- Beranda
- Stories from the Heart
(HORROR) Kisah Untuk Malam Seratus Lilin - (Diary Gadis Bermata Indigo return)
...
TS
ayanorei
(HORROR) Kisah Untuk Malam Seratus Lilin - (Diary Gadis Bermata Indigo return)
Hallo All,
We come back!!

thanks all for HT
Setelah sekian lama vakum di Kaskus dan hanya menulis di tempat lain. Akhirnya kami memutuskan kembali. Yap, Ayano dan Elisa kembali akan membagikan kisah kami di Kaskus.
Tadinya, kami tidak berpikir untuk kembali ke Kaskus, tapi ternyata banyak Inbox ke ID ini maupun ke ID Ayanokouji (yang sayangnya sedang bermasalah untuk Login) supaya kami mau kembali melanjutkan cerita di Kaskus ini. Jadi, here we are, we came back.
Post #1 ini akan khusus untuk INDEX. Cerita akan dimulai di Post selanjutnya.
Yang mau baca season 1 nya ada di sini
INDEX
Kisah Pertama - Hantu Pembawa Janin
Kisah Kedua - Mereka Mengawasiku?
Kisah Ketiga - Lily (Bagian Pertama)
Kisah keempat - Lily (bagian kedua)
Kisah Kelima - Penguntit (bagian pertama)
Kisah Keenam - Penguntit (Bagian Kedua)
Kisah Ketujuh - Possession (part 1)
Kisah Kedelapan - Possession (part 2)
Kisah Kesembilan - Mahluk di langit-langit
Kisah Kesepuluh - Susahnya kalau yang ngefans 'mereka'
Kisah Kesebelas - Hantu di gedung tua
Kisah Keduabelas - Ternyata
Kisah Ketigabelas - Jumat Kliwon tanggal 13 (Bag pertama)
Kisah Keempatbelas - Jumat Kliwon tanggal 13 (bag kedua)
Kisah Kelimabelas - Kisah Hantu di Sekolah - Sri (1)
Kisah Keenambelas - Kisah hantu di sekolah - Sri (2)
Kisah Ketujuhbelas - Kisah Hantu di Sekolah - Sri (3)
Kisah Kedelapanbelas - Kisah hantu di sekolah - Belum berakhir
Kisah Kesembilanbelas - Kisah hantu di sekolah - Cerita dari Bi Sumi (1)
Kisah Keduapuluh - Kisah Hantu Disekolah - Cerita dari Bi Sumi (2)
Kisah Keduapuluhsatu - Kisah hantu disekolah - Gangguan Dimulai Lagi
Kisah Keduapuluhdua - Kisah Hantu Disekolah - Terkuak
Kisah KeduapuluhTiga - Kisah Hantu Di Kantor - Prologue
Kisah KeduapuluhEmpat - Kisah Hantu Di Kantor - Putih, Hitam dan Ungu
Kisah KeduapuluhLima - Kisah Hantu di Kantor - Sidestory
Kisah Keduapuluhenam - Kisah hantu di Kantor - Resign
Kisah Keduapuluhtujuh - Kisah Hantu di Kantor - Kembali Bekerja (1)

We come back!!

thanks all for HT
Setelah sekian lama vakum di Kaskus dan hanya menulis di tempat lain. Akhirnya kami memutuskan kembali. Yap, Ayano dan Elisa kembali akan membagikan kisah kami di Kaskus.
Tadinya, kami tidak berpikir untuk kembali ke Kaskus, tapi ternyata banyak Inbox ke ID ini maupun ke ID Ayanokouji (yang sayangnya sedang bermasalah untuk Login) supaya kami mau kembali melanjutkan cerita di Kaskus ini. Jadi, here we are, we came back.
Post #1 ini akan khusus untuk INDEX. Cerita akan dimulai di Post selanjutnya.
Yang mau baca season 1 nya ada di sini
Quote:
INDEX
Kisah Pertama - Hantu Pembawa Janin
Kisah Kedua - Mereka Mengawasiku?
Kisah Ketiga - Lily (Bagian Pertama)
Kisah keempat - Lily (bagian kedua)
Kisah Kelima - Penguntit (bagian pertama)
Kisah Keenam - Penguntit (Bagian Kedua)
Kisah Ketujuh - Possession (part 1)
Kisah Kedelapan - Possession (part 2)
Kisah Kesembilan - Mahluk di langit-langit
Kisah Kesepuluh - Susahnya kalau yang ngefans 'mereka'
Kisah Kesebelas - Hantu di gedung tua
Kisah Keduabelas - Ternyata
Kisah Ketigabelas - Jumat Kliwon tanggal 13 (Bag pertama)
Kisah Keempatbelas - Jumat Kliwon tanggal 13 (bag kedua)
Kisah Kelimabelas - Kisah Hantu di Sekolah - Sri (1)
Kisah Keenambelas - Kisah hantu di sekolah - Sri (2)
Kisah Ketujuhbelas - Kisah Hantu di Sekolah - Sri (3)
Kisah Kedelapanbelas - Kisah hantu di sekolah - Belum berakhir
Kisah Kesembilanbelas - Kisah hantu di sekolah - Cerita dari Bi Sumi (1)
Kisah Keduapuluh - Kisah Hantu Disekolah - Cerita dari Bi Sumi (2)
Kisah Keduapuluhsatu - Kisah hantu disekolah - Gangguan Dimulai Lagi
Kisah Keduapuluhdua - Kisah Hantu Disekolah - Terkuak
Kisah KeduapuluhTiga - Kisah Hantu Di Kantor - Prologue
Kisah KeduapuluhEmpat - Kisah Hantu Di Kantor - Putih, Hitam dan Ungu
Kisah KeduapuluhLima - Kisah Hantu di Kantor - Sidestory
Kisah Keduapuluhenam - Kisah hantu di Kantor - Resign
Kisah Keduapuluhtujuh - Kisah Hantu di Kantor - Kembali Bekerja (1)

Diubah oleh ayanorei 20-10-2017 13:04
scorpiolama dan 15 lainnya memberi reputasi
16
119.8K
Kutip
380
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ayanorei
#320
Kisah KeduapuluhEnam - Kisah hantu di Kantor - Resign
Pagi ini aku akhirnya memutuskan untuk resign setelah membicarakannya dengan Ayano kemarin.
Namun, bukan berarti langkahku untuk memutuskan resign ini tanpa halangan...
Tentu, mengetahui bagaimana keberuntunganku... pasti ada saja halangan. Baik dari 'mereka' maupun dari mahluk fana alias manusia.
Aku akan menceritakannya satu per satu kejadian hari ini :
Pertama-tama tentu saja aku harus memberikan surat resignku pada atasanku. Ci Yuni...
Maka siang itu juga aku menghadap ke supervisorku itu dan mengajukan surat pengunduran diriku yang sudah kepersiapkan dari malam sebelumnya.
Alasan yang kutulis di dalam suratku adalah "karena hendak melanjutkan studi ke S2", alasan yang dikarang oleh Ayano, tentu saja. Karena tidak mungkin aku mengatakan hal sebenarnya kan?
Untungnya supervisorku itu tidak bertanya macam-macam. Dia hanya menatapku dengan tatapan mengerti, tersenyum menenangkan, mengatakan kalau dia mengerti keadaanku serta bahwa dia mendengar sedikit dari Qina yang sejujurnya membuatku bertanya-tanya dan kemudian, Ci Yuni mengajakku untuk mengatakan maksudku ini pada Manajer kami.
Setelah mendapatkan persetujuan secara tidak langsung dari ci Yuni akan maksudku ini, meskipun dalam hatiku bertanya-tanya apa saja yang diceritakan oleh Qina pada ci Yuni, tapi setidaknya aku tidak perlu berkata macam-macam untuk menjelaskan maksudku ini pada ci Yuni. Dan aku berharap kalau rencana pengunduran ini bisa berjalan dengan baik dan lancar. Aku tidak ingin keluar dari perusahaan ini dengan anggapan yang tidak baik.
Yah... ternyata pengunduran diriku ini tidak selancar biasanya.
Hal itu karena ibu Imelda berusaha membujukku untuk tetap bertahan selama beberapa bulan, setidaknya tiga bulan sampai masa percobaan habis, dan kemudian beliau berkata kalau mungkin saja aku akan terbiasa dan berubah pikiran kalau sudah mendapatkan gaji setingkat pegawai tetap.
Bahkan beliau mengatakan bersedia untuk memberikan dispensasi khusus apabila aku ingin mengambil kuliah S2 lagi dengan memberikan ijin untuk tidak masuk kantor pada hari-hari kuliahku. Dan bahkan cuti tambahan apabila aku akan menjalani ujian.
Sepertinya rencana Ayano untuk 'memperhalus' pengunduran diriku malah berbalik membuat aku semakin sulit untuk keluar. Karena, begitu mendengar aku akan mengambil kuliah S2, ibu Imelda semakin getol untuk mempertahankanku.
Aduh...bagaimana ini?
Aku berusaha sekuat mungkin dan sehalus mungkin untuk menolak maksud dari ibu Imelda itu. Namun beliau tetap bersikeras.
Dan akhirnya, beliau memintaku untuk bertahan setidaknya seminggu lagi di kantor itu. Dengan maksud seminggu itu akan membuatku berubah pikiran, dan beliau juga mengatakan penyakit tidak betah bekerja itu adalah sindrom biasa di anak-anak yang baru lulus kuliah, dan menasehatiku untuk berusaha mengalahkan sindrom itu.
Sejujurnya? kebalikannya malah... aku sangat suka berkerja di tempat ini. Begitu banyak hal yang tidak diajarkan di bangku kuliah, dan begitu banyak hal yang ternyata berkebalikan dengan apa yang kita pelajari sebelumnya. Dan aku menyukai hal itu, sebenarnya....
Kalau saja kantor ini tidak dipenuhi oleh 'mereka', mungkin aku akan sangat-sangat betah di kantor ini.
Sebelumnya aku pernah magang di perusahaan milik rektor di kampusku selama liburan semester pada semester-semester akhir kuliah. Daripada menganggur, begitu pikirku waktu itu. Dan kantor yang kumasuki saat magang itu... wah.. bisa dikatakan membuatku cukup takut pada dunia kerja. Karena tingginya tingkat persaingan dan budaya saling menjatuhkan di perusahaan itu.
Namun, hal itu tidak terjadi di sini, malahan aura kekeluargaan begitu terasa di perusahaan ini, atau tepatnya mungkin di divisi tempatku ini, divisi dibawah pimpinan dari ibu Imelda.
Ibu Imelda merupakan sosok yang tegas, namun lembut dalam berbicara dan selalu bisa menemukan cara untuk menegur seseorang tanpa melukai hati orang tersebut.
Ci Yuni, supervisorku itu adalah wanita yang periang, detail dan teliti dalam pekerjaannya, sampai-sampai saking detailnya, para bawahannya menggodanya dengan mengatakan kalau mungkin saja di otaknya ditanamkan sebuah chip.
Anggota divisi lainnya juga sangat baik dan kompak. Dan padaku yang merupakan junior, bisa dikatakan mereka sangat protektif sekali.
Terlihat dari bagaimana mereka 'mengusir' cowok-cowok iseng dari divisi lain yang berusaha merayuku di kantin.
Dan bahkan, satu-satunya lelaki di dalam divisiku yang menolak dengan keras dikatakan jantan, yaitu Maradona, pernah berkejar-kejaran dengan salah satu lelaki iseng yang nekad mencegatku saat di kantin. Suasana waktu itu benar-benar heboh, semua orang yang melihat tidak ada satupun yang menghentikan tontonan itu, Maradona mengejar seorang lelaki dan mengancam akan memegang "itu"nya lelaki itu kapok dan tidak berani lagi menggangguku....
Begitulah... teman-teman yang sangat baik...
Aku sebenarnya tidak ingin meninggalkan pekerjaan ini... Tapi sekali lagi, pembicaraanku dengan Sherly dan bujukan dari Ayano membuatku teringat mengapa aku harus meninggalkan kantor ini.
"Huff..." aku menghembuskan nafas berat seraya mengambil handphoneku dari tas.
Suasana ruangan sedang sepi.. sepertinya teman-temanku yang lain sudah pergi semua ke kantin.
Aku menekan layar handphone-ku dan menempelkannya di telinga.
"Halo?" terdengar suara Ayano pada sambungan telepon itu.
"Ko.." kataku.
"Ada apa, Lis?" tanya Ayano di telepon itu.
Aku menceritakan hasil pembicaraanku dengan ibu Imelda pada Ayano.
Hening sejenak.
Kemudian dia mengatakan padaku "Ya sudah... nanti koko pikirin solusinya.. kamu tenang ya"
"Umm... ok.." jawabku.
Yah... pasti bisa... pikirku.
Ayano pasti bisa mengakali entah bagaimana caranya....
Mungkin saja dia malah menemukan cara supaya aku bisa tetap bekerja di sini?
Semoga saja....
====
Aku baru saja merasa tenang...
Seharian tadi terasa begitu damai. Dan sejujurnya, hari ini aku benar-benar bisa menikmati pekerjaanku. Begitu banyak hal-hal yang kupelajari hari ini. Dan aku bahkan sudah memulai untuk membuat laporanku sendiri.
Hari ini aku benar-benar bekerja dengan keras. Dan aku menikmati setiap menitnya.
Dan sekarang tinggal waktunya untuk pulang.
Tidak, tidak terjadi apapun pada saat pulang.
Namun, ketika aku berjalan ke parkiran tempat Ayano sudah menungguku dengan mobilnya, aku merasakan sekelebat firasat yang buruk. Seperti sesuatu yang membebani tengkukku.
Aku sempat menghentikan sejenak langkahku dan mempersiapkan hatiku untuk suatu bentuk gangguan apapun.
Tidak..
Tidak ada yang terjadi....
Tidak ada satupun penampakan...
Masih merasa aneh, akupun melanjutkan untuk berjalan ke mobil yang diparkir.
Dan sesampainya di dalam, aku benar-benar melupakan perasaan tadi.
Bahkan, sesampainya di apartemen, aku bahkan lupa untuk menuliskan diary karena lelahnya. Dan sempat tertidur.
Namun, saat itulah gangguan baru dimulai.
Ya... berbeda dengan kekhawatiranku bahwa gangguan akan dimulai di kantor....
Gangguan pada hari itu kualami di rumah.
Aku terbangun di sofa...
Sepertinya aku tertidur setelah mandi. Bahkan aku belum berpakaian dengan benar...
Aku benar-benar kelelahan tadi...
Aku bahkan belum mematikan televisi dan lampu...
"!?"
Aku menegang.
Terdengar suara 'Kriet-Kriet' bagaikan ada yang berjalan di atap kamarku.
Dan jelas, itu merupakan bunyi yang sangat-sangat berbeda dengan suara langkah kaki yang biasa kudengar dari tetanggaku di atas kamarku.
Suara itu seperti sesuatu yang diseret.
Aku menengok ke arah jam meja. Jam tiga pagi...
Tak lama kemudian, suara itu menghilang...
Mungkin hanya perasaanku saja... begitu pikirku.
Dengan malas aku beranjak dari sofa dan mematikan televisi yang masih menyala.
Kemudian memaksakan diriku untuk bergerak dan mengambil piyama untuk menggantikan gaun mandi yang masih kukenakan.
Kemudian aku mematikan lampu dan beranjak ke kamarku...
'Tok..Tok..Tok..'
'Tok..Tok..Tok..'
Sayup-sayup kudengar suara ketukan...
Tapi aku tidak bisa menentukan darimana asal ketukan itu.
Seakan bergema begitu saja di kamarku.
Kemudian aku mendengar suara televisi, seperti suara orang sedang berdiskusi yang riuh rendah, suara yang entah mengapa membuatku berpikir kalau itu adalah suara televisi...
Eh? apa aku lupa ya tadi matiin tv? pikirku saat itu dengan linglung karena masih mengantuk.
Aku beranjak kembali ke ruang tv dan melihat kalau benda itu memang sudah kumatikan.
Aku menghembuskan nafas kesal dan berdengus "Salah denger kayaknya..." gumamku kesal dan berbalik untuk kembali ke kamar.
Dan kemudian, aku kembali mendengar suara televisi itu.
Namun, asal suara itu berasal dari kamar tidurku....
Hatiku menciut... dan tiba-tiba aku merasakan rasa takut yang serupa dengan firasat buruk yang sempat kurasakan tadi siang.
Aku melangkah perlahan ke dalam kamarku...
Tidak ada apa-apa...
Namun aku melihat cahaya yang tiba-tiba padam.
Handphone -ku? pikirku melihat cahaya yang baru saja padam itu.
Aku mendekati handphoneku itu dan menyalakan layarnya.
Tidak ada notifikasi apapun yang masuk.. lalu bagaimana layarnya bisa menyala tadi?
Dan suara orang berbicara seperti televisi tadi kembali terdengar..
Seperti....
Terdengar seperti....
Berada tepat di belakangku...
"!!?" aku berbalik dengan cepat.
Dan saat itulah aku melihat sekelebatan sesuatu yang berwarna ungu seakan masuk ke lipatan gorden yang tergantung di jendelaku.
Pada titik itu, aku menjadi sangat-sangat ketakutan...
Hasratku mengatakanku untuk melihat ke balik gorden itu.. seperti.. seakan sesuatu mendorongku untuk melakukan itu...
Tapi aku tidak melakukannya...
Dengan cepat aku mengoperasikan handphone-ku itu dan segera menelepon Ayano.
Aku bahkan lupa kalau ini sudah malam... aku melihat jam....
3:33 menit... pada saat aku menelepon...
Angka itu membuatku tidak enak entah mengapa...
Dan kemudian suara Ayano dari seberang sambungan telepon benar-benar membuatku lega.
Aku memintanya untuk datang segera ke kamarku.
Tidak lama kemudian aku mendengar ketukan di pintu "Lis? ini koko"
Buru-buru aku berlari untuk membuka pintu itu, hanya untuk mendapati tidak ada Ayano di sana...
Ayano bahkan baru keluar dari kamarnya dan menatapku bingung.
Namun aku menghentikannya bertanya dan malahan menyerocos untuk menceritakan keanehan yang baru saja kualami.
"Oke.. oke.. , coba koko liat ke dalam.." kata Ayano setelah aku selesai bercerita.
Ayano mendekati gorden itu dengan perlahan, kemudian dengan sebelah tangannya menyibak gorden itu.
Tidak ada apapun...
Namun Ayano dengan cermat memeriksa kaca jendela dan gorden itu.
"Lis..." panggil Ayano.
"Ya?"
"Sini.. coba liat ini.."
Ayano menunjuk ke bawah, awalnya aku tidak melihat apapun namun kemudian aku mengerti apa yang ditunjuk oleh Ayano.
Butiran.. seperti pasir, namun nampak sedikit lebih kasar berjatuhan di sela kaca jendela sebelah bawah. Pasir itu sedikit tercecer di lantai..
Warna pasir itu sedikit kekuningan, nyaris seperti emas.
Ayano membungkuk dan mengambil pasir itu dengan tangannya, kemudian mengendusnya.
"Ini... belerang..." kata Ayano.
Wajah Ayano nampak khawatir, dia nampak ingin mengatakan sesuatu namun kemudian membatalkannya. Akhirnya dia menggeleng dan berkata "Lis, kamu hari ini ijin aja... bilang aja kamu sakit." kata Ayano
"Eh?"
"Kamu istirahat di kamar koko aja, tidur dulu. Kamu nggak mungkin pergi kerja hari ini. Udah jam empat pagi soalnya" kata Ayano lagi.
"Umm..." aku mengangguk menyetujui, sebenarnya aku merasa sayang untuk tidak masuk kerja, namun seperti kata Ayano... aku sangat lelah... entahlah.. sepertinya aku bagaikan baru saja begadang...
"Ayo.. kita ke kamar koko aja deh" ajak Ayano sembari beranjak dari jendela itu "Perlengkapan kamu nanti koko bawain, kamu duluan aja" kata Ayano sambil mengulurkan kunci apartemennya padaku.
Aku mengangguk setuju tanpa mengatakan apapun karena sudah terlalu kelelahan.
"AH!!?"
Aku merasakan sesuatu menyentuh...
Tidak.. menggenggam pergelangan kakiku...
Sentuhan itu terasa begitu dingin..
"Kenapa!?" tanya Ayano khawatir sambil mendekat padaku.
"Aku... kayak ada yang pegang kaki.."
Ayano berlutut dan menyentuh pergelangan kakiku.
Aku merasakan sesuatu yang kasar sepert butiran kecil bergesekan dengan kulitku ketika Ayano menyapukan jarinya pada pergelangan kakiku.
"Belerang..." bisik Ayano.. cukup pelan, namun aku bisa mendengarnya dengan jelas.
Aku menatap ke pergelangan kakiku yang terlihat berwarna kekuningan karena adanya pasir belerang yang sama seperti yang di jendela tadi...
"Ko..." aku ketakutan... tubuhku merasa menggigil....
"Kita ke tempat koko aja deh. Nanti aja baru ambil perlengkapan kamu." putus Ayano "Ayo, koko anter.." katanya.
Sesudah itu, aku masih merasa begitu ketakutan dan tidak bisa tidur sampai pagi.
Tidak sebelum menuliskan semuanya ini di lembaran Diary....
Apa yang sedang terjadi?
Mengapa... mengapa hal ini bisa terjadi di sini?
Banyak sekali pertanyaan yang tidak terjawab berkeliaran di kepalaku saat itu.
Namun tubuhku sudah terlalu kelelahan... sepertinya untuk saat ini aku akan menyerah pada keinginan tubuhku untuk tidur....
Aku benar-benar membutuhkannya...
Spoiler for Khdk - resign:
Pagi ini aku akhirnya memutuskan untuk resign setelah membicarakannya dengan Ayano kemarin.
Namun, bukan berarti langkahku untuk memutuskan resign ini tanpa halangan...
Tentu, mengetahui bagaimana keberuntunganku... pasti ada saja halangan. Baik dari 'mereka' maupun dari mahluk fana alias manusia.
Aku akan menceritakannya satu per satu kejadian hari ini :
Pertama-tama tentu saja aku harus memberikan surat resignku pada atasanku. Ci Yuni...
Maka siang itu juga aku menghadap ke supervisorku itu dan mengajukan surat pengunduran diriku yang sudah kepersiapkan dari malam sebelumnya.
Alasan yang kutulis di dalam suratku adalah "karena hendak melanjutkan studi ke S2", alasan yang dikarang oleh Ayano, tentu saja. Karena tidak mungkin aku mengatakan hal sebenarnya kan?
Untungnya supervisorku itu tidak bertanya macam-macam. Dia hanya menatapku dengan tatapan mengerti, tersenyum menenangkan, mengatakan kalau dia mengerti keadaanku serta bahwa dia mendengar sedikit dari Qina yang sejujurnya membuatku bertanya-tanya dan kemudian, Ci Yuni mengajakku untuk mengatakan maksudku ini pada Manajer kami.
Setelah mendapatkan persetujuan secara tidak langsung dari ci Yuni akan maksudku ini, meskipun dalam hatiku bertanya-tanya apa saja yang diceritakan oleh Qina pada ci Yuni, tapi setidaknya aku tidak perlu berkata macam-macam untuk menjelaskan maksudku ini pada ci Yuni. Dan aku berharap kalau rencana pengunduran ini bisa berjalan dengan baik dan lancar. Aku tidak ingin keluar dari perusahaan ini dengan anggapan yang tidak baik.
Yah... ternyata pengunduran diriku ini tidak selancar biasanya.
Hal itu karena ibu Imelda berusaha membujukku untuk tetap bertahan selama beberapa bulan, setidaknya tiga bulan sampai masa percobaan habis, dan kemudian beliau berkata kalau mungkin saja aku akan terbiasa dan berubah pikiran kalau sudah mendapatkan gaji setingkat pegawai tetap.
Bahkan beliau mengatakan bersedia untuk memberikan dispensasi khusus apabila aku ingin mengambil kuliah S2 lagi dengan memberikan ijin untuk tidak masuk kantor pada hari-hari kuliahku. Dan bahkan cuti tambahan apabila aku akan menjalani ujian.
Sepertinya rencana Ayano untuk 'memperhalus' pengunduran diriku malah berbalik membuat aku semakin sulit untuk keluar. Karena, begitu mendengar aku akan mengambil kuliah S2, ibu Imelda semakin getol untuk mempertahankanku.
Aduh...bagaimana ini?
Aku berusaha sekuat mungkin dan sehalus mungkin untuk menolak maksud dari ibu Imelda itu. Namun beliau tetap bersikeras.
Dan akhirnya, beliau memintaku untuk bertahan setidaknya seminggu lagi di kantor itu. Dengan maksud seminggu itu akan membuatku berubah pikiran, dan beliau juga mengatakan penyakit tidak betah bekerja itu adalah sindrom biasa di anak-anak yang baru lulus kuliah, dan menasehatiku untuk berusaha mengalahkan sindrom itu.
Sejujurnya? kebalikannya malah... aku sangat suka berkerja di tempat ini. Begitu banyak hal yang tidak diajarkan di bangku kuliah, dan begitu banyak hal yang ternyata berkebalikan dengan apa yang kita pelajari sebelumnya. Dan aku menyukai hal itu, sebenarnya....
Kalau saja kantor ini tidak dipenuhi oleh 'mereka', mungkin aku akan sangat-sangat betah di kantor ini.
Sebelumnya aku pernah magang di perusahaan milik rektor di kampusku selama liburan semester pada semester-semester akhir kuliah. Daripada menganggur, begitu pikirku waktu itu. Dan kantor yang kumasuki saat magang itu... wah.. bisa dikatakan membuatku cukup takut pada dunia kerja. Karena tingginya tingkat persaingan dan budaya saling menjatuhkan di perusahaan itu.
Namun, hal itu tidak terjadi di sini, malahan aura kekeluargaan begitu terasa di perusahaan ini, atau tepatnya mungkin di divisi tempatku ini, divisi dibawah pimpinan dari ibu Imelda.
Ibu Imelda merupakan sosok yang tegas, namun lembut dalam berbicara dan selalu bisa menemukan cara untuk menegur seseorang tanpa melukai hati orang tersebut.
Ci Yuni, supervisorku itu adalah wanita yang periang, detail dan teliti dalam pekerjaannya, sampai-sampai saking detailnya, para bawahannya menggodanya dengan mengatakan kalau mungkin saja di otaknya ditanamkan sebuah chip.
Anggota divisi lainnya juga sangat baik dan kompak. Dan padaku yang merupakan junior, bisa dikatakan mereka sangat protektif sekali.
Terlihat dari bagaimana mereka 'mengusir' cowok-cowok iseng dari divisi lain yang berusaha merayuku di kantin.
Dan bahkan, satu-satunya lelaki di dalam divisiku yang menolak dengan keras dikatakan jantan, yaitu Maradona, pernah berkejar-kejaran dengan salah satu lelaki iseng yang nekad mencegatku saat di kantin. Suasana waktu itu benar-benar heboh, semua orang yang melihat tidak ada satupun yang menghentikan tontonan itu, Maradona mengejar seorang lelaki dan mengancam akan memegang "itu"nya lelaki itu kapok dan tidak berani lagi menggangguku....
Begitulah... teman-teman yang sangat baik...
Aku sebenarnya tidak ingin meninggalkan pekerjaan ini... Tapi sekali lagi, pembicaraanku dengan Sherly dan bujukan dari Ayano membuatku teringat mengapa aku harus meninggalkan kantor ini.
"Huff..." aku menghembuskan nafas berat seraya mengambil handphoneku dari tas.
Suasana ruangan sedang sepi.. sepertinya teman-temanku yang lain sudah pergi semua ke kantin.
Aku menekan layar handphone-ku dan menempelkannya di telinga.
"Halo?" terdengar suara Ayano pada sambungan telepon itu.
"Ko.." kataku.
"Ada apa, Lis?" tanya Ayano di telepon itu.
Aku menceritakan hasil pembicaraanku dengan ibu Imelda pada Ayano.
Hening sejenak.
Kemudian dia mengatakan padaku "Ya sudah... nanti koko pikirin solusinya.. kamu tenang ya"
"Umm... ok.." jawabku.
Yah... pasti bisa... pikirku.
Ayano pasti bisa mengakali entah bagaimana caranya....
Mungkin saja dia malah menemukan cara supaya aku bisa tetap bekerja di sini?
Semoga saja....
====
Aku baru saja merasa tenang...
Seharian tadi terasa begitu damai. Dan sejujurnya, hari ini aku benar-benar bisa menikmati pekerjaanku. Begitu banyak hal-hal yang kupelajari hari ini. Dan aku bahkan sudah memulai untuk membuat laporanku sendiri.
Hari ini aku benar-benar bekerja dengan keras. Dan aku menikmati setiap menitnya.
Dan sekarang tinggal waktunya untuk pulang.
Tidak, tidak terjadi apapun pada saat pulang.
Namun, ketika aku berjalan ke parkiran tempat Ayano sudah menungguku dengan mobilnya, aku merasakan sekelebat firasat yang buruk. Seperti sesuatu yang membebani tengkukku.
Aku sempat menghentikan sejenak langkahku dan mempersiapkan hatiku untuk suatu bentuk gangguan apapun.
Tidak..
Tidak ada yang terjadi....
Tidak ada satupun penampakan...
Masih merasa aneh, akupun melanjutkan untuk berjalan ke mobil yang diparkir.
Dan sesampainya di dalam, aku benar-benar melupakan perasaan tadi.
Bahkan, sesampainya di apartemen, aku bahkan lupa untuk menuliskan diary karena lelahnya. Dan sempat tertidur.
Namun, saat itulah gangguan baru dimulai.
Ya... berbeda dengan kekhawatiranku bahwa gangguan akan dimulai di kantor....
Gangguan pada hari itu kualami di rumah.
Aku terbangun di sofa...
Sepertinya aku tertidur setelah mandi. Bahkan aku belum berpakaian dengan benar...
Aku benar-benar kelelahan tadi...
Aku bahkan belum mematikan televisi dan lampu...
"!?"
Aku menegang.
Terdengar suara 'Kriet-Kriet' bagaikan ada yang berjalan di atap kamarku.
Dan jelas, itu merupakan bunyi yang sangat-sangat berbeda dengan suara langkah kaki yang biasa kudengar dari tetanggaku di atas kamarku.
Suara itu seperti sesuatu yang diseret.
Aku menengok ke arah jam meja. Jam tiga pagi...
Tak lama kemudian, suara itu menghilang...
Mungkin hanya perasaanku saja... begitu pikirku.
Dengan malas aku beranjak dari sofa dan mematikan televisi yang masih menyala.
Kemudian memaksakan diriku untuk bergerak dan mengambil piyama untuk menggantikan gaun mandi yang masih kukenakan.
Kemudian aku mematikan lampu dan beranjak ke kamarku...
'Tok..Tok..Tok..'
'Tok..Tok..Tok..'
Sayup-sayup kudengar suara ketukan...
Tapi aku tidak bisa menentukan darimana asal ketukan itu.
Seakan bergema begitu saja di kamarku.
Kemudian aku mendengar suara televisi, seperti suara orang sedang berdiskusi yang riuh rendah, suara yang entah mengapa membuatku berpikir kalau itu adalah suara televisi...
Eh? apa aku lupa ya tadi matiin tv? pikirku saat itu dengan linglung karena masih mengantuk.
Aku beranjak kembali ke ruang tv dan melihat kalau benda itu memang sudah kumatikan.
Aku menghembuskan nafas kesal dan berdengus "Salah denger kayaknya..." gumamku kesal dan berbalik untuk kembali ke kamar.
Dan kemudian, aku kembali mendengar suara televisi itu.
Namun, asal suara itu berasal dari kamar tidurku....
Hatiku menciut... dan tiba-tiba aku merasakan rasa takut yang serupa dengan firasat buruk yang sempat kurasakan tadi siang.
Aku melangkah perlahan ke dalam kamarku...
Tidak ada apa-apa...
Namun aku melihat cahaya yang tiba-tiba padam.
Handphone -ku? pikirku melihat cahaya yang baru saja padam itu.
Aku mendekati handphoneku itu dan menyalakan layarnya.
Tidak ada notifikasi apapun yang masuk.. lalu bagaimana layarnya bisa menyala tadi?
Dan suara orang berbicara seperti televisi tadi kembali terdengar..
Seperti....
Terdengar seperti....
Berada tepat di belakangku...
"!!?" aku berbalik dengan cepat.
Dan saat itulah aku melihat sekelebatan sesuatu yang berwarna ungu seakan masuk ke lipatan gorden yang tergantung di jendelaku.
Pada titik itu, aku menjadi sangat-sangat ketakutan...
Hasratku mengatakanku untuk melihat ke balik gorden itu.. seperti.. seakan sesuatu mendorongku untuk melakukan itu...
Tapi aku tidak melakukannya...
Dengan cepat aku mengoperasikan handphone-ku itu dan segera menelepon Ayano.
Aku bahkan lupa kalau ini sudah malam... aku melihat jam....
3:33 menit... pada saat aku menelepon...
Angka itu membuatku tidak enak entah mengapa...
Dan kemudian suara Ayano dari seberang sambungan telepon benar-benar membuatku lega.
Aku memintanya untuk datang segera ke kamarku.
Tidak lama kemudian aku mendengar ketukan di pintu "Lis? ini koko"
Buru-buru aku berlari untuk membuka pintu itu, hanya untuk mendapati tidak ada Ayano di sana...
Ayano bahkan baru keluar dari kamarnya dan menatapku bingung.
Namun aku menghentikannya bertanya dan malahan menyerocos untuk menceritakan keanehan yang baru saja kualami.
"Oke.. oke.. , coba koko liat ke dalam.." kata Ayano setelah aku selesai bercerita.
Ayano mendekati gorden itu dengan perlahan, kemudian dengan sebelah tangannya menyibak gorden itu.
Tidak ada apapun...
Namun Ayano dengan cermat memeriksa kaca jendela dan gorden itu.
"Lis..." panggil Ayano.
"Ya?"
"Sini.. coba liat ini.."
Ayano menunjuk ke bawah, awalnya aku tidak melihat apapun namun kemudian aku mengerti apa yang ditunjuk oleh Ayano.
Butiran.. seperti pasir, namun nampak sedikit lebih kasar berjatuhan di sela kaca jendela sebelah bawah. Pasir itu sedikit tercecer di lantai..
Warna pasir itu sedikit kekuningan, nyaris seperti emas.
Ayano membungkuk dan mengambil pasir itu dengan tangannya, kemudian mengendusnya.
"Ini... belerang..." kata Ayano.
Wajah Ayano nampak khawatir, dia nampak ingin mengatakan sesuatu namun kemudian membatalkannya. Akhirnya dia menggeleng dan berkata "Lis, kamu hari ini ijin aja... bilang aja kamu sakit." kata Ayano
"Eh?"
"Kamu istirahat di kamar koko aja, tidur dulu. Kamu nggak mungkin pergi kerja hari ini. Udah jam empat pagi soalnya" kata Ayano lagi.
"Umm..." aku mengangguk menyetujui, sebenarnya aku merasa sayang untuk tidak masuk kerja, namun seperti kata Ayano... aku sangat lelah... entahlah.. sepertinya aku bagaikan baru saja begadang...
"Ayo.. kita ke kamar koko aja deh" ajak Ayano sembari beranjak dari jendela itu "Perlengkapan kamu nanti koko bawain, kamu duluan aja" kata Ayano sambil mengulurkan kunci apartemennya padaku.
Aku mengangguk setuju tanpa mengatakan apapun karena sudah terlalu kelelahan.
"AH!!?"
Aku merasakan sesuatu menyentuh...
Tidak.. menggenggam pergelangan kakiku...
Sentuhan itu terasa begitu dingin..
"Kenapa!?" tanya Ayano khawatir sambil mendekat padaku.
"Aku... kayak ada yang pegang kaki.."
Ayano berlutut dan menyentuh pergelangan kakiku.
Aku merasakan sesuatu yang kasar sepert butiran kecil bergesekan dengan kulitku ketika Ayano menyapukan jarinya pada pergelangan kakiku.
"Belerang..." bisik Ayano.. cukup pelan, namun aku bisa mendengarnya dengan jelas.
Aku menatap ke pergelangan kakiku yang terlihat berwarna kekuningan karena adanya pasir belerang yang sama seperti yang di jendela tadi...
"Ko..." aku ketakutan... tubuhku merasa menggigil....
"Kita ke tempat koko aja deh. Nanti aja baru ambil perlengkapan kamu." putus Ayano "Ayo, koko anter.." katanya.
Sesudah itu, aku masih merasa begitu ketakutan dan tidak bisa tidur sampai pagi.
Tidak sebelum menuliskan semuanya ini di lembaran Diary....
Apa yang sedang terjadi?
Mengapa... mengapa hal ini bisa terjadi di sini?
Banyak sekali pertanyaan yang tidak terjawab berkeliaran di kepalaku saat itu.
Namun tubuhku sudah terlalu kelelahan... sepertinya untuk saat ini aku akan menyerah pada keinginan tubuhku untuk tidur....
Aku benar-benar membutuhkannya...
1
Kutip
Balas