Kaskus

Story

setiawanariAvatar border
TS
setiawanari
Patahan Salib Bidadari
In the name of Allah, the beneficient, the merciful
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh


Patahan Salib Bidadari
Terimakasih untuk gambar sampulnya awayeye

Terimakasih Kaskus, khususnya untuk sub forum SFTH yang telah menyediakan tempat menampilkan sebuah cerita. Sebuah fasilitas yang akan saya gunakan untuk menulis dimulai dari hari ini hingga di hari-hari selanjutnya.

Terlepas dari nyata atau tidaknya cerita ini, adalah tidak terlalu penting karena sebagian dari kisah nyata dan sebagian dari imaginasi saya. Harapan saya tokoh-tokoh dalam cerita ini dapat menjadi inspirasi untuk para pembaca cerita yang saya tulis ini dapat menjadikan saya untuk terus berkreatifitas.

Mohon maaf jika materi dalam cerita ini nantinya ada kesalahan dan menyinggung pihak-pihak tertentu sekiranya nasihat, kritik dan saran dari agan/sista yang lebih berpengalaman selalu sangat saya harapkan.

Menemani istirahat untuk menghilangkan lelah setelah pulang kerja/sekolah/kuliah, atau saat sedang menunggu sesuatu mari kita baca ceritanya. Ditemani alunan musik dan segelas kopi/cokelat/susu/teh hangat kita kembali ke beberapa tahun yang lalu!!!.


PEMBUKA CERITA

Terpaku di dalam rasa cinta yang tak mungkin pudar, menanti cinta datang membawa arti sampai segenap organ ini berhenti.

Sore itu saat cuaca cerah di lantai 6 gedung akademisi yang melahirkan sarjana ekonomi terbaik aku termenung. Melamunkan manis, asam, asin dan pahitnya segala kehendak Tuhan yang dianugerahkan kepada salah satu ciptaanNya.

Manusia diberikan otak untuk berfikir dan menggunakan logika lalu diberikan hati untuk merasakan. Hati adalah malaikat sedangkan otak kadang menjadi iblis dan sangat sulit untuk mengontrolnya menjadi malaikat. Hati menjerit saat kita berbuat salah sedangkan otak adalah penyebab semua kesalahan yang dilakukan manusia. Malaikat dan iblis adalah gambaran dari manusia, sebagai simbol antara kebaikan dan kejahatan. Kebaikan tidak akan bersanding dengan kejahatan dan sebaliknya.

“Permisi Mas! Bisa pindah duduknya, lantainya mau di bersihkan!” Sapa seorang petugas cleaning service membuyarkan lamunanku.
“Oh, iya mas”. Jawabku sambil berlalu pergi menuju tempat parkir motor tepatnya dihalaman depan kampus.

Karamnya cinta ini
Tenggelamkanku diduka yang terdalam
Hampa hati terasa
Kau tinggalkanku meski ku tak rela
Salahkah diriku hingga saat ini
Kumasih mengharap
Kau tuk kembali………


Sore itu gerimis turun saat aku pulang, tak terasa sampai ditempat kos yang kebetulan hanya berjarak 10 menit dari kampus air hujan membasahi jaket jeans yang ku kenakan. Segera aku mengambil handuk dan membersihkan diri, bersiap untuk mengucapkan syukur kepada Yang Maha Kuasa. Dengan ritual sholat Ashar aku merasakan kedamaian yang tidak ada bandingannya, sebagai bentuk kepatuhan dan rasa syukur atas semua yang diberikan Tuhan baik itu berkah yang membuat hati senang maupun musibah sebagai ujian kepada hambanya agar menjadi sosok yang lebih kuat.

Waktunya istirahat, kurebahkan badan ini di kasur busa sebagai surga dunia yang paling indah, sambil memutar lagu menemaniku melepas lelah. Secangkir kopi hitam telah kusiapkan untuk menghangatkan suasana karena diluar hujan turun semakin deras. Kupandangi sebuah kalung berwarna emas berliontin salib yang bersanding dengan sebuah kalung perak berliontin lafaz Allah, tergantung dibawah poster foto Ibu Sundari Sukotjo tepat di tengah-tengah dinding kamar kosku. Masih menampakkan kilaunya meski kalung-kalung itu sudah hampir 4 tahun lamanya. Aku bangkit dari tempat tidur, meminum sedikit kopi hitam, sambil menarik nafas dalam sedalam yang aku mampu. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu di sore ini, ya aku merasakan suatu kerinduan yang luar biasa dengan pemilik kalung salib yang tergantung dikamarku, seorang yang sangat suka musik klasik, seseorang pecinta sepakbola, seseorang yang suka kopi hitam dan mungkin pernah mencintaiku walaupun tak pernah mengungkapkan sepatah katapun.

“Ya Tuhan hari ini aku kangen banget sama dia, meski tak sebesar kangen ku kepadaMu, tapi sungguh seolah-olah aku merasa sangat lemah dan sangat kehilangan. Hari ini tepat 4 bulan yang lalu dia beranjak pergi dari tempat ini, dia pergi untuk cita-citanya, untuk impiannya dan bodohnya aku belum sempat mengutarakan seluruh perasaanku kepadanya. Perbedaan keyakinanlah yang menghalangi, aku bahkan hanya bisa diam membisu saat ku ingin mengucapkan seluruh rasa cinta ini aku takut rasa cinta kepada makhluk ciptaanMu melebihi rasa cintaku padaMu. Tak kuasa air mata ini menetes, berusaha ku tahan tapi tak sanggup karena mungkin ini air mata rindu yang mencapai puncaknya.

Aku bukan seorang penulis tetapi hari ini tiba-tiba ingin sekali aku ingin sekali memainkan jariku di keyboard yang biasanya hanya kupakai untuk membuat tugas. Aku ingin menulis tentang dirimu tentang cerita kita, walaupun mungkin tidak berujung bahagia tidak apa karena mungkin dengan tulisan ini aku bisa mencurahkan segala isi hati dan kerinduanku kepada mu. Kenangan indah tentang hari-hari yang pernah kulalui dengan seorang bidadari yang telah merubah seluruh hidupku, meski meninggalkan perasaan yang terus menggantung entah sampai kapan. Bidadari yang datang di hidupku, menemaniku sejenak lalu pergi meninggalkan patahan salibnya di hidupku.


Mungkin suatu saat nanti
Kau temukan bahagia meski tak bersamaku
Bila nanti kau tak kembali
Kenanglah aku sepanjang hidupmu


Sekilas Gambar Tentang Aku
Harapan Sesuai dengan Kenyataan
Kerikil Kecil dan Awan yang Jauh
Pertemuan dengan Sahabat
Sepatu Mengawali Sebuah Impian
Dunia Kampus dan Teman Baru
Keluarga Kecil Bernama HALTE
Sesuatu Mengganggu Pesta Akhir Smester
Diantara Rasa Kagum dan Penasaran
Meluapnya Sebuah Emosi
Hubungan yang Semakin Dekat
Kegelisahan Menghadapi Perasaan yang Berbeda
Siang Menjadi Malam dan Sebaliknya
Perjalanan yang Semakin Indah

Momen Menggelikan dan Warna Kehidupan
Dilema Menghadapi Ungkapan Perasaan
Tetangga di Sekitar Kami
Liontin Salib untuk Leher yang Indah
Kepedihan Cerita di Masa Lalu
Senyuman untuk Hati yang Terluka
Sosok yang Menjadi Pertanyaan
Mencoba Menghilangkan Trauma
Pelangi yang Hilang Bersama Turunnya Hujan
Malam Kebahagiaan Bersama Keluarga Kecil
Bidadari Kecil Kini Telah Dewasa
Kebahagiaan Kini Tinggal Prasasti
Semua Terjadi Sangat Cepat
Sebuah Cinta yang Salah
Surga yang Tak Layak untuk Dilihat
Rumput Dingin Di Bawah Bangku Taman
Pahitnya Sebuah Ucapan
Air Mata Menepis Kerasnya Kata-kata
Satu Langkah ke Arah Normal
Bertahan Hanya dalam Waktu Singkat
Semakin Tenggelam dalam Kedekatan
Lilin Kecil di Malam Penuh Kebahagiaan
Selamat Datang Kemarau
Kerinduan yang Teramat Dalam
Hembusan Angin Masa Lalu
Sayap yang Kuat Untuk Bidadari Kecil
Tinta Biru Menorehkan Luka
Berusaha Menyembunyikan Luka
Hilangnya Rasa Segan
Keberhasilan Tanpa Perayaan
Berharap Hanya Andai Saja
Serpihan Kenangan yang Menyiksa
Tempat Baru
Berita Baik Bersama Undangan
Selamat Menempuh Hidup Baru
Kesan yang Baik di Hari Pertama
Insiden Kecil dan Masa yang Telah Terlewati
Menutup Momen 4 Tahun Kebersamaan
Kotak Makan Siang
Keberanian Untuk Memulai
Pahitnya Sambutan Selamat Datang
Seperti Kembali ke Waktu Itu
Teka Teki dari Perhatian Sederhana
Cerita di Ujung Sore
Peneduh Panasnya Amarah
Mengungungkapkan tak Semudah Membayangkan
Titik Terang yang Terasa Gelap
Patahan Salib Bidadari
Terimakasih Untuk Masa yang Terlewati
Apa yang Sebenarnya Terjadi
Kembali Terjatuh
Dunia Ciptakan Keindahan
Dan Kebahagiaan [TAMAT]

Kata Penutup (Q&A)
Diubah oleh setiawanari 10-07-2018 17:35
calebs12Avatar border
nona212Avatar border
nona212 dan calebs12 memberi reputasi
3
111.2K
608
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.9KAnggota
Tampilkan semua post
setiawanariAvatar border
TS
setiawanari
#299
Insiden Kecil dan Masa yang Telah Terlewati
Lalu lalang kendaraan keluar masuk komplek, suasana Jumat sore yang ramai. Cuaca gelap sejak siang seolah mendung siap menjatuhkan hujan. Hujan yang beberapa tahun lalu aku benci sekaligus aku rindukan. Titik-titik air hujan membuat suasana malam menjadi sepi. Namun aku suka memandang titik-titik itu karena bersama mereka cuaca panas kota akan menjadi dingin.

Hujan turun, sesaat aku selesai menyeduh kopi. Sepertinya mendung bersahabat kepada orang yang hari ini lupa membawa jas hujan. Plastik tipis pelindung dari air hujan yang biasanya aku ikat di jok belakang.

Sudah hampir menuju akhir tahun, berbulan-bulan bayangan itu terus menari-nari dalam pikiranku. Membuat hampar rasa kopi yang aku minum, semakin hari semakin hambar.

" Praaak....

Suara cangkir keramik yang aku lemparkan menghantam batu dibawah pohon mangga hingga pecah berkeping-keping.

" Yaampun Mas Awan, ada apa sih Mas?" Suara Indri membuka pintu kamar kos.
" Ohh maaf kamu kaget ya? Itu ada tikus di bawah pohon mangga. Reflek aja tadi Mas lempar pakai cangkir." Jawabku.
" Kirain ada apaan Mas, gak enak sama tetangga kos. Mas kamu kok kayanya pucat gitu? Sakit kamu Mas? Ayo masuk lah ujan-ujan gak baik duduk di teras, banyak petir." Kata Indri menempelkan tangannya di keningku.
" Sakit apaan? Mungkin capek aja Ndri. Oh iya kamu mau bantuin Mas nggak?"
" Bantuin apa?"
" Ye suruh bantuin malah nanya, mau nggak?"
" Iya, iya mau."
" Yaudah bantuin Mas ngitung jumlah tetes air ujan yak, mas ke masuk dulu." Kataku meninggalkan Indri.
" Iiiiiiihhhhhhhhhhhh sebel, di kerjain mulu." Jawab Indri menyusulku lalu kembali merebahkan diri di kasur dengan laptop di hadapannya.

" Banyak tugas Ndri?" Kataku duduk disampingnya.
" Bodo!" Jawabnya dengan wajah cemberut.
" Yaelah, gitu aja marah makin marah hidung kamu tambah kecil tar."
" Biarin."
" Hmmmmm, jadi marah beneran nih? Yaudah kalau gitu berarti gak mau ini, enak lho ujan-ujan gini makan somay." Kataku membuka plastik berisi somay bandung.

" Ihhhhh, mau-mau Indri mau Mas." Jawab Indri beranjak dengan tangan bersiap menyerobot bungkusan yang aku pegang.
" Kalau masih marah gak boleh bagi." Kataku kembali menutup plastik dan menjauhkan dari jangkauannya.
" Iya-iya nggak marah kok, ihhhhh bagi-bagi." Jawab Indri merengek seperti anak kecil membuatku kalah mempertahankan somay di tanganku.

Trrrrrr.... Trrrrrr... Trrrrrr

" Ngapain Mbak Widia malem-malem gini telepon." Batinku mengambil hp yang tergeletak di meja komputer.

" Halo malem Mbak." Kataku menjawab telepon.
" Malem Wan, lagi sibuk gak kamu?" Jawab Mbak Widia.
" Nggak mbak, lagi santai-santai aja di rumah."
" Oh iya Wan, aku minta tolong dong, kirimin laporan rekap absensi cabang Jakarta Barat ya, soalnya besuk pagi ada rapat dadakan di pusat. Bisa kan?"
" Bisa mbak, tapi belum saya rapiin lho mbak masih file mentah."
" Yaudah gakpapa, tar aku yang rapiin ke alamat email aku ya Wan, makasih sebelumnya."
" Iya mbak, segera saya kirimkan."

Segera aku menyambar tas yang tergantung di tembok mengeluarkan flashdisk.

" Ndri, Mas pinjem laptop nya bentar yak mau kirim email ke atasan nih, penting." Kataku.
" Lha ngapain minjem Mas, ini kan laptop kamu."
" Ya maksud nya kan lagi kamu pakai aku mau makai sebentar lagi, gitu."
" Oh bilang dong, hehehehe yaudah nih aku mau bikin teh dulu, abis itu lanjut lagi." Kata Indri lalu beranjak mengambil gelas.


" Lha katanya mau ngirim email kok malah buka Fac*book?" Kata Indri duduk disampingku.
" Hmmm udah terkirim, kamu mau lanjutin tugas? Nih mas udah kelar kok?" Jawabku menutup program yang berjalan.
" Mas, sampai kapan sih?"
" Apanya?"
" Terus nyari dan nunggu Mbak Ninda? History pencarian Mas Awan dengan nama itu paling banyak, emang Mas mau nunggu sampai kapan?"
" Wah riwayat pencarian orang main buka-buka aja." Kataku sedikit kaget karena ada beberapa riwayat web yang berhubungan dengan konten dewasa belum aku hapus.

" Ya kan Indri penasaran aja mas, hehehehe maaf."
" Ndri, ternyata nunggu sesuatu hal yang gak pasti itu gak enak ya? Tapi mau gimana lagi Mas masih disini aja, gak bisa kemana-mana."
" Mas, kalau Indri boleh kasih saran mending kasih batas waktu buat mas Awan untuk kembali membuka hati. Setahun atau dua tahun, kalau emang mbak Ninda belum ada kabar Mas Awan gak boleh gini terus."
" Iya Ndri, mas cuma pengen denger kabar tentang dia aja, abis itu yaudah tinggal bagaimana nanti. Yaudah lanjutin tugasnya aku tiduran dulu. Kalau udah ngantuk lanjutin besuk aja." Kataku mengambil bantal dan merebahkan diri di matras.

" Iya Mas, dikit lagi kelar kok." Jawab Indri melanjutkan aktivitasnya yang nampak semakin samar-samar aku lihat kemudian aku terlelap.


Pagi ini terasa dingin, sisa hujan semalam menyebabkan udara yang basah. Beberapa ember dan kaleng bekas di luar rumah terisi penuh oleh air hujan.
Selesai solat subuh aku membangunkan Indri yang masih berada di alam mimpi. Tidak beranjak ke kamarnya mungkin karena mengerjakan tugas hingga larut malam.

" Ndri, bangun solat subuh dulu." Kataku menggerak-gerakkan pundaknya.
" Hooaaahhhh, jam berapa Mas kamu udah sholat?"
" 5.15, udah yaudah sana wudu dulu, tar kalau masih ngantuk tidur lagi, masuk siang kan?"
" Iya, Mas." Kata Indri beranjak membereskan laptop yang masih menyala, lalu berjalan ke kamar mandi.

Keroncong di pagi hari menemaniku menikmati segelas kopi, menunggu waktu berangkat kerja. Suara mesin yang sudah cukup tua siap mengantarkanku mengerjakan tugas kantor hari ini.

" Ndri, Mas berangkat dulu ya nanti jangan lupa pintunya dikunci pas berangkat kuliah." Kataku bersiap berangkat kerja.
" Iya, Mas hati-hati di jalan oh iya Mas Awan Ehmmmmm semalem lupa mau bilang."
" Bilang apa?”
" Hmmmmm Mas Awan dapet titipan salam lho dari Mbak Nilla."
" Hahahaha, yaelah orang tinggal kesini aja pakai nitip-nitip segala."
" Ihhhhh selalu gitu deh, bener kata Mbak Putri Mas Awan tu gak pernah berubah selalu cuek sama orang lain."
" Hehehehehe, iya-iya yaudah sampein aja salam balik. Keburu siang nih mas berangkat, assalamualaikum."
" Walaikumsallam." Jawab Indri.

Seperti kembali ke masa lalu, saat berangkat sekolah. Sebuah salam yang disampaikan melalui adikku, tak pernah kuhiraukan. Namun hari ini apa yang di katakan Indri sesaat sebelum berangkat membuatku memikirkannya di sepanjang jalan.

" Nilla? Gadis cantik itu menitipkan salam untukku? Apa maksudnya?" Batinku terus memacu sepeda motor menuju tempat kerja.

" Braakkkk, sreeeekkkk.!!!!

Bunyi sepeda motor menabrak pintu mobil sedan sebelah kiri hingga terjatuh bersama dengan tubuhku. Aku berusaha bangkit namun sangat sulit karena kaki kiriku terjepit. Beberapa pengendara berhenti membantu membangunkanku. Meminggirkan motor yang jatuh bersamaku dan mobil yang menabrakku atau aku yang menabraknya juga di minta minggir.

" Wah gimana sih mas? Masih ngantuk ya? Nyalip ma dari kanan mas!" Kata seorang pemuda turun dari mobil sedan yang menabrakku.
" Gimana apanya? Ya Lo harus tanggung jawab lah orang mau belok gak nyalain sein gimana orang tau." Jawabku melepas helm.
" Lho lho tanggung jawab gimana? Lo yang nabrak kok minta tanggung jawab? Harusnya Lo yang ganti, noh body gw penyok?" Jawab pemuda itu menunjukkan pintu mobil membuatku geram.
" Oooh Lo gak ngerasa salah? Saksinya banyak bro motor di belakang gw banyak yang hampir jatuh gara-gara Lo belok gak pakai sein, Lo masih mau ngelak?" Kataku menghampirinya menenteng helm yang siap aku hantamkan di kepalanya.
" Iya mas, Lo yang salah saya aja juga hampir jatuh, udah punya SIM belum sih mas mau belok gak nyalain sein!" Kata bapak-bapak yang mengendarai motor di belakangku sebelum aku jatuh.
" Iya Lo yang salah woi, bawa mobil belum bisa aja jalan kaki aja, untung mas yang bawa motor ini gak papa coba kalau parah, Lo mau kabur aja?" Teriak bapak-bapak yang lain.
" Nah Lo denger sendiri kan, bukan cuma gw yang hampir celaka, yang lain juga untung aja motor belakang gw sempet ngerem kalau gak banyak yang jatuh juga ini." Kataku.

" Oke, oke! Gw ngaku salah jadi lo gimana maunya." Jawab pemuda itu mengalah.
" Gini aja, jalau gw gakpapa paling cuma lecet di kaki aja, tapi motor gw yang parah. Handel kopling gw patah, tangki penyok, sein kiri ancur, kalau Lo mau gantiin ini totalnya 300 ribu. Atau kalau Lo gak percaya Lo beli sendiri gimana?" Kataku menunjukkan kerusakan sepeda motorku.

" Oke yaudah 300 ya? Bentar...." Kata pemuda itu berjalan ke mobil mengambil dompet lalu memberikan uang pengganti sesuai yang ku minta. Mobil itu pun pergi diikuti bubarnya kerumunan orang yang berkumpul melihat kejadian ini.

Aku mencoba menyalakan mesin sepeda motorku dengan susah payah dan setelah 20 genjotan akhirnya mesin tua itu masih memberiku peluang untuk melanjutkan perjalanan. Kembali kupacu menuju tempat kerja dengan handle kopling yang tinggal setengah. Berjalan perlahan hingga tiba di kantor terlambat setengah jam. Celana yang kotor dan sobek di bagian lutut kiri menjadi bukti yang kuat saat aku menjelaskan penyebab keterlambatan.

" Tumben kamu telat Wan? Biasanya paling pagi datengnya?" Kata Mbak Widia saat aku memasuki ruangan.
" Iya mbak, tadi bangunnya kesiangan." Kataku.
" Yaudah nanti kamu isi form keterlambatan ya, biar gaji kamu bulan ini gak di potong." Jawab Mbak Widia.
" Baik, Mbak terimakasih." Kataku berjalan menuju meja kerja.


" Ckckck, biasanya paling awal dateng tumben hari ini telat. Belum ada 6 bulan lho disini penilaiannya ketat. Hehehehehe." Ledek Arif.
" Ah elu, sesekali gakpapa lah, yang penting kerjaan gw beres." Jawabku menyalakan komputer dan bersiap mengerjakan tugas.
" Tapi aneh Wan, kayanya Mbak Wid baik banget sama Lo, lagi itu pernah ada karyawan lama yang telat, abis dimarahin sama dia." Kata Arif menghampiri meja kerjaku.
" Yah mungkin karena gw baru kali Rif, atau karena gw ganteng? Hahahahaha."
" Yaelah ganteng kalau lampunya dimatiin."
" Auuuwwww." Teriakku saat Arif menyenggol lutut kiriku.

" Lha kenapa Lo, busyet celana Lo kotor amat, sobek pula lagi."
" Iya ini yang bikin gw telat, tadi ketabrak mobil gw."

" Ada apa Rif kok kamu bukannya kerja malah di meja Awan? Nih draft untuk test karyawan bagian marketing yang akan diangkat tahun ini, nanti kamu pelajari ya." Kata Mbak Widia berjalan ke arah kami.
" Ooh baik Mbak." Jawab Arif mengambil dokumen dari tangan Mbak Widia lalu kembali ke meja kerjanya.

" Lho kamu kenapa Wan? Kok kaya menahan sesuatu?" Kata Mbak Widia melihatku.
" Hmmm gak papa Mbak, ini kaki saya agak kram aja." Jawabku.
" Boong mbak, tadi Awan telat abis ketabrak mobil." Teriak Arif.
" Haaa, bener itu Wan? Kok tadi kamu bilang kesiangan." Jawab Mbak Widia menatap tajam ke arahku.
" Hmmmmm iya Mbak, maaf Mbak tapi ini gakpapa kok cuma lecet aja." Jawabku.

" Oooh yaudah kalau gitu ikut aku." Kata Widia menarik tanganku.
" Tapi Mbak..." Jawabku mengikuti Mbak Widia berjalan ke luar ruangan menuju parkiran mobil.

" Ayo masuk." Teriak Mbak Widia dari dalam mobil sedan.
" Oh iya Mbak, mau kemana kita mbak?" Kataku yang tidak di Jawab Mbak Widia. Mobil melaju menyusuri jalan raya, dan terhenti di parkiran rumah sakit. Kami turun dan menuju ruang pemeriksaan, menemui salah satu dokter di Rumah Sakit ini.

Setelah diperiksa tekanan darah, lalu lutut kiriku di foto ronsen dan berakhir dengan perban menempel di lutut kiriku.

" Mbak Wid, kok begini? gak berlebihan ini mbak orang cuma lecet doang kok?" Kataku heran melihat kepanikan Mbak Widia.
" Wan lain kali, jangan bohong ya terlebih dengan atasan kamu. Kebiasaan yang paling saya gak suka." Jawab Mbak Widia.
" Iya, maaf abis saya gak mau bikin orang-orang panik aja mbak kalau saya kecelakaan."
" Apapun alasannya saya gak suka, kecelakaan itu bukan masalah sepele."
" Iya Mbak sekali lagi saya minta maaf." Jawabku.

Kami segera meninggalkan rumah sakit setelah dokter memberikan hasil ronsen kaki kiriku.

" Gila cuma lecet-lecet aja pakai ronsen segala, daripada di ronsen mending kamu pijitin mbak, pasti langsung sembuh." Demikian pikiran kotorku terhenti setelah mobil tiba di parkiran kantor. Kami kembali ke atas dan melanjutkan pekerjaan hingga sore tiba. Dibatasi jeda waktu istirahat untuk mengurangi rasa lelah.

" Wah hujan Wan, Lo bawa jas ujan?" Kata Arif saat berjalan bersamaku menuju parkiran sesaat setelah jam pulang kantor.
" Bawa lah."
" Yaudah tunggu reda ya pulangnya, gw gak bawa jas ujan."
" Nah gimana sih musim ujan gak bawa jas ujan, ini berarti Lo termasuk salah satu orang bodoh di Indonesia."
" Lha maksudnya?"
" Beli motor aja bisa beli jas ujan gak bisa, kalau ujan menuh-menuhin kolong jembatan, bikin macet."
" Lha...lha... Bukannya gak bisa beli bray tapi gak bawa, tungguin reda lah pulang bareng kita." Kata Arif menyalakan rokok.

Tiba-tiba Mbak Widia melintas, berjalan menuju mobil tanpa menyapa kami.


" Woi biasa aja dong liatnya, liat janda semok aja mata Lo gak kedip." Kata Arif memencet lututku.
" Auuuwwww, njirrrr sakit nyeeet." Jawabku reflek hampir memukul kepalanya.
" Sorry, sorry gw lupa, abis mata Lo udah kaya mau copot hahahaha."
" Rif emang Mbak Widia janda ya?"
" Jiaah baru tau Lo? Sama berarti gw baru tau belum lama. Denger-denger janda anak 1 doi."
" Oooh, emang suaminya kemana Rif masa cewe cantik sexy gitu di tinggalin?"
" Yeee mana gw tau emang gw bapaknya." Jawab Arif membuatku menyesal tadi membatalkan memukul kepalanya.

" Kalian belum pada balik, awas lho jangan ngomongin orang apalagi atasan kalian tar kualat." Kata Pak Very tiba-tiba datang.
" Eh Pak Very, baru turun Pak?" Kataku.
" Iya, tadi briefing bentar, bagi rokoknya ya Rif?" Kata Pak Very menyambar rokok Arif.
" Pakai aja Pak, Eh Pak tadi kita baru ngomongin Mbak Widia, hari ini aneh Pak dari pagi sampai pulang kerja kayanya cemberut terus." Kata Arif.
" Ya, mungkin ada masalah keluarga kali namanya juga single parent." Jawab Pak Very.
" Pak, emang suaminya Mbak Widia kemana Pak?" Kata Arif.
" Hmmmm, meninggal, kasihan Widia itu ditinggal suaminya saat anaknya belum berumur dua bulan." Jawab Pak Very membuat kami terkejut.
" Inalillahiwainailllahi, Ohhh kirain cerai Pak." Kata Arif.

" Cerai gimana? Cowok begok aja yang mau nyerai in tipe cewek kaya Widia." Jawab Pak Very.
" Ya siapa tau Mbak Widianya yang mendua." Kata Arif.
" Ah elu Rif kalau ngomong asal nyletuk aja, almarhum suaminya Widia itu meninggal karena kecelakaan, lebih tepatnya ketabrak mobil. Wah jadi ikutan ngomongin orang. Yaudah gw duluan yak, bini gw udah BBM. Kalian ma enak masih belum laku." Kata Pak Very berjalan menuju mobilnya meninggalkan kami.

Aku dan Arif saling berpandangan, seperti ada sesuatu yang sama yang sedang kami pikirkan.

" Wah, gara-gara Lo ini ma Wan, Mbak Wid hari ini aneh." Kata Arif.
" Lha kok gw, kan tadi gw bilang kalau gw telat karena kesiangan. Nah elu berisik aja jadi Mbak Wid tau." Jawabku.
" Abis gw juga gak tau kalau Lo jatuh."
" Pantesan aja Rif tadi gw dianter ke rumah sakit, ronsen segala padahal kan cuma lecet-lecet. Mungkin dia inget kejadian saat suaminya kecelakaan Rif."

" Hahahaha ya beda lah jauh kali Lo sama almarhum suami Mbak Wid. Coba liat muka Lo, jiaaahhhh jauh bray."
" Yah namanya orang trauma bukan karena mirip sama suaminya tapi kejadiannya Rif."
" Aaah yaudahlah, mungkin besuk dia juga udah balik kaya semula lagi. Eh udah reda balik yuk, Lo mau mampir rumah gw gak?"
" Wah boleh tu, Lo punya adik cewek kan?"
" Punya lah, kelas 5 SD ayok mampir."
" Hahahahahaha emang gw pedofil yaudah lain waktu aja Rif." Kataku berjalan menuju motor dan akhirnya berpisah dengan Arif.

Sepanjang perjalanan, aku masih memikirkan kejadian hari ini, memikirkan Mbak Widia. Sebuah kejadian kecil yang menurutku biasa saja namun tidak bagi dia. Kecelakaan yang telah mengambil nyawa orang yang dicintainya.

Berjalan di aspal licin dan beberapa genangan air membuatku lebih berhati-hati. Aku tidak ingin kejadian tadi pagi terulang kembali. Berangkat memikirkan Nilla pulang memikirkan Mbak Widia. Lengkap sudah dengan dengkul terasa perih bercampur linu.

Tiba di tempat kos disambut senyuman hangat dari malaikat kecilku. Tangan lincahnya merapikan tas dan baju kotorku. Wajahnya nampak cemas saat aku menceritakan kejadian hari ini. Menawarkan segelas kopi panas yang dibuat dengan cinta teramat dalam untuk seorang kakak yang akan selalu menjaganya sampai posisi itu tergantikan.
g.gowang
g.gowang memberi reputasi
1
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.