Kaskus

Story

sikodir.kodirAvatar border
TS
sikodir.kodir
(Horror true story) Berawal dari penasaran hingga menjadi fatal
(Horror true story) Berawal dari penasaran hingga menjadi fatal

Prolog

heningkan cipta sejenak utk para pahlawan kita yg berjuang dan mempersembahkan kemerdekaan NKRI.

Quote:


Halo agan dan sista penghuni kaskus khususon di forum SFTH. Perkenalkan, nama gw Fadli Arya Putra (tentunya nama ada yg gw samarkan). Sebelumnya gw jg curcol di forum H2H, tp kali ini gw ingin berbagi kisah nyata yg gw jalani dan alami selama ini. Kenapa gw ngasih cover seperti gambar diatas?? Karena ada hubungannya dengan perjalanan hidup gw dan mengubah hidup gw (jauh dari agama). Kisah ini awal di mulai 16 tahun yg lalu. Atau lebih tepatnya di awal tahun 2001 hingga sekarang belum selesai. Semua berawal dari rasa penasaran hingga menjadi fatal. Mohon maaf jika tulisan dan bahasa gw amburadul. Karena gw bukan penulis. Disini gw hanya ingin berbagi kisah, berharap tidak ada yg mengalaminya selain gw. Jd gw mohon kaskuser yg membaca kisah nyata gw ini dengan bijak dan jgn asal nge-judge. Dan bagi yg kenal gw cukup diem aja.

*Nb : selama gw masih bisa update berarti gw masih selamat/hidup. Gw janji enggak bakalan kentang. Dan mohon tinggalkan jejak! emoticon-Cool


Quote:


side story
Quote:


cerita Diponegoro (cerita sampingan)
Quote:
Diubah oleh sikodir.kodir 06-12-2017 11:13
ayamnirvvana306Avatar border
al.galauwiAvatar border
ueki19Avatar border
ueki19 dan 34 lainnya memberi reputasi
33
773.3K
1.9K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.7KAnggota
Tampilkan semua post
sikodir.kodirAvatar border
TS
sikodir.kodir
#78
mereka ada disini
Di daerah tempat tinggal gw makin malem makin rame. Banyaknya motor mau pun mobil silih berganti melewati tiap rumah yg ada di daerah ini. Para pengunjung yg berdatangan kesini rata2 mencari teman kencan yg sesuai kriteria nya dan pas harga di kantongnya. Tak jarang para wanita disini yg menjajakan diri seringkali menyapa dan menggoda mengharapkan datangnya rupiah dari para tamu yg berhasil diajaknya bermain kuda kuda'an.

"Mampir mas.." Atau "mas main yuk" kalimat tersebut sangat familiar terdengar di telinga gw. Hal itu sudah menjadi lumrah kalau tempat tinggal agan di pemukiman lokalisasi.

Pada malem hari itu sekitar jam 10 maleman. lagi asik2nya gitaran di depan rumah, focus gw beralih dari gitar ke tamu yg berdiri di depan pagar rumah dan menyapa gw.

"Mas.." Panggil ke gw dengan pelan

"Wah rejeki nih malem2 gini di samperin cewek" gw berkata dlm hati. Tumben2an ada cewek main ke rumah. kira2 berumur 25th nilai body 8, face 9, rambut hitam panjang, tinggi badan kurang lebih 158, bj 0, hj 0, fj 0. Kl yg penilaian ketiga nya bercanda gan emoticon-Ngakak

"Nyari siapa mbak?" Tanya gw sambil berjalan nyamperin mau bukain pintu pagar rumah.

"Mas fadli..?" Dengan suara yg datar menanyakan apakah benar gw yg di maksud.

"Iya benar mbak, mbak nya siapa?" Jawab gw sambil memperhatikan dari atas kebawah.karena gw ngerasa enggak mengenalinya.

"Mari mbak masuk.." Gw mempersilahkan masuk karena takut di lihat tetangga ntar dikira barang baru.

Gw melangkah terlebih dahulu ke arah pintu rumah dengan posisi mbak tamu ini berjalan dibelakang gw. Tangan kanan gw meraih gagang pintu rumah hendak membukanya,

"Masuk mbak..? Mbak?" Gw saat itu agak kaget! Karena begitu menoleh kebelakang, mbak yg ikut berjalan dibelakang gw td hilang!

"Oalah asu ki jek yahmene kok yo ono2 wae!" Umpat gw yg menyadari mbak tamu td hilang.

Walaupun baru jam 10an malam tp saat itu rasanya udah merinding. Heran saja, di lingkungan yg penuh maksiat gini kok ya ada makhluk ghaib yg iseng menampakan wujudnya dengan wujud manusia. Dan baru itu jg gw di liatin di lingkungan rumah. Lebih herannya lg dia tau nama gw. Bergegas gw langsung masuk rumah.

"yang digoyang digoyang yang...dangdut..dangdut..." Hp berbunyi ada panggilan dari andi. Kurang lebih nada dering panggilan masuk hp gw begitu.

"Halo..gmn bro?" Sapa gw lewat tlp

"Ovuvwevwevwe onyetenyevwe ugwemubwem ossas" suara andi terdengar pelan tidak jelas.

"Ngomong'o sing jelas bro ojo alon2" perintah gw ke andi.

"Pintu kamarku kan tak bukak, lha ak jek turonan. Tiba2 ada cewek yg masuk kamarku terus masuk kamar mandi kamarku. Aku ngomong alon2 soale wonge jek ning kamar mandi." Suara andi terdengar mulai jelas.

"Weleh2...damput! Rejeki kok dipamer2ke" jawab gw yg heran dengan penjelasan andi.

"Rejeki ndasmek! Iki ak orak pernah ngerti wonge dan orak kenal wonge! Mudeng ora maksudku?" Kali ini suara andi makin jelas lg.

"Sek sek sek..." Gw berpikir sejenak yg andi maksud, dan gw langsung paham!

"Metu seko kamar saiki! Mlayu! Cepet!" Perintah gw ke andi yg tidak dijawab olehnya. Begitu selesai ngomong tlp keputus.

Rasanya masih enggak percaya mendengar cerita andi melalui tlp. Tp dari suaranya keliatan ketakutan. Dan yg bikin gw makin yakin beberapa menit yg lalu jg gw mengalami hal yg serupa.

"Sialan! Ada apa ini sebenarnya?!" Maki gw sendiri. Gw langsung inget ketiga sahabat gw lainnya si doni, beni dan farid. Langsung saat itu jg gw menghubungi satu persatu.

Tlp menyambung tp tidak ada respon dari mereka


Farid

"Brukk"

"Opo kui?" Aku terbangun dari kasur karena mendengar ada benda yg jatuh di balik pintu kamar.

Segera badan yg udah males2an ini beranjak dari kasur menuju pintu untuk mencari tau benda apa yg jatuh. Setelah pintu terbuka aku tidak menemukan benda yg terjatuh.

"Uda malem gini bapak blm pulang toh" ucap aku yg berdiri di daun pintu mendapati ruangan keluarga yg gelap. Hanya lampu meja makan dan teras rumah yg nyala. Kembali aku menutup pintu kamar karena tdk ada yg aneh.

"Sebentar sebentar...di rumah ini kan gak ada perempuan. Cuma aku, mas anjar dan bapak. Tapi kok td di kursi ruang keluarga..?" Aku mencoba menebak nebak karena sekilas td aku melihat seperti ada perempuan yg duduk di kursi posisi nya membelakangiku.

Kali ini aku mencoba membuka pintu sedikit, melalui celah kecil aku mengintip, memastikan apa yg aku lihat salah.

"Jangan mengintip hihi"

"Brak! Klek!" Secepat mungkin aku menutup pintu dan mengunci.karena yg aku lihat bukan lah manusia.aku masih bersandar dibalik pintu kamar.suara dia menertawakanku masih bisa ak dengar.

"Allah akbar!" Mulut ini terucap takbir karena sekarang aku melihat sosok perempuan td bergelantungan diatas ternit kamarku.walaupun hanya setengah badan tp membuatku pingsan.

"Dek dek bangun dek" terdengar suara yg aku kenal membangunkan aku.

"Kalau tidur jangan di lantai,bahaya buat kesehatan" bapak menasehatiku sambil membantu aku berdiri.

"Ini bapak kan??" Tanyaku ke bapak yg membuat bapak jd heran sendiri.

"Kamu knp dek? Iya ini bapak" terlihat bapak mengernyitkan dahi karena heran dengan pertanyaanku.

"Gak apa2 pak,cm td aku kira mimpi" jawabku bohong.karena aku tdk mau bpk tau.

"Bapak mau bangunin kamu karena bentar lg subuhan. Dan kl tidur jangan di lantai, gak baik buat kesehatan!" Kembali bapak menasehatiku dan mengingatkan bentar lg shalat subuh.

"Gila! Aku pingsan cukup lama ternyata" kataku dlm hati. Pandanganku kembali tertuju ke atas ternit kamar, lampu kamar menyala terang tidak ada yg menggantung diatas sana.


Doni

"Hah tumben2an neh fadli malem2 gini tlp. Ganggu orang lg pdkt aja neh!" Gerutu gue dalam hati.

"Siapa don yg tlp? Kok enggak diangkat?? Hayooo.." Vina menggoda gue dengan manis.

"Ah enggak apa2, cuman temen. Ntar aja aku tlp balik" jawab gue ke vina sambil memasukan hp ke tas selempang.

Tak terasa malam mingguan sama vina waktu berputar sangat cepat. Mungkin sebentar lg gue melepas gelar jomblo. Sahabat2 jomblo gue harus gue kenalin vina di waktu yg tepat.

"Vin ini kita balik aja ya, soalnya ini udah malam" gue nunjukin jam tangan di vina menunjukan jam 23.00wib

"Yuk, ini aku jg udah di sms nyokap disuruh balik" jawab vina sambil membaca sms dari org tua nya.

"Masuk tol aja don lebih cepet" niat gue jg mau masuk tol biar lebih cepet. Kl posisi dari tembalang mau balik arah jerakah memang lebih cepat lewat tol.

"Ini kok musiknya gak mau nyala ya?" Ucap gw yg heran masukin kaset tp gak nyala2. Vina jg ikut memperhatikan.

"Eh focus sama jalan don. Itu depan ada truck. Salip ke kanan aja" perintah vina yg coba gue ikutin.

Sebelum menyalip gue lihat spion kanan memastikan jalur kanan benar2 kosong. Lampu sen kanan gue nyalakan walaupun belakang kosong. Setelah menyalip truck gue lihat lg spion. Tp kali ini yg gue lihat spion kecil yg di dalam mobil.

"Anj*ng!" Umpat gue kaget! Gue melihat di jok belakang ada dua penumpang tambahan. Kaki dan tangan rasanya langsung lemes, keringat dingin langsung mengalir, dan gue enggak bisa focus nyetir.

"Don ada apa?? Berhenti dulu!" Vina mulai ikutan panik.

Gue nyoba ngelirik dikit dari kaca tengah kedua sosok tersebut masih ada. Dengan wujud muka pucat dan darah mengalir dari kepala nya. Bau anyir pun enggak terhindarkan. Rasanya perut mual dan pengen muntah. Vina yg lihat gelagat gue ngelirik dari kaca tengah jd tau. Vina ikut lihat dari kaca tengah dan menoleh langsung kebelakang.

"Ada apa don? Enggak ada apa2 kok di belakang. Jangan bikin gue takut ah"

Dan tebakan gue benar vina tidak melihat kedua sosok tersebut. Hanya gue yg bisa lihat kehadirannya. Kaca spion kecil yg di dalam mobil gue arahkan ketas supaya gue enggak bisa lihat mereka berdua lg. Posisi nyetir badan agak gue condongkan ke depan. Dengan sisa kekuatan yg ada gue nyoba tetap kuat kuatin nyetir. Vina yg liat gue ikut ketakutan tp ketakutan dia enggak beralasan dan enggak jelas. Karena vina tidak melihat dan merasakan kehadiran dua penumpang yg duduk dibelakang.

Sampai di pintu tol pembayaran krapyak, gue langsung cepat2 turun dari mobil. Petugas tol yg di dalam loket pembayaran ikut bingung melihat tingkah gue turun dari mobil dengan panik, muka pucat, plus keringetan.

"Heh mas, ono opo?" Petugas tol menanyakan heran.

"Gak ono opo2 pak. Cuma ngecek ban belakang kyknya bocor" jawab gue yg posisi berdiri disamping loket tol sambil melihat jok belakang dari kaca samping mobil untuk memastikan masih ada apa enggak.

"Ojo mandek ning kene mas. Nek meh minggir ning kono cedak kantor" bapak petugas menunjukan tempat yg dimaksud untuk berhenti/menepi kl mau ngecek2 kondisi mobil.

Setelah memastikan tidak ada, gue langsung bayar tol dan cabut. Tidak jd menepi seperti yg dianjurkan pak petugas tol. Vina melihat gue makin aneh. Gue enggak peduli reaksi vina ke gue mau gmn, yg penting gue dan vina selamet.


Beni

Dari jendela kamar yg lupa aku tutup, aku melihat ternyata langit masih gelap gulita.
jam menunjukan pukul 22.30wib entah jam berapa aku ketiduran yg jelas rasa kantuk ku sepertinya hilang. aku melangkah keluar kamar karena sekarang aku merasakan perutku lapar.

"tumben udah pada tidur" kataku yg posisi berdiri di anak tangga paling atas melihat lantai bawah gelap. hanya lampu tangga dan lampu akuarium ikan dibawah yg menyala.

"haduh...panganan kok wes dilebokke kulkas toh" gerutu ku karena makanan yg harusnya berada diatas meja makan sudah di masukan kulkas. dan aku paling males harus menghidangkan makanan kembali. males aja rasanya ribet.

aku lebih memilih keluar rumah untuk membeli makanan. lebih praktis, tinggal pesen, makan, bayar deh. selesai perkara. aku kembali naik keatas kamar ganti celana dan ambil dompet. begitu turun dari tangga, aku mencium bau busuk yg teramat sangat menyengat indera penciuman hidungku. bau nya ngalahin bau batang tikus yg mati. bahkan kl ada 4 tikus yg mati sekaligus, bau batangnya masih kalah dengan yg aku bau malam ini.

'perasaan aku ngentut wae yo ora" ucapku dalam hati sambil menutup hidung.

kunci motor sudah berada di tanganku, langkah kaki ku menuju garasi. ternyata lampu garasi belum diganti sama mas iwan (petugas bersih2 rumah). dalam kondisi gelap, aku coba memasukan kunci motor ke kontaknya. tapi tiba tiba bau busuk yg aku cium kini berubah menjadi bau wangi yg begitu menyengat. setelah standart samping aku naikan,

"kok motorku berat?" posisiku sudah diatas motor dan mau mundur dengan dibantu kedua kaki.

"gubrak..! pyaarrr..!!" aku seketika jatuh dari motor. tubuh ini tak kuat menahan beban. karena aku melihat sepintas dari spion motor ada yg memboncengku duduk dibelakang.

"aduh..perih..." rintihku kesakitan karena motor yg menindihku. tp rasa sakit yg aku rasakan tak aku hiraukan. mengingat apa td yg duduk dibelakang motorku.

pandangan mata ini mencoba melihat kanan kiri tp tidak mendapatkan apa apa selain kegelapan.
aku mencoba berdiri dari motor yg menindihku. rasa sakit di perut dan kaki masih bisa ku rasakan. niat mau keluar nyari makan aku batalkan. karena luka di kaki ku ini harus diberi pengobatan terlebih dahulu. aku kembali masuk rumah.

"betadine ny dimana sih??" sambil menahan rasa perih darah yg mengalir dari kaki.

"Hihihi..."

terdengar ketawa kecil, lumayan pelan. aku melihat lihat sekitar dari mana sumber ketawa itu. ternyata... deg!!
sosok wanita yg tidak begitu tua, muka sangat pucat, dengan bibir berdarah, kini dia tersenyum menatapku dari samping jendela dapur tempat aku berdiri.

pandanganku langsung aku alihkan. karena jarak ku dengannya sangat lah dekat! tidak lebih dari satu meter! aku memilih lari dari dapur, walaupun luka di kaki ku ini belum sempat aku obatin. aku lari menuju kamarku.

"syukur enggak diikutin" ucapku dengan nafas yg tersenggal senggal karena panik.

pintu kamar aku buka, dan...aku melihat sosok wanita td sekarang sedang duduk di ranjang kamarku. pandangannya tertuju arahku. menatapku tajam, kemudian menertawakanku dengan kencang!

aku berjalan mundur dari daun pintu, menutup mata dan menutup telinga.aku berteriak sekencang kencangnya membangunkan seisi rumah. adek perempuanku mencoba menyadarkanku.

"mas mas ada apa?' tanya wina adekku

"pergi kamu jgn ganggu aku!" umpatku yg kupikir sosok perempuan td lah yg di depanku.

"pah mah ini kak beni kenapa?" kedua orang tua ku yg melihat kondisi di lantai dua langsung ikut menghampiriku. setelah memastikan bahwa mereka adalah keluargaku, aku menjadi agak sedikit tenang.
Diubah oleh sikodir.kodir 31-10-2017 11:46
destinationbali
safefem
safefem dan destinationbali memberi reputasi
3
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.