- Beranda
- Stories from the Heart
(Horror true story) Berawal dari penasaran hingga menjadi fatal
...
TS
sikodir.kodir
(Horror true story) Berawal dari penasaran hingga menjadi fatal

Prolog
heningkan cipta sejenak utk para pahlawan kita yg berjuang dan mempersembahkan kemerdekaan NKRI.
Quote:
Halo agan dan sista penghuni kaskus khususon di forum SFTH. Perkenalkan, nama gw Fadli Arya Putra (tentunya nama ada yg gw samarkan). Sebelumnya gw jg curcol di forum H2H, tp kali ini gw ingin berbagi kisah nyata yg gw jalani dan alami selama ini. Kenapa gw ngasih cover seperti gambar diatas?? Karena ada hubungannya dengan perjalanan hidup gw dan mengubah hidup gw (jauh dari agama). Kisah ini awal di mulai 16 tahun yg lalu. Atau lebih tepatnya di awal tahun 2001 hingga sekarang belum selesai. Semua berawal dari rasa penasaran hingga menjadi fatal. Mohon maaf jika tulisan dan bahasa gw amburadul. Karena gw bukan penulis. Disini gw hanya ingin berbagi kisah, berharap tidak ada yg mengalaminya selain gw. Jd gw mohon kaskuser yg membaca kisah nyata gw ini dengan bijak dan jgn asal nge-judge. Dan bagi yg kenal gw cukup diem aja.
*Nb : selama gw masih bisa update berarti gw masih selamat/hidup. Gw janji enggak bakalan kentang. Dan mohon tinggalkan jejak!

Quote:
side story
Quote:
cerita Diponegoro (cerita sampingan)
Quote:
Diubah oleh sikodir.kodir 06-12-2017 11:13
ueki19 dan 34 lainnya memberi reputasi
33
774.2K
1.9K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
sikodir.kodir
#7
Awal di mulai (Hotel di daerah semarang atas)
Gw lupa tgl dan bulannya kapan tp gw inget betul hari sabtu siang jam 13.00wib sepulang sekolah, tahun 2001. Gw masih mengenakan pakaian putih abu2 seragam khas sekolah SMA nongkrong di warung deket sekolah sama beberapa temen. Gw, andi, doni, farid dan beni.
"Don ntar malem maen yuk?" Ajak gw ke doni yg lagi menikmati segelas es teh di siang hari itu. Andi, farid dan beni pun berharap hal yg sama. Maklum kita berlima ini satu kelas dan kebetulan menyandang gelar yg sama, yaitu jomblo. Temen2 dikelas juluki kami genk pandawa jomblo. Ngenes gan..ketika malam minggu tiba, bukannya apel lawan jenis tp malah ngumpul batangan semua.
"Yaudeh ntar kumpul dimana? Pakek mobil lu ya ben, gantian!" Jawab doni yg agak sedikit protes karena seringkali setiap keluar bareng2 selalu pakek mobilnya. Beni mau tidak mau kali ini yg membawa mobil. Gw dan temen2 yg lain cm tertawa melihat reaksi beni yg agak sedikit kesal.
"Emang kita nanti mau kemana seh?" Tanya beni kepada kita semua memastikan tujuannya. bagi beni membawa mobil keluar dari rumah merupakan perkara tidak mudah, karena sulitnya ijin meminjam mobil ke orang tua nya melebihi sulitnya ujian akhir nasional.
Gw mengusulkan ke temen2 semua kl malam minggu ini gmn kita hunting ke tempat2 horror gitu gmn? Apa kalian enggak penasaran?? Kl cm sekedar nongkrong atau nonton uda terlalu mainstream. Reaksi temen2 mendengar penjelasan dan ajakan gw bermacam macam. Farid dan beni langsung menolak!
"Gila lo! Ke tempat serem kyk gitu ngapain coba?" Gerutunya dan diikuti farid yg setuju dengan beni. Sementara andi dan doni membujuk mereka berdua, gw masih terdiam menikmati rokok yg barusan gw nyalain. Alasan doni membujuk beni untuk ikut cukup jelas, doni keberatan kl tiap kali keluar harus pakek mobilnya. Kl andi? Andi setuju dengan pemikiran gw anti mainstream!
"Yaudeh ntar mlm keluar pakek mobil gw. Bensin tp pt2 yak!" Ucap gw yg mencoba mengerti kondisi beni yg sebenarnya keberatan utk membawa mobil. Dengan wajah penuh kebahagiaan beni setuju ikut. Emang setan nih anak, alasan enggak mau bawa mobil aja pakek acara enggak setuju dengan usulan gw hunting ke tempat horror. Farid yg tadinya tdk setuju mau gak mau harus ikut. Pada saat itu juga kita semua langsung briefing persiapan nanti malam. Kami saling membagi tugas. Tugas gw bawa mobil, tugas doni bawa handycam & tripod, tugas beni bawa beberapa kamera (kebetulan doi punya kamera paling bagus diantara kita semua), tugas farid & andi bawa senter dan logistik.
Tujuan kita kemana? Tujuan kita pd malam hari itu ke bekas hotel di salah satu bukit kota semarang yg sudah tidak terpakai dan tidak terawat sama sekali.
"Lho di portal? Benar masuknya dari sini?" Tanya gw ke temen2 yg lain. Tidak ada jawaban satu kata pun dari temen2. Mereka semua menatap ke arah portal yg sudah nampak berkarat menutupi jalan masuk ke hotel yg masih beberapa meter ke dalam. Gelapnya malam, pohon2 tinggi di hadapan kami, jalan yg sudah tidak layak dilewati dan tidak ada cahaya sama sekali. Hanya lampu sorot dari mobil gw yg menerangi pandangan di depan kami ini. Gw turun dari mobil mencoba untuk membuka portal yg tertutup. Doni sempat melarang gw turun dari mobil, tapi atas dasar kesetiaan kawan doni ikut turun membantu gw membuka portal. Sementara temen2 yg lain sama sekali tidak turun dari mobil sedan berwarna hitam gw. "Ah dasar penakut!" Gerutu gw sambil mencoba membuka portal. Doni yg melihat gw hanya tersenyum.
Dengan perlahan mobil gw masuk melewati portal yg sudah terbuka. Tidak ada kata yg terucap dari temen2. Mereka semua masih diam. Kecuali doni, yg duduk di depan sudah mulai sibuk merekam perjalanan ini melalui handycam nya. Wiper langsung gw nyalakan karena hujan gerimis mulai turun menambah suasana malam ini makin menjadi mencekam.
"Stop!" Ucap doni mencoba menghentikan laju mobil ini. Gw pun langsung rem mendadak karena gw jg tau apa yg doni lihat melalui handycam nya. Di depan mobil gw berdiri seorang anak kecil yg kira2 berusia 8-10 tahun memberi peringatan ke kami untuk berhenti. Tanpa pikir panjang walaupun di luar kondisi hujan gerimis gw, doni, andi dan beni langsung turun dari mobil menghampiri bocah yg berdiri di depan mobil gw. Kecuali farid yg takut turun dari mobil.
"Adek siapa?" Sambil agak berjongkok gw mencoba bertanya ke bocah yg sekarang posisinya ada di depan gw persis. Doni disamping gw hanya diam sambil merekam. andi dan beni terlihat memastikan apakah bocah yg di depan kita ini bener2 manusia apa bukan. Entah sejak kapan keberanian kedua temen gw ini terkumpul. "Mas2 nya kl mau masuk ke dalam, mobilnya parkir disini!" Perintah adek ini menjelaskan kl mobil tidak bisa masuk sampe dalam lg. Kami semua saat itu juga mengambil peralatan di dalam mobil. Terpaksa mobil harus gw parkir tidak sampe masuk halaman hotel. Farid?? Mau tidak mau jg harus turun. Segera langkah ini mengikuti bocah yg ada di depan kami. "Namaku anggi" ucap bocah yg ada di depan tanpa melihat kami. Sepertinya dek anggi sudah paham betul maksud kedatangan kami setelah melihat peralatan yg kami bawa.
Kami semua terdiam, di depan kami sekarang berdiri bangunan hotel yg lumayan besar dan luas tp sudah tidak terawat dan sudah tidak layak di huni. Akar2 dari pohon besar di sekeliling hotel terlihat sudah merambat ke bangunan hotel. Sungguh sudah tidak layak disebut bangunan. Maklum konon ini hotel sudah ditinggalkan puluhan tahun yg lalu.
"Aku tinggal disini sama keluarga dan beberapa org lainnya di bangunan sudut itu" dek anggi menunjuk bangunan yg dimaksud. Bangunan tempat teduh mereka dari panasnya siang dan dinginnya malam yg di maksud adalah bekas pos satpam yg terlihat masih layak. beberapa orang memandang kami ramah. Tidak banyak memang, hanya sekitar 6 orang yg ada di pos satpam yg terlihat masih layak bangunannya.
"Oalah iki gelandangan fad" bisik andi ke gw yg memperhatikan kondisi dek anggi dan orang2 yg berada di pos satpam hotel. Gw hanya diam mendengar bisikan andi.
Tidak membutuhkan waktu lama kami saling mempersiapkan diri. Beni membawa dua kamera yg satunya diberikan ke farid utk ikut mendokumentasi selama kegiatan disini, doni memberikan satu handycam ke andi, dan gw membawa dua tripod yg akan digunakan nanti. Dek anggi yg melihat kegiatan kami langsung paham betul dan menunjukan tempat aura yg paling negatif di bangunan hotel ini. Langkah kaki ini mulai memasuki bangunan hotel ini. Juru kunci kami? Bocah yg masih berumur 8-10 tahun ini juru kunci kami! Keberaniannya melangkah yg paling depan. Seharusnya kami malu! Tp karena tidak mengenal baik tempat ini maka kami lebih memilih dibelakangnya. Alasan untuk pembenaran yg sebenarnya pd ketakutan.
"Disini pusatnya!" Ucap dek anggi yg berhenti di lantai dua. Terlihat ruangan ini mungkin dulunya restoran hotel ini. Karena masih sisa beberapa meja bundar yg sudah tidak terpakai. Di bagian kanan restoran atau arah ke utara hotel ada jendela yg sudah tidak nampak kacanya. Dari jendela tersebut dibawah terlihat ada kolam renang yg di dalamnya tumbuh alang2 dan tumbuhan liar. Di bagian kiri restoran atau arah selatan hotel ada beberapa ruangan kosong yg tidak berpintu. Gw langsung memasang tripod tanpa menunggu perintah siapa pun di kedua sudut ruangan. Andi dan doni langsung mengerti memasang handycam yg mereka pegang di kedua tripod. Farid dan beni mengambil beberapa gambar di dalam ruangan dan dari jendela restoran kearah luar hotel dan kolam renang.
"Ambil gambarnya jgn cuma sekali tp beberapa kali jepretan!" Perintah gw ke farid dan beni. Mereka berdua paham apa yg gw maksud.
"Terus ini handycam kita tinggal apa gmn?" Tanya doni sambil memastikan rekaman yg sedang berjalan merekam di handycam tetap focus. Begitu pula dengan andi.
"Kita tinggal sebentar" mendengar jawaban gw, doni agak ragu utk meninggalkan handycam nya. Hal itu wajar karena takut kl kedua handycam nya hilang. Tp gw dan andi menyakinkan ke doni kl kita enggak akan jauh dari tempat ini.
Kaki ini melangkah menaiki anak tangga menuju lantai 3. Lantai 1 lobi dan kamar hotel, lantai 2 restoran dan kamar hotel, lantai 3 kamar hotel dan dua aula yg tidak begitu besar. Dalam hati berkata entah kenapa hotel ini ditinggalkan. Kl di lihat dari segi tempat, hotel ini punya lokasi strategis. Lokasi berada di atas bukit dan mendapatkan view kota semarang.
"Kalau kalian memang ada maka hadir lah. Kalian terusik dengan kedatangan kami? Mana penampakan kalian yg cuma ada di cerita2 orang doang!" Ucap andi menantang yg mungkin sudah berharap ada nya penampakan. Farid dan beni yg begitu mendengar ucapan andi dari belakang langsung nyelonong kedepan ketakutan. Gw hanya tertawa mendengar ucapan andi. Dan dari ucapan andi tidak butuh waktu lama kami semua mendapat jawaban.
"Brakkk..!!" Suara itu terdengar di lantai dua. Kami langsung segera turun ke lantai dua. Farid dan beni mencoba mencegah, gw tidak menghiraukannya. Gw, andi dan doni sudah berada di lantai dua. Kami bertiga melihat kedua tripodnya telah jatuh. Menyusul farid, beni dan dek anggi sudah bergabung di lantai dua.
"Ah mungkin cuma angin.." Ucap gw berpikir positif. Belum lama mulut gw berucap, doni dengan suara terbata2 ngomong "itu..itu lihat handycam dan tripodnya melayang" semua pandangan langsung tertuju kearah handycam yg di dekat jendela. Ya betul! Handycam dan tripodnya melayang kurang lebih satu meter dari lantai. Semua melihat pandangan itu terdiam. Mulut andi yg tadi berucap menantang sekarang berucap istighfar. Dek anggi yg tadinya melangkah paling depan dengan berani sekarang memeluk kaki gw dari belakang. Berharap yg di lihatnya bukan hal yg nyata.
"HIHIHIHIHIHIII....." Sungguh suara tertawa perempuan yg kami dengar membuat nyali kami saat itu lumpuh. Entah dari mana asalnya yg jelas kami semua mendengarnya. Sebenarnya saat itu gw pengen farid dan beni mengambil beberapa gambar dari kamera yg dipegangnya. Tp yg gw lihat farid dan beni sudah memejamkan mata terlihat mulutnya komat kamit membaca doa2.
"Brakkk..!" Handycam dan tripod yg tadi melayang sekarang jatuh. Suara tertawa yg membuat nyali ciut jg hilang. Gw langsung ambil itu handycam yg kondisi masih merekam dan tiba2 mati dengan sendirinya.
"Sialan!" Maki gw yg masih tidak percaya dengan apa yg gw lihat di handycam. Jam sudah menunjukan pukul dini hari. Dek anggi meminta ijin ke kami utk pulang ke pos satpam yg menjadi tempat tinggalnya. Kami semua ikut keluar dan menyudahi malam ini. Sesampainya di pos, bapak anggi masih belum istirahat. Menunggu kami dan tentunya menunggu buah hati nya yg dari td bersama kami.
"Gmn mas2nya sudah dpt yg di cari? Soalnya dari bawah sini td bapak melihat kearah lantai dua pd asik2 bercanda" ucap bapak dek anggi sambil menyuruh anaknya masuk ke dalam pos. Kami semua yg mendengar ucapannya heran. Apa yg diucapkan sama bapak nya dek anggi dengan kenyataan yg kami alami sangat lah berbeda. Atau mungkin mereka sudah terbiasa??? Ah sudah lah...
Kami semua berpamitan dan tak lupa kami memberikan uang ke bapak dek anggi utk putra nya yg sudah menemani kami malam ini. Beberapa bungkus rokok jg kami tinggalkan.
Malam ini merupakan pengalaman pertama kami. Sepanjang perjalanan pulang gw jg melarang temen2 utk melihat hasil rekaman dan foto td. Esok harinya kami semua kaget setelah melihat hasilnya..!
"Don ntar malem maen yuk?" Ajak gw ke doni yg lagi menikmati segelas es teh di siang hari itu. Andi, farid dan beni pun berharap hal yg sama. Maklum kita berlima ini satu kelas dan kebetulan menyandang gelar yg sama, yaitu jomblo. Temen2 dikelas juluki kami genk pandawa jomblo. Ngenes gan..ketika malam minggu tiba, bukannya apel lawan jenis tp malah ngumpul batangan semua.

"Yaudeh ntar kumpul dimana? Pakek mobil lu ya ben, gantian!" Jawab doni yg agak sedikit protes karena seringkali setiap keluar bareng2 selalu pakek mobilnya. Beni mau tidak mau kali ini yg membawa mobil. Gw dan temen2 yg lain cm tertawa melihat reaksi beni yg agak sedikit kesal.
"Emang kita nanti mau kemana seh?" Tanya beni kepada kita semua memastikan tujuannya. bagi beni membawa mobil keluar dari rumah merupakan perkara tidak mudah, karena sulitnya ijin meminjam mobil ke orang tua nya melebihi sulitnya ujian akhir nasional.
Gw mengusulkan ke temen2 semua kl malam minggu ini gmn kita hunting ke tempat2 horror gitu gmn? Apa kalian enggak penasaran?? Kl cm sekedar nongkrong atau nonton uda terlalu mainstream. Reaksi temen2 mendengar penjelasan dan ajakan gw bermacam macam. Farid dan beni langsung menolak!
"Gila lo! Ke tempat serem kyk gitu ngapain coba?" Gerutunya dan diikuti farid yg setuju dengan beni. Sementara andi dan doni membujuk mereka berdua, gw masih terdiam menikmati rokok yg barusan gw nyalain. Alasan doni membujuk beni untuk ikut cukup jelas, doni keberatan kl tiap kali keluar harus pakek mobilnya. Kl andi? Andi setuju dengan pemikiran gw anti mainstream!
"Yaudeh ntar mlm keluar pakek mobil gw. Bensin tp pt2 yak!" Ucap gw yg mencoba mengerti kondisi beni yg sebenarnya keberatan utk membawa mobil. Dengan wajah penuh kebahagiaan beni setuju ikut. Emang setan nih anak, alasan enggak mau bawa mobil aja pakek acara enggak setuju dengan usulan gw hunting ke tempat horror. Farid yg tadinya tdk setuju mau gak mau harus ikut. Pada saat itu juga kita semua langsung briefing persiapan nanti malam. Kami saling membagi tugas. Tugas gw bawa mobil, tugas doni bawa handycam & tripod, tugas beni bawa beberapa kamera (kebetulan doi punya kamera paling bagus diantara kita semua), tugas farid & andi bawa senter dan logistik.
Tujuan kita kemana? Tujuan kita pd malam hari itu ke bekas hotel di salah satu bukit kota semarang yg sudah tidak terpakai dan tidak terawat sama sekali.
"Lho di portal? Benar masuknya dari sini?" Tanya gw ke temen2 yg lain. Tidak ada jawaban satu kata pun dari temen2. Mereka semua menatap ke arah portal yg sudah nampak berkarat menutupi jalan masuk ke hotel yg masih beberapa meter ke dalam. Gelapnya malam, pohon2 tinggi di hadapan kami, jalan yg sudah tidak layak dilewati dan tidak ada cahaya sama sekali. Hanya lampu sorot dari mobil gw yg menerangi pandangan di depan kami ini. Gw turun dari mobil mencoba untuk membuka portal yg tertutup. Doni sempat melarang gw turun dari mobil, tapi atas dasar kesetiaan kawan doni ikut turun membantu gw membuka portal. Sementara temen2 yg lain sama sekali tidak turun dari mobil sedan berwarna hitam gw. "Ah dasar penakut!" Gerutu gw sambil mencoba membuka portal. Doni yg melihat gw hanya tersenyum.
Dengan perlahan mobil gw masuk melewati portal yg sudah terbuka. Tidak ada kata yg terucap dari temen2. Mereka semua masih diam. Kecuali doni, yg duduk di depan sudah mulai sibuk merekam perjalanan ini melalui handycam nya. Wiper langsung gw nyalakan karena hujan gerimis mulai turun menambah suasana malam ini makin menjadi mencekam.
"Stop!" Ucap doni mencoba menghentikan laju mobil ini. Gw pun langsung rem mendadak karena gw jg tau apa yg doni lihat melalui handycam nya. Di depan mobil gw berdiri seorang anak kecil yg kira2 berusia 8-10 tahun memberi peringatan ke kami untuk berhenti. Tanpa pikir panjang walaupun di luar kondisi hujan gerimis gw, doni, andi dan beni langsung turun dari mobil menghampiri bocah yg berdiri di depan mobil gw. Kecuali farid yg takut turun dari mobil.
"Adek siapa?" Sambil agak berjongkok gw mencoba bertanya ke bocah yg sekarang posisinya ada di depan gw persis. Doni disamping gw hanya diam sambil merekam. andi dan beni terlihat memastikan apakah bocah yg di depan kita ini bener2 manusia apa bukan. Entah sejak kapan keberanian kedua temen gw ini terkumpul. "Mas2 nya kl mau masuk ke dalam, mobilnya parkir disini!" Perintah adek ini menjelaskan kl mobil tidak bisa masuk sampe dalam lg. Kami semua saat itu juga mengambil peralatan di dalam mobil. Terpaksa mobil harus gw parkir tidak sampe masuk halaman hotel. Farid?? Mau tidak mau jg harus turun. Segera langkah ini mengikuti bocah yg ada di depan kami. "Namaku anggi" ucap bocah yg ada di depan tanpa melihat kami. Sepertinya dek anggi sudah paham betul maksud kedatangan kami setelah melihat peralatan yg kami bawa.
Kami semua terdiam, di depan kami sekarang berdiri bangunan hotel yg lumayan besar dan luas tp sudah tidak terawat dan sudah tidak layak di huni. Akar2 dari pohon besar di sekeliling hotel terlihat sudah merambat ke bangunan hotel. Sungguh sudah tidak layak disebut bangunan. Maklum konon ini hotel sudah ditinggalkan puluhan tahun yg lalu.
"Aku tinggal disini sama keluarga dan beberapa org lainnya di bangunan sudut itu" dek anggi menunjuk bangunan yg dimaksud. Bangunan tempat teduh mereka dari panasnya siang dan dinginnya malam yg di maksud adalah bekas pos satpam yg terlihat masih layak. beberapa orang memandang kami ramah. Tidak banyak memang, hanya sekitar 6 orang yg ada di pos satpam yg terlihat masih layak bangunannya.
"Oalah iki gelandangan fad" bisik andi ke gw yg memperhatikan kondisi dek anggi dan orang2 yg berada di pos satpam hotel. Gw hanya diam mendengar bisikan andi.
Tidak membutuhkan waktu lama kami saling mempersiapkan diri. Beni membawa dua kamera yg satunya diberikan ke farid utk ikut mendokumentasi selama kegiatan disini, doni memberikan satu handycam ke andi, dan gw membawa dua tripod yg akan digunakan nanti. Dek anggi yg melihat kegiatan kami langsung paham betul dan menunjukan tempat aura yg paling negatif di bangunan hotel ini. Langkah kaki ini mulai memasuki bangunan hotel ini. Juru kunci kami? Bocah yg masih berumur 8-10 tahun ini juru kunci kami! Keberaniannya melangkah yg paling depan. Seharusnya kami malu! Tp karena tidak mengenal baik tempat ini maka kami lebih memilih dibelakangnya. Alasan untuk pembenaran yg sebenarnya pd ketakutan.
"Disini pusatnya!" Ucap dek anggi yg berhenti di lantai dua. Terlihat ruangan ini mungkin dulunya restoran hotel ini. Karena masih sisa beberapa meja bundar yg sudah tidak terpakai. Di bagian kanan restoran atau arah ke utara hotel ada jendela yg sudah tidak nampak kacanya. Dari jendela tersebut dibawah terlihat ada kolam renang yg di dalamnya tumbuh alang2 dan tumbuhan liar. Di bagian kiri restoran atau arah selatan hotel ada beberapa ruangan kosong yg tidak berpintu. Gw langsung memasang tripod tanpa menunggu perintah siapa pun di kedua sudut ruangan. Andi dan doni langsung mengerti memasang handycam yg mereka pegang di kedua tripod. Farid dan beni mengambil beberapa gambar di dalam ruangan dan dari jendela restoran kearah luar hotel dan kolam renang.
"Ambil gambarnya jgn cuma sekali tp beberapa kali jepretan!" Perintah gw ke farid dan beni. Mereka berdua paham apa yg gw maksud.
"Terus ini handycam kita tinggal apa gmn?" Tanya doni sambil memastikan rekaman yg sedang berjalan merekam di handycam tetap focus. Begitu pula dengan andi.
"Kita tinggal sebentar" mendengar jawaban gw, doni agak ragu utk meninggalkan handycam nya. Hal itu wajar karena takut kl kedua handycam nya hilang. Tp gw dan andi menyakinkan ke doni kl kita enggak akan jauh dari tempat ini.
Kaki ini melangkah menaiki anak tangga menuju lantai 3. Lantai 1 lobi dan kamar hotel, lantai 2 restoran dan kamar hotel, lantai 3 kamar hotel dan dua aula yg tidak begitu besar. Dalam hati berkata entah kenapa hotel ini ditinggalkan. Kl di lihat dari segi tempat, hotel ini punya lokasi strategis. Lokasi berada di atas bukit dan mendapatkan view kota semarang.
"Kalau kalian memang ada maka hadir lah. Kalian terusik dengan kedatangan kami? Mana penampakan kalian yg cuma ada di cerita2 orang doang!" Ucap andi menantang yg mungkin sudah berharap ada nya penampakan. Farid dan beni yg begitu mendengar ucapan andi dari belakang langsung nyelonong kedepan ketakutan. Gw hanya tertawa mendengar ucapan andi. Dan dari ucapan andi tidak butuh waktu lama kami semua mendapat jawaban.
"Brakkk..!!" Suara itu terdengar di lantai dua. Kami langsung segera turun ke lantai dua. Farid dan beni mencoba mencegah, gw tidak menghiraukannya. Gw, andi dan doni sudah berada di lantai dua. Kami bertiga melihat kedua tripodnya telah jatuh. Menyusul farid, beni dan dek anggi sudah bergabung di lantai dua.
"Ah mungkin cuma angin.." Ucap gw berpikir positif. Belum lama mulut gw berucap, doni dengan suara terbata2 ngomong "itu..itu lihat handycam dan tripodnya melayang" semua pandangan langsung tertuju kearah handycam yg di dekat jendela. Ya betul! Handycam dan tripodnya melayang kurang lebih satu meter dari lantai. Semua melihat pandangan itu terdiam. Mulut andi yg tadi berucap menantang sekarang berucap istighfar. Dek anggi yg tadinya melangkah paling depan dengan berani sekarang memeluk kaki gw dari belakang. Berharap yg di lihatnya bukan hal yg nyata.
"HIHIHIHIHIHIII....." Sungguh suara tertawa perempuan yg kami dengar membuat nyali kami saat itu lumpuh. Entah dari mana asalnya yg jelas kami semua mendengarnya. Sebenarnya saat itu gw pengen farid dan beni mengambil beberapa gambar dari kamera yg dipegangnya. Tp yg gw lihat farid dan beni sudah memejamkan mata terlihat mulutnya komat kamit membaca doa2.
"Brakkk..!" Handycam dan tripod yg tadi melayang sekarang jatuh. Suara tertawa yg membuat nyali ciut jg hilang. Gw langsung ambil itu handycam yg kondisi masih merekam dan tiba2 mati dengan sendirinya.
"Sialan!" Maki gw yg masih tidak percaya dengan apa yg gw lihat di handycam. Jam sudah menunjukan pukul dini hari. Dek anggi meminta ijin ke kami utk pulang ke pos satpam yg menjadi tempat tinggalnya. Kami semua ikut keluar dan menyudahi malam ini. Sesampainya di pos, bapak anggi masih belum istirahat. Menunggu kami dan tentunya menunggu buah hati nya yg dari td bersama kami.
"Gmn mas2nya sudah dpt yg di cari? Soalnya dari bawah sini td bapak melihat kearah lantai dua pd asik2 bercanda" ucap bapak dek anggi sambil menyuruh anaknya masuk ke dalam pos. Kami semua yg mendengar ucapannya heran. Apa yg diucapkan sama bapak nya dek anggi dengan kenyataan yg kami alami sangat lah berbeda. Atau mungkin mereka sudah terbiasa??? Ah sudah lah...
Kami semua berpamitan dan tak lupa kami memberikan uang ke bapak dek anggi utk putra nya yg sudah menemani kami malam ini. Beberapa bungkus rokok jg kami tinggalkan.
Malam ini merupakan pengalaman pertama kami. Sepanjang perjalanan pulang gw jg melarang temen2 utk melihat hasil rekaman dan foto td. Esok harinya kami semua kaget setelah melihat hasilnya..!
Diubah oleh sikodir.kodir 24-10-2017 09:23
donix91 dan 25 lainnya memberi reputasi
22