- Beranda
- Stories from the Heart
The Entire Story of You.
...
TS
Ripcoy
The Entire Story of You.
Diubah oleh Ripcoy 28-12-2017 05:53
anasabila memberi reputasi
1
11.5K
74
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Ripcoy
#2
Page 2
Gw hampir lupa bilang tempat dimana gw bersekolah. Gw bersekolah di Sekolah Menengah Kejuruan, atau yang biasa orang sebut SMK. Sekolah tersebut mencakup 4 mata jurusan. Perhotelan, Pariwisata, Boga, dan Busana. Kebetulan gw ada dijurusan perhotelan. Tadinya gw mau masuk jurusan Boga, tapi karena waktu mau daftar ke jurusan Boga antriannya paling panjang, jadi gw urungkan dan memilih antrian yang lebih pendek, perhotelan.
Awal tahun 2011.
Suatu hari gw sama temen gw sedang berjalan selepas sepulang sekolah.
"Ki, lu balik mau kemana? kita ke pondo yu?"tanya seorang teman gw.
Pondo adalah sebutan untuk tempat dimana kami biasa ngumpul, tempatnya nggak jauh dari sekolah, kira-kira cuma 15 menit kalo jalan kaki, kalo mau naik Busway kebetulan belum bisa, soalnya tempatnya diujung komplek, deket ojek pengkolan.
"Nggak lah, gw sibuk boy." jawab gw datar.
"Nih ya gw kasitau, lu tau lagu Kisah Kasih Di Sekolah?" tanya Boy penasaran.
"Iye tau kenapa?" jawab gw.
"Nah itu lu tau, harusnya lu ga perlu gw kasitau, SOLIDARITAS KI SOLIDARITAS!" kata dia berapi-api.
"Apa hubunganya?" tanya gw penasaran.
"Pokonya lu, gw, dan teman-teman pondo di sekolahan, adalah solid!"
Dia emang kalo ngomong selalu nggak nyambung, karena terbiasa, jadi gw biarin. Diujung jalan didekat pertigaan ada 3 abang-abang yang keliatan sudah setengah sadar lagi duduk-duduk ditengah jalan. Gw curiga, tapi gw coba positif thinking "Paling cuma orang-orang dari Dinas Kebersihan". Tanpa melupakan sopan santun, gw melewati mereka sambil bilang permisi. Tapi belom selesai kami lewat, ujung celana Boy udah dipegang sama salah satu abang-abang tadi sambil ditarik-tarik.
"BAGI DUIT!!" gertak dia, ke Boy.
Gw sama Boy saling liat-liatan. Gw melihat sekitar, ternyata disini cuma ada 3 abang-abang tadi sama kami berdua, tidak ada orang lain. Gw mulai berfikir, kalo gw mau lolos dari 3 orang ini, paling tidak salah satu dari kami harus bisa nahan 2 dari mereka. Gw jelas nggak mungkin, karena gw bogel. Tapi mungkin Boy bisa, karena selain postur dia yang lebih besar dan tinggi dari gw, dia juga keliatannya lebih besar dari mereka bertiga.
Mata gw mulai bergerak-gerak seperti memberi kode ke Boy, memberi tanda lirikan kearah mereka, yang berarti, "Ayo kita sikat!" Boy mengangguk pelan, tanda mengerti.
"Ngapain lu berdua liat-liatan! Cepet duit!" gertak salah satu dari mereka, sambil mencoba mencekik Boy.
Tiba-tiba Boy menepis cekikan tadi hingga membuat cengkraman tangan abangnya terlepas. Gw bersiap. Sekarang saatnya, pikir gw dalam hati.
"Bentar-bentar!" kata Boy berteriak.
"Kenapa?!" tanya gw setengah teriak.
"Iya, Kenapa!" tanya salah seorang dari mereka.
Kami semua sedang dalam posisi sama-sama saling siap untuk bertarung waktu itu, lalu gw memandang kearah Boy.
Boy seperti sedang mencoba untuk merogoh isi kantung dari dalam celanannya, seperti mencari sesuatu. Gw nggak tau apa yang dia cari, tapi gw penasaran, apakah silet, cutter, peniti, atau jarum? Semua bentuk-bentuk benda tajam yang mungkin akan membantu kami melawan mereka sudah berada diangan-angan gw.
Tiba-tiba Boy menghentikan pencariannya, melihat tajam kearah kami semua, lalu menunjuk ke arah gw, "Palak dia aja bang! Gw udah cek, gw nggak ada duit, lagian gw juga tadi dijajanin dia pas istirahat!", katannya sembari mundur dengan anggun jelita.
Gw diem.
Abangnya diem.
Boynya lari.
***
Awal tahun 2011.
Suatu hari gw sama temen gw sedang berjalan selepas sepulang sekolah.
"Ki, lu balik mau kemana? kita ke pondo yu?"tanya seorang teman gw.
Pondo adalah sebutan untuk tempat dimana kami biasa ngumpul, tempatnya nggak jauh dari sekolah, kira-kira cuma 15 menit kalo jalan kaki, kalo mau naik Busway kebetulan belum bisa, soalnya tempatnya diujung komplek, deket ojek pengkolan.
"Nggak lah, gw sibuk boy." jawab gw datar.
"Nih ya gw kasitau, lu tau lagu Kisah Kasih Di Sekolah?" tanya Boy penasaran.
"Iye tau kenapa?" jawab gw.
"Nah itu lu tau, harusnya lu ga perlu gw kasitau, SOLIDARITAS KI SOLIDARITAS!" kata dia berapi-api.
"Apa hubunganya?" tanya gw penasaran.
"Pokonya lu, gw, dan teman-teman pondo di sekolahan, adalah solid!"
Dia emang kalo ngomong selalu nggak nyambung, karena terbiasa, jadi gw biarin. Diujung jalan didekat pertigaan ada 3 abang-abang yang keliatan sudah setengah sadar lagi duduk-duduk ditengah jalan. Gw curiga, tapi gw coba positif thinking "Paling cuma orang-orang dari Dinas Kebersihan". Tanpa melupakan sopan santun, gw melewati mereka sambil bilang permisi. Tapi belom selesai kami lewat, ujung celana Boy udah dipegang sama salah satu abang-abang tadi sambil ditarik-tarik.
"BAGI DUIT!!" gertak dia, ke Boy.
Gw sama Boy saling liat-liatan. Gw melihat sekitar, ternyata disini cuma ada 3 abang-abang tadi sama kami berdua, tidak ada orang lain. Gw mulai berfikir, kalo gw mau lolos dari 3 orang ini, paling tidak salah satu dari kami harus bisa nahan 2 dari mereka. Gw jelas nggak mungkin, karena gw bogel. Tapi mungkin Boy bisa, karena selain postur dia yang lebih besar dan tinggi dari gw, dia juga keliatannya lebih besar dari mereka bertiga.
Mata gw mulai bergerak-gerak seperti memberi kode ke Boy, memberi tanda lirikan kearah mereka, yang berarti, "Ayo kita sikat!" Boy mengangguk pelan, tanda mengerti.
"Ngapain lu berdua liat-liatan! Cepet duit!" gertak salah satu dari mereka, sambil mencoba mencekik Boy.
Tiba-tiba Boy menepis cekikan tadi hingga membuat cengkraman tangan abangnya terlepas. Gw bersiap. Sekarang saatnya, pikir gw dalam hati.
"Bentar-bentar!" kata Boy berteriak.
"Kenapa?!" tanya gw setengah teriak.
"Iya, Kenapa!" tanya salah seorang dari mereka.
Kami semua sedang dalam posisi sama-sama saling siap untuk bertarung waktu itu, lalu gw memandang kearah Boy.
Boy seperti sedang mencoba untuk merogoh isi kantung dari dalam celanannya, seperti mencari sesuatu. Gw nggak tau apa yang dia cari, tapi gw penasaran, apakah silet, cutter, peniti, atau jarum? Semua bentuk-bentuk benda tajam yang mungkin akan membantu kami melawan mereka sudah berada diangan-angan gw.
Tiba-tiba Boy menghentikan pencariannya, melihat tajam kearah kami semua, lalu menunjuk ke arah gw, "Palak dia aja bang! Gw udah cek, gw nggak ada duit, lagian gw juga tadi dijajanin dia pas istirahat!", katannya sembari mundur dengan anggun jelita.
Gw diem.
Abangnya diem.
Boynya lari.
Diubah oleh Ripcoy 17-12-2017 21:26
0
