku bukan di bagian yang perusahaan ingin kan hingga mereka mengabaikannya.
Saking letihnya diriku berputar putar di kota yang berjuluk seribu sungai akhirnya aku sempatkan untuk mampir sejenak di mesjid terbesar di kota tersebut yang berseberangan dengan sungai martapura.
"DERRTT...DERRRT...DERRRTTT"Tiba tiba hp ku bergetar tanda ada telpon masuk,aku bergegas mengeluarkannya dari kantong celanaku berharap dapat panggilan kerja,saat melihat di layar hp ku ternyata yang menelpon adalah tetangga sebelah rumah.
"Ada apa yah?kok tumben tetangga ku menelpon ku?"bathin ku
"halo Man,kamu dimana?"ucap tetangga ku yang sepertinya lagi gelisah
"aku di banjarmasin Mas,ada apa yah kok tumben nelpon?"
"cepetan pulang sekarang juga,Ibu mu Man,ibumu..."
"Emak kenapa Mas?"aku mulai cemas
"TUT..TUT..TUT.."tiba tiba telpon terputus
"dammit...!!!"umpat ku,aku pun mencoba lagi menghubungi tetangga ku namun nihil telponnya malah enggak aktif
Karna rasa cemas yang berlebihan aku bergegas menyalakan motor Arsanti lalu melajukan nya kearah jalan pulang,di hati ku sudah enggak karuan rasa berharap enggak terjadi sesuatu apapun terhadap Emak "Ya Allah jaga lah ibu ku,jauhkan lah beliau dari segala macam mara bahaya"bathin ku sembari berdoa
Sesampainya dirumah aku lalu melihat tetangga ku di teras mondar mandir seperti orang bingung,lalu aku menghampirinya untuk menanyakan perihal keadaab Emak.
"Mas Emak kenapa?mana Emak?"
"Emak kamu tadi jatuh dari kamar mandi Man"
"Hahh...! Kok bisa Mas,terus mana Emak sekarang"
"udah dirumah sakit,ayo cepetan kita kesana karna saat jatuh dikamar mandi ibumu enggak bergerak sama sekali"
Aku berdua bersama tetangga ku pun bergegas kerumah sakit untuk segera melihat keadaan Emak,entah kenapa perasan ku bertambah cemas saat tau kronologi kejadian yang menimpa Emak ku,aku enggak mau kehilangan orang tua yang mendidik ku semenjak kecil untuk kedua kalinya setelah kepergian Bapak.
Sesampainya dirumah sakit aku lalu di arahkan suster untuk menuju keruangan dimana tempat Emak dirawat,sesampainya didepan kamar dimana Emak dirawat aku lalu membuka pintu masuk,aku begitu lemas saat pandangan ku tertuju kepada Emak yang terbaring enggak bergerak di atas ranjang.
"Maakkk...,Emak enggak apa apa kan,bangun Mak,ini anak mu Mak"ujar ku menangis sembari berusaha membangun kan beliau
"Maaf Mas,Pak mohon untuk jangan mengganggu pasien dulu,mohon bersabar dokter yang akan menangani nya nanti"
"tapi ibu ku enggak apa apa kan Sus?tolong jawab"
"maaf Mas,saya belum bisa memastikan keadaan Ibunya Mas,sebelum dokter datang,tolong Masnya bisa keluar dulu agar pasien tidak terganggu"
"udah Man kita keluar dulu,bener kata susternya Emak kamu jangan diganggu"ujar tetangga ku membujuk diriku
Aku pun akhirnya keluar sambil sesekali menengok kebelakang berharap Emak bergerak dan memanggilku,namun itu semua hanya angan semata karna ibu masih dalam posisi seperti pertama aku melihatnya.
Aku berdiri di pintu sembari menempelkan wajah ku di kaca dengan lirih aku berucap "Makk..bangun Mak...jangan tinggalin Salman sendiri"
"sabar Man,terus doakan Emak supaya enggak terjadi apa apa dengan Beliau"
"Mas siapa yang nyebab kan Emak seperti ini?"tanya ku
"aku enggak tau Man,yang aku tau ada beberapa orang datang kerumahmu salah satunya ponakan Alm.Bapakmu siapa namanya aku lupa"
"pepet maksud mu?"selidik ku
"aahhh iyah itu si pepet yang dulu pernah tinggal dirumah mu saat kamu pergi dari rumah"
"terus dia ngapain Mas?dia ngapain kerumah?"ujarku setengah memaksa
"yang aku dengar cuman suara ribut ribut aja entah apa yang Emak dan Pepet perdebatkan"
"sekarang pepet dimana Mas jawab!"aku mulai emosi
"sabar kamu jangan gegabah dulu,inget kondisi Emak mu sekarang"
"enggak bisa!! Jawab Mas dimana Pepet!"bentak ku
"tadi setelah berdebat dengan Emak mu dia pergi kearah rumah orang tua alm.Bapak"
Setelah mendengar penuturan dari tetanggaku akhirnya aku bergegas berlari keluar dari rumah sakit,menuju kerumah untuk mencari sesuatu yang bisa ku pergunakan untuk menghabisi Pepet,aku sudah enggak perduli kelak bakal masuk penjara,karna dirinya lah yang menyebab kan Emak ku begini.
Saat mendapatkan sebuah parang panjang aku lalu mengambilnya,dan pergi kearah dimana pepet singgah,saat tepat di muka rumah orang tua Alm.Bapak aku lalu berjalan dan berteriak "PEETT...LU DIMANA?? KELUAR LU BANGS*T"
Saat mendengar teriakan ku pintu pun terbuka,ketika melihat yang membuka ternyata pepet,aku lalu berlari seraya mengangkat parang bersiap untuk membacoknya namun keburu dirinya sudah menutup pintu.
"PRANK...PIYAR PIYAAARR"parang aku arah kan ke kaca rumah ortu Alm.Bapak
Karna tak kudapati pepet keluar dari pintu depan aku mencoba berjalan kebelakang rumahnya dan ku lihat pepet berlari dari arah belakang rumah,aku pun berlari menyusulnya sembari mengangkat parang ingin menebas badannya,namun hanya mengenai sedikit goresan di bajunya yang robek terkena sabetan parang ku.
"TOLOOONG...TOLONGGG..."Teriak pepet hingga membuat tetangga sekitar rumah ortu Alm.Bapak pada keluar termasuk Pak RT
"BUUGGHH ARRGGH..."teriak pepet yang terjatuh karna tersandung batu
"ampun Man ampun jangan bacok Gua"ujarnya meminta ampun padaku
"dasar iblis laknat Lu harusnya mati aja dari dulu"ujar ku lalu mengangkat parang ku dan ingin membelah kepalanya namun tangan ku sudah keburu di tangkap oleh beberapa warga setempat
"udah man sabar sabar...istighfar,nyebut"ujar warga yang menyabarkan ku
"enggak bisa,dialah penyebab Emak ku sekarang masuk rumah sakit,dia harus menanggung ini semua"ujar ku yang berusaha melepaskan cekngkraman tangan warga yang mengunci tangan ku
Akhirnya parang yang aku pegang lepas dari pegangan ku dan beberapa warga yang memegang ku pun melepaskan ku,namun keburu pepet sudah melarikan diri,rasa kesal karna tidak mendapatkan apa yang aku ingin kan membuat ku terduduk menangis,
Dengan berjalan sempoyongan aku kembali kerumah sakit dimana Emak dirawat,sesampainya dirumah sakit akhirnya aku diizinkan masuk kekamar Emak karna Beliau sudah siuman,dan yang paling membuat ku sedih adalah ternyata Emak terkena struk dibagian kanan beliau dari muka sampai kaki enggak bisa digerakin.
"Makk..."sapa ku dengan suara pelan
"MMaann...?"sahut Emak yang sedikit susah berbicara
"iyah Mak ini Salman,Emak gimana keadaannya Mak?"
"eemmmak ba..baiik Nnakk,maaffin Emak yyahh Nak"jawab Emak sembari terbata bata
"maaf buat apa Mak?Emak enggak salah apa apa kok,kenapa meminta maaf sama Salman"ujar ku seraya memeluk tangannya
Dengan tergagap Emak menceritakan bahwa pepet datang kerumah untuk mengusir Emak karna rumah yang kami tempati serta tanahnya sudah dijual olehnya karna semasa Alm.Bapak masih hidup dan kondisi beliau sakit dengan tega surat tanah dirampas dan di balik nama menjadi nama Orang tua Alm.Bapak dan otomatis ketika rumah dijual uangnya akan di bagi rata oleh saudara Alm.Bapak yang berjumlah 4 orang.
Dengan alasan Bapak sudah wafat jadi pepet beserta adik adik Bapak hanya memberikan setengah dari uang hasil penjualan rumah tersebut kepada Emak,bukan masalah uang yang emak pikirkan namun rumah yang di jual ini banyak tersimpan kenangan bersama Alm.Bapak jadi sangat berat ketika Emak tau kalau rumah tersebut akan terjual.
2 hari kemudian aku berdiri tepat didepan rumah ku dan menyaksikan alat berat menghancurkan rumahku,rumah yang selama ini menjadi tempat tinggal ku yang aku bersama alm.Bapak dan Emak bernaung didalamnya selama puluhan tahun,rumah yang di bangun oleh Alm.Bapak dengan susah payah kini rata dengan tanah...
"loh Anda bener bener sudah memikirkannya Mas?tunjangan yang akan diberikan serta gaji untuk karyawan yang di mutasi padahal lumayan lho"ujar Site Manager
"Saya tahu itu Pak,namun bagi saya keluarga adalah yang paling penting dalam hidup saya saat ini"
Site Manager tersebut tersenyum kepadaku lalu berdiri dan menepuk bahuku sembari berkata "pilihan yang bijak,pilihan Anda mengingatkan saya sewaktu pertama kali masuk di perusahaan ini,dan ketika itu saya memilih dimutasi dari pada memikirkan keluarga saya akhirnya hanya penyesalan yang saya terima karna saat ini saya jauh dari keluarga,yah semoga pilihan Mas Salman terbaik untuk Mas Salman dan semoga mendapatkan pekerjaan yang lebih baik lagi setelah disini"
"terimakasih Pak,saya pamit dulu"ujar ku seraya menjabat tangannya lalu keluar dari ruangannya
Aku berjalan pelan keluar dari kantor sembari membathin "Maaffin anakmu Mak,maaffin aku San mungkin keputusan ku saat ini akan merugikan kalian dan akan mengubah semua rencana ku namun aku memilih untuk resign karna aku sayang kalian berdua,kalian adalah harta yang berharga bagiku dari pada uang dan tunjuangan yang menggiurkan untukku"
Malam harinya aku duduk berdua dengan Emak lalu surat pengunduran diriku aku tunjukan ke Emak.
"maaffin aku Mak telah mengecewakan Emak"ucap ku lirih
Saat Emak membaca surat tersebut aku tatap wajahnya,ternyata Beliau malah tersenyum lalu berucap "sebenernya Emak saat menandatangi surat izin yang kamu kasih itu juga terpaksa,Emak berharap kamu kerja disini aja meski gaji sedikit Emak enggak apa apa yang penting bisa liat kamu"
"Emak seriusan enggak kecewa?"ujar ku
"iyah,dan dengan surat ini Emak semakin yakin kalau Anak Emak emang bener bener sayang sama Emak
""Alhamdulillah,makasih Mak udah mendukung keputusan dari ku,doakan Salman supaya dapat kerjaan yang lebih bagus dari sebelumnya yah Mak"ujar ku sembari menciumnya
"iyah pasti emak doakan kok"seraya mengusap rambut ku
"kalau Arsanti gimana Mak?"
"udah enggak usah mikirin aku Mas,aku sama jawabannya seperti Emak"ujar Arsanti yang keluar dari pintu dapur sembari menghidangkan teh kepadaku
"tapi kamu tau kan gaji di sini kecil daripada di tambang?"
"aku enggak perduli gaji Mas,yang aku harapkan kamu tetap disini menemani ku,kita ulang lagi usaha yang sudah kita rencanakan dari awal yah"sembari memeluk lengan ku
"tuh denger Nak,jarang jarang ada wanita sesabar dan sepengertian kayak Arsanti,dan Emak harap kamu tetap semangat yah mencari kerja disini,calon istri yang baik adalah yang mau berusaha dari Nol bersama calon suaminya bukan mau ketika banyak duit aja"
"iyah Mak,berarti enggak salah kan Salman milih dia
""iyah yang penting sekarang kamu cari kerja dulu,uang buat nikah masih kamu simpen kan?"
"masih kok Mak"
"yaudah tuh duit disempen jangan dipake pokoknya saat kamu udah kerja dapet beberapa bulan baru deh nikah sama Arsanti"
"iyah Mak,doakan yah moga enggak lama panggilan kerjanya di tempat lain"
"aamiin"jawab Emak
Setelah itu Emak pergi meninggalkan kami berdua untuk melanjutkan aktifitasnya menonton sinetron,sedangkan aku dan Arsanti berdua di ruang tamu.
"kamu bener enggak pernah menyesal aku sudah keluar dari dunia pertambangan?"
"sama sekali enggak Mas,aku malah seneng kok karna waktu kebersamaan kita makin terjalin berbeda ketika Mas kerja di tambang pas aku tidur mas udah berangkat,pulang pas aku ngantuk"
"makasih yah kamu sudah ngertiin aku,jujur tanpa dukungan mu dan Emak entah aku mungkin akan depresi menghadapi masalah ini"
"udah selayaknya aku terus mendukungmu mas,aku yakin kok Allah selalu bersama hambaNya yang sabar,dan aku yakin kelak rencana kita akan benar benar terwujud
""aamiin"ucap ku lalu mencium rambutnya yang harum
"oia Mas aku izin pulang yah pas liburan semester ini,maklum kangen sama Mas Andre dan Alfian dirumah"
"oh yaudah pulang aja,nitip salam aja yah buat Kak Fatimah bilang maaf enggak bisa hadir di pesta pernikahan mereka karna aku juga pas lagi training kerja kemaren"
"iyah Mas entar aku salamin deh"
3 hari setelah Arsanti pergi untuk pulang menemui Mas dan adiknya aku disibukkan kembali mencari pekerjaan kesana kemari,puluhan surat lamaran kerja aku masukan kebeberapa perusahaan yang dekat dengan rumah ku hingga ke banjarmasin,namun tak satu pun lamaran pekerjaan ku direspon dikarnakan pengalaman kerja ku bukan di bagian yang perusahaan ingin kan hingga mereka mengabaikannya.
Saking letihnya diriku berputar putar di kota yang berjuluk seribu sungai akhirnya aku sempatkan untuk mampir sejenak di mesjid terbesar di kota tersebut yang berseberangan dengan sungai martapura.
"DERRTT...DERRRT...DERRRTTT"Tiba tiba hp ku bergetar tanda ada telpon masuk,aku bergegas mengeluarkannya dari kantong celanaku berharap dapat panggilan kerja,saat melihat di layar hp ku ternyata yang menelpon adalah tetangga sebelah rumah.
"Ada apa yah?kok tumben tetangga ku menelpon ku?"bathin ku
"halo Man,kamu dimana?"ucap tetangga ku yang sepertinya lagi gelisah
"aku di banjarmasin Mas,ada apa yah kok tumben nelpon?"
"cepetan pulang sekarang juga,Ibu mu Man,ibumu..."
"Emak kenapa Mas?"aku mulai cemas
"TUT..TUT..TUT.."tiba tiba telpon terputus
"dammit...!!!"umpat ku,aku pun mencoba lagi menghubungi tetangga ku namun nihil telponnya malah enggak aktif
Karna rasa cemas yang berlebihan aku bergegas menyalakan motor Arsanti lalu melajukan nya kearah jalan pulang,di hati ku sudah enggak karuan rasa berharap enggak terjadi sesuatu apapun terhadap Emak "Ya Allah jaga lah ibu ku,jauhkan lah beliau dari segala macam mara bahaya"bathin ku sembari berdoa
Sesampainya dirumah aku lalu melihat tetangga ku di teras mondar mandir seperti orang bingung,lalu aku menghampirinya untuk menanyakan perihal keadaab Emak.
"Mas Emak kenapa?mana Emak?"
"Emak kamu tadi jatuh dari kamar mandi Man"
"Hahh...! Kok bisa Mas,terus mana Emak sekarang"
"udah dirumah sakit,ayo cepetan kita kesana karna saat jatuh dikamar mandi ibumu enggak bergerak sama sekali"
Aku berdua bersama tetangga ku pun bergegas kerumah sakit untuk segera melihat keadaan Emak,entah kenapa perasan ku bertambah cemas saat tau kronologi kejadian yang menimpa Emak ku,aku enggak mau kehilangan orang tua yang mendidik ku semenjak kecil untuk kedua kalinya setelah kepergian Bapak.
Sesampainya dirumah sakit aku lalu di arahkan suster untuk menuju keruangan dimana tempat Emak dirawat,sesampainya didepan kamar dimana Emak dirawat aku lalu membuka pintu masuk,aku begitu lemas saat pandangan ku tertuju kepada Emak yang terbaring enggak bergerak di atas ranjang.
"Maakkk...,Emak enggak apa apa kan,bangun Mak,ini anak mu Mak"ujar ku menangis sembari berusaha membangun kan beliau
"Maaf Mas,Pak mohon untuk jangan mengganggu pasien dulu,mohon bersabar dokter yang akan menangani nya nanti"
"tapi ibu ku enggak apa apa kan Sus?tolong jawab"
"maaf Mas,saya belum bisa memastikan keadaan Ibunya Mas,sebelum dokter datang,tolong Masnya bisa keluar dulu agar pasien tidak terganggu"
"udah Man kita keluar dulu,bener kata susternya Emak kamu jangan diganggu"ujar tetangga ku membujuk diriku
Aku pun akhirnya keluar sambil sesekali menengok kebelakang berharap Emak bergerak dan memanggilku,namun itu semua hanya angan semata karna ibu masih dalam posisi seperti pertama aku melihatnya.
Aku berdiri di pintu sembari menempelkan wajah ku di kaca dengan lirih aku berucap "Makk..bangun Mak...jangan tinggalin Salman sendiri"
"sabar Man,terus doakan Emak supaya enggak terjadi apa apa dengan Beliau"
"Mas siapa yang nyebab kan Emak seperti ini?"tanya ku
"aku enggak tau Man,yang aku tau ada beberapa orang datang kerumahmu salah satunya ponakan Alm.Bapakmu siapa namanya aku lupa"
"pepet maksud mu?"selidik ku
"aahhh iyah itu si pepet yang dulu pernah tinggal dirumah mu saat kamu pergi dari rumah"
"terus dia ngapain Mas?dia ngapain kerumah?"ujarku setengah memaksa
"yang aku dengar cuman suara ribut ribut aja entah apa yang Emak dan Pepet perdebatkan"
"sekarang pepet dimana Mas jawab!"aku mulai emosi
"sabar kamu jangan gegabah dulu,inget kondisi Emak mu sekarang"
"enggak bisa!! Jawab Mas dimana Pepet!"bentak ku
"tadi setelah berdebat dengan Emak mu dia pergi kearah rumah orang tua alm.Bapak"
Setelah mendengar penuturan dari tetanggaku akhirnya aku bergegas berlari keluar dari rumah sakit,menuju kerumah untuk mencari sesuatu yang bisa ku pergunakan untuk menghabisi Pepet,aku sudah enggak perduli kelak bakal masuk penjara,karna dirinya lah yang menyebab kan Emak ku begini.
Saat mendapatkan sebuah parang panjang aku lalu mengambilnya,dan pergi kearah dimana pepet singgah,saat tepat di muka rumah orang tua Alm.Bapak aku lalu berjalan dan berteriak "PEETT...LU DIMANA?? KELUAR LU BANGS*T"
Saat mendengar teriakan ku pintu pun terbuka,ketika melihat yang membuka ternyata pepet,aku lalu berlari seraya mengangkat parang bersiap untuk membacoknya namun keburu dirinya sudah menutup pintu.
"PRANK...PIYAR PIYAAARR"parang aku arah kan ke kaca rumah ortu Alm.Bapak
Karna tak kudapati pepet keluar dari pintu depan aku mencoba berjalan kebelakang rumahnya dan ku lihat pepet berlari dari arah belakang rumah,aku pun berlari menyusulnya sembari mengangkat parang ingin menebas badannya,namun hanya mengenai sedikit goresan di bajunya yang robek terkena sabetan parang ku.
"TOLOOONG...TOLONGGG..."Teriak pepet hingga membuat tetangga sekitar rumah ortu Alm.Bapak pada keluar termasuk Pak RT
"BUUGGHH ARRGGH..."teriak pepet yang terjatuh karna tersandung batu
"ampun Man ampun jangan bacok Gua"ujarnya meminta ampun padaku
"dasar iblis laknat Lu harusnya mati aja dari dulu"ujar ku lalu mengangkat parang ku dan ingin membelah kepalanya namun tangan ku sudah keburu di tangkap oleh beberapa warga setempat
"udah man sabar sabar...istighfar,nyebut"ujar warga yang menyabarkan ku
"enggak bisa,dialah penyebab Emak ku sekarang masuk rumah sakit,dia harus menanggung ini semua"ujar ku yang berusaha melepaskan cekngkraman tangan warga yang mengunci tangan ku
Akhirnya parang yang aku pegang lepas dari pegangan ku dan beberapa warga yang memegang ku pun melepaskan ku,namun keburu pepet sudah melarikan diri,rasa kesal karna tidak mendapatkan apa yang aku ingin kan membuat ku terduduk menangis,
Dengan berjalan sempoyongan aku kembali kerumah sakit dimana Emak dirawat,sesampainya dirumah sakit akhirnya aku diizinkan masuk kekamar Emak karna Beliau sudah siuman,dan yang paling membuat ku sedih adalah ternyata Emak terkena struk dibagian kanan beliau dari muka sampai kaki enggak bisa digerakin.
"Makk..."sapa ku dengan suara pelan
"MMaann...?"sahut Emak yang sedikit susah berbicara
"iyah Mak ini Salman,Emak gimana keadaannya Mak?"
"eemmmak ba..baiik Nnakk,maaffin Emak yyahh Nak"jawab Emak sembari terbata bata
"maaf buat apa Mak?Emak enggak salah apa apa kok,kenapa meminta maaf sama Salman"ujar ku seraya memeluk tangannya
Dengan tergagap Emak menceritakan bahwa pepet datang kerumah untuk mengusir Emak karna rumah yang kami tempati serta tanahnya sudah dijual olehnya karna semasa Alm.Bapak masih hidup dan kondisi beliau sakit dengan tega surat tanah dirampas dan di balik nama menjadi nama Orang tua Alm.Bapak dan otomatis ketika rumah dijual uangnya akan di bagi rata oleh saudara Alm.Bapak yang berjumlah 4 orang.
Dengan alasan Bapak sudah wafat jadi pepet beserta adik adik Bapak hanya memberikan setengah dari uang hasil penjualan rumah tersebut kepada Emak,bukan masalah uang yang emak pikirkan namun rumah yang di jual ini banyak tersimpan kenangan bersama Alm.Bapak jadi sangat berat ketika Emak tau kalau rumah tersebut akan terjual.
2 hari kemudian aku berdiri tepat didepan rumah ku dan menyaksikan alat berat menghancurkan rumahku,rumah yang selama ini menjadi tempat tinggal ku yang aku bersama alm.Bapak dan Emak bernaung didalamnya selama puluhan tahun,rumah yang di bangun oleh Alm.Bapak dengan susah payah kini rata dengan tanah...
khodzimzz dan 2 lainnya memberi reputasi
3
![Kesunyian Menjadi Teman Terbaik [TAMAT]](https://s.kaskus.id/images/2017/10/29/8075495_201710290532550523.jpg)