- Beranda
- Stories from the Heart
Alonim
...
TS
akridaus277
Alonim
Spoiler for Cover:
Quote:
Daftar isi :
Part 1 - Frontline Syndrome
Part 2.1 - Rabu Malam, Malam Game Online
Part 2.2 - Traktiran
Part 2.3 - Untuk Thor
Part 2.4 - Restoran Pizza
Part 2.5 - Wild Tanngrisnir
Part 3.1 - Tentangku
Part 3.2 - "Rekan Satu Tim"
Part 3.3 - Gadis yang Hilang
Part 3.4 - Tukang Pos
Part 3.5 - 405 atau 406
Part 4.1 - Merasa Unik
Spoiler for Credit:
Diubah oleh akridaus277 04-03-2018 14:01
anasabila memberi reputasi
1
5.4K
32
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
akridaus277
#31
Part 3.5 - 405 atau 406
Quote:
“Jadi begitu ceritanya,” aku menutup ceritaku tentang semua kejadian selama ini dari mulai surat yang Rani dan Aku temukan sampai Reza yang ingin bertemu dengan Sarah.
Perlu diketahui bahwa surat yang ditulis Sarah yang sekarang ada di tangankku berbeda dengan surat yang ditemukan Rani dan Aku di perpustakaan waktu itu. Tentu saja aku tidak memberitahu Sarah bahwa surat yang ditemukan Rani dan Aku adalah surat yang berbeda dengan surat yang ditulis Sarah. Aku memberitahu Sarah bahwa Rani dan Aku menemukan suratnya lalu menceritakan kondisi Reza yang murung ketika mengingat-ingatnya kemudian Aku berusaha membantu Reza untuk bertemu dengannya.
“Yap sekarang waktunya kita berangkat, aku sudah terlambat sepuluh menit dari jadwal berkumpul yang direncanakan,” ucapku.
“Lakukan tugasmu dulu sebagai tukang pos, aku akan menyusul,” ucap Sarah sambil memalingkan wajah yang penuh rasa bersalahnya.
“Oke oke, kereta yang kami gunakan akan berangkat pukul 08.30, aku tunggu di stasiun dan jangan lupa kau harus membayarku ya, hahaha,” ujarku sambil melambaikan tangan meninggalkan Sarah.
Seseorang tidak bisa mengerti pasti tentang beban dan tekanan yang dirasakan orang lain, tapi seseorang bisa tahu pasti bahwa orang lain sedang tertekan dari ekspresinya. Itulah ekspresi yang dipancarkan Sarah. Sarah saat ini pasti sedang merasakan tekanan yang berasal dari kesalahan dirinya sendiri yang berdampak kepada orang lain yang tidak lain dan tidak bukan adalah Reza, orang yang dia sayangi sendiri. Lalu mengapa aku tidak menghiburnya? Menghibur orang dalam keadaan seperti itu dengan mengatakan itu bukan kesalahannya sama saja mengatakan kebohongan. Sebagai tukang posnya aku hanya bisa melaksanakan tugasku dengan dengan baik dengan mengirimkan surat ini kepada penerimanya.
“Driittt..... Driiitttt.....” handphoneku bergetar.
“Halo,” ucapku sambil menempelkan handphoneku ke telinga.
“Kau di mana !?!?” teriak Sofi melalui saluran telepon.
“Berisik!” balasku kesal.
“Kalau kau tidak cepat akan kuhajar ka....” teriak Sofi terputus karena aku tutup.
Saat ini aku sudah berada di dalam stasiun. Aku pergi menuju ruang tunggu dan melihat Reza, Rian, Rani, dan Sofi sedang duduk menunggu kedatanganku. Penampilan mereka yang sungguh seperti orang-orang yang ingin berpergian jauh membuatku ingin tertawa. Tas ransel dan tas koper yang penuh dan berat dengan setia menemani mereka menunggu kedatanganku. Sedangkan isi tasku kosong dan tidak berat sama sekali. Ditambah lagi kacamata hitam yang terpasang pada wajah Rian seakan-akan membuatnya seperti turis dadakan semakin menggelitik perutku.
“Rian, kau ini sedang apa? Pffftttt” ucapku sambil menahan tawa.
“Tentu saja aku sudah siap menghadapi ibu kota,” ucap Rian sambil mengangkat dagunya sombong.
“Tooooommmmiiiii !!!!” teriak Sofi.
“Akan kuhajar kau, Tom, berani-beraninya kau memotong ucapanku,” teriak Sofi lagi.
“Sudah sudah, Sof, yang penting sekarang Tomi sudah datang,” ucap Rani menenangkan Sofi.
“Oh iya, Rez, ini surat dari Sarah yang aku temukan,” ucapku sambil menyerahkan surat Sarah kepada Reza.
Reza menerima surat yang kuberikan dan langsung membukanya. Mereka membacanya bersama-sama. Sedangkan aku hanya duduk di depan mereka sambil memperhatikan mereka. Kulihat senyuman Reza kembali lagi selama ia membaca surat itu. Sementara Rani setelah membaca surat itu sekilas kemudian ia memandangku dengan tatapan tajam.
“Syukurlah, Rez, ternyata Sarah tidak bermaksud meninggalkanmu begitu saja,” ucap Rian sambil menepuk pundak Reza.
“Mengharukan, hiks hiks,” ucap Sofi sedih.
“Tom, temani aku membeli roti di dekat ATM,” ucap Rani.
“Kalau begitu aku yang memesan tiket ya,” ucap Rian.
“Oh ya masalah tiket jangan dipesan dulu sampai aku dan Rani kembali,” ucapku.
“Apa kau yakin, Tom? Lima belas menit lagi keretanya akan berangkat,” tanya Reza.
“Ya,” jawabku.
Aku dan Rani pergi menuju toko roti di dekat ATM. Aku sudah menduga hal ini akan terjadi karena sewaktu Reza, Rian, dan Sofi membaca surat dia tidak ada henti-hentinya memandangku tajam. Ini pasti hal yang sangat mengejutkan bagi Rani begitu juga denganku karena surat untuk Reza yang ditulis oleh gadis masa lalunya, Sarah, itu benar-benar ada.
“Tom, jelaskan padaku semuanya,” ucap Rani saat kami berada di depan toko roti.
“Kau sebenarnya tidak ingin membeli roti, kan?” tanyaku.
“Jelaskan, Tom,” balas Rani singkat.
“Baiklah,” balasku.
“Pertama, Reza bilang kalau dia dan Sarah saling pinjam meminjam buku fisika edisi empat jadi aku memeriksa di komputer perpustakaan buku nomor berapa yang mereka pinjam. Kedua, aku menemukan bahwa buku fisika edisi empat yang mereka pinjam bernomor 406 dan persis seperti yang Reza bilang bahwa di dekat beberapa nomor halaman buku itu terdapat logo ¬x-men. Ketiga, aku memeriksa buku yang sama dengan nomor 405 karena terdapat coretan lengkung pada angka 5 nya sehingga membuat angka 405 menjadi seperti angka 406. Keempat, di dalamnya aku menemukan sebuah amplop yang bergambar logo x-men berwarna putih dan hitam yang merupakan ciri khas karakter x-men yang disukai Sarah, yaitu Storm. Kemungkinan Sarah mengambil buku nomor 405 yang ia kira nomor 406 karena ia saat itu mungkin sedang gelisah dan bingung harus berbuat apa kepada Reza mengenai rencana kepindahannya ke Jakarta. Kelima, aku menghubungi Rico yang cukup populer di kalangan gadis sekolah kita untuk meminta bantuannya menghubugi teman Sarah yang berada di sekolah agar ia memberikan kontak Sarah yang bisa dihubungi. Keenam, aku mendapat kontak Sarah dan menghubunginya dengan sedikit mengancam. Ketujuh, kau akan lihat sendiri nanti,” jelasku.
“Jadi begitu, syukurlah,” balas Rani sambil tersenyum.
“Senyuman itu lagi, sebenarnya apa yang ia rencanakan?” gerutuku dalam hati.
“Ayo kita kembali,” ajaknya.
Kami berbalik hendak menuju ke tempat teman-teman berkumpul tanpa membawa sepotong rotipun karena tujuan kami ke sini memamng bukan untuk membeli roti. Sesaat setelah kami berbalik kami dikejutkan oleh kemunculan Rian.
“Loh? Kalian belum membeli rotinya?” tanya Rian.
“Eh iya itu mmm...” Rani bingung harus berkata apa.
“Kami baru saja sampai dan Rani bingung harus membeli berapa oleh karena itu kami menunggu di depan toko dulu,” ucapku.
“Aku juga mendadak ingin membeli roti di toko ini, kata orang-orang roti di toko ini cocok untuk menemani perjalanan,” ucap Rian.
“Kalau begitu ayo masuk, Rani juga pasti sudah memutuskan berapa roti yang harus dibelinya,” ajakku.
Aku, Rani, dan Rian membeli roti bersama-sama di toko itu. Aku dan Rian hanya membeli sepotong roti sedangkan Rani membeli tiga potong untuk Sofi, Reza, dan dirinya sendiri. Setelah membeli roti kami kembali ke tempat Reza dan Sofi menunggu. Waktu sudah menunjukkan tujuh menit sebelum kereta berangkat ketika kami sampai di tempat itu. Reza mulai gelisah kembali karena sampai saat ini kami belum memesan tiket sementara Sofi hanya mengomeliku terus menerus.
“Sudah saatnya kita berangkat,” ucap Reza tegas.
Mau tidak mau kami mengikutinya melangkah menuju loket pemesanan tiket. Tas ransel sudah tergantung erat pada tubuh kami dan tas koper yang sudah siap ditarik menuju ibu kota menunjukkan tekad bulat kami melakukan perjalanan ini.
“Tunggu! Reza!” teriak seorang gadis.
Reza berbalik menghadap ke arah asal suara yang memanggilnya. Sedangkan gadis yang memanggilnya berlari menuju ke arahnya dan langsung memeluknya.
“Maafkan aku, maafkan aku, Rez!” ucap gadis itu sambil menangis memeluk Reza.
“Sarah?” tanya Reza terhean-heran dalam pelukan gadis itu.
“Iya, ini aku, Sarah,” jawab gadis itu yang ternyata Sarah sambil melepas pelukannya lalu memandang Reza.
“Terimakasih, Sar,” ucap Reza tersenyum sambil mengelus kepala Sarah.
“Aww!” aku berteriak kecil ketika Rian menepuk pundakku agak keras.
“Eeehhhh !?!?” Sofi terheran-heran melihat kejadian itu.
0
